Tampilkan postingan dengan label pangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pangan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Juli 2022

Cocopeat dan Biochar

Baik cocopeat dan biochar memiliki kegunaan dalam bidang pertanian, tetapi ada sejumlah perbedaan antara keduanya. Cocopeat memiliki kegunaan terutama sebagai media tanam karena kemampuan menahan air (water holding capacity), sedangkan biochar selain memiliki kemampuan menahan air seperti halnya cocopeat juga menaikkan pH tanah, menahan atau membuat hara lebih tersedia (nutrient retention), dan juga menjadi koloni mikroba tanah sehingga bahan-bahan organik menjadi cepat terdekompsisi dan diserap tanaman. Cocopeat juga akan terurai dalam waktu tidak terlalu lama seperti kompos sedangkan biochar mampu bertahan dan tidak terdekompsisi hingga ratusan tahun. Dengan kondisi tersebut sehingga biochar juga digunakan untuk menyimpan CO2 (carbon sequenstration) dan mendapatkan carbon credit dengan mekanisme carbon sink.


Memilih Biochar atau Cocopeat ?
Dengan sejumlah keunggulan tersebut memilih biochar akan lebih baik. Apalagi cocopeat tersebut juga bisa digunakan untuk produksi biochar. Program carbon removal untuk mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer juga sejalan dengan aplikasi biochar tersebut. Kesadaran global terhadap perubahan iklim dan pemanasan global yang semakin tinggi membuat program carbon removal yang juga memberi keuntungan ekonomi dari carbon credit sepertinya akan terus meningkat dalam waktu tidak lama lagi. Hal ini tidak bisa dilakukan dengan cocopeat.  

Konversi cocopeat menjadi biochar juga bukan hal yang sulit, bahkan dengan berbagai alat sederhana (low tech) bisa dilakukan. Tetapi untuk kapasitas besar sehingga program carbon credit bisa berjalan butuh alat pirolisis modern berkapasitas besar. Dengan alat tersebut selain produksi biochar juga ada sejumlah excess energy yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan salah satunya pengeringan cocopeat sebelum menjadi bahan baku biochar dengan alat pirolisis. 

Rabu, 09 Juni 2021

Peluang Export Sumber Protein Pakan Ternak Ke Eropa

Daging dan susu adalah sumber protein bagi manusia yang didapat dari hewan khususnya ruminansia, lalu daging dan telur dari unggas dan daging dari ikan. Ketersediaan protein hewani yang mencukupi sangat dibutuhkan. Defisit protein akan berdampak buruk bagi kesehatan. Industri peternakan sangat berperan penting untuk ketercukupan protein hewani tersebut dewasa ini. Untuk menghasilkan protein hewani berupa daging dan susu tersebut dibutuhkan sumber protein yakni protein nabati dalam sumber pakannya untuk peternakan ruminansia  tersebut. Daun gamal dan kaliandra dari kebun energi adalah sumber protein untuk peternakan ruminansia (domba, kambing dan sapi) tersebut. Semakin berkembangnya kebun energi seharusnya juga mendorong industri peternakan. Hal inilah yang penting untuk dipahami oleh para pembuat kebun energi tersebut.

Belajar dari kondisi   Eropa, menurut studi yang dilakukan oleh FEFAC (European Feed Manufacturers’ Federation) atau himpunan produsen pakan di uni Eropa terjadi kondisi defisit protein di sektor industri pakan di Eropa dan untuk itu mereka membuat sejumlah upaya untuk mendapatkan sumber protein pakan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Defisit adalah kondisi dimana konsumsi atau penggunaan protein untuk pakan tersebut telah melebihi dari produksinya. Hal itu berarti produksi Eropa berupa sumber protein untuk pakan ternak masih jauh dari kebutuhannya sehingga akibatnya import tidak bisa dihindari.  Walaupun menurut estimasi mereka tidak akan mungkin bisa menggantikan 100% dari sumber protein pakan dengan salah satu cara saja, yang selama sebagian besar dari import tetapi mengurangi ketergantungan tersebut dengan produksi secara lokal protein pakan akan sangat membantu. Motivasi lainnya adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber protein dari bahan transgenik (GMO) yakni kedelai. 

Upaya mereka yang pertama adalah penggunaan PAP (processed animal protein). Penggunaan PAP memang  nutrisi tinggi, dan sumber PAP untuk pakan tersebut adalah ayam dan babi. Walaupun telah dibuat aturan kalau PAP ayam tidak boleh untuk pakan ayam dan PAP babi tidak boleh untuk pakan babi ditambah alat untuk mendeteksinya tetapi pada prakteknya hal tersebut sulit dilaksanakan. Hal tersebut karena pabrik pakan yang beroperasi pada umumnya pakan multi-purpose sehingga bisa untuk berbagai jenis binatang ternak. Sangat sedikit pabrik pakan yang membuat pakan khusus. Padahal jika terjadi misalnya PAP ayam untuk pakan ayam dan PAP babi untuk pakan babi maka bisa saja terjadi suatu penyakit pada hewan ternak tersebut. Sebuah contoh yakni pada kasus mammalian meat and bone meal (MBM) atau tepung tulang dan daging mamalia untuk pakan ruminansia. Pada tahun 1996 dengan krisis Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) karena terkait pemberian pakan berasal dari MBM untuk pakan ruminansia. Daging yang terinfeksi BSE tersebut menyebabkan penyakit Creutzfeldt-Jakob pada manusia sehingga menimbulkan resiko tinggi pada rantai pangan manusia. Setelah wabah itu menyebar selanjutnya penggunaan MBM dalam pakan ternak dilarang. Peraturan tersebut menyebabkan ketergantungan yang tinggi pada bahan baku import seperti bungkil kedelai (soybean meal) untuk keberlangsungan suplai daging, susu dan telur. 

Upaya kedua yakni produksi protein dari peternakan serangga (insect farming). Walaupun bisa dilakukan dan sejumlah spesies serangga juga sudah disetujui tetapi faktanya saat ini masih sangat sedikit peternakan serangga di sana, sehingga masih dibutuhkan waktu cukup lama untuk menghasilkan volume yang mencukupi sebagai sumber protein pada pakan ternak. Sumber protein dari serangga ini terutama untuk pakan ikan. Upaya ketiga dari tanaman energi yakni dari pohon rapeseed. Bungkil rapeseed (rapeseed meal) atau sejenis kanola adalah sumber protein nabati selanjutnya. Tetapi ketersediaan bungkil rapeseed tersebut tergantung kebijakan biofuel Eropa. Minyak canola adalah bahan baku biodiesel di Eropa. Kebijakan biofuel Eropa tertuang dalam Renewable Energy Directive 2020-2030 dimana kontribusi biofuel dari tumbuh-tumbuhan untuk target penggunaan pada sektor transportasi maksimal hingga 7%.

Upaya keempat dari sisa industri makanan yakni produk-produk reject dan kadaluwarsa. Sisa industri makanan yang dimaksud adalah dari industri-industri makanan dan bahan pangan, seperti industri biskuit, mie instant, coklat batangan, pasta dan sebagainya. Tetapi yang dimaksud bukan limbah makanan dari restauran, atau katering. EFFPA, the European Former Foodstuff Processing Association mengestimasi bahwa di Uni Eropa sekitar 3,5 juta ton sisa makanan tersebut diolah menjadi pakan ternak setiap tahunnya. Uni Eropa mendorong penggunakan makanan reject dan kadaluwarsa tersebut termasuk menerbitkan panduannya untuk mengurangi limbah makanan untuk menjadi pakan, karena tidak layak dikonsumsi manusia. Sumber protein dari micro algae atau tumbuhan bersel tunggal ini juga sudah pernah mereka bahas, tetapi tidak menjadi prioritas saat ini karena kualitas dan keterbatasan.  

Pentingnya menyadari potensi sekaligus memperbaiki visi untuk optimalisasi kebun energi tersebut. Masalah GMO misalnya, penggunaan daun gamal atau gliricidia bisa sebagai solusinya, untuk lebih detail baca disini. “Kualitas protein” adalah hal penting karena tidak semua protein sama. Beberapa parameter untuk kualitas protein adalah profil asam amino dan ketidakadaan zat anti nutrisi.  Sebagai contoh bungkil kedelai memiliki skor yang tinggi untuk semua parameter kualitas protein termasuk palatability, ketercernaan (digestibility) dan keamanan (safety). Sebuah kasus yang juga bisa sebagai referensi, pada tahun 2007 terjadi penarikan pakan hewan peliharaan karena terkontaminasi melamin dan cyanuric acid (yang tinggi kadar nitrogen dan teridentifikasi sebagai kandungan protein kasar) pada unsur protein yang menyebabkan kegagalan ginjal.

Penggunaan nitrogen dari bahan kimia diatas juga dilakukan pada produk-produk pertanian juga membuat penarikan produk-produk pertanian dari China yang dilakukan di Afrika Selatan, Uni Eropa dan Amerika Serikat. Bahkan Amerika memerintahkan USDA untuk memeriksa semua produk-produk pertanian dari China. Tahun 2008 dan 2009 China fokus mengeliminasi masalah pemalsuan atau pencampuran tersebut dan efek krisis yang ditimbulkan. Pada tahun 2010 versi revisi tentang peraturan pakan dan aditif pakan dipublikasikan untuk lebih menjamin kualitas dan keamanan (safety). Walaupun China sebagai produsen pakan terbesar di dunia tetapi kebutuhan bahan baku pakan masih mengandalkan import khususnya tepung/bungkil kedelai untuk mendukung kebutuhan pangan berupa daging, susu dan telur untuk sekitar 1,3 milyar penduduknya.

Dari sejumlah upaya Uni Eropa dalam rencana swasembada sumber protein pakan tersebut ternyata sumber protein dari tanaman energi rapeseed ternyata menjadi prioritas Eropa saat ini. Sedangkan dengan kondisi Indonesia yang memiliki tanah luas maka banyak kebun energi yang bisa dibuat bahkan KLHK telah merencanakan 12,7 juta hektar untuk kebun energi sebagai salah satu upaya mendukung program cofiring di PLTU-PLTU di Indonesia lebih detail bisa dibaca disini, sehingga produksi daun sebagai produk samping kebun energi juga akan berlimpah. Produksi daun ini bisa sebagai komoditas export ke Eropa, karena kebutuhannya besar. Produksi pakan ternak di Eropa diperkirakan 160 juta ton per tahun atau 16% dunia dengan jumlah pabrik pakan 5000 unit. Dengan konsumsi protein dalam pakan dikisaran 30% maka kebutuhannya akan mencapai 48 juta ton. Ketika industri pakan dalam negeri belum mampu menyerapnya maka export adalah pilihan terbaik.

Ruminansia adalah herbivora sehingga pakannya adalah berasal dari tumbuh-tumbuhan, kasus MBM di Eropa bisa menjadi pelajaran mahal bahwa pemberian pakan dari mamalia ternyata malah menimbulkan masalah baru. Apalagi jika kategori makanan tersebut najis, maka binatang ternaknya menjadi binatang jalalah yang dilarang dikonsumsi. Sedangkan kasus pencampuran dengan bahan kimia berbahaya yang terjadi di China dengan  melamin dan cyanuric acid hanya untuk mengelabui kandungan protein sehingga terlihat tinggi juga membahayakan bagi kesehatan tubuh manusia. Islam sangat perhatian dalam masalah makanan atau pangan bahkan dalam Al Qur’an surat ‘Abasa : 24 , Allah memerintahkan manusia untuk memperhaikan makanannya. Makanan yang masuk ke perut kita harus halal dan thoyyib (baik). Makanan yang mengandung zat berbahaya yang dapat meracuni tubuh bukanlah makanan yang thoyyib. Dan salah satu akibat dari makanan haram adalah penghalang terkabulnya doa.

Rabu, 16 Oktober 2019

Food Energy Water Untuk Masyarakat Dunia

"Tidak akan terjadi hari kiamat, sebelum harta kekayaan telah tertumpuk dan melimpah  ruah,  hingga  seorang  laki-laki  pergi  ke  mana-mana  sambil membawa  harta  zakatnya  tetapi  dia  tidak  mendapatkan  seorangpun  yang bersedia  menerima  zakatnya  itu.  Dan  sehingga  tanah Arab  menjadi  subur makmur  kembali  dengan  padang-padang  rumput  dan  sungai-sungai "  (HR.Muslim).

Bumi sekali lagi akan menjadi makmur sebelum kiamat. Secara umum kebun-kebun dan hutan-hutan seperti itu juga menjadi penyebab munculnya mata-mata air (QS 36 : 34) yang pada waktunya akan mengalir ke sungai-sungai  (QS 19 : 24-25) dan juga menjadi kesenanganmu dan binatang ternakmu (QS 79 : 31). Pada dasarnya bumi ini sangat cukup untuk mencukupi kebutuhan manusia, terutama pada 3 hal pokok yakni pangan (food), energi (energy) dan air (water). Di era bioeconomy yang diyakini sudah didepan mata dan tidak lama lagi kita alami, maka sejumlah teknologi dikembangkan untuk mendukung ketiga sektor pokok tersebut secara berkelanjutan (sustainable). Penekanan pada sesuatu yang berkelanjutan (sustainable) semakin menegaskan untuk semakin meninggalkan atau tidak sama sekali menggunakan sumber fossil (fossil free) khususnya di sektor energi. Aspek keberlanjutan (sustainibility) inilah yang membedakan era fossil economy dengan bioeconomy secara jelas.
Konsep Kebun Energi dan Vertikultur
Kawasan tropis akan menjadi primadona pengembangan bioeconomy karena ketersediaan pancaran sinar matahari sepanjang tahun. Kawasan tropis inilah yang akan rebutan para pengusaha yang bergerak di sektor ini, seperti benua Afrika dan Indonesia. Ketersediaan tanah yang luas di kawasan tersebut menjadi faktor kunci pengembangan kebun energi. Energi adalah kebutuhan vital umat manusia saat ini terutama untuk menggerakan sektor-sektor ekonomi. Dengan kebun energi maka kebutuhan energi yang masif bisa dipenuhi. Tanaman rotasi cepat dan trubusan (coppice) seperti kaliandra dan gliricidae menjadi andalan kebun energi. Selain kebun energi akan mampu mengkonservasi air, usaha peternakan juga bisa dikembangkan dengan memanfaatkan limbah daun dari kebun energi tersebut. Peternakan domba, kambing atau sapi ideal untuk pemanfaatan limbah daun dari kebun energi tersebut. Peternakan lebah madu juga bisa dikembangkan dengan memanfaatkan bunga dari kebun energi tersebut.
Vertikultur dengan bangunan pencakar langit

Kebun energi kaliandra
 Gedung-gedung tinggi dibangun bahkan bukan untuk hunian manusia, tetapi sebagai lahan pertanian tanaman pangan (verticulture). Pertanian verticulture tersebut untuk mencukupi kebutuhan pangan dan memudahkan pengelolaannya. Teknik bertani secara modern digunakan untuk memaksimalkan kualitas dan produktivitas pertanian tersebut. Untuk menunjang keberhasilan pertanian tersebut IOT (internet of things) dengan sejumlah sensor yang bisa dibaca online menjadi bagian tak terpisahkan dalam pengelolaan pertanian. Efektivitas dan efisiensi bertani bisa meningkat pesat sehingga produktivitas dan kualitasnya tinggi bisa dicapai, sementara lahan-lahan yang luasnya terutama untuk kebun energi. Biochar yang bisa digunakan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pemupukan bisa diaplikasikan untuk pertanian verticulture tersebut. Selain dibuat kompos limbah-limbah pertanian juga sebagian bisa dikonversi menjadi biochar. Untuk kapasitas besar unit pirolisis kontinyu adalah pilihan terbaik untuk produksi biochar tersebut. Produksi kompos dan biochar juga membuat usaha pertanian tersebut zero waste. Bahkan dengan teknologi pirolisis kontinyu selain dihasilkan biochar juga bisa dihasilkan energi panas dan energi listrik. Bahan bakar cair yakni biooil juga dihasilkan dari teknologi pirolisis kontinyu tersebut.
Dengan mayoritas lahan digunakan untuk kebun energi maka kebutuhan energi insyaAllah bisa dicukupi bahkan kebutuhan daging dari usaha peternakannya demikian juga produksi pangan dengan verticulture. Konsep ideal tersebut bila bisa diimplementasikan seharusnya bisa menjadi solusi masalah kehidupan saat ini. Konsep tersebut bisa diimplementasikan jika umat manusia menyadari pentingnya program tersebut dan mendukungnya. Secara teknis hal tersebut bisa dilakukan bahkan sudah ada yang melakukannya walau pada skala lebih kecil.dan belum terintegrasi sepenuhnya.
Seharusnya era bioeconomy mendatang seharusnya juga sejalan dengan perbaikan sistem ekonomi yang memberi rasa keadilan bagi penduduk dunia. Dengan model ekonomi saat ini membutuhkan 800 tahun bagi milyaran rakyat terbawah untuk mencapai 10% pendapatan global. Akibat liberalisme dan kapitalisme yang terjadi saat ini mengakibatkan 10% orang terkaya menguasai 85% kekayaan global. Tiga orang terkaya dunia memiliki aset lebih dari 47 PDB negara PDB bruto terendah. 1% orang terkaya memiliki lebih dari 50% kekayaan dunia. Ketimpangan yang sangat besar tersebut hendaknya segera bisa segera diatasi dengan ekonomi yang berkeadilan dan menyejahterakan. Transisi dari fossil economy ke bioeconomy bisa sebagai suatu media sekaligus momentum untuk perbaikan sistem ekonomi tersebut. Kawasan tropis yang sebelumnya peran ekonominya tidak seberapa, seharusnya menjadi semakin meningkat dan diperhitungkan atau bahkan menjadi pemain utama di era bioeconomy tersebut.

Kamis, 08 Maret 2018

Mencari Harta Terbaik Dari Implementasi Kebun Energi Bagian 5

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. ” (QS 16:10)

“Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.”(QS 20:54) 
Ada korelasi sangat positif antara pupuk organik kotoran ternak dengan produktivitas tanaman. Ketika peternakan terintegrasi dengan pertanian dan kehutanan, maka akan terjadi siklus tertutup berupa pemenuhan pupuk dan produktivitas tanaman. Dan begitu juga sebaliknya. Apabila pupuk khususnya pupuk organik tidak bisa dipenuhi, maka akibatnya pupuk anorganik yakni pupuk kimia yang akan menggantikan. Padahal dengan membuat siklus tertutup tersebut, maka akan mengeliminasi kebutuhan pupuk anorganik atau pupuk kimia tersebut. Selain menambah biaya, pemakaian pupuk kimia juga merusak atau meracuni tanah-tanah pertanian. Mata rantai atau integrasi peternakan dengan kehutanan, maupun dengan pertanian saat ini umumnya telah rusak dan terputus sehingga konsekuensinya ketergantungan pada pupuk kimia menjadi tinggi. Agroforestry dan peternakan khususnya penggembalaan domba itulah yang seharusnya dikembangkan, sehingga usaha tersebut akan optimal, ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable). 
Pada implementasi di kebun energi secara teknis domba-domba tersebut bisa langsung digembalakan pada kebun tersebut tetapi dengan memperhatikan usia pohon-pohon kebun energi sehingga prakteknya dibuat secara rotasi. Ketika pohon-pohon kebun energi telah cukup besar, maka domba-domba tersebut bisa dilepas dan digembalakkan di area tersebut, tetapi ketika pohon-pohon kebun energi masih kecil, maka domba tidak bisa digembalakkan di area tersebut, karena akan merusak pertumbuhan pohon-pohon tersebut. Teknik yang kedua adalah dengan membuat koloni domba diantara atau ditengah-tengah kebun energi tersebut. Pada area koloni domba tersebut selain tersedia kandang untuk dombanya juga tersedia area penggembalaan. Penggembalaan juga dibuat rotasi sesuai ketersediaan rumput atau pakan domba tersebut. Porsi rumput dari penggembalaan bisa dibuat rasio 50:50 dengan pakan hijauan, limbah kebun energi. Semua peternak juga tahu, khususnya peternak domba, bahwa pakan itulah bisa dikatakan komponen biaya utama usaha peternakan tersebut. Sehingga apabila pakan bisa dibuat semurah mungkin, maka otomatis margin keuntungan juga besar. Bayangkan jika pakan domba saja harus import dan mahal, padahal lahan untuk menggembala atau menumbuhkan rumput sangat luas, tentu ini suatu kebodohan. Kualitas pakan hijauan berupa rumput-rumputan dan dedaunan adalah pakan terbaik. Kandungan protein dari daun-daun leguminoceae pada kebun energi juga tinggi, sehingga menghasilkan pakan berkualitas tinggi dan konversi ke daging domba juga akan tinggi. 
Penggembalaan Rotasi (Rotational Grazing)
Rumput bisa tumbuh hampir dimana saja di Indonesia, karena beriklim tropis dan tanahnya subur. Kita tidak perlu susah-susah menanam rumput-rumput tersebut, bahkan pada banyak kasus membersihkan rumput malah menjadi masalah tersendiri. Di negara-negara yang kering seperti Mesir untuk mendapatkan rumput, maka petani perlu menanam dan merawatnya. Seharusnya kita bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat-nikmat tersebut. Pada kebun energi dan peternakan domba skala besar, faktor irigasi atau pengairan adalah hal sangat penting. Allah SWT menciptakan yang hidup dari air. Rumput-rumput juga akan mengeringkannya dan mati ketika tidak ada air, begitu pula pohon-pohon kebun energi-walaupun jenis pohon tersebut sangat efisien dalam penggunaan air. 
Kitab Al Filaha, Kitab Pertanian Fenomenal Zaman Kekhalifahan Umayyah di Andalusia
Yang Menjadi Rujukan Eropa Selama Berabad-Abad.
Sistem irigasi yang baik harus dibangun pada area tersebut dan  itu bukan pekerjaan yang sulit. Pada kekhalifanan Bani Umayyah di Andalusia saluran-saluran air telah dibangun bahkan dari sumber yang jauh dan bergunung-gunung, untuk mencukupi kebutuhan air kota tersebut, termasuk pertanian dan peternakan mereka. Curah hujan di Andalusia (Spanyol hari ini) juga rendah. 640 mm/tahun, sedangkan Indonesia rata-rata 2700 mm/tahun tetapi pertanian dan peternakan sangat maju, bahkan menjadi rujukan Eropa berabad-abad setelahnya. Peradaban Islam di Andalusia tersebut tidak hanya keindahan bangunan masjidnya, istananya, tata ruang perkotaan, sains, tetapi juga ekonomi dan kemakmurannya yakni pemenuhan pangannya dari pertanian dan peternakan mereka. Sejarah senantiasa berulang, dan kita bisa mengupayakannya dengan mengkaji peradaban Islam tersebut dan mengetahui faktor-faktor apa saja yang mendukungnya. Sedangkan di era kontemporer, kita bisa melihat Belanda dengan jaringan irigasinya telah mampu mendongkrak bioeconominya, baik sektor pangan, energi dan material. Bioeconomi berbasis pada hewan dan tumbuhan sebagai obyeknya, yang Allah SWT menciptakan dari air,: “…Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman ?” (QS 21: 30),  sehingga memenuhi kebutuhan air akan mengoptimalkan pertumbuhannya. Tidak ada kehidupan tanpa air. Bioeconomi di Eropa mentargetkan bisa menggerakkan perekonomian sebesar € 2 trilyun (sekitar 34.000 trilyun rupiah atau sekitar 17 kali APBN Indonesia) dengan menyerap 20 juta tenaga kerja.
Kapal Pengangkut Domba Dengan Kapasitas Hingga 40.000 ekor domba/shipment

Lalu bagaimana pasar daging dombanya ? Saat ini pasar terbesar domba adalah Arab Saudi, dengan estimasi 8 juta ekor/tahun atau seperempatnya (2 juta ekor) pada musim haji. Sementara untuk pasar dalam negeri permintaannya belum besar, kecuali saat Idhul Adha. Bagaimana meningkatkan konsumsi daging domba tersebut ? Untuk mengakselerasi peningkatan daging domba, lembaga-lembaga kemanusiaan bisa bekerjasama dengan peternakan domba tersebut. Inovasi bisa dibuat dengan cara daging-daging domba tersebut dimasak lalu dikalengkan sehingga tahun lama. Produk makanan siap saji yang dikalengkan sebelumnya juga sudah beredar dipasaran seperti gudeg Jogja, mangut lele, rendang, sayur lombok ijo dan sebagainya, sehingga juga sangat memungkinkan untuk olahan daging domba seperti tongseng, gule bahkan sate. Saat ini jika lembaga-lembaga kemanusiaan menyumbangkan bahan makanan ke saudara-saudara kita korban-korban daerah konflik seperti Palestina, Suriah, Afganistan dan Rohingnya, maka daging kalengan domba seharusnya menjadi bagian dari paket tersebut. Jangan malah memprioritaskan mie instan, yang bahan bakunya saja sudah import dan juga importirnya sangat sedikit (monopoli/oligopoli). Selain itu daging domba kalengan siap saji tersebut juga dipasarkan di outlet-outlet dalam negeri sehingga minat konsumsi daging domba terus meningkat khususnya kalangan muslim yang mayoritas di negeri ini. 
Selain produktivitas agroforestry yang meningkat dan berkualitas, sektor industri lain yang diuntungkan dengan berkembangnya peternakan domba tersebut adalah industri kulit dan industri tekstil. Domba-domba yang disembelih di Indonesia, maka kulit dan bulunya akan menjadi bahan baku industri kulit dan industri tekstil. Jacket, dompet, tas dan gantungan kunci adalah beberapa produk dari industri kulit berbasis kulit domba. Selanjutnya benang wool yang selama ini sebagian besar import maka bisa dikurangi bahkan dieliminasi dengan massifnya peternakan domba dan kebun energi tersebut. Alangkah indahnya bila sunnah Nabi penggembalaan domba bisa diimplementasikan, apalagi perkebunan lain seperti perkebunan kelapa sawit 12 juta hektar; kelapa 3,7 juta hektar; karet 3,4 juta hektar dan sebagainya yang sangat potensial untuk usaha peternakan domba tersebut. Ketika iman takwa semakin terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari sehingga suku bunga bank bisa  dihilangkan atau 0%, maka harta menjadi berkah, gairah untuk berbisnis dan daya saing semakin besar dan konsep-konsep inovatif untuk kebaikan bisa segera direalisasikan. Dan ketika perekonomian dikuasai dan digerakkan oleh orang -orang sholeh maka kebaikan akan tersebar luas diberbagai penjuru dunia. InsyaAllah. 

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...