Tampilkan postingan dengan label perkebunan sawit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perkebunan sawit. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 April 2023

Menjadi Trendsetter Produsen Minyak Nabati Dunia

Dalam pasar minyak nabati, terdapat 4 jenis minyak nabati yang banyak dikonsumsi di seluruh dunia yaitu minyak kedelai, minyak bunga matahari, minyak sawit dan minyak rapeseed. Berdasarkan data USDA (2018) secara total luas area 4 tanaman penghasil minyak nabati tersebut pada tahun 2017 adalah sekitar 208 juta hektar. Kebun kedelai memiliki proporsi luas areal terbesar yaitu 126 juta hektar (61 persen), sedangkan luas areal perkebunan kelapa sawit hanya 21 juta hektar (10 persen). Namun dengan luas areal 126 juta hektar, kedelai hanya mampu menghasilkan minyak 56 juta ton atau hanya 32 persen dari produksi 4 minyak nabati utama dunia. Sebaliknya kelapa sawit dengan areal seluas 21 juta hektar mampu menghasilkan 73 juta ton atau 42 persen dari produksi 4 minyak nabati utama dunia.

Tingginya tingkat produksi minyak sawit diperoleh dari produktivitas minyak perkebunan sawit yang jauh lebih tinggi dibandingkan dibandingkan produktivias tanaman penghasil minyak nabati lainnya. Menurut Oil World (2018), rata-rata produktvitas kelapa sawit yaitu 4,27 ton/hektar, sementara produktivitas tanaman penghasil minyak nabati lainnya hanya 0,4 – 0,6 ton/ha. Produktivitas minyak kelapa sawit jauh lebih tinggi sekitar 8-10 kali lipat dibandingkan jenis lainnya menjadikan kelapa sawit memiliki keunggulan komparatif dibanding minyak nabati lainnya. Keunggulan komparatif ini dapat dimaknai penghematan deforestasi di berbagai kawasan dunia apabila minyak sawit dikonsumsi oleh masyarakat global atau untuk menghasilkan jumlah minyak yang sama lahan yang dibutuhkan kelapa sawit 8-10 kali lebih kecil dibandingkan tanaman lainnya.  

Dengan produktivitas minyak sawit per tahun rata-rata 4,27 ton/hektar atau 17 ton TBS/tahun, sebenarnya hal ini masih cukup rendah dan bisa dinaikkan produktivitasnya hingga mencapai sekitar 30 ton TBS/hektar atau menghasilkan minyak 7,5 ton/hektar. Meningkatkan produktivitas sawit tersebut terutama dengan meningkatkan kesuburan tanahnya sehingga efisiensi pemupukan meningkat. Pupuk lepas lambat (slow release fertilizer) adalah pupuk yang efisien sehingga hemat secara ekonomi dan ramah lingkungan. Selain itu dengan penggunaan biochar, selain sebagai agen lepas lambat pada pupuk tersebut juga akan memperbaiki kualitas atau kesuburan tanah yakni dengan meningkatkan porositas tanah, menyediakan karbon organik, menaikkan pH tanah, menahan air dan hara sehingga lebih tersedia bagi tanaman dan sebagai media untuk koloni mikroba tanah. Dengan peningkatan produktivitas sawit tersebut, diikuti penghematan pupuk karena efisiensi meningkat, meminimalisir pencemaran lingkungan sehingga biaya produksi bisa ditekan, berarti telah setara meningkatkan efisiensi lahan 76%. Artinya dengan produktivitas sawit per tahun 30 ton TBS/hektar, atau 7,5 ton/hektar dan apabila dibandingkan dengan dengan nabati lainnya 15 kali lipat lebih hemat lahan atau untuk per ton minyak sawit butuh 0,13 hektar sedangkan minyak nabati lainnya membutuhkan lahan 2 ha.  

Solusi iklim berupa carbon sequestration / carbon sink juga sekaligus bisa dilakukan dengan aplikasi biochar tersebut. Setiap 1 ton biochar akan menyimpan atau mengurangi CO2 (karbondioksida) di atmosfer sebanyak kurang lebih 3 ton. Carbon credit dari aplikasi biochar tersebut menjadi penghasilan tambahan yang cukup besar selain dari efisiensi pupuk dan peningkatan produktivitas panen termasuk hasil minyak sawitnya. Apalagi nilai carbon credit juga cenderung naik dan mekanisme carbon (CO2) removal dengan biochar akan menjadi trend di masa depan. Besarnya pendapatan dari carbon credit sebanding dengan jumlah aplikasi biochar di perkebunan sawit tersebut yang juga akan sebanding dengan luasan perkebunan sawitnya. 

Luasan perkebunan sawit berkisar ribuan hingga puluhan ribu hektar yang dimiliki oleh suatu perusahaan adalah hal yang banyak ditemui di Indonesia. Hal ini mengindikasikan tentang potensi bisnis yang bisa dilakukan. Dengan luas perkebunan sawit di Indonesia mencapai sekitar 15 juta hektar saat ini, sebanyak 40%  (6 juta hektar) adalah perkebunan rakyat sehingga luas perkebunan perusahaan 60% (9 juta hektar) yang terbagi menjadi dimiliki oleh Perkebunan Besar Swasta (PBS) yaitu seluas 8,42 juta ha (55,8%) dan Perkebunan Besar Negara (PBN) seluas 579,6 tibu ha (3,84%), untuk lebih detail baca disini. Pohon atau tanaman sawit sendiri hanya bisa berproduksi dengan baik pada daerah tropis karena faktor Suhu berpengaruh pada produksi melalui laju reaksi biokimia dan generative dalam tubuh tanaman. Sampai batas tertentu, suhu yang lebih tinggi menyebabkan meningkatnya produksi buah. Suhu 20 C disebut sebagai batas minimum bagi pertumbuhan generative dan suhu rata-rata tahunan sebesar 22-23 C diperlukan untuk berlangsungnya produksi buah.  Hal itulah mengapa tidak semua lokasi di bumi dapat dibudidayakan sawit padahal produktivitas minyaknya terbesar dibanding tanaman lainnya, sehingga menjadi keunggulan komparatif tersendiri. 

Sedangkan dari teknologi produksi biochar, juga dimungkinkan untuk mengurangi penggunaan bahan bakar padat seperti cangkang sawit yang biasa digunakan pada boiler di pabrik sawit. Cangkang sawit yang merupakan bahan bakar biomasa dan digunakan sebagai bahan bakar boiler di pabrik sawit selain fiber (mesocarp fiber), selanjutnya bisa langsung baik untuk pasar dalam negeri (lokal) maupun pasar internasional (export). Cangkang sawit tersebut juga bisa diolah lanjut menjadi arang maupun arang aktif (activated carbon). Penggunaan energi dari teknologi produksi biochar (pirolisis) tersebut juga akan meningkatkan efisiensi boiler pada pabrik sawit, selain penghasilan tambahan dari penjualan cangkang sawit atau pengolahan lanjutannya. Menjadi trendsetter produsen minyak nabati dunia sangat mungkin dilakukan berdasarkan sejumlah alasan tersebut di atas. Dengan kondisi Indonesia saar ini khususnya, ataupun negara-negara produsen minyak sawit lainnya, dengan sedikit improvement, sangat mungkin dilakukan. Apalagi industri sawit menghasilkan sangat banyak limbah biomasa yang sangat potensial sebagai bahan baku biochar.  

Sabtu, 31 Desember 2022

Urgensi Biochar Untuk Memperbaiki Kesuburan Tanah Perkebunan Sawit Ditengah Tingginya Harga Minyak Mentah Sawit (CPO)

Tingginya harga jual CPO sehingga memberi keuntungan besar sehingga bisa menutup biaya produksi tentu tidak berlangsung selamanya. Suksesnya produksi TBS di perkebunan sawit adalah salah satu kunci suksesnya produksi CPO. Suksesnya produksi TBS terkait dengan suksesnya perkebunannya dan komponen biaya tertinggi pada perkebunan sawit adalah biaya pupuk. Kebutuhan pupuk kelapa sawit tinggi setiap pohon sawit mencapai sekitar 10 kg setiap tahunnya dan pupuk tersebut adalah non-subsidi.  Pupuk sebagai salah satu komponen mata rantai biaya produksi CPO tersebut menjadi mudah dibeli jika harga CPO tinggi atau terjadi keuntungan besar. Tetapi semata-mata mengandalkan kondisi tingginya harga CPO saat ini untuk operasional bisnis kelapa sawit tentu suatu kesalahan.

Dan faktanya tahun 2019 harga CPO anjlok dan industri sawit rugi atau hampir tidak ada untung sama sekali. Faktanya ketika terjadi penurunan harga CPO juga menimbulkan kekhawatiran bagi Indonesia karena industri sawit tersebut memiliki banyak peranan strategis baik secara ekonomi, sosial dan lingkungan. Tercatat bahwa harga CPO sejak 2018 terus mengalami penurunan setiap bulannya dibandingkan harga pada tahun CPO 2017. Trend penurunan harga ini menyentuh harga CPO dunia sejak tahun 2015. Harga CPO tersebut tercatat menyentuh angka $448/ton pada bulan November 2018. Padahal harga CPO dunia pada tahun 2016 dan 2017 secara rata-rata diatas $700/ton. Secara rata-rata harga CPO terjadi penurunan 15-16 persen dibandingkan 2017. Eksport CPO ke pasar tradisional Indonesia yakni Uni Eropa dan India pada tahun 2018 juga mengalami penurunan dibandingkan 2017. 

Dan bukan tidak mungkin hal tersebut akan terjadi lagi. Seperti pengalaman masa lalu berupa tuduhan issue dari Parlemen Uni Eropa yang bertujuan menghambat minyak sawit dari Indonesai menguasai pasar Eropa sehingga eksport CPO berkurang, perang dagang yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Sementara dalih yang digunakan adalah tentang deforestasi, praktek kerja anak dan memanfaatkan hutan ulayat. Hal tersebut tentu seharusnya menjadi pelajaran berharga. PTPN holding saja cara mensiasatinya dengan membuat hilirisasi produk CPO (turunan CPO) yakni dengan membuat industri oleokimia. Jika harga CPO jeblok, mayoritas CPO akan dibawa ke produk hilir. Jika margin produk hilir kurang bagus, mayoritas cukup CPO saja. Fleksibilitas produksi sebagai strategi yang membuat industri sawit tersebut "kebal" krisis. Mayoritas produk mereka tersebut baik CPO dan turunannya adalah untuk export. Tetapi membuat hilirisasi industri sawit juga bukan hal yang mudah dan murah yang tidak semua perusahaan sawit bisa melakukannya. 

Biochar untuk memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan efisiensi pemupukan sehingga meningkatkan produktivitas TBS adalah solusi terbaik. Dengan naiknya produktivitas TBS otomatis produksi CPO juga meningkat sehingga upaya ekstensifikasi dengan deforestasi bisa dihindari. Padahal juga selain harga CPO global yang sewaktu-waktu bisa drop, harga pupuk juga sewaktu-waktu juga bisa naik. Hal tersebut semakin mendorong upaya aplikasi biochar tersebut. Pemakaian biochar di perkebunan sawit juga sebagai upaya iklim untuk carbon sequestration (carbon sink) atau skenario karbon negatif untuk mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer, sehingga hal tersebut mendapat penghasilan tambahan berupa carbon credit, yang nilainya semakin tinggi. Faktor lainnya adalah pada industri sawit atau produksi CPO, produk minyak nabati hanya 10% dan 90% adalah biomasa, sedangkan sejumlah biomasa tersebut sangat potensial sebagai bahan baku produksi biochar. 

Dan karena secara organisatoris perusahaan sawit terbagi divisi kebun dan divisi pabrik CPO sehingga untuk memudahkan operasionalnya bisa saja produksi biochar tersebut sebagai satuan bisnis terpisah tetapi masih dalam satu perusahaan ataupun bisa juga dengan pihak lain.  Dan misalnya tandan kosong sebagai bahan baku biochar yang posisinya berada di pabrik sedangkan aplikasi biochar tersebut di tanah perkebunannya. Selain manfaat yang disebutkan di atas produksi biochar juga sebagai upaya penanggulangan limbah biomasa, dan menghasilkan energi yang bisa digunakan untuk produksi CPO tersebut.  Dan ketika harga CPO jeblok tetapi dengan biaya produksinya murah karena pemakaian pupuk dikebun bisa ditekan tetapi produktivitas TBS tetap tinggi maka kerugian yang dialami juga lebih sedikit.  

Kamis, 02 April 2020

Penghematan Pupuk di Perkebunan Sawit dengan Biochar dan Kompos dari Limbah Biogas



Walaupun Indonesia merupakan produsen CPO terbesar di dunia dengan luas perkebunan sawitnya mencapai  sekitar 13 juta hektar, tetapi diperkirakan kurang dari 10% yang memiliki fasilitas biogas dari POME (Palm oil mill effluent) atau limbah cair pabrik sawit. Padahal dengan memanfaatkan POME untuk produksi biogas maka selain bisa dikonversi menjadi listrik atau panas, juga menghasilkan pupuk organik berupa kompos dan pupuk organik cair. Kompos tersebut bisa sebagai pupuk pada perkebunan sawit, yang mana biaya pupuk untuk operasional perkebunan sawit adalah komponen biaya tertinggi. Diperkirakan setiap 10.000 hektar menghabiskan biaya untuk pupuk kurang lebih Rp 35,75 milyar dan untuk lebih detail bisa dibaca disini. Penggunaan kompos tersebut tentu akan mengurangi kebutuhan pupuk tersebut. 
Skema pemanfaatan limbah sawit untuk optimalisasi produksi CPO

Disamping itu limbah-limbah padat seperti tankos sawit, fiber dan pelepah sawit juga sangat potensial untuk produksi energi (listrik dan panas) dan biochar. Produksi energi berupa listrik dan panas tersebut dengan cara membakar produk samping pirolisis berupa syngas dan biooil ke tungku pembakaran untuk memanasi boiler. Dan karena bahan bakar gas dan cair yang digunakan dalam tungku pembakaran tersebut, sehingga proses pembakaran lebih sempurna dan emisi yang bersih. Steam (kukus) yang dihasilkan dari boiler selanjutnya akan menggerakkan steam turbine dan generator sehingga menghasilkan listrik. Kukus (steam) bertekanan rendah dari steam turbine selanjutnya digunakan untuk sterilisasi atau perebusan tandan buah segar. Sedangkan biochar akan digunakan bersama-sama dengan kompos dan pupuk kimia untuk mengefektifkan pemupukan di perkebunan sawit sehingga menjadi pupuk lepas lambat (slow release fertilizer). Biaya untuk pemupukan juga diharapkan bisa dikurangi secara signifikan, misalnya hingga 50% dengan cara tersebut. Biochar meskipun bukan pupuk tetapi memiliki fungsi yang mengefektifkan pemakaian pupuk karena menahan nutrisi pupuk dari pencucian (leaching) misalnya dari air hujan, juga menjaga kelembaban dan sebagainya. 
Loading PKS untuk export
PKS (palm kernel shell) atau cangkang sawit bahkan bisa seluruhnya dijual atau dieksport. Hal ini karena sebelumnya atau pada umumnya cangkang sawit yang digunakan untuk bahan bakar boiler dengan fiber, sudah disubtitusi dengan produk dari proses pirolisis yakni syngas dan biooil. Kebutuhan cangkang sawit baik untuk pasar domestik / lokal dan export terus meningkat sepanjang waktu. Cangkang sawit / PKS adalah bahan bakar ramah lingkungan karena berasal dari biomasa sehingga merupakan bahan bakar carbon neutral. Penggunaan PKS sebagai bahan bakar banyak digunakan oleh sejumlah Industri mulai sebagai sumber panas untuk proses pengeringan seperti spray dryer di pabrik detergent dan keramik, boiler di pabrik makanan seperti pabrik kecap, hingga pembangkit listrik seperti di Jepang, bisa dibaca lebih detail disini. Dalam dunia perdagangan komoditas bahan bakar biomasa khususnya di pasar internasional PKS adalah kompetitor utama wood pellet. Walaupun secara spesifikasi tidak jauh berbeda, harga PKS juga lebih murah karena berasal dari limbah pabrik sawit dan tidak perlu unit pengolahan yang kompleks seperti wood pellet. Dan pada dasarnya dengan skema pemanfaatan limbah-limbah pabrik sawit seperti di atas, maka akan memaksimalkan keuntungan dari pabrik sawit atau pabrik CPO tersebut.

Selasa, 12 Maret 2019

Tips Memilih PKS

Bagi produsen CPO jenis kelapa sawit tenera lebih disukai karena dengan sabutnya yang tebal akan menghasilkan CPO lebih banyak. Sedangkan bagi pemakai PKS (palm kernel shell) seperti pembangkit listrik dan sejumlah industri, tipe kelapa sawit jenis dura lebih disukai. PKS tenera memiliki cangkang tipis (0,5-4 mm) sehingga nilai kalornya cenderung lebih rendah dibanding dura dengan cangkang yang lebih tebal (2-8 mm). Perkebunan sawit lama biasanya menggunakan jenis tenera untuk memaksimalkan rendemen CPO, sedangkan perkebunan sawit lama biasanya menggunakan jenis dura. PKS sebagai produk samping atau salah satu limbah padat pada pabrik CPO sebenarnya tidak menjadi perhatian utama pabrik sawit, dan CPO jelas menjadi fokus utama. PKS terutama menjadi perhatian para pedagang serta penggunanya, sehingga muncul faktor kualitas sebagai konsekuensi transaksi jual beli.
Indonesia memiliki sekitar 12 juta hektar perkebunan kelapa sawit saat ini, yang terdiri dari 4,8 juta hektar perkebunan rakyat, 6,2 juta hektar perkebunan swasta dan 0,8 juta hektar perkebunan negara. Sejumlah daerah di Indonesia masih banyak yang menggunakan jenis dura pada perkebunan sawitnya. Perkebunan sawit rakyat atau sawit masyarakat adalah salah satu yang banyak memproduksi sawit jenis dura tersebut. Ketika permintaan PKS meningkat tajam seperti saat ini terutama untuk pasar export ke Jepang dan Korea (info lebih lanjut baca disini), maka PKS jenis dura menjadi pilihan utama. Pada prakteknya sulit menemukan PKS yang 100% dura karena sumber kelapa sawit yang digunakan pada produksi CPO juga berasal dari berbagai sumber. Sumber dari kebun inti bisa jadi mayoritas berupa tenera, sedangkan kelapa sawit dari kebun rakyat bisa jadi mayoritas dura. Komposisi dura dan tenera juga bermacam-macam tergantung kebun inti dan plasma tersebut. Sebagai contoh suatu pabrik CPO dengan kebun inti yang mayoritas masih tanaman baru sehingga buah kelapa sawit berasal dari kebun masyarakat. Atau bisa juga kebun inti sudah memasuki fase replanting sehingga pasokan terbatas dan mengandalkan kebun masyarakat dan lain sebagainya.
Menurut ilmu botani, tanaman tipe dura mempunyai alela homosigot dominan (sh+sh+) sehingga menghasilkan cangkang tebal. Sedangkan hibrida dari dura dengan pisifera yakni tanaman tipe tenera yang mempunyai alela heterosigot (sh+sh-) mempunyai cangkang tipis dan dikelilingi oleh cincin-cincin serat pada mesocarp-nya. Tanaman tipe pisifera sendiri mempunyai alela homosigot resesif (sh-sh-) sehingga tidak membentuk cangkang. Umumnya untuk jenis pisifera ini tidak dijadikan komersial untuk perkebunan sawit karena gagal membentuk buah. Tetapi memang ada beberapa jenis pisifera tetap fertil dan mampu berkembang biak. Tanaman tipe dura juga bisa dikatakan tanaman induk karena terjadinya tipe tenera adalah persilangan dura dan pisifera.

Sabtu, 26 Januari 2019

Eco-Tourism Dengan Perkebunan Sawit

"Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput (lahan), air dan api (energi)". (HR. Sunan Abu Daud)

Pangan, energi dan air atau FEW (food, energy, water) adalah masalah materi essential bagi kehidupan manusia. Generasi penerus dan anak-anak harus dikenalkan dan dipahamkan tentang hal ini. Diantara sekian banyak subyek atau mata pelajaran yang diajarkan di bangku sekolah, maka topik bahasan tentang FEW harus juga mendapat porsi yang cukup. Dalam level makro kita saksikan suatu negara dan bangsa tidak akan mandiri dan berdaulat jika tidak mampu mandiri dan berdaulat pada urusan FEW. Dengan dikenalkan sejak awal maka akan tertanam pemahaman yang benar tentang FEW baik bagi kehidupan biologis manusia hingga peran strategis dalam kancah percaturan dunia.

Indonesia adalah negara produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan luas perkebunan mencapai 12 juta hektar, produksi minyak sawit (baik CPO dan PKO) mencapai lebih 40 juta ton/tahun dengan lebih dari 1000 pabrik pengolahannya. Sebagai upaya menanamkan pemahaman FEW maka perkebunan sawit bisa digunakan sebagai sarana edukasi dengan dikemas menjadi eco-tourism perkebunan sawit. Daerah-daerah produsen minyak sawit bisa membuat eco-tourism tersebut. Lokasi perkebunan sawit yang mudah aksesnya, tinggi produktivitasnya, dirawat dengan baik, pemandangannya indah mungkin dengan adanya danau, air terjual dan sebagainya serta dilengkapi berbagai sarana dan prasarana penunjang akan sangat baik pembangunan eco-tourism tersebut.
Para pelajar di daerah non produksi sawit seperti di Jawa, Madura, Bali dan Nusa Tenggara masih banyak yang tidak mengenal pohon sawit walaupun setiap hari makan makanan yang digoreng menggunakan minyak sawit. Padahal di daerah-daerah tersebut sebagian besar penduduk Indonesia berada atau daerah-daerah padat penduduk. Apabila anak-anak dan generasi penerus tidak mengenal potensi bangsanya tentu ini sangat disayangkan. Diharapkan dengan mengunjungi obyek wisata berbasis lingkungan (eco-tourism) perkebunan sawit tersebut para pelajar dan generasi penerus menjadi terbuka matanya dan lebih peduli untuk memaksimalkannya. Dengan kunjungan ke obyek wisata tersebut mereka bisa menyaksikan bagaimana sawit ditanam, dirawat hingga terus bisa produksi serta tetap memperhatikan aspek lingkungan hingga industrialisasinya dan memberi keuntungan sehingga menjadi pilihan profesi bagi sebagian orang serta berkontribusi pada negara.
Eco-tourism kebun sawit juga sebagai media untuk melawan black campaign minyak sawit yang saat ini banyak dilakukan oleh negara-negara barat. Selain itu promosi minyak sawit juga bisa dilakukan di obyek wisata tersebut. Selain wisatawan domestik khususnya para pelajar, obyek wisata tersebut juga bisa menarik wisatawan dari mancanegara. Dengan pengelolaan wisata yang baik maka tujuan yang diharapkan bisa tercapai. Saat ini wisata halal (Halal Tourism / Islamic Tourism) juga sudah mulai dipromosikan, dan wisata berwawasan lingkungan kebun sawit bisa menjadi bagian wisata halal tersebut. Pengelolaan wisata berbasis Islam tidak hanya sebatas tujuan duniawi yang bersifat material, tetapi juga memberi berkah dan ridho Allah SWT yang berdimensi akhirat.

Ujicoba Boiler Biomasa dan Pemilihan Bahan Bakar Biomasa yang Sesuai

Seiring dengan trend dekarbonisasi dan sustainibility diberbagai sektor kehidupan, khususnya di industri-industri pengolahan (industri manuf...