Rotary dryer atau drum dryer adalah jenis pengering yang umum digunakan pada industri biomasa yakni pabrik wood pellet dan wood briquette. Keunggulan rotary dryer karena konstruksi sederhana, mudah dalam operasionalnya dan kapasitas pengeringan cukup besar. Ada 2 point penting yang harus diperhatikan pada penggunaan pengering rotary dryer: 1. Pola aliran pemanasan, single pass atau triple pass drum; 2. Type alat untuk kontrol emisi, seperti sistem multiple cyclone atau jenis lainnya. Kedua hal tersebut selain akan berpengaruh efisiensi pengering juga terkait aspek lingkungan. Dalam prakteknya di Indonesia hampir semua rotary dryer menggunakan single pass dengan aliran searah (co-current) dengan material yang akan dikeringkan. Multi-cyclone dengan cyclone juga berfungsi sebagai penampung sementara (temporary storage) juga banyak ditemui.
Tampilkan postingan dengan label gasifikasi biomasa untuk panas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gasifikasi biomasa untuk panas. Tampilkan semua postingan
Selasa, 12 September 2017
Meningkatkan Efisiensi Pengering Pada Pabrik Wood Pellet Dan Wood Briquette
Jumat, 13 September 2013
Revitalisasi Pengeringan Padi Dengan Gasifikasi Sekam
Pertanian padi yang baik akan melakukan panen padi sebanyak
3-4 kali dalam setahun. Ketika panen padi terjadi pada musim hujan, pengeringan
padi hingga siap giling menjadi beras menjadi masalah penting dank arena
tanaman padi dalam pertumbuhannya memerlukan banyak air maka kebanyakan panen
raya jatuh pada musim penghujan.
Sejumlah daerah di Indonesia juga mempunyai curah hujan yang tinggi
sehingga pengeringan gabah semakin sulit. Pada musim penghujan tersebut
pengeringan dengan penjemuran di hamparan lantai dan semacamnya membutuhkan
waktu 3-4 hari dengan secara berkala tumpukan gabah tersebut dibolak-balik. Pembolak-balikan
tumpukan gabah membuat pengeringan lebih cepat dan merata. Biaya produksi untuk
proses pengeringan pada musim penghujan tersebut berkisar Rp 150,-/kg gabah kering
dan sekitar Rp 50,-/kg gabah kering ketika musim kemarau.
![]() |
| Fixed Bed Paddy Dryer With Gasifier |
![]() |
| Continous Paddy Dryer |
Pengeringan gabah dengan alat pengering akan membuat
pengeringan lebih cepat dan tingkat kekeringan akurat. Waktu pengeringan
gabah membutuhkan 3-6 jam tergantung
laju alir udara pemanas, suhu pemanasan dan jumlah gabah yang dikeringkan. Pengering-pengering
padi saat ini yang umumnya adalah bantuan pemerintah baik berupa fixed bed
dryer yang bekerja secara batch ataupun
continous dryer yang bekerja secara kontinyu atau sinambung. Keduanya dirancang
menggunakan bahan bakar minyak (BBM) dan akibat mahalnya BBM yang sehingga
biaya produksinya membengkak. Hal
tersebut mengakibatkan hampir semua alat pengering padi tersebut ‘mangkrak’
(tidak beroperasi) dan apabila tidak diatasi maka alat-alat pengering tersebut
hanya akan menjadi monument atau besi tua. Modifikasi alat pengering padi
dengan gasifikasi berbahan bakar sekam akan membuat penghematan hingga
200-300%, sehingga sangat signifikan terhadap operasional alat pengering padi
tersebut dan masalah limbah sekam padi dari penggilingan gabah juga akan
teratasi. Biaya produksi pengeringan gabah diperkirakan akan menjadi sekitar Rp
50,-/kg gabah kering atau sama dengan kondisi musim kemarau.
![]() |
| Composition Of Rice husk Producer Gas |
Untuk keperluan pengeringan tersebut, gasifier tipe fixed
bed model downdraft (co-current) maupun
updraft (counter-current) sudah memadai. Untuk tipe
fixed bed ini, ketinggian reaktor gasifikasi berpengaruh terhadap lama waktu
operasi dari gasifier. Semakin tinggi reaktor, maka semakin lama waktu
operasinya. Pemanasan yang seragam dan
stabil juga bisa dicapai dengan gasifier
ini, berupa membakar gas sintetik terutama CO dan H2. Energi panas yang
dihasilkan dari gasifier merupakan fungsi diameter reaktor dan jumlah udara
yang digunakan untuk gasifikasi tersebut. Perbesaran diameter menjadi dua
kalinya akan meningkatkan jumlah energinya empat kalinya. Berdasar pengalaman diameter reaktor 0,4 m
memadai untuk pengeringan 4,5 ton gabah basah dan diameter 0,6 m untuk
pengeringan 6 ton gabah basah.
Rabu, 26 September 2012
Gasifikasi Biomasa Untuk Produksi Panas di UKM
| Photo diambil dari sini |
Sebagian
besar teknologi gasifikasi biomasa digunakan untuk menghasilkan panas. Gas dari gasifier ini dapat digunakan
sebagai bahan bakar pada berbagai alat-alat pemanas seperti pengering
produk-produk pertanian, sumber panas pembuatan batu bata, industri makanan, industri keramik,
industri kapur, ataupun pengeringan industri perkayuan. Di negara-negara
berkembang seperti Indonesia dapat mengurangi biaya bahan bakar secara
signifikan diberbagai lokasi terpencil dan bisa meningkatkan kehandalan supplai
bahan bakar pada industri-industri di pedesaan atau komunitas tersebut.
Karena artikel ini fokus pada penggunaan di usaha atau industri
kecil dan menengah, hanya reaktor type fixed bed saja yang diulas karena pada
skala besar gasifikasi biomasa biasanya akan menggunakan tipe fluidized bed
atau entrained flow. Perbedaan dengan reaktor tipe fixed bed sering
dikarakterisasi berdasarkan arah alirah gas ke reaktor (updraft, downdraft atau
horizontal) atau berturut-turut arah aliran padatan dan gas oksidatornya
(co-current, counter-current atau cross-current).
Pada ketiga tipe reaktor diatas, umpan berupa biomasa dimasukkan
dari puncak reaktor dan turun secara perlahan secara gravitasi. Sewaktu
bergerak turun, biomasa umpan gasifier tersebut bereaksi dengan udara (the
gasification agent), yang disuplai oleh udara dari blower dan dikonversi
menjadi gas yang bisa terbakar dalam seri oksidasi yang kompleks, reduksi dan
reaksi pirolisis. Abu diambil dari bagian bawah reaktor.
Model updraft gasifier banyak digunakan pada aplikasi ini. Gas yang dihasilkan banyak mengandung ter dari proses pirolisis, abu dan jelaga. Gas yang dihasilkan memang tidak sebersih pada gas yang dihasilkan dari downdraft gasifier, tetapi teknologi ini memiliki toleransi yang besar terhadap penggunaan umpan hingga kadar air tinggi. Aplikasi teknologi ini juga lebih sederhana daripada gasifikasi biomasa untuk bahan bakar mesin hingga produksi listrik atau power gasifier. Sedangkan Gasifier untuk menghasilkan panas ini dikelompokkan dalam heat gasifier.
Beberapa tempat menggunakan model downdraft gasifier untuk memproduksi panas (heat gasifier). Pertimbangan menggunakan model tersebut antara karena umpan (feedstock) yang relatif seragam baik nilai kalor, ukuran, kadar air dan kadar abu, misalnya menggunakan limbah dari industri mebel, yang panas dihasilkan bisa digunakan di industri yang bersangkutan sebagai bagian dari efisiensi energi seperti cotoh disini.
Peluang pemanfaatan teknologi ini juga sangat terbuka mengingat potensi limbah biomasa yang berlimpah dan kebutuhan energi berupa panas dari UKM-UKM tersebut. Fluktuasi harga bahan baku berupa limbah biomasa dan ketersediaannya hampir bukan masalah serius, apalagi di sejumlah tempat berdekatan dengan pertanian, perkebunan dan kehutanan, yang aktivitas usahanya banyak dihasilkan limbah biomasa.
Bila menggunakan umpan yang nilai kalornya tinggi seperti kayu-kayu keras, tempurung kelapa atau cangkang sawit maka 1 liter bensin atau solar seperti skema diatas akan sama dengan 2,5-3 kg.
Langganan:
Postingan (Atom)
Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit
Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...
-
Sejak pakan ternak menjadi komoditas perdagangan atau produk komersial dimulai pada awal 1800an ketika alat transportasi dan penggerak alat-...
-
Aspek pasar adalah faktor penting bagi suatu produksi, tidak terkecuali wood pellet . Pengenalan terhadap karakteristik pasar yang baik, j...
-
EFB (empty fruit bunch) atau tandan kosong kelapa sawit banyak dihasilkan oleh pabrik-pabrik sawit dan bahkan cenderung menjadi limbah yan...











