Tampilkan postingan dengan label mesocarp fiber. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mesocarp fiber. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Oktober 2026

Tahapan Pemanfaatan Tandan Kosong di Pabrik Sawit Indonesia

Limbah biomasa padat di pabrik sawit yang tersedia dalam jumah besar selain cangkang sawit dan mesocarp fibre, adalah tandan kosong sawit. EFB atau tankos adalah limbah biomasa sawit yang dihasilkan paling banyak. Mesocarp fibre biasanya habis sebagai bahan bakar boiler dengan sebagian cangkang sawit. Saking banyaknya prosentase limbah EFB / tankos ini melebihi produk utamanya yakni minyak sawit mentah (CPO) di pabrik sawit tersebut. Tetapi pada umumnya EFB belum dimanfaatkan, yang volumenya sekitar 20% dari FFB. Dan karena volume-nya yang besar tersebut maka potensi pencemaran lingkungannya juga besar. 

 

Sejumlah pabrik berupaya untuk mencapai kondisi zero waste sehingga limbah EFB atau tankos ini harus diolah. Tetapi pengolahan seperti apa dan produk apa yg dihasilkan serta bagaimana keekonomiannya inilah yang menjadi problem. Tentu keinginannya adalah bagaimana limbah ini tidak lagi mencemari lingkungan tetapi juga memberikan tambahan keuntungan. Dan bahkan produksi apa dari bahan baku tersebut yang memberikan keuntungan maksimal. Tetapi tahapan yg realistis, adalah bagaimana limbah tankos ini bisa diolah, tidak mencemari lingkungan , dan sebisa mungkin meminimalisir biaya investasi alat pengolahan tersebut. Hal tersebut menjadi pertimbangan penting yg berpijak pada kondisi saat ini dan perkembangan ke depan.

EFB ini potensial untuk dimanfaatkan untuk berbagai produk bioenergy maupun biochar. EFB bisa dipadatkan (biomass densification) untuk menjadi pellets, yang penggunaannya akan selaras dengan cangkang sawit, yakni untuk sektor energi. Dengan jumlahnya yang sangat besar maka potensi EFB pellets yang dihasilkan juga akan sangat besar. EFB pellets diprediksi akan menjadi trend ke depan setelah cangkang sawit. Hal tersebut karena ketersediaan yang besar dan sebagian besar belum dimanfaatkan. Dibandingkan potensi bahan baku pellets dari limbah kayu-kayuan baik dari limbah kehutanan maupun industri perkayuan, limbah tankos ini juga sangat besar, sehingga bisa bersaing atau bahkan lebih besar. Dan dibandingkan wood pellets dari kebun energi, dimana untuk produksi harus menanam tanaman energi dulu seperti kaliandra dan gamal / gliricidae maka pellet tankos (EFB pellets) rutenya lebih cepat. 

Pemanfaatan lainnya EFB adalah untuk produksi biochar. Biochar bisa digunakan untuk soil amendment pada sektor pertanian atau secara praktis bisa digunakan untuk perkebunan kelapa sawit mereka atau milik petani. Penggunaan biochar akan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk atau NUE karena membuat pupuk slow release.  Selain itu bahkan produsen biochar juga bisa mendapat penghasilan dari carbon credits dengan mengikuti metodologi dari lembaga karbon standarseperti Puro, Verra, Isometric dan sebagainya. Produksi biochar dengan industrial scale slow pyrolysis equipment akan menghasilkan excess energy seperti syngas yang bisa digunakan untuk bahan bakar boiler sawit dengan cofiring, maupun bidang lainnya. 

Dan pemanfaatan EFB yang banyak dilakukan oleh pabrik sawit saat ini yakni membakarnya dengan incinerator sederhana (seperti pada photo..) dan menghasilkan produk berupa abu EFB yang kaya akan potassium yang bisa digunakan sebagai pupuk. Tetapi penggunaan incinerator sederhana tersebut selain menghasilkan polusi asap, juga tidak tidak memanfaatkan panas dari hasil pembakarannya.   Penggunaan incinerator yang diupgrade sehingga menghasilkan pembakaran yang efisien seperti penggunaan reciprocating grate combustor dan perangkat untuk mengontrol polusi seperti water scrubber akan membuat pemanfaatan EFB tersebut ramah lingkungan. Selain itu panas pembakaran (waste heat recovery) juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti cogeneration dengan boiler sawit, produksi listrik atau bidang lainnya. 

Selasa, 03 Desember 2019

Mana Lebih Baik, Boiler yang Efisien atau Penggunaan Pyrolysis System?

Fiber dan cangkang sawit adalah limbah padat pabrik sawit yang dihasilkan pada produksi CPO di pabrik tersebut. Jumlah limbah fiber dan cangkang cukup banyak yakni sekitar 20% dari setiap tandan buah segar (TBS) atau hampir sama dari CPO yang dihasilkan. Pabrik sawit dengan kapasitas 60 ton/jam TBS bisa menghasilkan fiber sebanyak 8,1 ton perjam atau 194,4 ton perhari dan cangkang 3,3 ton/jam perjam atau 79,2 ton perhari. Dan karena keduanya merupakan limbah maka umumnya pemanfaatan limbah tersebut tidak diperhatikan pada awalnya termasuk untuk pemakaian sebagai bahan bakar pada boiler di pabrik sawit untuk produksi listrik dan kukus (steam). Pemanfaatan fiber dan cangkang untuk bahan bakar boiler pada umumnya menggunakan 100% fiber dan sekitar 30% dari cangkang. Dengan kondisi tersebut sisa berupa 70% cangkang bisa dimanfaatkan untuk hal lain termasuk bisa dijual bahkan di export.

Ketika cangkang menjadi komoditas komersial dan permintaan semakin besar, maka pabrik-pabrik sawit mengganti boiler lama mereka yang kurang efisien dengan boiler baru yang memiliki tingkat efisiensi tinggi. Dengan cara tersebut maka 100% cangkang tidak digunakan lagi untuk bahan bakar boiler tersebut dan hanya membutuhkan fiber saja sebagai bahan bakarnya. Pada kondisi ini mulai terjadi perubahan paradigma berpikir, yakni ketika limbah padat tersebut hampir tidak diperhatikan dan cenderung dianggap sebagai masalah, lalu menjadi bagian penting untuk mendapatkan penghasilan tambahan dan bahkan bisa diestimasi bahwa apabila cangkang tersebut berhasil terjual maka hal tersebut cukup untuk menutup biaya operasional pabrik sawit tersebut. Tentu suatu hal menarik bila produksi CPO dengan biaya operasional 0% sehingga keuntungan semakin menarik apalagi ditengah penurunan harga CPO akhir-akhir ini.
Hal lain yang bisa dilakukan adalah menggunakan unit pirolisis, untuk menjalankan boiler tersebut. Dengan pirolisis maka tidak hanya fiber yang digunakan tetapi juga  tandan kosong / EFB (empty fruit bunch) nya. Tandan kosong adalah limbah padat pabrik sawit yang sampai hari ini pada umumnya masih belum dimanfaatkan. Selain menghasilkan energi, dengan pirolisis juga dihasilkan produk berupa arang (biochar). Walaupun arang (biochar) juga bisa dimanfaatkan untuk sumber energi, tetapi di bisnis perusahaan sawit penggunaan biochar untuk perkebunan bisa lebih kompatibel. Penggunaan biochar pada perkebunan sawit terutama untuk menghemat  pupuk, yang merupakan salah satu komponen biaya besar (sekitar 30%) pada usaha produksi CPO tersebut. Dengan luasan kebun sawit 20 ribu hektar kebutuhan biaya pupuk diperkirakan mencapai Rp 71,50 milyar per tahunnya atau Rp 35,75 milyar pertahun untuk setiap 10.000 hektar, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Pabrik-pabrik sawit dengan visi besar tentu berusaha memaksimalkan potensinya dengan tujuan memaksimalkan profit dari aktivitas produksi hulu ke hilirnya. Dengan biochar juga bisa mentargetkan kenaikkan produktivitas tandan buah segarnya, untuk lebih detail bisa dibaca disini.

Aplikasi biochar akan lebih mudah dilakukan di Indonesia dibandingkan di Malaysia, hal tersebut karena hampir semua pabrik sawit di Indonesia juga memiliki kebun sawit sedangkan di Malaysia pihak pabrik umumnya tidak memiliki kebun sawit sendiri. Industri sawit juga memiliki peran penting bagi kedua negara tersebut karena Indonesia dan Malaysia adalah produsen CPO dan pemilik perkebunan sawit terbesar di dunia saat ini. Industri sawit menyumbang sekitar 7% dari GDP Malaysia dan 3% dari GDP Indonesia, sehingga perannya tidak bisa diabaikan. Baik dengan pirolisis maupun boiler dengan efisiensi tinggi, limbah biomasa bisa digunakan sebagai sumber energinya dan 100% cangkang sawitnya bisa dikomersialisasikan, tetapi dengan pirolisis lebih baik karena limbah tandan kosong bisa diolah, ada produk biochar (sementara hanya abu jika dengan pembakaran biasa) untuk penghematan pupuk di perkebunan sawit dan gas buang dari boiler pabrik sawit juga bersih karena membakar gas (syngas) yang dihasilkan dari proses pirolisis tersebut.

Produksi Bark Briquette dari Limbah Pabrik Wood Pellets

Untuk mengurangi kadar abu dari wood pellets sehingga kualitasnya meningkat maka pengupasan kulit kayu (debarking) biasa dilakukan. Dengan p...