Senin, 21 Mei 2018

Solar PV atau Biomass To Energy?

Indonesia adalah negara tropis dengan curah hujan tinggi, sehingga walaupun sinar matahari bersinar sepanjang tahun, tetapi banyak mendung dan juga hujan. Hal tersebut menjadi pertimbangan penting untuk prioritas dan pilihan energi terbarukan yang akan dikembangkan. Berdasarkan kondisi tersebut maka pilihan pengembangan biomass to energy atau bioenergy lebih cocok untuk kondisi Indonesia, daripada solar PV. Ketersediaan sinar matahari dan curah hujan tinggi membuat berbagai tanaman bisa tumbuh dengan baik dan optimal. Sedangkan apabila dengan solar PV maka ketika terjadi mendung dan hujan maka intensitasnya juga turun secara drastis. Sebuah analisis mengatakan apabila terjadi mendung maka intensitas solar PV turun menjadi 20% sehingga untuk menjaga stabilitas pasokan listriknya dibutuhkan 5 unit solar PV. Tentu saja menjadi sangat mahal apalagi investasi untuk solar PV khususnya pada batterai juga masih mahal untuk kondisi hari ini. Solar PV cocok untuk kondisi dengan pancaran sinar matahari terik dengan intensitas relatif stabil dan curah hujan minimum, sehingga sesuai untuk daerah kering bergurun pasir seperti jazirah Arab atau wilayah-wilayah Afrika. 

Praktisnya pengembangan kebun energi dengan hasil kayunya untuk produksi wood pellet adalah salah satu upaya konkrit biomass to energy tersebut. Dengan kebun energi tersebut sinar matahari ditangkap oleh tumbuhan untuk photosintesis sehingga memproduksi biomasa khususnya kayu untuk energi. Puluhan juta hektar lahan tersedia di Indonesia yang bisa digunakan untuk kebun energi tersebut. Selain sebagai sumber energi, kebun-kebun energi tersebut juga memperbaiki ekosistem. Integrasi dengan peternakan domba juga akan mengoptimalkan kebun energi tersebut karena daun-daun yang kaya protein dari jenis pohon leguminoceae kebun energi akan terkonversi menjadi daging dengan peternakan tersebut. Kotoran ternak tersebut juga bisa sebagai pupuk pada kebun energi tersebut. Apalagi keuntungan kebun energi tersebut juga tidak kalah dari perkebunan sawit, untuk lebih detail bisa dibaca disini atau bisa juga pemilik perkebunan sawit mulai diversifikasi perkebunannya dengan kebun energi, untuk lebih detail bisa dibaca disini

Sabtu, 05 Mei 2018

Activated Carbon Untuk Industri Apa Saja!

Activated carbon atau arang aktif adalah bahan yang banyak sekali digunakan di berbagai industri, sebagai bahan pembantu proses atau pengolahannya. Industri makanan, minuman, energi, tambang hingga farmasi menggunakan activated carbon ini. Kebutuhan akan activated carbon juga terus meningkat sehingga produksi juga juga perlu terus ditingkatkan. Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen activated carbon kelas dunia mengingat berlimpahnya potensi bahan baku yang tersedia. 

Saat ini produsen-produsen activated carbon besar malah berada di luar Indonesia seperti Eropa dan Amerika. Padahal baik Eropa maupun Amerika tidak memiliki sumber bahan baku yang berlimpah atau sebagian besar import termasuk dari Indonesia. Bahan baku activated carbon yang paling favorit saat ini adalah tempurung kelapa dan sekali lagi Indonesia adalah negara dengan luas perkebunan kelapa terbesar di dunia, yakni sekitar 3,7 juta hektar. Tempurung kelapa sawit atau cangkang sawit juga bisa menjadi bahan baku pilihan selanjutnya. Dengan luas perkebunan sawit Indonesia sekitar 12 juta hektar, cangkang sawit yang dihasilkan lebih dari 10 juta ton/tahunnya. 
Bahan baku activated carbon terutama adalah arang (charcoal). Arang tersebut selanjutnya diaktivasi untuk menjadi arang aktif (activated carbon). Proses pembuatan arang yakni dengan karbonisasi atau pyrolysis. Tempurung kelapa sebagai contoh bahan baku arang, maka setelah diarangkan menjadi arang tempurung kelapa (coconut shell charcoal), yang selanjutnya arang ini menjadi bahan baku arang aktif. Sehingga pada dasarnya proses produksi arang aktif yakni melalui 2 tahapan proses yakni pyrolysis (karbonisasi) dan aktivasi. Proses produksi arangnya atau proses karbonisasi (pyrolysis) sama seperti proses pengarangan biomasa pada umumnya, untuk lebih detail bisa dibaca di sini. Saat ini pada kapasitas besar produksi arang tersebut dilakukan secara kontinyu dengan dengan indirect-heating. Rotating kiln dan heated auger pyrolyser adalah peralatan yang umum digunakan untuk produksi arang secara kontinyu tersebut. Integrasi produksi arang secara kontinyu dan proses aktivasi bisa dibaca di sini
Sedangkan tahap aktivasi bisa dilakukan dengan dua cara yakni aktivasi secara fisika dan kimia. Pilihan aktivasi tersebut tergantung dari target luas permukaan, distribusi pori dan keekonomian. Steam activation adalah aktivasi fisika yang paling banyak digunakan, sedangkan aktivasi kimia sangat beragam. Semakin luas permukaan dari activated carbon semakin mahal harganya juga sebanding dengan biaya produksinya. Peralatan aktivasi yang biasa digunakan ada 2 macam yakni, rotating kiln dan fluidized bed. Dari 2 peralatan ini jenis rotating kiln lebih banyak digunakan daripada fluidized bed. Harga peralatan rotating kiln lebih murah karena konstruksi dan operasionalnya lebih mudah daripada sistem fluidized bed. Fluidized bed system biasanya digunakan untuk produksi activated carbon kualitas lebih tinggi karena distribusi dan rekayasa pori lebih baik akibat fluidisasi. 
Standard dan kualitas activated carbon ditentukan terutama berdasarkan luas permukaan, distribusi pori, ukuran dan kekerasannya. Parameter angka iodine biasa digunakan juga untuk kualitas activated carbon. Semakin tinggi angka iodine semakin baik kualitas activated carbon tersebut. Angka iodine adalah angka yang menunjukkan seberapa besar adsorbent atau activated carbon tersebut dapat mengadsorpsi iod. Semakin besar nilai angka iod maka mengindikasikan semakin besar pula daya adsorpsi (penjerapan) dari adsorben atau arang aktif tersebut. Sebaliknya semakin tinggi kadar air dan kadar abu yang terkandung dalam karbon aktif akan mengakibatkan banyak pori yang akan tertutup oleh pengotor tersebut sehingga luas permukaan akan semakin kecil. Dimana luas permukaan berhubungan erat dengan daya jerap karbon aktif.Semua biomasa pada dasarnya bisa digunakan sebagai bahan baku arang aktif karena memiliki kandungan karbon. Aplikasi secara spesifik arang aktif tersebut yang menentukan pilihan bahan baku dan pilihan aktivasinya. 

Mencari Harta Terbaik Dari Implementasi Kebun Energi Bagian 9

"Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan." (QS Al A'laa :4)

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. ” (QS 16:10)

“Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.”(QS 20:54)

"Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput (lahan), air dan api (energi)". (HR. Sunan Abu Daud).
Allah SWT menumbuhkan rumput-rumputan (QS Al A'laa :4) walaupun manusia bisa saja menanam rerumputan tersebut tetapi pada hakikatnya Allah-lah yang menumbuhkan rumput-rumput tersebut. Rerumputan juga sangat mudah tumbuh dan bisa dijumpai di hampir semua tempat di Indonesia. Dalam banyak hal rumput-rumput ini malah dianggap sebagai masalah sehingga sejumlah upaya dikerahkan untuk mengatasi masalah rumput tersebut. Padahal rumput-rumput itu adalah pakan ternak, khususnya domba, kambing, sapi dan kerbau. Artinya rumput-rumput itu adalah mata rantai penting untuk produksi daging yang kita butuhkan. Di Inggris bahkan rumput memiliki kontribusi sekitar 90% pada produksi daging mereka, sehingga budidaya rumput untuk penggembalaan ternak secara professional menjadi hal penting dalam sektor pangan mereka. Penggembalaan rotasi adalah teknik terbaik untuk penggembalaan ternak khususnya domba maupun domba dan sapi. 
Siklus Pertumbuhan Rumput
Kualitas dan kuantitas rumput pada akhirnya merupakan faktor penting bagi usaha peternakan dengan teknik penggembalaan tersebut. Penggembala-penggembala professional harus bisa mengidentifikasi dan mengupayakan rumput-rumput terbaik bagi hewan-hewan ternaknya. Rumput yang secara anatomi sebagian besar merupakan dedaunan sama seperti daun-daun dari berbagai tanaman yang memiliki siklus tumbuh, dewasa, tua, mati dan kering. Kapan sebaiknya domba-domba tersebut sebaiknya rerumputan tersebut? Hal ini perlu diperhatikan untuk penggembalaan professional tersebut. Hewan-hewan ternak tidak menyukai rumput yang tua tetapi juga dengan yang terlalu muda. Kondisi sedang atau umur dewasa dari rerumputan tersebut adalah kondisi terbaik untuk pakan hewan-hewan ternak tersebut karena kandungan nutrisinya juga maksimal. Apa akibatnya jika hewan ternak kurang dalam mengkonsumsi rumput maupun memakan rumput cukup tetapi berkualitas rendah? Tentu saja hasilnya tidak akan optimal khususnya bagi pertumbuhan berat badan hewan ternak tersebut. 
Rumput bagi peternakan dengan pola penggembalaan tersebut sebagai pakan pokok bagi hewan-hewan ternak tersebut, sedangkan daun-daun yang dianggap limbah dari kebun energi adalah pakan tambahannya. Semakin banyak pakan tersedia semakin banyak ternak yang bisa dibudidayakan. Daun kaliandra memiliki kandungan protein yang tinggi karena akar tanaman kelompok leguminoceae ini memiliki kemampuan mengikat nitrogen pada bintil akarnya. Kemampuan mengikat nitrogen pada bintil akar tersebut selain akar menyuburkan tanah juga akan meningkatkan kadar protein pada daun kaliandra tersebut. Tingginya kadar protein pada daun tersebut menjadi pakan tambahan bernutrisi tinggi bagi domba-domba tersebut. Dengan dimanfaatkan daunnya untuk pakan ternak domba dan kotoran domba untuk pupuk kebun energi maka integrasi kebun energi dan peternakan domba menjadi optimal. 
Penggembalaan campur (mixed grazing)yakni domba dengan sapi juga sangat dimungkinkan hal ini karena keduanya bisa mengoptimalkan pakan dalam padang penggembalaan tersebut. Kebiasaan merumput sapi dengan domba berbeda, demikian juga jenis rumput yang menjadi pakan kesukaan mereka. Faktor anatomi mulut dari kedua hewan tersebut berbeda sehingga mempengaruhi kebiasaan merumput dan jenis rumput yang dimakan, untuk lebih jelas bisa dibaca pada tabel dibawah ini. Faktor lain yang menguntungkan penggembalaan campur domba dengan sapi tersebut karena sapi cenderung melindungi domba saat merumput dari gangguan seperti hewan buas, sehingga berefek merumput lebih banyak dan lama sehingga kenaikkan berat badannya meningkat dengan cepat. Walaupun penggembalaan campur domba dan sapi bisa memberi hasil positif tetapi penggembalaan campur domba dengan kuda tidak cocok dan memberi hasil negatif. 


Senin, 23 April 2018

Menengok Produksi Arang Secara Modern Hari Ini

Lebih khusus dari penggunaan arang pada umumnya, dunia pertanian khususnya pertanian organik telah menjadi salah satu pengguna arang  saat ini. Arang di dunia pertanian atau biasa dikenal dengan biochar banyak digunakan karena mampu menahan nutrisi atau pupuk dari pencucian (leaching) sehingga banyak digunakan untuk pembuatan pupuk lepas lambat (slow release), lalu pori-pori dalam arang tersebut juga menjadi rumah mikroba yang mengurai berbagai bahan organik menjadi pupuk bagi tanaman, pori-pori tersebut juga memperbaiki struktur fisika tanah. Selain itu biochar juga bisa menjaga kelembaban tanah karena air juga mudah terserap dalam struktur pori-porinya. Biochar juga meningkatkan pH tanah,  juga mampu menyerap gas CO2 dari atmosfer (carbon negative scenario), dan mampu bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun di dalam tanah. Hal-hal di atas itulah yang mendorong pemakaian biochar dalam dunia pertanian, yang singkat kata bisa meningkatkan produktivitas pertanian atau membantu meningkatkan produk pangan dunia. 

Peran biochar dalam beberapa hal memang bisa disubtitusi dengan bahan lain, misalnya untuk untuk kemampuan menahan air, cocopeat lebih baik daripada biochar, untuk luas permukaan dengan banyaknya pori-pori maka arang aktif jauh lebih besar dari biochar, dan untuk menaikkan pH untuk tanah-tanah asam maka kapur dolomite lebih baik. Dalam aplikasi di lapangan rekayasa media tanam untuk mendapatkan media pertanian terbaik sangat mungkin sejumlah bahan-bahan tersebut diatas. Hasil yang optimal bisa didapat berdasarkan karakteristik tanah dan jenis tanamannya. Faktor keekonomian juga menjadi faktor pertimbangan penting setelah aspek teknis diatas. 
Produksi biochar secara modern saat ini menggunakan proses thermokimia secara kontinyu. Ada dua teknologi thermokimia untuk produksi biochar yakni pyrolysis dan gasifikasi. Teknologi pyrolysis lebih banyak digunakan karena menghasilkan biochar lebih banyak dan kualitas lebih baik. Mengapa dengan pyrolysis bisa mendapatkan 2 hal tersebut? Hal ini karena pada dasarnya (slow) pyrolysis adalah teknologi yang digunakan untuk produksi arang atau memaksimalkan produk padatnya, sehingga pengendalian prosesnya juga dirancang untuk tujuan tersebut. Sedangkan pada gasifikasi dirancang untuk memaksimalkan produk gasnya, sehingga arang hanya diposisikan sebagai produk sampingnya. Suhu operasi gasifikasi juga lebih tinggi (800 C) dibandingkan pyrolysis (450 C) sehingga arangnya juga banyak bercampur dengan abu. 
Lebih khusus lagi yakni teknologi indirect heating pyrolysis yang lebih banyak digunakan untuk produksi biochar hari ini. Dengan teknologi ini kontrol proses pyrolysis lebih mudah dan kualitas arang juga lebih baik. Aplikasi teknologi indirect heating pyrolysis untuk proses kontinyu pada umumnya menggunakan jenis peralatan rotating drum dan heated auger. Kapasitas produksi biochar tersebut pada umumnya dikisaran 2-4 ton/jam. Produk-produk samping dari proses pyrolysis tersebut juga bernilai ekonomi tinggi seperti biooil untuk bahan bakar, pyroligneous acid (liquid smoke) untuk pupuk dan biopesticide, serta syngas untuk bahan bakar dan lebih khusus untuk produksi listrik.

Sabtu, 21 April 2018

Mencari Harta Terbaik Dari Implementasi Kebun Energi Bagian 8

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. ” (QS 16:10)

“Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.”(QS 20:54)

"Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput (lahan), air dan api (energi)". (HR. Sunan Abu Daud).
Setelah kebun energi dibuat untuk produksi wood pellet selanjutnya membuat peternakan domba (atau domba dengan sapi) untuk pemanfaatan daun-daun dari pohon kebun energi tersebut atau keduanya juga bisa dibuat secara parallel. Pembuatan peternakan domba (atau domba dengan sapi) saja juga bisa sebagai entry point sebelum integrasi dengan kebun energi pada saatnya nanti atau bahkan model bioeconomy yang lebih luas. Peternakan domba (atau domba dengan sapi) dengan cara penggembalaan rotasi adalah cara terbaik, karena memaksimalkan pemanfaatan lahan, pengelolaan padang gembalaan lebih mudah dan terencana, serta produktivitas dan kualitas daging dari hewan ternak juga lebih tinggi. Dalam penggembalaan rotasi, hewan ternak tersebut diputar pada area padang gembalaan yang telah disekat-sekat. Area padang gembalaan yang digunakan sebaiknya memiliki ketinggian rumput sekitar 25-30 cm dan ditinggalkan ketika rumput memiliki ketinggian sekitar 8-10 cm. Apabila rumput dihabiskan (overgrazed) maka pertumbuhan selanjutnya menjadi kurang optimal bahkan bisa mati, karena tidak mampu tumbuh lagi. 
Setidaknya ada 4 hal fisik yang perlu diperhatikan untuk pembuatan penggembalaan rotasi berjalan baik, yakni : supplai pakan, sistem pagar atau sekat-sekat, supplai air dan tempat teduhan. Supplai pakan atau ketersediaan rumput adalah faktor penting keberlangsungan penggembalaan tersebut. Pada musim penghujan rumput atau bulan-bulan tertentu akan berlimpah sedangkan pada musim kemarau berkurang. Untuk menyesuaikan dengan jumlah pakan tersebut, populasi hewan ternak juga bisa disesuaikan. Ketika pakan berlimpah populasi ternak lebih banyak daripada ketika pakan berkurang. Untuk menjaga pakan lebih tersedia, padang gembalaan bisa dilengkapi dengan sistem irigasi yang baik sehingga rumput bisa terus tumbuh pada musim kemarau sekalipun.

Sistem pagar atau sekat-sekat juga merupakan faktor suksesnya penggembalaan rotasi. Sistem pagar tersebut memungkinkan pengelolaan padang gembalaan secara terencana. Pengaturan penggunaan area untuk penggembalaan maupun area yang harus diistirahatkan sehingga rumput tumbuh kembali merupakan fungsinya sistem pagar tersebut. Selanjutnya supplai air, jelas ini merupakan faktor penting karena Allah SWT menciptakan sesuatu yang hidup dari air (QS 21:30) dan setiap yang hidup pasti membutuhkan air khususnya hewan-hewan ternak tersebut. Setiap sekat atau kamar area penggembalaan harus dilengkapi supplai air tersebut. Semakin banyak pakan atau rumput yang dikonsumsi semakin banyak air yang dibutuhkan. Kekurangan supplai air juga akan menurunkan konsumsi pakan. Air sejuk dan tidak panas lebih disukai hewan ternak dibandingkan dengan air yang panas. Ketika siang hari yang panas, tempat air dalam kolam atau wadah tertentu akan menjadi panas, mengakibatkan konsumsi air berkurang dan juga konsumsi pakan menjadi berkurang yang akhirnya pertumbuhan berat badan menurun. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jarak maksimal hewan ternak gembalaan tersebut ke sumber air maksimal sekitar 250 meter untuk hasil optimal. 
Tempat teduhan juga merupakan hal penting bagi penggembalaan. Hewan-hewan ternak cenderung mencari tempat teduh supaya bisa merumput lebih lama. Ketika cuaca panas, maka hewan ternak tidak bertahan lama merumput. Tempat teduhan terbaik adalah pepohonan sehingga pohon-pohon perlu ditanam di area padang gembalaan tersebut. Pohon buah-buahan adalah salah satu pilihan menarik untuk itu. Setiap area yang disekat-sekat (paddock) tersebut dapat ditanami satu jenis pohon buah, misalnya satu paddock untuk pohon durian, paddock lainnya untuk klengkeng, lainnya lagi untuk pohon kurma, tin, jambu dan sebagainya. Suhu di Indonesia yang beriklim tropis juga lebih tinggi dibandingkan daerah subtropis, yakni siang hari rata-rata mencapai 25 C sedangkan di daerah subtropis hanya 10 C. Hal ini semakin menunjukkan bahwa lokasi terbaik adalah penggembalaan adalah padang rumput dengan pepohonan yang rindang diantaranya. Banyaknya curah hujan seperti di Indonesia membuat pepohonan cepat besar dan berbuah sehingga bisa cepat digunakan untuk tempat teduhan. 

Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan bagi peternak yang hendak memulai penggembalaan rotasi (rotation grazing) adalah berapa banyak paddock yang harus dibuat ? Pada dasarnya semakin banyak paddock akan semakin baik karena Padang gembalaan bisa termanfaatkan untuk sumber pakan hewan ternak secara maksimal. Pada umumnya untuk memulainya bisa dengan 5 hingga 10 paddock dengan setiap paddock untuk penggembalaan 3 hingga 7 hari selanjutnya diistirahatkan 25-30 hari. Dari hampir semua praktek penggembalaan rotasi, jumlah 4 paddock adalah jumlah paling minimum apabila hendak memulainya. Bentuk bujur sangkar adalah bentuk terbaik untuk paddock tersebut, sehingga semaksimal mungkin diusahakan mendekati bentuk tersebut. Bentuk paddock kecil memanjang maupun lingkaran kurang baik karena lebih sulit untuk mencapai hasil pemanfaatan rumput yang merata oleh hewan ternak. Untuk penentuan area padang gembalaan sekaligus pembagiannya akan lebih baik pada tahap awalnya untuk melakukannya dengan photo udara.  

Selasa, 10 April 2018

Bambu Sebagai Biomaterial

Imej sebagian orang tentang bambu masih negatif, yakni dibayangkan sebagai pondok bambu yang reot dan identik dengan orang miskin di pedesaan. Padahal bambu adalah tanaman yang memiliki banyak kegunaan dan penggunaannya juga tidak kalah dengan kayu. Konstruksi langit-langit bandara Barajas di Madrid, Spanyol contohnya menggunakan bambu lalu interior mobil Toyota Lexus, dan sepeda sport bambu. Penggunaan bambu untuk pembuatan arang aktif juga banyak dilakukan. Arang aktif (activated carbon) adalah bahan dari arang yang diaktivasi sehingga memiliki luas permukaan (surface area) yang besar, sehingga biasa digunakan untuk filter yang menjerap (adsorbsi) berbagai senyawa kimia tertentu. Seiring waktu pemanfaatan bambu juga semakin luas, dan akan sangat panjang bila diuraikan satu per satu tentang produk-produk yang bisa dihasilkan dari bambu. Permasalahannya perkebunan bambu di Indonesia khususnya juga semakin berkurang sehingga perlu digalakkan termasuk pemanfaatannya terutama dalam era bioeconomy yang sudah di depan mata. 


Berbeda dengan kebun energi yang menggunakan tanaman jenis leguminoceae dan bisa terus dipanen setiap tahun dari trubusannya (SRC : short rotation coppice), perkebunan bambu bisa mulai dipanen ketika minimal berumur 3 tahun dan juga bisa terus menerus dipanen hingga puluhan tahun. Kebun energi mampu menghasilkan produktivitas tinggi dari kayu-kayunya sehingga ekonomis untuk produksi wood pellet, sedangkan bambu tidak ekonomis untuk produksi pellet karena jauh menguntungkan untuk berbagai kebutuhan lainnya. Limbah atau residue pengolahan bambu itu yang bisa digunakan untuk dibuat pellet. Bambu lebih cocok untuk sumber biomaterial yang juga sangat dibutuhkan pada era bioeconomy saat ini. 

Ketika bambu diawetkan dengan treatment tertentu maka daya tahannya lama sehingga bisa berumur hingga puluhan tahun, salah satunya karena tahan rayap. Bangunan-bangunan yang eksotis dan bernuansa alami juga banyak dibuat dari bambu. Ketika kebutuhan akan perumahan semakin tinggi terutama di kota-kota besar, maka bambu juga bisa sebagai solusinya. Dengan teknologi komposit bambu tersebut menjadi kuat, keras dan tahan lama bahkan hingga puluhan tahun sehingga sesuai untuk pembuatan rumah-rumah tersebut. Jangan dibayangkan rumah bambu dengan teknologi komposit tersebut seperti pondok bambu yang reot di pedesaan karena hampir semua tipe rumah dan modelnya juga bisa dibuat dengan bambu komposit tersebut. Selain itu pembuatan rumah dengan bambu komposit cepat juga ramah lingkungan. Dan untuk lebih detail untuk pemanfaatan bambu bisa dibaca di sini.

Carbon as Basic Element

Material karbon pada dasarnya didapat pada semua makhluk hidup. Karbon biasanya berikatan dengan hidrogen membentuk rantai hidrokarbon. Bahan bakar fossil sangat familiar disebut sebagai sumber hidrokarbon. Bahan bakar fossil tersebut juga berasal hewan dan tumbuhan yang terkubur berjuta-juta tahun lamanya. Setelah melalui proses yang sangat panjang akhirnya menjadi senyawa-senyawa hidrokarbon yang banyak dikenal saat ini. Saat ini juga apabila kita mendekomposisi biomasa maka juga akan dihasilkan senyawa hidrokarbon atau secara spesifik dengan karbonisasi atau pyrolysis akan dihasilkan material berupa arang yang unsur utamanya yakni karbon. Apabila kita lihat hari ini sebagian besar barang-barang kebutuhan sehari-hari kita banyak berasal dari plastik. Plastik tersebut adalah produk turunan dari material fossil baik dari senyawa minyaknya, maupun gasnya. Batubara juga ketika diolah dengan pyrolysis akan menghasilkan kokas, benzol dan syngas. Kokas sangat mirip dengan arang yang unsur utamanya karbon, benzol seperti juga biooil yang bisa digunakan untuk bahan bakar maupun berbagai material dan bahan kimia. Syngas demikian juga yang selain bisa digunakan untuk energi, juga bisa untuk produksi berbagai material dan bahan kimia.
Mengapa harus dibuat arang ? Dengan dibuat arang karena akan menjadi material yang stabil, mudah disimpan dan mudah dikonversikan. Bila disimpan dalam bentuk biooil maka selain materialnya tidak stabil, penyimpanannya juga lebih sulit. Sedangkan penyimpanan dalam bentuk gas secara teknis juga lebih sulit lagi. Konversi arang tersebut bisa secara fisik menjadi briket, pellet maupun arang aktif. Sedangkan konversi kimia yakni sebagai bahan bakar yang bisa menghasilkan panas untuk berbagai sumber energi, baik secara langsung maupun diubah lebih lanjut melalui berbagai proses termokimia. Pembangkit-pembangkit skala kecil saat ini yang banyak digunakan seperti ORC (organic rankine cycle), stirling engine dan gasifikasi bisa menggunakan arang tersebut sebagai bahan bakarnya. 
Sampah kota yang terdiri bermacam-macam jenis sampah, sebagian besarnya adalah sampah organik yakni dari makhluk hidup dan anorganik dari sumber fossil. Apabila dilihat dari kaca mata kimia, berarti sampah kota tersebut adalah sumber material karbon. Pada kasus ini kita tidak membedakan apakah material karbon tersebut dari bahan organik atau sumber terbarukan maupun dari fossil yang merupakan sumber tidak terbarukan. Dengan teknologi pirolisis kontinyu sampah tersebut bisa dikonversi menjadi produk utama berupa arang, dan produk samping berupa biooil, pyroligneous acid  (liquid smoke) dan syngas. Syngas tersebut juga bisa digunakan untuk pembangkit listrik maupun sumber panas. Arang selanjutnya sebagai sumber karbon yang fleksibel penggunaannya dan paling mudah penyimpanannya. 
Kaidah umum berupa mengatasi masalah lebih diprioritaskan atau dipentingkan daripada manfaat yang bisa dihasilkan juga sesuai diterapkan pada penyelesaian masalah sampah kota tersebut. Tetapi apabila sisi manfaatnya bisa dioptimalkan sedemikian rupa tentu itu yang lebih diharapkan dan menjadi pilihan utama. Problem solving dengan pirolisis kontinyu memberi solusi terbaik untuk masalah sampah kota tersebut, karena tidak hanya masalah terselesaikan dengan efektif dan efisien, tetapi nilai tambah dari produk-produk yang dihasilkan memberi keuntungan ekonomi yang menarik. 

Pabrik Sawit: Ganti Boiler Saja? Apa Sekaligus Mencari Solusi untuk Bebas Problem Tandan Kosong Sawit dan Keuntungan Tambahan ?

Seiring dengan bertambah luasnya perkebunan sawit di Indonesia yang saat ini sekitar 17 juta hektar, maka demikian juga pabrik sawit yang di...