Tampilkan postingan dengan label daun gamal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label daun gamal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Maret 2025

Export Domba dan Pellet Pakan Ternak ke Aljazair

Aljazair mencanangkan import domba hingga 1 juta ekor untuk memenuhi kebutuhan Idul Adha. Hal ini karena kebutuhan dalam negeri yang besar sedangkan tidak cukup pasokan dari dalam negeri itu sendiri. Hal tersebut disebabkan karena dalam beberapa tahun terakhir terjadi kekeringan, yang mengakibatkan kekurangan pakan ternak dan kenaikan biaya pakan. Dan karena pakan ternak adalah komponen utama dalam sektor peternakan maka kekurangan pakan dan kenaikan biaya pakan akan sangat berakibat pada produk domba penghasil daging tersebut. Harga domba dan daging domba menjadi sangat tinggi. Dengan memilih impor dalam jumlah besar, pemerintah bertujuan untuk mengatasi kekurangan pasokan di pasar dan menekan kenaikan tajam harga ternak.

Indonesia berpeluang untuk menjadi exportir domba tersebut. Selama pakan tersedia maka peternakan domba tidak akan mengalami kendala berarti. Pakan-pakan domba tersebut bisa diupayakan di banyak tempat di Indonesia, bahkan dengan iklim tropis semestinya memproduksi pakan ternak domba bukan hal yang sulit. Apalagi saat ini juga sejumlah kebun energi telah dibuat dengan tanaman kebun energi tersebut juga sekaligus menghasilkan pakan ternak dari daunnya seperti kaliandra dan gamal. Luasnya kebun energi tersebut yang mencapai puluhan ribu hektar juga akan menghasilkan pakan ternak domba tersebut sangat banyak. Hal ini juga dimungkinkan untuk mengeksport pellet pakan berupa pellet daun tersebut, dan sementara kayu dari kebun energi tersebut digunakan untuk produksi wood pellet.  

Sumber berita : Hidayatullah

Sabtu, 16 Januari 2021

Produksi Wafer Hay Dari Daun Gamal

Selain pasar, pakan adalah faktor penting lainnya dalam usaha peternakan. Mengupayakan dan memastikan ketersediaan pakan sepanjang tahun baik kualitas dan kuantitas merupakan tantangan tersendiri khususnya peternakan ruminansia berorientasi industri. Produktivitas hasil ternak sangat ditentukan oleh faktor pakan tersebut.Peranan penting bagi ternak yakni untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta tenaga bagi ternak dewasa. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan, jenis pakan yang diberikan pada ternak harus bermutu baik dan dalam jumlah cukup.

Selain itu produktivitas ternak itu sendiri banyak dipengaruhi faktor lingkungan yakni sampai 70% sedangkan sekitar 30% adalah faktor genetik. Dan diantara faktor lingkungan tersebut aspek pakan mempunyai pengaruh paling besar, yakni sekitar 60%, misalnya beternak domba unggulan seperti jenis dorper tetapi jika kualitas dan kuantitas pakan tidak terpenuhi maka hasilnya juga tidak maksimal. Sedangkan ditinjau dari sisi usaha peternakan, biaya pakan juga merupakan biaya produksi terbesar, yakni 60-80% dari keseluruhan biaya produksi. Sehingga sangat wajar jika perhatian atau fokus pada masalah pakan sangat penting.

Melihat kondisi di atas maka teknologi pengolahan untuk pakan ternak menjadi penting. Tujuan pengolahan pakan ternak antara lain untuk menjaga nutrisi dan memperlama masa simpan. Pengeringan daun gamal atau kaliandra sampai kadar air sekitar 15% adalah salah satu upaya tersebut atau biasa disebut hay. Dengan dibuat hay dua tujuan pengolahan pakan ternak di atas yakni menjaga nutrisi dan memperlama masa simpan bisa tercapai, tetapi dengan volume bahan pakan kering atau hay yang besar (bulky) akan tidak efisien dalam pemakaian ruangan untuk penyimpanannya ataupun jika hendak digunakan di tempat lain yang membutuhkan transportasi yang cukup jauh. Hal itulah perlunya untuk mengaplikasikan teknologi pemadatan biomasa (biomass densification) untuk mengatasi problem tersebut. Pemadatan hay menjadi balok atau wafer adalah upaya praktis dan mudah. Peralatan dan proses pemadatan menjadi wafer juga mudah dan murah, dibanding teknologi pemadatan biomasa lainnya seperti pellet atau briket.

Peternakan domba atau sapi sebaiknya dibangun di dekat kebun energi tersebut sehingga bisa dengan mudah mendapatkan sumber pakan daun gamal tersebut. Daun-daun tersebut lalu dibuat hay dan dipadatkan menjadi balok / wafer tersebut. Dan karena daun gamal adalah sumber protein sehingga untuk menjadi complete feed atau pakan lengkap dibutuhkan sumber pakan yang lain. Hal tersebut bisa dipenuhi oleh masyarakat sekitar dengan pola pemberdayaan masyarakat atau untuk lebih detail bisa baca disini. Sumber pakan dari masyarakat tersebut misalnya sumber serat dari rumput-rumputan ataupun limbah-limbah pertanian juga bisa dibuat hay, sehingga peternakan tersebut tersedia hay sebagai pakan lengkap (complete feed) yang aman untuk operasional usaha peternakan tersebut. Dan karena estimasi produksi daun dari kebun energi sangat berlimpah maka sebagian hay yang diproduksi tersebut juga bisa dijual ke tempat lain. 

Teknologi pada dasarnya alat untuk mencapai suatu tujuan. Ditinjau dari sudut pandang teknologi yakni pemadatan biomasa (biomass densification), selain bahan baku daun gamal bisa dibuat hay, daun tersebut juga bisa dibuat menjadi pellet atau briket. Perbedaan utama pellet dan briket hanya masalah ukuran saja, briket lebih besar daripada pellet. Bentuk briket kepingan (puck) seperti photo di atas adalah bentuk terbaik untuk aplikasi pakan ternak. Ditinjau dari teknis pellet dan briket juga lebih padat atau memiliki densitas lebih tinggi daripada hay. Masalah debu pada hay juga bisa dikurangi dengan dibuat pellet atau briket tersebut. Tetapi memang pembuatan pellet atau briket membutuhkan biaya investasi lebih tinggi dan proses produksi lebih kompleks. 

Kamis, 03 Desember 2020

Produksi Complete Feed Dengan Integrasi Kebun Energi Dan Pemberdayaan Masyarakat

Pakan dan pasar adalah dua hal terpenting dalam dunia peternakan. Peternak yang bisa mendapatkan pakan yang aman, bernutrisi, terjangkau, cukup dan berkelanjutan akan menghasilkan kualitas dan kuantitas terbaik. Kategori aman salah satunya bukan berasal dari transgenik atau GMO untuk lebih detail bisa dibaca disini. Pakan-pakan tersebut sangat mungkin dibuat sendiri dengan memanfaatkan potensi sekitar. Keahlian untuk menyediakan pakan tersebut tentu sangat penting untuk peternakan profesional. Demikian juga akses pasar yang luas memungkinkan usaha peternakan tersebut semakin menguntungkan. Era intenet saat ini juga sangat menunjang untuk mendapatkan akses pasar yang luas tersebut. Media sosial seperti group-group whatsapp, telegram, twitter, youtube dan sebagainya bisa dimanfaatkan untuk hal tersebut. 

Untuk mendapatkan nutrisi lengkap sehingga menjadi pakan lengkap (complete feed), tentu tidak bisa didapat dari satu sumber saja. Malnutrisi yang berakibat menurunnya kualitas dan produksi ternak pasti akan terjadi, jika nutrisi pakan tidak memadai. Pembuatan kebun energi atau kebun biomasa dengan tanaman leguminoceae seperti gamal/gliricidia dan kaliandra merah sangat mungkin diintegrasikan dengan usaha peternakan tersebut. Peternakan domba, kambing dan sapi adalah pilihan terbaik usaha peternakan tersebut. Hal tersebut juga diharapkan nantinya kemajuan bidang energi terbarukan dari kebun energi atau biomaterial akan sejalan dengan usaha peternakan tersebut. Sementara daun gamal atau kaliandra memiliki kandungan utama berupa protein yang bisa mencapai 25%, maka sumber nutrisi lainnya seperti sumber serat, vitamin dan mineral bisa didapatkan dari lingkungan sekitar kebun tersebut. Masyarakat di sekitar area perkebunan bisa diberdayakan untuk menanam tanaman pelengkap nutrisi tersebut ataupun memanfaatkan berbagai limbah pertanian mereka seperti jerami, rerumputan dan sebagainya. 

Daun gamal atau kaliandra tersebut sebagai sumber pakan penggunaannya diperkirakan maksimal 30% dari pakan lengkap (complete feed) tersebut. Dengan produktivitas daun per hektar sekitar 30 ton/tahun basah atau 18 ton/tahun kering. Berarti untuk setiap 1000 hektar kebun gamal akan menghasilkan 18.000 ton/tahun daun kering. Jika kambing/domba memakan 3 kg/hari (30% dari total konsumsi complete feednya) berarti untuk 1 tahun 1 ekor domba/kambing menghabiskan sekitar 1 ton daun kering tersebut atau dengan volume 18.000 ton/tahun berarti bisa mencukupi 18.000 ekor domba/kambing selama 1 tahun.

Inovasi pakan ternak tersebut juga harus terus dilakukan sehingga konversi pakan ke produk daging, susu atau peranakan tinggi, bahkan formulasi pakan tersebut seharusnya bisa disesuaikan dengan tingkat usia hewan ternak. Riset-riset untuk mendapatkan formulasi atau resep-resep pakan variatif terutama yang adaptif dengan potensi lokal sangat penting dilakukan. Termasuk diantaranya adalah mengidentifikasi dan mengembangkan sumber-sumber pakan sebanyak mungkin. Semakin banyak sumber pakan teridentifikasi dan formulasi pakannya, maka diharapkan usaha peternakan akan berkembang pesat. Studi kasus pada daun gamal dan kaliandra memiliki beberapa zat anti nutrisi maka zat-zat tersebut juga harus bisa dikurangi bahkan dieliminasi sama sekali sehingga nutrisi pakan terserap secara efektif. Zat anti nutrisi pada gamal/gliricidia adalah dicoumerol, HCN (asam sianida) dan nitrat sedangkan kaliandra merah zat anti nutrisinya tanin.

Rabu, 15 Juli 2020

Pabrik Pellet Pakan Daun Gliricidia untuk Optimalisasi Kebun Biomasa / Kebun Energi dan Peningkatan Produksi Daging Nasional



Ketersediaan pakan adalah hal sangat penting untuk mendukung dan keberlanjutan usaha peternakan. Pakan yang mudah, melimpah dan murah menjadi hal penting untuk diupayakan. Pakan juga merupakan komponen biaya tertinggi pada usaha peternakan, seperti halnya pupuk pada sejumlah perkebunan dan pertanian. Upaya mendapatkan pasokan pakan berkualitas dan kontinyu merupakan syarat mutlak suksesnya usaha peternakan. Pasokan daging dalam negeri yang masih banyak dari import tentu kurang menggembirakan. Untuk itulah program produksi daging nasional hingga swasembada daging harus terus digenjot. Langkanya ketersediaan daging sehingga memacu harga lebih tinggi membuat peluang daging haram yang murah mudah masuk di pasaran, apalagi terjadi lemahnya pengawasan dan sanksi ringan bagi pemasok daging haram tersebut. Sebagai negara dengan mayoritas Islam terbesar dan daging adalah unsur pangan penting berupa protein, maka pengembangan usaha peternakan juga harus sinkron dengan kondisi tersebut. Peternakan yang dibuat dan menjadi prioritas utama adalah peternakan yang mendukung industri halal. 
Daun gliricidia yang merupakan limbah kebun energi atau kebun biomasa adalah sumber pakan potensial yang bernutrisi tinggi. Proyeksi perkembangan kebun energi atau kebun biomasa yang semakin meningkat seharusnya juga sejalan dengan pemanfaatan limbah daun tersebut untuk pakan ternak. Kandungan daun gliricidia yang kaya protein menjadi sumber nutrisi penting bagi ternak khususnya ruminansia seperti domba, kambing dan sapi sehingga perlu dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal. Dengan pemanfaatan daun tersebut maka seluruh bagian pohon dari kebun energi atau kebun biomasa tersebut bisa dioptimalkan. Pembuatan pellet dari daun tersebut (feed pellet) juga akan memudahkan penyimpanan, menghemat transportasi, tahan lama dan memudahkan penggunaan sebagai pakan ternak.
Umat Islam yang setiap tahun melaksanakan ibadah Qurban akan membutuhkan pasokan hewan ternak berupa domba, kambing dan sapi dalam jumlah besar. Selain itu juga pada saat Ramadhan dan Idul Fitri juga terjadi lonjakan permintaan daging tersebut, bahkan sering dijumpai pada saat tersebut daging haram seperti daging babi dan anjing dioplos dengan daging-daging diatas. Dan ketika ada kelahiran anak keluarga muslim juga disunahkan melakukan aqiqah dengan menyembelih domba atau kambing sebanyak 1 atau 2 ekor. Selain itu juga pada dasarnya suplai daging untuk kebutuhan sehari-hari juga masih minus. Hal-hal tersebut seharusnya menjadi motivasi pengembangan usaha peternakan.

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...