Untuk mengurangi kadar abu dari wood pellets sehingga kualitasnya meningkat maka pengupasan kulit kayu (debarking) biasa dilakukan. Dengan pengupasan kulit kayu (debarking) tersebut maka wood pellets yang dihasilkan bisa menjadi kualitas premium yang biasa digunakan untuk penghangat ruangan, untuk lebih detail baca disini. Kulit kayu (bark) memiliki kadar abu tinggi bahkan bisa 10% dan prosentasenya dibandingkan batang kayunya berkisar antara 5-20%. Ini berarti 80-95% adalah bagian kayu dalamnya. Faktor yang mempengaruhi adalah pada jenis spesies, ketebalan kulit, dan usia pohon tersebut.
Secara alami, kulit kayu memiliki persentase kadar abu yang jauh lebih tinggi (bisa 10 kali lipat lebih besar) dibandingkan dengan bagian kayu dalamnya (wood core atau wood pellet) yang biasanya hanya mengandung abu kurang dari 1%. Hal ini terjadi karena kulit kayu berfungsi sebagai pelindung luar yang banyak menyerap sekaligus mengumpulkan mineral anorganik, pasir, serta debu dari lingkungan luar.
Walaupun memiliki kadar abu cukup tinggi tetapi kulit kayu masih layak digunakan sebagai bahan bakar karena nilai kalorya yang juga masih tinggi. Nilai kalor kulit kayu kering berkisar antara 3.500 hingga 4.000 kalori/gram (atau sekitar 14,6 hingga 16,7 MJ/kg). Secara umum, nilai kalor bagian kulit ini lebih rendah dibandingkan dengan nilai kalor bagian kayu dalamnya (wood core) yang rata-rata bisa mencapai 4.200 hingga 4.700 kalori/gram (17,5 – 19,6 MJ/kg) dalam kondisi kering. Faktor tingginya kandungan abu tersebut yang membuat nilai kalor kulit kayu lebih rendah. Selain juga bisa dibuat pellet yakni bark pellet, kullit kayu tersebut juga bisa dibuat briket / bark briquette. Piilihan tersebut lebih pada permintaan pasarnya.
Secara teknis produksi briket lebih mudah dibandingkan pellet. Ukuran parrtikel dan tingkat kekeringan untuk briket lebih longgar dibandingkan pellet. Selain itu ada beberapa jenis briket tergantung pada mesin yg digunakan. Ada. 3 jenis mesin yang digunakan untuk produksi briket ini yakni screw press, mechanical press dan hydraulic press. Untuk menghasilkan briket kapasitas besar untuk bahan bakar industri, mesin mechanical press paling sesuai.
Selain itu dengan tingginya kadar abu dan besarnya volume kulit kayu, maka mechanical press juga paling cocok. Alasan teknis lainnya karena gesekan / friksi yang terjadi pada mechanical press lebih minimum dibandingkan dengan screw press. Sedangkan mesin hydraulic press bisanya untuk produksi kapasitas kecil dan penggunaannya juga lebih cocok untuk rumah tangga maupun industri kecil. Tingkat kepadatan hasil mesin mechanical press juga lebih tinggi dibandingkan hydraulic press. Dengan tingkat kepadatan yang tidak teralu tinggi produk hydraulic press lebih mudah dinyalakan dengan pemantik api standar dan sesuai untuk aplikasi tersebut diatas, sedangkan dengan tingkat kepadatan lebih tinggi maka produk mechanical press membutuhkan ruang bakar bersuhu tinggi untuk mulai menyala, sehingga lebih cocok untuk aplikasi industri.
Di industri teknologi pembakaran reciprocating grate dan fluidized combustion paling sesuai untuk bahan bakar biomasa dengan kadar abu tinggi, seperti kulit kayu. Pada fluidized bed ukuran partikel juga harus dibuat sangat kecil sehingga bisa ter-fluidisasi artinya briket harus dihancurkan hingga ukuran tersebut tetapi pada reciprocating grate, ukuran partikel besar bisa diakomodir dengan baik. Dan Ketika biomassa memiliki kadar abu yang tinggi, teknologi pembakaran konvensional seperti static grate atau chain grate rentan mengalami masalah slagging (pembentukan kerak kaca akibat abu yang meleleh) dan penyumbatan aliran udara.
Tetapi ada fakta unit penggunaan bark briquette di Eropa untuk pemanas ruangan rumah tangga (domestic heating) selama musim dingin, yakni sebagai briket malam hari (Night Briquettes / Over-Night Logs). Konsumen Eropa biasanya membakar briket kayu (wood briquette) biasa / standar pada siang hari agar rumah cepat hangat. Tetapi hendak tidur di malam hari, mereka akan memasukkan 1 atau 2 balok briket kulit kayu (bark briquette) ke dalam perapian (wood stove) lalu memperkecil aliran udara pembakaran. Karakteristik kulit kayu membuat briket ini membara sangat lama (bisa awet 8 hingga 10 jam) tanpa menghasilkan kobaran api besar. Saat pagi hari tiba, bara api masih menyala di dalam perapian sehingga penghuni rumah tidak perlu repot menyalakan api dari awal dan rumah tetap hangat sepanjang malam.
Dengan produksi briket kulit kayu (bark briquette) tersebut maka produsen wood pellet selain akan zero waste juga akan memberikan pendapatan tambahan dari bisnis produksi bark briquette tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar