Tampilkan postingan dengan label penggembalakan domba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penggembalakan domba. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Agustus 2018

Sate dan Makanan Olahan Domba Kapan Saja!

Makan sate dan produk olahan domba memang lezat sehingga alangkah nikmatnya apabila bisa sering menyantapnya. Sebagian masyarakat kita bisa menikmati masakan-masakan tersebut hanya pada saat Idul Adha. Tentu saja hal ini harus terus ditingkatkan karena konsumsi daging rata-rata penduduk Indonesia masih rendah. Padahal protein adalah salah satu gizi essential yang sangat kita butuhkan. Dan untuk itu daging domba adalah daging terbaik walaupun banyak mitos yang menentangnya. Dalam Al Qur'an Surat 6 : 143-144, delapan ekor hewan yang berpasangan (4 pasang) tersebut adalah dua ekor (sepasang) domba, sepasang kambing, sepasang unta dan sepasang sapi. Dari serangkaian hewan ternak yang disebutkan dalam ayat-ayat di atas, domba disebut pertama, baru kambing, unta dan sapi. 
Kaidah dalam Al Qur'an, sesuatu yang disebut pertama memiliki keutamaan daripada sesudahnya. Nah, disinilah domba memiliki keutamaan dibandingkan hewan ternak lain yang disebut dalam ayat tersebut, walaupun semua hewan tersebut dagingnya halal dimakan. Indikasi lain tentang keutamaan domba juga bisa kita dapati pada peristiwa Qurban, yakni ketika Nabi Ibrahim diperintah Allah SWT untuk menyembelih putranya yakni Ismail, lalu oleh Allah SWT menyelamatkan Ismail dan menggantinya dengan domba besar. Peristiwa tersebut kemudian kita peringati setiap tahun dan menjadi syariat Qurban pada hari raya Idhul Adha setiap 10 Dzulhijah. Selain itu bahwa semua Nabi dan Rasul adalah penggembala domba, adalah indikasi lain bahwa daging domba adalah daging terbaik tersebut dan domba yang digembala adalah harta terbaik
Porsi Asupan Protein Menurut Al Qur'an
Pertanyaan selanjutnya yang bisa muncul adalah adakah panduan lain lebih spesifik tentang pola makan khususnya protein ? Al Qur'an juga mengindikasikan sumber protein dari ternak besar menempati porsi terbesar dibanding unggas dan ikan. Sumber protein hewani yakni dari ternak besar terungkap dalam setidaknya 7 ayat atau 64%, dari ikan terungkap dalam 3 ayat atau 27% dan dari unggas terungkap dalam 1 ayat atau 9%. Sehingga untuk pemenuhan kebutuhan protein prioritasnya adalah dari ternak besar, khususnya yang digembalakan, karena selain menghasilkan protein yang murah, juga menyuburkan lahan-lahan untuk berbagai kebutuhan manusia.
Supaya sate dan olahan daging domba bisa dimakan kapan saja dan di mana saja, inovasi pangan dibutuhkan. Kita tentu sudah tidak asing lagi dengan berbagai makanan yang dikalengkan sehingga bisa tahan lebih lama seperti gudeg, rendang, mangut lele dan sebagainya. Tentu hal tersebut juga sangat mungkin bagi daging domba. Hal tersebut juga untuk semakin memasyarakatkan daging terbaik tersebut, sehingga ketika disebut daging, masyarakat nantinya asosiasinya ke daging domba bukan daging sapi atau ayam seperti yang terjadi hari ini. Apabila kondisinya seperti itu, maka industri peternakan domba akan semakin berkembang pesat. Peternakan domba tersebut bisa diintegrasikan dengan berbagai perkebunan besar dan untuk lebih detailnya bisa dibaca disini

Sabtu, 21 April 2018

Mencari Harta Terbaik Dari Implementasi Kebun Energi Bagian 8

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. ” (QS 16:10)

“Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.”(QS 20:54)

"Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput (lahan), air dan api (energi)". (HR. Sunan Abu Daud).
Setelah kebun energi dibuat untuk produksi wood pellet selanjutnya membuat peternakan domba (atau domba dengan sapi) untuk pemanfaatan daun-daun dari pohon kebun energi tersebut atau keduanya juga bisa dibuat secara parallel. Pembuatan peternakan domba (atau domba dengan sapi) saja juga bisa sebagai entry point sebelum integrasi dengan kebun energi pada saatnya nanti atau bahkan model bioeconomy yang lebih luas. Peternakan domba (atau domba dengan sapi) dengan cara penggembalaan rotasi adalah cara terbaik, karena memaksimalkan pemanfaatan lahan, pengelolaan padang gembalaan lebih mudah dan terencana, serta produktivitas dan kualitas daging dari hewan ternak juga lebih tinggi. Dalam penggembalaan rotasi, hewan ternak tersebut diputar pada area padang gembalaan yang telah disekat-sekat. Area padang gembalaan yang digunakan sebaiknya memiliki ketinggian rumput sekitar 25-30 cm dan ditinggalkan ketika rumput memiliki ketinggian sekitar 8-10 cm. Apabila rumput dihabiskan (overgrazed) maka pertumbuhan selanjutnya menjadi kurang optimal bahkan bisa mati, karena tidak mampu tumbuh lagi. 
Setidaknya ada 4 hal fisik yang perlu diperhatikan untuk pembuatan penggembalaan rotasi berjalan baik, yakni : supplai pakan, sistem pagar atau sekat-sekat, supplai air dan tempat teduhan. Supplai pakan atau ketersediaan rumput adalah faktor penting keberlangsungan penggembalaan tersebut. Pada musim penghujan rumput atau bulan-bulan tertentu akan berlimpah sedangkan pada musim kemarau berkurang. Untuk menyesuaikan dengan jumlah pakan tersebut, populasi hewan ternak juga bisa disesuaikan. Ketika pakan berlimpah populasi ternak lebih banyak daripada ketika pakan berkurang. Untuk menjaga pakan lebih tersedia, padang gembalaan bisa dilengkapi dengan sistem irigasi yang baik sehingga rumput bisa terus tumbuh pada musim kemarau sekalipun.

Sistem pagar atau sekat-sekat juga merupakan faktor suksesnya penggembalaan rotasi. Sistem pagar tersebut memungkinkan pengelolaan padang gembalaan secara terencana. Pengaturan penggunaan area untuk penggembalaan maupun area yang harus diistirahatkan sehingga rumput tumbuh kembali merupakan fungsinya sistem pagar tersebut. Selanjutnya supplai air, jelas ini merupakan faktor penting karena Allah SWT menciptakan sesuatu yang hidup dari air (QS 21:30) dan setiap yang hidup pasti membutuhkan air khususnya hewan-hewan ternak tersebut. Setiap sekat atau kamar area penggembalaan harus dilengkapi supplai air tersebut. Semakin banyak pakan atau rumput yang dikonsumsi semakin banyak air yang dibutuhkan. Kekurangan supplai air juga akan menurunkan konsumsi pakan. Air sejuk dan tidak panas lebih disukai hewan ternak dibandingkan dengan air yang panas. Ketika siang hari yang panas, tempat air dalam kolam atau wadah tertentu akan menjadi panas, mengakibatkan konsumsi air berkurang dan juga konsumsi pakan menjadi berkurang yang akhirnya pertumbuhan berat badan menurun. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jarak maksimal hewan ternak gembalaan tersebut ke sumber air maksimal sekitar 250 meter untuk hasil optimal. 
Tempat teduhan juga merupakan hal penting bagi penggembalaan. Hewan-hewan ternak cenderung mencari tempat teduh supaya bisa merumput lebih lama. Ketika cuaca panas, maka hewan ternak tidak bertahan lama merumput. Tempat teduhan terbaik adalah pepohonan sehingga pohon-pohon perlu ditanam di area padang gembalaan tersebut. Pohon buah-buahan adalah salah satu pilihan menarik untuk itu. Setiap area yang disekat-sekat (paddock) tersebut dapat ditanami satu jenis pohon buah, misalnya satu paddock untuk pohon durian, paddock lainnya untuk klengkeng, lainnya lagi untuk pohon kurma, tin, jambu dan sebagainya. Suhu di Indonesia yang beriklim tropis juga lebih tinggi dibandingkan daerah subtropis, yakni siang hari rata-rata mencapai 25 C sedangkan di daerah subtropis hanya 10 C. Hal ini semakin menunjukkan bahwa lokasi terbaik adalah penggembalaan adalah padang rumput dengan pepohonan yang rindang diantaranya. Banyaknya curah hujan seperti di Indonesia membuat pepohonan cepat besar dan berbuah sehingga bisa cepat digunakan untuk tempat teduhan. 

Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan bagi peternak yang hendak memulai penggembalaan rotasi (rotation grazing) adalah berapa banyak paddock yang harus dibuat ? Pada dasarnya semakin banyak paddock akan semakin baik karena Padang gembalaan bisa termanfaatkan untuk sumber pakan hewan ternak secara maksimal. Pada umumnya untuk memulainya bisa dengan 5 hingga 10 paddock dengan setiap paddock untuk penggembalaan 3 hingga 7 hari selanjutnya diistirahatkan 25-30 hari. Dari hampir semua praktek penggembalaan rotasi, jumlah 4 paddock adalah jumlah paling minimum apabila hendak memulainya. Bentuk bujur sangkar adalah bentuk terbaik untuk paddock tersebut, sehingga semaksimal mungkin diusahakan mendekati bentuk tersebut. Bentuk paddock kecil memanjang maupun lingkaran kurang baik karena lebih sulit untuk mencapai hasil pemanfaatan rumput yang merata oleh hewan ternak. Untuk penentuan area padang gembalaan sekaligus pembagiannya akan lebih baik pada tahap awalnya untuk melakukannya dengan photo udara.  

Jumat, 30 Maret 2018

Mencari Harta Terbaik Dari Implementasi Kebun Energi Bagian 7

Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. ” (QS 16:10)

Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.”(QS 20:54)

"Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput (lahan), air dan api (energi)". (HR. Sunan Abu Daud).

Petani diluar Jawa umumnya memiliki tanah 5-10 hektar, tetapi tidak sedikit yang memiliki puluhan hektar hingga ratusan hektar. Tanah-tanah tersebut banyak yang belum diolah maupun dioptimalkan sehingga memberi manfaat bagi pemiliknya. Tanah-tanah tersebut sangat potensial untuk dibuat padang gembalaan secara efisien dengan penggembalaan rotasi. Penggembalaan domba maupun campur domba dan sapi bisa diusahakan di area-area tersebut. Penggembalaan rotasi adalah membagi padang gembalaan tersebut menjadi beberapa unit seperti arena latihan kuda (paddock) selanjutnya binatang ternaknya secara bergiliran digembalakan di area gembalaan yang bersekat-sekat tersebut. Pada penggembalaan rotasi selalu ada padang gembalaan yang diistirahatkan untuk memulihkan pertumbuhan rumputnya. Pemilik-pemilik lahan tersebut juga bisa bersyirkah untuk mencapai luasan lahan tertentu untuk digunakan sebagai kebun energi. Kebun energi akan memproduksi kayu bisa untuk energi yakni wood pellet atau wood briquette ataupun turunan produk lain. Daun-daunnya digunakan untuk pakan ternak yakni domba maupun domba dengan sapi. Hewan ternak bahkan bisa digembalakan dalam area kebun energi dengan teknik tertentu maupun mengorbankan sejumlah tanah untuk area penggembalaan.

Penggembalaan rotasi akan memberikan hasil yang efisien baik produktivitas daging maupun keberlanjutan padang gembalaan tersebut. Pertumbuhan rumput bisa dijaga sedemikian rupa dengan penggembalaan rotasi tersebut, yakni dipertahankan pada ketinggian 8-10 cm. Bila rumput dimakan habis (overgrazed) sampai pangkal batang maka akan sulit tumbuh lagi dengan baik. Teknik mengatur supaya rumput terus tumbuh dengan baik yakni dengan mengatur durasi penggembalaan pada sekat penggembalaan tersebut, ini juga akan terpengaruh oleh faktor musim. Rumput akan tumbuh lebih cepat pada musim penghujan dan sebaliknya pada musim kemarau lebih lambat. Dengan irigasi yang baik pertumbuhan rumput pada musim kemarau bisa tetap dipertahankan. Padang gembalaan pada hakikatnya adalah bertani atau budidaya rumput itu sendiri. Selain itu dengan penggembalaan rotasi domba atau hewan ternak akan merumput lebih merata karena area penggembalaannya dibatasi dengan sekat-sekat tersebut. Sebagai perbandingan adalah dengan penggembalaan terus menerus (continous grazing), dimana ternak cenderung hanya makan rumput yang disukai bahkan sampai habis (overgrazing) sehingga keberlanjutan rumput padang gembalaan kurang optimal. 

Lalu bagaimana supaya keberlanjutan padang gembalaan bisa optimal? Pemupukan adalah hal penting untuk mencapai hal tersebut, selain hal-hal diatas. Distribusi kotoran ternak harus dibuat sebaik mungkin dalam padang gembalaan tersebut. Dengan rasio luas lahan berbanding jumlah ternak kecil atau jumlah ternak dibuat lebih banyak sehingga populasinya lebih besar membuat distribusi pupuk menjadi merata. Jarak mobilitas ternak dengan cara tersebut menjadi pendek. Tentu saja ketersediaan pakan berupa rumput menjadi pertimbangan penting untuk ketersediaan pakan ternak gembalaan tersebut. Rumput lebat walaupun tidak begitu luas bisa jadi menyediakan pakan lebih banyak daripada tanah luas dengan populasi rumput yang jarang. Apabila luasan 1 m2 dengan kondisi rumput lebat dihasilkan 1 kg rumput, maka untuk tiap hektarnya tersedia 10 ton rumput untuk pakan. 
Al Qur'an menunjukkan bahwa binatang gembalaan menyukai tempat teduh dibawah pepohonan dan juga dekat sumber air (QS 16:10). Hal ini  juga telah dibuktikan dari penggembalaan professional diberbagai negara dan belahan bumi. Untuk itu padang gembalaan seharusnya juga ditumbuhi banyak pepohonan seperti petunjuk Al Qur'an. Diantara pepohonan tersebut juga bisa tumbuh banyak rerumputan. Hewan-hewan gembalaan akan banyak menghabiskan waktunya di tempat teduh di bawah pepohonan tersebut. Sumber air juga perlu disediakan di lokasi tersebut untuk tempat minum hewan-hewan gembalaan tersebut. Akibatnya kotoran ternak juga akan terakumulasi di lokasi-lokasi tersebut sehingga juga menyuburkan tanahnya. Pohon buah-buahan maupun pohon kayu-kayuan bisa digunakan pada padang gembalaan tersebut. Daun-daun dari kebun energi bisa dijadikan pakan tambahan bagi domba-domba tersebut. Peternakan domba tersebut juga bisa termasuk mendukung syariat qurban yakni syariat Islam menyembelih hewan qurban pada setiap tanggal 10 Dzulhijah atau hari raya Idhu Adha. Selain tanah-tanah tersebut digunakan untuk kebun energi, tanah-tanah perkebunan di Indonesia yang sangat luas misalnya kelapa sawit yang mencapai 12 juta hektar, kelapa 3,7 juta hektar, karet 3,5 juta hektar, sengon, aneka kebun buah-buahan yang juga sangat luas bisa dimodifikasi dengan penggembalaan domba untuk optimalisasi lahan dan peningkatan kesuburan tanahnya. 

Kamis, 16 November 2017

Transmigrasi Untuk Menggembala Domba Di Kebun Sawit, Mungkinkah ?

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. ” (QS 16:10)

“Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.”(QS 20:54) 

“"Setiap Nabi yang diutus oleh Allah adalah menggembala domba/kambing". Sahabat-sahabat beliau bertanya : “Begitu juga engkau ?” ; Rasulullah bersabda : “Ya, aku menggembalanya dengan upah beberapa qirath penduduk Mekah”. (H.R. Bukhari)
Indonesia memiliki sekitar 12 juta hektar perkebunan kelapa sawit saat ini, yang terdiri dari 4,8 juta hektar perkebunan rakyat, 6,2 juta hektar perkebunan swasta dan 0,8 juta hektar perkebunan negara. Perkebunan sawit tersebut membutuhkan sejumlah perawatan sehingga bisa terus berproduksi apalagi dengan target produksi tandan buah segar (TBS) tertentu per hektarnya. Apalagi produktivitas TBS di Indonesia secara umum juga lebih rendah dari Malaysia, yakni hanya sekitar setengahnya. Menjaga kesuburan tanah adalah faktor penting untuk menjaga kelangsungan dan target produksi TBS kelapa sawit tersebut. Upaya menjaga kesuburan tanah yang murah, mudah, efektif dan berkelanjutan adalah hal yang dicari oleh semua petani atau pengusaha kelapa sawit tersebut. Penggembalaan domba di area perkebunan sawit adalah solusi efektif tersebut.
Grafik diambil dari sini
Mengapa penggembalaan domba bisa menjadi solusi efektif tersebut? Domba-domba yang digembalakan di perkebunan sawit tersebut, akan menyebarkan kotoran yang menjadi pupuk bagi perkebunan sawit. Selain memupuk pohon-pohon sawit, penggembalaan domba di perkebunan sawit tersebut juga berarti produksi daging secara masif dan paling ekonomis. Ditinjau dari sisi pangan, minyak sawit yang digunakan sebagai minyak yang di konsumsi manusia atau minyak pangan (edible oil) menyediakan unsur lemak, sedangkan daging domba menyediakan unsur protein, dua hal unsur pangan esential bagi manusia. Perkebunan sawit perlu terus dijaga kesuburan tanahnya, konsumsi daging penduduk Indonesia yang masih rendah hanya 1/4 rata-rata dunia perlu ditingkatkan, domba juga komoditas export, yang Arab Saudi saja membutuhkan minimal 8 juta ekor/tahun, dan aktivitas ekonomi di luar Jawa perlu terus ditingkatkan sehingga lapangan pekerjaan bisa terus dibuka, pemerataan penduduk Indonesia yang saat ini 60% terkonsentrasi di pulau Jawa, adalah sejumlah daya dorong penggembalaan domba di perkebunan sawit. Domba akan menjadi harta terbaik muslim dan memiliki banyak keunggulan dibanding binatang ternak lain, untuk lebih rinci bisa dibaca di sini, sini dan sini.

Allan Savory, seorang biologist dari Zimbabwe telah membuktikan dengan program penggembalaan yang terencana, atau dengan konsep Holistic Planned Grazing, bahkan telah menyelamatkan bumi dengan kembali menghijaukannya dengan luasan yang tidak main-main yakni 16 juta hektar atau hampir 2,5 kali luas kebun sawit Indonesia. Allan Savory menggunakan sapi sebagai binatang gembalaan tersebut. Domba jelas lebih unggul dalam sejumlah aspeknya, seperti penjelasan dalam link-link di atas. Allan Savory saja yang hanya manusia biasa dengan konsepnya bisa membuktikan menyelamatkan bumi dengan luasan jutaan hektar, nah bagaimana jika sunnah para Nabi diterapkan yakni penggembalaan domba diterapkan? Tentu hasilnya akan jauh mengungguli konsep Allan Savory dalam semua aspeknya, apalagi mengatasi sejumlah  masalah di perkebunan sawit dan pangan kita khususnya daging. Selain itu jelas ayat Al Qur'an di atas juga memberi petunjuk dimana sesungguhnya lokasi penggembalaan yang paling cocok bagi hewan ternak. Apakah para petani dan pengusaha sawit muslim di Indonesia khususnya tidak tertarik menerapkan penggembalaan domba di perkebunan sawitnya sebagai solusi efektif usahanya, mengikuti sunnah dan petunjuk ayat Al Qur'an di atas?

Porsi Sumber Protein Hewani Menurut Al Qur'an
Transmigrasi yang dulu pernah digalakkan pada era orde baru, semestinya bisa dilakukan kembali. Ketika transmigrasi saat itu untuk bertani dengan mengolah tanah dan bercocok tanam, bahkan hingga pembukaan sawah sejuta hektar yang saat ini kondisinya mengenaskan, maka transmigrasi saat ini adalah untuk penggembalaan domba di area perkebunan sawit. Hal tersebut akan lebih mudah, karena perkebunan sawitnya juga sudah ada dan sangat luas. Apabila hal tersebut diterapkan maka akan ada ratusan juta ekor domba digembalakkan di perkebunan sawit dan sangat banyak lapangan pekerjaan tersedia. Al Qur'an juga mengindikasikan sumber protein dari ternak besar menempati porsi terbesar dibanding unggas dan ikan. Sumber protein hewani yakni dari ternak besar terungkap dalam setidaknya 7 ayat atau 64%, dari ikan terungkap dalam 3 ayat atau 27% dan dari unggas terungkap dalam 1 ayat atau 9%. Sehingga untuk pemenuhan kebutuhan protein prioritasnya adalah dari ternak besar, khususnya yang digembalakan, karena selain menghasilkan protein yang murah, juga menyuburkan lahan-lahan untuk berbagai kebutuhan manusia. 
Ditinjau dari sisi energi, pohon sawit juga sebagai sumber energi terbarukan. Minyaknya selain untuk pangan juga untuk untuk energi yakni biodiesel, sabut dan cangkang juga sebagai bahan bakar. Cangkang sawit bahkan telah menjadi komoditas export yang sangat dicari oleh berbagai negara di dunia. Bahkan ketika cangkang sawit ini habis akibat tingginya permintaan baik untuk pasar export maupun penggunaan dalam negeri, maka tandan kosong sawit (EFB) juga akan bisa digunakan untuk bahan bakar seperti dibuat EFB pellet. Ketika tandan kosong sawit biasa dibuat kompos, dan selanjutnya dibuat pellet, maka kesuburan tanah kembali menjadi masalah maka penggembalaan domba sebagai solusinya, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Penggunaan pohon sawit sebagai sumber pangan dan energi sejalan dengan era bioeconomy yang akan segera kita masuki.

Kamis, 19 Oktober 2017

Export Pellet Fuel Dan Kesuburan Tanah

Ada sejumlah kalangan yang mengkhawatirkan apabila export bioenergi khususnya pellet fuel dilakukan secara massif maka kesuburan tanah akan menurun atau tanah menjadi rusak. Mengapa mereka mengkhawatirkan hal ini? Karena pellet fuel yang dimaksudkan adalah EFB pellet atau pellet tandan kosong (tankos) sawit. Tankos sawit sebagai bahan baku EFB pellet atau pellet tankos sawit tersebut memang saat ini banyak yang diolah menjadi kompos atau pupuk organik padat yang digunakan lagi pada perkebunan sawit tersebut. Apabila tidak ada pupuk atau nutrisi bagi pohon-pohon sawit tersebut maka memang benar bahwa kesuburan tanah akan rusak. Limbah-limbah perkebunan sawit seperti pelepah dan daunnya juga bisa dijadikan kompos tetapi akan lebih sulit pertama, karena memerlukan usaha tambahan untuk mengumpulkannya, sedangkan tankos sawit adalah limbah pabrik sawit yang setiap hari dihasilkan pabrik tersebut dalam jumlah besar sehingga tidak perlu mengumpulkan lagi. Sementara pelepah dan daun sawit adalah limbah perkebunan tersebut yang tersebar atau berserakan di perkebunan itu sendiri. Kedua, tankos dari pabrik sawit memiliki kadar air tinggi karena sebelumnya dilakukan proses pengukusan (steamming) pada produksi CPO. Kadar air yang tinggi dari tankos sawit atau sekitar 60% membuatnya mudah dikomposkan karena material tersebut mudah busuk dan terurai menjadi kompos. Sedangkan pelepah dan daun pada umumnya kering, sehingga lebih sulit untuk dikomposkan.

Masalah diatas bisa diatasi dengan penggembalaan (grazing) ternak, terutama domba. Dengan penggembalaan maka rerumputan diantara pohon sawit menjadi pakan bagi domba-domba tersebut, kotoran ternak menjadi pupuk bagi pohon-pohon sawit dan dagingnya untuk konsumsi manusia. Dengan penggembalaan tersebut manusia bisa memproduksi daging dan memupuk perkebunan sawitnya dengan sangat ekonomis. Sebuah referensi success story tentang penggembalaan ini adalah Allan Savory seorang biologist dari Zimbabwe, yang konsep penggembalaan terencananya (Holistic Planned Grazing) yang telah diaplikasikan saat ini hingga sekitar 16 juta hektar di seluruh dunia atau sekitar dua kali luas perkebunan sawit kita. Ada sejumlah faktor Keunggulan penggembalaan domba dibandingkan sapi, yang bisa dibaca di link ini, ini dan ini.
Lalu bagaimana dengan pellet fuel dari biomasa kayu-kayuan atau wood pellet dari kebun energi? Pohon-pohon yang ditanam sebagai pohon kebun energi pada umumnya berupa leguminoceae yang akarnya mampu mengikat nitrogen (nitrogen fixing trees), sehingga bisa sebagai tanaman perintis dan bisa tumbuh hampir dimana saja termasuk di lahan-lahan tandus atau gersang. Pohon-pohon tersebut bahkan mampu menyuburkan tanah yang awalnya gersang atau bumi yang mati tersebut. Tetapi untuk mendapatkan produktivitas kayu terbaiknya tanah yang subur dan dirawat semestinya (walaupun perawatannya juga sangat mudah) harus dipenuhi. Penggembalaan domba secara terencana dan presisi adalah salah satu perawatan tersebut sekaligus kita akan memproduksi daging paling ekonomis. 

Minggu, 24 September 2017

Mencari Harta Terbaik Dari Implementasi Kebun Energi Bagian 2

Penggembalaan ternak ternyata terbukti aktivitas dan pekerjaan penting yang akan terus ada sampai hari kiamat. Sebagian besar manusia menganggapnya sebagai pekerjaan rendahan dan kuno sehingga banyak ditinggalkan. Padahal tentu saja pada era saat ini perangkat teknologi bisa digunakan untuk memudahkan penggembalaan tersebut,satu diantaranya yakni dengan IoT (Internet of Things)   yang juga banyak diterapkan disejumlah bidang kehidupan. Dengan penggembalaan ternak ternyata salah satu hal penting bagi manusia yakni siklus pangannya bisa berjalan dan terus berlanjut. Kesuburan tanah akan terjaga, lalu berbagai rerumputan bisa terus tumbuh dan juga berbagai pepohonan lainnya. Adalah Allan Savory, seorang biologist dari Zimbabwe yang merumuskan konsep fenomenal tentang penyelamatan kehidupan di bumi melalui Holistic Planned Grazing, yakni konsep sederhana menghidupkan penggembalaan yang terencana. Konsepnya tersebut bahkan telah diterapkan diberbagai belahan dunia, mulai dari Afrika, Australia, Amerika Latin bahkan Amerika Utara dengan total area lebih dari 16 juta hektar (sekitar 40 juta acres). Bagaimana sistem penggembalaan tersebut sehingga bisa melestarikan kehidupan di bumi, simak video dari Allan Savory tersebut di link ini. Prinsipnya adalah merencanakan perputaran hewan gembalaan secara periodik sehingga terjadi pemerataan penyebaran kotoran ternak ke areal yang luas dan rumput-rumput di daerah gembalaan tersebut belum sempat habis sudah ditinggalkan oleh gerombolan ternak gembalaan, untuk kemudian setiap area didatangi lagi ketika rumput-rumput sudah pulih kembali.
MasyaAllah. Hal tersebut membuktikan dan meyakinkan kita bahwa apa yang dilakukan  seluruh Nabi dan Utusan Allah, layak kita tiru sampai akhir zaman. Tetapi ada perbedaan hewan ternak yang digunakan Allan Savory dengan Nabi-Nabi Allah, Allan Savory menggunakan sapi sedangkan seluruh Nabi menggembala domba atau kambing. Mengapa seluruh Nabi tersebut menggembalakan domba dan bukan sapi? Allah SWT yang mengutus para Nabi tersebut tentu memiliki maksud dengan hal itu dan tentu mengandung banyak hikmah didalamnya. Beberapa hikmah tersebut diantaranya pertama, secara matematis perkembangbiakkan  domba jauh lebih cepat daripada sapi . Satu ekor domba atau kambing betina bisa melahirkan enam ekor anak dalam enam anak domba dalam dua tahun, sedangkan sapi hanya melahirkan satu atau maksimal dua ekor dalam waktu yang sama. Kedua, domba atau kambing dengan ukuran lebih kecil juga lebih mobile dalam menyebarkan kotoran sehingga efek pemupukan terhadap tanah juga lebih merata. Ketiga, kualitas kotoran domba sebagai pupuk juga lebih baik daripada kotoran sapi terutama pada kandungan makro yakni nitrogen (N), phospur (P), dan kalium (K). Karena buah karya manusia biasa, pendekatan Savory ini tentu masih banyak mengandung kelemahan, tetapi itupun sudah bisa melestarikan areal puluhan juta hektar di seluruh dunia tersebut diatas. Bagaimana jika contoh para Nabi dengan penggembalaan domba tersebut diterapkan di seluruh dunia? Tentu hasilnya jauh akan lebih baik dalam semua aspeknya. 

Rotasi pemanenan pada kebun energi juga bisa disesuaikan dengan rotasi gerombolan domba pada area rerumputan tersebut. Lokasi pepohonan pada kebun energi yang sudah siap panen dengan rerumputan dibawahnya bisa digunakan untuk penggembalaan domba tersebut. Pohon yang sudah tinggi sehingga daun-daunnya tidak terjangkau domba tersebut, sehingga tidak merusak pepohonan tersebut. Setelah kayunya dipanen dan daunnya dipisahkan, selanjutnya daunnya-daun tersebut juga menjadi pakan domba-domba tersebut. Rerumputan dan kebun-kebun tersebut akan menyenangkan bagi pemilik domba dan domba-domba tersebut.

Rendahnya produksi daging kita, rendahnya konsumsi daging perkapita dan tingginya import daging adalah masalah kita hari ini. Produksi daging Indonesia saat ini berkisar 2,5 juta ton dan itu untuk bisa tetap menjaga pemenuhan 10 kg/tahun per kapita bagi 250 juta penduduk. Konsumsi daging orang Indonesia termasuk rendah hanya sekitar  1/4   rata-rata konsumsi penduduk dunia, yang berkisar 40 kg/tahun per kapita. Padahan protein ini sangat penting bagai pertumbuhan sel dan kecerdasan. FAO beberapa waktu lalu merilis statistiknya bahwa Indonesia hanya mengkonsumsi daging 10 kg/tahun per kapita, sementara negara tetangga kita seperti Timor Leste 36,51 kg, Malaysia 48,93 kg, Brunei 63,87 kg dan Australia 111,72 kg.

Mengapa hal tersebut terjadi? Apakah tanah-tanah yang luas dan subur kita tidak cukup untuk mencapai kondisi menyamai rata-rata dunia? Setidaknya ada tiga penyebabnya yaitu kita meninggalkan sunnah para Nabi untuk menggembala, salah memilih hewan gembalaan dan salah mindset dalam lokasi penggembalaan. Domba atau kambing-lah seharusnya binatang gembalaan terbaik tersebut. Untuk kesalahan yang ketiga adalah mindset tentang lokasi penggembalaan. Dia-lah,  Yang  telah  menurunkan  air hujan  dari  langit  untuk  kamu,  sebagiannya  menjadi  minuman  dan sebagiannya  (menyuburkan)  tumbuh-tumbuhan,  yang  pada (tempat tumbuhnya) itu kamu menggembalakan ternakmu.” (QS 16 : 10). Kembali kita mendapat petunjuk dari Al Qur'an bahwa lokasi penggembalaan yang terbaik adalah bukan di padang rumput yang luas seperti di Australia dan New Zealand, tetapi diantara kerindangan tanaman lain yang membentuk kebun-kebun lebat seperti salah satunya kebun energi. Negeri manakah yang paling cocok untuk itu? Negeri tropis seperti Indonesia-lah yang cocok dan terbaik untuk penggembalaan tersebut. Selain itu Allah juga memerintahkan kita untuk memperhatikan makanan kita (QS  80  : 24-32), baik zatnya (kualitas dan kuantitas) juga cara mendapatkan hingga mengolahnya. Dengan memakan makanan yang halalan thayyiban maka doa-doa kita juga mudah dikabulkan Allah SWT. 

Not Only Reduce Steam Cost, but Also Reduce Water Treatment Cost for Boiler Feed Water and Even Also Increase Revenue with EFB Cogeneration

Walaupun limbah biomasa berlimpah di pabrik sawit, tetapi penggunaan boiler yang efisien juga dibutuhkan. Penggunaan limbah biomasa yang efi...