Tampilkan postingan dengan label gembala domba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gembala domba. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2018

Mencari Harta Terbaik Dari Implementasi Kebun Energi Bagian 10

"Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. ” (QS 16:10)

Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.”(QS 20:54)

"Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput (lahan), air dan api (energi)". (HR. Sunan Abu Daud)

Peternakan domba dengan integrasi kebun energi untuk produksi charcoal briquette adalah suatu kombinasi menarik dan ideal. Hal ini karena peternakan domba tersebut akan menghasilkan kotoran yang bisa memupuk kebun energi, sedangkan limbah daun-daun dari kebun energi bisa sebagai pakan tambahan bagi peternakan domba tersebut. Selain itu charcoal briquette yang dihasilkan juga untuk memasak atau memanggang daging-daging domba tersebut. Hal itu terjadi jika domba-domba tersebut di export untuk pasar Arab Saudi, Turki dan Timur Tengah, demikian juga charcoal briquette-nya. Arab Saudi, Turki dan Timur Tengah sangat menyukai daging domba dan menjadi makanan favorite mereka dan charcoal briquette sebagai bahan bakar untuk mengolahnya dengan cara dibakar atau dipanggang seperti sate, lebih detail bisa dibaca disini.


Kebun energi kaliandra dan peternakan domba bisa dibuat dalam satu lokasi, yakni peternakan domba berada dalam kebun energi tersebut, misalnya lahan tersedia 500 hektar, maka kebun energi seluas 450 hektar dan 50 hektar untuk peternakan domba. Peternakan domba tersebut berupa padang gembalaan yakni padang rumput yang dikelola untuk peternakan domba tersebut. Penggembalaan rotasi (rotation grazing) adalah teknik penggembalaan efektif yang bisa diterapkan pada peternakan domba tersebut. Dengan teknik penggembalaan rotasi, salah satu kamar (paddock) digunakan untuk penggembalaan dan kamar-kamar lainnya diistirahatkan supaya rumput bisa pulih kembali. Dengan teknik ini kondisi rumput selalu terjaga dan domba-domba bisa memaksimalkan memakan rumput dalam kamar (paddock) tersebut.
Kaliandra adalah jenis tanaman rotasi cepat, sehingga hanya butuh waktu 1 tahun dan sudah bisa dipanen kayunya dan selanjutnya bisa setiap tahun dipanen tanpa harus menanamnya (replanting) lagi setiap tahun. Hal tersebut karena kaliandra tersebut adalah tanaman trubusan (coppice) yang bisa tumbuh lagi tunasnya dari sisa batangnya (tunggak : bahasa Jawa). Kayu-kayu hasil kebun kaliandra tersebut untuk produksi charcoal briquette. Peternakan lebah madu juga bisa dibuat pada kebun energi tersebut. Bunga-bunga kaliandra adalah sumber madu berkualitas tinggi, sehingga harganya juga mahal. Peternakan lebah madu ini menjadi tambahan unit usaha yang menarik bagi peternakan domba dan produksi charcoal briquette.



Secara teknis ada dua route untuk produksi charcoal briquette, yakni route 1 dengan cara dibuat briket dulu dan selanjutnya diarangkan (karbonisasi). Dengan route 1  ini pembriketan tidak menggunakan perekat dan kepadatan lebih tinggi. Sedangkan route 2 yakni dengan cara kayu-kayu tersebut dibuat arang baru selanjutnya dibriketkan. Pada route 2 ini dibutuhkan perekat yakni kanji untuk merekatkan arang untuk menjadi briket. Kepadatan charcoal briquette dengan route 2 juga masih kalah dibandingkan route 1. Kualitas charcoal briquette route 1 lebih baik dibandingkan dengan route 2. Produk charcoal briquette route 1 inilah yang banyak permintaan dari Arab Saudi, Turki dan Timur Tengah. 

Minggu, 07 Oktober 2018

Hikmah Dari Pekerjaan Setiap Para Nabi & Rasul Yang Menggembala Kambing / Domba

~ Ibnu Hajar rahimahullah berkata, para ulama berkata, “Hikmah di balik penggembalaan kambing sebelum masa kenabian tiba adalah agar mereka terbiasa mengatur kambing yang nanti dengan sendirinya akan terbiasa menangani problematika manusia.”[Fathu Al Bari 1/144]

Para nabi berprofesi sebagai penggembala kambing semenjak kecil, agar mereka menjadi penggembala manusia pada waktu mereka besar. Sebagaimana Musa dan Muhammad serta para nabi lainnya shalawatullahi ‘Alaihim wa Salamuh, pada awal kehidupan mereka telah berhasil menjadi penggembala kambing yang baik, agar mengambil pelajaran setelah keberhasilan mengendalikan binatang ternak menuju keberhasilan mengurus anak cucu Adam dalam mengajak, memperbaiki dan mendakwahi mereka.[1] Agar sang da’i bisa sukses dalam berdakwah, maka perlu memiliki pengetahuan tentang pentingnya kesinambungan dan praktik secara langsung.

~ Dalam pekerjaan mengembala kambing terdapat pelajaran membiasakan diri untuk sifat menyantuni dan mengayomi. Tatkala mereka bersabar dalam mengembala dan mengumpulkannya setelah terpencar di padang gembalaan, mereka mendapat pelajaran bagaimana memahami perbedaan tabiat umat, perbedaan kemampuan akal. Dengan perbedaan tersebut maka yang membangkang mesti ditindak tegas dan yang lemah mesti disantuni.
Hal ini memudahkan bagi yang memiliki pengalaman seperti itu untuk menerima beban dakwah dibandingkan yang memulai dari langsung dari awal. Itulah awal pembelajaran bagi para Nabi dengan cara menghadapi tabiat yang berbeda, ada yang lemah, ada yang pincang dan bermaksud mendaki gunung, ada yang tidak mampu untuk melintasi lembah. Dari situ, dia mempelajari bagaimana meraih keinginan yang beragam sebagai pengantar untuk mengenal manusia dengan tujuan dan maksud yang juga beragam. [2]

~ Para Nabi mengembala kambing semenjak mereka kecil dan mereka menyandarkan kehidupan mereka melalui usaha mereka, memberikan pesan tentang pentingnya seorang da’i menggantungkan dirinya kepada Allah dan tidak menggantungkan hidupnya pada belas kasian orang lain.

Jika seorang menyandarkan dirinya kepada orang lain, maka akan terjadi basa basi, sementara dakwah tidak mengenal basa basi, dan seorang da’i mesti menjauhkan dirinya dari pemberian dan sedekah orang lain. Manusia tidak akan menerima dakwah orang yang pernah suatu hari menerima sedekah dan belas kasihannya, kemudian hari yang lain, dia menasehatinya dan memperingatinya agar tidak terlena dengan dunia. Oleh karena itu, rezeki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menjadi pembicaraan orang Quraisy, Rasulullah hidup di antara mereka dengan tidak meminta belas kasihan mereka, hal yang menyebabkan mereka setelah itu mengungkit jasa dan kebaikan mereka.

Foot Note:

[1] Assa’di, Al Mawahid Ar Rabbaniyah Minal Ayati Al Qur’aniyah, hal.149

[2] Ibnu Hajar, Fathu Al Bari 4/441

Sumber: Fikih Sirah, Prof.Dr.Zaid bin Abdul Karim az-Zaid, Penerbit Darussunnah

Kamis, 08 Maret 2018

Mencari Harta Terbaik Dari Implementasi Kebun Energi Bagian 5

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. ” (QS 16:10)

“Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.”(QS 20:54) 
Ada korelasi sangat positif antara pupuk organik kotoran ternak dengan produktivitas tanaman. Ketika peternakan terintegrasi dengan pertanian dan kehutanan, maka akan terjadi siklus tertutup berupa pemenuhan pupuk dan produktivitas tanaman. Dan begitu juga sebaliknya. Apabila pupuk khususnya pupuk organik tidak bisa dipenuhi, maka akibatnya pupuk anorganik yakni pupuk kimia yang akan menggantikan. Padahal dengan membuat siklus tertutup tersebut, maka akan mengeliminasi kebutuhan pupuk anorganik atau pupuk kimia tersebut. Selain menambah biaya, pemakaian pupuk kimia juga merusak atau meracuni tanah-tanah pertanian. Mata rantai atau integrasi peternakan dengan kehutanan, maupun dengan pertanian saat ini umumnya telah rusak dan terputus sehingga konsekuensinya ketergantungan pada pupuk kimia menjadi tinggi. Agroforestry dan peternakan khususnya penggembalaan domba itulah yang seharusnya dikembangkan, sehingga usaha tersebut akan optimal, ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable). 
Pada implementasi di kebun energi secara teknis domba-domba tersebut bisa langsung digembalakan pada kebun tersebut tetapi dengan memperhatikan usia pohon-pohon kebun energi sehingga prakteknya dibuat secara rotasi. Ketika pohon-pohon kebun energi telah cukup besar, maka domba-domba tersebut bisa dilepas dan digembalakkan di area tersebut, tetapi ketika pohon-pohon kebun energi masih kecil, maka domba tidak bisa digembalakkan di area tersebut, karena akan merusak pertumbuhan pohon-pohon tersebut. Teknik yang kedua adalah dengan membuat koloni domba diantara atau ditengah-tengah kebun energi tersebut. Pada area koloni domba tersebut selain tersedia kandang untuk dombanya juga tersedia area penggembalaan. Penggembalaan juga dibuat rotasi sesuai ketersediaan rumput atau pakan domba tersebut. Porsi rumput dari penggembalaan bisa dibuat rasio 50:50 dengan pakan hijauan, limbah kebun energi. Semua peternak juga tahu, khususnya peternak domba, bahwa pakan itulah bisa dikatakan komponen biaya utama usaha peternakan tersebut. Sehingga apabila pakan bisa dibuat semurah mungkin, maka otomatis margin keuntungan juga besar. Bayangkan jika pakan domba saja harus import dan mahal, padahal lahan untuk menggembala atau menumbuhkan rumput sangat luas, tentu ini suatu kebodohan. Kualitas pakan hijauan berupa rumput-rumputan dan dedaunan adalah pakan terbaik. Kandungan protein dari daun-daun leguminoceae pada kebun energi juga tinggi, sehingga menghasilkan pakan berkualitas tinggi dan konversi ke daging domba juga akan tinggi. 
Penggembalaan Rotasi (Rotational Grazing)
Rumput bisa tumbuh hampir dimana saja di Indonesia, karena beriklim tropis dan tanahnya subur. Kita tidak perlu susah-susah menanam rumput-rumput tersebut, bahkan pada banyak kasus membersihkan rumput malah menjadi masalah tersendiri. Di negara-negara yang kering seperti Mesir untuk mendapatkan rumput, maka petani perlu menanam dan merawatnya. Seharusnya kita bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat-nikmat tersebut. Pada kebun energi dan peternakan domba skala besar, faktor irigasi atau pengairan adalah hal sangat penting. Allah SWT menciptakan yang hidup dari air. Rumput-rumput juga akan mengeringkannya dan mati ketika tidak ada air, begitu pula pohon-pohon kebun energi-walaupun jenis pohon tersebut sangat efisien dalam penggunaan air. 
Kitab Al Filaha, Kitab Pertanian Fenomenal Zaman Kekhalifahan Umayyah di Andalusia
Yang Menjadi Rujukan Eropa Selama Berabad-Abad.
Sistem irigasi yang baik harus dibangun pada area tersebut dan  itu bukan pekerjaan yang sulit. Pada kekhalifanan Bani Umayyah di Andalusia saluran-saluran air telah dibangun bahkan dari sumber yang jauh dan bergunung-gunung, untuk mencukupi kebutuhan air kota tersebut, termasuk pertanian dan peternakan mereka. Curah hujan di Andalusia (Spanyol hari ini) juga rendah. 640 mm/tahun, sedangkan Indonesia rata-rata 2700 mm/tahun tetapi pertanian dan peternakan sangat maju, bahkan menjadi rujukan Eropa berabad-abad setelahnya. Peradaban Islam di Andalusia tersebut tidak hanya keindahan bangunan masjidnya, istananya, tata ruang perkotaan, sains, tetapi juga ekonomi dan kemakmurannya yakni pemenuhan pangannya dari pertanian dan peternakan mereka. Sejarah senantiasa berulang, dan kita bisa mengupayakannya dengan mengkaji peradaban Islam tersebut dan mengetahui faktor-faktor apa saja yang mendukungnya. Sedangkan di era kontemporer, kita bisa melihat Belanda dengan jaringan irigasinya telah mampu mendongkrak bioeconominya, baik sektor pangan, energi dan material. Bioeconomi berbasis pada hewan dan tumbuhan sebagai obyeknya, yang Allah SWT menciptakan dari air,: “…Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman ?” (QS 21: 30),  sehingga memenuhi kebutuhan air akan mengoptimalkan pertumbuhannya. Tidak ada kehidupan tanpa air. Bioeconomi di Eropa mentargetkan bisa menggerakkan perekonomian sebesar € 2 trilyun (sekitar 34.000 trilyun rupiah atau sekitar 17 kali APBN Indonesia) dengan menyerap 20 juta tenaga kerja.
Kapal Pengangkut Domba Dengan Kapasitas Hingga 40.000 ekor domba/shipment

Lalu bagaimana pasar daging dombanya ? Saat ini pasar terbesar domba adalah Arab Saudi, dengan estimasi 8 juta ekor/tahun atau seperempatnya (2 juta ekor) pada musim haji. Sementara untuk pasar dalam negeri permintaannya belum besar, kecuali saat Idhul Adha. Bagaimana meningkatkan konsumsi daging domba tersebut ? Untuk mengakselerasi peningkatan daging domba, lembaga-lembaga kemanusiaan bisa bekerjasama dengan peternakan domba tersebut. Inovasi bisa dibuat dengan cara daging-daging domba tersebut dimasak lalu dikalengkan sehingga tahun lama. Produk makanan siap saji yang dikalengkan sebelumnya juga sudah beredar dipasaran seperti gudeg Jogja, mangut lele, rendang, sayur lombok ijo dan sebagainya, sehingga juga sangat memungkinkan untuk olahan daging domba seperti tongseng, gule bahkan sate. Saat ini jika lembaga-lembaga kemanusiaan menyumbangkan bahan makanan ke saudara-saudara kita korban-korban daerah konflik seperti Palestina, Suriah, Afganistan dan Rohingnya, maka daging kalengan domba seharusnya menjadi bagian dari paket tersebut. Jangan malah memprioritaskan mie instan, yang bahan bakunya saja sudah import dan juga importirnya sangat sedikit (monopoli/oligopoli). Selain itu daging domba kalengan siap saji tersebut juga dipasarkan di outlet-outlet dalam negeri sehingga minat konsumsi daging domba terus meningkat khususnya kalangan muslim yang mayoritas di negeri ini. 
Selain produktivitas agroforestry yang meningkat dan berkualitas, sektor industri lain yang diuntungkan dengan berkembangnya peternakan domba tersebut adalah industri kulit dan industri tekstil. Domba-domba yang disembelih di Indonesia, maka kulit dan bulunya akan menjadi bahan baku industri kulit dan industri tekstil. Jacket, dompet, tas dan gantungan kunci adalah beberapa produk dari industri kulit berbasis kulit domba. Selanjutnya benang wool yang selama ini sebagian besar import maka bisa dikurangi bahkan dieliminasi dengan massifnya peternakan domba dan kebun energi tersebut. Alangkah indahnya bila sunnah Nabi penggembalaan domba bisa diimplementasikan, apalagi perkebunan lain seperti perkebunan kelapa sawit 12 juta hektar; kelapa 3,7 juta hektar; karet 3,4 juta hektar dan sebagainya yang sangat potensial untuk usaha peternakan domba tersebut. Ketika iman takwa semakin terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari sehingga suku bunga bank bisa  dihilangkan atau 0%, maka harta menjadi berkah, gairah untuk berbisnis dan daya saing semakin besar dan konsep-konsep inovatif untuk kebaikan bisa segera direalisasikan. Dan ketika perekonomian dikuasai dan digerakkan oleh orang -orang sholeh maka kebaikan akan tersebar luas diberbagai penjuru dunia. InsyaAllah. 

Sabtu, 27 Januari 2018

Mencari Harta Terbaik Dari Implementasi Kebun Energi Bagian 4

Walaupun secara spesifik menggembala disebutkan didalam Al Qur'an sebagai Sunnah  para Nabi, tetapi sayang bahwa penggembalaan tidak dipelajari secara terperinci di negeri ini pada fakultas peternakan, fakultas pertanian, maupun fakultas Al Qur'an dan Hadist, akibatnya teknik-teknik penggembalaan menjadi tidak berkembang dan produksi daging kita rendah, sehingga harus import padahal juga potensi lahan terbaik dan tidak kalah luas bisa kita dapati di negeri ini. Secara umum ada 2 metode penggembalaan saat ini yakni penggembalaan presisi dan penggembalaan rotasi. Penggembalaan presisi dilakukan pada padang gembalaan yang telah diukur secara presisi kebutuhan pakan untuk domba tersebut berdasarkan luasan dan kondisi pakan atau rumput di lokasi tersebut. Lokasi tersebut bisa saja ditanami dengan berbagai tanaman lainnya, sebagai contoh penggembalaan domba di perkebunan kelapa, perkebunan karet, perkebunan anggur, di perkebunan apel, di perkebunan mangga, perkebunan sawit, kebun energi dan seterusnya. Pada penggembalaan presisi dilokasi tersebut ada upaya menjaga tanaman lain tersebut untuk tidak dirusak oleh domba-domba tersebut. Sedangkan pada penggembalaan rotasi maka domba-domba tersebut dirotasi penggembalaannya berdasarkan kondisi rerumputannya atau ketersediaan pakannya. Ketika rerumputan banyak maka digunakan untuk penggembalaan dan ketika sudah habis maka penggembalaan berpindah ke lokasi lain yang banyak rumputnya sambil menunggu tempat sebelumnya tumbuh kembali rumputnya sehingga bisa digunakan untuk penggembalaan lagi. Berikut ini sejumlah video dari penggembalaan rotasi dan penggembalaan presisi:




Semoga video-video tersebut semakin memotivasi untuk pengembangan penggembalaan domba di Indonesia yakni terutama di perkebunan sawit yang mencapai 12 juta hektar, perkebunan kelapa 3,7 juta hektar dan kebun karet mencapai 3,4 juta hektar. Tentang penggembalaan diperkebunan sawit, telah sedikit dibahas di link ini, sedangkan Indonesia juga memiliki perkebunan kelapa terbesar di dunia dan terkenal dengan negeri rayuan pulau kelapa . Perkebunan kelapa juga sangat baik untuk penggembalaan domba-domba tersebut. Daerah-daerah yang menjadi sentra kelapa, seperti kabupaten Indragiri Hilir di Riau yang memiliki hampir 500.000 hektar perkebunan kelapa seharusnya juga mengembangkan penggembalan domba ini. Indragiri Hilir merupakan sentra perkebunan kelapa terbesar di Indonesia bahakan di dunia dengan lebih dari 80% merupakan perkebunan rakyat.  Perkebunan kelapa juga memiliki nasib kurang menguntungkan hari ini, karena kurang diperhatikan sehingga produksinya semakin menurun. Padahal dari pohon kelapa ini seluruh bagiannya bisa dimanfaatkan, bahkan dijuluki pohon kehidupan, diantaranya minyak kelapa yang kualitasnya lebih bagus daripada minyak sawit apalagi VCO-nya, tempurung kelapa sebagai bahan baku arang aktif terbaik, sabutnya diolah menjadi cocofiber untuk bahan jok, matras dlsb, dan juga cocopeat yang digunakan untuk media tanam. Untuk efisiensi cocopeat tersebut dibuat cocopeat block, sehingga memudahkan handling dan hemat transportasinya. Peternakan domba dengan penggembalaan tersebut akan memperbaiki dan juga menyuburkan perkebunan kelapa sehingga otomatis produktivitas dan kualitas kelapa menjadi semakin lebih baik.
Selain untuk produksi daging dari domba-domba tersebut, juga akan menyuburkan tanahnya dari kotoran domba-domba yang disebarkan sewaktu penggembalaan tersebut. Konsumsi daging rendah penduduk Indonesia perlu ditingkatkan dengan produksi daging dari dalam negeri, bukan malah menggenjot importnya, seperti akhir-akhir ini pemerintah yang malah mau mengimport daging kerbau dari India. Ketika tanah menjadi subur maka produktivitas sawit sama seperti halnya kelapa juga akan meningkat karena pohon-pohon sawit mendapatkan cukup pupuk. Selain itu bulu-bulu domba yang dihasilkan akan menjadi benang wool sebagai salah satu bahan tekstil terbaik. Wool tersebut dapat digunakan untuk membuat karpet-karpet, selimut-selimut, baju hangat dan sebagainya dengan kualitas superior dibandingkan dengan imitasinya yakni benang akrilik. Indonesia masih import benang wool tersebut karena tidak memiliki sumber bahan baku yang mencukupi dari dalam negeri. Dengan digalakkan peternakan domba maka import benang dan kain wool bisa dikurangi bahkan ditiadakan dan dicukupi dari dalam negeri. 

Contoh Jaket Kulit Domba Dengan Kualitas Istimewa
Selain itu kulit-kulit domba juga bisa digunakan sebagai bahan baku industri kulit. Setelah melalui penyamakan maka kulit domba bisa digunakan untuk memuat berbagai barang kebutuhan manusia, seperti jaket, tas, dompet dan sebagainya. Domba-domba jenis tertentu juga menghasilkan susu untuk minuman bergizi terbaik bagi manusia. Sungguh sangat banyak manfaat dengan mengoptimalkan tanah-tanah perkebunan dengan penggembalaan domba. Untuk diskusi lebih lanjut, silahkan menulis email ke : eko.sbs@gmail.com 

Selasa, 09 Januari 2018

Ketika Menggembala Sebagai Mas Kawin

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (QS Al Qashash : 26)

Berkatalah dia (Syu'aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik". (QS Al Qashash : 27)

"Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan" (QS Al A'laa :4)


Kisah Musa yang menolong dua orang perempuan lalu diajaklah Musa menemui ayah dari kedua perempuan tersebut.  Kemudian  karena Musa memiliki tubuh yang kuat dan sifat amanah (dapat dipercaya) salah seorang perempuan itu menyarankan ayahnya yakni Nabi Syuaib AS, untuk diambil sebagai pekerja. Nabi Syu'aib tidak hanya menerima Musa untuk dijadikan pekerjanya, bahkan bermaksud menikahkan salah seorang putrinya dengan Musa dengan syarat bekerja dengannya sebagai penggembala domba selama 8 atau 10 tahun. Kisah inspiratif sekaligus teladan sepanjang zaman.
Ketika di zaman ini para orang tua gelisah untuk mencari menantu, maka inspirasi dari kisah di atas sungguh memberi pencerahan. Para orang tua saat ini bisa membuat penggembalaan domba sehingga menjadi cara untuk mendapatkan menantu terbaiknya. Dan jika orang tuanya masih bingung, maka anak-anak perempuannya juga sebaiknya meminta pada orang tuanya untuk membuat penggembalaan domba-domba tersebut. Allah SWT telah menumbuhkan berbagai rerumputan untuk pakan binatang ternak yang digembalakan khususnya domba-domba tersebut. 


“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. ” (QS 16:10)

Di Indonesia dengan luas perkebunan sawit yang mencapai sekitar 12 juta hektar, tentu bisa dijadikan untuk penggembalaan domba tersebut, bahkan akan menjadi tempat terbaiknya (QS 16:10). Alangkah sayangnya jika kebun seluas jutaan hektar tersebut tidak dioptimalkan, malah harus mengeluarkan biaya besar untuk membersihkan rerumputan dibawah pohon sawit. Padahal rumput-rumput tersebut adalah pakan untuk domba-domba yang digembalakan tersebut. Kotoran dari domba-domba tersebut juga menjadi pupuk bagi pohon sawit yang pada akhirnya akan menyuburkan tanah dan meningkatkan produktivitas panen sawitnya. Ketika penggembalaan domba dalam perkebunan sawit tersebut telah menjadi konsep terintegrasi, maka menjadi semakin menarik. Karena kebun-kebun sawit tersebut sebagian besar atau 80% berada di Sumatra dan Kalimantan, maka area-area penggembalaan bisa juga diantara kebun buah-buahan bahkan pada kebun energi yang multipurpose.
Semua Nabi dan Rasul pernah menjadi penggembala domba/kambing, hal ini mengindikasikan bahwa pekerjaan menggembala domba/kambing adalah sesuatu hal yang penting. Allah SWT memperlihatkan bahwa salah satu cara terbaik untuk mendidik utusan-utusan-Nya yang merupakan manusia-manusia terbaik adalah dengan menggembala domba tersebut, sehingga mencontohnya juga akan memberikan hasil terbaik. Sayangnya pelajaran menggembala tidak diajarkan secara terperinci pada perguruan-perguruan tinggi pertanian kita, begitu juga di perguruan-perguruan tinggi Islam baik jurusan atau fakultas Al Qur'an maupun Hadist. Padahal menggembala ini merupakan sunnah seluruh Nabi dan juga secara spesifik Ada tuntunannya dalam Al Qur'an.
Profesi menggembala bagi wanita juga hal yang baik, hal itu bisa dirujuk dari 2 ayat Al Qur'an Surat Al Qashash diatas. Putri-putri Nabi Syu'aib berprofesi menjadi penggembala bahkan untuk membantu ayahnya yang sudah tua. Hari ini ketika wanita-wanita di Jabodetabek berdesakan ke tempat kerjanya baik di bus maupun kereta sehingga rawan bersentuhan dengan bukan mahram dan berbagai pelecehan seksual, maka kembali merujuk kedua ayat Al Qur'an diatas akan memberi inspirasi, motivasi dan sekaligus bisa diimplementasi. Para wanita di daerah bahkan tidak perlu urbanisasi ke kota-kota besar yang padat penduduknya, berdesakan untuk ke tempat kerja maupun dari tempat kerja, macet lalu lintasnya dan sebagainya, tetapi cukup kembali menghidupkan sunnah Nabi berupa penggembalaan tersebut. 
Tentu banyak sekali hikmah dari penggembalaan tersebut. Ketika kebun-kebun sawit telah ramai oleh domba-domba gembalaan tersebut, maka kesuburan tanah semakin meningkat dan produksi daging dalam negeri juga meningkat, bersama itu juga sebagai media pendidikan terbaik. Produksi sawit Indonesia yang rendah juga bisa meningkat pesat sejalan dengan peningkatan kesuburan tanahnya. Domba-domba tersebut juga akan menjadi harta terbaik bagi muslim, yang bisa dibaca lebih rinci di sini, sini dan sini. Konsumsi daging dalam negeri yang saat ini hanya 1/4 rata-rata dunia juga bisa ditingkatkan. Rendahnya konsumsi daging dalam negeri juga akibat kita-kita tidak punya atau kurangnya minat terhadap penggembalaan tersebut. Ketika para orang tua sadar akan pentingnya penggembalaan tersebut, maka tentu tidak segan-segan mereka membuat usaha penggembalaan tersebut, yang juga sebagai sarana mendapatkan menantu terbaiknya. Ketika waktu itu mas kawin (mahar pernikahan) menjadi seperangkat alat sholat dan penggembalaan domba. Insya Allah.

Senin, 17 Oktober 2016

Sawdust Charcoal Briquette dan Konsumsi Domba Di Arab Saudi dan Timur Tengah


Konsumsi domba khususnya di Arab Saudi setiap tahunnya berkisar 8 juta ekor, dengan ¼-nya di saat musim haji. Negara-negara pengeksport domba ke Arab Saudi saat ini terutama dari tiga negara Afrika, yakni Somalia, Sudan dan Djibouti. Negara-negara di Afrika tersebut kering dan kurang subur dibanding Indonesia, tetapi dengan cara menggembala domba-domba tersebut di padang-padang  rumput yang tersedia, membuat produksi domba disana melimpah. Indonesia dengan kesuburan dan luasnya hamparan tanahnya sudah sepantasnya bisa menjadi negara exportir domba terbesar. Dengan meningkatkan efektivitas dan efisiensi lahan serta yang paling penting mindset bahwa sangat besar potensi Indonesia yang mendukung ke arah tersebut maka insyaAllah hal tersebut menjadi sangat mungkin diwujudkan.


Daging domba dengan diolah dengan dipanggang adalah masakan favorit di Arab Saudi dan Timur Tengah. Kebutuhan sawdust charcoal briquette yakni briket arang dari serbuk gergaji melonjak terus meningkat seiring tingginya konsumsi daging domba di Arab Saudi dan Timur Tengah. Sebagian besar produksi sawdust charcoal briquette berasal dari Indonesia, dan seiring kebutuhan yang semakin meningkat banyak pabrik-pabrik sawdust charcoal briquette dibangun untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Para pembeli berebut untuk bisa mendapat produk ini karena tingginya permintaan. Saat ini hampir semua pabrik-pabrik sawdust charcoal briquette menggunakan serbuk gergaji ataupun limbah-limbah kayu sebagai bahan bakunya. Daerah-daerah yang kaya bahan baku sangat potensial untuk mengembangkan komoditas ini mengingat tingginya kebutuhan.



Produk sawdust charcoal briquette memiliki berbagai kelebihan dibandingkan arang kayu biasa antara lain lebih padat, bentuk dan ukuran seragam, kualitas arangnya dan nyala api lebih lama. Bentuk yang padat dengan bentuk dan ukuran seragam inilah yang membuat mudah dikemas dan ekonomis dalam transportasi.  Proses produksinya secara sederhana setelah bahan baku tersebut dibriketkan lalu di arangkan (karbonisasi batch) selama beberapa hari. Produk arang selanjutnya diambil dan dipilah berdasarkan grade kualitasnya, untuk selanjutnya dikemas dan siap diexport. Ketika bahan baku berupa serbuk gergajian dan limbah-limbah kayu masih tersedia, maka produksi sawdust charcoal briquette bisa terus berjalan. Sedangkan apabila ketersediaan bahan baku tersebut diatas mengalami kelangkaan sebaiknya diupayakan mencari bahan baku lainnya, misalnya dengan membuat kebun kaliandraKaliandra adalah tanaman rotasi cepat, yang hanya butuh sekitar 1 tahun panen sehingga keberlangsungan pasokan bahan baku tidak terganggu. Grade-grade atau pengelompokan kualitas sawdust charcoal briquette seperti gambar dibawah ini :

Grade A : Panjang lebih dari 10 cm dan halus (tidak retak)


Grade B : Panjang lebih dari 10 cm dengan sedikit retak
Grade C : Panjang 5-10 cm dengan permukaan halus atau retakan kecil

Grade D : Panjang 5-10 cm dengan permukaan kasar dan retakan sedang


Grade E (Reject) : Panjang rata-rata kurang dari 5 cm, permukaan kasar dan banyak retakan sehingga rapuh



Ujicoba Boiler Biomasa dan Pemilihan Bahan Bakar Biomasa yang Sesuai

Seiring dengan trend dekarbonisasi dan sustainibility diberbagai sektor kehidupan, khususnya di industri-industri pengolahan (industri manuf...