Tampilkan postingan dengan label produsen wood pellet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label produsen wood pellet. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Mei 2022

Peluang Export Wood Pellet ke Jerman

Pada akhir tahun 2022 atau tahun ini, semua PLTN di Jerman dihentikan operasinya, lalu pada tahun 2030 atau paling lambat pada 2038 semua PLTU batubaranya juga dihentikan operasinya. Jerman dalam rangka dekarbonisasi telah merencanakan pengurangan bahan bakar fossil khususnya batubara pada PLTUnya. Prosentase PLTN di Jerman adalah 3,6% atau sekitar 8 GW dan ini perlu upaya segera untuk mendggantikan suplai listrik tersebut. Sedangkan PLTU batubara mencapai sekitar 28% atau lebih dari 40 GW, dan saat ini produksi listrik dengan batubara tersebut sangat mahal, karena harga batubara sendiri dan carbon tax. Harga batubara dikisaran $150 tetapi akhir-akhir ini terjadi lonjakan hingga $435 dan carbon tax lebih dari $100 untuk setiap CO2 yang diemisikan. Dengan komponen biaya tersebut harga produksi listrik untuk setiap MWh mencapai sekitar $220 (belum termasuk biaya tenaga kerja, perawatan, dan sebagainya), sedangkan apabila diganti dengan wood pellet harga produksi hanya sekitar $90 per MWh atau kurang lebih sepertiganya. Sangat murah. Apalagi dengan pemakaian wood pellet proses sulfur scrubbing (FGD = flue gas desulphurisation) bisa direduksi bahkan dieliminasi.

Bahan bakar biomasa seperti wood pellet adalah carbon neutral sehingga tidak menambah konsentrasi CO2 di atmosfer, sehingga ketika penggunaan wood pellet untuk pembangkit listrik dan selanjutnya emisi gas CO2 yang merupakan gas rumah kaca tersebut ditangkap dan disimpan (CCS =Carbon Capture and Storage) sehingga tidak lepas ke atmosfer, maka ini menjadi carbon negative atau mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer. Besarnya gas CO2 yang bisa ditangkap dan ditangkap tersebut juga bisa mendapatkan kompensasi carbon credit, sehingga PLTU tersebut mendapat penghasilan tambahan. Tetapi tanpa harus dengan CCS pun penggunaan wood pellet sudah mengurangi biaya produksi listrik sangat signifikan dan ramah lingkungan. Sedangkan apabila PLTU menggunakan batubara yang merupakan carbon positive lalu emisi CO2 ditangkap dan disimpan dengan teknologi CCS maka hal ini menjadi carbon neutral. Tentu saja upaya carbon negative lebih baik dibandingkan carbon neutral.

Di lain sisi Jerman terkenal dengan produk-produk teknologi khususnya mesin-mesin industri. Sejumlah produsen mesin untuk produksi wood pellet juga berasal dari Jerman, seperti Muench, Salmatec dan Kahl. Mesin-mesin tersebut banyak digunakan untuk produksi wood pellet di seluruh dunia dan dapat diandalkan. Bisa saja nanti mesin-mesin untuk produksi wood pellet tersebut diimport dari Jerman dan produk wood pellet dari Indonesia diexport ke Jerman. Hal ini sesuai dengan keunggulan potensi masing-masing negara tersebut. Indonesia dengan luas daratan mencapai 1,91 juta km2 dengan lahan banyak tersedia serta berada di daerah tropis sangat potensial sebagai produsen utama wood pellet dunia

Saat ini sekitar 55% bahan bakar pembangkit listrik di Jerman menggunakan gas alam yang berasal dari Rusia, dan sementara sedang pecah perang antara Rusia dan Ukraina. Masalah keberpihakan Jerman bisa jadi akan berpengaruh pada suplai gas alam dari Rusia ke negaranya akibat adanya perang tersebut. Konversi dari PLTU batubara menjadi PLTU wood pellet bukan hal sulit dan tidak membutuhkan investasi besar, sehingga konversi inilah sebagai solusi paling realistis. Dengan jumlah PLTU batubara di Jerman lebih dari 100 unit atau sekitar 1/3 dari suplai listriknya, sehingga kebutuhan wood pellet juga akan sangat besar jika PLTU-PLTU tersebut beralih ke wood pellet

Rabu, 20 Maret 2019

Surplus Kok Import, Ada-Ada Saja!!!

Sudah menjadi hal lazim bahwa suatu negara selalu melindungi produk-produk dalam negerinya. Mengembangkan sekaligus meningkatkan kualitas serta kuantitas produk-produk dalam negeri menjadi salah satu tanggungjawab negara dalam bidang ekonomi. Suatu hal yang aneh dan tidak masuk akal apabila ketika negara terjadi surplus terhadap produk tertentu, tetapi di lain sisi mengimport produk serupa. Hal ini tentu selain merusak perekonomiannya juga secara langsung berdampak pada produsennya. Contoh yang paling mudah yakni pada produk-produk pangan atau pertanian. Sebagai negara agraris produksi beras ketika surplus maka jelas tidak perlu lagi import. Padi produksi petani menjadi tidak terbeli demikian juga untuk tebu dan sebagainya, apabila pada saat surplus seperti panen raya dilakukan import produk serupa. Hal ini suatu pembunuhan ekonomi bagi para petani tersebut.
Ketika pasar berjalan semakin liberal maka peluang kecurangan juga semakin besar. Bisa saja suatu negara membuat berita bohong yang mendiskreditkan produk negara tertentu untuk melindungi produk negara tersebut. Apalagi jika hal tersebut dilakukan oleh negara besar yang berpengaruh. Tentu hal ini berdampak negatif bagi produk negara targetnya sehingga produknya tidak laku di pasar atau minimal harganya jatuh. Politik dagang jahat tersebut banyak dilakukan untuk menjatuhkan lawan bisnisnya. Seharusnya upaya tersebut tidak perlu dilakukan, tetapi bisa menggunakan cara lain yang lebih baik misalnya memberi insentif bagi produsen atau pengguna produk dalam negeri tersebut. Hal tersebut semakin mendorong pemakaian produk dalam negeri dan menghidupkan ekonomi negara tersebut tanpa merugikan negara lain.
Baru-baru ini Korea melakukan sedikit revisi terhadap pemakaian bahan bakar wood pellet. Wood pellet yang diproduksi dari dalam negeri lebih diprioritaskan daripada produk import. Hal tersebut mendorong tumbuhnya industri wood pellet di negara tersebut. Dengan besarnya kebutuhan wood pellet maka besar kemungkinan negara tersebut tetap tidak mampu memenuhi kebutuhannya disebabkan kurangnya bahan baku terkait faktor alamnya. Hal ini bagaimana pun membuat mereka tetap import. Tetapi dengan kebijakan tersebut, Korea telah melakukan keberpihakan terhadap industri dalam negerinya. Ketika negara-negara di dunia semakin banyak menggunakan wood pellet maka produsen-produsen wood pellet juga bisa memilih pembeli dengan harga terbaik.

Rabu, 04 April 2018

5 Pabrik Wood Pellet Terbesar Di Dunia

Referensi dibutuhkan untuk membuat sesuatu yang tidak kalah kualitasnya atau bahkan bisa lebih baik, demikian juga untuk pabrik atau produksi wood pellet. Indonesia dengan potensi tanah yang luas, subur dan beriklim tropis perlu mendapatkan referensi yang lengkap dan berkualitas khususnya pada produksi wood pellet sehingga bisa mengoptimalkan potensinya. Diversifikasi energi juga sangat dibutuhkan Indonesia sehingga memiliki ketahanan dan kedaulatan energi yang kuat, apalagi dengan kondisinya saat ini yang telah menjadi nett importir minyak bumi, bahkan diproyeksikan dalam rentang kurang lebih 10 tahun mendatang minyak bumi Indonesia akan habis. Uraian dibawah ini tentang 5 pabrik wood pellet terbesar saat ini yang bisa dijadikan referensi. 

1. Enviva
Enviva didirikan pada tahun 2004, saat ini Enviva mengoperasikan 7 pabrik wood pellet dengan total produksi lebih dari 3 juta ton/tahun. Sebagian produksi wood pelletnya dieksport ke Inggris dan Eropa. Sejumlah pelabuhan digunakan Untuk pengapalan atau export wood pelletnya, yakni pelabuhan Chesapeake, Virginia; pelabuhan Wilmington, Carolina Utara, dan pelabuhan dari pihak ketiga di Mobile, Alabama dan Panama City, Florida. Enviva belum lama juga mengumumkan untuk kontrak menyuplai (off-take contract) dengan Marubeni untuk menyuplai 100.000 tons/tahun wood pellet ke pembangkit listrik baru mulai tahun 2022 selama 10 tahun. 

Bahan baku Enviva terutama bersumber kayu dari 1.183 hutan industri di 77 kabupaten dan di lima negara bagian Tenggara. Hutan di Tenggara terus tumbuh dan berkembang, dengan jumlah total lahan hutan di area Enviva sebagai suplai utama meningkat 320,842 hektar dari tahun 2011 hingga 2015, menurut US Forest Service. Inventarisasi di area tersebut telah tumbuh sebesar 10 persen selama periode waktu yang sama dan terus meningkat karena hutan tumbuh pada tingkat yang lebih cepat daripada yang dipanen.
2. Graanul Invest
Graanul Invest adalah produsen wood pellet terbesar di Eropa dan berdiri sejak tahun 2003. Kapasitas produksi produsen ini berkisar 2,3 juta ton/tahun dengan mengoperasikan 11 pabrik wood pellet. Pada tahap awal perusahaan ini mengoperasikan 2 pabrik wood pellet, satu di Imavere, Estonia dan satunya di Alytus, Luthuania. Perkembangan selanjutnya dengan mengakuisisi pabrik dan pembangunan pabrik baru, hingga saat ini mengoperasikan 11 pabrik wood pellet. Pelabuhan Untuk eksportnya yakni pelabuhan Riga di Latvia dan pelabuhan Tallinn, Parnu dan Kunda di Estonia. 
3. Drax Biomass
Drax selain sebagai pengguna wood pellet terbesar saat ini dengan lebih dari 10 juta ton/tahun, juga merupakan produsen wood pellet terbesar di dunia. Drax biomass sebagai produsen wood pellet mulai beroperasi sejak 2017 dengan total produksi sekitar 1,5 juta ton/tahun. Drax biomass memiliki kantor pusat di Atlanta dan saat ini mengoperasikan 3 pabrik wood pellet di negara bagian Lousiana dan Mississipi. Produk wood pelletnya digunakan untuk menyuplai pembangkit listriknya di Inggris dengan pengapalan melalui Baton Rouge Transit di sungai Mississippi pada pelabuhan Greater Baton Rouge, Lousiana. 
4. Pinnacle 
Pinnacle berdiri sejak tahun 1989 dan saat ini mengoperasikan 6 pabrik wood pellet di British Columbia, Canada dengan bahan baku terutama adalah limbah-limbah hutan. Kapasitas produksinya dikisaran 1,4 juta ton per tahun dan produk wood pelletnya di export ke Eropa, Inggris dan Asia. Pabrik-pabrik wood pellet dari Pinnacle berada di jalur utama kereta api, sehingga transportasi ke pelabuhan menggunakan kereta api. Pelabuhan yang digunakan yakni Westview terminal di Prince Rupert, yang merupakan pelabuhan milik perusahaan tersebut dan Fibreco terminal di pelabuhan Vancouver. Untuk menambah produksinya Pinnacle saat ini sedang membangun pabrik wood pellet di Entwistle, Alberta dan Smithers, British Columbia. 
5.An Viet Phat 
An Viet Phat adalah produsen wood pellet dari Vietnam beroperasi sejak 2014 dengan kapasitas saat ini lebih dari 800.000 ton/tahun. An Viet Phat juga merupakan produsen wood pellet terbesar di Asia dan produsen wood briquette terbesar di dunia. Pasar atau tujuan export untuk produk wood pelletnya yakni Korea dan Jepang, dengan porsi lebih besar ke Korea. Export dilakukan dari pelabuhan Ho Chi Minh.

Rusia sebagai negara besar tetapi produksi wood pelletnya masih dibawah 5 besar produsen-produsen di atas. Produsen wood pellet terbesar Rusia yakni Vyborg hanya memiliki kapasitas 300.00 ton/tahun, peringkat keduanya yakni Arkaim di pantai baratnya. Selanjutnya di negara itu banyak produsen-produsen wood pellet kapasitas kecil di bagian barat laut dan terutama untuk memenuhi pasar pemanas di Eropa.

Sebagian besar di kawasan lain juga belum besar untuk produksi wood pellet tersebut. Australia saat ini hanya 2 pabrik wood pellet yang mengeksport produknya yakni - Plantation Energy dan Altus. Produksi wood pellet dari Plantation Energy yakni sekitar 250.000 ton/tahun sedangkan Altus hanya 75.000 ton/tahun. Target export dari wood pellet Australia terutama Jepang. Kawasan Timur Tengah juga sama seperti Afrika sangat sedikit produsen wood pellet dan dari yang sedikit itu produknya juga hanya digunakan di dalam negerinya. Kawasan Amerika Latin ada sejumlah produsen wood pellet kecil dan satu yang terbesar yakni Tanac di Brazil dengan kapasitas 400.000 ton/tahun. Semua produk wood pellet dari Tanac di export ke pembangkit listrik biomasa Drax di Inggris.

Berdasarkan referensi di atas, semestinya produsen wood pellet Indonesia juga bisa menyaingi mereka. Hal ini karena potensi bahan baku yang sangat besar di Indonesia. Produksi wood pellet dari kebun energi dan terintegrasi dengan peternakan domba maupun domba dan sapi serta peternakan lebah madu, akan mengoptimalkan lahan dan memberi hasil yang maksimal pula. Selain itu kalau dilihat dari pabrik-pabrik wood pellet terbesar di dunia saat ini juga memulai usahanya relatif belum lama. Hanya Pinnacle yang memulai sebelum tahun 1990, sedangkan rata-rata memulai di atas tahun 2000, bahkan Drax Biomass mulai beroperasi tahun 2017 dan  An Viet Phat sejak 2014. Fakta-fakta di atas semakin membuktikan tentang pengembangan energi berbasis Al Qur'an dan hadist nabi juga mengisyaratkan bahwa bumi akan kembali makmur dan hijau sebelum kiamat. 

"Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah  ruah,  hingga  seorang  laki-laki  pergi  ke  mana-mana  sambil membawa  harta  zakatnya  tetapi  dia  tidak  mendapatkan  seorangpun  yang bersedia  menerima  zakatnya  itu.  Dan  sehingga  tanah Arab  menjadi  subur makmur  kembali  dengan  padang-padang  rumput  dan  sungai-sungai "  (HR.Muslim).

Bisakah Indonesia menjadi raksasa wood pellet? InsyaAllah bisa. 

Senin, 05 Juni 2017

Produsen Terbesar Biomasa Itu Adalah Wilayah Khatulitistiwa

Indonesia adalah negara yang dilalui garis khatulistiwa sehingga beriklim tropis dengan   matahari bersinar sepanjang tahun dengan rata-rata 12 jam setiap harinya. Jumlah gunung berapi yang banyak tersebar diberbagai kepulauannya membuat tanahnya juga subur. Apalagi dengan curah hujan yang tinggi yakni 2700 mm/tahun atau tiga kali lebih tinggi dari rata-rata dunia yang hanya 900 mm/tahun menjadikan Indonesia juga sangat ideal untuk pertanian dan perkebunan berbagai jenis tanaman. Curah hujan Indonesia lebih Indonesia lebih tinggi pula dibanding India (1.080 mm), Amerika (715 mm), China (645 mm), Brasil (1.750 mm), Argentina (591 mm) dan bahkan Thailand (1.625 mm). Hanya dua negara tetangga kita yang mampu melampaui curah hujan Indonesia yakni Malaysia (2.875 mm) dan Papua Nugini (3.140). Bahkan seharusnya kita akan lebih bersyukur lagi apabila dibandingkan negara seperti Yordania (111 mm), Qatar (74 mm), Arab Saudi (59 mm) dan Mesir yang hanya mendapatkan curah hujan 51 mm pertahun. Produksi biomasa untuk energi juga optimal dengan kondisi iklim tersebut. Skenario karbon netral dengan menggunakan biomasa sebagai bahan bakar untuk mengurangi bahkan menggantikan batubara sudah banyak dilakukan bahkan telah menjadi kebijakan negara, seperti Jepang, Korea, China, dan sejumlah negara di Eropa. Dalam waktu yang tidak lama lagi diperkirakan akan banyak negara menerapkan program atau kebijakan sejenis. Integrasi kebun energi dan peternakan untuk optimalisasi pemanfaatan lahan bisa dilakukan dengan skenario 5F Project For The World!.


Secara empiris dengan kondisi iklim Indonesia yang berada di khatulistiwa tersebut membuat produksi biomasa kayu-kayuan menjadi lebih cepat secara signifikan. Proses photosintesis dengan pancaran sinar matahari sepanjang tahun tersebut adalah faktor mengakselerasi pertumbuhan dan produksi biomasa kayu-kayuan tersebut. Kebun-kebun energi seharusnya banyak dibuat di berbagai daerah di Indonesia, mengingat banyaknya lahan atau tanah yang tersedia. Berdasarkan pada faktor-faktor diatas tanaman rotasi cepat seperti kaliandra dan gamal dalam waktu 1 tahun sudah bisa dipanen kayunya di Indonesia dengan jumlah yang sama untuk poplar dan willow yang ditanam di negara sub-tropis selama 4 tahun. Sebuah perbedaan yang nyata. Berdasarkan analisis kebun energi juga memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan dengan perkebunan kelapa sawit, lebih jauh bisa dibaca disini.

Di negeri-negeri subtropis, seandainya toh lahan mereka subur, matahari tidak menyinari penunjang sepanjang tahun. Bahkan di musim dingin, tanaman-tanaman berhenti tumbuh dan baru tumbuh kembali di musim berikutnya, maka musim berikutnya ini disebut musim semi. Sedangkan di negeri-negeri gurun , mereka mendapat limpahan sinar matahari yang panjang, tetapi mereka hanya memiliki hujan yang sangat sedikit. Sehingga tidak banyak yang bisa tumbuh di negeri gurun.

Tetapi lahan yang subur, hujan yang melimpah dan matahari sepanjang tahun-pun tidak banyak memberi manfaat bila manusia yang tinggal di dalamnya tidak cerdas. Ketika kita tidak cerdas dalam mengelola bumi, sumber daya yang melimpah tidak menjadikan kita unggul dibandingkan bangsa lain-malah bisa menjadi musibah seperti yang terjadi dengan musibah tahunan asap kita. Lebih utama dari itu semua adalah petunjuk-petunjuk-Nya yang sangat detail dan meliputi segala sesuatu (QS 2:185 dan 16:85). Maka ketika petunjuk ini tidak kita gunakan, kecerdasan kita hanya akan menghasilkan ilmu-ilmu dugaan/prasangka (dzon), dugaan-dugaan tersebut sementara kelihatan benar tetapi baru kemudian hari diketahui kesalahannya. 



Indonesia juga sangat potensial sebagai produsen terbesar wood pellet dunia. Produksi wood pellet dengan kebun energi atau pepohonan tersebut juga sangat sejalan dengan konsep Islam. Tercukupinya atau swasembada kebutuhan pangan, energi dan air adalah tujuan jangka panjang 5F Project For The World tersebut. Sekali lagi potensi Indonesia luar biasa sebagai produsen biomasa terbesar di dunia, sehingga bumi yang 'ijo royo-royo' ini menjadi incaran para pengusaha energi terbarukan masa depan.

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...