Tampilkan postingan dengan label charcoal briquette. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label charcoal briquette. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 November 2023

Produksi Pini Kay Briquette dari Limbah Pabrik Kayu Lapis (Plywood) dan Veneer

Produksi plywood atau kayu lapis Indonesia diperkirakan lebih dari 10 juta meter kubik setiap tahunnya yang diproduksi dari ratusan pabrik plywood bahkan Indonesia pernah merajai industri kayu dunia pada periode 1980 hingga 1995. Adanya pabrik-pabrik plywood di Indonesia sebenarnya sudah sejak lama, tetapi di dalam perkembangannya baru nampak setelah tahun 1972. Setelah periode tahun 1980-85 jumlah pabrik bertambah dengan pesat. Pada masa itu tidak kurang telah ada 110 pabrik berskala sedang sampai besar hampir di seluruh propinsi di Indonesia. Ada lima provinsi sebagai produsen plywood terbesar di Indonesia yakni Jawa Timur, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Dan enam provinsi lain yang mulai berkembang yakni Banten, Papua, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Riau dan Jambi. Sebagian besar plywood tersebut untuk pasar export.

APKINDO (Asosiasi Panel Kayu Indonesia) adalah wadah bagi pelaku industri kayu lapis (plywood) dan veneer. APKINDO saat dibentuk pada 12 Februari 1976 yang diprakarsai oleh 13 perusahaan kayu lapis, sedangkan saat ini beranggota lebih dari 125 industri yang tersebar di seluruh Indonesia. APKINDO bertujuan untuk memupuk persatuan dan kebersamaan serta menyuarakan kepentingan industri kayu lapis untuk memanfaatkan kayu bulat secara lebih efisien, menyerap lebih banyak tenaga kerja dan meningkatkan nilai tambah. Peran APKINDO masih terus dilakukan hingga saat ini, salah satunya untuk mendukung kebijakan SVLK yang diyakini dapat mengembalikan citra positif kehutanan Indonesia di mata dunia, sehingga akan mempermudah produk kayu Indonesia, khususnya kayu lapis, untuk memenangkan persaingan di pasar global.

Volume limbah kayu pada industri plywood cukup besar mencapai hampir 55% atau jumlahnya lebih dari 5 juta ton per tahun terhadap produksi plywood nasional tersebut. Potensi limbah tersebut cukup besar dan memiliki potensi besar untuk diolah menjadi pini kay briquette (wood briquette screw type). Mengapa mesti mengolahnya menjadi pini kay briquette (wood briquette screw type) ? Pini kay briquette menjadi pilihan untuk solusi masalah limbah plywood tersebut karena selain proses produksi lebih mudah, juga investasi mesin lebih murah. Hal ini karena limbah kayu pabrik plywood sudah kering sehingga tidak membutuhkan proses pengeringan. Alat pengering atau dryer selain cukup mahal juga biaya operasionalnya. Kualitas tinggi juga sangat mungkin didapat karena kadar abu yang rendah, karena kayu untuk produksi plywood tersebut telah dikupas kulitnya (debarking) sehingga kandungan bisa diturunkan hingga dibawah 1%.

Veneer adalah lembaran papan tipis untuk membuat plywood. Veneer-veneer tersebut disusun dan direkatkan, dengan jumlah gasal, sehingga menjadi kayu lapis atau plywood. Banyak produsen veneer yang tidak memiliki unit pembuat plywood, tetapi pada umumnya pabrik plywood memiliki unit produksi veneer. Pembuatan veneer bisa dengan pengupasan (rotary cutting), penyayatan (slicing), penggergajian dan perautan. Produksi veneer Indonesia saat ini juga cukup besar demikian juga dengan limbah yang dihasilkannya. Limbah tersebut juga akan memiliki nilai tambah yang besar dengan mengolahnya menjadi pini kay briquette, seperti halnya limbah kayu lapis (plywood) di atas. 

 

Proses produksi pini kay briquette bisa menggunakan limbah industri plywood dan veneer tersebut di atas. Sebelum dipadatkan menjadi pinikay briquette dalam mesin briquette atau screw press, maka limbah tersebut perlu diseragamkan ukurannya menjadi seukuran serbuk gergaji / sawdust dan juga tingkat kekeringannya sekitar 10%. Limbah kayu yang ukurannya besar perlu dikecilkan ukurannya terlebih dahulu dan tingkat kekeringan juga perlu diupayakan mencapai kisaran 10% tersebut. Dengan alat screw press / extruder tersebut biomasa kayu dari limbah-limbah tersebut bisa dipadatkan (densifikasi) hingga 1400 kg/m3 atau jauh lebih padat daripada wood pellet yang berada dikisaran 700 kg/m3. Produk pini kay briquette tersebut selanjutnya bisa dipotong-potong dengan ukuran tertentu dan siap dipasarkan khususnya pasar export. Kebutuhan pini kay briquette tersebut terutama sebagai bahan bakar pemanas ruangan. Lebih lanjut pini kay briquette ini juga bisa diolah lebih lanjut menjadi arang briket atau biasa disebut sawdust charcoal briquette. Dengan kepadatan tersebut maka waktu bakar arang briket dua kali arang biasa atau lebih. Sedangkan penggunaan utama arang briket adalah untuk barbeque. 

Untuk industri plywood dan veneer yang menghasilkan limbah biomasa kayu-kayuan bahkan hingga ribuan ton setiap bulannya sehingga berpotensi menjadi masalah lingkungan, maka produksi pini kay briquette bisa menjadi solusi jitu. Dan jika ada industri plywood dan veneer yang berminat untuk produksi pini kay briquette tersebut kami siap membantu pasarnya. 

Jumat, 03 November 2023

Jangan Salah Pilih Mesin : Pelletiser Kayu dengan Pelletiser Pakan, dan Extruder Kayu dengan Extruder Arang

Tampilan visual saja kadang memang tidak bisa dipercaya. Dua hal secara visual bisa tampak sama atau sangat mirip tetapi ternyata berbeda. Hal ini sering terjadi pada produksi wood pellet dan wood briquette (pini kay briquette / uncarbonised briquette). Dan parahnya lagi, alat tersebut adalah jantung dari proses produksi industri yang bersangkutan, yakni pelletiser pada industri wood pellet dan extruder pada industri wood briquette (pini kay briquette / uncarbonised briquette). Sehingga kesalahan dalam pemilihan alat tersebut juga berakibat fatal yakni tidak hanya target produksi tidak tercapai bahkan produk yang dimaksud tidak berhasil diproduksi. Hal inilah mengapa pembeli atau pengguna mesin tersebut harus cermat dan teliti terhadap mesin yang akan dibeli dan digunakan tersebut. 

Pada industri wood pellet, sering terjadi kesalahan yakni pelletiser untuk pakan ternak tetapi digunakan untuk pellet kayu atau wood pellet. Akibatnya bisa saja wood pellet tersebut tidak terbentuk sama sekali karena memang daya untuk pelletiser pakan jauh lebih kecil dibandingkan dengan pelletiser untuk kayu atau pada paroduksi wood pellet. Tawaran harga murah sering kali membuat pembeli atau pengguna tergoda dan tidak mencermati lebih jauh, sehingga akibatnya akan kecewa. 


Demikian juga pada industri wood briquette (pini kay briquette / uncarbonised briquette). Extruder kayu juga memiliki motor jauh lebih besar dibandingkan extruder arang. Briquette yang dihasilkan dengan extruder kayu selain tidak membutuhkan perekat tambahan juga lebih padat dan keras karena penggunaan motor berdaya besar. Kesalahan yang bisa terjadi adalah extruder arang digunakan utuk extruder kayu dan ini juga terjadi biasanya karena harga lebih murah. Briquette yang dihasilkan dari extruder kayu tersebut selanjutnya juga bisa dibuat arang sehingga menghasilkan produk akhir berupa briket arang. Walaupun produksi briket arang (charcoal briquette) dengan extruder arang juga akan menghasilkan produk tersebut, tetapi rute proses dan kualitas produknya berbeda. Dibawah ini rute proses produksi briket arang (charcoal briquette) tersebut. 

Bahan baku yang digunakan pada rute 1 adalah berupa serbuk kayu seperti serbuk gergaji (sawdust) lalu dipress atau dipadatkan dengan extruder kayu. Dengan kuatnya tekanan dan panas tinggi maka tidak dibutuhkan perekat tambahan, tetapi lignin yangmerupakan polimer alami yang berada pada kayu tersebut yang bertindak sebagai perekat. Briket yang dihasilkan selanjutnya bisa diarangkan dalam tungku karbonisasi dan produk akhir berupa briket arang. Sedangkan pada rute 2 bahan baku diarangkan atau dikarbonisasi dulu lalu arang tersebut dicampur perekat dan dipress atau dipadatkan dengan extruder arang. Penggunaan perekat tambahan karena pada arang, lignin telah terdekomposisi pada proses pengarangan atau karbonisasi sebelumnya. Produk akhir yang dihasilkan adalah juga briket arang. Kualitas briket arang pada proses rute 1 lebih baik daripada proses rute 2 karena selain lebih padat sehingga waktu bakar lebih lama demikian juga panas yang dihasilkan. 

Jadi supaya tidak salah pilih memang harus cermat dan teliti tentang spesifikasi peralatan tersebut, demikian juga perlu untuk mengetahui bahan baku maupun proses produksinya serta jangan mudah tergiur oleh tawaran harga murah. Semakin besar kapasitas produksinya maka kebutuhan peralatan pelletiser maupun extruder juga semakin banyak, sehingga apabila terjadi salah pilih maka resikonya fatal, karena alat-alat tersebut mahal harganya. Penting juga diperhatikan bahwa peralatan yang dibeli juga berasal dari pabrikan yang sudah teruji sehingga memiliki kinerja yang bisa diandalkan. 

Minggu, 26 Januari 2020

Menghidupkan Industri Kelapa Terpadu Bagian 8 : Santan Kelapa, VCO, Dessicated Coconut, Air Kelapa, Nata de Coco, Arang Tempurung dan Activated Carbon

 Pada dasarnya kampanye penyelamatan kebun kelapa (tree of life) adalah menghidupkan industri kelapa terpadu. Rusak dan tidak terpeliharanya perkebunan kelapa akibat tidak adanya pendanaan untuk menjaga, merawat dan mengembangkannya secara berkelanjutan (sustainable).

Bioeconomy didefinisikan sebagai produksi berbasis pengetahuan dan menggunakan sumberdaya biologi atau makhluk hidup untuk menghasilkan produk-produk, proses-proses, dan jasa-jasa pada sektor ekonomi dalam kerangka sistem ekonomi berkelanjutan.


Santan instan atau santan kemasan hampir tidak terpikirkan khususnya oleh ibu-ibu di Indonesia beberapa dekade lalu. Demikian juga dengan air kelapa kemasan, hampir semua orang Indonesia juga tidak terpikirkan saat itu. Hal itu terutama karena kelapa sangat mudah didapatkan di hampir seluruh pelosok negeri. Tetapi kondisi ini berubah ketika masakan asia mulai mendunia sehingga banyak masyarakat barat yang menyukainya. Santan sebagai salah satu unsur utama masakan tersebut menjadi suatu kebutuhan yang harus disediakan. Masyarakat perkotaan dengan penduduk yang padat serta memiliki kesibukan tinggi, membutuhkan sesuatu yang praktis dan instan sehingga membuat produk santan instan mudah diterima. Hal tersebut juga sama seperti produk bumbu-bumbu masakan instan yang laris di daerah perkotaan.

Industri santan dan air kelapa kemasan adalah tipe industri besar sehingga membutuhkan pasokan bahan baku dalam jumlah besar dan kontinyu. Untuk mendapatkan kondisi tersebut pada umumnya hanya bisa di perkebunan kelapa yang tidak jarang lokasinya masih sangat terpencil. Pada lokasi tersebut umumnya listrik dan sejumlah infrastruktur pendukung belum tersedia sehingga industri kelapa terpadu belum bisa dioperasikan. Listrik adalah salah satu kebutuhan pokok untuk operasional industri, sehingga perlu dibuat terlebih dahulu sebelum menjalankan industri kelapa terpadunya seperti industri dengan produk utama santan dan air kelapa kemasan. Produksi listrik untuk keperluan tersebut, setidaknya  bisa dilakukan dengan 2 cara, yakni : pertama, dengan steam boiler, seperti yang biasa dilakukan pada pabrik kelapa sawit. Sabut kelapa yang memiliki nilai ekonomis terendah digunakan untuk bahan bakarnya.

Cara kedua, yakni dengan pirolisis kontinyu. Tempurung kelapa dapat digunakan sebagai sebagai bahan baku pirolisis tersebut. Dengan teknologi pirolisis lebih akan memberi keuntungan karena selain dihasilkan listrik, juga dihasilkan panas dan arang tempurung. Listrik dan panas bisa digunakan untuk operasional industri pengolahan kelapa, sedangkan arang tempurung bisa langsung dijual atau diolah lanjut menjadi briket atau arang aktif (activated carbon). Ketika kebutuhan listrik besar maka pembangkit listrik bisa menggunakan keduanya, yakni steam boiler berbahan bakar sabut kelapa dan pirolisis dengan bahan baku tempurung kelapa. Apabila ingin menghasilkan arang yang lebih banyak maka sabut kelapa juga bisa digunakan untuk bahan bakar pirolisis kontinyu. Kualitas arang sabut kelapa lebih rendah dbandingkan arang dari tempurung kelapa. Hal tersebut sehingga arang sabut kelapa bisa digunakan sebagai arang pertanian (agri-char / biochar) sehingga akan meningkatkan produktivitas kebun kelapa, sedangkan arang tempurung untuk keperluan seperti tersebut di atas.
Selain diolah menjadi santan kemasan, daging buah juga bisa diolah menjadi VCO (Virgin Coconut Oil) atau dessicated cooconut (kelapa parut kering).  Produksi VCO bisa dilakukan pada skala menengah, tetapi saat ini untuk pasar export atau pembeli luar negeri pada umumnya mensyaratkan adanya sertifikat organik. Hal itu juga yang menjadi penyebab mengapa produksi VCO skala kecil untuk pasar export sulit dilakukan. Pada dasarnya buah kelapa bisa dibuat untuk berbagai macam produk, sesuai kebutuhan pasar. Industri pengolahan kelapa hampir semua membutuhkan listrik dan panas untuk proses produksinya (khusus industri VCO hanya listrik saja). Pendekatan industri kelapa terpadu membuat industri pengolahan kelapa menjadi lebih efisien. Kombinasi industri pengolahan kelapa menyesuaikan dengan kebutuhan pasar. Redupnya pasar kopra & minyak kelapa, ternyata sedikit demi sedikit disubtitusi dengan peningkatan pasar dessicated coconut, VCO, santan, nata de coco, air kelapa kemasan dan bahkan gula kelapa. Mungkinkah kelapa akan kembali berjaya? Ada indikasi ke sana memang. Wallahu'alam  

Senin, 18 November 2019

Rotary Dryer Untuk Pengeringan Biomasa

Ketika menggunakan biomasa sebagai bahan baku produksi pellet dan briquette, maka tingkat kekeringan biomasa tersebut harus cukup kering sehingga bisa dipadatkan dalam bentuk pellet atau briquette tersebut. Bahan baku biomasa baik berupa kayu-kayuan atau limbah-limbah pertanian sering masih basah, sehingga perlu proses pengeringan terlebih dahulu. Sebagai negara tropis memang sinar matahari akan terus bersinar sepanjang tahun, tetapi mengandalkan pengeringan dengan dijemur dibawah terik matahari akan memakan waktu lama, tempat yang luas dan handling yang tidak efisien. Berdasarkan kondisi itulah maka pengeringan yang dilakukan dengan peralatan tertentu perlu dilakukan. Karakteristik pengering di industri adalah bisa mengeringkan kapasitas besar dalam waktu singkat dan ekonomis. 
Rotary dryer atau drum dryer adalah jenis alat pengering yang paling banyak digunakan pada industri pellet dan briquette. Hal tersebut karena rotary dryer memiliki konstruksi sederhana, mudah dalam operasional dan juga maintenance. Penggunaan rotary dryer tidak hanya untuk pengeringan biomasa tetapi juga dibidang-bidang lainnya seperti mineral, pupuk dan sejumlah aggregate. Penggunaan rotary dryer disejumlah bidang dengan berbagai jenis material tersebut juga memberi konsekuensi sejumlah perangkat pendukungnya, misalnya penggunaan cyclone, scrubber, bag house hingga induced draft (ID) fan. Sedangkan dari sisi operasional juga bervariasi mengikuti karakteristik bahan baku yang dikeringkan seperti alur pengeringan dengan counter current atau co-current, dan penggunaan indirect drying atau direct drying.
Setiap alat pengering juga memiliki karakteristik tersendiri dan sesuai untuk jenis material tertentu. Pemilihan jenis pengering (dryer) yang tidak sesuai mengakibatkan tujuan pengeringan tidak tercapai, sebagai contoh rotary dryer cocok digunakan untuk pengeringan material yang tidak pecah atau rusak ketika dijatuhkan dari atas, sedangkan jenis pengering fluidized dryer cocok untuk material yang ringan dan mudah pecah atau rusak ketika dijatuhkan. Biomasa khususnya dalam ukuran partikel kecil adalah material yang tidak rusak atau pecah ketika dijatuhkan, sehingga penggunaan rotary dryer lebih sesuai. Selain biaya investasi lebih mahal, operasional dan maintenance fluidized dryer juga lebih mahal dibandingkan dengan rotary dryer. Pemilihan material untuk pembuatan alat rotary dryer juga merupakan hal penting. Material logam yang tidak sesuai dikhawatirkan akan membuat kualitas produk pengeringan tidak sesuai target selain itu umur pakai juga lebih pendek. 
Pada material biomasa dengan ukuran partikel kecil, rotary dryer adalah alat pengering yang paling umum digunakan. Untuk alur atau arus pengeringan menggunakan cocurrent, bukan counter current berdasarkan sejumlah pertimbangan, yang lebih detail bisa dibaca disini. Pada pabrik wood pellet dan briquette dengan kapasitas besar maka rotary dryer biasanya beroperasi 24 jam sehari, sehingga perfomance atau kinerja rotary dryer menjadi sangat penting. Instalasi yang tidak memadai membuat perfomance rotary dryer tidak optimal dan umur pakai. Terjadinya banyak getaran dan putaran yang tidak seimbang indikasi instalasi rotary dryer tidak memadai dan membuat kinerja tidak optimal serta umur pakai rotary dryer lebih pendek. 

Rabu, 13 November 2019

Produksi CNSL dan Charcoal Briquette Dari Cangkang Mete


Indonesia merupakan penghasil mete terbesar di dunia setelah India, Vietnam, Afrika Timur, Afrika Barat dan Brasil. Produksi mete di Indonesia diperkirakan mencapai 131.302 ton dan tersebar ke sejumlah sentra-sentra produksi, antara lain Jawa Tengah,Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku. Hal yang masih disayangkan adalah ternyata sebagian besar produksi mete di Indonesia masih dalam mentah atau gelondongan (mete dengan cangkang/cashew in shell) yang mencapai 60% atau 78.781 ton, dan bukan dalam olahan seperti kupasan (mete tanpa cangkang) bahkan yang siap konsumsi. Untuk meningkatkan nilai tambah seharusnya mete yang dihasilkan diolah terlebih dahulu. Dengan pengolahan tersebut maka akan dihasilkan produk samping atau limbah berupa cangkang mete. Dengan produksi mete Indonesia 131.302 ton maka potensi cangkang mete yang dihasilkan mencapai 52.520,8 ton (40% dari mete). Walaupun cangkang mete bisa digunakan secara langsung untuk bahan bakar seperti halnya kayu bakar, tetapi apabila diolah juga akan memberi nilai tambah yang menarik.


Cangkang mete tersebut bisa diolah menjadi minyak cangkang mete (Cashew Nut Shell Liquid / CNSL) dan briket arang (charcoal briquette). Untuk mendapatkan CNSL dilakukan dengan ekstraksi mekanik sehingga terpisah minyak dan padatan berupa ampas cangkang mete. Minyak atau CNSL tersebut memiliki banyak manfaat karena bisa digunakan untuk berbagai bahan baku industri, seperti bahan pestisida nabati, pengawet kayu, oli rem mobil dan pesawat terbang, untuk bahan industri cat, bahan anti karat, lecquer, bahan pembungkus kabel, pembuatan kampas rem kendaraan bermotor, sebagai bahan bakar (yang renewable), dan perekat terbarukan untuk industri kayu. Rendemen minyak mete terhadap cangkang mete sekitar 20% artinya setiap ton cangkang mete dihasilkan 200 kg minyak cangkang mete (CNSL), jumlah yang cukup banyak dan memberi nilai tambah secara ekonomi. Sedangkan ampas cangkang mete tersebut selanjutnya dicetak menjadi briket dan diikuti proses pengarangan (karbonisasi). Kualitas briket arang yang dihasilkan dengan rute proses di atas juga akan lebih baik dibandingkan dengan cara dibuat arang terlebih dahulu selanjutnya dicetak menjadi briket dengan tambahan perekat.



Proses pengolahan kacang mete menjadi produk yang siap dikonsumsi membutuhkan energi untuk proses produksi. Dalam banyak industri, energi atau bahan bakar termasuk komponen biaya tinggi, sehingga upaya penghematan energi sangat biasa dilakukan pada banyak industri. Pada proses karbonisasi atau pengarangan briket tersebut akan dihasilkan limbah panas (waste heat) yang cukup banyak sehingga bisa digunakan untuk pengolahan kacang mete. Ketika faktor biaya produksi khususnya biaya energi bisa diminimalisir bahkan dieliminasi sama sekali maka produk olahan mete siap konsumsi menjadi semakin kompetitif dan menguntungkan. Pemanfaatan cangkang mete untuk produksi CNSL dan briket arang selain memberi nilai tambah secara ekonomi juga membuat industri pengolahan mete zero waste.

Minggu, 01 September 2019

Krisis Air, Bioeconomy dan Perubahan Iklim

Krisis air adalah bagian dari bencana lingkungan yang sangat mempengaruhi kehidupan semua makhluk hidup termasuk manusia. Bencana-bencana lingkungan seperti krisis air juga ada penyebabnya. Penyebab utama hal tersebut akibat kerusakan lingkungan akibat ulah tangan-tangan manusia. Apabila lingkungan tidak dijaga keseimbangannya maka terjadilah sejumlah bencana-bencana tersebut. Korban dari bencana tersebut juga tidak hanya menimpa pelaku pengrusakan lingkungan tetapi juga masyarakat lainnya. Penggundulan hutan sehingga tanah menjadi tandus dan gersang adalah penyebab utama krisis air tersebut. Pada musim kemarau berakibat krisis air dan pada musim penghujan berpotensi banjir dan tanah longsor. Penggundulan hutan maupun penebangan illegal pada umumnya sangat berkaitan dengan kepentingan ekonomi dan mengabaikan aspek lingkungan.

Saat musim kemarau seperti saat ini, banyak kita temui daerah-daerah yang kekeringan bahkan sejumlah daerah terjadi kebakaran hutan. Secara lebih teknis dan detail kekeringan tersebut menyebabkan debit pasokan air bersih dari sumber air menurun, level air danau atau waduk tempat penampungan air menurun, sumur-sumur mengering demikian juga sungai-sungai. Sejumlah daerah bahkan terjadi penurunan supply dan level air yang sangat mencolok. Tidak ada satupun makhluk hidup yang bisa hidup tanpa air, karena air adalah kebutuhan vital bagi makhluk hidup, bahkan dalam Al Qur'an dijelaskan bahwa Allah SWT menciptakan makhluk hidup dari air (QS Al-Anbiya, ayat 30), tubuh manusia sendiri 70% adalah air.


Begitu banyak lahan-lahan kritis, lahan-lahan marjinal, hingga lahan-lahan tidur yang tidak dimanfaatkan, dan lahan-lahan tersebut akan semakin rusak seperti terjadi penggurunan (desertifikasi) dan potensi menimbulkan berbagai bencana. Hal ini seharusnya ditanggulangi sehingga potensi bencana bisa diminimalisir. Lebih jauh dari itu seharusnya lahan-lahan tersebut juga bisa memberi manfaat ekonomi sehingga pengrusakan hutan juga bisa ditanggulangi. Ketika masyarakat telah mampu mandiri secara ekonomi dengan memanfaatkan lahan-lahan tersebut maka hutan lindung bisa terjaga dengan baik. Solusi untuk permasalahan lingkungan sekaligus aspek ekonomi adalah solusi jitu dan dibawah ini ada 2 skenario yang bisa dilakukan, yakni pertama, kebun bambu untuk biomaterial dan kebun energi untuk supplai energi biomasa. Selain faktor penggundulan hutan, krisis air juga sebagai akibat perubahan iklim. Tingginya konsentrasi CO2 di atmosfer mempengaruhi perubahan iklim tersebut dan solusi pembuatan kebun-kebun tersebut juga sebagai media menyerap CO2 dari atmosfer.


Bambu sebagai biomaterial

Pohon bambu sudah sangat familiar bagi hampir semua masyarakat dan banyak masyarakat yang masih memanfaatkan bambu hingga kini. Tetapi pemanfaatan bambu sebagian besar masih pada berbagai produk yang memiliki nilai tambah yang rendah sehingga secara ekonomi kurang menarik. Pohon bambu juga memiliki potensi besar untuk dibuat perkebunan besar dengan prioritas utama untuk perbaikan lingkungan dan prioritas kedua sebagai sumber bahan baku biomasa untuk biomaterial. Perkebunan bambu untuk perbaikan lingkungan karena perkebunan tersebut mampu mencegah erosi, menyerap CO2 dari atmosfer, sumber O2 dan mampu mengangkat air tanah sehingga membantu ketersediaan air. Walaupun pada dasarnya semua pohon mampu menyerap dan menahan air, tetapi pohon bambu memiliki kemampuan di atas rata-rata yakni bisa mengangkat permukaan air tanah rata-rata 10  meter dalam 20 tahun atau 0,5 meter setiap tahunnya. Krisis air yang terjadi bisa sehingga direduksi atau dieliminasi dengan pembuatan perkebunan bambu tersebut.

Perkebunan bambu juga sangat efektif untuk penyediaan biomasa bahan baku biomaterial. Ketika pohon bambu telah berusia 5 tahun maka setiap bulan dari rumpunnya bisa dipanen batang bambu setiap bulan hingga masa produktif mencapai umur 60 tahun tanpa perlu replanting. Sedangkan untuk kayu dari pohon lainnya, umumnya dibutuhkan waktu 10 tahun bahkan lebih untuk bisa dipanen satu kali dan replanting untuk siklus selanjutnya. Periodisasi panen setiap bulan dengan panen 10 tahun sekali akan berdampak signifikan pada jumlah tenaga kerja yang diserap. Selanjutnya pemanfaatan bambu sehingga menghasilkan produk-produk bernilai ekonomi tinggi adalah hal penting dilakukan. Produk-produk seperti komposit bambu, tekstil bambu, dan flooring, adalah sejumlah pemanfaatan bambu bernilai ekonomi tinggi. Kualitas komposit bambu istimewa demikian juga tekstil bambu. Import bahan baku tekstil yang masih dominan hari ini juga bisa direduksi dengan tekstil bambu tersebut. Perkebunan dan pengolahan bambu bisa menjadi suatu model bioeconomy dan untuk lebih detail bisa dibaca disini, dan disini, serta lebih lanjut bambu sebagai biomaterial bisa dibaca disini.


Kebun energi untuk menyuplai energi biomasa

Walaupun saat ini hampir semua produsen energi dari biomasa sebatas memanfaatkan limbah pengolahan kayu, penggergajian kayu maupun limbah pertanian, tetapi karena supplai dari limbah-limbah tersebut terbatas dan fluktuatif, maka sulit diandalkan untuk supplai kapasitas besar dan berkesinambungan. Dalam jangka waktu yang tidak lama lagi diperkirakan kebun energi akan menggantikannya. Kebun energi dengan tanaman rotasi cepat adalah solusi ideal untuk supplai energi dalam jumlah besar dan berkesinambungan tersebut. Wood pellet adalah salah satu produk yang bisa dibuat dari kebun energi tersebut. Permintaan wood pellet di pasar internasional semakin meningkat seiring kesadaran masalah lingkungan. Wood chip sebagai produk yang lebih sederhana juga bisa dibuat jika pengguna bahan bakar biomasa berdekatan dengan kebun energi.

Dalam skala yang lebih kecil, kayu dari kebun energi juga bisa untuk produksi briquette dan charcoal briquette. Kebutuhan briquette tidak sebanyak pellet dan charcoal briquette terutama hanya untuk barbeque. Produk charcoal briquette atau lebih populer dengan nama sawdust charcoal briquette memiliki pasar besar terutama untuk daerah Timur Tengah, Arab Saudi dan Turki. Daun dari kebun energi juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak, seperti domba, kambing, sapi dan kerbau. Daun tersebut juga memiliki kandungan protein yang tinggi sehingga menjadi pakan bergizi bagi ternak-ternak tersebut. Padang penggembalaan juga bisa dibuat di area kebun energi sehingga usaha peternakan menjadi efektif dan efisien, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Ditinjau dari aspek lingkungan kebun energi juga berperan dalam penyerapan CO2, mencegah erosi dan konservasi air. Bahkan akar dari tanaman kebun energi yang bisa menyerap N2 dari atmosfer akan semakin menyuburkan tanah tersebut.
Apabila manusia bisa memanfaatkan tanah secara optimal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menjaga keseimbangan, merawat dan tidak merusaknya, maka bencana seperti krisis air dan tanah longsor, insyaAllah tidak akan terjadi. Memanfaatkan dengan tetap menjaga lingkungan secara bijaksana sehingga bisa terus berkembang dan berkelanjutan juga sebagai wujud rasa syukur terhadap nikmat Allah SWT sehingga nikmat-nikmat tersebut tersebut ditambah oleh-Nya.
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."  (QS Al A'Raf : 96)

Kamis, 11 April 2019

Limbah Sagu Untuk Sawdust Charcoal Briquette

 
Hutan sagu tersebar terutama di kawasan Indonesia, Malaysia dan Philipina dengan Indonesia khususnya Papua sebagai pemilik hutan sagu terbesarnya dengan luas hutan mencapai 1,2 juta hektar atau hampir 50% dari luasan dunia. Walaupun sudah mulai dibuat perkebunan sagu tetapi sebagian besar masih berupa hutan-hutan. Pada daerah yang telah membuat perkebunan sagu, pengolahan produk sagu yang dihasilkan juga lebih baik. Sagu memiliki peran sangat penting dalam ketahanan pangan, khususnya daerah-daerah seperti Maluku dan Papua. Daerah-daerah tersebut juga sudah turun menurun makan sagu sebagai makanan pokoknya. Ketahanan pangan menurut UU  No 7 tahun 1996 dan PP 68 tahun 2002 adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Selain itu pohon sagu juga memiliki manfaat lingkungan seperti menahan erosi, penyerapan air dan penghijauan. Konversi pangan dari sagu ke beras akan mendorong konversi hutan sagu ke persawahan dan itu berarti juga menghilangkan manfaat lingkungan dari hutan sagu. Hilangnya manfaat lingkungan dari hutan sagu juga berarti mengundang potensi bencana alam. Seharusnya tidak perlu untuk konversi pangan dari sagu ke beras untuk daerah-daerah tersebut tetapi justru mengembangkan dan melestarikan potensi pohon sagu di daerah-daerah tersebut dan bahkan sangat dimungkinkan sebagai komoditas export. Berdasarkan sejumlah analisa bahwa penggunaan sagu dari lokasi setempat akan mampu swasembada pangan di daerah tersebut, misalnya di Maluku dan Papua. 

Pemanfaatan sagu terutama untuk produksi karbohidrat sebagai bahan pangan pokok. Pati sagu diambil dari bagian batang sagu yang diekstrak sehingga terpisah pati sagu dan ampasnya. Pada sejumlah daerah proses mengekstrak pati sagu masih sangat sederhana, yakni batang sagu diambil bagian yang kaya sagunya, dikecilkan ukurannya  misalnya dengan diparut lalu dicampur air lalu diremas-remas dengan tangan dan didapat pati sagu dari pengendapan hasil perasan tersebut. Dengan bantuan alat mekanik proses ekstraksi tersebut bisa lebih mudah dan cepat. Proses produksi sagu menghasilkan sejumlah limbah biomasa yang sebenarnya juga memiliki potensi ekonomi. Limbah kulit batang sagu dan ampas sagu adalah bahan potensial untuk produksi sawdust briquette charcoal. Saat ini sebagian besar limbah tersebut masih belum dimanfaatkan dan hanya mencemari lingkungan.



Proses produksi sawdust charcoal briquette dari limbah sagu tersebut juga hampir sama dengan produksi sawdust charcoal briquette dari bahan baku limbah-limbah kayu pada umumnya. Kulit batang sagu perlu dikecilkan ukurannya (size reduction) seukuran serbuk gergaji sedangkan untuk ampas tebu tidak perlu karena ukuran partikelnya sudah relatif kecil. Tahap selanjutnya adalah pengeringan dengan alat pengering dan yang paling banyak digunakan saat ini yakni rotary (drum) dryer. Setelah material sudah cukup kering selanjutnya disimpan sementara selanjutnya diumpankan ke mesin briket (screw extruder) dan dihasilkan sawdust briquette. Pada tahap ini tahapan proses produksinya sangat mirip dengan produksi wood pellet, bedanya untuk produksi sawdust briquette menggunakan screw extruder, sedangkan untuk wood pellet dengan pelletiser. Untuk menjadi sawdust charcoal briquette tahap selanjutnya yakni sawdust briquette selanjutnya diarangkan dalam tungku pengarangan (karbonisasi) yang memakan waktu sekitar 10 hari.

Mengapa tidak produksi wood pellet saja? Pertanyaan wajar dan masuk akal. Walaupun limbah sagu tersebut bisa digunakan untuk produksi wood pellet, tetapi kandungan klorin yang cukup tinggi membuatnya kurang bisa diterima, terutama untuk pasar export yang end usernya adalah pembangkit listrik. Apabila wood pellet dari limbah sagu ditujukan untuk pasar dalam negeri untuk pemakaian pada sejumlah UKM juga tidak masalah. Sementara keterserapan pasar dalam negeri yang masih kecil, maka sebagian produsen wood pellet masih prioritas untuk pasar export dengan persyaratan spesifikasi teknis cukup ketat. Berdasarkan kondisi tersebut produksi sawdust charcoal briquette lebih menjadi pilihan, dan disamping itu peralatan produksi sawdust charcoal briquette hampir 100% telah bisa dibuat di dalam negeri.

Selasa, 29 Januari 2019

Pemanfaatan Limbah Kayu Land Clearing Untuk Sawdust Charcoal Briquette

Luas kebun sawit di Indonesia terus bertambah setiap tahun. Kebutuhan CPO maupun PKO terus meningkat sepanjang tahun. Hal tersebut seiring dengan semakin meningkatnya minyak makan (edible oil) dan juga energi dunia khususnya energi terbarukan. Perluasan kebun sawit banyak dilakukan dengan cara membuka hutan (land clearing), yang tentu saja harus legal atau mendapat ijin dari yang berwenang. Pembukaan hutan tersebut menghasilkan banyak kayu limbah yang seharusnya tidak terbuang percuma tetapi memberi keuntungan. 

Para calon pengusaha sawit ataupun pengelola HTI juga berpikir keras untuk pemanfaatan kayu limbah menjadi produk yang menguntungkan. Hal itu selain jumlah kayu limbah tersebut banyak jumlahnya, juga mindset pengusaha untuk memaksimalkan keuntungan kalau bisa didapatkan dalam waktu singkat. Sebagai contoh misalnya setiap 1 hektar menghasilkan 50 ton limbah kayu, maka untuk 10.000 hektar akan dihasilkan 500.000 ton limbah kayu, suatu jumlah yang sangat banyak tentunya.

Salah satu pemanfaatan limbah kayu tersebut sehingga memberi keuntungan ekonomi adalah dengan produksi sawdust charcoal briquette. Sawdust charcoal briquette memiliki pasar yang masih sangat terbuka yakni untuk Turki, Timur Tengah dan Arab Saudi, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Untuk menghasilkan produk sawdust charcoal briquette berkualitas tinggi maka faktor konsistensi bahan baku harus terpenuhi. Limbah kayu dari pembukaan hutan tersebut bisa dikelompokkan yakni jenis kayu lunak dan kayu keras. Selanjutnya untuk bahan baku sawdust charcoal briquette tersebut komposisi kayu lunak dengan kayu keras harus diusahakan sedemikian rupa sehingga bisa tetap atau konsisten. 



Kualitas sawdust charcoal briquette dari kayu-kayu limbah hutan ini seharusnya juga tidak akan kalah dengan sawdust charcoal briquette yang dibuat dari limbah-limbah kayu  industri pengolahan maupun dari penggergajian kayu. Dengan kualitas yang bersaing dengan produk sawdust charcoal briquette berbahan limbah-limbah kayu industri pengolahan dan penggergajian kayu, maka otomatis harga jual dari sawdust charcoal briquette dari limbah kayu hutan juga bersaing. Nah, masalahnya bagaimana produksi sawdust charcoal briquette dari limbah kayu hutan bisa dilakukan? Bukankah itu membutuhkan listrik? Bagaimana mendapatkan listrik di tengah hutan?

Listrik tersebut adalah hal vital untuk produksi sawdust charcoal briquette tersebut. Listrik dari PLN adalah mustahil untuk lokasi tersebut, sedangkan apabila dengan minyak diesel (solar) sebagai bahan bakar penggerak generator harganya mahal, yakni sekitar Rp 15.000,- untuk setiap liternya. Solusinya bisa dengan produksi listrik dengan limbah kayu itu sendiri. Hal itu berarti sebagian limbah kayu digunakan untuk produksi sawdust charcoal briquette dan sebagian untuk produksi listrik. Gasifier atau teknologi gasifikasi bisa digunakan untuk produksi listrik dari pengolahan limbah kayu hutan tersebut. Limbah kayu hutan dibuat chip dan digunakan untuk bahan bakar gasifier tersebut. 


 
Dengan rata-rata setiap hektar menghasilkan kayu bulat diameter besar  (lebih dari 30 cm) 300 m3 maka untuk setiap luas 1000 hektar akan dihasilkan kayu bulat (log) yang langsung bisa dijual khususnya untuk bahan baku industri perkayuan seperti plywood dsb yakni sebanyak 300.000 m3. Sedangkan kayu ukuran kecil dengan diameter kurang dari 30 cm setiap hektarnya akan dihasilkan sekitar 50 m3 atau setiap 1000 hektar menjadi 50.000 m3. Kayu-kayu berdiameter kecil ini sebagian besar hanya dibuang atau dibiarkan membusuk saja di dalam hutan, tentu saja hal ini sangat disayangkan. Produksi sawdust briquette maupun sawdust charcoal briquette bisa menjadi solusi jitu akan hal ini. Dengan rata-rata setiap hari pengelola HTI memanen atau menebang kayu seluas 4 hektar atau 100 hektar/bulan maka limbah kayu bulat diameter kecil basah (moisture content ~50%) yang dihasilkan sekitar 7.000 - 8.000 ton/bulan atau 5.000 m3/bulan.  

Salah satu hal yang crucial pada produksi sawdust briquette ataupun sawdust charcoal briquette dari bahan baku batang kayu adalah pembuatan serbuk kayu yang ukuran partikelnya seperti sawdust untuk bahan baku pabrik briquette tersebut. Pemilihan mesin berkualitas (sawdust making machine) sehingga menghasilkan produksi serbuk kayu seukuran sawdust sesuai kebutuhan sangat penting karena ketersediaan bahan baku mutlak dibutuhkan untuk keberlangsungan suatu industri. Produksi sawdust briquette maupun sawdust charcoal briquette membutuhkan konsistensi bahan baku sehingga komposisi serbuk kayu bahan baku perlu dijaga. Penggunaan satu macam jenis kayu tentu lebih mudah dibandingkan penggunaan berbagai macam jenis kayu terkait menjaga konsistensi campuran komposisi bahan baku tersebut.  
Lalu bagaimana untuk bisnis jangka panjang untuk sawdust charcoal briquette ? Apakah juga berarti selesai setelah kayu limbah pembukaan hutan tersebut habis? Tentu saja ada sejumlah hal bisa dilakukan untuk terus menjaga bisnis sawdust charcoal tersebut terus berlanjut. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan membuat kebun energi dari tanaman jenis rotasi cepat sebagai sumber bahan baku sawdust charcoal briquette tersebut. Tanaman rotasi cepat yang bisa ditanam sebagai contohnya adalah kaliandra, untuk penjelasan lebih detail bisa dibaca disini.

Rabu, 01 Februari 2017

Produksi Arang, Pemasaran dan Penggunaan


Kualitas arang yang bagus akan mampu mempertahankan struktur kayu. Pada arang bongkahan (charcoal lump) khususnya pada kayu lunak, lingkaran struktur akan terlihat jelas. Kualitas arang yang bagus harus padat, warna hitam dan memiliki sedikit retakan secara melingkar. Arang tersebut akan menghasilkan bunyi nyaring ketika dijatuhkan. Kelembaban yang tinggi dari kayu akan membuat kualitas arang menurun karena timbulnya banyak retakan (cracks). Demikian juga ketika kayu mengalami pengeringan berlebihan sehingga uap air merusak struktur kayu, maka kualitas arang juga akan menurun yakni rapuh dan banyak retakan. Selain itu juga dengan mudah terbakar tanpa bau maupun asap. Arang juga bersifat higroskopis, yakni dengan mudah mengikat air dari udara, khususnya pada musim penghujan. Itulah mengapa arang harus disimpan ditempat kering atau dengan pallet dalam ruangan beratap.
Parameter kualitas utama lainnya dari arang adalah kekuatan (strength) yang mengurangi kehilangan material sewaktu bongkar – muat maupun transportasi. Spesies atau jenis kayu memiliki pengaruh signifikan pada kekuatan (strength) arang tersebut. Sebagai contoh arang kayu asam adalah salah satu arang terkuat, dan arang pinus termasuk arang yang rapuh. Arang paling padat dibuat dari batang pohon. Kualitas arang bagus akan terbakar dengan bersih dan memiliki nilai kalor berkisar 13.000 BTU/pound atau berkisar 1½ kali dari berat kayu kering. Kandungan abu yang rendah yang berkisar 2-3% membuatnya dipilih untuk bidang metallurgi dan bahan bakar rumah tangga. Kandungan sulfur dan phospor juga sangat rendah pada arang. Hal tersebut semakin mendorong penggunaan arang dalam bidang metallurgi, tetapi dengan ditemukan sumber karbon yang murah telah menggeser penggunaan arang dalam metallurgi. Produksi arang yang baik akan menghasilkan konversi 1/3 dari berat kayu dan volumenya mengecil menjadi sekitar ½ volume kayu.       

Arang telah menjadi produk penting selama bertahun-tahun dan mendapat penerimaan pasar yang baik. Penggunaan terbesar untuk bahan bakar memasak rumah tangga dan BBQ pada acara piknik atau rekreasi. Arab Saudi dan negara-negara Timur Tengah menggunakan arang dalam jumlah banyak untuk memanggang daging domba sebagai makanan penting bagi mereka. Selain itu arang juga digunakan untuk pembuatan carbon disulfide, carbon tetrachloride, sodium cyanide, calcium carbide, silicon carbide, potassium cyanide, carbon monoxide, black powder, plastics, gas adsorbent, crayons, pharmaceutical, poultry – animal feeds dan bahan kimia industri lainnya. Penggunaan besar lainnya adalah untuk produksi arang aktif (activated carbon). Penggunaan untuk industri lainnya adalah untuk steel heating (steel, pig iron, foundry molds) , nonferrous smelting (copper, brass, nickel, alumunium, electro manganese, armor plate etc) dan metal casehardening. Saat ini juga penggunaan arang untuk pertaninan (soil conditioner) juga mulai banyak dilakukan dan terutama untuk peningkatan produksi di sektor pangan. Sebuah pabrik besar yang integratif untuk recovery limbah kayu-kayu keras (hardwood byproduct recovery plant)  pernah dibangun dan beroperasi meliputi karbonisasi dan fasilitas pemurnian untuk produksi asam asetat, methanol dan arang dalam bentuk bongkahan (lump), briquette dan arang aktif, seperti photo dibawah ini.

Hardwood Byproduct Recovery Plants 

Biaya untuk investasi produksi arang tergolong murah, sehingga bisa dilakukan oleh industri kecil dan menengah. Tetapi kesuksesan usaha arang tidak serta merta ditentukan oleh murah biaya alat tetapi lebih pada studi aspek komersialnya seperti sumber dan biaya bahan baku, ketersediaan dan biaya tenaga kerja, dan aspek pasar untuk arang yang diproduksi. Bahan baku dan biaya tenaga kerja, operasional yang efisien dan kemampuan pemasaran adalah sejumlah faktor utama kesuksesan produksi arang.    
Beehive Kiln, tipe karbonisasi batch yang populer di era awal 1900an
Missouri Kiln, alat karbonisasi batch yang populer di tahun 1950an

Pada era awal tahun 1900an produksi arang dunia mengalami masa kejayaannya dengan produksi lebih dari 500 ribu ton. Daya dorong berupa tingginya kebutuhan asam untuk produksi tekstil dengan arang sebagai bahan baku produksi asam tersebut telah mendorong industri arang.  Sebagai akibatnya pabrik untuk produksi arang dan recovery produk samping menjadi mahal. Pada era ini crude liquor didapat dari kondensasi volatil. Crude liquor tersebut kemudian dimurnikan menjadi asam asetat murni dan metanol. Pada tahun antara 1910 dan 1940 produksi arang mengalami penurunan menjadi hampir ½ dari era awal 1900an yang diakibatkan material karbon lainnya menggantikan arang pada pembuatan logam-logam dan bahan kimia.
 



Biomasa khususnya kayu-kayuan memiliki kandungan terutama hemicellulose, celullose dan lignin. Hemicellulose berkontribusi pada non-condensable gas dan sedikit tar. Hemicellulose mulai terdekomposisi pada kisaran suhu 150 C dan terdekomposisi secara keseluruhan diatas 180 C. Celullose terutama berkontribusi pada condensable vapor dan mulai terdekomposisi pada 275 C. Hemicelullose dan celullose inilah sumber utama material volatil. Sedangkan lignin memiliki tingkat dekomposisi lebih sulit daripada hemicellulose dan celullose. Lignin mulai terdekomposisi pada 280 C , puncaknya dikisaran suhu 350 – 450 C dan memiliki kontribusi yang besar pada pembentukan arang dan senyawa aromatik.  Produksi arang membutuhkan heating rate yang rendah dengan durasi waktu lama dan suhu relatif rendah, yakni 450 C. Selama pirolisis atau karbonisasi produksi gas juga bervariasi seiring perubahan suhunya. Gas CO2 (karbondioksida) memiliki konsentrasi yang tinggi pada suhu rendah dan menurun seiring peningkatan suhu. Gas-gas hidrokarbon akan keluar maksimal pada suhu 450 C dan turun diatas 500 C,  setelah itu gas hidrogen mulai terbentuk. Hidrogen sendiri terutama terbentuk pada suhu 700 – 950 C.

Produksi Arang Secara Tradisional
Skema Proses Karbonisasi Semi-Kontinyu
Produksi Arang Secara Kontinyu Cocok Untuk Material Curah (bulk material)
Proses produksi arang secara tradisional membutuhkan waktu lama hingga berminggu-minggu. Proses semi-kontinyu hanya membutuhkan waktu relatif singkat yakni 20an jam saja, sedangkan proses kontinyu lebih cepat lagi. Produksi arang dari kayu-kayu gelondongan atau kayu-kayu bulat atau dari wood briquette akan cocok dengan semi-kontinyu, sedangkan bahan baku curah akan lebih cocok dengan proses kontinyu. Kiln tipe semi-kontinyu menggunakan supplai panas melalui dinding dan after-burning pirolisis produk, dapat digunakan untuk produksi arang tersebut. Dua buah ruangan yang digunakan secara bergantian yakni pada mode pengeringan (drying) dan mode pirolisis atau karbonisasi membuat proses berjalan secara efektif sehingga tidak lagi membutuhkan bahan bakar tambahan (eksternal) dalam proses karbonisasinya. Panas eksothermal proses pirolisis tersebut berkisar 1000 sampai 1150 KJ, membuatnya cukup (ketika tidak ada heat losses) membuat proses pirolisis tersebut berjalan tanpa tambahan bahan bakar eksternal. Kontrol kondisi operasi baik berupa heating rate, suhu dan waktu tinggal pada proses semi-kontinyu juga lebih akurat sehingga kualitas produk arang bisa dijaga dengan baik.         

Senin, 17 Oktober 2016

Sawdust Charcoal Briquette dan Konsumsi Domba Di Arab Saudi dan Timur Tengah


Konsumsi domba khususnya di Arab Saudi setiap tahunnya berkisar 8 juta ekor, dengan ¼-nya di saat musim haji. Negara-negara pengeksport domba ke Arab Saudi saat ini terutama dari tiga negara Afrika, yakni Somalia, Sudan dan Djibouti. Negara-negara di Afrika tersebut kering dan kurang subur dibanding Indonesia, tetapi dengan cara menggembala domba-domba tersebut di padang-padang  rumput yang tersedia, membuat produksi domba disana melimpah. Indonesia dengan kesuburan dan luasnya hamparan tanahnya sudah sepantasnya bisa menjadi negara exportir domba terbesar. Dengan meningkatkan efektivitas dan efisiensi lahan serta yang paling penting mindset bahwa sangat besar potensi Indonesia yang mendukung ke arah tersebut maka insyaAllah hal tersebut menjadi sangat mungkin diwujudkan.


Daging domba dengan diolah dengan dipanggang adalah masakan favorit di Arab Saudi dan Timur Tengah. Kebutuhan sawdust charcoal briquette yakni briket arang dari serbuk gergaji melonjak terus meningkat seiring tingginya konsumsi daging domba di Arab Saudi dan Timur Tengah. Sebagian besar produksi sawdust charcoal briquette berasal dari Indonesia, dan seiring kebutuhan yang semakin meningkat banyak pabrik-pabrik sawdust charcoal briquette dibangun untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Para pembeli berebut untuk bisa mendapat produk ini karena tingginya permintaan. Saat ini hampir semua pabrik-pabrik sawdust charcoal briquette menggunakan serbuk gergaji ataupun limbah-limbah kayu sebagai bahan bakunya. Daerah-daerah yang kaya bahan baku sangat potensial untuk mengembangkan komoditas ini mengingat tingginya kebutuhan.



Produk sawdust charcoal briquette memiliki berbagai kelebihan dibandingkan arang kayu biasa antara lain lebih padat, bentuk dan ukuran seragam, kualitas arangnya dan nyala api lebih lama. Bentuk yang padat dengan bentuk dan ukuran seragam inilah yang membuat mudah dikemas dan ekonomis dalam transportasi.  Proses produksinya secara sederhana setelah bahan baku tersebut dibriketkan lalu di arangkan (karbonisasi batch) selama beberapa hari. Produk arang selanjutnya diambil dan dipilah berdasarkan grade kualitasnya, untuk selanjutnya dikemas dan siap diexport. Ketika bahan baku berupa serbuk gergajian dan limbah-limbah kayu masih tersedia, maka produksi sawdust charcoal briquette bisa terus berjalan. Sedangkan apabila ketersediaan bahan baku tersebut diatas mengalami kelangkaan sebaiknya diupayakan mencari bahan baku lainnya, misalnya dengan membuat kebun kaliandraKaliandra adalah tanaman rotasi cepat, yang hanya butuh sekitar 1 tahun panen sehingga keberlangsungan pasokan bahan baku tidak terganggu. Grade-grade atau pengelompokan kualitas sawdust charcoal briquette seperti gambar dibawah ini :

Grade A : Panjang lebih dari 10 cm dan halus (tidak retak)


Grade B : Panjang lebih dari 10 cm dengan sedikit retak
Grade C : Panjang 5-10 cm dengan permukaan halus atau retakan kecil

Grade D : Panjang 5-10 cm dengan permukaan kasar dan retakan sedang


Grade E (Reject) : Panjang rata-rata kurang dari 5 cm, permukaan kasar dan banyak retakan sehingga rapuh



Buah Kelapa Reject (Non- Standard) untuk Produksi Bioavtur / SAF

Organisasi penerbangan sipil internasional / International Civil Aviation Organization (ICAO) telah memasukkan kelapa non-standar di dalam p...