Tampilkan postingan dengan label pelletiser. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelletiser. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Februari 2026

Seperti Ban Mobil, Die untuk Pelletiser juga Butuh Produk Berkualitas dan Handal

Produksi pellet dunia terus meningkat, baik itu pellet bahan bakar seperti wood pellet maupun pellet pakan seperti pellet pakan untuk unggas maupun ruminansia. Produksi wood pellet dunia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 50 – 54 juta ton. Dan proyeksi produksi wood pellet global pada tahun 2050 diperkirakan melonjak drastis hingga mencapai angka 170 juta hingga 250 juta ton per tahun atau sekitar 3-5 kali lipat saat ini. Lonjakan ini didorong oleh skenario Net Zero Emissions yang dicanangkan berbagai lembaga energi dunia. Sedangkan produksi pakan ternak (compound feed) dunia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar 1,41 hingga 1,42 miliar metrik ton atau lebih dari 25 kali produksi wood pellet pada tahun yang sama. Dan proyeksi produksi pakan ternak (compound feed) dunia pada tahun 2050 diperkirakan akan menembus angka 1,8 miliar hingga 2 miliar ton. Kenaikan tersebut didorong oleh pertumbuhan populasi manusia yang diprediksi mencapai 9,7 miliar jiwa, yang otomatis meningkatkan permintaan protein hewani. Baik produksi pellet bahan bakar seperti wood pellet dan pellet pakan menggunakan alat utama yakni pelletiser dan ring die adalah komponen pentingnya yang membutuhkan penggantian secara berkala.  

Seperti ban mobil yang akan aus setelah mencapai jarak tertentu demikian juga dengan ring die pelletiser. Setelah produksi ribuan ton pellet maka ring die tersebut juga akan aus dan harus diganti. Sama dengan ban mobil dimana kondisi jalan akan mempengaruhi kecepatan keausan ban tersebut, demikian juga dengan ring die pelleriser dimana kondisi bahan baku akan mempengaruhi kecepatan ring die tersebut. Dan supaya ban maupun ring die tersebut bisa optimal masa pakai atau sesuai target rancangannya maka harus sesuai peruntukannya. Misalkan ban tipe highway terrain (HT) yang didesain khusus untuk aspal mulus,maka akan kurang optimal untuk medan di tanah atau kerikil ringan seperti jalanan pedesaan, apalagi digunakan untuk medan berlumpur. Demikian juga ring die yang dirancang untuk pellet pakan, maka akan kurang optimal bila digunakan bahan baku limbah pertanian apalagi biomasa kayu-kayuan. Lebih detail untuk membedakan pelletiser untuk pakan dan bahan bakar / energi silahkan baca disini

Tapak ban mobil memiliki ciri khas sesuai medan peruntukannya. Sebagai contoh ban khusus off-road dengan tapak kotak-kotak besar. Sangat tangguh di lumpur, tapi sangat bising dan tidak stabil jika dipakai di aspal. Demikian juga dengan rancangan die pelletiser. Karakteristik bahan baku sangat berpengaruh pada bentuk lubang tersebut. Untuk bahan baku kayu keras bisa berbeda dengan kayu lunak dan bisa berbeda juga dengan limbah pertanian apalagi pellet pakan. Bentuk lubang pada die pelletizer sangat menentukan kepadatan, dan kualitas akhir produk. Sebagai contoh profil lubang straight hole (lubang lurus), ini merupakan bentuk paling standar. Digunakan untuk material yang mudah dipadatkan dan tidak memerlukan tekanan ekstrem. Sedangkan profil lubang relieved bore (lubang bertingkat) yakni bagian luar lubang memiliki diameter lebih besar daripada bagian dalam (tempat kompresi). Tujuannya untuk mengurangi gesekan sehingga mesin tidak cepat panas dan umum digunakan untuk wood pellet. Sedangkan tapered hole (lubang kerucut / konis) yakni lubang yang mengecil ke arah luar. Tujuannya untuk memberikan tekanan kompresi yang sangat tinggi, cocok untuk bahan baku yang sulit merekat atau berserat kasar. 

Tidak seperti produsen ban, yang biasanya merupakan produsen terpisah atau berbeda dari produsen mobilnya, misalnya Mercedes Benz tidak produksi ban sendiri, tetapi pada ring die pelletiser hampir semua produsen mesin pelletiser pasti juga memproduksi ring die -nya. Dan ada sejumlah perusahaan yang mengkhususkan diri untuk spesialis produksi die tersebut tetapi tidak banyak. Seiring dengan semakin meningkatnya produksi pellet dunia baik pellet bahan bakar seperti wood pellet maupun pellet pakan, maka hal itu sebanding dengan kebutuhan ring die tersebut. Jika hanya mengandalkan ring die dari produsen mesin pelletiser aslinya maka bisa jadi akan butuh lama, sedangkan produsen pellet tersebut membutuhkannya sesegera mungkin. 

 

Hal ini sehingga membuat bisnis die dan spare part pelletiser memiliki ceruk pasar tersendiri.  Pabrik-pabrik mesin pelletiser selain tentu saja memproduksi ring die untuk mesin pelletiser-nya juga bisa melakukan kustomisasi atau produksi sesuai pesanan. Sebagai contoh produsen pelletiser Muench dari Jerman selain produksi ring die untuk mesinnya, juga bisa produksi ring die untuk mesin CPM, Andritz, Salmatec dan sebagainya. Kualitas material baja untuk ring die dan pengerjaannya akan menentukan kualitas ring die tersebut.   

Jika anda butuh ring die dan spare part berkualitas, silahkan kontak : eko.sbs@gmail.com   

Jumat, 03 November 2023

Jangan Salah Pilih Mesin : Pelletiser Kayu dengan Pelletiser Pakan, dan Extruder Kayu dengan Extruder Arang

Tampilan visual saja kadang memang tidak bisa dipercaya. Dua hal secara visual bisa tampak sama atau sangat mirip tetapi ternyata berbeda. Hal ini sering terjadi pada produksi wood pellet dan wood briquette (pini kay briquette / uncarbonised briquette). Dan parahnya lagi, alat tersebut adalah jantung dari proses produksi industri yang bersangkutan, yakni pelletiser pada industri wood pellet dan extruder pada industri wood briquette (pini kay briquette / uncarbonised briquette). Sehingga kesalahan dalam pemilihan alat tersebut juga berakibat fatal yakni tidak hanya target produksi tidak tercapai bahkan produk yang dimaksud tidak berhasil diproduksi. Hal inilah mengapa pembeli atau pengguna mesin tersebut harus cermat dan teliti terhadap mesin yang akan dibeli dan digunakan tersebut. 

Pada industri wood pellet, sering terjadi kesalahan yakni pelletiser untuk pakan ternak tetapi digunakan untuk pellet kayu atau wood pellet. Akibatnya bisa saja wood pellet tersebut tidak terbentuk sama sekali karena memang daya untuk pelletiser pakan jauh lebih kecil dibandingkan dengan pelletiser untuk kayu atau pada paroduksi wood pellet. Tawaran harga murah sering kali membuat pembeli atau pengguna tergoda dan tidak mencermati lebih jauh, sehingga akibatnya akan kecewa. 


Demikian juga pada industri wood briquette (pini kay briquette / uncarbonised briquette). Extruder kayu juga memiliki motor jauh lebih besar dibandingkan extruder arang. Briquette yang dihasilkan dengan extruder kayu selain tidak membutuhkan perekat tambahan juga lebih padat dan keras karena penggunaan motor berdaya besar. Kesalahan yang bisa terjadi adalah extruder arang digunakan utuk extruder kayu dan ini juga terjadi biasanya karena harga lebih murah. Briquette yang dihasilkan dari extruder kayu tersebut selanjutnya juga bisa dibuat arang sehingga menghasilkan produk akhir berupa briket arang. Walaupun produksi briket arang (charcoal briquette) dengan extruder arang juga akan menghasilkan produk tersebut, tetapi rute proses dan kualitas produknya berbeda. Dibawah ini rute proses produksi briket arang (charcoal briquette) tersebut. 

Bahan baku yang digunakan pada rute 1 adalah berupa serbuk kayu seperti serbuk gergaji (sawdust) lalu dipress atau dipadatkan dengan extruder kayu. Dengan kuatnya tekanan dan panas tinggi maka tidak dibutuhkan perekat tambahan, tetapi lignin yangmerupakan polimer alami yang berada pada kayu tersebut yang bertindak sebagai perekat. Briket yang dihasilkan selanjutnya bisa diarangkan dalam tungku karbonisasi dan produk akhir berupa briket arang. Sedangkan pada rute 2 bahan baku diarangkan atau dikarbonisasi dulu lalu arang tersebut dicampur perekat dan dipress atau dipadatkan dengan extruder arang. Penggunaan perekat tambahan karena pada arang, lignin telah terdekomposisi pada proses pengarangan atau karbonisasi sebelumnya. Produk akhir yang dihasilkan adalah juga briket arang. Kualitas briket arang pada proses rute 1 lebih baik daripada proses rute 2 karena selain lebih padat sehingga waktu bakar lebih lama demikian juga panas yang dihasilkan. 

Jadi supaya tidak salah pilih memang harus cermat dan teliti tentang spesifikasi peralatan tersebut, demikian juga perlu untuk mengetahui bahan baku maupun proses produksinya serta jangan mudah tergiur oleh tawaran harga murah. Semakin besar kapasitas produksinya maka kebutuhan peralatan pelletiser maupun extruder juga semakin banyak, sehingga apabila terjadi salah pilih maka resikonya fatal, karena alat-alat tersebut mahal harganya. Penting juga diperhatikan bahwa peralatan yang dibeli juga berasal dari pabrikan yang sudah teruji sehingga memiliki kinerja yang bisa diandalkan. 

Rabu, 31 Agustus 2022

Lini Lengkap Produksi Pellet (Bahan Bakar dan Pakan) Kapasitas Kecil Untuk Riset dan Eksperimen

Alat laboratorium sebagai unit produksi atau seperti pabrik kecil (mini-mill) sangat dibutuhkan baik untuk pembelajaran (riset dan experiment) maupun sebagai tahapan produksi sebelum mencapai tahap komersial pada suatu bisnis. Dengan mengamati dan melakukan ujicoba pada mini-mill tersebut selain akan didapat pemahaman lengkap tentang proses produksi dari A sampai Z, juga bisa melakukan pengamatan secara mendetail dan mendalam setiap tahapan produksi dengan cara mudah dan murah serta memberi gambaran lebih utuh untuk proses produksi secara komersial nantinya. Riset dan eksperimen dari berbagai macam bahan baku, baik satu macam bahan baku (single material) maupun campuran beberapa bahan baku (mixed material) juga mudah dilakukan. Saat ini banyak para peneliti maupun praktisi yang ingin mencoba suatu bahan baku untuk dibuat pellet tetapi kesulitan mencari rekan atau perusahaan yang bisa melakukannya. Setting peralatan dengan fasilitas mini-mill juga jauh lebih mudah, berbeda dengan pabrik besar. Hal inilah mengapa pada umumnya pada pabrik besar tidak mau menerima ujicoba pembuatan pellet dari suatu bahan tertentu, karena yang menjadi fokus mereka adalah target produksi, kecuali jika memiliki fasilitas R & D untuk ujicoba tersebut. 

Sedangkan jika alat laboratorium tersebut hanya berupa alat fungsional saja seperti alat pemotong, alat penghancur dan sebagainya tetapi tidak diintegrasikan menjadi suatu unit produksi (walaupun kapasitas kecil) maka akan sulit untuk membayangkan terlebih lagi merancang industri atau pabrik komersial secara akurat. Jikapun sejumlah alat fungsional di laboratorium tersebut diintegrasikan yang biasanya berasal dari sejumlah produsen dan memiliki kapasitas berbeda-beda maka untuk mengoperasikan mini mill yang dirakit tersebut juga tidak mudah. Hal itulah mengapa menjadi penting untuk mengadakan suatu suatu lini lengkap (complete line) untuk produksi pellet tersebut. Produksi pellet yang dihasilkan juga bisa dua macam, yakni pellet bahan bakar seperti wood pellet dan pellet pakan seperti pellet daun (leaf pellet), tergantung pada bahan baku yang digunakan.

Dan memang pada skala komersial atau pabrik besar spesifikasi pelletiser untuk pellet bahan bakar seperti wood pellet berbeda dengan pelletiser untuk pellet pakan (feed pellet). Pelletiser untuk pellet      bahan bakar seperti pada produksi wood pellet memiliki daya motor listrik lebih besar sekitar 3 kali dari pelletiser untuk produksi pellet pakan, misalnya untuk 1 ton/jam wood pellet butuh 150 KW sedangkan untuk pellet pakan hanya 50 KW. Selain itu kualitas logam yang digunakan untuk produksi pelletiser tersebut biasanya juga berbeda karena tingkat kekerasan bahan bakunya juga berbeda. Pelletiser adalah peralatan utama atau jantung proses pada produksi pellet, baik pellet bahan bakar (wood pellet) maupun pellet pakan (feed pellet).  Berdasarkan pengalaman di lapangan ternyata banyak kasus kegagalan produksi wood pellet komersial akibat kesalahan pada pemilihan pelletiser ini, yakni pelletiser untuk pakan digunakan untuk pelletiser kayu (wood pellet) selain tidak optimal, umur mesin pendek, bahkan juga dalam sejumlah kasus wood pellet tidak terbentuk sehingga target produksi tidak tercapai. Alasan utama mengapa terjadi hal tersebut adalah karena tergiur masalah harga, yakni pelletiser pakan lebih murah dan secara penampilan juga sulit dibedakan (khususnya orang awam). 

Pada produksi pellet kapasitas kecil ini pelletiser yang digunakan satu macam saja, karena tujuan utamanya lebih pada aspek kualitatif, belum pada aspek kuantitatif. Sejumlah tahapan proses pada produksi pellet bahan bakar (wood pellet) juga sangat mirip dengan produksi pellet pakan, sehingga peralatan yang digunakan juga mirip atau bahkan sama. Hal tersebut terutama supaya harga unit produksi tersebut tidak terlalu mahal. Pada produksi pellet komersial, pelletiser jenis ring die lebih banyak dan umum digunakan dibandingkan jenis flat die. Tetapi karena pelletiser jenis ring die lebih mahal walaupun mendekati kondisi riil industri pellet, maka pelletiser flat die juga sudah memadai untuk maksud pada tahap ini. 

Pellet pakan memiliki sejarah lebih lama dibandingkan pellet bahan bakar khususnya wood pellet, yakni pada tahun 1920an ketika Purina Animal Nutrition, salah satu produsen pakan ternak terbesar di dunia saat ini. Dengan pelletisasi tersebut bahan brupa serbuk, kurang disukai ternak (unpalatable), kepadatan yang berbeda-beda menjadi lebih mudah digunakan dan meningkatkan keseragaman. Teknik pelletisasi ini kemudian dengan cepat banyak diminati oleh banyak produsen pakan sehingga pada tahun 1930 ada sejumlah pabrik pakan yang spesialis produksi pellet pakan (feed pellet) tersebut. Produksi pellet pakan dunia juga jauh melampaui pellet bahan bakar (wood pellet), yakni kisaran 1 milyar ton per tahun sedangkan wood pellet di kisaran 50 juta ton per tahun. Keduanya memiliki fungsi strategis pada hajat hidup manusia. Pellet pakan sebagai mata rantai pangan untuk manusia sangat dibutuhkan dan produksinya terus ditingkatkan. Diperkirakan kebutuhan protein pada tahun 2050 butuh tambahan sekitar 250 juta ton per tahun atau naik 50% dibandingkan hari ini. Hal tersebut karena  menurut PBB populasi global manusia diprediksi akan mencapai 9 milyar manusia pada 2050. Sektor pangan mencari solusi untuk defisit protein karena permintaan protein perkapita dan pertumbuhan populasi.Sedangkan pellet bahan bakar (wood pellet) dibutuhkan untuk menyelamatkan bumi dari perubahan iklim. Wood pellet sebagai bahan bakar carbon neutral membuatnya tidak menambah konsentrasi CO2 di atmosfer yang merupakan gas rumah kaca yang memanaskan suhu bumi. Program-program dekarbonisasi atau subtitusi bahan bakar fossil ke energi terbarukan khususnya bahan bakar biomasa atau wood pellet terus ditingkatkan di seluruh dunia, sebagai rujukan bisa baca disini dan disini. Kebun energi atau kebun legum akan bisa menjadi solusi masalah ini, lebih detail baca disini

 
Selain untuk produksi pellet (baik pellet bahan bakar maupun pellet pakan) dengan sedikit modifikasi yakni mengganti pelletiser dengan mesin briket maka juga bisa digunakan untuk produksi briket. Hal ini karena secara proses produksi hampir sama, teknologi keduanya adalah sama yakni kelompok teknologi pemadatan biomasa (biomass densification). Penggunaan briket ini juga untuk bahan bakar sama seperti wood pellet tetapi briket ini juga bisa diarangkan (karbonisasi) sehingga menjadi briket arang. Produksi briket arang dengan cara ini menghasilkan kualitas lebih baik dibanding produksi briket arang dengan bahan baku arang lalu ditambah perekat dan dicetak. Produk briket arang tersebut biasa di pasaran dikenal sebagai produk sawdust charcoal briquette, yang produksinya tidak membutuhkan perekat tambahan (binderless briquette). 

Pabrik Sawit: Ganti Boiler Saja? Apa Sekaligus Mencari Solusi untuk Bebas Problem Tandan Kosong Sawit dan Keuntungan Tambahan ?

Seiring dengan bertambah luasnya perkebunan sawit di Indonesia yang saat ini sekitar 17 juta hektar, maka demikian juga pabrik sawit yang di...