Tampilkan postingan dengan label lahan bekas tambang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lahan bekas tambang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Januari 2022

Bioekonomi di Lahan Bekas Tambang Batubara 

Bioekonomi didefinisikan sebagai produksi berbasis pengetahuan dan menggunakan sumberdaya biologi atau makhluk hidup untuk menghasilkan produk-produk, proses-proses, dan jasa-jasa pada sektor ekonomi dalam kerangka sistem ekonomi berkelanjutan. 

Batubara yang merupakan energi fossil dengan bioekonomi seolah adalah dua hal kontras yang bertolak belakang. Padahal prakteknya bisa saja tidak demikian. Setelah deposit batubara diekstrak dari perut bumi seharusnya lahan tersebut direklamasi sehingga bisa digunakan untuk bioekonomi. Apalagi dalam era ke depan atau era dekarbonisasi penggunaan batubara juga mulai dikurangi akibat pengaruh buruknya pada perubahan iklim dan pemanasan global. Sejumlah negara telah menyiapkan rencana sistematis untuk pengurangan penggunaan batubara dan dalam beberapa waktu ke depan sampai tidak menggunakannya sama sekali. Indonesia sendiri adalah negara penghasil batubara dengan ranking ketiga dunia (setelah China dan India) dengan lebih dari 550 juta ton produksinya, yang merupakan sumber pendapatan negara terbesar dari sektor tambang juga  banyak masalah lingkungan akibat eksploitasi batubara tersebut. Lahan bekas batubara tersebut seharusnya direklamasi sehingga bisa digunakan lagi untuk kegiatan produktif seperti pertanian, peternakan dan kehutanan. Kondisi tanah setelah eksploitasi seharusnya minimal sama dengan sebelum eksploitasi batubara tersebut. Dengan iklim tropisnya  seharusnya program bioekonomi tersebut juga lebih mudah dilakukan.

Kita dituntut untuk terus belajar sehingga memahami keadaan yang terus berubah, lalu memahami inti masalahnya sehingga bisa berbuat terbaik termasuk memberi solusinya. Kadangkala suatu permasalahan tersebut bisa diselesaikan dengan cepat tetapi juga sebaliknya suatu masalah perlu penyelesaian lama dan terus menerus. Faktor agama, politik, ekonomi dan kondisi alam adalah sejumlah hal yang mempengaruhi perubahan tersebut. Masalah perubahan iklim dan demografi adalah contoh masalah yang dihadapi manusia secara global saat ini dan membutuhkan penyelesaian bertahap dan lama. Untuk masalah perubahan iklim khususnya sejumlah upaya telah dilakukan dan terlihat semakin intensif akhir-akhir ini. 

Pada era ke depan perpaduan aktivitas ekonomi yang berwawasan lingkungan, tetapi juga mampu memberi pertumbuhan ekonomi yang baik atau bioekonomi, dengan dasar pemikirannya pada keselamatan bumi ini, akan sangat mewarnai kehidupan manusia. Tingginya kesadaran akan masalah lingkungan tersebut membedakan dari ekonomi masa lalu yang eksploitatif sehingga meninggalkan kerusakan lingkungan yang masif. Ekonomi financial atau sektor keuangan tetapi tidak berdampak pada sektor riil, jelas tidak memberi manfaat bahkan telah berulang kali menimbulkan krisis atau terbukti merusak perekonomian itu sendiri. Dalam bahasa lebih praktis bahwa ekonomi sektor keuangan tersebut tidak menciptakan lapangan kerja baru. Sektor pangan, energi hingga barang-barang kebutuhan manusia harus diproduksi secara ramah lingkungan dan berkelanjutan. Bioenergi misalnya sebagai sumber energi terbaik harus terus didorong  dan ditingkatkan, untuk penjelasan detail bisa baca disini.

Lahan paska tambang batubara sangat minim hara dan bahkan bersifat asam sehingga perlu persiapan berupa treatment khusus sebelum digunakan untuk berbagai keperluan. Proses ini memang tidak bisa cepat tetapi juga tidak terlalu lama, dalam hitungan 2-3 tahun tanah tersebut seharusnya telah bisa digunakan dengan kondisi lahan atau tanah dalam kodisi baik bahkan lebih baik dari sebelum aktivitas pertambangan batubara tersebut. Selain memperbaiki struktur fisika dan kimia tanah juga perlu ditambahkan nutrisi dari bahan organik. Penggunaan biochar dengan karakteristiknya akan mampu memperbaiki sifat fisika dan kimia tanah tersebut bahkan dengan tambahan bahan organik tersebut juga akan menyuburkan tanahnya lebih baik. Biochar tersebut juga akan mampu bertahan hingga ratusan tahun, tidak seperti bahan oganik yang mungkin perlu ditambah secara periodik untuk menjaga kesuburan tanahnya. Bahan organik terbaik untuk lahan paska tambang batubara tersebut adalah kotoran ternak. Hal tersebut sehingga peternakan sangat ideal untuk diintegrasikan dalam program reklamasi paska tambang tersebut.

Dengan luas lahan mencapai jutaan hektar maka pemulihan (recovery) lahan paska batubara tersebut akan memberi keuntungan atau manfaat lingkungan, ekonomi dan sosial. Tentu hal ini sangat strategis mengingat bahaya lingkungan akibat kerusakan lingkungan tersebut bisa membawa bencana alam yang jauh lebih besar. Peternakan khususnya ruminansia akan menjadi entry point atau senjata terbaik untuk memulai reklamasi tersebut dengan penggunaan biochar sebagai bahan multimanfaat. Setelah kondisi tanah subur maka apapun aktivitas terkait pertanian, peternakan dan kehutanan bisa dilakukan dengan optimal. Biochar selain untuk perbaikan tanah juga menyerap gas CO2 di atmosfer sehingga hal tersebut sangat baik bagi produktivitas dan lingkungan khususnya iklim. Perubahan iklim saat ini telah menjadi isu sentral dan global dalam masalah lingkungan bahkan eksistensi bumi sehingga kebijakan-kebijakan negara di dunia mempertimbangkannya. Bahan baku untuk produksi biochar juga sangat melimpah baik dari limbah industri perkebunan seperti kelapa sawit maupun dari kehutanan. 

Salah satu tugas hidup manusia menurut Q.S. Adz Dzariyat 56 yang harus dilaksana­kannya adalah ’abdullah (hamba Allah yang senantiasa tunduk dan patuh kepada aturan dan kehendak-Nya serta hanya mengabdi kepadaNya). Tugas hidup manusia juga sebagai khalifah Allah di muka bumi. Hal ini dapat difahami dari firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah: 30. Manusia adalah makhluk yang termulia di antara makh­luk-makhluk yang lain (Q.S. al-Isra’: 70) dan ia dijadikan oleh Allah dalam sebaik-baik bentuk/kejadian, baik fisik maupun psikhisnya (Q.S. at-Tin: 5), serta dilengkapi dengan berbagai alat potensial dan potensi-potensi dasar (fitrah) yang dapat dikembangkan dan diaktualisasikan seoptimal mungkin melalui proses pendidikan. Karena itulah maka sudah selayaknya manusia menyandang tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi. Tugas manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi antara lain menyangkut tugas mewujudkan kemakmuran di muka bumi (Q.S. Hud : 61). Karena itu tugas kekhalifahan merupakan tugas suci dan amanah dari Allah sejak manusia pertama hingga manusia pada akhir zaman yang akan datang, dan merupakan perwujudan dari pelaksanaan pengabdian kepadaNya (’abdullah). 

Lebih jauh Allah SWT juga mengamanahkan kepada manusia pula untuk menegakkan kembali keseimbangan di alam semesta yang sudah terganggu dengan keadilan (QS 55 :8-9). Saat ini ketika konsentrasi gas rumah kaca terus meningkat di atmosfer sehingga suhu bumi meningkat akan menyebabkan gunung-gunung es di dua kutub bumi mencair, menaikkan level permukaan air laut, perubahan iklim, hingga mengubah konsentrasi titik masa bumi dan menggeser kutub utara bumi. Pergeseran titik kutub bumi tersebut akan berpengaruh pada peredaran bumi terhadap bumi dan begitu juga berpengaruh pada posisi bumi di alam semesta. Apa yang terjadi jika perubahan tersebut terus berlanjut bahkan dipercepat? Keseimbangan alam terganggu, matahari terbit dari barat dan ujungnya akan terjadi benturan antar planet dan bintang di  tata surya dan jagad raya, terjadilah kiyamat. Carbon trading adalah salah satu upaya untuk mengurangi gas rumah kaca tersebut, dan seiring kesadaran manusia yang terus meningkat saat ini harga carbon atau biaya untuk kompensasi gas CO2 semakin meningkat akhir-akhir ini.

Untuk menurunkan suhu bumi yakni dengan menurunkan konsentrasi gas rumah kaca. Untuk menurunkan 1 ppm konsentrasi CO2 di atmosfer sama dengan menyerap sekitar 15 gigaton CO2. Sedangkan biaya yang dibutuhkan untuk mitigasi bencana besar perubahan iklim diperkirakan 1,6 trilyun USD sampai 3,8 trilyun USD setiap tahunnya. Untuk mencapai konsentrasi CO2 di atmosfer menjadi 350 ppm dibutuhkan sekitar 70.000 biochar seukuran piramida Giza dengan asumsi bahan bakar fossil dihentikan penggunaannya. Dengan volume piramida Giza 2,6 juta m3 dan density biochar rata-rata 200 kg/m3 maka biochar seukuran piramida Giza memiliki berat 520 juta kg atau 520 ribu ton. Pekerjaan sangat besar tentu saja. Produksi biochar harus tumbuh 5000 kali dari kapasitas produksinya saat ini. Dengan biochar seukuran unit piramida Giza tersebut kita perlu membangun 4 piramida per hari (sekitar 2 juta ton biochar per hari) untuk 100 tahun ke depan dan dimulai saat ini.  Dan lahan paska tambang batubara tersebut diibaratkan sebagai bumi yang mati, sedangkan manusia sebagai khalifah di bumi diperintahkan untuk memakmurkan bumi ini ini dengan cara menyuburkan tanahnya. 

Senin, 08 November 2021

Urgensi Reklamasi Ex-Tambang Batubara Dengan Biochar 

 

Banyaknya lahan bekas tambang batubara yang tidak direklamasi menimbulkan berbagai masalah lingkungan bahkan juga ksselamatan jiwa. Sudah banyak korban jiwa dari lubang  bekas tambang batubara tersebut. Logika sederhana seharusnya setelah deposit batubara diambil atau diekstrak pada aktivitas penambangan tersebut, tanah dikembalikan lagi dan diperbaiki sehingga kualitasnya lebih baik dari sebelum aktivitas pertambangan atau minimal sama, tetapi jangan malah lebih buruk sehingga berbagai masalah lingkungan bermunculan. Era dekarbonisasi semakin kencang melaju karena daya dorong perubahan iklim dan pemanasan global. Bahan bakar fossil khususnya batubara mulai ditinggalkan tentu saja termasuk aktivitas penambangan batubara itu sendiri. Sedangkan area bekas tambang batubara yang mencapai jutaan hektar banyak menjadi permasalahan lingkungan hari ini. 

Ketika kualitas tanah diperbaiki sehingga memiliki kesuburan tinggi maka ini menjadi potensi yang sangat luar biasa sehingga sejumlah aktivitas penting bisa dilakukan, seperti pertanian, peternakan dan kehutanan. Dengan kondisi demikian maka upaya kemandirian atau kedaulatan pangan bukan hal mustahil. Teknisnya bisa dianalisis diantara sektor pertanian, peternakan dan kehutanan tersebut mana yang bisa lebih cepat mencapai tujuan yakni kemandirian atau kedaulatan pangan tersebut. Tetapi sebelum jauh melangkah dan melakukan usaha di atas tanah bekas tambang tersebut, hingga lebih spesifik produk apa yang akan dibuat, pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana memperbaiki kondisi tanah yang rusak dan skalanya juga masif tersebut ? 

Aplikasi biochar ke tanah tersebut merupakan solusi jitu dalam upaya memperbaiki tanah-tanah yang rusak. Tergantung seberapa parah tingkat kerusakan, karakteristik jenis tanah dan level kualitas akhir yang menjadi target akan menentukan aplikasi atau dosis biochar tersebut. Selain memperbaiki tanah aplikasi biochar tersebut juga menyerap CO2 dari atmosfer sehingga menurunkan konsentrasi CO2 dari atmosfer atau merupakan skenario carbon negative. Biochar yang tertanam di dalam tanah tersebut menjadi carbon sink, mirip dengan membuat hutan konservasi untuk menyerap CO2 dari atmosfer. Seberapa banyak biochar yang tertanam sehingga bisa dihitung CO2 terserap menjadi carbon sink tersebut bisa dijual di pasar karbon dan mendapatkan carbon credit. Biochar sendiri mampu bertahan di dalam tanah hingga ratusan tahun dan tidak terdekompsisi selama waktu yang panjang tersebut. Bahkan ketika tanah tersebut telah diperbaiki dengan biochar lalu dibuat hutan konservasi di atasnya maka carbon credit yang didapat double, yakni dari aplikasi biochar sendiri dan dari hutan konservasi tersebut. Tetapi sekali lagi tentu faktor ekonomi menjadi pertimbangan penting lainnya, sehingga seperti di atas setelah tanah diperbaiki kesuburannya dengan biochar ada sejumlah opsi untuk pemanfaatan tanah tersebut. Tentu mana yang memberikan keuntungan ekonomi terbaik akan menjadi pilihan. 

Jutaan hektar tanah bisa dipulihkan (direcovery) sehingga kemanfaatannya akan maksimal. Katakan misalnya satu juta hektar saja tanah tersebut bisa dipulihkan lalu digunakan untuk aktivitas yang mendukung ketahanan atau kemandirian pangan tersebut seperti pertanian dan peternakan, maka bisa dihitung berapa banyak outputnya. Lebih bagus lagi apabila bisa terjadi surplus produksi pangan tersebut sehingga bisa melakukan export. Atau bahkan nantinya untuk jangka yang lebih panjang lagi tanah tersebut dihutankan lagi menjadi hutan konservasi maka berapa banyak CO2 yang bisa diserap oleh hutan tersebut ditambah dari aplikasi biocharnya. Tentu sangat banyak. Lalu mengapa harus membuat food estate tetapi harus membabat lahan hutan, sementara ada cara lain yang lebih baik ? Yakni tidak hanya memulihkan tetapi memperbaiki kondisi lahan tersebut bahkan lebih baik sebelum aktivitas penambangan batubara tersebut dilakukan. 

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...