Tampilkan postingan dengan label kebun bambu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kebun bambu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Juni 2023

Menghijaukan Gurun dengan Bambu

Mempercantik kota atau fasilitas-fasilitas publik semakin marak hari ini. Selain menambah keindahan sehingga semakin disukai warga atau masyarakatnya, mempercantik kota dan fasilitas publik tersebut juga dirancang untuk berfungsi menambah kesegaran udara dan keteduhan atau perindang yakni dengan menghijaukan dengan tanaman yang sesuai. Kota atau fasilitas publik yang panas dan gersang karena tidak adanya tanaman-tanaman perindang tentu tidak menarik. Apalagi suatu kota yang akan dibangun di daerah gurun pasir maka penghijauan menjadi mutlak diperlukan.

Bambu adalah tanaman yang adaptif bahkan bisa ditanam di lahan marjinal termasuk di lahan gurun. Dan karena kebutuhannya untuk memperindah kota maka spesies bambu hias lebih cocok.Ada sejumlah spesies bambu hias yang bisa menjadi pilihan. Faktor keindahan terkait desain tanaman maupun konsep tata letak kota menjadi pertimbangan untuk pemilihan spesies bambu hias tersebut. Dan penanaman bambu tersebut bisa dilakukan secara masif apalagi untuk daerah / kawasan gurun yang luas sehingga menghijau dan indah. Adalah negara kerajaan Arab Saudi yang akan membuat kota futuristik di lahan gurun berbiaya sekitar $ 500 milyar bahkan dengan program Saudi Green Initiave (SGI) yang bermaksud untuk melawan perubahan iklim menargetkan menanam 10 milyar pohon di seluruh Arab Saudi tersebut sehingga penggunaan bambu tersebut bisa sebagai pilihan menarik. Arab Saudi saat ini ekonominya bergantung pada sektor migas 56% dengan visi 2030 juga mengurangi ketergantungan terhadap sektor migasnya dan mengejar keberhasilan UAE yang hanya 34%. 

Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, yakni kerjasama perdagangan dan investasi Malaysia, Singapura dan Thailand, tiga negara di ASEAN tersebut melampaui Indonesia dengan negara Timur Tengah tersebut. Performa hubungan kerjasama investasi dan perdagangan Indonesia memang memprihatinkan dibandingkan ketiga negara di ASEAN tersebut. Indonesia masih gagal mengidentifikasi peluang dengan negara yang memiliki daya beli dan kemampuan ekonomi yan memiliki income tertinggi di dunia tersebut. Defisit perdagangan migas dan non-migas antara Indonesia dengan Arab Saudi mencapai 60%. Menyuplai kebutuhan bibit bambu sekaligus membuat perkebunannya bisa sebagai salah satu upaya mengurangi defisit perdagangan tersebut.

Sedangkan bila tujuannya menghijaukan gurun atau daerah-daerah tandus untuk produksi biomasa sebagai bahan baku industri maka pilihan spesies bambu juga berbeda untuk tujuan keindahan kota tersebut. Spesies bambu yang spesifik bisa dipilih untuk maksud tersebut. Faktor ketinggian tempat, jenis industri yang akan dibuat adalah beberapa hal untuk pemilihan jenis bambu yang akan ditanam atau digunakan misalnya untuk bioenergi atau biomaterial. Industri-industri berbasis kayu secara umum bisa digantikan dengan bambu.  
 

Sabtu, 17 September 2022

Reklamasi Lahan Pasca Tambang Dengan Bambu

Bambu adalah pohon yang mudah tumbuh, cepat tinggi dan memiliki banyak manfaat. Termasuk salah satunya adalah pemanfaatan pohon bambu untuk reklamasi lahan pasca tambang. Lahan pasca tambang yang rusak dan tandus memang tidak mudah untuk langsung ditanami. Perlu treatment atau upaya tertentu supaya lahan tersebut bisa untuk ditanami dengan tanaman yang juga tertentu pula. Ketika lahan tersebut sudah menjadi tanah subur, tentu saja hampir semua tanaman bisa ditanam di lahan tersebut. Dan untuk mencapai kondisi tersebut dibutuhkan waktu dan proses yang tidak sebentar. 

Upaya perbaikan tanah dalam arti memperbaiki kesuburan tanah adalah hal pertama dilakukan sehingga tanaman bisa tumbuh dengan baik pada lahan tersebut. Tanaman yang bisa ditanam pada tahap ini juga hanya jenis tanaman tertentu saja seperti tanaman perintis berupa tanaman cepat tumbuh (fast growing species) seperti jenis legum. Dan bambu sebagai kelompok tanaman rumput-rumputan juga mudah ditanam dan tumbuh di lahan marjinal seperti lahan pasca tambang tersebut. Ketersediaan air, unsur hara yang mencukupi , pH atau keasaman tanah yang memadai adalah beberapa hal yang dibutuhkan untuk mencapai pertumbuhan optimal. 

Sebagai ilustrasi pasir adalah media tanam yang buruk karena hampir tidak ada hara didalamnya dan ini hampir sama dengan kondisi lahan pasca tambang pada umumnya. Zat-zat atau bahan-bahan organik perlu ditambahkan sehingga menjadi pupuk atau unsur hara bagi lahan tersebut. Kotoran hewan adalah bahan organik terbaik untuk hal tersebut sehingga integrasi dengan peternakan adalah konsep terbaik pada reklamasi lahan pasca tambang tersebut. Biochar dengan berbagai keunggulannya juga perlu ditambahkan pada lahan tersebut. Biochar bisa diproduksi dari limbah-limbah biomasa baik dari perkebunan, pertanian maupun kehutanan untuk maksud tersebut. Penggunaan biochar pada skala luas juga bisa memberikan penghasilan berupa carbon credit karena biochar yang diaplikasikan ke tanah sebagai carbon sink dengan carbon sequestration. 

Pohon bambu sebagai jenis tanaman rumput-rumputan memiliki akar serabut. Rumpun bambu yang besar memiliki jaringan akar serabut yang besar juga. Suksesnya perakaran bambu menjadi salah satu kunci pertubuhan bambu. Penggunaan biochar pada pembibitan bambu juga akan memperbaiki perakaran bibit bambu yang dihasilkan. Sedangkan pada perkebunan bambu, penggunaan biochar juga memiliki banyak manfaat apalagi pada lahan pasca tambang tersebut hasilnya akan terlihat lebih riil, seperti menjaga kelembaban, unsur hara lebih tersedia, pH tanah tidak masam dan sebagainya. Biochar bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan tanah, sehingga penggunaanya bisa pada pembibitannya maupun pada perkebunannya. 

Saat ini sejumlah perusahaan tambang telah melakukan reklamasi lahan dengan pohon tersebut, tetapi sebagian besar masih ujicoba dan belum memiliki konsep yang komprehensif. Reklamasi lahan pasca tambang dengan bambu diperkirakan dimulai sejak tahun 2010 atau sudah berlangsung sekitar 12 tahun sampai saat ini. Sejumlah spesies bambu juga telah diidentifikasi cocok untuk lahan pasca tambang tersebut. Scale up atau perbesaran kapasitas menjadi penting dan tantangan saat ini apalagi didukung informasi 12 tahun reklamasi dengan pohon bambu tersebut. Dengan perbesaran kapasitas tersebut selain produksi bambu bisa mencapai prduksi komersial juga aplikasi biochar akan juga menemukan manfaat optimumnya yakni perbaikan kesuburan tanah dan carbon sink (carbon sequenstration).

Pemanfaatan bambu terutama adalah aspek yang belum mendapat perhatian secara serius pada proyek-proyek reklamasi tersebut. Padahal hanya dengan disertai pemanfaatan bambu yang merupakan produk perkebunan tersebut maka upaya reklamasi tersebut bisa diketahui memberi keuntungan ekonomi atau tidak. Tidak adanya perhatian serius terhadap pemanfaatan bambu tersebut diperkirakan karena reklamasi bambu tersebut masih dalam taraf ujicoba dengan luasan yang kecil. Tetapi jika sudah diupayakan secara profesional maka aspek ekonomi akan menjadi perhatian penting. 

Pemanfaatan bambu misalnya adalah dengan dibuat menjadi rumah-rumah penduduk di sekitar tambang. Dengan bambu ditreatment terlebih dahulu dan juga menggunakan seni arsitektur bangunan maka rumah bambu yang dihasilkan akan berkualitas, dalam pengertian kokoh dan indah dan jauh dari kesan murahan. Hal ini akan mengurangi penggunaan kayu tertentu untuk rumah yang beberapa jenisnya sudah terbatas jenisnya seperti kayu ulin di Kalimantan. Memang ada banyak cara pemanfaatan bambu tersebut, tetapi perlu dipilih yang terbaik berdasarkan kondisi dan situasi terkait. Peternakan ruminansia terutama untuk produksi bahan organik atau pupuk lahan juga akan membutuhkan kandang-kandang atau dalam penggembalaan rotasi juga dibutuhkan tiang-tiang untuk paddock. Kandang-kandang dan tiang-tiang tersebut juga bisa dibuat dengan produk bambu tersebut.   

Dan ketika produksi bambu digunakan untuk produksi biomasa dan lalu digunakan untuk produksi biochar, maka hal tersebut juga dimungkinkan secara teknis. Tetapi secara ekonomi perlu dikaji apakah juga memberi keuntungan, baik dari efek perbaikan kesuburan tanah maupun carbon credit. Pada hal ini, hal yang paling utama adalah produksi biomasa itu sendiri sehingga spesies bambu yang menghasilkan biomasa terbanyaklah yang dipilih. Semakin banyak tanah-tanah yang bisa diperbaiki dengan treatment biochar, maka akan semakin banyak tanah yang bisa dipulihkan (recovery) sehingga menjadi tanah-tanah produktif. Ketika tanah telah kembali subur berbagai tanaman pangan juga sangat dimungkinkan ditanam di lahan tersebut. Meningkatnya jumlah penduduk juga menuntut lebih banyak kebutuhan pangan, sehingga produksi pangan perlu ditingkatkan, termasuk penggunaan tanah-tanah yang bisa dipulihkan tersebut.


Minggu, 01 September 2019

Krisis Air, Bioeconomy dan Perubahan Iklim

Krisis air adalah bagian dari bencana lingkungan yang sangat mempengaruhi kehidupan semua makhluk hidup termasuk manusia. Bencana-bencana lingkungan seperti krisis air juga ada penyebabnya. Penyebab utama hal tersebut akibat kerusakan lingkungan akibat ulah tangan-tangan manusia. Apabila lingkungan tidak dijaga keseimbangannya maka terjadilah sejumlah bencana-bencana tersebut. Korban dari bencana tersebut juga tidak hanya menimpa pelaku pengrusakan lingkungan tetapi juga masyarakat lainnya. Penggundulan hutan sehingga tanah menjadi tandus dan gersang adalah penyebab utama krisis air tersebut. Pada musim kemarau berakibat krisis air dan pada musim penghujan berpotensi banjir dan tanah longsor. Penggundulan hutan maupun penebangan illegal pada umumnya sangat berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan mengabaikan aspek lingkungan.

Saat musim kemarau seperti saat ini, banyak kita temui daerah-daerah yang kekeringan bahkan sejumlah daerah terjadi kebakaran hutan. Secara lebih teknis dan detail kekeringan tersebut menyebabkan debit pasokan air bersih dari sumber air menurun, level air danau atau waduk tempat penampungan air menurun, sumur-sumur mengering demikian juga sungai-sungai. Sejumlah daerah bahkan terjadi penurunan supply dan level air yang sangat mencolok. Tidak ada satupun makhluk hidup yang bisa hidup tanpa air, karena air adalah kebutuhan vital bagi makhluk hidup, bahkan dalam Al Qur'an dijelaskan bahwa Allah SWT menciptakan makhluk hidup dari air (QS Al-Anbiya, ayat 30), tubuh manusia sendiri 70% adalah air.


Begitu banyak lahan-lahan kritis, lahan-lahan marjinal, hingga lahan-lahan tidur yang tidak dimanfaatkan, dan lahan-lahan tersebut akan semakin rusak seperti terjadi penggurunan (desertifikasi) dan potensi menimbulkan berbagai bencana. Hal ini seharusnya ditanggulangi sehingga potensi bencana bisa diminimalisir. Lebih jauh dari itu seharusnya lahan-lahan tersebut juga bisa memberi manfaat ekonomi sehingga pengrusakan hutan juga bisa ditanggulangi. Ketika masyarakat telah mampu mandiri secara ekonomi dengan memanfaatkan lahan-lahan tersebut maka hutan lindung bisa terjaga dengan baik. Solusi untuk permasalahan lingkungan sekaligus aspek ekonomi adalah solusi jitu dan dibawah ini ada 2 skenario yang bisa dilakukan, yakni pertama, kebun bambu untuk biomaterial dan kebun energi untuk supplai energi biomasa. Selain faktor penggundulan hutan, krisis air juga sebagai akibat perubahan iklim. Tingginya konsentrasi CO2 di atmosfer mempengaruhi perubahan iklim tersebut dan solusi pembuatan kebun-kebun tersebut juga sebagai media menyerap CO2 dari atmosfer.


Bambu sebagai biomaterial

Pohon bambu sudah sangat familiar bagi hampir semua masyarakat dan banyak masyarakat yang masih memanfaatkan bambu hingga kini. Tetapi pemanfaatan bambu sebagian besar masih pada berbagai produk yang memiliki nilai tambah yang rendah sehingga secara ekonomi kurang menarik. Pohon bambu juga memiliki potensi besar untuk dibuat perkebunan besar dengan prioritas utama untuk perbaikan lingkungan dan prioritas kedua sebagai sumber bahan baku biomasa untuk biomaterial. Perkebunan bambu untuk perbaikan lingkungan karena perkebunan tersebut mampu mencegah erosi, menyerap CO2 dari atmosfer, sumber O2 dan mampu mengangkat air tanah sehingga membantu ketersediaan air. Walaupun pada dasarnya semua pohon mampu menyerap dan menahan air, tetapi pohon bambu memiliki kemampuan di atas rata-rata yakni bisa mengangkat permukaan air tanah rata-rata 10  meter dalam 20 tahun atau 0,5 meter setiap tahunnya. Krisis air yang terjadi bisa sehingga direduksi atau dieliminasi dengan pembuatan perkebunan bambu tersebut.

Perkebunan bambu juga sangat efektif untuk penyediaan biomasa bahan baku biomaterial. Ketika pohon bambu telah berusia 5 tahun maka setiap bulan dari rumpunnya bisa dipanen batang bambu setiap bulan hingga masa produktif mencapai umur 60 tahun tanpa perlu replanting. Sedangkan untuk kayu dari pohon lainnya, umumnya dibutuhkan waktu 10 tahun bahkan lebih untuk bisa dipanen satu kali dan replanting untuk siklus selanjutnya. Periodisasi panen setiap bulan dengan panen 10 tahun sekali akan berdampak signifikan pada jumlah tenaga kerja yang diserap. Selanjutnya pemanfaatan bambu sehingga menghasilkan produk-produk bernilai ekonomi tinggi adalah hal penting dilakukan. Produk-produk seperti komposit bambu, tekstil bambu, dan flooring, adalah sejumlah pemanfaatan bambu bernilai ekonomi tinggi. Kualitas komposit bambu istimewa demikian juga tekstil bambu. Import bahan baku tekstil yang masih dominan hari ini juga bisa direduksi dengan tekstil bambu tersebut. Perkebunan dan pengolahan bambu bisa menjadi suatu model bioeconomy dan untuk lebih detail bisa dibaca disini, dan disini, serta lebih lanjut bambu sebagai biomaterial bisa dibaca disini.


Kebun energi untuk menyuplai energi biomasa

Walaupun saat ini hampir semua produsen energi dari biomasa sebatas memanfaatkan limbah pengolahan kayu, penggergajian kayu maupun limbah pertanian, tetapi karena supplai dari limbah-limbah tersebut terbatas dan fluktuatif, maka sulit diandalkan untuk supplai kapasitas besar dan berkesinambungan. Dalam jangka waktu yang tidak lama lagi diperkirakan kebun energi akan menggantikannya. Kebun energi dengan tanaman rotasi cepat adalah solusi ideal untuk supplai energi dalam jumlah besar dan berkesinambungan tersebut. Wood pellet adalah salah satu produk yang bisa dibuat dari kebun energi tersebut. Permintaan wood pellet di pasar internasional semakin meningkat seiring kesadaran masalah lingkungan. Wood chip sebagai produk yang lebih sederhana juga bisa dibuat jika pengguna bahan bakar biomasa berdekatan dengan kebun energi.

Dalam skala yang lebih kecil, kayu dari kebun energi juga bisa untuk produksi briquette dan charcoal briquette. Kebutuhan briquette tidak sebanyak pellet dan charcoal briquette terutama hanya untuk barbeque. Produk charcoal briquette atau lebih populer dengan nama sawdust charcoal briquette memiliki pasar besar terutama untuk daerah Timur Tengah, Arab Saudi dan Turki. Daun dari kebun energi juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, seperti domba, kambing, sapi dan kerbau. Daun tersebut juga memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga menjadi pakan bergizi bagi ternak-ternak tersebut. Padang penggembalaan juga bisa dibuat di area kebun energi sehingga usaha peternakan menjadi efektif dan efisien, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Ditinjau dari aspek lingkungan kebun energi juga berperan dalam penyerapan CO2, mencegah erosi dan konservasi air. Bahkan akar dari tanaman kebun energi yang bisa menyerap N2 dari atmosfer akan semakin menyuburkan tanah tersebut.
Apabila manusia bisa memanfaatkan tanah secara optimal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menjaga keseimbangan, merawat dan tidak merusaknya, maka bencana seperti krisis air dan tanah longsor, insyaAllah tidak akan terjadi. Memanfaatkan dengan tetap menjaga lingkungan secara bijaksana sehingga bisa terus berkembang dan berkelanjutan juga sebagai wujud rasa syukur terhadap nikmat Allah SWT sehingga nikmat-nikmat tersebut tersebut ditambah oleh-Nya.
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."  (QS Al A'Raf : 96)

Rabu, 21 Agustus 2019

Besek Bambu dan Bioeconomy


Besek bambu telah lama dikenal masyarakat sebagai bahan untuk mengemas berbagai makanan. Penggunaannya saat ini mulai berkurang seiring penggunaan plastik untuk mengemas makanan. Plastik adalah bahan polimer yang saat ini hampir semua berasal dari minyak bumi pada awalnya merupakan penemuan luar bisa yang spektakuler sehingga. material yang sangat diharapkan bisa banyak digunakan dalam kehidupan manusia termasuk menggantikan logam yang berat, tidak tahan karat, harga mahal dan sebagainya. Juga plastik tersebut bisa mensubtitusi penggunaan bahan-bahan alami untuk mengemas makanan seperti daun dan besek bambu. Plastik memang sangat banyak digunakan dalam kehidupan manusia dengan variasi kualitasnya yang juga sangat beragam. Plastik dengan kualitas tinggi juga harganya mahal dan penggunaannya juga sangat spesifik. Penggunaan plastik sebagai pengemas makanan dan juga membawa barang memang sangat praktis, ringan dan murah. Hal ini membuat konsumsi plastik untuk keperluan tersebut sangat besar atau diperkirakan mencapai 5,5 juta ton/tahun. Ternyata dari sisi lingkungan penggunaan plastik tersebut banyak menimbulkan masalah yakni pencemaran lingkungan karena perlu waktu sangat lama hingga ratusan tahun untuk mendekomposisi secara alamiah. Microplastic dari hasil peruraian plastik juga banyak berbahaya khususnya bagi kesehatan.

Indonesia bahkan menempati peringkat kedua dalam hal pencemaran plastik di lautan atau peringkat kedua setelah China, tentu ini menjadi keprihatinan tersendiri. Hal tersebut tentu banyak menimbulkan masalah lingkungan walaupun di laut sekalipun seperti mengganggu pertumbuhan biota laut misalnya terumbu karang, dan penyu. Banyak banjir juga terjadi akibat tersumbatnya saluran air dan setelah dicermati akibat banyaknya sampah plastik. Sampah plastik tersebut juga akan mencemari tanah hingga puluhan atau ratusan tahun, sehingga tentu berdampak bagi lingkungan. Saat ini sangat banyak yang mengeluhkan masalah plastik tersebut bahkan ada wacana untuk membatasi dan melarang termasuk memajakinya. Tentu saja hal tersebut berpotensi akan menurunkan penggunaan plastik tetapi tanpa ada solusi efektif maka peraturan juga tidak akan efektif. Pirolisis adalah proses thermal yang bisa digunakan untuk mengatasi limbah plastik tersebut. Tetapi karena teknologi ini masih mahal sehingga belum banyak digunakan.
Geplak Bantul
Kembali ke besek bambu, apabila pengemasan makanan kembali ke bahan-bahan alami tentu penggunaan plastik bisa dikurangi. Geplak adalah makanan tradisional khas Bantul, Yogyakarta yang biasanya masih menggunakan besek bambu. Seiring meningkatnya minat masyarakat saat ini terhadap makanan-makanan tradisional seharusnya diikuti pula penggunaan pengemasan berbahan alami seperti penggunaan besek bambu tersebut. Baru-baru ini besek bambu juga sempat mendapat perhatian masyarakat karena himbauan Gubernur Jakarta, Anies Baswedan untuk menggunakan besek bambu untuk distribusi daging kurban pada Idul Adha 1440 H kemarin. Hal ini adalah suatu terobosan dan lompatan jitu untuk kembali mempopulerkan besek bambu. Apabila besek bambu semakin meningkat penggunaannya maka kebutuhan bambu sebagai bahan bakunya juga otomatis meningkat. Untuk itu kebun-kebun bambu perlu dibuat untuk menjaga keberlangsungan supplainya, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Bahkan pohon bambu bisa memenuhi 9 poin dari 17 poin dari Sustainable Development Goals (SDGs) yang merupakan negara-negara yang bernaung dibawah PBB, untuk lebih detail bisa dibaca disini.

Katun bambu, photo diambil dari sini
Kebun bambu ternyata memiliki banyak manfaat lingkungan salah satunya untuk konservasi air dan menahan erosi. Bambu juga bisa terus dipanen sepanjang tahun setelah berumur 5 tahun selama 25 tahun atau masa produktifnya. Penggunaan bambu juga tidak hanya untuk kemasan makanan seperti besek bambu tersebut tetapi juga untuk berbagai hal lain. Pada dasarnya masyarakat Indonesia pada umumnya juga telah sangat familiar dengan bambu hanya saja pada era bioeconomy produksi /budidaya dan pengolahannya bisa dioptimalkan. Sejumlah penggunaan bambu yang cukup advance adalah dashboard Toyota Lexus, langit-langit di bandara Barajas, Madrid, Spanyol dan sepeda sport. Bambu seperti halnya biomasa kayu-kayuan lainnya juga bisa sebagai bahan baku pulp and paper, tekstile,  bioenergy (pellet & briket), biomaterial dan sebagainya. Bahkan sebuah rumah yang dibuat dengan papan bambu yang dibuat dengan proses khusus ternyata kualitasnya tidak kalah dengan perumahan mewah.

Minggu, 12 Agustus 2018

Bioeconomy Model Untuk Indonesia Bagian 2

Selain dengan menggunakan pohon leguminoceae seperti kaliandra dalam bentuk kebun energi, seperti diuraikan lebih rinci pada bioeconomy model untuk Indonesia bagian 1, pohon bambu juga bisa digunakan sebagai tanaman perintis dan berdampak berkembangnya berbagai aktivitas bioeconomy turunannya. Mengapa pohon bambu juga bisa digunakan dalam hal ini? Pohon bambu yang termasuk kelompok rumput-rumputan (gramineae) bisa tumbuh di hampir semua tempat di Indonesia dan tahan terhadap kondisi kering, hal ini juga karena tumbuhan bambu termasuk jenis tumbuhan dengan photosintesis C4. Air tanah juga akan terangkat naik ke permukaan oleh tanaman bambu, sehingga daerah yang semula kering bisa menjadi subur dan air mudah tersedia, bahkan munculnya mata air sebagai akibat hutan atau kebun bambu tersebut, seperti dibaca disini
Rusaknya lingkungan pada umumnya dimulai dari rusaknya tanah yang berubah menjadi kering dan tandus. Kondisi demikian menyebabkan tanah tidak dimanfaatkan dan semakin memperparah kerusakan hingga bisa terjadi penggurunan (desertifikasi). Rusaknya tanah bisa disebabkan penggunaan pupuk kimia, kurang atau tidak tersedia sumber air dan pengelolaan lahan yang tidak berkelanjutan. Pohon bambu yang juga mudah tumbuh bisa digunakan untuk memperbaiki kondisi tersebut. Untuk itu kebun bambu perlu banyak dibuat untuk merehabilitasi lahan dan juga manfaat secara ekonomi. Hanya memerlukan waktu sekitar 3 tahun pohon bambu sudah bisa dipanen dan selanjutnya bisa dipanen terus menerus hingga lebih dari 30 tahun. 

Bambu bisa untuk biomaterial, tetapi tentu pemanfaatan paling ekonomis adalah yang dicari. Bambu bisa dimanfaatkan untuk produksi berbagai macam produk seperti bahan bangunan, bahan baku kertas, sumber energi, activated carbon, hingga tekstil berkualitas tinggi dan untuk lebih rinci bisa dibaca disini. Banyaknya produk-produk yang bisa dihasilkan dari bambu tentu akan menjadi daya dorong tersendiri. Saat ini masih banyak sejumlah produk yang masih import, padahal seharusnya bisa diproduksi di dalam negeri. Bahan baku tekstil seperti katun dan wol adalah contoh bahan baku yang masih import dalam jumlah sangat besar, dan ini sebenarnya juga bisa disubtitusi dengan bahan baku dari bambu, bahkan kualitasnya lebih baik. 

Dengan perkebunan bambu yang memperbaiki kondisi lingkungan dan aspek ekonomi, selanjutnya pengembangan bisa terus dilakukan nantinya, seperti pembuatan kebun buah-buahan maupun peternakan khususnya domba. Tanah yang telah subur dan air mudah tersedia menjadikan berbagai pohon buah-buahan bisa tumbuh dengan baik, demikian pula bisa untuk pembuatan padang penggembalaan dengan rerumputan yang menghijau. Teknik penggembalaan rotasi sebagai teknik penggembalaan terbaik saat ini bisa diterapkan di padang penggembalaan tersebut. Sektor ekonomi berbasis hal tersebut menjadi semakin bergairah dan contoh bioeconomy riil. 
Bermula dari bambu, sektor ekonomi bangsa dan umat bisa menjadi kuat. Sektor-sektor strategis seperti pangan, sandang, papan, hingga energi bisa dicukupi dan tidak bergantung import. Ada puluhan juta hektar lahan tersedia di Indonesia, dan bisa digunakan untuk perkebunan bambu tersebut. Kondisi Indonesia yang beriklim tropis dengan curah hujan tinggi juga sangat mendukung perkebunan bambu di Indonesia. Mari kita perbaiki dan selamatkan lingkungan sekaligus untuk menjadi memimpin di era bioeconomy dengan perkebunan bambu,  industri pengolahannya dan pengembangannya

Selasa, 10 April 2018

Bambu Sebagai Biomaterial

Imej sebagian orang tentang bambu masih negatif, yakni dibayangkan sebagai pondok bambu yang reot dan identik dengan orang miskin di pedesaan. Padahal bambu adalah tanaman yang memiliki banyak kegunaan dan penggunaannya juga tidak kalah dengan kayu. Konstruksi langit-langit bandara Barajas di Madrid, Spanyol contohnya menggunakan bambu lalu interior mobil Toyota Lexus, dan sepeda sport bambu. Penggunaan bambu untuk pembuatan arang aktif juga banyak dilakukan. Arang aktif (activated carbon) adalah bahan dari arang yang diaktivasi sehingga memiliki luas permukaan (surface area) yang besar, sehingga biasa digunakan untuk filter yang menjerap (adsorbsi) berbagai senyawa kimia tertentu. Seiring waktu pemanfaatan bambu juga semakin luas, dan akan sangat panjang bila diuraikan satu per satu tentang produk-produk yang bisa dihasilkan dari bambu. Permasalahannya perkebunan bambu di Indonesia khususnya juga semakin berkurang sehingga perlu digalakkan termasuk pemanfaatannya terutama dalam era bioeconomy yang sudah di depan mata. 


Berbeda dengan kebun energi yang menggunakan tanaman jenis leguminoceae dan bisa terus dipanen setiap tahun dari trubusannya (SRC : short rotation coppice), perkebunan bambu bisa mulai dipanen ketika minimal berumur 3 tahun dan juga bisa terus menerus dipanen hingga puluhan tahun. Kebun energi mampu menghasilkan produktivitas tinggi dari kayu-kayunya sehingga ekonomis untuk produksi wood pellet, sedangkan bambu tidak ekonomis untuk produksi pellet karena jauh menguntungkan untuk berbagai kebutuhan lainnya. Limbah atau residue pengolahan bambu itu yang bisa digunakan untuk dibuat pellet. Bambu lebih cocok untuk sumber biomaterial yang juga sangat dibutuhkan pada era bioeconomy saat ini. 

Ketika bambu diawetkan dengan treatment tertentu maka daya tahannya lama sehingga bisa berumur hingga puluhan tahun, salah satunya karena tahan rayap. Bangunan-bangunan yang eksotis dan bernuansa alami juga banyak dibuat dari bambu. Ketika kebutuhan akan perumahan semakin tinggi terutama di kota-kota besar, maka bambu juga bisa sebagai solusinya. Dengan teknologi komposit bambu tersebut menjadi kuat, keras dan tahan lama bahkan hingga puluhan tahun sehingga sesuai untuk pembuatan rumah-rumah tersebut. Jangan dibayangkan rumah bambu dengan teknologi komposit tersebut seperti pondok bambu yang reot di pedesaan karena hampir semua tipe rumah dan modelnya juga bisa dibuat dengan bambu komposit tersebut. Selain itu pembuatan rumah dengan bambu komposit cepat juga ramah lingkungan. Dan untuk lebih detail untuk pemanfaatan bambu bisa dibaca di sini.

Pabrik Sawit: Ganti Boiler Saja? Apa Sekaligus Mencari Solusi untuk Bebas Problem Tandan Kosong Sawit dan Keuntungan Tambahan ?

Seiring dengan bertambah luasnya perkebunan sawit di Indonesia yang saat ini sekitar 17 juta hektar, maka demikian juga pabrik sawit yang di...