Tampilkan postingan dengan label limbah kulit kayu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label limbah kulit kayu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Mei 2020

Bark Pellet : Pemanfaatan Limbah Kulit Kayu


Sejumlah industri pengolahan kayu menghasilkan limbah kulit kayu dalam jumlah besar. Untuk mengatasi limbah, kulit kayu tersebut dapat diolah tersendiri menjadi pellet, atau dapat juga dicampur dengan limbah kayu lainnya. Kulit kayu memang memiliki kandungan abu lebih tinggi daripada kayunya, sehingga pellet yang dihasilkan juga memiliki kandungan abu lebih tinggi daripada wood pellet. Sedangkan apabila limbah kayu tersebut dicampurkan, maka kandungan abunya juga akan berkurang.

Pemanfaatan bahan bakar biomasa seperti pellet, cangkang sawit (pks/palm kernel shell) dan briquette semakin meningkat akhir-akhir ini. Alasan utama masih aspek ekonomi, yakni penggunaan bahan bakar biomasa di atas akan menghemat belanja energi yakni yang sebelumnya menggunakan gas atau LPG. Selain masalah ekonomi, sebenarnya ada aspek lingkungan yang juga tidak kalah pentingnya. Penggunaan bahan bakar biomasa adalah karbon netral, sehingga penggunaannya tidak menambah konsentrasi CO2 di atmosfer dan untuk itu penggunaan bahan bakar biomasa seharusnya terus ditingkatkan. Tetapi pengelolaan sumber biomasa tersebut harus baik dan berwawasan lingkungan, sehingga keberlanjutan produksi bisa terjamin.

Kandungan abu dari bark pellet sekitar 2-5% dan ini artinya hampir sama dengan cangkang sawit. Tidak terlalu tinggi dan bisa banyak digunakan oleh sejumlah industri atau UKM seperti halnya cangkang sawit. Dengan dibuat pellet memiliki sejumlah keunggulan dibanding cangkang sawit seperti ukuran dan bentuknya lebih seragam dan tingkat kekeringan tinggi, walaupun konsekuensinya juga harganya akan lebih mahal daripada cangkang sawit. 

Minggu, 27 Maret 2016

Pemanfaatan Kulit Kayu (Bark) Untuk Energi, Pertanian dan Bahan Kimia

Photo diambil dari sini
Pada sejumlah industri pengolahan kayu seperti kayu lapis, barecore dan sebagainya limbah kulit kayu masih banyak yang belum dimanfaatkan. Kulit kayu tersebut bisa dimanfaatkan secara langsung sebagai sumber bahan bakar misalnya untuk pengeringan kayu itu sendiri dan inilah umumnya yang dilakukan saat ini, tetapi seringkali akibat jumlahnya yang berlebih ternyata tidak semuanya bisa termanfaatkan. Kulit kayu (bark) juga bisa digunakan untuk energi dalam bentuk lain, yakni dengan dibuat pellet seperti halnya wood pellet, tetapi karena nilai kalorinya tidak cukup tinggi akibat kandungan abu yang besar, maka cenderung dihindari. Pada proses produksi wood pellet untuk premium grade, kulit (bark) ini juga dipisahkan pada proses pengelupasan kulit (debarking) karena untuk mendapatkan kadar abu yang kecil yakni kurang dari 1%. Tentu ada banyak pilihan proses untuk memanfaatkan atau mengolah limbah kulit kayu tersebut, yang pada akhirnya dipilih adalah yang memberikan manfaat terbesar.


Hampir semua industri pengolahan membutuhkan energi baik berupa panas, listrik atau mekanik, sehingga kebutuhan energi sangat besar demikian juga usaha pertanian membutuhkan pupuk berkualitas tinggi untuk produktivitas hasil pertanian. Melihat potensi kebutuhan pasar yang besar tersebut maka pemanfaatan limbah kulit kayu sebaiknya diarahkan untuk kedua hal tersebut. Dengan (slow) pirolisis maka akan dihasilkan sejumlah produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi. Produk utamanya adalah arang, kemudian sejumlah produk samping yakni biooil, syngas dan pyrolysis acid (biomass vinegar) atau asap cair.  Arang selain bisa digunakan energi, tetapi karena kandungan abu-nya cukup tinggi penggunaan untuk pertanian lebih efektif. Arang pertanian (biochar)   memiliki banyak keunggulan pada pertanian, walaupun secara nutrisi arang (biochar) rendah tetapi kandungan karbon yang tinggi membuat material tersebut berpori-pori yang mampu menahan pupuk (slow release) dari pencucian, menjaga kelembaban tanah, menaikkan pH tanah dan rumah mikrorganisme penyubur tanah. Pada akhirnya penggunaan arang (biochar) untuk pertanian tersebut akan meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian.



Sedangkan produk samping berupa biooil dan syngas, keduanya bisa langsung dibakar untuk menghasilkan energi. Pada tahap lebih lanjut biooil juga bisa dimurnikan menjadi grade bahan bakar yang lebih bagus seperti bensin atau solar (minyak diesel). Demikian juga syngas dengan diproses lanjut menggunakan katalis tertentu akan menjadi produk bahan kimia yakni metanol atau etanol. Bagaimana dengan pyrolysis acid (biomass vinegar)? Pyrolysi acid (biomass vinegar) atau asap cair pada porsi tertentu bisa digunakan untuk pengawet kayu, anti rayap dan pengental getah karet. Bau yang tidak enak pada karet akan sangat tereduksi drastis apabila menggunakan biomass vinegar sebagai bahan pengentalnya. Produk-produk tersebut juga lebih alami dan ramah lingkungan karena menggunakan bahan baku yang terbarukan, bukan dari sumber kelompok fossil. Pada prakteknya biasanya sejumlah bahan dari bahan baku fossil masih dibutuhkan dalam prosentase tertentu, tetapi secara bertahap tentu hal ini bisa dikurangi seiring kecenderungan penggunaan dari sumber terbarukan.

Sebuah pabrik pengolahan kayu yang efisien dan zero waste tentu menjadi idaman bagi pemilik pabrik. Zero waste juga sangat bagus dari perspektif lingkungan. Pemilik pabrik bisa mengintegrasikan pengolahan pemanfaatan limbah kulit kayu tersebut dalam sistem produksi yang sudah ada ataupun menjualnya ke pihak lain karena sudah cukup sibuk dan kewalahan dengan operasi harian yang dilakukan. Banyaknya limbah kulit kayu dari pabrik-pabrik pengolahan kayu yang belum termanfaatkan bahkan cenderung mencemari lingkungan dan prospek menarik dari produk-produk yang dihasilkan pengolahan limbah kulit kayu, bisa mendorong berbagai pihak untuk menjadikannya suatu usaha atau bisnis.  

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...