Limbah biomasa padat di pabrik sawit yang tersedia dalam jumah besar selain cangkang sawit dan mesocarp fibre, adalah tandan kosong sawit. EFB atau tankos adalah limbah biomasa sawit yang dihasilkan paling banyak. Mesocarp fibre biasanya habis sebagai bahan bakar boiler dengan sebagian cangkang sawit. Saking banyaknya prosentase limbah EFB / tankos ini melebihi produk utamanya yakni minyak sawit mentah (CPO) di pabrik sawit tersebut. Tetapi pada umumnya EFB belum dimanfaatkan, yang volumenya sekitar 20% dari FFB. Dan karena volume-nya yang besar tersebut maka potensi pencemaran lingkungannya juga besar.
Sejumlah pabrik berupaya untuk mencapai kondisi zero waste sehingga limbah EFB atau tankos ini harus diolah. Tetapi pengolahan seperti apa dan produk apa yg dihasilkan serta bagaimana keekonomiannya inilah yang menjadi problem. Tentu keinginannya adalah bagaimana limbah ini tidak lagi mencemari lingkungan tetapi juga memberikan tambahan keuntungan. Dan bahkan produksi apa dari bahan baku tersebut yang memberikan keuntungan maksimal. Tetapi tahapan yg realistis, adalah bagaimana limbah tankos ini bisa diolah, tidak mencemari lingkungan , dan sebisa mungkin meminimalisir biaya investasi alat pengolahan tersebut. Hal tersebut menjadi pertimbangan penting yg berpijak pada kondisi saat ini dan perkembangan ke depan.
EFB ini potensial untuk dimanfaatkan untuk berbagai produk bioenergy maupun biochar. EFB bisa dipadatkan (biomass densification) untuk menjadi pellets, yang penggunaannya akan selaras dengan cangkang sawit, yakni untuk sektor energi. Dengan jumlahnya yang sangat besar maka potensi EFB pellets yang dihasilkan juga akan sangat besar. EFB pellets diprediksi akan menjadi trend ke depan setelah cangkang sawit. Hal tersebut karena ketersediaan yang besar dan sebagian besar belum dimanfaatkan. Dibandingkan potensi bahan baku pellets dari limbah kayu-kayuan baik dari limbah kehutanan maupun industri perkayuan, limbah tankos ini juga sangat besar, sehingga bisa bersaing atau bahkan lebih besar. Dan dibandingkan wood pellets dari kebun energi, dimana untuk produksi harus menanam tanaman energi dulu seperti kaliandra dan gamal / gliricidae maka pellet tankos (EFB pellets) rutenya lebih cepat.
Pemanfaatan lainnya EFB adalah untuk produksi biochar. Biochar bisa digunakan untuk soil amendment pada sektor pertanian atau secara praktis bisa digunakan untuk perkebunan kelapa sawit mereka atau milik petani. Penggunaan biochar akan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk atau NUE karena membuat pupuk slow release. Selain itu bahkan produsen biochar juga bisa mendapat penghasilan dari carbon credits dengan mengikuti metodologi dari lembaga karbon standarseperti Puro, Verra, Isometric dan sebagainya. Produksi biochar dengan industrial scale slow pyrolysis equipment akan menghasilkan excess energy seperti syngas yang bisa digunakan untuk bahan bakar boiler sawit dengan cofiring, maupun bidang lainnya.
Dan pemanfaatan EFB yang banyak dilakukan oleh pabrik sawit saat ini yakni membakarnya dengan incinerator sederhana (seperti pada photo..) dan menghasilkan produk berupa abu EFB yang kaya akan potassium yang bisa digunakan sebagai pupuk. Tetapi penggunaan incinerator sederhana tersebut selain menghasilkan polusi asap, juga tidak tidak memanfaatkan panas dari hasil pembakarannya. Penggunaan incinerator yang diupgrade sehingga menghasilkan pembakaran yang efisien seperti penggunaan reciprocating grate combustor dan perangkat untuk mengontrol polusi seperti water scrubber akan membuat pemanfaatan EFB tersebut ramah lingkungan. Selain itu panas pembakaran (waste heat recovery) juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti cogeneration dengan boiler sawit, produksi listrik atau bidang lainnya.

































