Tampilkan postingan dengan label plywood. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label plywood. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juli 2024

Menjual Mesin Pengolah Kayu Sekaligus Mesin Pengolah Limbah Kayunya

Berbagai produk olahan kayu semakin beragam dan berkembang saat ini. Pemanfaatan kayu dioptimalkan fungsinya terutama yang berasal dari hutan produksi. Untuk meningkatkan kualitas dan kegunaan kayu tersebut maka perlu diolah secara khusus yang dilakukan di pabrik-pabrik pengolahan kayu. Hal tersebut juga termasuk pemilihan spesies tanaman kayu yang cocok untuk tujuan pemanfaatannya atau produk yang akan dibuat. Sejumlah produk pengolahan kayu adalah kayu lapis/plywood, blockboard, LVL, barecore, FJLB (Finger Joint Laminated Board), MDF (Medium Density Fibreboard), dan pulp & paper.

Pengolahan kayu dalam industri tersebut selalu membutuhkan sejumlah peralatan mulai dari paling sederhana yakni penggergajian kayu hingga yang prosesnya kompleks seperti pabrik pulp and paper. Selain pengerjaan atau proses produksi secara fisika atau mekanik juga proses kimia tergantung pada produk yang akan diproduksi. Penjual atau penyedia peralatan pengolahan atau mesin produksi tersebut pada umumnya satu set lengkap (complete line) sehingga bisa langsung digunakan dan menghasilkan ketika bahan bakunya telah siap. Semakin efisien dan berkualitas peralatan tersebut akan sebanding dengan harganya yang merupakan investasi tetap (fixed investment) pada industri pengolahan kayu tersebut. Faktor cost and benefit ratio sangat diperhatikan dalam pemilihan mesin atau peralatan tersebut terutama yang berorientasi export dengan volume produksi yang besar.  

Konsep zero waste pada industri-industri pengolahan kayu tersebut belum sepenuhnya dilakukan. Masih banyak industri pengolahan kayu yang limbahnya mencemari lingkungan dan bisa berdampak sosial. Hal ini termasuk pada para penjual atau penyedia mesin tersebut yang sebagian besar masih fokus pada penyediaan mesin atau peralatan produksi untuk produk utama tetapi belum pada aspek penanganan dan pengolahan limbahnya. Padahal dengan potensi limbah yang dihasilkan cukup besar maka pengolahan limbah tersebut menjadi penting dilakukan. Produksi pellet dan briket adalah salah satu solusi untuk mengatasi hal tersebut. Limbah-limbah kayu berupa potongan kayu, serbuk gergaji, dan kulit kayu bisa diolah menjadi briket dan pellet tersebut. Penjual atau penyedia mesin atau peralatan produksi yang inovatif dan berwawasan lingkungan berkelanjutan akan mengimplementasikan konsep tersebut.

Produksi briket dan pellet selain akan mengatasi masalah limbah juga akan memberikan keuntungan ekonomi. Dengan bahan baku briket dan pellet berasal dari limbah sendiri berarti biaya bahan baku bisa dikatakan nol rupiah sehingga pada akhirnya akan memberikan keuntungan besar. Produksi limbah hingga 1000 ton/bulan sangat cocok untuk produksi briket tersebut, sedangkan jika limbah sangat banyak misalnya 5000 ton/bulan maka produksi pellet lebih disarankan. Briket juga bisa diarangkan untuk menjadi produk briket arang yang banyak permintaan dari Turki, Arab Saudi dan Timur Tengah. Sedangkan pellet kayu (wood pellet) banyak digunakan untuk pembangkit listrik di luar negeri yang kebutuhannya diperkirakan terus meningkat seiring trend dekarbonisasi. Jika penjual mesin produksi atau pengolahan kayu juga menawarkan alat pengolah limbahnya seperti mesin pellet dan mesin bsin briket maka akan memudahkan bagi produsen produk kayu tersebut mengelola industrinya yang berwawasan lingkungan yakni zero waste dan memaksimalkan profit karena semua bagian kayu bisa dimanfaatkan secara optimal. 

Senin, 06 November 2023

Produksi Pini Kay Briquette dari Limbah Pabrik Kayu Lapis (Plywood) dan Veneer

Produksi plywood atau kayu lapis Indonesia diperkirakan lebih dari 10 juta meter kubik setiap tahunnya yang diproduksi dari ratusan pabrik plywood bahkan Indonesia pernah merajai industri kayu dunia pada periode 1980 hingga 1995. Adanya pabrik-pabrik plywood di Indonesia sebenarnya sudah sejak lama, tetapi di dalam perkembangannya baru nampak setelah tahun 1972. Setelah periode tahun 1980-85 jumlah pabrik bertambah dengan pesat. Pada masa itu tidak kurang telah ada 110 pabrik berskala sedang sampai besar hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Ada lima provinsi sebagai produsen plywood terbesar di Indonesia yakni Jawa Timur, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Dan enam provinsi lain yang mulai berkembang yakni Banten, Papua, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Riau dan Jambi. Sebagian besar plywood tersebut untuk pasar export.

APKINDO (Asosiasi Panel Kayu Indonesia) adalah wadah bagi pelaku industri kayu lapis (plywood) dan veneer. APKINDO saat dibentuk pada 12 Februari 1976 yang diprakarsai oleh 13 perusahaan kayu lapis, sedangkan saat ini beranggota lebih dari 125 industri yang tersebar di seluruh Indonesia. APKINDO bertujuan untuk memupuk persatuan dan kebersamaan serta menyuarakan kepentingan industri kayu lapis untuk memanfaatkan kayu bulat secara lebih efisien, menyerap lebih banyak tenaga kerja dan meningkatkan nilai tambah. Peran APKINDO masih terus dilakukan hingga saat ini, salah satunya untuk mendukung kebijakan SVLK yang diyakini dapat mengembalikan citra positif kehutanan Indonesia di mata dunia, sehingga akan mempermudah produk kayu Indonesia, khususnya kayu lapis, untuk memenangkan persaingan di pasar global.

Volume limbah kayu pada industri plywood cukup besar mencapai hampir 55% atau jumlahnya lebih dari 5 juta ton per tahun terhadap produksi plywood nasional tersebut. Potensi limbah tersebut cukup besar dan memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pini kay briquette (wood briquette screw type). Mengapa mesti mengolahnya menjadi pini kay briquette (wood briquette screw type) ? Pini kay briquette menjadi pilihan untuk solusi masalah limbah plywood tersebut karena selain proses produksi lebih mudah, juga investasi mesin lebih murah. Hal ini karena limbah kayu pabrik plywood sudah kering sehingga tidak membutuhkan proses pengeringan. Alat pengering atau dryer selain cukup mahal juga biaya operasionalnya. Kualitas tinggi juga sangat mungkin didapat karena kadar abu yang rendah, karena kayu untuk produksi plywood tersebut telah dikupas kulitnya (debarking) sehingga kandungan bisa diturunkan hingga dibawah 1%.

Veneer adalah lembaran papan tipis untuk membuat plywood. Veneer-veneer tersebut disusun dan direkatkan, dengan jumlah gasal, sehingga menjadi kayu lapis atau plywood. Banyak produsen veneer yang tidak memiliki unit pembuat plywood, tetapi pada umumnya pabrik plywood memiliki unit produksi veneer. Pembuatan veneer bisa dengan pengupasan (rotary cutting), penyayatan (slicing), penggergajian dan perautan. Produksi veneer Indonesia saat ini juga cukup besar demikian juga dengan limbah yang dihasilkannya. Limbah tersebut juga akan memiliki nilai tambah yang besar dengan mengolahnya menjadi pini kay briquette, seperti halnya limbah kayu lapis (plywood) di atas. 

 

Proses produksi pini kay briquette bisa menggunakan limbah industri plywood dan veneer tersebut di atas. Sebelum dipadatkan menjadi pinikay briquette dalam mesin briquette atau screw press, maka limbah tersebut perlu diseragamkan ukurannya menjadi seukuran serbuk gergaji / sawdust dan juga tingkat kekeringannya sekitar 10%. Limbah kayu yang ukurannya besar perlu dikecilkan ukurannya terlebih dahulu dan tingkat kekeringan juga perlu diupayakan mencapai kisaran 10% tersebut. Dengan alat screw press / extruder tersebut biomasa kayu dari limbah-limbah tersebut bisa dipadatkan (densifikasi) hingga 1400 kg/m3 atau jauh lebih padat daripada wood pellet yang berada dikisaran 700 kg/m3. Produk pini kay briquette tersebut selanjutnya bisa dipotong-potong dengan ukuran tertentu dan siap dipasarkan khususnya pasar export. Kebutuhan pini kay briquette tersebut terutama sebagai bahan bakar pemanas ruangan. Lebih lanjut pini kay briquette ini juga bisa diolah lebih lanjut menjadi arang briket atau biasa disebut sawdust charcoal briquette. Dengan kepadatan tersebut maka waktu bakar arang briket dua kali arang biasa atau lebih. Sedangkan penggunaan utama arang briket adalah untuk barbeque. 

Untuk industri plywood dan veneer yang menghasilkan limbah biomasa kayu-kayuan bahkan hingga ribuan ton setiap bulannya sehingga berpotensi menjadi masalah lingkungan, maka produksi pini kay briquette bisa menjadi solusi jitu. Dan jika ada industri plywood dan veneer yang berminat untuk produksi pini kay briquette tersebut kami siap membantu pasarnya. 

Jumat, 10 September 2021

Produksi Premium Wood Pellet Dari Limbah Pabrik Plywood

Produksi plywood atau kayu lapis Indonesia diperkirakan lebih dari 10 juta meter kubik setiap tahunnya yang diproduksi dari ratusan pabrik plywood bahkan Indonesia pernah merajai industri kayu dunia pada periode 1980 hingga 1995. Ada lima provinsi sebagai produsen plywood terbesar di Indonesia yakni Jawa Timur, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Dan enam provinsi lain yang mulai berkembang yakni Banten, Papua, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Riau dan Jambi. Sebagian besar plywood tersebut untuk pasar export. 
 
Volume limbah kayu pada industri plywood cukup besar mencapi hampir 55% atau jumlahnya lebih dari 5 juta ton per tahun terhadap produksi plywood nasional tersebut. Potensi limbah tersebut cukup besar dan memiliki potensi besar untuk diolah menjadi wood pellet grade premium. Mengapa wood pellet menjadi pilihan dan kenapa juga mesti grade premium? Wood pellet menjadi pilihan untuk solusi masalah limbah plywood tersebut karena selain proses produksi lebih mudah, juga investasi mesin lebih murah. Hal ini karena limbah kayu pabrik plywood sudah kering sehingga tidak membutuhkan proses pengeringan. Alat pengering atau dryer selain cukup mahal juga biaya operasionalnya. Kualitas premium juga sangat mungkin didapat karena kadar abu yang rendah, karena kayu untuk produksi plywood tersebut telah dikupas kulitnya (debarking) sehingga kandungan bisa diturunkan hingga dibawah 1%. 

Pengecilan ukuran (size reduction / down sizing) adalah hal pertama yang perlu dilakukan dengan limbah plywood atau tripleks tersebut. Setelah ukuran partikelnya sudah sesuai yakni seukuran serbuk gergaji (~3-5 mm) selanjutnya dilakukan proses pembasahan (wetting) hingga kadar air mencapai sekitar 10%. Hal ini karena limbah kayu pabrik plywood ini biasanya terlalu kering yakni dengan kadar air 4-5% sehingga kurang memenuhi syarat untuk dipellet. Bahan baku yang terlalu kering membuat perekatan pellet tidak optimal, sehingga pellet menjadi rapuh bahkan pellet tidak terbentuk sama sekali. Proses pembasahan (wetting) tersebut dilakukan dengan water sprayer untuk mencapai kadar air tersebut. Setelah kadar air mencapai sekitar 10% selanjutnya bahan baku tersebut masuk ke pelletiser untuk dipress atau dicetak menjadi pellet. 


Segmen pasar wood pellet dengan grade premium berbeda dengan wood pellet grade standard atau utility sesuai tabel di atas. Penggunaan wood pellet grade premium adalah untuk pemanas ruangan yakni terutama pada musim dingin di daerah-daerah dengan empat musim. Alasan utama penggunaan wood pellet grade premium untuk keperluan tersebut adalah karena kadar abu yang sangat rendah. Dengan kadar abu yang rendah tersebut pembersihan abu menjadi tidak terlalu sering dilakukan. Produksi wood pellet grade premium lebih sulit dibandingkan dengan grade standard atau utility, tetapi khusus pada industri plywood dengan kondisi bahan baku seperti di atas maka jauh lebih mudah dan lebih siap untuk produksi wood pellet grade premium tersebut. Sebuah kesempatan emas bagi yang menyadari dan memahaminya. 

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...