Minggu, 01 November 2015

Menengok Pasar Wood Pellet Asia


Proyeksi pertumbuhan pasar wood pellet mengindikasikan Eropa sebagai pasar utama dengan konsumsi 25-30 juta ton pada 2020, sekitar 2,5 kali lipat dibandingkan konsumsi pada tahun 2010 12 juta ton.  Negara-negara produsen wood pellet utama saat ini yakni Kanada, Amerika Serikat, Swedia dan Jerman. Amerika Serikat adalah penghasil wood pellet terbesar tetapi mayoritas produksinya untuk konsumsi dalam negerinya untuk pemanas ruangan (home heating), sedangkan Kanada sebagai produsen wood pellet terbesar setelah Amerika Serikat, sekitar 80% produksinya untuk eksport. Perubahan pasar yang besar terjadi di pasar Asia yakni dari kurang 1 juta ton pada 2010  ke sekitar 15 juta ton pada 2020. Produksi wood pellet global juga mengalami peningkatan yakni tumbuh sampai 300% dari 2012 ke 2020 dari 16 juta ton ke 40-50 juta ton.

Global Energy Production by source


Daerah-daerah yang mampu memproduksi wood pellet dengan harga murah akan menjadi pengeksport wood pellet utama. Dua komponen biaya yang sangat berpengaruh pada produksi wood pellet adalah harga bahan baku sampai pabrik dan biaya transportasi ke pasar. Posisi Indonesia yang berada di kawasan Asia dengan iklim tropis sehingga potensial untuk menjadi penghasil biomasa terbesar mempunyai peran strategis menjadi produsen wood pellet untuk pasar Asia. Dibawah ini ada 3 negara utama di Asia sebagai pasar wood pellet :

Konsumsi Energy Korea Selatan Berdasar Tipe.
Sumber : Economic Intelligence Unit 2009

Perkembangan Pasar Korea Selatan
Meskipun Korea Selatan adalah negara kecil, tetapi merupakan negara urutan ke-10 dunia pengguna  energi dengan urutan kelima importir minyak dan urutan kedua importir batubara. Saat ini memproduksi sekitar 65% dari kelistrikannya dari bahan bakar fossil. Korea Selatan serius untuk mengurangi emisi gas rumah kaca ke 30% penurunan emisi CO2 dari level 2010 pada tahun 2020. Korea Selatan juga telah mengeluarkan Renewable Portofolio Standard (RPS) yang mensyaratkan PLTU batubara untuk minimum menggunakan 2% energi terbarukan pada 2012, dengan peningkatan 0,5% /tahun sampai 2020.  Pada tahun 2020 mereka akan membutuhkan minimum 10% energi terbarukan dengan komposisi diharapkan 60% energi terbarukan berasal dari biomasa kayu, sedangkan 40% sisanya dari sumber lain.
Portofolio Energi Jepang (Sebelum Tragedi PLTN Fukushima)
Sumber : U.S. Energy Information Administration 2010
  
Perkembangan Pasar Jepang
Jepang hampir tidak memiliki sumber daya alam, sehingga meng-import hampir semua hampir semua batubara, minyak dan gas. Jepang adalah negara pengimport gas alam terbesar dan minyak bumi urutan kedua di dunia. Sejak kecelakaan atau meledaknya PLTN Fukushima tahun 2011, pemerintah Jepang mereview kebijakan energi nasional dan pengembangan sumber daya. Kebijakan tersebut mengindikasikan untuk 10 sampai 20 tahun ke depan untuk energi terbarukan, peningkatan penggunaan energi non-fossil sampai 50% dan penurunan gas rumah kaca pada pembangkit listrik dari 34% ke 70% pada tahun 2030.

Konsumsi Energi China Berdasar Tipe
Sumber : Economic Intelligence Unit 2009

Perkembangan Pasar China
China saat ini adalah pengguna energi terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Energi menjadi pondasi pertumbuhan energi China. Batubara adalah energi utama di China yang menjadikan negara ini pengguna terbesar batubara di dunia. Meskipun sangat sedikit kebijakan energi terbarukan diumumkan oleh pemerintah China, China dalam rencana lima tahunannya mengalokasikan USD 750 juta pada subsidi langsung, insentif dan tax exemptions untuk membangun 200 demo proyek green energy pada 2015 atau minimal 15% dari kebutuhan energi dari energi terbarukan. China juga telah mengeset produksi energi biomasa dengan target setara 50 juta ton batubara pada 2012.

Meskipun dalam rencana 5 tahun tersebut tidak mengindikasikan spesifik proyek green energy untuk ditangani, sejumlah asumsi menyatakan China akan memproduksi wood pellet untuk mengganti batubara. Mayoritas produksi wood pellet juga berasal dari produksi dalam negri sehingga import-nya masih minimal.

Menanam Pohon Untuk Menjawab Berbagai Masalah Dunia

Dengan menanam berbagai masalah esential manusia dalam kehidupan bisa teratasi, yakni pangan (food), energi dan air (water). Masalah-masalah tersebut saat ini dihadapi oleh manusia karena berbagai kerusakan lingkungan yang juga diakibatkan oleh ulah tangan-tangan manusia itu sendiri. Ada banyak jenis tanaman yang diciptakan Allah SWT di alam ini, sehingga memilih salah satu yang paling sesuai adalah hal yang perlu kita lakukan. Menghidupkan tanah mati dan menjadikannya produktif sehingga produktif bagi kehidupan manusia, tentu adalah hal yang sangat dianjurkan apalagi ketika dunia didera oleh berbagai krisis seperti pangan, energi, air bersih termasuk udara yang bersih menyegarkan. Saat ini diperkirakan ada 1 milyar manusia di muka bumi ini yang menghadapi masalah kelaparan. Jutaan hektar tanah masih terlantar dan belum dimanfaatkan, bahkan secara global setiap tahunnya ada kurang lebih 6 juta hektar tanah atau lahan pertanian yang menjadi gurun pasir (desertifikasi = penggurunan) akibat terbengkelai dan tidak dimanfaatkan. Luas hutan yang terus menyempit sehingga masih sangat jauh dari standar kebutuhan minimal bagi suatu kawasan adalah suatu keprihatinan tersendiri.



Ketika kondisi tanah telah rusak sehingga perlu segera dipuihkan maka jenis tanaman polong-polongan (leguminosae) adalah jenis yang paling cocok pada kondisi tersebut.  Hal ini karena tanaman jenis polong-polongan memiliki karakteristik : mendinginkan/melembabkan permukaan tanah, akarnya berbintil-bintil karena mampu mengikat nitrogen dari atmosfer artinya mampu menuburkan tanah rusak / tandus tersebut, dan mampu mencegah terjadinya erosi. Kaliandra adalah jenis tanaman polong-polongan (leguminoceae) yang cocok untuk kondisi tersebut. Hasil utama kayu untuk energi seperti untuk produksi wood pellet dan hasil samping berupa daun untuk peternakan kambing atau sapi serta  bunga untuk peternakan lebah adalah untuk menjawab masalah pangan. Integrasi kebun/hutan kaliandra tersebut dengan peternakan kambing/sapi akan menjadikan usaha tersebut optimal. Selain itu sumber air baru juga sangat mungkin muncul akibat dari kebun atau hutan kaliandra tersebut. Tanaman kaliandra yang bisa dipanen relatif cepat yakni rata-rata 1 tahun dan masih bisa produktif hingga sekitar 25 tahun ke depan tanpa harus menanam setiap tahunnya karena dengan pola trubusan, memiliki daya tarik tersendiri. Selanjutnya di sela-sela tanaman kaliandra tersebut bisa ditanam dari jenis lain yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi setempat, sebagai contoh kalindra dengan jagung, kaliandra dengan pisang, kaliandra dengan pinus, kaliandra dengan zaitun, kaliandra dengan kurma dan sebagainya.

Kaliandra usia 1 minggu



Kaliandra usia 2 minggu

Pembibitan tanaman kaliandra untuk kebun energi seluas 1200 ha


 


Hal lain yang perlu kita syukuri adalah posisi kita di daerah tropis dengan alam yang indah, wilayah yang luas  dan tanah yang subur (sebelum rusak).  Dengan iklim tropis tersebut matahari akan bersinar sepanjang tahun sehingga proses photosintesa dari tanaman akan berjalan secara optimal hal ini akan mempercepat produktivitas tanaman seperti kaliandra tersebut. Dengan kondisi tersebut  produktivitas kayu kaliandra di Indonesia rata-rata 4 kali lebih cepat dengan tanaman poplar/willow di daerah sub-tropis atau butuh waktu 1 tahun di Indonesia yang sama dengan 4 tahun di daerah sub-tropis untuk jumlah hasil kayu yang sama. Apabila semua dioptimalkan maka Indonesia sangat mungkin akan menjadi penghasil biomasa terbesar di dunia yang mampu menjawab berbagai masalah dunia.  Sedangkan di sektor energi kondisi tersebut sangat sesuai ketika dunia juga berlomba-lomba untuk menurunkan suhu bumi dengan gelombang energi biomasa-nya.

Kamis, 22 Oktober 2015

Berebut Limbah Biomasa Tankos Sawit : Untuk Kertas atau Pellet ?

Dalam upaya optimalisasi seluruh potensi sejumlah perusahaan sawit berencana untuk mengolah limbah-limbah yang dihasilkan dari proses produksi CPO salah satu diantaranya adalah tandan kosong (tankos) sawit atau empty fruit bunch (EFB). Dua alternatif yang sedang hangat diperdebatkan adalah untuk energi dengan dibuat pellet dan untuk kertas. Ditinjau dari sisi bisnis apabila menguntungkan tentu tidak bukan masalah untuk memproduksi dari kedua produk tersebut. Ketersediaan bahan baku menjadi salah satu faktor penting dari sisi produksi dan bisnis pada umumnya.

Analisa lebih mendalam bisa dilakukan dengan melihat lebih detail pada teknologi proses produksi, besarnya investasi, ROI, aspek lingkungan, kerberlangsungan bisnis inti (minyak sawit) dan kemanfaatan produk yang dihasilkan adalah sejumlah faktor yang akan memudahkan untuk pada akhirnya memilih salah satu. Selanjutnya mengetahui lebih detail mengenai karakteristik bisnis masing-masing produk tersebut juga akan semakin menambah kemantapan dari kedua produk tersebut. Pada akhirnya skor yang lebih tinggi menentukan pilihan atau prioritas dari keduanya, dan apabila ternyata skor analisa dari keduanya sama maka juga tidak masalah apabila keduanya dijalankan secara bersamaan apabila sumberdaya-nya juga mampu.
Walaupun kualitas produk pellet maupun kertas dari bahan baku limbah sawit juga bukan merupakan grade terbaik apabila dibandingkan dengan produk kertas atau pellet dari bahan baku kayu, tetapi sekali apabila secara bisnis menguntungkan maka itu bagus untuk diproduksi juga. Dilema seperti ini juga dialami pabrik berbasis agro (agro-industri) seperti pabrik gula tebu, dimana baggase bisa diolah menjadi kertas maupun pellets.        

Senin, 05 Oktober 2015

Wood Briquette Tertinggal 25 Tahun dari Wood Pellet

Kawasan-kawasan atau daerah-daerah yang biasa dengan membakar kayu (wood burning application) maka akan cocok menggunakan wood briquette dan kurang cocok apabila menggunakan wood pellet. Berbagai kawasan di berbagai belahan dunia menggunakan kayu untuk pemanas ruangan (wood burning stove atau boiler) ataupun untuk memasak.  Apabila rasio pengguna kayu sebagai bahan bakar lebih banyak maka usaha atau produksi wood briquette akan lebih menarik daripada wood pellet. Secara global wood briquette memang kalah populer dibandingkan wood pellet, sehingga produksi wood briquette juga jauh dibawah wood pellet. Wood briquette juga punya karakteristik tersendiri dibandingkan wood pellet.






Secara umum produksi wood briquette juga lebih mudah dibandingkan wood pellet. Ukuran partikel, bahan baku, kadar air dan operasional sedikit lebih longgar dibandingkan persyaratan untuk produksi wood pellet. Semua wood pellet memiliki bentuk silindris yang hanya dibedakan diameter silinder tersebut, dan yang umum digunakan yakni diameter 6 mm dan 8 mm, sedangkan pada wood briquette selain bentuknya bisa bermacam-macam dari segi ukuran juga bermacam-macam, misalnya dari yang diameter 50 mm (5 cm) hingga 90 mm (9 cm). Wood pellet hampir semua menggunakan mechanical compression pada produksinya sedangkan pada wood briquette ada beberapa pilihan compression, yakni mechanical, hydraulic dan extrusion (screw). Teknologi kompresi pada pembriketan yang berbeda juga akan menghasilkan karakteristik produk yang berbeda, misalnya perbedaan pada mechanical compresssion (ram/piston briquette) dengan extrusion (screw briquette).  Bahan baku yang bisa dibuat pellet hampir bisa dipastikan bisa dibuat briquette, tetapi semua bahan baku yang bisa dibuat briquette belum tentu sukses untuk dibuat pellet. Density atau kepadatan wood briquette juga lebih tinggi dibandingkan wood pellet, yakni berkisar 1.000 - 1.400 kg/m3 (62,4 - 87,4 pound/ft3) sedangkan pada wood pellet berkisar 700 - 800 kg/m3  (43,7 - 50 pound/ft3).
Screw (extrusion) Wood Briquette

Sedangkan apabila dibandingkan dengan kayu (round wood/log) yang biasanya mampu menyala (burning time) sekitar 30 menit maka dengan kepadatan (density) yang tinggi pada wood briquette membuatnya memiliki waktu nyala sekitar 6 – 7 kalinya. Faktor lain yang menyebabkan tingginya waktu nyala tersebut adalah kadar air yang rendah dibandingkan kayu. Dalam banyak hal proses produksi wood briquette memiliki banyak kesamaan dengan wood pellet atau dalam kelompok teknologi pemadatan biomasa (biomass densification). Walaupun sama-sama karbon netral karena sama-sama bahan bakar biomasa, tetapi pada proses pembakaran wood briquette menghasilkan emisi 60% lebih sedikit daripada menggunakan kayu bakar. Untuk daerah-daerah dingin yang banyak membakar kayu untuk perapian (penghangat ruangan), maka pilihan wood briquette adalah tepat.

Kamis, 01 Oktober 2015

Italia, Pengguna Wood Pellet Untuk Pemanas Ruangan Terbesar di Eropa

Berbeda dengan kawasan Asia pada umumnya yang menggunakan wood pellet untuk bahan bakar pembangkit listrik atau boiler pada sejumlah industri, kawasan Eropa dan Amerika menggunakan wood pellet sebagai pemanas ruangan dalam jumlah besar. Jumlah penggunaan wood pellet untuk pemanas ruangan (home heating) di kawasan tersebut tidak terlalu jauh berbeda dengan penggunaan wood pellet untuk pembangkit listrik dan boiler industri. Italia adalah negara di Eropa yang tercatat sebagai pengguna wood pellet terbesar untuk pemanas ruangan yakni 2,5 juta ton pada tahun 2013 dengan proyeksi kenaikan 15% setiap tahunnya atau menurut ekspektasi heating market growth dan pernyataan National Renewable Energy Action Plan, penggunaan wood pellets akan mencapai 3,5 juta ton pada 2015 dan 5 juta ton pada 2020.

Pertumbuhan penggunaan pellet tersebut akibat program insentif unik dari pemerintah Italia tentang energi terbarukan, yakni Conto Termico (Feed-in-tarrifs for heating and cooling), yang dilakukan oleh Kementrian Pengembangan Ekonomi pada akhir 2012.  Insentif Conto Termico tersebut didasarkan pada nominal power (kW), estimasi jam operasi (berdasar pada zone iklim), koefisien insentif, dan level emisinya. Insentif tersebut diberikan pada setiap 2 tahun untuk stove dan 5 tahun untuk boiler. Potongan pajak (tax deduction) juga diberikan dalam 10 tahun untuk 50% pengeluaran biaya pembelian dan pemasangan pellet stove. Keputusan tersebut menganggarkan 700 juta Euro untuk proyek-proyek yang diimplementasikan pihak-pihak swasta (individual, blok apartement dsb). Italia sebagai salah satu negara di Eropa maka upaya-upaya tersebut diatas adalah bagian dari EU Renewable Directive, yang menginstruksikan pemakaian energi terbarukan hingga 20% dalam bauran energi mereka pada tahun 2020.  



Saat ini sekitar 2 juta stove dan 200.000 boiler terpasang di rumah-rumah di Italia, dan pemasaran kedua produk tersebut cukup stabil dan kuat. Salah satu produsen pellet stove bahkan telah membuat suatu aplikasi yang memungkinkan untuk berkomunikasi dan berinteraksi jarak jauh dengan pellet stove tersebut menggunakan smart phone. Untuk menghidupkan dan mematikan, mengeset temperature, memprogram jam operasi, atau bahkan mendengarkan proses pembakaran dalam pellet stove tersebut. Aplikasi tersebut juga bisa memberitahu ketika stove kehabisan pellet, atau jika pembakaran yang terjadi tidak sempurna atau bahkan memanggil penyedia layanan purna-jualnya. Adanya kaca yang mampu melihat nyala api dan peningkatan efisiensi hingga 94% dengan konveksi alamiah adalah keunggulan lain dari pellet stove tersebut.



Besarnya permintaan pellets tersebut ternyata tidak bisa dipenuhi sepenuhnya oleh produksi dalam negeri, atau hanya satu bagian kecil saja yang masih bisa dicukupi dari produksi dalam negeri, sehingga Italia mengandalkan import pellet untuk memenuhi kebutuhannya tersebut.  Kondisi produksi wood pellet dari kawasan Eropa sendiri juga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan tersebut sehingga import dari dari benua lain juga meningkat. Produksi wood pellets Italian diperkirakan hanya 300.000 ton/tahun sedangkan kebutuhan mencapai lebih dari 3.000.000 ton untuk tahun ini.



Kualitas wood pellets untuk pemanas rumah tangga pada umumnya lebih tinggi daripada wood pellets industri. Kualitas premium ENplus A1 pellets adalah kualitas standar yang digunakan untuk pemanas ruangan. Premium A1 pellets adalah level kualitas tertinggi wood pellet khususnya untuk private end user. Selain itu hampir 60% dari supplier pellet tersebut juga telah mendapatkan sertifikat ENplus. Sejumlah distributor juga mengatakan bahwa sertifikat ENplus bagus untuk sejumlah perusahaan Italia tetapi tidak dibutuhkan oleh mayoritas. Hal ini karena sertifikat Enplus tersebut membutuhkan biaya tambahan ekstra yang dampaknya berpengaruh pada harga pasar wood pellet yang sensitif.        

Wood pellet didatangkan ke Italia dengan menggunakan 3 cara. Bulk shipment yang datang dengan kapal adalah biaya termurah tetapi dengan hampir semua distributor di Italia dengan kapasitas kecil, mereka tidak mampu menangani volume besar tersebut. Pilihan kedua adalah menerima pellet yang telah dikantongi (bagged) atau bulk containers, tetapi sebagian besar distributor lebih menyukai dengan dikantongi (kemasan plastik). Cara ketiga adalah dengan truk, yang bisa setiap hari datang dengan kemasan plastik 15 kg atau ukuran besar (jumbo bag). Italia juga bisa dikatakan konsumen wood pellet dalam kemasan terbesar di Eropa.

Selasa, 29 September 2015

Meyuplai Bahan Bakar Biomasa Dalam Jumlah Besar dan Berkesinambungan


Pemilihan species tanaman, ketersediaan lahan, pengelolaan yang berkesinambungan dan penyerapan produk kayu sebagai bahan bakar biomasa dengan maksimal adalah sejumah faktor yang mendorong terwujudnya dan suksesnya usaha suplai bahan bakar biomasa dalam jumah besar dan berkesinambungan.  Untuk terciptanya faktor pengelolaan lahan yang baik sejumah instrument dibuat sehingga praktek pengelolaan hutan tersebut bisa sesuai yang diharapkan. Instrument tersebut yang paling banyak digunakan adalah pemberian sertifikasi. Sertifikasi diberikan apabila pengelolaan lahan tersebut telah memenuhi syarat-syarat tertentu dan dievauasi secara berkala. Ketika pengelolaan lahan, hutan atau perkebunan telah mendapatkan sertifikasi tersebut, maka produk kayu sebagai bahan biomasa yang dihasilkan juga lebih mudah diterima oleh pengguna. Saat ini juga hampir semua pengguna bahan bakar biomasa dalam jumlah besar membutuhkan syarat pengakuan berupa sertifikasi tersebut.





Pembibitan Kaliandra Untuk Kebun Energi Seluas 1200 ha
Optimalisasi tanah atau lahan adalah hal penting sehingga manfaatnya benar-benar bisa dirasakan bagi kehidupan manusia. Tanah-tanah yang semula hanya dibiarkan dan tidak dimanfaatkan akan bermanfaat dengan adanya tumbuhan berupa tanaman penghasil kayu untuk energi tersebut. Manfaat tersebut bisa lebih ditingkatkan lagi dengan mengintegrasikan hutan atau kebun energi dengan peternakan sapi atau kambing atau bahkan lebah madu. Ketika siklusintegrasi tersebut bisa terjadi maka usaha menyuplai bahan bakar biomasa daam jumlah besar dan berkesinambungan tersebut akan mampu bertahan cukup lama. Berbagai manfaat dari semua aktifitas usaha tersebut dalam arti inti maupun sampingannya juga bisa dirasakan nyata.


Seiring meningkatnya kesadaran lingkungan banyak pembangkit listrik biomasa dibangun. Banyak juga yang sedan transisi menuju 100% menggunakan biomasa yang pada awalnya menggunakan batubara 100%, dengan teknologi diantaranya adalah co-firing biomasa dengan batubara. Pembangkit listrik adalah pasar utama untuk bahan bakar biomasa jumlah besar dan berkesinambungan. Secara perhitungan karbon juga bahan bakar biomasa adalah karbon netral sehingga tidak menambah konsentrasi gas CO2 atau gas rumah kaca di atmosfer.  Selain itu kebun atau hutan energi yang dibuat juga merupakan upaya untuk menyerap CO2 diatmosfer ke dalam tanaman. Apabila kecepatan pemanenan biomasa masih lebih rendah daripada pertumbuhan tanaman atau selalu masih ada kebun yang cukup luas dari sebagian yang dipanen maka penyerapan karbon oleh tanaman masih efektif.




Bahan bakar biomasa tersebut umumnya diolah terlebih dahulu sebelum digunakan. Produk bahan bakar biomasa tersebut bisa berupa batang  kayu (log), wood chip, wood pellet/briquette, dan  torrified pellet/briquette. Wood chip merupakan olahan kayu yang populer dan umum dalam penggunaan di pembangkit listrik biomasa. Wood pellet juga tidak kalah populer tetapi dari sisi teknologi dan produksi lebih mudah untuk menghasilkan wood chip. Wood chip juga biasa digunakan sebagai bahan baku pabrik kertas (pulp and paper). Sedangkan dari sisi transportasi maka wood pellet lebih efisien karena memiliki kepadatan (density) yang besar. Faktor-faktor itulah yang perlu diperhatikan produsen maupun pengguna bahan bakar biomasa sehingga baik kualitas dan kuantitas bisa dipenuhi dan menjadi kegiatan yang menguntungkan secara ekonomi serta bermanfaat bagi lingkungan.

Senin, 14 September 2015

EFB Pellet Potensi Besar di Indonesia dan Malaysia Belum Digarap

Wood pellet masih menempati grade tertinggi bahan bakar biomasa dibandingkan pellet bahan bakar dari biomasa selain kayu. Hal ini karena combustion properties-nya yang lebih baik dibandingkan bahan yang lainnya. Tetapi seiring besarnya kebutuhan energi biomasa yang besar maka perlu dicarikan sejumlah alternatif lainnya. Tandan kosong sawit atau tankos atau empty fruit bunch (EFB) adalah bahan baku potensial untuk dipellet. Saat ini Indonesia adalah negara penghasil minyak sawit terutama crude palm oil (CPO) terbesar di dunia dengan luas kebun sawit lebih dari 7 juta hektar serta ratusan pabrik untuk mengolah buah kelapa sawit tersebut. Pohon sawit membutuhkan suhu hangat, sinar matahari, dan curah hujan tinggi sehingga hanya sebagian daerah saja yang mengusahakannya di dunia yakni Asia, Afrika dan Amerika Selatan. Produksi minyak kelapa sawit didominasi oleh Indonesia dan Malaysia dengan jumlah antara 85-90% produksi minyak sawit dunia. Tandan kosong sendiri adalah limbah dari produksi CPO yang jumlahnya banyak dan saat ini umumnya belum dimanfaatkan dengan baik.






Faktor lain yang mendorong hal tersebut adalah ketika penyediaan bahan baku kayu dengan cara menanam semacam kebun energi dirasa lebih lama dan membutuhkan modal lebih besar, atau ketika ketersediaan bahan baku berupa biomasa berkayu berasal dari limbah-limbah pengolahan kayu sudah terbatas, maka tandan kosong sawit bisa menjadi kandidat kuat. Sedangkan faktor dari pabrik sawit sendiri bahwa banyak juga industri tersebut yang kewalahan untuk menangani limbah tankos itu sendiri. Hal-hal tersebut semakin mendorong pengolahan tankos untuk dipelletkan menjadi EFB pellet atau pellet tankos.



Sedangkan dari sisi combustion properties karena EFB pellet kualitasnya dibawah wood pellet, sehingga seharusnya juga digunakan teknologi yang lebih pas (cocok) sesuai karakter produk EFB Pellet. Teknologi pembakaran jenis fluidized bed menjadi pilihan terbaik karena mampu secara optimal meng-handle EFB pellet sekaligus mampu mereduksi kandungan sejumlah sifat-sifat negatifnya. Teknologi fluidized bed combustion tersebut juga sudah lama dikembangkan sehingga seharusnya untuk mencapai kondisi optimum pembakaran EFB pellet menjadi hal yang mudah dilakukan.       

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...