Tampilkan postingan dengan label industri sawit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label industri sawit. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Desember 2022

Urgensi Biochar Untuk Memperbaiki Kesuburan Tanah Perkebunan Sawit Ditengah Tingginya Harga Minyak Mentah Sawit (CPO)

Tingginya harga jual CPO sehingga memberi keuntungan besar sehingga bisa menutup biaya produksi tentu tidak berlangsung selamanya. Suksesnya produksi TBS di perkebunan sawit adalah salah satu kunci suksesnya produksi CPO. Suksesnya produksi TBS terkait dengan suksesnya perkebunannya dan komponen biaya tertinggi pada perkebunan sawit adalah biaya pupuk. Kebutuhan pupuk kelapa sawit tinggi setiap pohon sawit mencapai sekitar 10 kg setiap tahunnya dan pupuk tersebut adalah non-subsidi.  Pupuk sebagai salah satu komponen mata rantai biaya produksi CPO tersebut menjadi mudah dibeli jika harga CPO tinggi atau terjadi keuntungan besar. Tetapi semata-mata mengandalkan kondisi tingginya harga CPO saat ini untuk operasional bisnis kelapa sawit tentu suatu kesalahan.

Dan faktanya tahun 2019 harga CPO anjlok dan industri sawit rugi atau hampir tidak ada untung sama sekali. Faktanya ketika terjadi penurunan harga CPO juga menimbulkan kekhawatiran bagi Indonesia karena industri sawit tersebut memiliki banyak peranan strategis baik secara ekonomi, sosial dan lingkungan. Tercatat bahwa harga CPO sejak 2018 terus mengalami penurunan setiap bulannya dibandingkan harga pada tahun CPO 2017. Trend penurunan harga ini menyentuh harga CPO dunia sejak tahun 2015. Harga CPO tersebut tercatat menyentuh angka $448/ton pada bulan November 2018. Padahal harga CPO dunia pada tahun 2016 dan 2017 secara rata-rata diatas $700/ton. Secara rata-rata harga CPO terjadi penurunan 15-16 persen dibandingkan 2017. Eksport CPO ke pasar tradisional Indonesia yakni Uni Eropa dan India pada tahun 2018 juga mengalami penurunan dibandingkan 2017. 

Dan bukan tidak mungkin hal tersebut akan terjadi lagi. Seperti pengalaman masa lalu berupa tuduhan issue dari Parlemen Uni Eropa yang bertujuan menghambat minyak sawit dari Indonesai menguasai pasar Eropa sehingga eksport CPO berkurang, perang dagang yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Sementara dalih yang digunakan adalah tentang deforestasi, praktek kerja anak dan memanfaatkan hutan ulayat. Hal tersebut tentu seharusnya menjadi pelajaran berharga. PTPN holding saja cara mensiasatinya dengan membuat hilirisasi produk CPO (turunan CPO) yakni dengan membuat industri oleokimia. Jika harga CPO jeblok, mayoritas CPO akan dibawa ke produk hilir. Jika margin produk hilir kurang bagus, mayoritas cukup CPO saja. Fleksibilitas produksi sebagai strategi yang membuat industri sawit tersebut "kebal" krisis. Mayoritas produk mereka tersebut baik CPO dan turunannya adalah untuk export. Tetapi membuat hilirisasi industri sawit juga bukan hal yang mudah dan murah yang tidak semua perusahaan sawit bisa melakukannya. 

Biochar untuk memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan efisiensi pemupukan sehingga meningkatkan produktivitas TBS adalah solusi terbaik. Dengan naiknya produktivitas TBS otomatis produksi CPO juga meningkat sehingga upaya ekstensifikasi dengan deforestasi bisa dihindari. Padahal juga selain harga CPO global yang sewaktu-waktu bisa drop, harga pupuk juga sewaktu-waktu juga bisa naik. Hal tersebut semakin mendorong upaya aplikasi biochar tersebut. Pemakaian biochar di perkebunan sawit juga sebagai upaya iklim untuk carbon sequestration (carbon sink) atau skenario karbon negatif untuk mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer, sehingga hal tersebut mendapat penghasilan tambahan berupa carbon credit, yang nilainya semakin tinggi. Faktor lainnya adalah pada industri sawit atau produksi CPO, produk minyak nabati hanya 10% dan 90% adalah biomasa, sedangkan sejumlah biomasa tersebut sangat potensial sebagai bahan baku produksi biochar. 

Dan karena secara organisatoris perusahaan sawit terbagi divisi kebun dan divisi pabrik CPO sehingga untuk memudahkan operasionalnya bisa saja produksi biochar tersebut sebagai satuan bisnis terpisah tetapi masih dalam satu perusahaan ataupun bisa juga dengan pihak lain.  Dan misalnya tandan kosong sebagai bahan baku biochar yang posisinya berada di pabrik sedangkan aplikasi biochar tersebut di tanah perkebunannya. Selain manfaat yang disebutkan di atas produksi biochar juga sebagai upaya penanggulangan limbah biomasa, dan menghasilkan energi yang bisa digunakan untuk produksi CPO tersebut.  Dan ketika harga CPO jeblok tetapi dengan biaya produksinya murah karena pemakaian pupuk dikebun bisa ditekan tetapi produktivitas TBS tetap tinggi maka kerugian yang dialami juga lebih sedikit.  

Senin, 05 April 2021

Pemanfaatan Excess Energy dari Produksi Biochar dengan Pyrolysis

Sebagian besar alat produksi biochar saat ini sudah ketinggalan zaman (obsolete), sehingga produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan rendah, juga menimbulkan masalah lingkungan yakni polusi udara. Pada alat-alat dengan teknologi tersebut maka proses produksi juga tidak berjalan secara efisien diindikasikan dengan banyaknya kehilangan energi atau panas sehingga kurang menguntungkan. Teknologi slow pyrolysis adalah teknologi terbaik untuk produksi biochar karena memaksimalkan produksi fraksi padat (biochar). Sedangkan kelompok thermal technology lainnya kurang sesuai untuk produksi biochar misalnya fast pyrolysis tujuan utamanya memaksimalkan produk cairnya atau biooil, gasifikasi tujuan utamanya memaksimalkan produk gas atau syngas maupun hydrothermal carbonization (HTC) atau wet pyrolysis membutuhkan kondisi operasi bertekanan tinggi sehingga sulit diaplikasikan. Teknologi slow pyrolysis modern akan beroperasi secara autothermal / self sustain fuel, aman, kontrol proses dan energy management yang baik, sehingga dengan cara tersebut selain energi dimanfaatkan untuk proses pyrolysis itu sendiri, juga kelebihan energi bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain misalnya produksi listrik atau panas.

Ada tiga variabel utama untuk proses pyrolysis ini yakni heating rate, duration/residence time dan suhu. Kualitas dan kuantitas biochar ditentukan oleh variabel-variabel proses tersebut. Sebagai contoh produksi biochar dengan suhu kurang dari 400 C akan menghasilkan biochar yang asam (acidic biochar), sedangkan produksi biochar di atas suhu tersebut akan menghasilkan biochar basa (alkaline biochar). Saat ini PH biochar yang diproduksi berkisar dari 4 sampai 12. Ada juga yang membuat kategori tentang suhu pyrolysis untuk produksi biochar yakni, rendah  dengan kurang dari 250 C, menengah (250 - 500 C), tinggi dengan lebih dari 500 C. Selanjutnya dari penelitian fixed carbon juga meningkat dari 56% menjadi 93% pada suhu pyrolysis 300 dan 800 C. Luas permukaan (surface area) juga meningkat dari 120  m2/gram pada 400 C menjadi 460 m2/gram pada 900 C. 

Dan memang pada dasarnya kualitas dan kuantitas biochar ditentukan oleh bahan baku yang digunakan dan kondisi proses produksinya khususnya pyrolysis tersebut. Bahkan untuk menjamin kualitas biochar tersebut semua aspek perlu diperhatikan seperti bahan baku dan proses produksi seperti suhu operasi pyrolysis tidak boleh lebih dari 20%, interupsi ketika produksi diperbolehkan asalkan kondisi parameter produksi selanjutnya dijaga sama seperti sebelum restart tersebut. Komposisi bahan baku juga tidak boleh berfluktuasi lebih dari 15%. Dan untuk peralatan pyrolysis modern, excess energy tersebut harus dimanfaatkan dengan estimasi 35-60% energi dari bahan baku biomasanya terdapat pada pyrolysis gas. Sejumlah pengolahan limbah-limbah pertanian bisa memanfaatkan pyrolysis tersebut secara optimal, berikut di antaranya :   

1. Industri Kelapa Sawit 

Penggunaan teknologi pyrolysis untuk perusahaan sawit khususnya di Indonesia sangat ideal saat ini. Hal ini karena pada pabrik-pabrik kelapa sawit atau pabrik CPO dihasilkan limbah padat biomasa yang banyak yakni, tandan kosong, fiber/sabut dan cangkang sawit. Dan karena cangkang sawit atau PKS (palm kernel shell) sudah banyak permintaan baik dari dalam maupun luar negeri untuk bahan bakar industri dan pembangkit listrik, maka cangkang sawit ini sebaiknya tidak digunakan bahan baku pyrolysis atau produksi biochar tersebut, tetapi bisa langsung digunakan sebagai komoditas perdagangan. Tandan kosong dan fiber tersebut digunakan sebagai bahan baku biochar dan selanjutnya biochar tersebut digunakan untuk memperbaiki kualitas tanah perkebunan sawit sehingga produktivitas TBS meningkat. Excess energy dari pyrolysis selanjutnya digunakan bahan bakar boiler sehingga bisa mengurangi bahkan menggantikan semua cangkang sawit sebagai bahan bakar boiler tersebut. Dan karena  bahan bakar boiler digantikan dengan excess energy pyrolysis tersebut maka cangkang sawit yang bisa dijual akan lebih banyak atau bahkan semuanya. 

2. Industri Kelapa Terpadu
Produk-produk dari pengolahan kelapa seperti kopra, dessicated coconut atau kelapa parut kering, dan nata de coco membutuhkan panas dalam proses produksinya. Arang tempurung kelapa juga merupakan arang favorit yang permintaan pasarnya besar. Arang tersebut biasanya akan diolah lanjut menjadi briket untuk energi maupun arang aktif (activated carbon) untuk berbagai industri. Untuk produksi biochar limbah-limbah industri kelapa seperti sabut, janjang dan pelepah bisa digunakan. Excess energy pyrolysis bisa digunakan untuk produksi produk-produk di atas maupun produk lanjutan lainnya. Produktivitas kelapa Indonesia yang rendah perlu ditingkatkan salah satunya dengan perbaikan kualitas tanah dengan biochar. Selain itu sangat banyak perkebunan kelapa di Indonesia yang perlu diremajakan / replanting sehingga perbaikan kualitas tanah untuk mencapai produksi yang diinginkan semakin penting dilakukan. 

3. Perkebunan Jagung
Upaya meningkatkan produk pangan perlu dilakukan secara serius, hal ini bisa melalui dua cara, pertama memperluas lahan atau mencetak sawah baru untuk produksi dan cara kedua dengan meningkatkan kualitas lahan yang ada sehingga produktivitasnya akan meningkat. Biochar sangat efektif dan efisien untuk cara kedua di atas. Jagung selain digunakan sumber pangan manusia juga digunakan untuk pakan hewan ternak. Dengan proyeksi populasi manusia terus meningkat maka kebutuhan pangan baik secara langsung dengan mengkonsumsi jagung tersebut maupun tidak langsung dari hewan ternak seperti daging dan telur. Produksi pakan unggas atau ayam menempati ranking pertama dari produksi pakan ternak lainnya, atau di dunia hampir separuh pakan ternak yang diproduksi adalah pakan ayam ini. Tongkol dan kulit jagung adalah limbah pertanian yang bisa digunakan untuk produksi biochar. Excess energy dari proses pyrolysisnya bisa untuk pengeringan jagung maupun proses lanjutan lainnya.

4.Pertanian Padi
Padi atau beras adalah makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Luas sawah irigasi semakin berkurang sepanjang tahun. Hal tersebut mendorong penggunaan sawah non-irigasi atau lahan kering untuk produksi padi tersebut atau pertanian padi gogo. Biochar mampu meningkatkan kualitas tanah lahan kering, seperti halnya pada pertanian jagung. Sekam padi adalah limbah pertanian padi yang bisa digunakan untuk produksi biochar. Excess energy dari pyrolysis sekam padi bisa digunakan untuk pengeringan padi itu sendiri sehingga menjadi gabah kering giling, maupun untuk keperluan lainnya. Dengan perbaikan kualitas tanah tersebut produktivitas padi bisa ditingkatkan dan bukan tidak mungkin swasembada pangan khususnya beras bisa tercapai, seperti yang pernah dicapai Indonesia beberapa waktu lalu.

Selasa, 09 Februari 2021

Keuntungan-Keuntungan Yang Didapat Pabrik Sawit Jika Produksi Biochar 


Paling tidak ada empat hal yang menjadi motivasi untuk produksi biochar, yakni seperti grafik di atas. Ada sejumlah irisan yang membuat dampak aplikasi biochar tersebut multi manfaat, yang sangat sejalan dengan masalah dunia hari ini yakni perubahan iklim dan pemanasan gobal. Biochar juga sudah diterima sebagai instrument untuk mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer yang menyebabkan dua masalah besar di atas yakni pada tahun 2018 biochar masuk dalam Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) sebagai salah satu negative emmisions technologies (NETs). Aplikasi biochar adalah skenario carbon negative karena biochar bisa menyerap CO2 dari atmosfer. Hal ini sedikit berbeda dengan penggunaan bahan bakar biomasa seperti wood pellet, wood briquette dan cangkang sawit (PKS / Palm Kernel Shell) pada boiler di industri atau pembangkit listrik yang merupakan skenario carbon neutral. Memang pada dasarnya ada 3 skenario besar untuk mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer tersebut yakni peningkatan efisiensi pada peralatan yang menggunakan bahan bakar fossil, menggunakan bahan bakar carbon neutral dan skenario carbon negative seperti biochar.

Pohon sawit terkenal dengan banyak membutuhkan air dan pupuk untuk terus menjaga kelangsungan hidup dan produktivitas buahnya, sehingga upaya praktis berupa meningkatkan efisiensi nutrisi pupuk dan peningkatan produktivitas buah adalah hal penting. Disamping itu pabrik sawit menghasilkan limbah biomasa sangat banyak terutama tandan kosong (EFB / Empty Fruit Bunch) dan mesocarp fiber yang sangat potensial untuk bahan baku biochar tersebut. Biochar tersebut selanjutnya diaplikasikan di kebun sawit yang bisa digunakan dengan pupuk kimia atau dengan pupuk kompos/organik.


Teknologi pirolisis dan gasifikasi adalah yang biasa digunakan untuk produksi biochar tersebut. Selain menghasilkan biochar dengan pirolisis atau gasifikasi juga dihasilkan energi yang bisa digunakan untuk pengembangan industri sawit ataupun produksi listrik. Produksi PKO (Palm kernel oil) dari pengolahan kernel di KCP (kernel crushing plant) atau produksi torrefied PKS dari pengolahan PKS dengan torrefaction bisa dilakukan dengan memanfaatkan excess energy dari produksi biochar tersebut. Sebagian besar pabrik sawit atau pabrik CPO tidak memiliki pengolahan kernel atau KCP untuk menghasilkan PKO. Dan dengan dibuat torrefied PKS maka nilai kalori PKS akan meningkat, mudah dihancurkan (grindability meningkat) misalnya pada penggunaan cofiring dan tidak menyerap air (hydrophobic). Secara umum pabrik sawit akan memiliki banyak keuntungan baik secara ekonomi / financial maupun lingkungan dengan produksi biochar tersebut. 

Selain bisa digunakan untuk pengembangan usaha seperti diagram diatas, kelebihan energi dari pirolisis atau gasifikasi juga bisa digunakan sebagai bahan bakar boiler pada pabrik sawit tersebut. Dengan cara tersebut energi untuk memanaskan boiler yang biasanya dengan cangkang sawit (PKS/palm kernel shell) dan mesocarp fiber bisa digantikan dengan energi dari pirolisis atau gasifikasi tersebut. Cangkang sawit / PKS selanjutnya bisa semuanya dijual atau di eksport sehingga memberi tambahan keuntungan bagi perusahaan sawit tersebut. Kebutuhan bahan bakar biomasa khususnya cangkang sawit / PKS diprediksi akan meningkat, baik pasar dalam negeri maupun pasar export. Jepang adalah konsumen atau pengguna cangkang sawit terbesar saat ini dan diprediksi kebutuhannya juga akan meningkat. Jepang juga akan memberlakukan standar lebih ketat pada import cangkang sawit untuk menjamin keberlanjutan (sustainibility) dari sisi lingkungan dengan menerapkan sertifikasi GGL (Green Gold Label) yang akan efektif mulai April 2023. Hal tersebut seperti pada wood pellet dengan sertifikasi FSC. Jika ada yang tertarik dengan analisa ekonomi penggunaan biochar di perusahaan sawit silahkan kontak kami.

Minggu, 05 Januari 2020

Menghidupkan Industri Kelapa Terpadu Bagian 4 : Analisis dan Proyeksi

Pada dasarnya kampanye penyelamatan kebun kelapa (tree of life) adalah menghidupkan industri kelapa terpadu. Rusak dan tidak terpeliharanya perkebunan kelapa akibat tidak adanya pendanaan untuk menjaga, merawat dan mengembangkannya secara berkelanjutan (sustainable). 

Bioeconomy didefinisikan sebagai produksi berbasis pengetahuan dan menggunakan sumberdaya biologi atau makhluk hidup untuk menghasilkan produk-produk, proses-proses, dan jasa-jasa pada sektor ekonomi dalam kerangka sistem ekonomi berkelanjutan. 

Tugu Monas sangat monumental dan sangat terkenal sehingga hampir semua orang Indonesia mengenalnya bahkan provinsi DKI menggunakan tugu monas tersebut sebagai logo atau icon pemerintahannya. Tetapi sangat sedikit yang tahu jika emas seberat 32 kg yang menjadi puncak tugu Monas tersebut, 28 kgnya atau 87,5% (katakan hampir 90%) berasal dari sumbangan pengusaha kelapa yakni dari perdagangan kopra. Kelapa memang pernah mengalami kejayaan bahkan hingga memiliki peran besar dalam kemerdekaan Indonesia. Sejumlah amunisi perang hingga berbagai peristiwa penting dalam rangka kemerdekaan Indonesia dibiayai oleh perdagangan kopra. Kopra menjadi bahan baku minyak kelapa yang nantinya menjadi sejumlah produk turunannya yang sangat dibutuhkan bagi manusia. Era kejayaan kopra atau minyak kelapa ini berkisar pada dekade peralihan abad 19 ke abad 20 atau lebih pasnya antara 1870-an hingga 1950-an dan puncak kejayaannya pada tahun 1920-an.
Mengapa saat ini kopra dan minyak kelapa khususnya terpuruk dan kalah bersaing dengan minyak sawit? Sejarah panjang tentang persaingan dagang adalah jawabnya. Beberapa pihak, terutama American Soybean Association (ASA) menuduh minyak kelapa sebagai minyak jahat yang mengandung kolestrol dan lemak jenuh penyumbat pembuluh darah koroner. Tuduhan tersebut tidak pernah terbukti benar, bahkan malah terbukti sebaliknya, tetapi menjadi salah satu sebab utama hancurnya perdangan kopra dan kelapa global. Kampanye dan perang minyak tropis tersebut membutuhkan waktu sekitar 30 tahun atau pada tahun 1950-an hingga akhir tahun 1980-an di Amerika Serikat dan sehingga akhirnya industri kelapa Indonesia terpuruk.

Bila kita lihat pada minyak sawit, ternyata hal serupa juga terjadi. Beberapa waktu ini minyak sawit Indonesia juga mendapat kampanye negatif akibat pengrusakan lingkungan sehingga Eropa tidak mau membeli minyak sawit dari Indonesia. Bisa jadi dan besar kemungkinan ini juga upaya untuk melemahkan dan membuat industri kelapa sawit juga akan terpuruk nantinya. Tetapi karena baru berjalan beberapa tahun kelihatannya efeknya belum terlalu nampak saat ini.  Dan apabila dilakukan secara masif dan terus menerus serta tidak ada perlawanan yang berarti, maka bukan tidak mungkin nasib industri sawit juga serupa dengan industri kelapa. Ungkapan bahwa 'hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali' adalah hal yang perlu direnungkan secara mendalam untuk menganalisis hal ini.
Kelapa
Sebagai tambahan referensi, Indonesia yang pada jaman kolonial sebagai salah satu produsen utama dan exportir gula tebu, saat ini nasibnya juga mengenaskan karena selain tidak lagi menjadi exportir malah menjadi salah satu importir gula terbesar. Tahun 2016 Indonesia menjadi importer gula terbesar di dunia dengan nilai mencapai $2,1 milyar atau sekitar Rp 28,4 trilyun. Nilai import Indonesia ternyata lebih besar dari tiga negara pengimpor lainnya yang justru penduduknya lebih besar dibandingkan dengan Indonesia, yakni Amerika ($1,9 milyar), Cina ($1,2 milyar) dan India ($922 juta). Pabrik gula di Indonesia cukup banyak yakni lebih dari 180 unit tetapi kebanyakan yang saat ini tidak aktif berproduksi dan sebagian besar berada di pulau Jawa. Total produksi gula  nasionalnya yakni 2,2 juta ton dengan luas perkebunan tebu sekitar 0,5 juta hektar dan estimasi kebutuhan 5,7 juta ton sehingga produksinya masih perlu ditingkatkan.


Indonesia yang mayoritas masih mengeksport bahan mentah atau bahan baku bagi industri di negara lain juga mengindikasikan sebagai negara berkembang sehingga kondisi ini juga seharusnya diperbaiki. Export berbagai produk jadi atau minimal produk antara harus diupayakan. Export produk kelapa butir adalah salah satu hal yang harus dihindari dan diganti dengan export produk olahan. Ketika kita bicara tentang menghidupkan industri kelapa terpadu, tetapi di lain sisi kelapa butir sebagai bahan baku langsung dieksport tanpa diolah itu sama saja bohong atau percuma saja. Industri tanpa bahan baku pasti akan mati. Mengeksport kelapa bulat yang jumlahnya diperkirakan empat milyar butir setiap tahunnya adalah suatu kemunduran. Bagaimana tidak, dalam sejarah kejayaan kelapanya, Indonesia mengeksport dalam bentuk minimal kopra, sementara hari ini malah mengeksport buah kelapa bulat. Era industri 4.0 juga tidak ada artinya dengan kondisi seperti ini.   

Tentu perlu regulasi dan kerjasama yang baik antara berbagai pihak untuk mengatasi hal tersebut. Memang ada juga kebijakan dari negara maju untuk membatasi perkembangan industri negara berkembang, sebagai contoh pada masa kejayaan kelapa Philipina banyak mengeksport kopra ke Amerika Serikat dan Amerika membeikan sebagian pajak import ke Philipina dengan syarat agar Philipina tidak mengembangkan industri kelapanya. Dan memang pada era tersebut banyak industri pengolahan kopra di Eropa dan Amerika Serikat.  
Kelapa Sawit
Bahkan pada era bioeconomy saat ini seharusnya semua komoditas perkebunan, pertanian, kehutanan, perikanan dan peternakan saling mendukung menjadikan kuatnya perekonomian, sebagai contoh dengan agro-forestry akan mampu mengoptimalkan potensi lahan dan keseimbangan lingkungan. Jangan sampai malah terjadi dikotomi dan kontradktif sehingga antar produk berbasis bioeconomy saling melemahkan, sebagai contoh minyak kelapa dan minyak kelapa sawit seharusnya bisa memiliki segmen sendiri-sendiri atau bahkan sejak awal sudah dirancang bahwa kelapa untuk terutama produk pangan non-minyak dan sawit untuk produk minyak karena produktivitas minyak perhektarnya terbesar dari semua tanaman.Minyak kelapa dan minyak sawit (CPO) memiliki kualitas berbeda, karena minyak kelapa memiliki ikatan rantai menengah atau MCFA (Medium Chain Fatty Acid) sedangkan minyak sawit (CPO) memiliki ikatan rantai panjang atau LCFA (Long Chain Fatty Acid). Minyak kelapa yang kaya akan asam laurat (lauric acid) mirip dengan minyak inti sawit (PKO). Selain ditemukan di minyak kelapa dan minyak inti sawit (PKO), asam laurat juga ditemukan dalam air susu ibu (ASI).

Ketika Uni Eropa misalnya dengan bioeconomy-nya melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan berbagai sumber energi, pangan, bahan kimia dan sebagainya dari makhluk hidup atau biomasa, maka sudah seharusnya kita menyadari dengan posisi Indonesia di daerah tropis adalah posisi terbaik untuk memimpin era bioeconomy dengan syarat apabila dikelola dengan benar. Jangan sampai potensi besar hanya sia-sia bahkan membawa petaka seperti beberapa waktu lalu, yakni kekayaan alam mengundang penjajah dan bangsa Indonesia terjajah akibat adu domba para penjajah. Akibatnya malah jadi budak di negeri sendiri. Indonesia seharusnya menjadi produsen terbesar biomasa, the biomass country.

Sebagai sesama kelompok tanaman palmae maka ada banyak kesamaan antara sawit dan kelapa. Dan khusus kasus di Indonesia misalnya produktivitas kelapa maupun kelapa sawit juga masih kalah dari negara lain seperti Malaysia, sehingga ini perlu ditingkatkan. Tetapi jumlah industri pengolahan sawit mulai dari produksi CPO dan turunannya saat ini lebih banyak daripada kelapa, yang diperkirakan sekitar 1000 buah sedangkan luas perkebunan sawit juga hampir 4 lipat daripada perkebunan kelapa. Produksi kelapa sawit saat ini adalah mencapai 38,17 juta ton utuk CPO atau 41,98 ton total dengan minyak inti sawit (PKO) pada 2017 atau terbesar di dunia. Dengan produksi CPO 38,17 juta ton, penggunaan untuk sektor pangan terutama minyak goreng sebesar 3-5% (setara kurang lebih 2 juta ton)sektor lainnya yakni produk turunan CPO seperti oleokimia 3,8 juta ton/tahun lalu sektor energi yakni biodiesel 2,5 juta ton, dan sisanya export sekitar 70% .
Ada analisis yang mengindikasikan bahwa industri kelapa akan bangkit dengan sejumlah produknya mulai diminati pasar, diantaranya yang paling mencolok air kelapa, diikuti santan, dessicated coconut dan VCO. Tetapi sayang sebagian besar keberhasilan tersebut bukan di Indonesia tetapi di negara lain seperti Philippina, Sri Lanka, dan India. Bahkan malah ada produk yang bahan bakunya dari Indonesia setelah menjadi produk siap jual dijual kembali ke Indonesia, yakni santan yang sumber kelapanya dari Indonesia. Dengan demikian sebenarnya analisis bahwa industri kelapa mulai menggeliat ada benarnya khususnya untuk level global, sedangkan untuk dalam negeri hampir belum terlihat indikasinya, hanya spot-spot kecil yang masih terlalu dini untuk dikatakan bangkit.  Dengan estimasi 14 milyar butir kelapayang dihasilkan pertahun di Indonesia maka ada sekitar 3 milyar liter air kelapa, atau bila dikonversi menjadi VCO menjadi 1,4 juta ton, dessicated coconut menjadi 1,7 juta ton sedangkan temptung kelapa sebesar 2,5 juta ton dan sabut sebesar 5,6 juta ton.
Memang di era bioeconomy saat ini adalah sesuatu hal yang wajar ketika di suatu waktu lalu menjadi sampah dan dibuang, lalu saat ini menjadi komoditas yang dicari bahkan jadi rebutan, misalnya air kelapa yang dulunya dibuang saja, saat ini ditampung digunakan untuk bahan baku nata de coco dan air kelapa kemasan, tempurung dan sabut kelapa, lalu cangkang sawit yang awalnya juga hanya dibuang saja sebagai pengeras jalan saat ini banyak dicari dan digunakan sebagai bahan bakar pembangkit lisrik dengan permintaan sangat besar, lebih detail bisa dibaca disini. Beberapa  produk kelapa yang mulai diminati,sudah ada permintaan dan diproyeksikan terus meningkat adalah air kelapa. Philipina mengeksport 484 ribu liter air kelapa pada 2009 menjadi 17,9 juta liter pada 2012 dan pada tahun 71,7 juta liter pada tahun 2015 atau terjadi peningkatan 141 kali lipat dalam kurun 8 tahun. Untuk menghasilkan 71,7 juta liter air kelapa dibutuhkan 261 juta butir kelapa per tahun. Dan diperkirakan pasar air kelapa kemasan saat ini mencapai 13 triliun rupiah. Sayang tidak ada informasi untuk Indonesia. Hampir semua produk air kelapa tersebut di export ke Amerika Serikat dan biasanya hubungan yang dekat dengan negara pembeli yang itu sangat terkait faktor sejarahnya maka akan memudahkan transaksi bisnisnya. Mungkin itulah mengapa negara penghasil kelapa no 2 di dunia tersebut bisa banyak mengeksport produk-produk kelapanya ke Amerika Serikat.


Santan kemasan selain digunakan untuk memasak juga digunakan untuk susu nabati, seperti susu kedelai. China adalah negara yang banyak mengkonsumsi santan kelapa untuk pengganti susu hewani, dengan China sebagai konsumen terbesarnya. Sedangkan dessicated coconut (kelapa parut kering), saat ini ada 3 produsen utama yakni Philipina, Indonesia dan Sri Lanka.  Saat ini diperkirakan lebih dari 20 pabrik dessicated coconut di Indonesia. Peningkatan permintaan dessicated coconut cukup besar yakni 151 ribu ton pada tahun 1990 menjadi 248 ribu ton pada 2008.  
Apakah industri kelapa Indonesia bisa bangkit? Tentu saja bisa tetapi ada sejumlah syarat yang mesti dipenuhi. Kebangkitan industri kelapa harus dipimpin oleh orang yang memiliki kapabiltas memadai sehingga memahami inti permasalahan dan bisa memetakan masalah secara akurat pada sektor ini serta memberikan solusinya. Pemimpin adalah orang yang memiliki visi dan menghidupi atau mengimplentasikan visinya hingga tujuannya tercapai. Pemimpin yang tidak memiliki keyakinan kuat untuk mengimplementasikan visinya maka tidak akan memiliki daya dorong untuk tergerak membuat solusi yang dibutuhkan. Dengan upaya berbagai pihak dan selalu berdo'a kepada Allah SWT, insyaAllah akan terwujud. 

Kelapa sangat dekat dengan kehidupan rakyat, sehingga masyarakat bisa turut aktif memajukan industri kelapa terpadu tersebut. Industri-industri kelapa terpadu bisa dibuat di sentra-sentra perkebunan kelapa, bahkan di lokasi terpencil sekalipun asalkan ada akses untuk memasarkan produknya. Akses dan penguasaan pasar adalah hal penting. Ketika pasar sudah di dapat dan di kuasai maka aktivitas produksi bisa dengan mudah dilaksanakan. Percuma membangun pabrik atau industri jika tidak punya pasarnya. Pola kerjasama saling menguntungkan (non-riba) seperti syirkah dengan bagi hasil akan membuat industri lebih kuat. InsyaAllah. Hal tersebut karena dari kelapa bisa menghasilkan banyak sekali produk yang bisa dikomersialkan dan akan membawa berkah. Perusahaan-perusahaan besar juga telah bersiap siaga untuk mengambil peluang ini, sehingga jangan sampai ketinggalan. Hal yang perlu diupayakan agar harta tidak hanya berputar di kalangan tertentu saja seperti saat ini yang terjadi dengan penerapan ekonomi kapitalis. Dengan model ekonomi saat ini membutuhkan 800 tahun bagi milyaran rakyat terbawah untuk mencapai 10% pendapatan global. Akibat liberalisme dan kapitalisme yang terjadi saat ini mengakibatkan 10% orang terkaya menguasai 85% kekayaan global. Tiga orang terkaya dunia memiliki aset lebih dari 47 PDB negara PDB bruto terendah. 1% orang terkaya memiliki lebih dari 50% kekayaan dunia. Ketimpangan yang sangat besar tersebut hendaknya segera bisa segera diatasi dengan ekonomi yang berkeadilan dan menyejahterakan.   

Apakah kelapa akan kembali berjaya dan menjadi lokomotif dalam era bioeconomy saat ini? Apakah kelapa bisa kembali menggerakkan sektor ekonomi yang secara heroik sebagai komoditas penting yang memiliki peran dalam  kemerdekaan Indonesia ? Ataukah malah di 'nina bobo' kan dengan banyaknya potensi negeri ini tetapi tidak mampu memanfaatkannya dan malah mengundang 'penjajah' baru? Wallahu 'alam

Not Only Reduce Steam Cost, but Also Reduce Water Treatment Cost for Boiler Feed Water and Even Also Increase Revenue with EFB Cogeneration

Walaupun limbah biomasa berlimpah di pabrik sawit, tetapi penggunaan boiler yang efisien juga dibutuhkan. Penggunaan limbah biomasa yang efi...