Tampilkan postingan dengan label Pirolisis Biomasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pirolisis Biomasa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Juni 2018

Produksi Biophenol, Bioformaldehyde dan Wood Adhesive dari Produk Cair Pyrolysis


Produk samping dari (slow) pyrolysis biomasa yakni berupa produk cair dan produk gas. Produk cair terdiri dari biooil dan biomass vinegar (pyroligneous acid). Biooil bisa langsung dimanfaatkan sebagai bahan bakar dengan burner tertentu, ataupun bisa juga diupgrade untuk bahan bakar kendaraan. Sedangkan apabila digunakan untuk produk non-energi, bisa digunakan untuk produksi green chemical atau renewable chemical seperti Bioformaldehyde dan perekat kayu (wood adhesive). Sedangkan fase  produk cair pyrolysis yang lebih encer yakni biomass vinegar (pyroligneous acid) bisa digunakan untuk bahan baku (feedstock) produksi biophenol. Sebelumnya biomass vinegar telah diketahui untuk berbagai penggunaan seperti campuran pengental getah karet, anti-rayap dan pupuk. Sedangkan skema proses produksi biophenol dari biomass vinegar seperti berikut. 

Konsumsi global untuk phenol saat ini mencapai 20 juta ton atau senilai 20 milyar dollar Amerika (280 trilyun rupiah). Renewable phenol atau biophenol tersebut bisa mensubtitusi phenol yang selama ini diproduksi berbasis minyak bumi (petroleum). Excess heat dan excess syngas dari proses pyrolysis bisa digunakan untuk proses produksi biophenol tersebut. Suatu unit produksi yang terintegrasi dan efisien akan menghasilkan produk-produk berdaya saing tinggi, seperti proses pirolisis yang produk utamanya berupa arang, dan dari produk sampingnya dibuat produk-produk turunan yang sangat dibutuhkan saat ini. 


Kamis, 15 Maret 2018

Pirolisis Biomasa dan Pembriketan di MENA

Kebutuhan arang khususnya arang briket sangat besar di MENA (Tmur Tengah dan Afrika Utara)  khususnya Arab Saudi. Hal ini karena konsumsi domba yang besar di kawasan tersebut dan menggunakan arang briket sebagai bahan bakarnya. Estimasi kebutuhan domba di Arab Saudi adalah 8 juta ekor/tahun dengan lebih dari 2 juta ekor (seperempatnya) pada musim haji. Masakan domba adalah favorit untuk daerah MENA sehingga diperkirakan lebih dari 20 juta ekor domba setiap tahunnya. Setiap Nabi pernah menjadi penggembala domba, sehingga daging domba adalah juga merupakan daging terbaik untuk konsumsi manusia.

Bahan baku berupa limbah biomasa kayu-kayuan yang banyak terdapat di daerah MENA, karena sejumlah pertanian yang dilakukan disana. Dengan populasi 84 juta phpn kurma atau 70% dari populasi dunia, potensi biomasanya diperkirakan 730.000 ton/tahun dengan 200.000 ton di Arab Saudi dan 300.000 ton di Mesir. Pelepah dan batang pohon kurma adalah bahan baku potensial untuk arang, hal ini karena nilai kaor yang tinggi dan kandungan abu rendah. Limbah dedaunan akan menghasilkan arang dengan nilai kalor yang rendah karena kandungan abunya tinggi. Selain itu limbah kayu-kayuan seperti yang batang kapas yang banyak terdapat di Mesir juga bisa menjadi bahan baku berkualitas untuk produksi arang. Kontribusi sektor pertanian di Mesir cukup tinggi yakni 13,4% sedangkan Arab Saudi hanya 3,2%. Dari kontribusi sebesar 13,4% tersebut budidaya tanaman kapas berkontribusi sekitar 5%.  


Setelah menjadi arang, supaya mudah dalam pengemasan, hemat dalam transportasi dan mudah dalam penggunaan maka arang tersebut dipadatkan menjadi briket. Briket bisa dibuat dengan berbagai bentuk sesuai keinginan, misalnya pillow, oval, hexagonal, cube, silinder maupun octagonal. Sedikit perekat dibutuhkan untuk pembuatan arang briket tersebut dan perekat yang digunakan yakni tepung tapioka karena tidak berbahaya dan tidak merusak cita rasa makanan. 

Pyrolysis kontinyu adalah teknologi terbaik untuk produksi arang tersebut. Dengan pyrolysis kontinyu maka kapasitas limbah biomasa yang diolah besar sehingga hasil arangnya juga besar dan prosesnya juga bisa cepat serta asapnya tidak mencemari lingkungan. Apabila menggunakan teknologi pyrolysis atau karbonisasi konversional atau batch maka selain prosesnya lama, kapasitas kecil juga pada umumnya menghasilkan polusi asap yang mengganggu. Dengan proses pyrolysis kontinyu akan dihasilkan juga produk samping berupa biooil, wood vinegar dan syngas. Syngas bisa dikonversi menjadi listrik dengan menggunakan gas engine. Biooil bisa digunakan untuk bahan bakar boiler maupun bahan bakar kapal. Wood vinegar bisa digunakan untuk bipesticide atau pupuk organik cair.

Pyrolysis kontinyu akan menghasilkan banyak manfaat seperti disebutkan diatas. Pada pengembangan jangka panjang arang tersebut juga bisa digunakan untuk produksi arang aktif. Arang aktif banyak dibutuhkan sejumlah industri untuk berbagai proses pemurnian. Selain itu sejumlah industri yang awalnya menggunakan petcoke juga bisa beralih menggunakan arang tersebut. Bila ingin mendapatkan informasi lebih banyak silahkan email : eko.sbs@gmail.com

Minggu, 27 Maret 2016

Pemanfaatan Kulit Kayu (Bark) Untuk Energi, Pertanian dan Bahan Kimia

Photo diambil dari sini
Pada sejumlah industri pengolahan kayu seperti kayu lapis, barecore dan sebagainya limbah kulit kayu masih banyak yang belum dimanfaatkan. Kulit kayu tersebut bisa dimanfaatkan secara langsung sebagai sumber bahan bakar misalnya untuk pengeringan kayu itu sendiri dan inilah umumnya yang dilakukan saat ini, tetapi seringkali akibat jumlahnya yang berlebih ternyata tidak semuanya bisa termanfaatkan. Kulit kayu (bark) juga bisa digunakan untuk energi dalam bentuk lain, yakni dengan dibuat pellet seperti halnya wood pellet, tetapi karena nilai kalorinya tidak cukup tinggi akibat kandungan abu yang besar, maka cenderung dihindari. Pada proses produksi wood pellet untuk premium grade, kulit (bark) ini juga dipisahkan pada proses pengelupasan kulit (debarking) karena untuk mendapatkan kadar abu yang kecil yakni kurang dari 1%. Tentu ada banyak pilihan proses untuk memanfaatkan atau mengolah limbah kulit kayu tersebut, yang pada akhirnya dipilih adalah yang memberikan manfaat terbesar.


Hampir semua industri pengolahan membutuhkan energi baik berupa panas, listrik atau mekanik, sehingga kebutuhan energi sangat besar demikian juga usaha pertanian membutuhkan pupuk berkualitas tinggi untuk produktivitas hasil pertanian. Melihat potensi kebutuhan pasar yang besar tersebut maka pemanfaatan limbah kulit kayu sebaiknya diarahkan untuk kedua hal tersebut. Dengan (slow) pirolisis maka akan dihasilkan sejumlah produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi. Produk utamanya adalah arang, kemudian sejumlah produk samping yakni biooil, syngas dan pyrolysis acid (biomass vinegar) atau asap cair.  Arang selain bisa digunakan energi, tetapi karena kandungan abu-nya cukup tinggi penggunaan untuk pertanian lebih efektif. Arang pertanian (biochar)   memiliki banyak keunggulan pada pertanian, walaupun secara nutrisi arang (biochar) rendah tetapi kandungan karbon yang tinggi membuat material tersebut berpori-pori yang mampu menahan pupuk (slow release) dari pencucian, menjaga kelembaban tanah, menaikkan pH tanah dan rumah mikrorganisme penyubur tanah. Pada akhirnya penggunaan arang (biochar) untuk pertanian tersebut akan meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil pertanian.



Sedangkan produk samping berupa biooil dan syngas, keduanya bisa langsung dibakar untuk menghasilkan energi. Pada tahap lebih lanjut biooil juga bisa dimurnikan menjadi grade bahan bakar yang lebih bagus seperti bensin atau solar (minyak diesel). Demikian juga syngas dengan diproses lanjut menggunakan katalis tertentu akan menjadi produk bahan kimia yakni metanol atau etanol. Bagaimana dengan pyrolysis acid (biomass vinegar)? Pyrolysi acid (biomass vinegar) atau asap cair pada porsi tertentu bisa digunakan untuk pengawet kayu, anti rayap dan pengental getah karet. Bau yang tidak enak pada karet akan sangat tereduksi drastis apabila menggunakan biomass vinegar sebagai bahan pengentalnya. Produk-produk tersebut juga lebih alami dan ramah lingkungan karena menggunakan bahan baku yang terbarukan, bukan dari sumber kelompok fossil. Pada prakteknya biasanya sejumlah bahan dari bahan baku fossil masih dibutuhkan dalam prosentase tertentu, tetapi secara bertahap tentu hal ini bisa dikurangi seiring kecenderungan penggunaan dari sumber terbarukan.

Sebuah pabrik pengolahan kayu yang efisien dan zero waste tentu menjadi idaman bagi pemilik pabrik. Zero waste juga sangat bagus dari perspektif lingkungan. Pemilik pabrik bisa mengintegrasikan pengolahan pemanfaatan limbah kulit kayu tersebut dalam sistem produksi yang sudah ada ataupun menjualnya ke pihak lain karena sudah cukup sibuk dan kewalahan dengan operasi harian yang dilakukan. Banyaknya limbah kulit kayu dari pabrik-pabrik pengolahan kayu yang belum termanfaatkan bahkan cenderung mencemari lingkungan dan prospek menarik dari produk-produk yang dihasilkan pengolahan limbah kulit kayu, bisa mendorong berbagai pihak untuk menjadikannya suatu usaha atau bisnis.  

Jumat, 12 Februari 2016

Ketika "Bahan Baku" Bioenergi Hanya "Dibuang" dan Membawa Bencana Tahunan : Sebuah Ide Sebagai Solusi Terhadap Masalah Kebakaran Hutan di Indonesia

Kebakaran hutan tidak hanya menjadi bencana lingkungan tetapi telah menjadi malapetaka kemanusiaan yang mengakibatkan sejumlah korban jiwa.Pihak-pihak yang sengaja membakar hutan secara tidak terkendali telah memperparah bencana tersebut.Ratusan ribu hektar hingga jutaan hektar hutan terbakar setiap tahunnya yang itu berarti ekuivalen dengan jutaan hingga miliaran ton biomasa hanya sirna akibat terbakar sia-sia. Padahal jutaan ton hingga miliaran ton biomasa tersebut sangat potensial untuk bahan baku berbagai energi terbarukan atau bioenergi. Dengan jumlah biomasa tersebut saja Indonesia bisa menjadi pemain utama energi terbarukan dunia khususnya wood pellet. Anehnya kejadian tersebut terjadi rutin atau terus berulang setiap tahunnya dan belum ada solusi jitu untuk mengatasinya. Sementara pada musim penghujan sejumlah daerah yang hutannya dibakar tersebut juga mengalami bencana banjir bahkan tanah longsor, jadi lengkap sudah penderitaan setiap tahun dan berulang dari masa ke masa.Tentu hal tersebut tidak bisa dibiarkan dan segera diatasi dengan memutus mata rantainya.
Dengan teknologi densifikasi (biomass densification), maka biomasa dari berbagai tanaman atau pepohonan tersebut bisa dijadikan pellet atau briket. Pellet dan briket adalah dua macam produk densifikasi atau pemadatan biomasa untuk energi yang sangat populer dan selain digunakan di industri dalam negeri juga untuk pasar eksport. Pemilahan (sorting) bahan baku adalah hal yang perlu dilakukan untuk mendapatkan produk pellet maupun briket berkualitas tinggi, yakni standard dan stabil. Pemilahan baku dilakukan antara lain dengan bahan baku kayu-kayuan (woody biomass) dipisahkan dengan bahan rumput-rumputan dan sebagainya. Komposisi yang konsisten ke mesin densifikasi harus terus diupayakan dan dipertahankan untuk mencapai kualitas tinggi tersebut misalnya komposisi kayu keras dan kayu lunak juga harus prosentase tertentu. Selanjutnya kayu-kayu tersebut dihancurkan atau disesuaikan ukuran partikelnya untuk teknologi densifikasi yang dipilih, biasanya akan seukuran serbuk kayu atau serbuk gergaji, lalu dicampur dengan rasio tertentu dan dicetak dengan kompresi tinggi menjadi pellet maupun briket.


Lalu bagaimana dengan limbah rumput-rumputan seperti alang-alang dan dedaunan? Biomasa jenis rumput-rumputan dan dedaunan juga bisa dijadikan sebagai pellet maupun briket, tetapi kualitasnya akan lebih rendah daripada bahan baku kayu-kayuan. Apabila masih bisa digunakan untuk pakan ternak seperti kambing atau sapi maka hal tersebut akan lebih baik dalam pemanfaatan limbah rerumputan dan dedaunan tersebut.

Sedangkan dengan teknologi (slow) pirolisis kontinyu maka semua limbah biomasa tersebut juga bisa terolah dan menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi tinggi. Produk arang adalah produk utama (slow) pirolisis ini karena memang paling sesuai untuk memaksimalkan produk padatnya. Arang tersebut selain bisa dimanfaatkan untuk energi, juga bisa untuk sektor pertanian yakni untuk membantu menyuburkan tanah. Untuk alasan efisiensi transportasi, mempermudah handling, penggunaan dan penyimpanannya arang tersebut juga didensifikasi (dipadatkan) menjadi pellet maupun briket. Ada sedikit perbedaan tentunya antara pemadatan serbuk kayu dengan arang karena karakteristiknya (sifat fisika-kimia) keduanya yang juga memang juga berbeda.



Arang pertanian (biochar) juga akan sejalan dengan tujuan untuk pertanian setelah lahan terbuka. Biochar atau arang tersebut mampu membantu menyuburkan tanah dengan cara menahan kelembaban, menahan nutrisi pupuk yang ditambahkan dari pencucian dan semacamnya serta mengaktifkan sejumlah mikroba tanah.  Pola pemilahan (sorting) bahan baku juga diterapkan pada teknologi ini untuk menghasilkan juga kualitas yang tinggi (standard dan stabil). Bahan baku kayu-kayuan pada umumnya adalah biomasa terbaik untuk berbagai pemanfaatan biomasa untuk energi. Sebagai contoh untuk menghasilkan kualitas arang tinggi dengan menggunakan bahan baku kayu-kayuan saja dengan komposisi antar jenis kayu tertentu juga.

Selain itu pada (slow) pirolisis juga akan dihasilkan produk gas (syngas), biooil (tarry liquid) dan pyrolysis acid (wood vinegar). Syngas bisa digunakan untuk bahan bakar pembangkit listrik maupun sumber panas berbagai keperluan. Hampir semua area yang mengalami bencana akibat kebakaran hutan juga mengalami kekurangan pasokan listrik sehingga pembangkit listrik didaerah tersebut akan sangat dibutuhkan. Biooil sebagai bahan bakar cair juga bisa dimanfaatkan untuk sejumlah industri bahkan bisa diolah lebih lanjut menjadi bahan bakar untuk kendaraan.Terakhir pyrolysis acid (wood vinegar) bisa digunakan sebagai insektisida pertanian.

Sedangkan skenario paling mutakhir adalah pembuatan torrefied fuel.Torrefied fuel ini dibuat dengan teknologi pirolisis juga tetapi dengan suhu (temperature) proses yang lebih rendah daripada proses pirolisis untuk produksi arang (biochar) atau biasa disebut teknologi torrefaksi (torrefaction/mild-pyrolysis). Banyak proses torrefaksi saat ini yang gagal karena kurangnya energi untuk proses torrefaksi itu sendiri. Kombinasi proses pirolisis dengan torrefaksi adalah paduan yang pas yang membuat kedua proses tersebut berjalan sesuai harapan. Pada proses (slow) pirolisiskontinyu yang berjalan secara auto-thermal (self-sustain) juga akan dihasilkan kelebihan gas (excess-syngas) yang bisa digunakan untuk bahan bakar atau sumber energi proses torrefaksi. Sama seperti sebelumnya pemilahan bahan baku juga diperlukan pada proses ini. Konfigurasi proses untuk torrefaksi ini salah satunya yakni, bahan baku berupa rerumputan dan dedaunan digunakan untuk pirolisis dengan hasil arang untuk pertanian dan bahan baku kayu-kayuan untuk bahan baku atau umpan torrefaksi.

Terakhir hasil torrefied fuel tersebut juga hampir semua lalu didensifikasi (dipadatkan) baik menjadi torrefied pellet maupun torrefied briket. Nilai kalor dan sejumlah sifat fisika-kimia (karakteristik) torrefied pellet/briket juga lebih baik dibandingkan wood pellet maupun wood briquette.Sejumlah negara-negara besar baik di Eropa, Amerika maupun Asia berlomba-lomba untuk menjadi pionir dan pemimpin dalam teknologi torrefaksi ini.Jepang adalah negara di Asia yang sudah mencanangkan torrefaksi ini dan saat ini telah menjadi topik yang panas disana, lebih lanjut bisa dibaca disini.
Berbagai ide dan skenario diatas bisa digunakan sebagai solusi untuk mengolah limbah biomasa pada saat pembukaan lahan, tentu dengan cara dipotong atau ditebang bukan dibakar. Jutaan ton hingga miliaran ton biomasa akan mampu diselamatkan dan bermanfaat dengan cara tersebut dan yang jelas bencana lingkungan yang menjadi sorotan dunia juga akan terhindarkan. Ketika hal tersebut telah mampu memberi solusi selanjutnya dalam jangka selanjutnya perbaikan praktek dan sistem pertanian atau perkebunan juga harus dilakukan sehingga bencana lingkungan lainnya yakni banjir di musim hujan juga supaya tidak terjadi. Kebun energi yang memiliki banyak keunggulan baik adalah salah satu solusi yang lain untuk menjaga keberlangsungan (sustainability) lingkungan daerah-daerah tersebut dalam jangka panjang selain juga mampu untuk meningkatkan aspek ekonomi daerah tersebut dengan produksi berbagai bioenergi.

Kamis, 06 Juni 2013

Skenario Pemanfaatan Limbah Hutan

Limbah kehutanan di Indonesia sangat besar jumlahnya dan perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin. Saat ini sebagian besar malah belum dimanfaatkan.  Berbagai skenario diajukan sesuai karakteristik  limbah kehutanan (forest residue) tersebut, kebutuhan pasar dan teknologi pengolahannya.

Teknologi pemadatan biomasa (biomass densification) seperti pemelletan dan pembriketan adalah salah satu skenario yang  menarik untuk diimplementasikan.  Secara visual pellet dan briket berbeda karena dimensinya. Dimensi wood pellet bervariasi dengan diameter antara 6 dan 25 mm dan panjangnya rata-rata sekitar 40 mm, sedangkan bila diameter produknya lebih dari 25 mm disebut sebagai briket. Secara pemanfaatan limbah hutan menjadi briket lebih disarankan, karena ukuran partikel dari pengecilan ukuran (size reduction), kadar air, dan kadar abu persyaratan pembuatan briket lebih longgar. Sedangkan untuk pellet khususnya A1 class pellet (premium pellet) harus menggunakan batang kayu dan dilakukan debarking. A1 class pellet atau premium pellet adalah pellet dengan kadar abu terendah, dan nilai kalor tertinggi. Tetapi jika hanya untuk produksi pellet kualitas standard tidak menjadi masalah. Pellet seperti halnya briket hampir semua bisa untuk konsumsi industri sebagai bahan bakar ramah lingkungan subtitusi batubara.





Sedangkan apabila lokasi limbah kehutanan tersebut berdekatan dengan industri-industri yang membutuhkan banyak bahan bakar seperti pabrik semen, pembangkit listrik dan sebagainya, maka limbah hutan tersebut bisa langsung di chipping (dikecilkan ukuran menjadi seukuran beberapa cm)  untuk langsung dipakai menjadi bahan bakar industri tersebut.

 



  

 


Sedangkan apabila lokasi limbah kehutanan tersebut juga masih kekurangan listrik ataupun perlu sumber energi atau panas lain, maka cara lain yang lebih baik adalah dengan menggunakan teknologi pirolisis kontinyu . Dengan teknologi  ini akan dihasilkan produk berupa arang, biooil dan syngas, yang ketiganya bisa digunakan sebagai sumber energi. Arang bisa dijual ke pabrik semen atau pembangkit listrik sebagai bahan bakar ataupun meningkatkan kesuburan tanah dengan diperkaya berbagai nutrisi untuk tanah yang untuk aplikasi ini arang biasa disebut biochar. Biooil juga bisa langsung sebagai bahan bakar walaupun nilai kalorinya hanya sekitar setengah minyak diesel dan syngas yang kaya akan metana ini berlebih dari sebagian yang dipakai untuk proses pirolisis itu sendiri, sehingga bisa digunakan salah satunya untuk pembangkit listrik dengan lebih mudah dengan Internal Combustion (IC) engine seperti gas engine generator.



Minggu, 30 September 2012

Asap Cair Produk Samping Thermal Proses Yang Multiguna


Asap cair dari pirolisis indirect heating tempurung kelapa
Kondensasi asap atau gas yang terembunkan dari pirolisis biomasa akan dihasilkan asap cair. Demikian juga kondensasi asap dan gas terembunkan pada power gasifier  juga akan dihasilkan asap cair. Kondisi operasi (suhu, waktu tinggal, tekanan dsb) dan umpan (feedstock) akan membedakan produk dan jumlah asap cair yang dihasilkan. Setelah dikondensasi maka gas yang dihasilkan jadi lebih bersih dari berbagai volatil dan kandungan energinya (energy density) lebih besar. 

Pirolisis untuk menghasilkan asap cair umumnya menggunakan indirect heating sedangkan gasifier direct heating. Gasifier dengan indirect heating tidak banyak diterapkan walaupun kualitas gas yang dihasilkan lebih bagus karena kompleksitas teknologi dan investasi peralatannya.  Pada gasifier kondensasi akan banyak memberi keuntungan karena perbaikan kualitas gas. Setelah dikondensasi gas lebih kering dan menghindari berbagai masalah teknis seperti berikut.

Asap cair yang banyak mengandung phenol dan merupakan senyawa kompleks memiliki banyak kegunaan sebagai pengawet kayu, bahan pengental karet, biopestisida dan sebagainya. Karena dihasilkan dari bahan biomasa yang terbarukan produk asap cair juga bisa digolongkan sebagai green chemical atau biochemical. 

Rabu, 05 September 2012

Bahan Bakar Karbon Netral Dengan Briket Arang

Alat Briket Arang Skala Laboratorium

Arang yang dihasilkan dari proses pirolisis selanjutnya bisa digunakan sebagai bahan bakar. Pembriketan akan membuat bahan bakar menjadi lebih padat sehingga lebih murah untuk pengangkutan dan lebih mudah dalam penanganannya. Briket arang dapat dibakar dan bertahan lebih lama dan lebih konsisten daripada bongkahan arang.  Bahan bakar dari arang biomasa ini termasuk bahan bakar yang karbon netral sehingga tidak berkontribusi pada pemanasan global karena karbon dari arang tersebut berasal tumbuhan dimana tumbuhan mengambilnya sumber karbon dari atmosfer sewaktu proses fotosintesa. Perhitungan neraca karbon tersebut (ditinjau dari asal dan pemanfaatannya) akan netral karena tidak ada penambahan unsur karbon ke atmosfer.  Dibawah ini beberapa photo-photo briket arang :



Kualitas arang yang dihasilkan dari proses pirolisis tentu juga akan mempengaruhi kualitas bahan bakar briket arang yang dihasilkan. Selain alat mekanik untuk memadatkan, perekat juga digunakan untuk pembuatan briket arang tersebut.  Arang berupa bongkah-bongkahan akan dikecilkan ukurannya sampai ukuran partikel tertentu, alat seperti disk mill banyak digunakan pada skala laboratorium. Berbagai variable bisa dieksplorasi untuk menghasilkan kualitas briket yang baik seperti tekanan, jumlah dan jenis perekat, kualitas dan ukuran partikel arang dan sebagainya. Arang briket ini banyak digunakan untuk barbeque antara lain di Amerika Serikat, negara-negara Eropa Barat dan Rusia (Moscow).

Berbagai Keuntungan Proses Pirolisis Biomasa

Pirolisis adalah salah satu rute thermal untuk pengolahan limbah biomassa. Ada beberapa motivasi yang mendorong orang melakukan pengolahan limbah biomasa dengan cara ini, seperti pada skema disamping.

Bahan baku biomasa yang bisa diproses dengan pirolisis ini sangat beragam, mulai limbah-limbah pertanian, perkebunan, kehutanan maupun peternakan. Dengan proses ini biasanya akan dihasilkan hasil utama berupa arang. Kondisi operasi proses pirolisis bisa diatur sesuai keinginan tergantung kualitas produk yang dihasilkan. Semakin tinggi suhu pirolisis akan dihasilkan arang dengan kadar karbon semakin tinggi dan kandungan volatil semakin rendah. Dibawah ini skema alat pirolisis yang bisa digunakan untuk penelitian di laboratorium.


Teknologi pirolisis ini sebenarnya telah dikembangkan sejak lama dan akhir-akhir ini kembali mendapat perhatian sebagai generasi kedua biofuel, karena dipicu masalah lingkungan berupa pemanasan global. Bila Anda berminat untuk membuat dan memesan alat tersebut, silahkan hubungi kami.

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...