Tampilkan postingan dengan label pasar wood pellet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pasar wood pellet. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Maret 2025

Taiwan, Pasar Baru Wood Pellet Asia

Setelah Jepang dan Korea menjadi pasar utama wood pellets di Asia selama bertahun-tahun, selanjutnya Taiwan diprediksi akan muncul sebagai tujuan baru pasar wood pellet di Asia. Hal ini karena kebijakan energi Taiwan mentargetkan 20% penggunaan energi terbarukan pada tahun 2025. Yakni dengan berfokus pada transisi energi dari batubara dan bahan bakar fosil lainnya ke sumber energi terbarukan termasuk biomasa, matahari dan angin untuk meningkatkan energi terbarukan dari 10% ke 20% pada 2025. Undang-undang penurunan dan pengelolaan gas rumah kaca (Greenhouse Gas Reduction and Management Act) mensyaratkan penurunan emisi karbon tahunan sebesar 20% pada 2030 dan 50% pada 2050, dibawah 2005 atau penurunan 53 juta ton ekuivalen CO2 pada 2030 dan 133 juta ton pada 2050. Hal tersebut juga bagian dari visi Taiwan bebas nuklir dan mendukung tujuan nasional untuk mencapai net-zero carbon emission pada 2050. Pengembangan energi terbarukan adalah implementasi terpenting untuk mencapai tujuan tersebut dan wood pellet menjadi prioritas utama. Taiwan akan mengimport wood pellet dalam jumlah cukup besar untuk mencapai sasaran produksi baru energi hijaunya. 

Kebutuhan wood pellet di Taiwan mencapai jutaan ton atau lebih detail perkiraannya adalah 1.7 juta ton per tahun khusus untuk Taiwan Power Company, yang segera akan dilaksanakan ketika kebijakannya diterapkan. Dan ada juga sejumlah pembangkit listrik independent yang menggunakan boiler batubara untuk menghasilkan listrik khususnya industri plastik, kilang minyak bumi dan pembuatan kertas. Saat ini energi terbarukan terhitung kurang dari 10% dari total output energi di Taiwan. Sedangkan pemerintah bertujuan memiliki 778 megawatts (MW) pembangkit listrik berbasis biomasa pada 2025, memungkinkan produksi sebanyak 4.1 milyar kWh.

Negara-negara produsen-produsen besar wood pellets dunia mengarahkan pandangannya ke Taiwan seperti Amerika Serikat, Vietnam dan Kanada. Vietnam bahkan telah menjadi produsen wood pellet terbesar kedua di dunia, dengan menggeser Kanada.  Dan secara nasional, eksport produk-produk kayu Vietnam lebih dari 70% merupakan adalah furniture dan  interior application, 7% untuk panel berbahan dasar kayu, 17% wood chip dan 5% untuk wood pellets. Dan untuk menghasilkan produk-produk tersebut, Vietnam juga mengimport kayu dalam jumlah besar dari lebih 114 negara dan 700 spesies / subspesies, sebesar $3.1 milyar dalam bentuk kayu gelondongan, kayu gergajian dan kayu lapis serta mengimport hampir 2 juta meter kubik kayu keras tropis.   

Pada dasarnya negara-negara produsen besar wood pellet berlomba-lomba ingin meyakinkan Taiwan sebagai pengguna atau pembeli wood pellets tentang kemampuan suplai, termasuk kuantitas dan kualitas, kehandalan logistik dan keberlanjutan pasokannya. Walaupun pasar Jepang dan Korea terus bertumbuh tetapi penetrasi ke pasar baru akan menambah para produsen tersebut. Bahkan di Jepang pembangkit listrik baru juga banyak dibangun sehingga kebutuhan wood pellet juga semakin besar. Selain itu peningkatan rasio cofiring pada pembangkit-pembangkit listrik di Jepang juga akan meningkatakan permintaan wood pellet. 

Dan secara global menurut Hawkin Wright, penjualan wood pellet mencapai adalah tertinggi diantara bahan bakar biomasa lainnya, yakni lebih dari 27 juta ton/tahun pada 2025. Sedangkan FutureMetric bahwa pasar untuk wood pellet untuk industri (industrial pellet fuel) dapat mencapai 55 juta ton pada 2030. Dengan demikian kebutuhan wood pellets akan terus meningkat dengan rata-rata lebih dari 5,5 juta ton per tahunnya sehingga demikian juga untuk produksi wood pelletnya. Indonesia tetap memiliki potensi yang besar untuk menjadi produsen wood pellet dunia karena potensi bahan baku yang bisa diupayakan, baik dari limbah-limbah industri kayu dan kehutanan maupun dari kebun energi. Dengan lokasi yang tidak terlalu jauh dengan Taiwan (dibanding negara produsen wood pellet seperti Amerika Serikat dan Kanada) sehingga biaya logistik atau transportasi lebih murah, maka peluang untuk bersaing juga cukup besar. Selain itu PKS (palm kernel shell) atau cangkang sawit juga menjadi alternatif bahan bakar biomasa selain wood pellet dan sebagai produsen minyak sawit / CPO atau pemilik kebun sawit terbesar di dunia maka Indonesia nomer satu untuk itu. 

Sabtu, 23 September 2023

Produksi Wood Pellet Kapasitas Besar Berorientasi Export

Ketersediaan bahan baku dan penguasaan pasar adalah 2 hal mutlak yang utama yang harus dipenuhi sehingga usaha produksi wood pellet bisa berkelanjutan. Investasi untuk peralatan yang mahal tidak akan berguna apabila dua hal tersebut diatas tidak dipenuhi. Pada produksi wood pellet kapasitas besar kualitas peralatan produksi yang digunakan sangat penting. Tujuan produksi untuk mencapai kapasitas besar tersebut akan tercapai apabila dilakukan dengan proses produksi yang efisien dan aman sehingga biaya produksi rendah. Peralatan produksi yang mampu bekerja non-stop 24 jam, operasional dan perawatan mudah dengan performa yang baik adalah hal vital. Terkait bahan baku selain ketersediaan yang kontinyu, ada 2 hal penting yang perlu diperhatikan adalah konsistensi bahan baku dan logistik yang murah sampai lokasi pabrik wood pellet.  

Memetakan potensi bahan baku perlu dilakukan dengan baik, demikian juga pasar wood pellet tersebut. Bahan baku wood pellet dari satu jenis kayu (single material) tentu lebih mudah dibandingkan dengan bahan baku campuran (mixed material) dari beberapa jenis kayu. Hal tersebut terkait pada komposisi campurannya, yang tentu tidak menjadi masalah apabila bahan baku dari satu jenis kayu (single material) yang homogen. Untuk mengupayakan bahan baku yang homogen bisa dilakukan dengan pembuatan kebun energi, sedangkan pada bahan baku campuran bisa diambil dari beberapa sumber pengolahan kayu seperti penggergajian kayu dan sebagainya. Kebun energi bahan bisa multifungsi sehingga memberikan banyak manfaat. Hal tersebut bisa dilakukan dengan menjaga keseimbangan antara produktivitas kayu untuk produksi wood pelletnya, fungsi lingkungan berupa menjaga erosi dan air tanah, dan volume kayu yang dipanen tidak boleh melebihi kecepatan tumbuhnya atau minimal sama (carbon balance) serta pemanfaatan produk samping untuk tambahan revenue seperti pemanfaatan daun untuk pakan ternak dan madu dari peternakan lebah.  

Sedangkan dari aspek pasar, sejumlah persyaratan juga perlu dipenuhi sehingga terjadi transaksi yang berkelanjutan. Selain faktor teknis berupa spesifikasi wood pellet dan volume produksi, faktor non-teknis seperti sumber bahan baku terkait keberlanjutan lingkungan juga sering dipersyaratkan saat ini. Pengguna-pengguna wood pellet di luar negeri terutama pembangkit listrik dalam upaya dekarbonisasi melalui program cofiring dengan batubara. Upaya dekarbonisasi yang berkelanjutan biasanya membutuhkan sertifikat lingkungan seperti FSC terkait sumber bahan baku yang digunakan tersebut. Hal tersebut untuk membuktikan mata rantai bahan bakar terbarukan khususnya wood pellet memang sesuai standar keberlanjutan lingkungan yang bisa diterima bersama. Negara tertentu ada yang memberlakukan kontrak panjang untuk pembelian atau pengadaan wood pellet mereka tetapi juga ada yang memilih kontrak-kontrak jangka pendek. Tipikal pembeli atau pasar wood pellet ini juga perlu menjadi perhatian penting tersendiri.    

Rabu, 12 Juli 2023

Reklamasi Pasca Tambang dengan Revegetasi Kebun Energi untuk Produksi Wood Pellet

Revegetasi adalah salah satu opsi untuk reklamasi pasca tambang. Pilihan opsi revegetasi juga memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu selain aspek lingkungan, sosial dan tentu saja aspek ekonomi atau bisnisnya. Visi ke depan berupa keberlanjutan (sustainibility) adalah faktor penting untuk reklamasi pasca tambang khususnya revegetasi tersebut. 

Revegetasi dengan perkebunan sawit adalah salah satu opsi revegetasi yang cukup populer. Hal ini karena produk minyak sawit (CPO) dan turunannya laku keras di pasaran. Tetapi prasyarat lahan dan biaya operasional perkebunan sawit itu sendiri tidak mudah dan murah. Pilihan revegetasi dengan tanaman lain seharusnya menjadi pertimbangan juga.

Pembuatan kebun energi dari tanaman rotasi cepat dan trubusan (short rotation coppice) bisa menjadi pertimbangan. Hal ini karena prasyarat lahan dan operasional jauh lebih mudah dan murah. Bahkan dalam jangka panjang penggunaan lahan tersebut juga akan memperbaiki kualitas lahannya.  Produk dari kebun energi juga akan menjadi trend dunia dan solusi iklim global saat ini yakni wood pellet. Sedangkan produk samping berupa pakan ternak (pellet pakan atau hay) dan madu dari peternakan lebah menjadi produk samping yang tidak kalah menarik.

Luasnya lahan pasca tambang yang mencapai jutaan hektar, tentu menjadi potensi sangat menarik untuk pengembangan kebun energi tersebut. Kebutuhan bioenergi khususnya wood pellet juga semakin besar seiring program dekarbonisasi global. Demikian juga kebutuhan pakan ternak yang menjadi mata rantai kebutuhan pangan manusia khususnya daging atau protein. Upaya meningkatkan nilai guna lahan, pencegahan bencana alam, penyerapan lapangan kerja dan keuntungan ekonomi adalah daya dorong untuk revegetasi reklamasi dengan kebun energi tersebut. 

Sabtu, 03 Maret 2018

Export Wood Pellet : Ke Jepang atau Korea?

Aspek pasar adalah faktor penting bagi suatu produksi, tidak terkecuali wood pellet. Pengenalan terhadap karakteristik pasar yang baik, juga akan menentukan suksesnya pemasaran produk tersebut. Korea dan Jepang adalah dua pasar wood pellet terbesar saat ini, sehingga sejumlah produsen yang berorientasi eksport berusaha mengisi pasar tersebut. Pasar wood pellet untuk Eropa umumnya belum menjadi prioritas, hal ini karena diperlukan kapasitas besar untuk pengiriman ke sana misalnya 40.000 - 60.000 ton/shipment, yang ini belum bisa dipenuhi produsen wood pellet di Indonesia karena kapasitas produksinya masih kecil. Pengiriman wood pellet ke Korea dan Jepang dari Indonesia, hampir semua juga masih menggunakan kontainer, karena volumenya belum besar.

Apa perbedaan pasar wood pellet antara Jepang dan Korea? Lalu, mengapa produsen wood pellet Indonesia perlu mempertimbangkan hal tersebut? Penggunaan wood pellet untuk pembangkit listrik baik Jepang dan Korea adalah policy driven, yakni Renewable Portofolio Standard (RPS) di Korea dan Feed in Tariff (FIT) di Jepang. Tetapi juga bagaimana mekanisme menyuplai wood pellet di kedua negara tersebut berbeda. Pembeli-pembeli Jepang lebih memilih kontrak jangka panjang dengan harga yang pasti, produsen wood pellet juga masuk sustainability criteria (misalnya dibuktikan dengan FSC), forest management practice yang baik dan kondisi makro ekonomi yang stabil. Sedangkan pembeli-pembeli Korea lebih memilih harga wood pellet yang murah di "open market" dengan kontrak jangka pendek. 
Menghadapi kondisi pasar diatas tentu juga berbeda menyikapinya. Pasar Korea dirasa lebih mudah dan senantiasa harga mengikuti pasar, tetapi dengan kondisi ini produsen wood pellet berlomba-lomba meningkatkan efisiensinya sehingga harga jual pelletnya bisa murah dan diterima oleh pasar Korea. Hal ini terbukti dari produsen-produsen wood pellet di Vietnam, yakni dengan strategi harga murah terbukti menjadi supplier utama wood pellet di Korea. Tetapi seiring keterbatasan bahan baku dan naiknya harga minyak bumi, maka harga akan terkoreksi dengan kondisi tersebut. Sedangkan untuk pasar Jepang menuntut kajian mendalam dan persiapan yang sangat matang, sehingga hanya produsen-produsen besar yang bisa melakukannya. Harga tetap, kontrak panjang dan volume besar juga beresiko menimbulkan kerugian bagi produsen, jika terjadi inflasi di negara produsen karena kebijakan feed in tariff (FIT) diset untuk jangka waktu 20 tahun.Hal ini juga perlu diantisipasi oleh produsen wood pellet jika ingin masuk ke pasar Jepang.  

Bahan bakar biomasa mendapat porsi 4,3% di Jepang pada proyeksi energi 2030 mereka. Ini berarti biomasa terhitung sebesar 4,3% dari 245 juta MW pertahun dengan energi terbarukan atau sekitar 6.000 MW dari biomasa. Untuk mencapai kapasitas tersebut dibutuhkan kurang lebih 22,2 juta ton wood pellet per tahun. Saat ini sebagian besar wood pellet yang diimport Jepang berasal dari Kanada. Dari 374.000 ton wood pellet yang diimport Jepang pada tahun 2016, sekitar 75% berasal dari Kanada. Sedangkan tahun 2017, wood pellet yang diimport dari Kanada turun menjadi sekitar 65%, selanjutnya Vietnam mengisi cukup banyak pada tahun tersebut, selanjutnya diikuti China. Kanada mencoba terus mempertahankan market share-nya di Jepang karena merasa mampu untuk memenuhi syarat-syaratnya. Kontrak panjang selama 20 tahun dalam mekanisme FIT juga dianggap lebih menarik dibandingkan kontrak menengah supply Kanada ke Eropa, seperti dengan Drax di Inggris selama 11 tahun, misalnya pada tahun 2020 mereka mulai kontrak maka pada tahun 2040 kontrak baru berakhir atau Jepang menjadi offtaker produk wood pellet selama 20 tahun. Selain itu faktor bisnis kayu dan olahannya dari Kanada yang sudah berjalan lama sebelumnya juga digunakan untuk memperkuat market share wood pellet di Jepang. Dilain pihak export wood pellet Indonesia ke Jepang juga masih sangat kecil. 
Sebagian besar wood pellet Indonesia di export ke Korea, yang diperkirakan menurut Global Trade Atlas Data sejumlah 63.000 ton pada 2014 dan naik turun sedikit menjadi 61.500 ton pada 2015. Sejak menerapkan RPS  (Renewable Portofolio Standard)  tahun 2012 Korea berkomitmen untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan khususnya biomasa dan lebih khusus lagi wood pellet pada sektor energinya. Berdasar RPS tersebut Korea mensyaratkan PLTU batubara untuk minimum menggunakan 2% energi terbarukan pada 2012, dengan peningkatan 0,5% /tahun sampai 2020.  Pada tahun 2020 mereka akan membutuhkan minimum 10% energi terbarukan dengan komposisi diharapkan 60% energi terbarukan berasal dari biomasa kayu, sedangkan 40% sisanya dari sumber lain dan diestimasi wood pellet akan lebih dari 10 juta ton.Mengapa sebagian besar wood pellet produksi Indonesia diexport ke Korea? Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut, yakni persyaratan export wood pellet ke Korea tidak seketat (strict) Jepang, sebagian besar produsen wood pellet Indonesia memiliki kapasitas kecil dengan bahan baku terbatas sehingga lebih cocok untuk kontrak jangka pendek dan harga yang ditawarkan produsen wood pellet Indonesia bisa bersaing dengan produsen lainnya seperti Vietnam, Thailand dan Malaysia. Wood pellet pada dasarnya suatu produk baru untuk sektor energi, sehingga masalah harga dinamis di "open market" atau pasaran internasional, selain faktor supply-demand juga harga energi pada umumnya sangat berpengaruh khususnya minyak bumi. 
Photo diambil dari sini
Indonesia walaupun saat ini masih belum mempunyai market share yang besar atau belum di perhitungkan pada sektor tersebut tetapi potensinya sangat besar. Faktor iklim tropis, tanah luas dan subur adalah modal dasar yang luar biasa untuk menjadi produsen biomasa. Selain itu dengan lokasi yang lebih dekat dengan pasar atau negara pengguna dibanding Kanada, maka itu juga suatu keunggulan tersendiri. Apabila tingkat suku bunga deposito Indonesia dihilangkan atau minimal dikurangi, maka tingkat gairah berbisnis juga menjadi daya dorong luar biasa. Jangan sampai penerapan bunga deposito tinggi tersebut menjadi bumerang, yang menjadi malapetaka salah satunya telat dalam berinovasi pada era bioeconomy padahal sumber daya berlimpah. Beberapa produsen wood pellet Indonesia seperti South Pacific di Jepara dan Singpellet di Sumatera Barat juga memiliki konsep kebun energi untuk produksi wood pellet dengan tanaman rotasi cepat (Short Rotation Coppice /SRC). Produksi wood pellet dari kebun energi adalah skenario terbaik untuk memasuki/penetrasi pasar wood pellet Jepang dan Korea. Untuk merancang produksi wood pellet kapasitas besar dari kebun energi bisa dibaca disini. Model bioeconomy muslim dengan integrasi produksi wood pellet dari kebun energi, peternakan domba yang merupakan harta terbaik muslim dan peternakan lebah madu, akan unggul dan menjadi pemain utama di era bioeconomy. InsyaAllah. China diprediksi juga akan menjadi pasar wood pellet besar, ulasan tentang akan kami tulis lain waktu. InsyaAllah

Senin, 05 Februari 2018

Kondisi Pasar Bahan Bakar Biomasa

Indonesia memiliki potensi produksi biomasa yang sangat besar karena posisinya beriklim tropis,dan tanah yang luas. Bahan bakar biomasa dari Indonesia yang saat ini sudah menjadi komoditas export yakni wood pellet dan cangkang sawit (pks = palm kernel shell). Produksi wood pellet masih tergolong rendah yakni dikisaran 80 ribu ton/tahun, sedangkan cangkang sawit cukup tinggi yakni sekitar 10 juta ton/tahun. Kedua jenis bahan bakar biomasa tersebut sebagian besar untuk export sedangkan di dalam negeri belum banyak digunakan. Mengapa pasar di dalam negeri sendiri belum banyak menggunakan kedua jenis bahan bakar biomasa tersebut? Hal ini karena masyarakat masih menggantungkan energi terutama masih dari bahan bakar fosil, yakni gas LPG untuk memasak rumah tangga dan batubara pada sektor industri.Kebijakan pemerintah untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan dan alternatif perlu lebih digalakkan sehingga energi biomasa semakin besar penggunaannya.
PKS Loading
Sementara untuk pasar export kebutuhan bahan bakar biomasa kebutuhannya semakin besar dan diproyeksi mulai tahun 2020 akan meningkat tajam. Untuk cangkang sawit (pks) pembelinya adalah Korea dan Jepang. Saat ini penjual cangkang sawit banyak jumlahnya, sedangkan jumlah pembelinya masih terbatas. Hal ini memunculkan kondisi bisnis yang kurang sehat karena harga komoditas tersebut akan lebih banyak ditentukan oleh pembeli (oligopsoni). Praktek tersebut seharusnya bisa dihindari dan diatasi apabila jumlah pembeli dan penjual relatif seimbang. Bagaimana supaya jumlah pembeli bahan bakar biomasa dari Indonesia semakin banyak?Untuk pasar export selain dua negara yakni Korea dan Jepang yang telah banyak mengimport terutama cangkang sawit dari Indonesia untuk pembangkit listrik, maka promosi untuk mencari pasar yang lain, seperti China, dan Eropa juga mungkin dilakukan. Saat ini juga telah muncul pembeli-pembeli cangkang sawit dari Taiwan dan Thailand walaupun kebutuhannya masih relatif kecil yang penggunaannya untuk pemanas pada boiler sejumlah industri.

Kondisi pasar cangkang sawit (pks) berbeda dengan wood pellet. Letak perbedaannya adalah produsen wood pellet menyebar hampir di seluruh wilayah dunia, karena bahan baku biomasa kayu berada hampir di seluruh permukaan bumi. Sedangkan penjualan cangkang sawit dalam jumlah besar hanya dilakukan di Indonesia dan Malaysia yang memang menjadi produsen CPO terbesar di dunia sekaligus pemilik perkebunan sawit terluas di dunia. Selain itu sejumlah negara besar mempromosikan wood pelletnya secara besar-besaran sehingga akibatnya wood pellet menjadi sangat populer, sehingga permintaannya semakin meningkat tajam berikut sejumlah negara mulai terjun untuk produksi wood pellet. Wood pellet lebih terkenal dan mendunia daripada cangkang sawit walaupun properties atau karakteristik keduanya sebagai bahan bakar biomasa hampir sama. Kondisi ini seharusnya lebih mendorong pemerintah Indonesia untuk mempromosikan cangkang sawit tersebut. Pada kondisi pasar global dengan jumlah produsen dan pengguna wood pellet yang juga cukup seimbang banyaknya, kondisi pasar lebih baik, walaupun sejumlah negara menjadi produsen utama dan menguasai sebagian besar pasar. Sedangkan pasar wood pellet dalam negeri masih kecil sehingga masih perlu didorong penggunaannya demikian juga produksinya. Seiring keresahan masyarakat akibat kelangkaan gas LPG, maka motivasi untuk menggunakan wood pellet juga semakin besar.  
Sambil juga menunggu tahun 2020, pasar atau pengguna di dalam negeri juga perlu dibuat sehingga akan menambah jumlah pembeli dan keterserapan bahan bakar biomasa tersebut. Penggunaan bahan bakar biomasa terbukti memberi manfaat secara ekonomi dan lingkungan apabila pengelolaannya baik dan berkelanjutan (sustainable). Ketika pasar bahan bakar biomasa besar, maka produksi juga seharusnya ditambah. Kalau cangkang sawit (pks) adalah limbah pabrik sawit yang jumlahnya tergantung produksi CPO, sebaliknya wood pellet bisa diuasahakan tersendiri terutama dengan bahan baku dari kebun energi sehingga kapasitasnya bisa sangat besar. Saat ini produksi CPO Indonesia sekitar 35 juta ton dengan luas kebun sawit 12 juta hektar. Kebun energi tersebut bisa dioptimalkan dengan peternakan domba dan peternakan lebah madu (baca 5F project for the world!), demikian juga untuk perkebunan sawitnya (baca Transmigrasi Untuk Menggembala Domba Di Kebun Sawit, Mungkinkah ?). Tandan kosong sawit dan juga batang sawit tua yang sudah tidak produktif juga bisa dibuat pellet. Dan khususnya untuk pellet batang sawit (OPT pellet) saat ini kami ada permintaan untuk volume 1.000 ton/bulan, bagi yang berminat menjadi produsennya, silahkan membaca lebih lanjut disini.       

Jumat, 12 Januari 2018

Permintaan Wood Pellet Merangkak Naik?

Terpuruknya pasar wood pellet beberapa waktu lalu juga sangat dipengaruhi harga minyak bumi. Rendahnya harga minyak bumi yang menyentuh harga $30/barrel pada awal 2016 silam juga menurunkan harga jual serta permintaan wood pellet. Kondisi ini bahkan sampai menggeser posisi wood pellet sebagai bahan bakar termurah untuk sektor pemanas. Pada saat tersebut harga energi per kalori dari minyak yang merupakan bahan bakar cair yang kualitasnya lebih baik dan banyak diminati murah, sehingga bahan bakar padat yang kualitasnya lebih rendah dan kurang diminati juga menjadi semakin murah. Bahkan ada banyak industri beralih menggunakan bahan bakar minyak dari sebelumnya menggunakan bahan bakar padat seperti batubara. Wood pellet sebagai salah satu bahan bakar padat (walaupun dari sumber terbarukan) juga terimbas oleh harga minyak dunia tersebut, karena basis perhitungan harga perkalori atau panas bahan bakar tersebut.

Setelah hampir 3 tahun harga minyak turun secara bertahap, saat ini harga minyak telah naik secara drastis di harga $70/barrel. Sejumlah analisis menyatakan jika harga minyak mentah lebih dari $63/barrel maka permintaan wood pellet akan kembali meningkat dengan harga yang juga lebih menarik. Harga minyak menjadi satu dari tiga penyebab turunnya pasar wood pellet di pasar dunia pada 3-4 tahun terakhir. Dua penyebab lainnya adalah pertama, karena sejumlah kebijakan untuk pemakaian wood pellet belum efektif dilaksanakan karena pembangkit-pembangkit listriknya belum selesai dibuat atau dalam tahap pembangunan, dan sejumlah pembangkit listrik juga masih dalam tahap ujicoba co-firing dengan wood pellet, Dan yang kedua, akibat perubahan iklim maka musim-musim dingin di Eropa tidak dalam beberapa tahun terakhir lebih hangat atau tidak sedingin waktu-waktu sebelumnya. Logikanya ketika kondisi diatas bisa berubah menjadi sebaliknya tentu pasar wood pellet akan membaik. Dan yang kita saksikan hari ini adalah terjadinya kenaikan harga minyak bumi yang signifikan, karena telah melebihi $63/barrel.
Ketika industri wood pellet mulai menggeliat dan bergairah, seharusnya juga memacu produksi wood pellet di Indonesia. Pasar export atau pasar wood pellet dunia yang lebih siap dan harga yang menarik perlu segera diisi, hingga kalau perlu didominasi. Lahan-lahan kosong yang tidak dimanfaatkan bahkan yang tandus sekalipun bisa dihijaukan dengan kebun energi. Tahapan merancang kebun energi untuk produksi wood pellet bisa dibaca disini. Selanjutnya pasar dalam negeri juga segera dibuat dan dikembangkan, karena dalam jangka tidak terlalu lama lagi minyak bumi kita juga akan habis, dengan kondisi saat ini telah menjadi nett importir minyak bumi tersebut. Bagaimana kalau kita hanya diam saja seperti penonton? Tentu akan memperburuk kondisi energi kita. Seharusnya kita ikut berpartisipasi mendorong kedaulatan energi negeri kita khususnya dengan energi terbarukan seperti wood pellet karena memberi banyak manfaat. 

Jumat, 20 Oktober 2017

Kontainer Masih Menjadi Pilihan Utama Export Wood Pellet Indonesia?

Kepuasan pembeli karena mendapatkan barang sesuai pesanannya, tidak rusak dan cacat, adalah faktor penting keberlangsungan suatu bisnis sehingga pembeli terus kembali dan membeli lagi (repeat order), yakni dengan membuat atau memperpanjang kontrak yang ada, bahkan dengan menambah kapasitas pembeliannya. Hal tersebut juga berlaku pada bisnis wood pellet. Upaya mendapatkan barang yang sesuai pesanan bagi pembeli salah satunya dengan menjaga barang tersebut sepanjang perjalanan dari berbagai kerusakan adalah hal penting salah satunya dengan memilih kemasan atau sarana atau jenis pengiriman wood pellet yang sesuai. Hampir semua export wood pellet Indonesia saat ini menggunakan kontainer atau peti kemas dengan wood pelletnya berada dalam jumbo bag lalu ditata atau disusun didalam kontainer tersebut. Beberapa menggunakan kemasan karung lalu menempatkannya dalam kontainer juga. Ada juga  dengan cara curah atau tidak dikemas dalam jumbo bag atau karung tetapi masih dalam kontainer. Penggunaan kontainer dipilih karena, pertama volume export wood pellet belum besar, kedua belum tersedia sarana penunjang yang memadai untuk export wood pellet jumlah besar secara curah. 
Wood pellet adalah produk yang sangat sensitif dengan air, sehingga proteksi atau menjaganya supaya terhindar dari air harus dilakukan untuk menjaga kualitas wood pellet tersebut. Dengan menempatkan wood pellet tersebut dalam kontainer maka proteksi dari air seperti air hujan bisa dilakukan, sehingga saat ini masih dijadikan pilihan utama. Lalu bagaimana untuk export wood pellet dalam jumlah besar apalagi rutin dilakukan setiap bulan? Perlu upaya extra saat ini apabila hendak menggunakan pengapalan curah ( bulk shipment), terutama untuk proteksi dari air tersebut. Apalagi pada musim penghujan. Curah hujan di Indonesia cukup tinggi dibandingkan negara-negara lain pada umumnya, yakni rata-rata 2700 mm/tahun atau tiga kali lebih tinggi dari rata-rata dunia yang hanya 900 mm/tahun. Curah hujan Indonesia lebih Indonesia lebih tinggi pula dibanding India (1.080 mm), Amerika (715 mm), China (645 mm), Brasil (1.750 mm), Argentina (591 mm) dan bahkan Thailand (1.625 mm). Hanya dua negara tetangga kita yang mampu melampaui curah hujan Indonesia yakni Malaysia (2.875 mm) dan Papua Nugini (3.140). Sedangkan negara-negara di kawasan Timur Tengah pada umumnya hanya memiliki curah hujan yang kecil seperti Yordania (111 mm), Qatar (74 mm), Arab Saudi (59 mm) dan Mesir yang hanya mendapatkan curah hujan 51 mm pertahun. Sehingga apabila pengapalan wood pellet curah akan dilakukan maka pada musim kemarau akan lebih mudah karena proteksi air lebih mudah dilakukan. Sebagai perbandingan kita akan melihat pengapalan cangkang sawit atau palm kernel shell (pks) yang juga bahan bakar biomasa telah banyak di export ke luar negeri terutama dengan pengapalan curah (bulk shipment).

Cangkang sawit tidak sesensitif wood pellet atau pellet fuel terhadap air, sehingga handlingnya juga tidak sesulit wood pellet. Ada tiga hal utama yang menjadi parameter utama cangkang sawit yakni kadar air, nilai kalor dan kadar pengotor (impurities). Terkait kadar air ini karena cangkang sawit tidak rusak karena air tetapi hanya menjaganya supaya tidak terlalu basah, sedangkan wood pellet yang merupakan produk industri dari pemadatan biomasa kayu-kayuan (biomass densification) akan rusak bahkan hancur akibat keberadaan air dalam jumlah tertentu. Mechanical interlocking yang terjadi sewaktu pemadatan tersebut akan terurai dan lepas karena keberadaan air yang banyak tersebut sehingga wood pelletnya hancur. Pada pengiriman cangkang sawit dari lokasi stockpile hingga pelabuhan export penggunaan kapal, penggunaan truck atau tongkang biasa dilakukan dan kadang-kadang hanya ditutup (sealed) dengan plastik yang tidak terlalu rapat. Pada wood pellet penutupan dengan plastik sewaktu menuju kapal pengangkut juga bisa dilakukan tetapi apabila tidak rapat akan rawan terhadap air terutama pada musim penghujan, ditambah lagi apabila pemuatan (loading) ke kapal dilakukan di tengah laut (transhipment) karena kapal tidak bisa bersandar di pelabuhan seperti biasa dilakukan di Kalimantan. 
Perbedaan tingkat toleransi terhadap keberadaan air antara cangkang sawit dan wood pellet tersebut, berimplikasi pada handling bahkan peralatan yang digunakan. Faktor cuaca (seperti badai) dan padatnya lalu lintas pelabuhan muat menambah kesulitan pemuatan (loading) wood pellet ke kapal tersebut. Hal tersebut membuat pengapalan wood pellet dalam jumlah besar dengan pengapalan curah (bulk shipment) masih sulit dilakukan, sehingga pengapalan dengan kontainer masih menjadi pilihan utama. 

Terminal wood pellet di Kanada, dengan silo-silo penampung wood pellet sementara sebelum pengapalan
Loading wood pellet dari silo ke kapal pengangkut
Terminal semen di pelabuhan 
Loading semen dari silo ke kapal pengangkut
Sebuah referensi lain yang bisa kita jadikan acuan adalah pengapalan curah semen. Semen adalah produk yang juga sangat sensitif dengan air, dengan adanya air maka semen akan menggumpal sehingga menjadi tidak bisa digunakan, sehingga proteksi terhadap air mutlak diperlukan. Jalur distribusi semen hingga pengapalan curahnya semua terlindungi dari masuknya air. Di jalan-jalan raya mudah kita jumpai truck-truck besar pengangkut semen curah melintas, lalu di sejumlah pelabuhan juga dibangun terminal-terminal semen berupa silo atau bin seperti menara-menara tinggi.  Ketika produksi wood pellet sudah massif maka infrastruktur atau peralatan pendukungnya juga hampir sama seperti semen dan hal tersebut saat ini juga sudah bisa kita saksikan di negara-negara produsen wood pellet seperti Amerika dan Kanada. Pada sisi pelabuhan penerima atau pelabuhan tujuan pengapalan tersebut peralatan yang memadai juga dibutuhkan untuk menangani bongkar muat (unloading) wood pellet tersebut. Untuk perbandingan, pada produk pellet pakan (feed pellet) dalam jumlah besar juga akan membutuhkan hal yang hampir sama untuk export pengapalan curahnya (bulk shipment). Lantas apakah bisa bahan bakar biomasa seperti wood pellet menjadi tahan air (hidropobik) seperti batubara? Jawabnya bisa yakni dengan teknologi torrefaction  sehingga produknys menjadi torrefied wood pellet. Torrefaction akan kita bahas lebih detail lain tulisan mendatang. InsyaAllah.   

Senin, 14 Agustus 2017

Selalu Ada Pasar Untuk Setiap Jenis Pellet Fuel

Aspek pemasaran selalu menjadi momok bagi calon produsen. Ketika aktivitas produksi telah dilakukan termasuk biaya yang besar telah dikeluarkan untuk membeli peralatan atau mesin produksi, tanah untuk pabrik, bangunan pabrik dan sebagainya, sebagai contoh misalnya dengan produksi wood pellet kapasitas besar dari kebun energi, tetapi belum menguasai aspek pasar tersebut, tentu akan menjadi masalah besar. Mengkaji, menganalisis dan mendalami aspek pasar dengan karakteristiknya sebelum aktivitas produksi adalah hal yang sangat penting, terlebih lagi untuk produksi kapasitas besar yang juga membutuhkan biaya besar tersebut. Hal tersebut juga berlaku untuk pellet fuel dari biomasa sebagai bahan bakar padat yang mendapat banyak perhatian saat ini dan juga mulai banyak dikembangkan oleh sejumlah pihak. Dan tentu saja ketakutan calon produsen tersebut bisa dihindari apabila mereka telah menguasai seluk-beluk bisnis yang akan ditekuninya tersebut.

Biomass pellet atau pellet fuel dan lebih khususnya pada wood pellet bisa dibuat dari berbagai macam bahan baku biomasa, baik biomasa kayu-kayuan, limbah-limbah pertanian maupun rumput-rumputan. Secara lebih spesifik wood pellet adalah pellet fuel yang dibuat khusus dari biomasa kayu-kayuan (woody biomass) tersebut. Sedangkan biomass pellet adalah pellet fuel yang dibuat dari segala macam biomasa termasuk kayu-kayuan, limbah pertanian maupun rerumputan tersebut. Pellet fuel yang khusus dibuat dari limbah pertanian disebut agro-waste pellet. Kelompok wood pellet memiliki karakteristik memiliki nilai kalor tinggi dan kadar abu rendah sedangkan agro-waste pellet memiliki karakteristik nilai kalor lebih rendah dan kadar abu lebih tinggi. Wood pellet juga bisa dibuat dari jenis kayu keras dan kayu lunak yang masing-masing-masing ada sedikit perbedaan pada sifat-sifatnya (properties). Begitu juga kelompok pellet fuel dari limbah-limbah pertanian yang bahan bakunya juga bisa beragam seperti sekam padi, kulit kopi, kulit kacang, tandan kosong sawit (EFB) dan sebagainya. Sifat-sifat pellet fuel dari berbagai macam limbah pertanian tersebut juga berbeda-beda walaupun perbedaannya juga tidak tajam.

Kadar abu dan kimia abu adalah dua variabel penting terkait penggunaan atau pemanfaatan pellet fuel tersebut. Secara umum semakin tinggi kadar abu maka semakin kecil nilai kalor dari pellet fuel tersebut. Sedangkan kimia abu dari berbagai kelompok pellet fuel secara umum juga bisa dibedakan sebagai berikut :
1. Kandungan abu silica (Si) dan potassium / kalium (K) yang rendah dengan kalsium (Ca) yang tinggi, dengan high fusion temperature berasal dari kelompok hampir semua biomasa kayu (woody biomass). Dan inilah spesifikasi terbaik untuk pembakaran (combustion) dan gasifikasi.
2. Kandungan abu silica (Si) dan potassium/kalium (K) yang tinggi dengan kalsium (Ca) yang rendah berasal dari kelompok limbah-limbah biomasa pertanian.

Lebih jauh lagi karena unsur-unsur kimia penyusun biomasa dalam pellet fuel jumlahnya banyak maka hal tersebut menentukan sifat-sifat pellet fuel tersebut secara spesifik. Sebagai contoh : wood pellet dari kayu keras seperti meranti, merbau, ulin, halaban dan sebagainya berbeda sejumlah kandungan unsur kimianya dengan wood pellet dari kayu lunak seperti sengon/albasia. Begitu pula dengan agro-waste pellet seperti pellet sekam padi (ricehusk pellet) dengan pellet tandan kosong sawit (EFB Pellet). Bahkan sama-sama kelompok kayu keras maupun kayu lunak pun perbedaan-perbedaan jumlah kandungan unsur kimia abu antar berbagai species kayu-kayu tersebut juga terjadi dan hal tersebut berpengaruh terhadap tingkat toleransi teknologi yang digunakan. Secara ilmiah (scientific) analisa ultimate di laboratorium bisa digunakan untuk mengetahui kandungan abu dan unsur-unsur kimianya secara terperinci/detail. Hal ini penting diketahui untuk penggunaan atau pemanfaatan pellet fuel tersebut secara spesifik.

Pada dasarnya pemanfaatan pellet tersebut adalah sebagai bahan bakar atau sumber energi. Teknologi pembakaran, gasifikasi dan pirolisis adalah route thermal yang bisa menggunakan pellet sebagai bahan bakar. Teknologi pembakaran paling banyak digunakan, selanjutnya gasifikasi dan terakhir pirolisis. Teknologi pembakaran (combustion) dengan suhu sedang hingga suhu tinggi bisa dilakukan. Sektor industri pada umumnya menggunakan suhu sedang dan pembangkit listrik menggunakan suhu tinggi. Pembakaran di sektor industri menggunakan alat-alat pembakar (combustor), yakni grate stoker (chain grate) dan stoker (static grate). Sedangkan pada pembangkit listrik menggunakan pulverized system, tambahan penjelasan juga bisa dibaca di sini.


Untuk bisa menggunakan pellet fuel dari berbagai bahan baku karena tidak bermasalah dengan sejumlah kimia abu pellet tersebut maka teknologi gasifikasi banyak digunakan. Dengan gasifikasi suhu operasionalnya juga relatif rendah (800 C) dibandingkan pulverized pada pembakaran, sehingga sejumlah unsur kimia abu juga tidak menimbulkan masalah. Penggunaan teknologi gasifikasi juga sudah mulai banyak pada pembangkit listrik. Teknologi gasifikasi dengan memaksimalkan produk gas memiliki tingkat efisiensi lebih tinggi dari pembakaran, tetapi harga atau investasi untuk kapasitas besar mahal sehingga pada pembangkit listrik kapasitas besar pada umumnya masih menggunakan teknologi pembakaran (pulverized) tersebut di atas. Dengan teknologi gasifikasi ini maka tidak hanya jenis wood pellet saja yang bisa digunakan tetapi agro-waste pellet juga bisa digunakansebagai bahan bakar.


Bagaimana dengan pirolisis? Berbeda dengan pembakaran dan gasifikasi yang menghasilkan abu sebagai residue, sedangkan di pirolisis tidak dihasilkan abu karena kondisi operasi rendah dibandingkan pembakaran dan gasifikasi yakni 400-600 C. Wood pellet atau biomass pellet jarang digunakan untuk bahan bakar atau bahan baku pada pirolisis. Pirolisis yang banyak digunakan saat ini adalah slow pyrolysis atau karbonisasi untuk produksi arang, sedangkan fast pyrolysis untuk produksi bahan bakar cair (bio-oil) juga masih jarang digunakan. Pada produksi arang dengan (slow) pyrolysis atau karbonisasi tersebut biasanya menggunakan kayu-kayuan atau pun briquette (sawdust briquette/wood briquette) sebagai bahan bakunya untuk menghasilkan produk arang kayu (lump charcoal) dan sawdust charcoal briquette, untuk mempertajam informasinya bisa dibaca di sini.

Torefaksi (torrefaction) atau mild pyrolysis bisa menghasilkan produk setengah arang (half carbonization) yang selanjutkan bisa dipadatkan menjadi torrified pellet fuel. Bahan baku proses torefaksi (torrefaction) tersebut yakni wood chip lalu setelah melalui proses torefaksi selanjutnya dihancurkan (crushing) dengan hammer mill yang sehingga berukuran menjadi serbuk yang selanjutnya dipadatkan menjadi torrified pellet fuel. Dengan proses torrefaction tersebut kandungan energi dari biomasa menjadi lebih tinggi sekitar 20% sehingga setelah dipadatkan kandungan energi torrified pellet fuel juga otomatis lebih tinggi dari wood pellet. Torrefaction dengan produk akhir torrified pellet fuel tersebut diprediksi akan menjadi tren bahan bakar padat biomasa masa depan. Pabrik wood pellet atau biomass pellet bisa meng-upgrade produknya menjadi torrefied pellet fuel dengan menambahkan torrefier atau alat torrefaction dalam produksinya. Tidak banyak modifikasi pabrik jika akan menambah torrifier atau alat torrefaction tersebut untuk menjadi produk akhir torrified pellet fuel nantinya. Jadi disini penggunaan teknologi torrefaction (mild-pyrolysis) untuk proses produksi bahan bakar biomasanya yakni torrified fuel, sedangkan teknologi gasifikasi dan pembakaran digunakan untuk mengekstrak energi dari bahan bakar biomasa berupa pellet fuel menjadi panas maupun listrik.


Dengan mengkaji secara mendetail karakteristik pellet fuel dan teknologi pemanfaatannya maka tidak ada pellet fuel yang tidak berguna atau tidak ada pasarnya. Kebutuhan energi juga terus meningkat seiring pertambahan penduduk. Karakteristik atau sifat-sifat khusus pellet fuel juga akan menentukan harga jual pellet tersebut. Wood pellet pada umumnya memiliki harga lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok agro-waste pellet. Dalam banyak hal wood pellet memiliki banyak keunggulan dibandingkan batubara terutama di sektor industri, tentu juga masalah keekonomiannya. Hal itu juga yang mendorong sejumlah industri beralih menggunakan wood pellet. Performance atau kinerja boiler di industri juga bisa bersaing dengan penggunaan wood pellet tersebut. Bagi industri-industri yang ingin melakukan ujicoba (testing) dan ingin beralih menggunakan wood pellet untuk boiler bisa menghubungi kami di eko.sbs@gmail.com

Minggu, 01 November 2015

Menengok Pasar Wood Pellet Asia


Proyeksi pertumbuhan pasar wood pellet mengindikasikan Eropa sebagai pasar utama dengan konsumsi 25-30 juta ton pada 2020, sekitar 2,5 kali lipat dibandingkan konsumsi pada tahun 2010 12 juta ton.  Negara-negara produsen wood pellet utama saat ini yakni Kanada, Amerika Serikat, Swedia dan Jerman. Amerika Serikat adalah penghasil wood pellet terbesar tetapi mayoritas produksinya untuk konsumsi dalam negerinya untuk pemanas ruangan (home heating), sedangkan Kanada sebagai produsen wood pellet terbesar setelah Amerika Serikat, sekitar 80% produksinya untuk eksport. Perubahan pasar yang besar terjadi di pasar Asia yakni dari kurang 1 juta ton pada 2010  ke sekitar 15 juta ton pada 2020. Produksi wood pellet global juga mengalami peningkatan yakni tumbuh sampai 300% dari 2012 ke 2020 dari 16 juta ton ke 40-50 juta ton.

Global Energy Production by source


Daerah-daerah yang mampu memproduksi wood pellet dengan harga murah akan menjadi pengeksport wood pellet utama. Dua komponen biaya yang sangat berpengaruh pada produksi wood pellet adalah harga bahan baku sampai pabrik dan biaya transportasi ke pasar. Posisi Indonesia yang berada di kawasan Asia dengan iklim tropis sehingga potensial untuk menjadi penghasil biomasa terbesar mempunyai peran strategis menjadi produsen wood pellet untuk pasar Asia. Dibawah ini ada 3 negara utama di Asia sebagai pasar wood pellet :

Konsumsi Energy Korea Selatan Berdasar Tipe.
Sumber : Economic Intelligence Unit 2009

Perkembangan Pasar Korea Selatan
Meskipun Korea Selatan adalah negara kecil, tetapi merupakan negara urutan ke-10 dunia pengguna  energi dengan urutan kelima importir minyak dan urutan kedua importir batubara. Saat ini memproduksi sekitar 65% dari kelistrikannya dari bahan bakar fossil. Korea Selatan serius untuk mengurangi emisi gas rumah kaca ke 30% penurunan emisi CO2 dari level 2010 pada tahun 2020. Korea Selatan juga telah mengeluarkan Renewable Portofolio Standard (RPS) yang mensyaratkan PLTU batubara untuk minimum menggunakan 2% energi terbarukan pada 2012, dengan peningkatan 0,5% /tahun sampai 2020.  Pada tahun 2020 mereka akan membutuhkan minimum 10% energi terbarukan dengan komposisi diharapkan 60% energi terbarukan berasal dari biomasa kayu, sedangkan 40% sisanya dari sumber lain.
Portofolio Energi Jepang (Sebelum Tragedi PLTN Fukushima)
Sumber : U.S. Energy Information Administration 2010
  
Perkembangan Pasar Jepang
Jepang hampir tidak memiliki sumber daya alam, sehingga meng-import hampir semua hampir semua batubara, minyak dan gas. Jepang adalah negara pengimport gas alam terbesar dan minyak bumi urutan kedua di dunia. Sejak kecelakaan atau meledaknya PLTN Fukushima tahun 2011, pemerintah Jepang mereview kebijakan energi nasional dan pengembangan sumber daya. Kebijakan tersebut mengindikasikan untuk 10 sampai 20 tahun ke depan untuk energi terbarukan, peningkatan penggunaan energi non-fossil sampai 50% dan penurunan gas rumah kaca pada pembangkit listrik dari 34% ke 70% pada tahun 2030.

Konsumsi Energi China Berdasar Tipe
Sumber : Economic Intelligence Unit 2009

Perkembangan Pasar China
China saat ini adalah pengguna energi terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Energi menjadi pondasi pertumbuhan energi China. Batubara adalah energi utama di China yang menjadikan negara ini pengguna terbesar batubara di dunia. Meskipun sangat sedikit kebijakan energi terbarukan diumumkan oleh pemerintah China, China dalam rencana lima tahunannya mengalokasikan USD 750 juta pada subsidi langsung, insentif dan tax exemptions untuk membangun 200 demo proyek green energy pada 2015 atau minimal 15% dari kebutuhan energi dari energi terbarukan. China juga telah mengeset produksi energi biomasa dengan target setara 50 juta ton batubara pada 2012.

Meskipun dalam rencana 5 tahun tersebut tidak mengindikasikan spesifik proyek green energy untuk ditangani, sejumlah asumsi menyatakan China akan memproduksi wood pellet untuk mengganti batubara. Mayoritas produksi wood pellet juga berasal dari produksi dalam negri sehingga import-nya masih minimal.

Rabu, 19 Agustus 2015

Masuk ke Pasar Global Wood Pellet




Pada kenyataannya pertumbuhan bisnis yang massif dari wood pellet  saat ini berasal dari dorongan sejumlah kebijakan di Eropa, lebih khusus lagi terutama bisnis listrik di Inggris. Pada tahun 2020 konsumsi wood pellet diperkirakan sebesar 22 juta ton.  Dua pembangkit listrik di Inggris saja yang 100% menggunakan wood pellet yakni Drax dan Eggborough, membutuhkan 10 juta ton setiap tahunnya. Kebutuhan besar wood pellet besar lainnya adalah dari negara-negara Eropa Barat terutama Italia. Sedangkan di Asia, Jepang dan Korea adalah dua negara yang paling banyak mengkonsumsi wood pellet. Sedangkan pada tahun 2024 diprediksi produksi wood pellet akan mencapai 50 juta ton secara global.




Kanada adalah salah satu produsen utama wood pellet yang menyuplai kebutuhan sejumlah negara diatas. Luasnya hutan sehingga melimpahnya sumber bahan baku yang menjadikan Kanada sebagai salah satu produsen wood pellet. Rusia adalah negara besar lainnya yang mulai memproduksi wood pellet. Luasnya hutan dan melimpahnya sumber bahan baku menjadikan Rusia sebanding dengan Kanada dalam produksi wood pellet tetapi masalah infrastruktur terutama yang masih menjadi penghalang  utama perkembangan industri wood pellet di Rusia. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia juga mempunyai peluang besar untuk ikut berkecimpung pada bisnis wood pellet tersebut. Walaupun luas hutan yang bisa dijadikan sebagai sumber bahan baku tidak seluas Kanada maupun Rusia, tetapi iklim di Indonesia di daerah tropis yang membuat matahari bersinar sepanjang tahun adalah berkah tersendiri. Alhamdulillah, inilah salah satu kenikmatan dari Allah SWT yang harus kita syukuri.  Hutan-hutan atau kebun energi dengan tanaman rotasi cepat (SRC) seperti Kaliandra bisa dibudidayakan dengan produktivitasnya 4 kali lipat dibandingkan daerah subtropis seperti Kanada atau Rusia untuk tanaman sejenis seperti Willow atau Poplar.  Selain itu pengguna wood pellet di Asia seperti Korea dan Jepang juga akan mencari wood pellet dari kawasan Asia sebelum ke Kanada atau Rusia.



Masalah kelestarian alam atau lingkungan adalah hal penting yang harus diperhatikan, sehingga keberlangsungan usaha dan kelestarian lingkungan adalah dua hal yang secara simultan terus dijaga. Pembangkit listrik adalah pasar utama wood pellet dengan kebutuhan besar dan jangka panjang untuk itulah kerberlangsungan lingkungan tersebut perlu menjadi perhatian serius. Hampir semua pembeli wood pellet untuk pembangkit listrik juga akan mensyaratkan adanya sustainable forest management practice dan sertifikasi (semacam FSC atau SVLK)  tentang asal bahan baku yang bisa dipertanggungjawabkan artinya tidak merusak hutan. Secara khusus untuk kondisi Indonesia, dengan kebun atau hutan energi tanaman Kaliandra dengan diintegrasikan dengan kegiatan peternakan kambing atau sapi nantinya siklus kerberlangsungan dan kelestarian alam akan terjaga.

Pembangkit listrik tenaga uap dengan bahan bakar batubara adalah salah satu penyumbang CO2 terbesar di atmosfer, sehingga apabila bisa digantikan sampai 100% atau full dengan wood pellet sebagai bahan bakar karbon netral akan mengurangi emisi CO2 secara signifikan. Pembangkit listrik Rodenhuize 180 MW di Ghent, Belgia adalah salah satu contohnya. Pada awalnya Rodenhuize adalah PLTU batubara selanjutnya pada tahun 2011 menggunakan 100% wood pellet. Sebelumnya pada tahun 2005 pembangkit tersebut dimodifikasi sehingga bisa bekerja dengan co-firing coal dan wood pellet dan pada tahun 2011 pembangkit tersebut beralih 100% dari batubara (coal) dengan wood pellet. Beralihnya ke wood pellet dari batubara (coal) telah membuat pembangkit listrik Rodenhuize mengurangi 1,6 juta ton emisi CO2. Pola seperti Rodenhuize sepertinya bisa menjadi referensi dan akan diikuti oleh pembangkit-pembangkit listrik batubara lainnya terutama pada negara-negara yang telah menerapkan kebijakan lingkungan pada sektor energinya untuk berlomba-lomba menurunkan suhu bumi.

Pabrik Sawit: Ganti Boiler Saja? Apa Sekaligus Mencari Solusi untuk Bebas Problem Tandan Kosong Sawit dan Keuntungan Tambahan ?

Seiring dengan bertambah luasnya perkebunan sawit di Indonesia yang saat ini sekitar 17 juta hektar, maka demikian juga pabrik sawit yang di...