Tampilkan postingan dengan label sapi potong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sapi potong. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Juli 2021

Penggemukan Sapi Potong (Feedlot) Berbasis Kebun Energi

Photo dari sini
Indonesia memiliki keunggulan dalam penggemukan sapi yang dilakukan secara intensif. Sejumlah faktor seperti banyak tersedianya limbah-limbah pertanian, limbah agroindustri, limbah kehutanan dan biaya tenaga kerja murah, mendukung keunggulan tersebut. Selain harga sapi bakalan atau sapi bibit, faktor pakan memang menjadi faktor penentuan selanjutnya. Dengan keunggulan tersebut Indonesia bisa fokus pada penggemukan sapi potong tersebut. Apabila hal ini dilakukan maka bukan tidak mungkin terjadinya swasembada daging atau minimal import daging akan berkurang. Import daging kerbau dari India yang terus meningkat seharusnya bisa secara bertahap dikurangi, seiring dengan kesiapan industri penggemukan sapi potong dalam negeri. Butuh waktu dan upaya tidak sederhana, jelas tetapi harus dilakukan.

Import sapi bakalan dari Australia, photo dari sini 

Idealnya memang sapi bakalan atau sapi bibit tersebut diproduksi sendiri di dalam negeri, hal ini karena Indonesia punya potensi akan hal ini berupa potensi area penggembalaan di Indonesia bagian timur dan perkebunan kelapa sawit. Tetapi faktanya hal tersebut pelaksanaannya masih sangat minim atau bahkan yang secara fokus menekuni dalam bidang tersebut belum ada. Berdasarkan sejumlah kajian bahwa pembiakan sapi hanya efektif dan efisien dilakukan di area padang penggembalaan. Hal inilah yang membuat Australia unggul dalam bidang penyediaan sapi bakalan atau sapi bibit tersebut. Tempat yang luas dan waktu lama di padang gembalaan menjadi kendala Indonesia untuk mandiri sapi bakalan. Tujuan export sapi bakalan dari Australia adalah Indonesia dan terutama dipasok dari Australia bagian utara. Jenis rumput yang hidup di Autralia tersebut juga tidak terlalu cocok untuk penggemukan sehingga mengeksportnya salah satu opsi terbaik. Sedangkan penggemukan sapi (feedlot) di Indonesia hanya membutuhkan waktu 100-120 hari dengan penggunaan ruang kandang ukuran terbatas.Populasi sapi di Australia memang cukup besar atau hampir sama dengan jumlah penduduknya atau rasionya 1 orang 1 sapi, sedangkan di Indonesia jauh lebih kecil. Kerjasama penyediaan sapi bakalan dari Australia untuk digemukkan di Indonesia juga sudah berjalan puluhan tahun. Ada upaya untuk mengurangi import sapi bakalan tersebut, tetapi sepertinya masih dibutuhkan waktu cukup lama. 

Pengembangan kebun energi dengan tujuan utama produksi wood pellet atau bahan bakar biomasa, memiliki limbah atau produk samping berupa daun. Daun tersebut sangat bagus untuk pakan sapi tersebut apalagi dengan kandungan protein yang tinggi. Dengan luasan mencapai ribuan bahkan jutaan hektar yang dicanangkan maka produk samping atau limbah daun yang dihasilkan juga akan sangat banyak tentunya. Dengan ini saja jika Indonesia mau fokus pada penggemukan tersebut maka peluang menjadi pemimpin industri penggemukan sapi di Asia bahkan dunia akan semakin besar. Bila hal itu terjadi maka import daging kerbau dari India maupun daging sapi dari Brazil bisa dikurangi bahkan dihentikan sama sekali. Selain itu bahkan ketika produksi dagingnya berlebih maka export daging juga sangat mungkin dilakukan, termasuk dengan pengolahan daging tersebut sehingga memberi nilai tambah lebih besar.

Minggu, 28 Februari 2021

Paradigma Peternakan Ruminansia Modern : Mengurangi Produksi Metana dan Meningkatkan Efisiensi Pakan

Gas-gas di atmosfer yang dapat menangkap panas matahari disebut gas rumah kaca (GRK). Yang termasuk gas rumah kaca yang ada di atmosfer antara lain adalah karbon dioksida (CO2), nitrogen dioksida (N2O), metana (CH4), dan freon (SF6, HFC dan PFC). Gas Metana (CH4) adalah gas berbahaya untuk atmosfer bumi dan salah satu kelompok gas rumah kaca di atas karena daya rusak gas metana 21 kali gas karbondioksida (CO2). Hal tersebut menuntut upaya untuk mencegah terjadinya gas metana maupun mengurangi produksinya. Sebagai contoh adalah pemanfaatan limbah POME atau limbah cair pabrik sawit untuk produksi biogas. Dengan cara tersebut metana yang terjadi di udara terbuka (aerob) akan bisa dihindari (methane avoidance scenario) dan tidak lepas ke atmosfer dengan unit biogas tersebut. Sektor peternakan juga berpotensi menghasilkan yakni kelompok peternakan ruminansia atau hewan memamah biak. Metana tersebut dihasilkan pada rumen ruminansia tersebut sebagai bagian dari proses pencernakannya. Menurut estimasi bahwa kontribusi metana dari peternakan ruminansia dominan dan tentu saja hal itu perlu dikurangi. Produksi gas metana (CH4) tersebut selain menjadi masalah lingkungan juga menyebabkan banyak kehilangan energi pada ternak. Dan ternyata ada proses mengurangi produksi metana tersebut yang sekaligus meningkatkan kesehatan dan  meningkatan berat badan maupun produksi susu.

Peternakan-peternakan besar ruminansia seharusnya lebih menyadari kondisi ini dan memiliki daya dorong lebih tinggi untuk mengurangi produksi metana tersebut. Biochar adalah suplemen pakan yang bisa digunakan untuk maksud diatas. Penggunaan biochar 1-3% dari bahan kering pakannya terbukti meningkatkan pertambahan berat badan signifikan pada sapi potong, demikian juga produksi susu pada sapi perah. Eksperimen di Australia pada sapi potong selama 2 bulan telah memberikan kenaikan berat badan 10% dibandingkan yang tidak menggunakan biochar. Sedangkan untuk sapi perah telah memberikan keuntungan $ 70.000 per tahun untuk lebih detail baca disini. Sedangkan penurunan emisi gas metana diperkirakan mencapai 29% dari penggunaan biochar. Sekali dayung 2-3 pulau terlampaui, begitu pepatah mengatakan.

Efek lain dari penggunaan biochar sebagai feed additive tersebut adalah kotoran ternak menjadi lebih padat dan kurang berbau. Biochar juga bisa digunakan tersendiri untuk mengatasi bau dan kekentalan kotoran ternak tersebut, sehingga kandang menjadi lebih bersih dan tidak berbau menyengat. Selain itu apabila kotoran tersebut digunakan untuk produksi maka produksi biogasnya juga akan meningkat, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Digestate yang dikomposkan juga akan menghasilkan pupuk organik (kompos) yang lebih baik karena tambahan biochar tersebut. 

Kualitas biochar juga menjadi hal sangat penting khususnya untuk suplemen pakan ternak tersebut. Daging dan susu adalah produksi peternakan untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia, sehingga juga akan berimbas pada manusia pada akhirnya. Kualitas biochar ditentukan oleh bahan baku yang digunakan dan proses produksi yang dilakukan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa tidak semua biochar memiliki kualitas yang sama, misalnya biochar dari limbah-limbah pertanian dengan kandungan abu tinggi dengan proses tradisional , dengan bahan baku biomasa kayu dengan kandungan abu kecil dan proses modern, tentu hasilnya berbeda, bahkan misalnya sama-sama menggunakan teknologi modern pun hasilnya akan berbeda. Perbedaan itu terutama terletak pada sifat kimia fisikanya. 

Produksi biochar juga seharusnya dirancang sesuai tujuannya, misalnya biochar suplemen pakan di atas harus menggunakan bahan baku biomasa pilihan dan proses modern sehingga kualitas kualitas stabil dan terjaga. Sedangkan acuan kualitas biochar bisa dengan OMRI, USDA atau IBI. Asosiasi atau organisasi peternakan dunia seperti FEFAC , IFIF dan AFIA saat ini sangat konsern pada safety dan sustainibility, sehingga hal tersebut bisa sejalan dengan biochar sebagai feed additive tersebut. Biochar sebagai feed additive khususnya sapi perah telah diterima oleh hampir semua negara Uni Eropa. Sedangkan untuk tujuan seperti mengurangi bau dan keenceran kotoran maka biochar yang diproduksi dari biomasa apa saja dan dengan menggunakan teknologi sederhana (low tech) sekalipun.

Pabrik Sawit: Ganti Boiler Saja? Apa Sekaligus Mencari Solusi untuk Bebas Problem Tandan Kosong Sawit dan Keuntungan Tambahan ?

Seiring dengan bertambah luasnya perkebunan sawit di Indonesia yang saat ini sekitar 17 juta hektar, maka demikian juga pabrik sawit yang di...