Tampilkan postingan dengan label peternakan sapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peternakan sapi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Januari 2026

Pengolahan Limbah Batang Sawit untuk Produksi OPT Dust Block

Pada dasarnya ada banyak opsi untuk pengolahan limbah batang kelapa sawit dari program peremajaan sawit (replanting). Industri pengolahan kapasitas kecil menengah hingga besar bisa dibuat tergantung dari seberapa besar kebutuhan pasar dan kapasitas bahan baku. Teknologi sederhana hingga teknologi canggih juga bisa diaplikasikan pada industri tersebut. Salah satu opsi  pengolahan limbah batang sawit tersebut adalah dengan produksi OPT dust block. OPT dust block adalah kelompok produk biomaterial dengan penggunaan khususnya sebagai alas tidur hewan (animal bedding). Hewan ternak seperti sapi dan kuda membutuhkan animal bedding tersebut dan khususnya pada musim dingin.  

 

Mengapa animal bedding untuk sapi dan kuda cocok dengan OPT dust block tersebut ? Karakteristik material dari batang sawit yang memiliki kemampuan menyerap air cepat menjadi faktor penting. Produksi OPT dust block sebagai teknologi pemadatan (biomass densification) juga tidak sulit, sama seperti pembuatan cocopeat block. Dibandingkan dengan cocopeat block yang juga superior dalam penyerapan air tetapi karena harganya jauh lebih mahal, maka OPT dust block lebih menjadi pilihan. Selain itu cocopeat block pada umumnya telah digunakan sebagai media tanam.

Volume atau kapasitas produksi OPT dust block juga tidak akan setinggi untuk kebutuhan energi atau bahan bakar, misalkan apabila limbah batang sawit diolah menjadi pellet (OPT pellet) dan untuk bahan bakar pembangkit listrik, lebih detail baca disini. Tetapi sebagai solusi pemanfaatan limbah batang sawit sehingga tidak dibiarkan saja sehingga mencemari lahan, tentu produksi OPT dust block bisa sebagai solusi jitu. Ceruk pasar di sektor peternakan dengan aplikasi animal bedding  juga bisa terus meningkat seiring perkembangan sektor peternakan tersebut. Dan sebagai bisnis yang bisa memberi keuntungan finansial  dan juga sebagai solusi masalah lingkungan, tentu ini sangat menarik dan perlu dipertimbangkan.  

Selasa, 24 Agustus 2021

Densified Biomass (Biomass Pellet & Biomass Block) untuk Animal Bedding

Berbeda dengan wood pellet yang digunakan untuk bahan bakar sehingga kualitas atau karakteristiknya ditinjau dari sisi pembakaran seperti nilai kalor, kadar abu hingga kimia abu, wood pellet yang digunakan untuk animal bedding memiliki persyaratan kualitas yang berbeda. Pada wood pellet untuk bahan bakar faktor performa dan efisiensi pembangkit listrik menjadi tolok ukurnya, sedangkan pada wood pellet pada animal bedding faktor kesehatan hewan ternak menjadi tolok ukurnya. Penggunaan animal bedding terutama pada daerah-daerah subtropis atau daerah dengan empat musim dan kebutuhannya semakin meningkat pada musim dingin. Penggunaan wood pellet untuk animal bedding memang tidak sepopuler wood pellet untuk bahan bakar sehingga juga penggunaannya juga tidak sebanyak penggunaan untuk bahan bakar. Untuk animal bedding kualitas wood pellet yang dipersyaratkan adalah kemampuan menyerap air, tidak terlalu keras (kepadatan rendah), tidak mengandung bahan berbahaya dan tekstur yang lembut. Tidak hanya wood pellet yang biasa digunakan sebagai animal bedding tersebut tetapi juga biomass block. 

Dengan dipadatkan (densification) seperti pellet dan block tersebut maka biaya transportasi lebih murah, memudahkan penyimpanan dan penggunaannya. Dalam sejarahnya animal bedding yang mula-mula digunakan adalah jerami (straw) karena mudah didapatkan dan banyak tersedia. Kekurangan jerami seperti penyerapan air rendah sehingga urine lebih banyak mengalir keluar daripada terserap dan juga setelah tercampur urine dan kotoran ternak juga masih bisa dimakan oleh hewan ternak tersebut sehingga sering menyebabkan sakit perut mendorong inovasi untuk animal bedding tersebut. Selain itu jerami juga sering mengandung cukup banyak debu dan membutuhkan ruangan luas untuk penyimpanan. Serutan kayu (wood shaving) adalah material animal bedding selanjutnya yang lebih baik daripada jerami. 

Wood shaving dalam bentuk bal biasa diperjualbelikan untuk animal bedding ini. Debu-debu juga dipisahkan sebelum wood shaving dibuat bal, sehingga tidak menjadi masalah pernafasan pada hewan tertentu seperti kuda dan sapi perah. Kemampuan penyerapan air wood shaving juga lebih baik daripada jerami yakni berkisar 260% sampai 420% sedangkan jerami dikisaran 200% saja. Sejumlah produsen bahkan memperkaya wood shaving tersebut dengan enzyme dan bakteri untuk mengikat amonia sehingga tidak lepas ke udara. Produk ini membuat masa pakai animal bedding lebih lama dan setelah itu bisa menjadi pupuk kompos yang bagus. Tetapi karena kepadatan bal dari wood shaving tersebut cukup rendah yakni kurang dari 200 kg/m3 sehingga kurang ekonomis untuk transportasi dan penggunaan jarak jauh. Hal tersebut sehingga pemadatan biomasa (biomass densification) menjadi wood pellet atau biomass pellet dan biomass block menjadi solusi masalah tersebut.

 

Sejumlah produk pemadatan biomasa di atas sudah digunakan untuk animal bedding. Di sejumlah negara empat musim seperti kuda, sapi perah dan ayam menggunakan animal bedding sehingga secara tidak langsung produk ini mendukung ketahanan pangan khususnya sumber protein hewani seperti daging dan susu. Faktor penting lainnya bahwa produk-produk animal bedding tersebut bukan berasal dari biomasa yang mengandung bahan berbahaya atau harus berasal untreated wood jika berasal dari biomasa kayu, sehingga bahan baku dari kayu yang dicat, dipelitur, didempul atau mengandung bahan kimia lainnya tidak bisa digunakan. Sedangkan untuk bahan baku di atas, albasia atau sengon adalah jenis kayu lunak, EFB (empty fruit bunch) atau tandan kosong kelapa sawit, OPT atau batang sawit biasa didapat saat replanting perkebunan sawit dan cocopeat adalah sideproduct dari industri cocofiber atau pengolahan sabut kelapa. 

Selasa, 23 Februari 2021

Pembriketan Limbah Perkebunan Nanas

 

Buah nanas termasuk buah yang cukup digemari di seluruh dunia hal tersebut terlihat dari prosentase produksi buah nanas dalam produksi buah dunia yang mencapai 8%.  Tanaman nanas hampir sama seperti pohon pisang yakni setelah berbuah satu kali tanaman tersebut mati, dan selanjutnya produksinya diteruskan oleh anakkannya hingga beberapa generasi. Atau lebih detailnya bahwa tanaman nanas berproduksi setelah 1-2 tahun ditanam dan mati setelah berbuah serta menghasilkan sekitar 70 helai daun. Tanaman nanas tersebut akan dibongkar setelah dua atau tiga kali panen untuk diganti tanaman baru, yang mengakibatkan limbah daun nanas terus bertambah. Saat ini hampir belum ada pemanfaatan limbah tersebut dan daun nanas juga tidak bisa digunakan untuk pakan ternak sehingga hanya dibakar atau dibuang begitu saja yang juga menyebabkan pencemaran lingkungan. Dalam setiap hektar kebun nanas limbah yang dihasilkan bisa mencapai 3 ton. Perkebunan-perkebunan besar nanas biasanya dengan luasan ribuan bahkan puluhan ribu hektar sehingga produksi limbah tersebut juga sangat banyak. Penanganan limbah daun nanas dengan metode yang efektif dan efisien tentu akan memberikan nilai tambah tersendiri apabila dikaji dari sisi ekonomis., sehingga perlu diupayakan penanganan limbah tersebut dan pembriketan adalah solusi jitu untuk problem tersebut.


Walaupun sama-sama menggunakan teknologi pemadatan biomasa (biomass densification), pembriketan daun dan batang nanas lebih mudah dan murah dilakukan daripada dibuat pellet. Produksi briket daun nanas tersebut selanjutnya bisa digunakan untuk bahan bakar memasak, industri bahkan pembangkit listrik. Selain itu briket daun nanas tersebut juga bisa untuk meningkatkan produksi biogas. Sejumlah perusahaan perkebunan nanas besar ada yang memiliki usaha peternakan sapi. Peternakan sapi dipilih terutama karena bisa memanfaatkan kulit atau limbah buah nanas untuk pakan sapi tersebut. Dan karena volume nanas yang dihasilkan juga sangat besar maka limbah buah nanas juga besar dan peternakan sapi yang dibuat juga besar. Kotoran sapi tersebut biasanya diolah lanjut untuk produksi biogas dan digestate dari biogas lalu dibuat kompos. Kompos yang dihasilkan tersebut digunakan kembali dalam perkebunan nanas tersebut. Briket daun dan batang nanas yang ditambahkan pada substrate atau kotoran lalu dicampur (co-digestion) selanjutnya akan menambah produksi biogas secara signifikan, untuk lebih detail baca disini.  

  

Dengan skenario seperti di atas maka hampir semua limbah biomasa yang dihasilkan dari perkebunan dan industri nanas bisa termanfaatkan secara optimal. Demikian juga limbah dari usaha sampingan berupa peternakan sapi untuk produksi biogas. Selain perusahaan-perusahaan besar perkebunan nanas, sentra-sentra produksi nanas di Indonesia seperti Subang, Pemalang, Prabumulih, Kediri, Blitar, Kubu Raya, Mempawah, Muaro Jambi, Kampar, Lampung Tengah dan Karimun juga bisa mengembangkan konsep di atas.

Kamis, 24 Januari 2019

Integrasi Peternakan Sapi dan Pabrik PKO

Pabrik PKO atau pabrik minyak inti sawit memiliki peluang lebih besar untuk mengintegrasikan peternakan khususnya sapi pada bidang usahanya. Hal tersebut karena pada produksi minyak inti sawit (PKO / palm kernel oil) dihasilkan produk samping berupa bungkil sawit atau PKE (palm kernel expeller) atau PKC (palm kernel cake) yang bisa digunakan untuk pakan sapi tersebut. Pabrik minyak inti sawit tidak perlu menjual bungkilnya tetapi memanfaatkan untuk keperluan internal yakni untuk peternakan sapinya. Sapi-sapi tersebut juga akan lebih baik apabila digembalakan dengan tambahan makanan berupa bungkil sawit tersebut. Bagi perusahaan sawit tentu bukan suatu masalah untuk menyediakan lahan penggembalaan untuk beberapa puluh atau beberapa ratus hektar, karena banyak perkebunan sawit yang mencapai ribuan hingga puluhan ribu hektar. Selain peternakan sapi, peternakan domba juga bisa dikembangkan bersama, karena sejumlah penelitian menunjukkan penggembalaan sapi dan domba menunjukkan hasil positif.

Pabrik PKO jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pabrik CPO. Banyak perusahaan sawit yang memiliki pabrik-pabrik CPO tetapi tidak memiliki pabrik PKO. Hal tersebut disebabkan antara lain rendahnya rendemen minyak inti sawit dibandingkan dibandingkan minyak sawit (CPO) dan penanganan produk minyak inti sawit juga lebih sulit dibandingkan CPO. Pabrik PKO menghasilkan produk samping berupa bungkil sawit sedangkan produk CPO tidak. Ketersediaan bungkil sawit untuk integrasi dengan peternakan sapi akan menjadi kelebihan tersendiri, karena faktor pakan adalah faktor vital bagi usaha peternakan. Pakan adalah komponen biaya tertinggi yang mencapai sekitar 70% pada usaha peternakan tersebut. Dengan adanya ketersediaan pakan yang lebih memadai dan dikombinasikan dengan penggembalaannya, maka produksi daging sapi dengan cara penggemukan di peternakan tersebut bisa dipercepat dan dioptimalkan. Rencana pemerintah Indonesia untuk mengimport daging kerbau dari India sebanyak 100.000 ton/tahun harus dibatalkan dengan mengusahakan peternakan sendiri. Peredaran daging haram yakni daging babi hutan yang menimbulkan keresahan masyarakat juga bisa diberantas apabila daging tersedia secara mencukupi.
Porsi Asupan Protein Menurut Al Qur'an
Program swasembada daging yang menjadi visi pemerintah Indonesia dalam sektor pangan hanya bisa tercapai bila pemerintah mendorong tercapainya hal tersebut secara sungguh-sungguh. Menggalakkan peternakan serta mempermudah jalur distribusi pemasarannya dengan berbagai kebijakan mendukung akan membuat program tersebut terlaksana dengan lancar. Tentu saja semua orang berakal sehat akan mendukung program positif tersebut apabila dilakukan dengan cara yang baik, bukan sekedar retorika dan pencitraaan saja. Protein adalah sumber pangan essential bagi tubuh manusia sehingga apabila kebutuhannya tidak terpenuhi akan menimbulkan masalah. Al Qur'an juga mengindikasikan sumber protein dari ternak besar menempati porsi terbesar dibanding unggas dan ikan. Sumber protein hewani yakni dari ternak besar terungkap dalam setidaknya 7 ayat atau 64%, dari ikan terungkap dalam 3 ayat atau 27% dan dari unggas terungkap dalam 1 ayat atau 9%. Sehingga untuk pemenuhan kebutuhan protein prioritasnya adalah dari ternak besar seperti sapi.

Selasa, 20 Maret 2018

Mencari Harta Terbaik Dari Implementasi Kebun Energi Bagian 6

Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. ” (QS 16:10)

Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.”(QS 20:54)

"Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput (lahan), air dan api (energi)". (HR. Sunan Abu Daud).

Ketika muslim mengamalkan petunjuk-petunjuk diatas, maka masalah pangan, energi dan air akan bisa diatasi. Mengapa masalah pangan, energi dan air saat ini begitu carut marut? Bahkan bisa mengancam kedaulatan suatu negara. Jawabannya karena tidak mengamalkan petunjuk-petunjuk diatas. Di era saat ini ketika dunia berlomba-lomba menurunkan suhu bumi, sektor energi bisa sebagai entry point strategis. Energi dari pepohonan atau kayu-kayuan yang juga sejalan dengan petunjuk Al Qur'an saat ini telah menjadi program dunia karena merupakan bahan bakar karbon netral yang tidak menambah kadar CO2 di atmosfer. Eropa contohnya dengan program bioeconomy yang dicanangkan, energi dari biomasa mencapai 70%. Jepang dan Korea dengan program energi terbarukan juga membutuhkan puluhan juta ton bahan bakar biomasa. Amerika Serikat melalui Departemen Energinya telah mencanangkan produksi biomasa kering minimal 1 milyar ton pada tahun 2040 tanpa merusak lingkungan. Kanada dengan climate plan-nya juga telah mentargetkan menghapus atau bebas pembangkit listrik batubara dan gas (coal free) pada 2030. Ketika muslim mengamalkan petunjuk-petunjuk tersebut maka dia akan mendapat pahala karena keimanannya pada Allah SWT dan Rasul-Nya, tidak sekedar hanya manfaat duniawi seperti manfaat lingkungan dan manfaat ekonomi. 
Wood pellet adalah produk pengolahan biomasa yang sangat populer hari ini. Kebun energi multipurpose bisa digunakan untuk produksi biomasa kayu-kayuan sebagai bahan baku produksi wood pellet. Pasar export wood pellet terutama Jepang dan Korea, tetapi keduanya memiliki karakteristik tersendiri, untuk lebih detail dibaca disini. Merancang kebun energi multipurpose untuk produksi juga membutuhkan teknik tersendiri, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Dengan syirkah sangat mungkin potensi tersebut dapat diwujudkan. Lalu bagaimana kalau kaum muslimin tidak mau bersyirkah (kerjasama bisnis secara syariah)? Pertama, jelas akan sangat sulit menangkap peluang tersebut. Kedua, masalah pangan, energi dan air akan dikuasai non-muslim, dan kaum muslim hanya jadi penonton dan konsumen saja, mirip dengan kondisi hari ini. Ketiga, ketika urusan penting yakni pangan, air dan energi tidak ditangan kaum muslim, maka kaum menjadi tidak mandiri dan mudah dipecahbeah dengan adu domba dan sebagainya. Migrasi dari ekonomi fossil ke bioeconomy adalah momentum tepat untuk kebangkitan ekonomi umat dengan cara bersyirkah tersebut.  Pasar wood pellet dalam negeri juga perlu diciptakan dan dikembangkan secara berkesinambungan. Bukan mustahil ketika produksi bahan bakar biomasa khususnya wood pellet telah massif, maka peran energi terbarukan dari biomasa menjadi dominan. Apalagi saat ini Indonesia juga telah menjadi nett importir minyak bumi. Minyak bumi yang diproduksi didalam negeri tidak cukup lagi untuk memenuhi konsumsi penduduknya. 
Peternakan domba dan lebah madu yang diintegrasikan dengan kebun energi, akan memberikan nilai tambah yang optimal. Produsen domba di Indonesia yang belum berkembang dan terorganisir membuat kontribusi dalam sektor ekonomi masih minim. Sebagai contoh di negara yang mayoritasnya non-muslim seperti Amerika Serikat telah  ada asosiasi domba yakni American Sheep Industry Association (ASI) yang beranggotakan sekitar 83.000 produsen domba. Selain sejumlah padang rumput baik yang berada di areal kebun buah-buahan atau tanaman pangan, seperti kebun kelapa, kebun mangga, jambu dan sebagainya adalah lokasi yang ideal untuk peternakan domba tersebut, maka padang rumput berada di area hutan yang produk utamanya kayu seperti mahoni, sengon dan sebagainya juga sangat bagus. Sebagai referensi Alberta, Kanada Kementrian Perlindungan Lingkungan setempat telah menggunakan puluhan ribu domba untuk mengendalikan tanaman rumput berbulu yang menghalangi tumbuhnya rumput pakan di area tersebut. Domba termasuk binatang ternak yang tahan terhadap sejumlah tanaman yang dianggap beracun, seperti tanaman berbulu yang merupakan sejenis gulma dan beracun bagi sapi. Sehingga karena kemampuannya tersebut di Texas dan Southwest domba juga dimanfaatkan untuk mengendalikan sejumlah species gulma yang menyerang habitat rumput. 
Menjaga tingi rumput minimal 3 inch (7,5 cm) adalah
faktor penting dalam penggembalaan
Teknik menggembala di Indonesia bisa jadi akan punya ciri khas tersendiri, hal ini karena Indonesia beriklim tropis, sedangkan sebagian besar produsen domba saat ini di daerah beriklim subtropis. Tetapi justru di daerah tropis inilah seharusnya peternakan domba mendapatkan tempat ideal untuk penggembalaannya, karena merujuk pada petunjuk Al Qur'an di atas (QS 16:10). Penggembalaan rotasi adalah cara terbaik untuk mendapatkan kualitas dan kuantitas daging terbaik. Susu, wool dan kulit juga merupakan produk-produk lain yang dihasilkan dari peternakan domba tersebut yang juga sangat dibutuhkan Indonesia saat ini. Kecepatan rumput untuk pulih pada musim penghujan jauh lebih cepat daripada musim kemarau. Tetapi karena hujan berlebihan bisa mengakibatkan domba-domba tersebut sakit dan mati, maka durasi penggembalaan sewaktu musim penghujan bisa dipercepat, tetapi dengan rotasi lebih pendek dan domba akan lebih banyak berada di kandang. Sedangkan pada musim kemarau cara penggembalaan menjadi sebaliknya. Irigasi yang baik akan membuat rumput tetap 'ijo royo-royo' pada musim kemarau. Pada era saat ini untuk mendapatkan air untuk irigasi sejumlah cara bisa ditempuh. Selain mengalirkan air dari sumber air di pegunungan atau membendung aliran sungai, cara lain seperti membuat sumur lalu airnya dinaikkan dan digunakan pada perkebunan dan peternakan tersebut. Sejumlah teknologi bisa digunakan untuk menghasilkan listrik untuk energi pompa yang menaikkan air dari sumur tersebut, sebagai contoh energi matahari dengan solar pv, energi angin, energi biomasa dengan gasifikasi, stirling engine dan ORC (organic rankine cycle). 
Penggembalaan domba dengan sapi juga terbukti memberikan hasil positif. Hal ini dikarenakan kedua jenis hewan ternak tersebut mempunyai kebiasaan penggembalaan yang berbeda, sebagai contoh domba menyukai rumput berdaun lebar, sedangkan sapi menyukai rumput berdaun sempit. Penggembalaan domba dan sapi tersebut bisa dilakukan secara bersamaan maupun waktunya berlainan. Padang gembalaan juga lebih baik, karena seluruh tanaman rerumputan dimakan ternak baik domba maupun sapi secara merata. Apabila padang rerumputan tidak digembala secara merata, maka kualitas rumput juga akan menurun. Jenis-jenis rumput tertentu menjadi favorit bagi domba sehingga jenis ini akan lebih banyak dimakan, bahkan habis. Rumput dengan kondisi demikian menjadi sulit untuk tumbuh lagi dengan baik. Padang gembalaan seperti halnya ladang pertanian juga harus dijaga keberlanjutannya untuk terus bisa menghasilkan pakan ternak-ternak tersebut. Indikasi penting lainnya bahwa penggembalaan bersama ini memberikan hasil lebih positif, adalah dari sejumlah penelitian yang dilakukan diberbagai lokasi di dunia bahwa dengan penggembalaan domba dengan sapi, kenaikan berat badan domba sekitar 10% daripada hanya penggembalaan domba saja dan kenaikkan berat badan sapi sekitar 25% dibandingkan hanya penggembalaan sapi saja. 
Peternakan lebah madu adalah usaha tambahan lainnya untuk meningkatkan optimalisasi pemanfaatan lahan dan membantu sejumlah penyerbukan pada berbagai tanaman. Ada banyak jenis lebah madu, pertimbangan memilih jenis lebah madu juga didasarkan pada teknik budidayanya dan hasil madunya. Lebah madu lokal pada umumnya lebih mudah dibudidayakan seperti genus Trigona (stingless bee). Wood pellet, domba, (plus sapi) dan madu adalah produk-produk integrasi kebun energi dengan peternakan domba-sapi dan lebah madu. Inilah peluang saat ini khususnya bagi muslimin untuk mendongkrak dan mengakselerasi pertumbuhan ekonominya dengan bersyirkah seperti hadist Nabi SAW diatas. Ketika bioeconomy di Eropa mentargetkan menggerakkan sektor ekonomi sebesar € 2 trilyun (34. 000 trilyun atau 17 kali APBN Indonesia) dan penyerapan 20 juta tenaga kerja, maka dengan luas Indonesia tidak terpaut jauh dengan luas Eropa maka bioeconomy Indonesia yang berada di daerah tropis berbasis integrasi kebun energi dan peternakan-peternakan tersebut juga seharusnya sangat besar.  Negeri Belanda yang luasnya kurang lebih seukuran Jawa Timur saja menargetkan 2.6-3 milyar Euro (sekitar 50 trilyun rupiah) dari sektor bioeconomy-nya. Tentu yang lebih penting dari itu semua adalah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT  sehingga berkah dari langit dan bumi akan dilimpahkan:
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96) 

Pabrik Sawit: Ganti Boiler Saja? Apa Sekaligus Mencari Solusi untuk Bebas Problem Tandan Kosong Sawit dan Keuntungan Tambahan ?

Seiring dengan bertambah luasnya perkebunan sawit di Indonesia yang saat ini sekitar 17 juta hektar, maka demikian juga pabrik sawit yang di...