Tampilkan postingan dengan label asam laurat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label asam laurat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Agustus 2026

Buah Kelapa Reject (Non- Standard) untuk Produksi Bioavtur / SAF

Organisasi penerbangan sipil internasional / International Civil Aviation Organization (ICAO) telah memasukkan kelapa non-standar di dalam positive list ICAO – ICAO document – CORSIA Default Life Cycle Emissions Values for CORSIA Eligible Fuels, Edisi ke-6 pada tanggal 28 Oktober 20024. Kelapa non-standar itu meliputi kelapa tua berukuran sangat kecil, sudah bertunas, mulai membusuk atau berjamur dan yang pecah. Berdasarkan data dari sejumlah riset bahwa jumlah kelapa non standar di Indonesia diperkirakan mencapai 30% dari produksi kelapa Indonesia. Kelapa non-standard juga menjadi potensi bahan baku untuk produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan / SAF (Sustainiable Aviation Fuel). 

Pada dasarnya bahan baku yang dicari untuk bioavtur SAF adalah trigliserida murni dan rantai karbon rantai panjang.Hal ini mengingat volatilitas bahan bakar jet, komponen yang lebih disukai adalah hidrokarbon dalam kisaran parafin C10 hingga C15. Lebih jauh, untuk memenuhi spesifikasi titik beku (-47oC), parafin ini harus banyak bercabang untuk mencapai titik beku rendah tersebut. Hal ini sehingga bio-avtur atau SAF tersebut harus memiliki ikatan atom karbon atau ikatan C direntang C10-C15, dan pada rentang tersebut minyak inti sawit dan minyak kelapa paling sesuai karena tingginya komposisi asam laurat yang terdiri 12 atom C.

Dengan tingginya kandungan laurat pada minyak inti sawit dan minyak kelapa maka yield akan tinggi karena kandungan minyak tersebut berada pada rentang bio-avtur yakni C10 - C15 . Hal ini berbeda apabila menggunakan vegetable oil yang rantai karbonnya lebih panjang misalnya CPO, minyak nyamplung atau minyak kanola. Apabila menggunakan minyak nabati dengan rantai panjang maka yield akan kecil dan perlu proses cracking extra untuk meningkatkan yield bioavtur atau SAF-nya. 

Dan karena yang digunakan untuk bahan baku bioavtur / SAF adalah minyak dari daging buah kelapa, sehingga air kelapanya bisa digunakan untuk produksi nata de coco atau air kelapa kemasan, lalu tempurung kelapa untuk produksi arang, briket arang atau arang aktif, sabut utk bahan bakar menghasilkan energi dan abu yang kaya kalium  untuk pupuk atau untuk media tanam (cocopeat) dan cocofiber. Sedangkan bungkil / ampas kelapa digunakan untuk pakan ternak. 

Jumat, 08 November 2024

Minyak Inti Sawit (PKO) dan Minyak Kelapa (CCO) Untuk Bio-Avtur (SAF)

Bio-avtur atau SAF (Sustainable Aviation Fuel) akan menjadi satu-satunya upaya dekarbonisasi pada sektor penerbangan hingga beberapa dekade ke depan. Tiga proses produksi terkemuka untuk produksi SAF yakni HEFA, FT dan ATJ.  Dan dari ketiga proses tersebut proses HEFA paling efisien dan paling kompetitif saat ini, diprediksi bertahan sampai 2030. Bahan baku atau feedstock untuk proses HEFA ini terutama adalah vegetable oil, used cooking oil/minyak jelantah, lemak binatang dan sebagainya. Proses HEFA juga telah disetujui oleh ASTM untuk digunakan sebagai bahan bakar penerbangan (bio-jet fuel) berdasarkan pada ASTM D7566-14. Pada tahun 2011 versi terbaru standard tersebut dipublikasikan bahwa memperkenankan hingga 50% produk bahan bakar penerbangan HEFA untuk ditambahkan pada bahan bakar jet konsensional atau bahan bakar dari minyak bumi (avtur). ASTM sendiri, sebagai suatu entitas, tidak memiliki wewenang atau menggerakkan proses pengembangan atau kualifikasi suatu teknologi SAF baru, melainkan hanya membuat kerangka kerja, proses, dan repositori  yang menjadi dasar bagi industri membuat metode pengujian, spesifikasi, klasifikasi, panduan, dan praktik untuk kebutuhan mereka sendiri. 

Bio-avtur atau SAF harus memiliki karakteristik dengan bahan bakar jet konvensional sehingga bisa digunakan dimana saja di seluruh dunia. Bahan bakar jet A terutama digunakan di AS dan jet A1 di seluruh dunia. Bahan bakarnya dapat dipertukarkan. Perbedaan utama antara kedua jenis ini adalah bahwa Jet A1 memiliki titik beku yang lebih rendah (-47oC, vs. -40oC) dan biasanya memiliki aditif penghilang statis (SDA) yang ditambahkan untuk membantu mengurangi penumpukan statis dalam bahan bakar selama penerbangan. Jet A1 adalah bahan bakar pilihan untuk penerbangan antarbenua. Mengingat volatilitas bahan bakar jet, komponen yang lebih disukai adalah hidrokarbon dalam kisaran parafin C10 hingga C15. Lebih jauh, untuk memenuhi spesifikasi titik beku (-47oC), parafin ini harus banyak bercabang untuk mencapai titik beku rendah tersebut. Hal ini sehingga bio-avtur atau SAF tersebut harus memiliki ikatan atom karbon atau ikatan C direntang C10-C15, dan pada rentang tersebut minyak inti sawit dan minyak kelapa paling sesuai karena tingginya komposisi asam laurat yang terdiri 12 atom C.  

HVO / HEFA - SPK (Hydro-processed Esters and Fatty Acids-Synthesized paraffinic kerosene) adalah parafin terbarukan (renewable paraffin) dengan sifat pembakaran yang mirip dengan parafin terbarukan lainnya seperti cairan Fischer-Tropsch, yang diproduksi melalui gasifikasi biomassa dan sintesis kimia. HVO / HEFA dapat diproduksi di fasilitas khusus yang menghasilkan 100% HVO, atau dapat diproses bersama (co-processing) dengan minyak fosil di kilang minyak. Dalam pemrosesan bersama, umpan berbasis bio yang biasanya 5-10% dicampur dengan umpan fosil. Proses HVO /HEFA selain untuk produksi renewable diesel (yang berbeda dengan biodiesel – FAME) juga dapat dimodifikasi untuk menghasilkan bio-avtur / SAF untuk aplikasi bahan bakar jet. AltAir Fuels memasok SAF berbasis HVO / HEFA dan memproduksi sekitar 13 juta liter per tahun.

HEFA diproduksi dengan hidrogenasi dan hidrocracking minyak nabati maupun lemak binatang menggunakan hidrogen dan katalis pada suhu dan tekanan tinggi. Pada hydroteating process ini, oksigen dilepaskan dari feedstock yang terdiri dari trigliserida dan / atau asam lemak ini. Hal ini akan menghasilkan hidrokarbon rantai lurus (paraffin) dengan berbagai properti dan ukuran molekul tergantung dari karakteristik bahan baku dan kondisi operasi proses yang dilakukan. Dengan tingginya kandungan laurat pada minyak inti sawit dan minyak kelapa maka yield akan tinggi karena kandungan minyak tersebut berada pada rentang bio-avtur yakni C10 - C15 . Hal ini berbeda apabila menggunakan vegetable oil yang rantai karbonnya lebih panjang misalnya CPO, minyak nyamplung atau minyak kanola. Apabila menggunakan minyak nabati dengan rantai panjang maka yield akan kecil dan perlu proses cracking extra untuk meningkatkan yield bioavtur atau SAF nya. 

Konversi ini biasanya melalui dua tahap yakni hydrotreatment lalu diikuti dengan hydrocracking/isomerisasi. Proses hydrotreatment ini biasanya dilakukan pada suhu 300 -390 C dan untuk treatment trigliserida, biasanya akan dihasilkan propana sebagai produk samping. Semakin banyak hidrogen ditambahkan semakin sedikit propana yang dihasilkan.  Produk akhir hidrokarbon rantai lurus tersebut bisa disesuaikan sesuai tipe bahan bakar tertentu misalnya untuk bio-avtur atau bio jet fuel atau SAF ini, yakni dengan isomerasi dan proses cracking tersebut. Hidrogen yang digunakan dalam produksi HEFA saat ini sebagian besar berasal dari sumber fosil atau blue hydrogen. Katalis untuk ini dapat berupa katalis hidroproses kilang sederhana (simple refinery hydro-processing catalysts). Katalis ini dapat disesuaikan untuk mengisomerisasi rantai parafin guna menurunkan titik leleh (melting point) produk. Jika perlu, tahap isomerisasi kedua digunakan untuk menjalankan tugas ini guna mencapai sifat aliran dingin bahan bakar jet yang dibutuhkan (jet fuel cold flow properties) yakni Jet A atau Jet A-1.

Saat ini Pertamina telah berhasil menghasilkan bio-avtur atau SAF dari minyak inti sawit atau olahan PKO yakni refined bleached deodorized palm kernel oil (RBDPKO) bernama bioavtur J2.4 atau mengandung bahan nabati berupa RBDPKO 2,4%. Produksi bioavtur ini dilakukan melalui metode co-processing Hydrotreated Esters and Fatty Acids (HEFA) dan memiliki kapasitas 9.000 barel per hari. Bioavtur J.24 tersebut telah sukses dilakukan uji terbang komersial pada pesawat Boeing 737-800 NG milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) pada 4 Oktober 2023. Dan untuk ke depan selain dari sekgi kuantitas yakni porsi minyak nabati (PKO) lebih besar bahkan juga penggunaan minyak nabati lainnya seperti minyak kelapa, minyak CPO, minyak nyamplung dan sebagainya, juga diharapkan kualitas bioavtur juga semakin baik . Selain itu ada juga rencana dari lembaga lain yakni produksi biovatur atau SAF dari minyak kelapa dengan kerjasama dengan Jepang.  

Dalam industri bahan bakar penerbangan, ASTM berfungsi sebagai standar internasional untuk kualitas bahan bakar jet, dan memainkan peran penting dalam memastikan keselamatan, kualitas, dan keandalan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF).  ASTM menetapkan persyaratan untuk kriteria seperti komposisi, volatilitas, fluiditas, pembakaran, korosi, stabilitas termal, kontaminan, dan aditif, antara lain untuk memastikan bahwa bahan bakar tersebut kompatibel saat dicampur. ASTM International (American Society for Testing and Materials) adalah organisasi internasional yang mengembangkan standar teknis untuk berbagai bahan, produk, proses, sistem, dan layanan. Bahan bakar jet harus memenuhi spesifikasi kualitas yang ketat agar memenuhi syarat untuk digunakan dalam industri penerbangan.  

Ada beberapa standar dari ASTM terkait bahan bakar jet ini, yakni pertama, ASTM D1655: Ini adalah spesifikasi bahan bakar jet konvensional yang menetapkan persyaratan untuk Jet A dan Jet A-1 yang diproduksi dari minyak bumi. Spesifikasi ini telah digunakan secara global oleh industri penerbangan sejak tahun 1959 untuk memastikan ketersediaan bahan bakar jet yang aman dan konsisten untuk semua pesawat. Kedua, ASTM D4054: Praktik standar ASTM ini mendefinisikan cakupan pengujian properti bahan bakar, rig, dan mesin yang perlu dipertimbangkan saat mengevaluasi bahan bakar jet sintetis baru. Praktik ini juga menjelaskan keseluruhan proses evaluasi dan peran penting produsen mesin dan pesawat untuk memastikan catatan keselamatan bahan bakar jet yang baik dipertahankan dengan bahan bakar baru ini. Ketiga, Jalur ASTM D7566: Sesuai ASTM D4054, jalur mencakup definisi komponen pencampuran bahan bakar jet sintetis sebagaimana didefinisikan oleh: bahan baku yang diizinkan; proses konversi dan atributnya; dan karakteristik akhir dari komponen murni. Semua ini dirinci baik dalam isi D7655 maupun Lampirannya. Jalur tersebut juga akan menentukan persyaratan pencampuran.

Agar jalur produksi SAF baru dapat dimasukkan dalam D7566, bahan bakar tersebut harus menjalani pengujian ekstensif untuk menentukan rasio campuran maksimum dengan bahan bakar jet konvensional dan menunjukkan bahwa campuran tersebut sesuai dengan tujuannya. Prosedur ini diuraikan dalam ASTM D4054, ‘Praktik Standar untuk Evaluasi Bahan Bakar Turbin Penerbangan Baru dan Aditif Bahan Bakar’.

Setiap batch bahan bakar jet perlu disertifikasi sebelum digunakan. Sementara bahan bakar jet konvensional disertifikasi sebagai bahan bakar D1655 (atau turunannya), SAF murni disertifikasi sesuai persyaratan spesifikasi ketat yang tercantum dalam Lampiran D7566 yang terkait dengan jalur produksi SAF. SAF bersertifikasi D7566 dicampur dengan bahan bakar jet konvensional hingga rasio campuran maksimum yang diizinkan. SAF campuran tersebut kemudian disertifikasi sesuai dengan persyaratan campuran D7566, dan dengan demikian secara otomatis menerima sertifikasi D1655, sehingga sepenuhnya sesuai dengan Jet A/A-1 (‘bahan bakar drop-in’) dan siap digunakan dalam infrastruktur dan peralatan bahan bakar jet yang ada. Singkatnya, ASTM sangat penting bagi industri bahan bakar penerbangan karena merupakan dasar standar internasional untuk kualitas bahan bakar jet, dan SAF khususnya.  

Minggu, 12 April 2020

VCO Sebagai Immune Booster Menghadapi Virus Corona (nCoV-19)


Indonesia diprediksi menjadi episentrum kasus korona, karena lambat dan tidak komprehensifnya penanganan, kurangnya fasilitas kesehatan termasuk laboratorium, besarnya populasi penduduk , luasnya wilayah dan transparansi sebaran kasus yang buruk. Hal tersebut menjadi keprihatinan dan kekhawatiran sejumlah ilmuwan dunia, termasuk sejumlah negara telah menarik duta besarnya dari Indonesia. Salah satu hal yang sangat memprihatinkan adalah sangat minim sekali dari populasi jumlah penduduk yang ditest korona, hal tersebut membuat laporan yang ditampilkan menjadi tidak akurat sehingga tidak bisa dijadikan acuan.Hal yang lebih menyedihkan dari laporan minim yang terinfeksi korona tersebut terdeteksi tingkat angka kematian yang tinggi yakni kisaran 9% atau kategori sangat tinggi (lebih tinggi dari rata-rata internasional). Saat ini diperkirakan diperkirakan hanya sekitar 0,001% (2.700 individu) (24/3/2020) dari populasi penduduk dan ditambah keluhan tentang akurasi dan lamaya proses test korona tersebut, sehingga test massif harus segera dilakukan.
 
Sejumlah simulasi dan pemodelan telah dilakukan untuk memprediksi penyebaran infeksi viris korona tersebut. Berikut ada beberapa simulasi dan pemodelan yang bisa kita jadikan referensi. Professor matematika terapan di University of Essex di Inggris memperkirakan 50% penduduk Jakarta akan terinfeksi dalam 50 hari sejak kasus pertama dikonfirmarsi pada 2 Maret lalu atau itu berarti pada tanggal 21 April 2020. Pemodelan lain dari LSHTM (London of School Hygiene & Tropical Medicine) memperkirakan akan terdapat lebih dari 35.000 kasus tercatat di akhir Maret 2020, dimana jumlah masyarakat yang terinfeksi mencapai lebih dari 960.000 orang. Sedangkan dari riset gabungan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia menyatakan bahwa kematian Covid 19 di Indonesia bisa mencapai 2,6 juta orang (sangat banyak atau hampir 1% dari populasi penduduk). Menurut mereka puncak kasus infeksi mencapai 55 juta orang pada Mei 2020, dan puncak kebutuhan ICU sekitar 6 juta orang.  Dan dari yang dirawat di ICU tersebut diperkirakan 1% akan membutuhkan ventilator atau berarti dibutuhkan 60.000 ventilator. Pada dasarnya dari kurva pemodelan tesebut adalah untuk secara efektif menurunkan jumlah terinfeksi atau membuat kurva lebih landai sehingga berada dibawah daya tampung rumah sakit, yang membuat harapan prosentase masyarakat yang tertolong lebih besar.

Perkiraan puncak pandemi Covid19 di Indonesia

Berdasarkan kondisi di atas maka diprediksi bahwa wabah virus korona akan memakan waktu lama untuk mengatasinya (dan kalau tidak diambil langkah radikal yang sistematis seperti lockdown ketat), maka dipediksi akan memakan waktu lebih dari 1 tahun.  Tentu aja hal tersebut akan sangat berat bagi kehidupan masyarakat khususnya dari sektor ekonomi dan sosial-keamanan. Apalagi puluhan ribu nara pidana (napi) juga sudah dikeluarkan dari penjara-penjara di Indonesia. Hal tersebut seharusnya mendorong penduduk semakin waspada dan antisipatif, termasuk dengan melakukan berbagai tindakan preventif untuk meningkatkan imunitas tubuh terhadap serangan virus khususnya virus korona  yakni dengan mengkonsumsi makanan atau suplemen yang mendukung hal tersebut.

VCO berbeda dengan minyak goreng kelapa karena pada VCO dibuat tanpa pemanasan sehingga menghasilkan asam lemak jenuh rantai sedang atau Medium Chain Fatty Acids (MCFA) yang tinggi, vitamin E, anti oksidan dan enzim-enzim yang ada didalam buah kelapa. Asam laurat dalam VCO mudah diserap sampai ke mitokondria sehingga akan meningkatkan metabolisme tubuh. Asam lemak jenuh, asam laurat (lauric acid) terdiri dari 12 atom karbon, yang diikat jenuh (tidak ada ikatan ganda) oleh atom hidrogen. Hal ini yang membuatnya tidak mudah tengik dan bisa bertahan hingga 2 tahun. Dengan 12 atom karbon tersebut maka asam laurat disebut asam lemak rantai sedang (MCFA). Sedangkan minyak arau asam lemak lainnya pada umumnya seperti minyak goreng sawit, minyak kacang dan sebagainya  merupakan asam lemak berantai panjang (long chain fatty acid=LCFA) dan ikatan kimianya tidak jenuh (ikatan ganda). Asam laurat akan diubah menjadi monolaurin atau sebuah senyawa monogliserida yang diproleh para bayi dari air susu ibu yang mempunyai sifat anti virus, anti bakteri, dan anti protozoa.
Asam lemak rantai sedang (MCFA) bisa langsung diserap melalui dinding usus sesampainya di saluran cerna, proses ini lebih cepat karena tanpa melalui proses hidrolisis dan enzimatik. Selanjutnya langsung dipasok masuk kedalam aliran darah dan langsung dibawa kedalam organ hati untuk dimetabolisir. Didalam hati VCO diproses menjadi energi saja, bukan kolesterol LDL dan bukan timbunan lemak, energi tersebut digunakan untuk meningkatkan fungsi semua kelenjar endoktrin, organ dan jaringan tubuh. Asam Lemak rantai sedang (MCFA) memiliki ukuran molekul yang kecil, sehingga mudah dicerna dan dapat langsung diserap tubuh (diserap oleh dinding usus) karena MCFA mudah menembus mitokondria (sebuah organ yang ada dalam setiap sel tubuh kita yang berfungsi menghasilkan energi untuk tubuh), Sehingga Pankreas, saluran pencernaan, dan hati dapat bekerja lebih ringan.Kemudahan MCFA menembus mitokondria, menjadikan VCO berperan sebagai sumber energi instan atau cepat menghasilkan energi bagi tubuh. VCO juga bisa sebagai supplemen kesehatan halal. Otoritas kelapa Philippina bahkan telah merekomendasikan VCO untuk mengatasi masalah virus korona. Seorang Doktor dari Ateneo De Manila University, Dr. Fabian M. Dayrit salah satu dari sejumlah ahli yang telah mempublikasikan hasil penelitiannya tentang potensi VCO dengan kemapuan anti virusnya untuk melawan virus korona (nCoV-2019), linknya bisa dibaca disini.
Produksi VCO dengan stoples plastik
Pemisahan VCO dari blondo
Produk-produk VCO
Para produsen VCO kecil khususnya yang dulu sempat terkendala untuk memasarkan VCO-nya, khususnya untuk pasar export yang mensyaratkan adanya sertifikasi organik, maka kondisi saat ini menjadi momentum memasarkannya khususnya untuk pasar dalam negeri. Sebagian besar produsen VCO tersebut juga merupakan industri rumah tangga sehingga aktivitas tetap bisa dilalukan dan sejalan dengan himbauan atau perintah untuk bekerja dari rumah (WFH = work from home). Melakukan aktivitas produksi VCO ditengah masa karantina/lockdown di rumah sendiri juga bisa sebagai aktivitas yang menyenangkan, produktif dan menghilangkan kebosanan. Bagi produsen VCO tersebut, juga dimungkinkan untuk mengolah limbah air kelapa untuk produksi nata de coco dan tempurung kelapa untuk produksi arang dan lebih makro untuk menghidupkan kembali industri kelapa terpadu. VCO untuk immune booster artinya sebagai suplemen dalam rangka meningkatkan ketahanan tubuh adalah sangat penting khususnya bagi yang teridentifikasi sebagai ODP (Orang Dalam Pantauan) dan lebih khusus lagi untuk yang berstatus PDP (Pasien Dalam Pengawasan) dan positif terkonfirmasi terinfeksi virus korona. Sedangkan bagi yang sehat adalah hal penting untuk selalu menjaga kesehatan dan menjaga daya tahan tubuhnya terlebih lagi pada masa pandemi seperti ini.

Rabu, 18 Desember 2019

Eco-Tourism Dengan Perkebunan Sawit Bagian 2

Walaupun kebun sawitnya terluas di dunia yakni mencapai 12 juta hektar dan setiap hari mengkonsumsi produk olahan sawit yakni minyak goreng, ternyata masih banyak yang belum tahu bahwa minyak goreng sawit yang digunakan awalnya berasal dari sabut sawit dan bukan dari daging buah atau kernel sawit. Mayoritas masih beranggapan bahwa minyak dari sawit juga sama seperti minyak dari kelapa yakni dari daging buahnya. Walaupun memang dari daging buah sawit juga bisa dihasilkan minyak yakni minyak kernel sawit atau PKO (palm kernel oil) tetapi jumlahnya kecil yakni hanya sekitar 10% dari CPO dan penggunaan utamnya juga bukan untuk minyak goreng tetapi untuk kosmetik, sabun, oleokimia dan sumber lemak nabati. Salah satu yang menarik dari minyak kernel sawit adalah kandungan asam lauratnya yang tinggi, dan ini hampir sama dengan minyak kelapa. Selain di kedua bahan di atas asam laurat juga terdapat di air susu ibu (ASI).  Dan asam laurat ini memiliki banyak sekali manfaat bagi kesehatan, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Saat ini minyak inti sawit juga lebih banyak digunakan dibandingkan dari minyak kelapa sebagai sumber asam laurat.

Sedangkan apa yang disebut dengan minyak sawit adalah identik minyak yang berasal dari sabutnya (mesocarp fiber)  yang juga biasa disebut CPO (crude palm oil). CPO ini adalah minyak yang paling dihasilkan dari pengolahan buah kelapa sawit atau tandan buah segar (TBS)nya. Apabila kita mendengar pabrik sawit maka hal tersebut juga identik dengan pabrik CPO, walaupun pabrik PKO juga merupakan pabrik sawit, dengan alasan seperti diatas. Pabrik CPO juga jauh lebih banyak daripada pabrik PKO, hal tersebut karena tidak semua pabrik CPO memiliki pabrik PKO. Sehingga kernel yang dihasilkan dari pabrik CPO dikirim ke pabrik PKO untuk diolah menjadi minyak. Saat ini hampir 1000 pabrik sawit atau pabrik CPO berada di Indonesia, jumlah yang sangat banyak dan seharusnya familiar dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tetapi ternyata masih banyak masyarakat bahkan para pelajar yang tidak mengetahui potensi Indonesia tersebut.
Bisnis kelapa sawit di Indonesia juga memberi kontribusi cukup besar bagi negara yakni sekitar 3% GDP sehingga juga mendapat banyak dukungan dari pemerintah. Selain itu pengembangan produk sawit juga sangat terbuka dan Indonesia masih kurang berkembang, yakni dengan indikasi bahwa produk yang dieksport masih berupa CPO atau minyak sawit mentahnya, sedangkan seharusnya export berupa produk hilir siap konsumsi atau minimal produk antara (intermediate product) sehingga memberi nilai tambah yang besar bagi Indonesia. Apabila kondisi tersebut bisa dipahami sehingga berbagai strategi pengembangan dilakukan baik dari sektor hulu yakni perkebunannya hingga sektor hilir yakni industri pengolahannya maka kontribusi bisnis ini bagi negara semakin besar. Sebagai contoh bisnis kelapa sawit di Malaysia telah berkontribusi hingga sekitar 7% GDP Malaysia.
Apabila masyarakat Indonesia memahami masalah di atas maka akan lebh mudah untuk mendapatkan solusinya. InsyaAllah. Para pelajar sebaiknya dikenalkan dengan bisnis kelapa sawit di Indonesia baik dari hulu ke hilirnya sehingga pada saatnya bisa diharapkan untuk memetakan masalah sekaligus memberi solusinya. Industri kelapa sawit yang cukup strategis di Indonesia memang seharusnya dikenalkan dengan baik kepada generasi penerus sehingga peran mereka ke depan di industri ini bisa dilanjutkan dan ditambah. Wisata edukasi berbasis lingkungan ke perkebunan dan pabrik sawit sebagai media awal untuk mengenalkan potensi tersebut kepada mereka.

Buah Kelapa Reject (Non- Standard) untuk Produksi Bioavtur / SAF

Organisasi penerbangan sipil internasional / International Civil Aviation Organization (ICAO) telah memasukkan kelapa non-standar di dalam p...