Tampilkan postingan dengan label export cangkang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label export cangkang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Mei 2026

Bisnis Export Cangkang Sawit dan Varietas Baru Bibit Unggul Sawit

Loading cangkang sawit / pks untuk export

Kebutuhan bahan bakar biomasa sebagai energi terbarukan termasuk cangkang sawit semakin besar seiring trend dekarbonisasi global. Demikian juga penggunaan biofuel seperti biodiesel juga terus meningkat. Bahan bakar biomasa seperti cangkang sawit dan biofuel seperti biodiesel adalah produk bioenergi yang merupakan bahan bakar karbon netral. Dan dari pohon sawit kedua-duanya bisa dihasilkan. Produksi biofuel seperti biodiesel penggunaanya adalah untuk sektor transportasi, sedangkan bahan bakar biomasa seperti cangkang sawit adalah untuk pembangkit listrik atau bahan bakar boiler industri. Dan dari pohon sawit dihasilkan produk utama berupa minyak sedamgkan cangkang sebagai produk samping atau limbah seperti halnya tandan kosong dan sabut. 

Seiring waktu kebutuhan minyak sawit juga semakin besar, sebanding dengan peningkatan jumlah penduduk, dan bahkan penggunaan untuk sektor energi (biofuel) lebih besar dibandingkan sektor pangan. Bahkan untuk stabilisasi harga atau menghindari fluktiasi yang tajam hara minyak sawit pemerintah Indonesia mencanangkan program B-50 yaitu 50% biodiesel dari minyak sawit dan 50% minyak diesel dari minyak bumi. Dengan progarm B-50 tersebut maka kebutuhan minyak sawit semain besar atau memingkat sekitar 20% dari produksi rata-rata saat ini.

Hal ini sehingga produktivitas kelapa sawit harus ditingkatkan. Upaya tersebut salah satunya dengan bibit unggul. Dengan memaksimalkan produksi CPO yang berasal dari sabut (mesocarp fiber) maka bibit unggul tersebut memiliki sabut yang tebal, cangkang yang tipis bahjakan tiak bercangkang dan kernel yang kecil. Varietas psifera dengan berbagai nama-nama unik oleh produsen bibit tersebut menjadi pilihan untuk tujuan tersebut. Bahkan bibit-bibit unggul tersebut juga bersertifikat untuk meyakinkan pengguna akan kualitas bibit tersebut.  

Cangkang sawit yang awalnya tebal yakni dari varietas dura, dan ini adalah favorit dan paling dicari oleh expoter cangkang sawit untuk pemakaian di pembangkit listrik, secara bertahap akan berkurang. Tetapi kalau dilihat dari lambatnya program replanting dan minimnya upaya ekstensifikasi maka pergantian cangkang sawit dari dura ke psifera ini akan lama. Exporter cangkang sawit masih bisa cukup aman untuk mengeksport cangkang sawit tebal varietas dura. Cangkang sawit tipe tenera yang tidak terlalu tipis sebagai transisi ke psifera mungkin akan lebih banyak ditemui.

Jika suatu ketika cangkang sawit psifera yang sangat tipis sudah umum ditemui maka nilai kalornya rendah dan kurang disukai untuk aplikasi energi. Jika itu terjadi maka perlu treatment khusus sehingga cangkang sawit psifera tersebut bisa digunakan untuk energi lebih layak (teknis dan ekonomis) yakni dengan pemadatan / densifikasi maupun diolah dengan proses torefaksi atau pirolisis sehingga fixed carbon atau nilai kalor lebih tinggi. Dan bahkan selanjutnya bisa dipadatkan / densifikasi menjadi pellet atau briket.    

Minggu, 08 Juni 2025

Optimalisasi Operasional Pabrik Sawit untuk Memaksimalkan Keuntungan dengan Pemanfaatan Limbah Tankos

Sebagai perusahaan yang berorientasi profit, perusahaan sawit juga akan melakukan berbagai hal yang diperlukan untuk memaksimalkan keuntungannya yakni baik pada operasional pabrik sawitnya maupun pada perkebunannya. Semakin efisien operasional pabrik sawit, demikian juga di perkebunannya maka akan semakin tinggi keuntungan yang didapat. Meminimalisir dampak lingkungan dari limbah yang dihasilkan bahkan zero waste, serta menjadi bagian praktek yang pengelolaan lingkungan yang bertanggungjawab dan berkelanjutan (sustainable) bahkan termasuk bagian dari solusi iklim merupakan bagian penting industri ini yang tidak bisa ditinggalkan. Hal itulah mengapa pabrik-pabrik sawit harus melakukan inovasi untuk mencapai kondisi optimal tersebut.  Untuk mencapai kondisi tersebut bisa dilakukan dengan mengevaluasi praktek yang dilakukan saat ini dan mencari solusi lebih baik tersebut.

Produksi CPO atau minyak mentah sawit membutuhkan kukus / steam untuk proses sterilisasinya. Hal inilah mengapa pabrik sawit pasti membutuhkan boiler untuk proses produksinya, untuk lebih detail baca disini. Steam / kukus dari boiler tersebut juga digunakan untuk pembangkit listrik dengan steam turbine untuk menggerakkan generator. Untuk operasional boiler tersebut umumnya dilakukan dengan membakar sabut (mesocarp fiber) dan sebagian cangkang sawit (palm kernel shell), sehingga sebagian cangkang sawit masih bisa dijual bahkan untuk export. Praktek umum pabrik sawit ini juga sudah berjalan puluhan tahun, tetapi ternyata masih banyak limbah biomasa dari pabrik sawit yang belum termanfaatkan terutama tandan kosong kelapa sawit atau EFB (empty fruit bunch) yang porsinya sekitar 23% dari tandan buah segar (TBS) yang diolah. Tankos sawit atau EFB ini biasanya hanya ditumpuk di belakang pabrik sawit dan cenderung akan mencemari lingkungan.  

Tankos sawit atau EFB tersebut bisa diolah menjadi biochar. Produksi biochar dengan proses thermal baik pirolisis atau gasifikasi akan menghasilkan energi sebagai cogeneration pada pabrik sawit. Cogeneration menjadi solusi jitu untuk produksi biochar sekaligus memasok kebutuhan energi untuk operasional boiler. Dengan cara ini maka 100% cangkang sawit bisa dijual atau bahkan dieksport artinya keuntungan perusahaan sawit semakin besar. Tetapi untuk memaksimalkan produksi biochar pirolisis adalah pilihan yang cocok. Hal ini karena teknologi gasifikasi adalah untuk memaksimalkan produk gas sedangkan pirolisis untuk memaksimalkan produk padat (biochar).  Produk-produk samping dari pirolisis juga bermanfaat bagi industri sawit. 

Tandan kosong (tankos) atau EFB adalah limbah padat dari produksi minyak sawit atau CPO yang jumlahnya paling banyak. Hal inilah yang membuat banyak produsen mesin yang membuat mesin pengolah tankos ini. Sebagian besar mesin yang dibuat adalah alat untuk memotong dan mengepres tankos tersebut sehingga kadar airnya turun dan ukurannya menjadi lebih kecil. Tetapi baik kadar air dan ukuran tankos sebagai output mesin atau peralatan tersebut masih belum memenuhi syarat untuk bisa diolah lanjut menjadi biochar. Tipikal output tersebut lebih dari 4 inch dan kadar air lebih dari 45%. Tankos atau EFB harus memiliki kadar air rendah yakni 10% dan bisa dengan ukuran kurang dari 1 inch untuk produksi biochar ataupun sebagai bahan bakar di boiler. 

Untuk bisa mendapatkan tankos atau EFB dengan tingkat kekeringan atau kadar air 10%, maka waste heat recovery dari pabrik sawit bisa dimanfaatkan untuk proses pengeringan tersebut. Limbah biomasa lainnya dari industri sawit bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar atau sumber energi panas untuk pengeringan tankos atau EFB tersebut. Dengan memanfaatkan limbah-limbah biomasa tersebut maka operasional pabrik bisa semakin efisien sehingga keuntungan semakin maksimal dan ramah lingkungan dengan zero waste. 

Kamis, 04 April 2024

Meng-upgrade Industri Sawit di Indonesia

Dengan luas perkebunan sawit Indonesia yang mencapai sekitar 15 juta hektar dan pabrik sawitnya mencapai 1000 unit, maka upaya meng-upgrade industri sawit menjadi penting dan strategis. Produksi minyak sawit atau CPO Indonesia per tahun sekitar 46 juta ton (sedangkan Malaysia di urutan kedua sekitar 19 juta ton/tahun).  Upaya meng-upgrade industri sawit tersebut akan meningkatkan produktivitas / efisiensi, sustainability dan mendorong penciptaan produk/pasar baru serta nilai tambah kelapa sawit. Hal-hal yang bisa diupgrade meliputi sejumlah bidang kunci antara lain bioenergi, biomaterial dan oleokimia, pangan dan pakan, kesuburan tanah (lahan, tanah dan budidaya), pasca panen dan pengolahan, pengolahan limbah dan lingkungan serta  sosial ekonomi, manajemen dan bisnisnya. 

Salah satu hal konkrit yang bisa dilakukan adalah produksi biochar dari limbah pabrik sawit khususnya tandan kosong sawit (empty fruit bunch) dan sabut sawit (mesocarp fiber). Produksi biochar dengan pirolisis akan menghasilkan excess energy (syngas & biooil) yang bisa digunakan sebagai bahan bakar boiler pada pabrik sawit. Selanjutnya aplikasi biochar dengan pupuk pada perkebunan sawit akan menjadi slow release fertilizer (SRF) sehingga  meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi (NUE/nutrient use efficiency). Kondisi banyaknya perkebunan sawit yang berada pada tanah masam juga akan menjadi meningkat pH -nya ketika ada aplikasi biochar tersebut. 

Pada operasional perkebunan sawit, pupuk adalah komponen biaya tertinggi sehingga apabila bisa meningkatkan efisiensi pupuk akan memberi keuntungan signifikan. Penggunaan biochar menjadi solusinya, yakni dengan SRF tersebut. SRF juga meminimalisir pencemaran lingkungan akibat pemakaian pupuk. Sedangkan pada operasional pabrik sawit energi adalah komponen vitalnya, dan apabila ini bisa memaksimalkan penggunaan limbah yang tidak punya nilai ekonomis tentu akan sangat ekonomis selain tentu saja mengatasi masalah lingkungan akibat limbah tersebut. Saat ini untuk bahan boiler pabrik sawit menggunakan sabut sawit dan sebagian cangkang sawit (PKS/palm kernel shell) sedangkan umumnya tandan kosongnya belum dimanfaatkan, padahal cangkang sawit ini bisa langsung dijual dan laku keras. Hal ini sehingga apabila sumber energi hanya berasal dari sabut sawit dan tandan kosong maka 100% cangkang sawit bisa dijual. Hal tersebut bisa dilakukan dengan pirolisis.

Biochar di dalam tanah mampu bertahan ratusan bahkan ribuan tahun. Biochar yang berasal dari limbah pertanian seperti tandan kosong dan sabut sawit tersebut akan menjadi carbon sink melalui simpanan karbon (carbon sequestration), sehingga konsentrasi CO2 di atmosfer berkurang sepanjang biochar tidak terdekomposisi. Dari perspektif iklim hal ini sangat bermanfaat dan nantinya bisa mendapatkan kompensasi berupa carbon credit. Sejumlah standar dan metode verifikasi-nya untuk memudahkan monetisasinya sedang dikembangkan saat ini.

Tandan kosong dan sabut sawit adalah limbah dari pabrik sawit sedangkan aplikasi biochar di perkebunan sawit. Manajemen pada industri sawit pada umumnya memisahkan antara divisi pabrik dan divisi kebunnya sehingga perlu cara pengelolaan baru apabila produksi biochar dengan pirolisis ini dilakukan. Selain penggunaan biochar tersebut untuk kebun inti, penggunaannya juga bisa untuk kebun plasma. 

Selasa, 12 Maret 2024

Perusahaan Eksportir Cangkang Sawit dan Mengembangkan Usaha Produksi Wood Pellet

Loading cangkang sawit / pks untuk export

Trend dekarbonisasi yang terus meningkat seiring dengan kebutuhan bahan bakar biomasa yang terus meningkat membuat sejumlah perusahaan eksportir cangkang sawit / pks (palm kernel shell) berencana mengembangkan usaha ke produksi wood pellet. Eksportir cangkang sawit yang sudah mapan biasanya telah memiliki kontrak penjualan dengan pembeli di luar negeri, yang bisa jangka pendek maupun kontrak jangka panjang. Eksportir cangkang sawit ini hanya mengumpulkan cangkang sawit dari sejumlah pabrik sawit / pabrik CPO selanjutnya dibersihkan dan pengeringan sederhana untuk siap dikapalkan.  Memang ada juga sejumlah pembeli cangkang sawit di luar negeri yang tidak perlu dibersihkan dan pengeringan sehingga harganya juga lebih murah. Pembersihan cangkang sawit itu biasanya menggunakan mesin ayakan (screening) baik vibrating screen maupun rotary screen, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Sedangkan untuk pengeringan biasanya juga hanya diangin-anginkan saja dengan sesekali dibalik tumpukan cangkang sawit tersebut dengan mesin excavator.

Cangkang sawit dan wood pellet adalah dua bahan bakar biomasa yang populer di pasar bahan bakar biomasa global. Cangkang sawit adalah kompetitor utama produk wood pellet karena memiliki sifat-sifat / properties yang hampir sama seperti calorific value, ash content, ukuran dan sebagainya tetapi cangkang sawit biasanya lebih murah karena merupakan produk samping atau limbah dari pabrik sawit dan hanya membutuhkan proses sederhana untuk bisa dieksport. Sedangkan wood pellet walaupun bahan baku bisa berasal dari limbah-limbah industri perkayuan ataupun penggergajian kayu tetapi membutuhkan proses produksi lebih kompleks berikut investasi peralatan yang dibutuhkan.

Tipikal Circulating Fluidized Bed (CFB) di Jepang

Cangkang sawit dan wood pellet sebagian besar digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik di luar negeri seperti Jepang dan Korea. Wood pellet hampir bisa digunakan pada semua pembangkit listrik batubara secara cofiring sedangkan cangkang sawit lebih terbatas. Hal tersebut terutama karena untuk menghancurkan cangkang sawit dan dicampur dengan bubuk batubara pada pulverized combustion lebih sulit. Cangkang sawit bisa digunakan 100% pada pembangkit listrik yang berteknologi fluidized bed ataupun stoker. Dan saat ini cukup banyak pembangkit listrik di Jepang yang menggunakan teknologi fluidized bed tersebut. 

Dan karena berada di pasar yang sama, para eksporter cangkang sawit juga sangat mungkin mengetahui kebutuhan wood pellet. Pembeli-pembeli cangkang sawit di luar negeri tersebut biasanya juga pembeli wood pellet juga. Praktek mengumpulkan cangkang sawit dari pabrik-pabrik sawit juga sama seperti mengumpulkan limbah-limbah kayu dari industri pengolahan kayu maupun penggergajian kayu, sehingga seharusnya bukan hal yang sulit bagi eksporter cangkang sawit tersebut. Tetapi pembuatan kebun energi sebagai bahan baku produksi wood pellet adalah solusi idealnya. Pengumpulan limbah-limbah kayu atau bekerjasama dengan industri kayu yang produksi limbah tersebut sebagai solusi antara dan kebun energi sebagai solusi ideal. Dengan demikian bagi eksportir cangkang sawit dengan ekspansi ke usaha produksi wood pellet memang sangat beralasan.    

Selasa, 09 Februari 2021

Keuntungan-Keuntungan Yang Didapat Pabrik Sawit Jika Produksi Biochar 


Paling tidak ada empat hal yang menjadi motivasi untuk produksi biochar, yakni seperti grafik di atas. Ada sejumlah irisan yang membuat dampak aplikasi biochar tersebut multi manfaat, yang sangat sejalan dengan masalah dunia hari ini yakni perubahan iklim dan pemanasan gobal. Biochar juga sudah diterima sebagai instrument untuk mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer yang menyebabkan dua masalah besar di atas yakni pada tahun 2018 biochar masuk dalam Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) sebagai salah satu negative emmisions technologies (NETs). Aplikasi biochar adalah skenario carbon negative karena biochar bisa menyerap CO2 dari atmosfer. Hal ini sedikit berbeda dengan penggunaan bahan bakar biomasa seperti wood pellet, wood briquette dan cangkang sawit (PKS / Palm Kernel Shell) pada boiler di industri atau pembangkit listrik yang merupakan skenario carbon neutral. Memang pada dasarnya ada 3 skenario besar untuk mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer tersebut yakni peningkatan efisiensi pada peralatan yang menggunakan bahan bakar fossil, menggunakan bahan bakar carbon neutral dan skenario carbon negative seperti biochar.

Pohon sawit terkenal dengan banyak membutuhkan air dan pupuk untuk terus menjaga kelangsungan hidup dan produktivitas buahnya, sehingga upaya praktis berupa meningkatkan efisiensi nutrisi pupuk dan peningkatan produktivitas buah adalah hal penting. Disamping itu pabrik sawit menghasilkan limbah biomasa sangat banyak terutama tandan kosong (EFB / Empty Fruit Bunch) dan mesocarp fiber yang sangat potensial untuk bahan baku biochar tersebut. Biochar tersebut selanjutnya diaplikasikan di kebun sawit yang bisa digunakan dengan pupuk kimia atau dengan pupuk kompos/organik.


Teknologi pirolisis dan gasifikasi adalah yang biasa digunakan untuk produksi biochar tersebut. Selain menghasilkan biochar dengan pirolisis atau gasifikasi juga dihasilkan energi yang bisa digunakan untuk pengembangan industri sawit ataupun produksi listrik. Produksi PKO (Palm kernel oil) dari pengolahan kernel di KCP (kernel crushing plant) atau produksi torrefied PKS dari pengolahan PKS dengan torrefaction bisa dilakukan dengan memanfaatkan excess energy dari produksi biochar tersebut. Sebagian besar pabrik sawit atau pabrik CPO tidak memiliki pengolahan kernel atau KCP untuk menghasilkan PKO. Dan dengan dibuat torrefied PKS maka nilai kalori PKS akan meningkat, mudah dihancurkan (grindability meningkat) misalnya pada penggunaan cofiring dan tidak menyerap air (hydrophobic). Secara umum pabrik sawit akan memiliki banyak keuntungan baik secara ekonomi / financial maupun lingkungan dengan produksi biochar tersebut. 

Selain bisa digunakan untuk pengembangan usaha seperti diagram diatas, kelebihan energi dari pirolisis atau gasifikasi juga bisa digunakan sebagai bahan bakar boiler pada pabrik sawit tersebut. Dengan cara tersebut energi untuk memanaskan boiler yang biasanya dengan cangkang sawit (PKS/palm kernel shell) dan mesocarp fiber bisa digantikan dengan energi dari pirolisis atau gasifikasi tersebut. Cangkang sawit / PKS selanjutnya bisa semuanya dijual atau di eksport sehingga memberi tambahan keuntungan bagi perusahaan sawit tersebut. Kebutuhan bahan bakar biomasa khususnya cangkang sawit / PKS diprediksi akan meningkat, baik pasar dalam negeri maupun pasar export. Jepang adalah konsumen atau pengguna cangkang sawit terbesar saat ini dan diprediksi kebutuhannya juga akan meningkat. Jepang juga akan memberlakukan standar lebih ketat pada import cangkang sawit untuk menjamin keberlanjutan (sustainibility) dari sisi lingkungan dengan menerapkan sertifikasi GGL (Green Gold Label) yang akan efektif mulai April 2023. Hal tersebut seperti pada wood pellet dengan sertifikasi FSC. Jika ada yang tertarik dengan analisa ekonomi penggunaan biochar di perusahaan sawit silahkan kontak kami.

Kamis, 04 Juli 2019

Vibrating Screen untuk Membersihkan PKS Berorientasi Export

Salah satu parameter kualitas untuk PKS atau cangkang sawit untuk pasar export adalah faktor kebersihannya. Faktor kebersihan ini sangat terkait dengan banyak sedikitnya benda-benda pengotor di dalamnya. PKS di pabrik sawit biasanya hanya ditumpuk di hamparan tanah bagian belakang pabrik sawit. Hal tersebut sangat memungkinkan tercampur dengan sejumlah pengotor yang berada di sekitar lokasi tersebut atau karena sejumlah limbah atau sampah yang mungkin juga dibuang di lokasi tumpukan PKS tersebut. Pengotor PKS yang biasa ditemui adalah logam, plastik dan batu. Untuk tujuan export tersebut jumlah pengotor yang diperbolehkan atau tingkat toleransi sangat kecil yakni berkisar 1% saja. Mengapa PKS tersebut perlu dibersihkan sedemikian rupa? Hal tersebut karena pengotor-pengotor tersebut akan menggangu proses pembakaran atau pemanfaatan PKS tersebut dan pembangkit listrik adalah pengguna terbesarnya. Dan untuk lebih detail bisa dibaca disini.
Ayakan Manual
Ayakan (screener) adalah peralatan yang digunakan untuk membersihkan PKS dari pengotor tersebut. Kotoran-kotoran tersebut akan terpisah dari PKS karena perbedaan ukurannya. Dan khusus untuk pengotor logam maka pemisahannya dilakukan dengan magnet (magnetic separator). Proses pembersihan dengan ayakan ini pada dasarnya sangat mudah, bahkan dengan ayakan manual saja bisa dilakukan. Tetapi untuk volume yang cukup besar misalnya hingga ribuan ton maka ayakan manual tidak efisien dan membutuhkan waktu lama sehingga dibutuhkan ayakan yang bekerja secara mekanik. Ada dua ayakan mekanik yang biasa digunakan yakni ayakan getar (vibrating screen) dan ayakan putar (rotary screen). 
Pada prakteknya jenis vibrating screen lebih populer dibandingkan rotary screen. Hal tersebut karena konstruksi dan operasional vibrating screen lebih mudah, selain itu harga vibrating screen juga lebih murah dibanding rotary screen. Vibrating screen adalah ayakan yang beroperasi akibat adanya getaran dari gerakan eksentrik. Semakin tinggi rpm maka gerakan vibrating screen akan semakin halus. Baik vibrating screen juga bisa dilengkapi beberapa ayakan atau ayakan bertingkat sehingga bisa didapat sejumlah fraksi produk berdasarkan ukurannya. Hanya saja  hal tersebut juga lebih mudah dilakukan dengan vibrating screen. Pada pengayakan PKS biasanya hanya satu hingga tiga tingkat pengayakan saja.

Kebutuhan PKS untuk pasar Asia dan Eropa diprediksi terus meningkat setiap tahunnya hingga mencapai jutaan ton. Hal tersebut karena produksi listrik dengan menggunakan PKS semakin meningkat. Supplai atau pasokan PKS terutama berasal dari Indonesia dan Malaysia, serta beberapa negara di Afrika Barat, tempat asal pohon sawit. Indonesia dan Malaysia terutama menyuplai kebutuhan Jepang dan Korea di Asia sedangkan Afrika Barat menyuplai negara-negara di Eropa. PKS sebagai bahan bakar biomasa juga memiliki kompetitor terutama adalah wood pellet. Harga PKS di pasar dunia jauh lebih murah dibandingkan wood pellet sehingga banyak pembangkit listrik biomasa lebih memilih PKS. Produksi PKS untuk export juga lebih mudah dibandingkan wood pellet. Export PKS dari Indonesia dan Malaysia cukup besar jumlahnya hal ini karena jumlah PKS yang dihasilkan juga besar sedangkan kebutuhan juga besar. Selain itu juga penggunaan PKS di dalam negeri yang masih kecil membuat export PKS lebih dominan.

Untuk pemesanan mesin vibrating screen tersebut bisa email di cakbentra@gmail.com atau telpon di 081328841805

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...