Tampilkan postingan dengan label OPT charcoal pellet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label OPT charcoal pellet. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2020

Replanting Kelapa Sawit dan Kumbang Perusak Kelapa

Kumbang Tanduk (Oryctes Rhinoceros)
Saat ini diperkirakan jutaan hektar perkebunan sawit perlu segera diremajakan kembali (replanting). Potensi puluhan juta ton batang sawit bisa didapat sebagai limbah biomasa dari perkebunan tersebut. Pengolahan batang sawit untuk menjadi bahan bakar biomasa seperti pellet (OPT pellet) dan pellet arang adalah suatu ide positif yang seharusnya dilakukan. Limbah cair pabrik sawit atau POME (palm oil mill effluent) dapat digunakan sebagai sumber energi atau sumber listrik untuk pengolahan batang sawit tersebut. Tetapi apabila batang sawit tidak dibersihkan dari kebun sehingga lapuk dan membusuk, maka batang sawit akan menjadi media larva. Larva itu lalu menjadi kumbang yang merusak tidak hanya perkebunan sawit itu sendiri tetapi juga perkebunan kelapa atau palem-paleman (palmae) pada umumnya. Ada sejumlah daerah yang memiliki perkebunan sawit yang berdampingan atau berdekatan dengan perkebunan kelapa misalnya di Riau,  sehingga kumbang tersebut merusak perkebunan kelapa. Urgensi pengolahan batang sawit tua di lokasi tersebut menjadi lebih tinggi dibandingkan lokasi lainnya.
Batang sawit yang ditinggal begitu saja di kebun menjadi tempat berkembang biak kumbang tanduk
Kebun kelapa rusak karena kumbang tanduk
Usia produktif pohon sawit sekitar 25 tahun, sedangkan pohon kelapa bisa mencapai 80 tahun. Hal itu berarti bisa dikatakan bahwa umur pohon kelapa lebih dari 3 kali pohon sawit, sehingga hal yang patut disayangkan apabila aktivitas replanting tersebut malah merusak kebun kelapa yang usia produktifnya lebih lama. Hal itu juga berarti bahwa ketika menanam pohon kelapa seharusnya manfaatnya bisa dirasakan 2-3 generasi ke depan, sedangkan sawit hanya 1 generasi saja. Faktor menjaga kelestarian ekosistem seharusnya juga diperhatikan dalam replanting kebun kelapa sawit apalagi yang berdekatan dengan kebun kelapa. Replanting kebun kelapa sawit seharusnya dimaknai juga sebagai panen biomasa sebagai bahan baku potensial untuk menghasilkan produk yang bernilai tambah seperti pellet batang sawit (OPT pellet) dan pellet arang (OPT charcoal pellet) tersebut.

Jumat, 30 Maret 2018

Produksi OPT Charcoal Pellet Untuk Solusi Limbah Batang Sawit

Limbah batang sawit seperti halnya biomasa pada umumnya maka bisa digunakan untuk sumber energi, material dan bahan kimia. Begitu banyak limbah batang sawit tersebut karena saat ini sebagian besar perkebunan sawit di Indonesia telah tua dan memasuki masa penanaman kembali (replanting) besar-besaran. Selain itu replanting juga merupakan program berkala atau periodik yang dilakukan perkebunan sawit untuk terus menjaga keberlangsungan produksinya, sehingga limbah batang sawit selalu tersedia. Indonesia dan Malaysia dengan luas perkebunan sawit total sekitar 17 juta hektar tentu saja memiliki banyak sekali limbah batang sawit. Apabila 1 hektar ditanami 130 pohon sawit maka populasi pohon sawit di kedua negara tersebut telah mencapai 2,21 milyar pohon sawit. Era bioeconomy saat ini mendorong pemanfaatan biomasa secara massif dan berkelanjutan (sustainable), sehingga yang pada awalnya dianggap limbah saat ini menjadi bahan baku potensial. Produksi arang dari limbah batang sawit juga tidak merusak lingkungan karena merupakan pohon yang harus diganti dengan tanaman baru. 

Penggunaan batang sawit untuk sumber energi salah satunya dengan dibuat pellet (OPT pellet) yang saat ini juga sudah ada produsennya. Opsi lainnya adalah dengan dibuat menjadi pellet arang (OPT Charcoal Pellet). Sebelum dipelletkan terlebih dahulu batang sawit diarangkan melalui proses pyrolysis atau karbonisasi. Arang yang dihasilkan itulah yang kemudian dipadatkan menjadi pellet (OPT Charcoal Pellet) dengan tambahan sedikit perekat. Ada banyak keunggulan yang bisa didapat dengan proses pyrolysis, khususnya pyrolysis kontinyu. Selain produk utama berupa arang (charcoal), produk samping berupa biooil, biomass vinegar (liquid smoke) dan syngas juga bernilai ekonomi tinggi. Biooil bisa langsung digunakan sebagai bahan bakar cair misalnya untuk burner atau bahan bakar kapal. Biooil juga bisa diupgrade untuk berbagai bahan bakar kendaraan umumnya seperti bensin maupun minyak diesel (solar). Biooil seperti halnya crude oil juga bisa diupgrade untuk produksi berbagai bahan kimia (bio-based chemical).
Biomass vinegar (liquid smoke) bisa digunakan sebagai biopestisida ataupun pupuk organik cair. Pemupukan akan mengembalikan kembali nutrisi atau bahan organik bagi pohon atau perkebunan tersebut. Hal ini menjadi penting dilakukan untuk menjaga keberlanjutan perkebunan sawit itu sendiri, dimana saat ini hal tersebut menjadi salah satu perhatian utama. Syngas bisa sebagai bahan bakar langsung seperti biooil, maupun digunakan untuk pembangkit listrik dengan menggunakan gas engine. Sedangkan produk utama yakni arang setelah dipelletkan bisa digunakan sebagai bahan bakar maupun arang pertanian (biochar). Pasar arang biasanya untuk industri makanan yakni untuk sumber panas, berbeda dengan wood pellet yang banyak digunakan pada pembangkit listrik. 

Pabrik Sawit: Ganti Boiler Saja? Apa Sekaligus Mencari Solusi untuk Bebas Problem Tandan Kosong Sawit dan Keuntungan Tambahan ?

Seiring dengan bertambah luasnya perkebunan sawit di Indonesia yang saat ini sekitar 17 juta hektar, maka demikian juga pabrik sawit yang di...