Tampilkan postingan dengan label limbah pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label limbah pertanian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Mei 2025

Food Estate atau Biochar ? Indonesia menjadi Juara Solusi Iklim Global ?

Saat ini ada jutaan hektar lahan di Indonesia yang sangat membutuhkan biochar yakni lahan kering 122,1 juta ha; lahan pasca tambang 8 juta ha; lahan kristis 24,3 juta hektar; total sekitar 154,4 juta ha. Sedangkan potensi bahan baku untuk produksi biochar juga berlimpah (limbah pertanian, perkebunan dan kehutanan) seperti tankos sawit kering sekitar 30 juta ton/tahun, baggase 2 juta ton/tahun, tongkol jagung 5 juta ton/tahun, batang singkong 3 juta ton/tahun, kayu limbah 50 juta ton/tahun, sekam padi 15 juta ton/tahun, kulit kakao dan seterusnya. Dengan biochar, produktivitas pertanian akan meningkat dari rata-rata sekitar 20% bahkan hingga 100%.

Jika diaplikasikan pada skala makro atau nasional dengan katakan dengan peningkatan produksi 20% saja maka misalnya produksi beras akan meningkat menjadi 36 juta ton/tahun dari sebelumnya 30 juta ton/tahun, jagung meningkat menjadi 18 juta ton/tahun dari sebelumnya 15 juta ton/tahun, minyak sawit atau CPO menjadi 60 juta ton/tahun dari sebelumnya 50 juta ton/tahun. Hal ini akan menghemat pemakaian lahan sehingga pembukaan lahan hutan untuk tanaman pangan dan (bio)energi seperti food estate bisa tidak diperlukan atau setidaknya memperlambat hal tersebut.

Sebagai contoh produksi CPO Indonesia saat ini mencapai sekitar 50 juta ton per tahun dengan luas lahan mencapai sekitar 17,3 juta hektar. Ini berarti rata-rata produksi CPO per hektar adalah 2,9 ton saja atau per satu juta hektar menghasilkan 2,9 juta ton. Apabila biochar digunakan dan terjadi kenaikan 20% berarti terjadi kenaikan 10 juta ton CPO per tahun dan ini setara menghemat lahan sekitar 3,5 juta hektar, atau penggunaan biochar akan memperlambat pembukaan hutan untuk perkebunan sawit.

Ada hitungan kasar yakni dengan investasi 10 juta US dollar maka akan dihasilkan kurang lebih 200.000 ton biochar dengan lebih dari 400.000 carbon credit selama rentang waktu 10 tahun. Dan misalkan dengan harga jual biochar 200 dollar per ton dan carbon credit 150 dollar per unit (per ton CO2) maka dalam waktu 10 tahun tersebut, pendapatannya menjadi hampir 10 kali lipat investasinya atau diperkirakan kurang dari 2 tahun investasi awal tersebut telah kembali (payback period). Penjual carbon credits atau produsen biochar juga berusaha untuk mendapatan kontrak penjualan selama 5-10 tahun.

Tentu ketika harga biochar lebih tinggi dan / atau carbon creditnya maka tentu saja kembali modalnya akan lebih cepat. Dan itupun belum termasuk pemanfaatan produk cair dan gas serta excess heat dari pirolisis yang juga memiliki potensi ekonomi yang tidak kalah menarik.  

Jumat, 13 Januari 2023

Biochar mau untuk Perbaikan Kesuburan Tanah, Bahan Bakar, Bahan Baku Industri ataukah Solusi Iklim ?

Saat ini maih banyak limbah-limbah pertanian (batang jagung, tanaman kedelai, kulit kedelai dan sebagainya) yang belum termanfaatkan sehingga malah mencemari lingkungan. Pemanfaatan limbah-limbah tersebut sehingga menjadi produk berguna yang memberi nilai tambah adalah solusi terbaiknya. Pemanfaatan atau pengolahan seperti apa yang menjadi solusi terbaik untuk pemanfaatan limbah-limbah tersebut ? Hal ini tentu tergantung pada sejumlah faktor yang mempengaruhinya seperti kesiapan pasar, ketersediaan dan keberlangsungan pasokan limbah biomasa khususnya limbah-limbah pertanian tersebut, kesiapan teknologi termasuk investasi teknologi tersebut, keuntungan dan keberlanjutan bisnisnya, infrastruktur dan sumber daya manusianya (SDM). Produksi biochar atau arang dari limbah biomasa tersebut bisa jadi merupakan opsi terbaik. Tetapi memang biochar atau arang tersebut multifungsi atau bisa digunakan pada sejumlah penggunaan. Lalu pertanyaannya adalah penggunaan biochar untuk bidang apa yang memberi hasil atau manfaat terbaik ?

Produksi biochar tersebut dilakukan dengan teknologi pirolisis lambat (slow pyrolysis). Dengan teknologi tersebut produksi biochar bisa optimal baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal berbeda apabila menggunakan teknologi pirolisis cepat (fast pyrolysis) yang menghasilkan produk biooil atau produk cair sebagai produk utamanya, dengan produk biochar jauh lebih sedikit. Ataupun apabila menggunakan menggunakan teknologi gasifikasi yang produk utamanya berupa gas, sehingga proporsi biochar lebih kecil atau bisa dianggap sebagai produk samping saja maka hal tersebut juga akan kurang optimal. Hal-hal tersebut sehingga pemilihan teknologi yang tepat adalah sesuatu hal penting untuk bisa memberi hasil optimalnya. 

Produksi biochar untuk pertanian juga belum menjadi trend dikalangan petani di Indonesia, sehingga limbah-limbah pertanian mereka banyak yang tidak termanfaatkan bahkan mencemari lingkungan tersebut. Faktor lain yang mempengaruhi adalah kondisi tanah pertanian itu sendiri. Penggunaan pupuk kimia secara dominan dan berlebihan telah merusak tanah-tanah pertanian tersebut sehingga produktivitas pertanian terus menurun. Dan upaya memperbaiki tanah tersebut memerlukan upaya yang tidak mudah dan cepat sehingga kesuburan tanah tersebut bisa dipulihkan (recovery) dan terus dijaga untuk jangka panjangnya. Kombinasi penggunaan bahan organik dengan teknik tertentu perlu dilakukan untuk mencapai hal tersebut. Biochar bisa digunakan juga untuk membuat penggunaan bahan organik tersebut menjadi lebih efisien seperti mengurangi bahan yang tercuci (leaching) dan meningkatakan aktivitas mikroba tanah. Dengan efisiensi yang meningkat dari teknik tersebut karena penggunaan biochar, maka hal tersebut juga meminimalkan input sehingga biaya produksi bisa lebih ditekan. Integrasi pertanian dan peternakan menjadi keharusan untuk mendapatkan pasokan bahan organik secara mencukupi, kualitas terjaga dan berkelanjutan. Sedangkan pada tanah-tanah masam dan kering, penggunaan biochar terlihat memberi efek yang lebih signifikan.

Penggunaan biochar sebagai bahan terutama untuk bbq dan memasak serta penggunaan lainnya yakni sebagai reduktor pada pembuatan baja. Penggunaan untuk bbq tidak terlalu banyak, hal ini mengolah atau memasak makanan secara bbq hanya seperti hobi atau hanya segmen komunitas khusus saja. Dan biochar untuk memasak juga tidak banyak, atau hal ini lebih umum di Afrika, sedangkan di Indonesia pilihan menggunakan kayu bakar atau LPG lebih umum dijumpai. Demikian juga kebutuhan biochar sebagai reduktor pada pembuatan baja juga tidak banyak. Sedangkan penggunaan biochar untuk bahan bakar industri seperti bahan bakar boiler dan pembangkit listrik hampir tidak ada. Hal tersebut selain karena proses produksinya menjadi lebih lama (perlu proses karbonisasi), konversi ke dari biomasa ke biochar kecil (~25%), dan harga biochar lebih mahal. Wood pellet dan cangkang sawit (PKS/palm kernel shell) lebih menjadi pilihan untuk bahan bakar industri tersebut.    

Biochar juga bisa digunakan untuk bahan baku berbagai barang-barang industri kebutuhan manusia atau subtitusi bahan-bahan yang berasal yang berasal dari fossil (seperti migas) menjadi bahan-bahan lebih ramah lingkungan dan terbarukan. Bahan-bahan seperti plastik bisa digantikan dengan biochar. Papan partikel (particle board) yang biasanya masih menggunakan limbah-limbah kayu juga bisa digantikan dengan biochar tersebut. Trend ini saat ini belum terjadi, tetapi diprediksi tidak lama lagi akan menjadi perhatian bahkan trend baru di industri. 

Biochar untuk solusi iklim sepertinya akan menjadi trend tidak lama lagi. CO2 dari atmosfer yang dikonversi menjadi biomasa oleh tumbuhan, diubah menjadi biochar dan disimpan (sequestration) khususnya dalam tanah. Karbon yang tersimpan dalam biochar tersebut tidak akan lepas ke atmosfer karena biochar tidak terdekomposisi hingga ratusan bahkan ribuan tahun atau bisa disimpan secara permanen. Secara prinsip hal ini seperti menyimpan karbon (CO2) dengan hutan konservasi sehingga menjadi carbon sink. Pohon-pohon atau tanaman akan menyerap CO2 dari atmosfer dan dijaga sedemikian rupa untuk mencapai target serapan CO2 yang dikehendaki selanjutnya dikompensasi dengan carbon credit, demikian juga biochar, seberapa banyak karbon yang bisa disimpan (sequestration) selanjutnya juga dikompensasi dengan carbon credit tersebut. Dalam prakteknya penggunaan biochar tersebut akan optimal dengan upaya penyuburan tanah pada tanah-tanah sakit atau rusak atau bermasalah seperti tanah pasca tambang, tanah masam dan tanah sakit akibat overdosis pupuk kimia. Carbon sink dengan biochar tersebut lebih mudah dan murah dibandingkan dengan metode carbon capture and storage (CCS) dengan CO2 yang disimpan dalam lapisan bumi. 

Untuk menurunkan suhu bumi yakni dengan menurunkan konsentrasi gas rumah kaca. Untuk menurunkan 1 ppm konsentrasi CO2 di atmosfer sama dengan menyerap sekitar 15 gigaton CO2. Sedangkan biaya yang dibutuhkan untuk mitigasi bencana besar perubahan iklim diperkirakan 1,6 trilyun USD sampai 3,8 trilyun USD setiap tahunnya. Untuk mencapai konsentrasi CO2 di atmosfer menjadi 350 ppm dibutuhkan sekitar 70.000 biochar seukuran piramida Giza dengan asumsi bahan bakar fossil dihentikan penggunaannya. Dengan volume piramida Giza 2,6 juta m3 dan density biochar rata-rata 200 kg/m3 maka biochar seukuran piramida Giza memiliki berat 520 juta kg atau 520 ribu ton. Pekerjaan sangat besar tentu saja. Produksi biochar harus tumbuh 5000 kali dari kapasitas produksinya saat ini. Dengan biochar seukuran unit piramida Giza tersebut kita perlu membangun 4 piramida per hari (sekitar 2 juta ton biochar per hari) untuk 100 tahun ke depan dan dimulai saat ini. 

Minggu, 27 Maret 2022

Briket Sekam Padi Ditengah Kondisi Melonjaknya Kebutuhan Bahan Bakar Biomasa

"Briket adalah bahan bakar biomasa yang dipadatkan (densified biomass fuel) sebagai alternatif pellet."

Semakin hari semakin meningkat penggunaan energi biomasa sehingga ini sebagai hal positif yang perlu terus didorong. Peningkatan harga batubara (industri dalam negeri diharga $90) dan akibat pencemaran yang diakubatkan khususnya yang menjadi daya dorong penggunaan energi dari biomasa tersebut. Diantara energi biomasa, wood pellet adalah bentuk bahan bakar biomasa paling populer dan paling banyak digunakan. Penggunaan wood pellet selain digunakan oleh industri-industri pengolahan juga oleh pembangkit listrik. Sejumlah industri menengah kecil seperti pabrik tahu, pabrik kerupuk, dan sebagainya . Wood chip sebagai bentuk lebih sederhana ternyata kurang begitu diminati dibandingkan wood pellet walaupun harga lebih murah. Dengan kepadatan rendah membuat biaya transportnya juga menjadi tinggi, selain itu kadar air wood chip kadang juga kurang terkontrol.

Bentuk briket juga kurang populer dibandingkan wood pellet. Briket bisa juga dikatakan sebagai alternatif pellet. Teknologi pembuatan briket sama seperti wood pellet yakni pemadatan biomasa (biomass densification), bedanya ukuran briket lebih besar dari wood pellet. Tidak seperti wood pellet yang hanya menggunakan teknologi roller press untuk produksinya, untuk briket memiliki beberapa varian teknologi untuk produksinya, untuk lebih detail baca disini. Tetapi di Indonesia baru ada satu tipe briket yakni screw press. Memang dalam banyak hal pembriketan lebih mudah dibandingkan pemelletan. Material biomasa yang sulit dipelletkan biasanya mudah untuk dibriketkan. Type boiler tertentu mungkin juga akan lebih cocok dengan briket, dibandingkan wood pellet, lebih detail baca disini. Sehingga untuk itulah penggunaan briket juga seharusnya semakin didorong penggunaannya. 

Selain limbah kayu, limbah-limbah pertanian juga biomasa potensial untuk bahan bakar. Sekam padi adalah limbah pertanian yang melimpah jumlahnya karena makanan pokok orang Indonesia adalah nasi. Diperkirakan jumlah sekam padi adalah 15 juta ton/tahunnya. Tetapi dengan tingginya kandungan abu dan silikanya, sekam padi ini kurang diminati untuk dibuat pellet karena abrasif sehingga memperpendek umur pakai komponen mesin. Demikian juga untuk dibuat briket, tetapi dengan varian teknologi mechanical press masalah abrasif tersebut bisa diminimalisir. Produksi briket sekam padi dengan teknologi mechanical press ini bisa menjadi solusi pemanfaatan limbah sekam padi tersebut. Di tengah kondisi meningkatnya penggunaan bahan bakar biomasa, briket sekam padi bisa menjadi alternatif berikutnya.

Senin, 05 April 2021

Pemanfaatan Excess Energy dari Produksi Biochar dengan Pyrolysis

Sebagian besar alat produksi biochar saat ini sudah ketinggalan zaman (obsolete), sehingga produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan rendah, juga menimbulkan masalah lingkungan yakni polusi udara. Pada alat-alat dengan teknologi tersebut maka proses produksi juga tidak berjalan secara efisien diindikasikan dengan banyaknya kehilangan energi atau panas sehingga kurang menguntungkan. Teknologi slow pyrolysis adalah teknologi terbaik untuk produksi biochar karena memaksimalkan produksi fraksi padat (biochar). Sedangkan kelompok thermal technology lainnya kurang sesuai untuk produksi biochar misalnya fast pyrolysis tujuan utamanya memaksimalkan produk cairnya atau biooil, gasifikasi tujuan utamanya memaksimalkan produk gas atau syngas maupun hydrothermal carbonization (HTC) atau wet pyrolysis membutuhkan kondisi operasi bertekanan tinggi sehingga sulit diaplikasikan. Teknologi slow pyrolysis modern akan beroperasi secara autothermal / self sustain fuel, aman, kontrol proses dan energy management yang baik, sehingga dengan cara tersebut selain energi dimanfaatkan untuk proses pyrolysis itu sendiri, juga kelebihan energi bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain misalnya produksi listrik atau panas.

Ada tiga variabel utama untuk proses pyrolysis ini yakni heating rate, duration/residence time dan suhu. Kualitas dan kuantitas biochar ditentukan oleh variabel-variabel proses tersebut. Sebagai contoh produksi biochar dengan suhu kurang dari 400 C akan menghasilkan biochar yang asam (acidic biochar), sedangkan produksi biochar di atas suhu tersebut akan menghasilkan biochar basa (alkaline biochar). Saat ini PH biochar yang diproduksi berkisar dari 4 sampai 12. Ada juga yang membuat kategori tentang suhu pyrolysis untuk produksi biochar yakni, rendah  dengan kurang dari 250 C, menengah (250 - 500 C), tinggi dengan lebih dari 500 C. Selanjutnya dari penelitian fixed carbon juga meningkat dari 56% menjadi 93% pada suhu pyrolysis 300 dan 800 C. Luas permukaan (surface area) juga meningkat dari 120  m2/gram pada 400 C menjadi 460 m2/gram pada 900 C. 

Dan memang pada dasarnya kualitas dan kuantitas biochar ditentukan oleh bahan baku yang digunakan dan kondisi proses produksinya khususnya pyrolysis tersebut. Bahkan untuk menjamin kualitas biochar tersebut semua aspek perlu diperhatikan seperti bahan baku dan proses produksi seperti suhu operasi pyrolysis tidak boleh lebih dari 20%, interupsi ketika produksi diperbolehkan asalkan kondisi parameter produksi selanjutnya dijaga sama seperti sebelum restart tersebut. Komposisi bahan baku juga tidak boleh berfluktuasi lebih dari 15%. Dan untuk peralatan pyrolysis modern, excess energy tersebut harus dimanfaatkan dengan estimasi 35-60% energi dari bahan baku biomasanya terdapat pada pyrolysis gas. Sejumlah pengolahan limbah-limbah pertanian bisa memanfaatkan pyrolysis tersebut secara optimal, berikut di antaranya :   

1. Industri Kelapa Sawit 

Penggunaan teknologi pyrolysis untuk perusahaan sawit khususnya di Indonesia sangat ideal saat ini. Hal ini karena pada pabrik-pabrik kelapa sawit atau pabrik CPO dihasilkan limbah padat biomasa yang banyak yakni, tandan kosong, fiber/sabut dan cangkang sawit. Dan karena cangkang sawit atau PKS (palm kernel shell) sudah banyak permintaan baik dari dalam maupun luar negeri untuk bahan bakar industri dan pembangkit listrik, maka cangkang sawit ini sebaiknya tidak digunakan bahan baku pyrolysis atau produksi biochar tersebut, tetapi bisa langsung digunakan sebagai komoditas perdagangan. Tandan kosong dan fiber tersebut digunakan sebagai bahan baku biochar dan selanjutnya biochar tersebut digunakan untuk memperbaiki kualitas tanah perkebunan sawit sehingga produktivitas TBS meningkat. Excess energy dari pyrolysis selanjutnya digunakan bahan bakar boiler sehingga bisa mengurangi bahkan menggantikan semua cangkang sawit sebagai bahan bakar boiler tersebut. Dan karena  bahan bakar boiler digantikan dengan excess energy pyrolysis tersebut maka cangkang sawit yang bisa dijual akan lebih banyak atau bahkan semuanya. 

2. Industri Kelapa Terpadu
Produk-produk dari pengolahan kelapa seperti kopra, dessicated coconut atau kelapa parut kering, dan nata de coco membutuhkan panas dalam proses produksinya. Arang tempurung kelapa juga merupakan arang favorit yang permintaan pasarnya besar. Arang tersebut biasanya akan diolah lanjut menjadi briket untuk energi maupun arang aktif (activated carbon) untuk berbagai industri. Untuk produksi biochar limbah-limbah industri kelapa seperti sabut, janjang dan pelepah bisa digunakan. Excess energy pyrolysis bisa digunakan untuk produksi produk-produk di atas maupun produk lanjutan lainnya. Produktivitas kelapa Indonesia yang rendah perlu ditingkatkan salah satunya dengan perbaikan kualitas tanah dengan biochar. Selain itu sangat banyak perkebunan kelapa di Indonesia yang perlu diremajakan / replanting sehingga perbaikan kualitas tanah untuk mencapai produksi yang diinginkan semakin penting dilakukan. 

3. Perkebunan Jagung
Upaya meningkatkan produk pangan perlu dilakukan secara serius, hal ini bisa melalui dua cara, pertama memperluas lahan atau mencetak sawah baru untuk produksi dan cara kedua dengan meningkatkan kualitas lahan yang ada sehingga produktivitasnya akan meningkat. Biochar sangat efektif dan efisien untuk cara kedua di atas. Jagung selain digunakan sumber pangan manusia juga digunakan untuk pakan hewan ternak. Dengan proyeksi populasi manusia terus meningkat maka kebutuhan pangan baik secara langsung dengan mengkonsumsi jagung tersebut maupun tidak langsung dari hewan ternak seperti daging dan telur. Produksi pakan unggas atau ayam menempati ranking pertama dari produksi pakan ternak lainnya, atau di dunia hampir separuh pakan ternak yang diproduksi adalah pakan ayam ini. Tongkol dan kulit jagung adalah limbah pertanian yang bisa digunakan untuk produksi biochar. Excess energy dari proses pyrolysisnya bisa untuk pengeringan jagung maupun proses lanjutan lainnya.

4.Pertanian Padi
Padi atau beras adalah makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Luas sawah irigasi semakin berkurang sepanjang tahun. Hal tersebut mendorong penggunaan sawah non-irigasi atau lahan kering untuk produksi padi tersebut atau pertanian padi gogo. Biochar mampu meningkatkan kualitas tanah lahan kering, seperti halnya pada pertanian jagung. Sekam padi adalah limbah pertanian padi yang bisa digunakan untuk produksi biochar. Excess energy dari pyrolysis sekam padi bisa digunakan untuk pengeringan padi itu sendiri sehingga menjadi gabah kering giling, maupun untuk keperluan lainnya. Dengan perbaikan kualitas tanah tersebut produktivitas padi bisa ditingkatkan dan bukan tidak mungkin swasembada pangan khususnya beras bisa tercapai, seperti yang pernah dicapai Indonesia beberapa waktu lalu.

Minggu, 04 Oktober 2020

Pellet Sekam Padi atau Briket Sekam Padi?

Truk mengangkut sekam padi, photo dari sini
Produksi padi Indonesia tahun 2008 diperkirakan mencapai 59,9 juta ton gabah kering giling (GKG) dengan komposisi sekam 25% berarti potensi sekam mencapai 15 juta ton/tahun. Walaupun  jumlahnya berlimpah tetapi umumnya pemanfaatannya masih belum optimal, hal itu karena sekam padi memiliki bulk density rendah dan nilai kalornya relatif kecil karena tingginya kandungan abu. Supaya sekam padi tersebut bisa dimanfaatkan secara optimal salah satu solusinya adalah dengan pemadatan (densification). Dengan dipadatkan tersebut sekam padi bisa lebih mudah digunakan, ekonomis dalam transportasi dan memudahkan penyimpanannya. Tumpukan sekam padi dalam jumlah besar juga memiliki kecenderungan besar untuk terbakar. Sekam kering tersebut mudah berterbangan seperti debu sehingga konsentrasi tinggi dalam ruangan akan mudah terbakar dan membahayakan. Pemadatan sekam padi akan sekam padi berukuran lebih besar, padat dan berat sehingga tidak mudah berterbangan atau dengan kata lain juga mengurangi resiko terjadinya kebakaran tersebut.

 Kebutuhan bahan bakar biomasa semakin meningkat akhir-akhir ini. Hal tersebut mendorong pemanfaatan limbah-limbah pertanian dan industri pengolahan kayu. Limbah-limbah tersebut pada awalnya tidak termanfaatkan dan cenderung mencemari lingkungan, tetapi saat ini mulai banyak diolah untuk produksi bahan bakar biomasa. Sebuah upaya positif tentunya karena selain meminimalisir masalah lingkungan akibat limbah tersebut juga merupakan aktivitas bisnis yang menguntungkan. Produksi bahan bakar biomasa tersebut bisa dimulai dari kapasitas menengah hingga kapasitas besar, dari kapasitas beberapa ratus ton atau ribuan ton per bulan hingga ratusan ribu ton per bulan. Walaupun potensi di Indonesia besar tetapi umumnya pemanfaatan limbah-limbah tersebut belum maksimal sehingga produksi bahan bakar biomasa secara komersial umumnya masih kecil. 

Briket dan pellet adalah produk pemadatan biomasa (biomass densification) tersebut. Briket dan pellet pada dasarnya memiliki karakteristik tersendiri, walapun secara fisik bisa langsung mudah dikenali dari ukuran briket yang lebih besar daripada pellet. Teknologi pembriketan juga lebih beragam dibandingkan pellet sehingga demikian juga dengan output berupa produk briket tersebut, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Untuk sekam padi untuk penggunaan sebagai bahan bakar industri, produksi industrial briquette dengan mechanical press paling sesuai. Hal tersebut karena secara teknis lebih mudah dan secara ekonomi lebih murah. Walaupun sekam padi tersebut juga bisa dibuat pellet tetapi biaya akan lebih mahal. Hal tersebut disebabkan karena sekam padi sangat abrasif karena kandungan abu yang besar dengan komponen utama penyusunnya berupa silika. Ring die dan roller press pada pelletiser akan cepat aus karena material yang abrasif tersebut. Produksi briket sekam padi dengan screw extruder juga bisa dan memungkinkan, bahkan sejumlah negara seperti Pakistan, Nepal, Bangladesh, Vietnam dan Thailand juga sudah melakukannya. Tetapi dengan material abrasif tersebut maka biaya produksi juga tinggi. Briket yang dihasilkan dengan screw extruder juga panjang sehingga biasanya perlu dipotong-potong untuk pemakaiannya sehingga pemakaian screw extruder juga menjadi kurang praktis. Dengan mechanical press ukuran briket bisa dipotong kecil-kecil dengan mudah sehingga memudahkan juga pada pemakaiannya.

Pabrik Sawit: Ganti Boiler Saja? Apa Sekaligus Mencari Solusi untuk Bebas Problem Tandan Kosong Sawit dan Keuntungan Tambahan ?

Seiring dengan bertambah luasnya perkebunan sawit di Indonesia yang saat ini sekitar 17 juta hektar, maka demikian juga pabrik sawit yang di...