Rabu, 15 Juli 2020

Pabrik Pellet Pakan Daun Gliricidia untuk Optimalisasi Kebun Biomasa / Kebun Energi dan Peningkatan Produksi Daging Nasional



Ketersediaan pakan adalah hal sangat penting untuk mendukung dan keberlanjutan usaha peternakan. Pakan yang mudah, melimpah dan murah menjadi hal penting untuk diupayakan. Pakan juga merupakan komponen biaya tertinggi pada usaha peternakan, seperti halnya pupuk pada sejumlah perkebunan dan pertanian. Upaya mendapatkan pasokan pakan berkualitas dan kontinyu merupakan syarat mutlak suksesnya usaha peternakan. Pasokan daging dalam negeri yang masih banyak dari import tentu kurang menggembirakan. Untuk itulah program produksi daging nasional hingga swasembada daging harus terus digenjot. Langkanya ketersediaan daging sehingga memacu harga lebih tinggi membuat peluang daging haram yang murah mudah masuk di pasaran, apalagi terjadi lemahnya pengawasan dan sanksi ringan bagi pemasok daging haram tersebut. Sebagai negara dengan mayoritas Islam terbesar dan daging adalah unsur pangan penting berupa protein, maka pengembangan usaha peternakan juga harus sinkron dengan kondisi tersebut. Peternakan yang dibuat dan menjadi prioritas utama adalah peternakan yang mendukung industri halal. 
Daun gliricidia yang merupakan limbah kebun energi atau kebun biomasa adalah sumber pakan potensial yang bernutrisi tinggi. Proyeksi perkembangan kebun energi atau kebun biomasa yang semakin meningkat seharusnya juga sejalan dengan pemanfaatan limbah daun tersebut untuk pakan ternak. Kandungan daun gliricidia yang kaya protein menjadi sumber nutrisi penting bagi ternak khususnya ruminansia seperti domba, kambing dan sapi sehingga perlu dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal. Dengan pemanfaatan daun tersebut maka seluruh bagian pohon dari kebun energi atau kebun biomasa tersebut bisa dioptimalkan. Pembuatan pellet dari daun tersebut (feed pellet) juga akan memudahkan penyimpanan, menghemat transportasi, tahan lama dan memudahkan penggunaan sebagai pakan ternak.
Umat Islam yang setiap tahun melaksanakan ibadah Qurban akan membutuhkan pasokan hewan ternak berupa domba, kambing dan sapi dalam jumlah besar. Selain itu juga pada saat Ramadhan dan Idul Fitri juga terjadi lonjakan permintaan daging tersebut, bahkan sering dijumpai pada saat tersebut daging haram seperti daging babi dan anjing dioplos dengan daging-daging diatas. Dan ketika ada kelahiran anak keluarga muslim juga disunahkan melakukan aqiqah dengan menyembelih domba atau kambing sebanyak 1 atau 2 ekor. Selain itu juga pada dasarnya suplai daging untuk kebutuhan sehari-hari juga masih minus. Hal-hal tersebut seharusnya menjadi motivasi pengembangan usaha peternakan.

Senin, 29 Juni 2020

Mengapa Sebagian Besar Pabrik Sawit Belum Memiliki Biogas ?


Perkebunan sawit adalah perkebunan terbesar di Indonesia yang diperkirakan luasnya lebih dari 12 juta hektar atau merupakan perkebunan sawit terbesar di dunia dengan produksi CPO mencapai lebih dari 40 juta ton/tahun dan Diperkirakan lebih dari 1000 pabrik sawit. Malaysia adalah negara peringkat kedua untuk luas kebun sawit berikut produksi CPO. Energi biogas adalah energi potensial dari pengolahan limbah cair pabrik sawit tersebut. Sekitar 0,7 m3 limbah cair dihasilkan oleh pabrik sawit dari setiap ton TBS yang diolah. Biogas biasanya terdiri dari 50-75% metana (CH4), 25-45% karbon dioksida (CO2), dan sejumlah gas-gas lainnya. Jika pengelolaan limbah cair tidak terkendali, metana dalam biogas terlepas langsung ke atmosfer. Sebagai gas rumah kaca (GRK), metana mempunyai efek 21 kali lebih besar dibandingkan dengan CO2. Hampir semua produksi biogas digunakan untuk produksi listrik. Selain produksi listrik tersebut ramah lingkungan juga merupakan sarana pengolahan limbah dan mencegah perubahan iklim. Tetapi mengapa masih sedikit pabrik sawit di Indonesia atau diperkirakan kurang dari 10% yang memiliki unit biogas tersebut ? Ada sejumlah analisa mengapa hal tersebut terjadi.

A. Prospek biogas kurang menarik
Walaupun memiliki sumber bahan baku berlimpah berupa limbah cair (POME) tersebut, tetapi ketika produk listrik hanya dibeli murah maka hal tersebut tidak menarik, karena untuk pengadaan dan instalasi unit biogas dan pembangkit listrik tersebut membutuhkan biaya besar. Waktu pengembalian modal juga semakin lama padahal biaya operasional juga semakin meningkat seiring waktu. Selain itu adanya mekanisme BOT (built, operated, transferred) setelah jangka waktu tertentu juga semakin membuat pengusaha pabrik sawit berkurang minatnya.

B. Kurangnya visi pengembangan bisnis
Energi listrik adalah energi yang sangat luwes atau mudah ditransformasikan ke bentuk-bentuk energi yang lain. Sehingga ketersediaan energi listrik seharusnya bisa mendorong pengembangan usaha lainnya. Tetapi dengan kurangnya visi pengembangan bisnis, maka motivasi produksi listrik dari unit biogas tersebut juga menjadi lemah. Sejumlah bisnis bisa dibangun jika energi listrik tersedia misalnya pabrik pengolahan kernel (kernel crushing plant). Pabrik sawit saat ini pada umumnya juga hanya produksi CPO, sedangkan kernel atau inti sawit yang menghasilkan minyak inti sawit atau PKO (palm kernel oil) hanya dijual ke pabrik lain. EFB atau fiber pellet juga bisa diproduksi jika tersedia cukup listrik. Alat-alat mekanik untuk produksi pellet tersebut membutuhkan suplai listrik yang memadai dan stabil. Selain itu pabrik turunan CPO seperti oleokimia juga bisa dibangun jika suplai listrik tersedia.

C. Regulasi lingkungan yang kurang tegas
Lemahnya regulasi lingkungan juga akan membuat pengembangan unit biogas terkendala. Limbah-limbah cair yang tidak diolah akan berpotensi menghasilkan GRK yang berbahaya khususnya metana. Apabila bahaya lingkungan ini menjadi perhatian semua pihak dan menghasilkan sejumlah regulasi maka potensi pencemaran lingkungan bisa dikurangi dan unit biogas bisa menjadi solusi jitu mengatasi problem tersebut.
Lalu bagaimana solusi supaya pabrik sawit menjaga masalah lingkungan dan sekaligus memberi keuntungan secara ekonomi ? Unit biogas tetap dibuat dan dioperasikan dengan output listriknya untuk pengembangan sejumlah industri tersebut di atas. Opsi lain yang bisa dilakukan adalah membuat unit biogas tetapi bukan untuk produksi listrik secara langsung, tetapi untuk produksi panas. Panas tersebut digunakan untuk operasional boiler pabrik sawit. Dengan panas berasal dari biogas maka cangkang sawit (pks : palm kernel shell) bisa dijual atau di eksport.

Bagi pabrik sawit yang membutuhkan unit biogas atau gas engine (generator) berbahan bakar biogas baik baru atau second/bekas atau hanya repair dan maintenance/service, silahkan kirim email ke : eko.sbs@gmail.com

Buah Kelapa Reject (Non- Standard) untuk Produksi Bioavtur / SAF

Organisasi penerbangan sipil internasional / International Civil Aviation Organization (ICAO) telah memasukkan kelapa non-standar di dalam p...