Tampilkan postingan dengan label tandan buah segar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tandan buah segar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2026

Peran Biochar untuk Meningkatkan Produktivitas Sawit, Diantara Penggunaan Bibit Unggul dan Replanting

Produktivitas kelapa sawit terus dipacu hingga ke titik paling optimalnya. Hal ini karena untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat khususnya program mandatory biodiesel B-50. Tentu upaya optimalisasi produktivitas tersebut tidak mudah dan instant. Walaupun poin kunci untuk realisasinya juga telah dipetakan yakni dengan replanting/peremajaan sawit tua, penggunaan bibit unggul dan intensifikasi, tetapi prakteknya juga butuh metode atau approach yang tepat dan butuh waktu.  Replanting/peremajaan sawit tua masih sangat lambat dan banyak kendala, sedangkan penggunaan bibit unggul lebih mendapat perhatian dan terus didorong. Analogi penggunaan bibit unggul ini seperti perbandingan sapi lokal dan ras unggul. Sehingga sebagus apapun perawatan sapi Jawa, bobotnya tidak akan menyamai sapi limousin. Demikian juga dengan bibit kelapa sawit.

Upaya intensifikasi lahan melalui optimalisasi input, teknologi, dan metode budidaya modern juga masih perlu dikembangkan. Sedangkan ekstensifikasi atau perluasan lahan sebisa mungkin dihindari atau diperlambat, untuk lebih detail baca disini. Biochar bisa memiliki peran penting di area intensifikasi tersebut. Selain aplikasi biochar akan meningkatkan kesehatan tanah, yang menjadi prasyarat penting suatu tanaman bisa berproduktivitas secara optimal, juga sangat ramah lingkungan karena bahan baku biochar dari sumber terbarukan yakni biomasa dan meningkatkan efisiensi pemupukan (NUE = Nutrient Use Efficiency). Dan bahkan aplikasi biochar juga sebagai solusi iklim yakni sebagai carbon sequestration. Optimalisasi produktivitas bisa dilakukan dengan cara aplikasi biochar plus penggunaan bibit unggul dengan metode pertanian yang modern dan ramah lingkungan. Jadi memang pada dasarnya optimalisasi tersebut merupakan upaya yang komprehensif dan terukur. 

Indonesia berkontribusi 25% terhadap suplai minyak nabati dunia, menjadikannya aktor kunci dalam stabilitas pasokan minyak nabati dunia. Dengan posisi tersebut, setiap perubahan dalam produksi, kebijakan export maupun dinamika domestik Indonesia akan langsung berdampak pada harga dan keseimbagan pasar internasional. Indonesia saat ini memang produsen kelapa sawit terbesar atau rangking satu di dunia tetapi bukan yang terunggul atau yang paling produktif karena produktivitasnya belum optimal. Dibanding negara tetangga saja yakni dengan Malaysia masih kalah dan sedikit lebih unggul dari Thailand padahal faktor geografi yakni iklim di Indonesia jauh lebih mendukung. Saat ini produktivitas CPO Indonesia berkisar 3,3 ton/hektar sedangkan Malaysia berkisar 3,8 ton/hektar sedangkan Thailand berkisar 3 ton/hektar.  

Yield gap yakni selisih atau kesenjangan antara produksi aktual dengan potensi produksi maksimal kadang cukup besar. Beberapa faktor utama yang memicu yield gap antara lain faktor lingkungan yang tidak optimal seperti kondisi kekeringan, hingga kesalahan dalam praktik budidaya seperti kesalahan dalam pembukaan lahan dan penanaman, serta ketidaktepatan dalam diagnosis dan rekomendasi pemupukan. Yield gap ini harus diminimalisir sehingga produktivitas sawit bisa dimaksimalkan. 

Peran biochar kadang tidak bisa ditemukan atau terlihat langsung pada berbagai upaya peningkatan produktivitas sawit tersebut tetapi aplikasi biochar sangat sejalan dengan tujuan tersebut. Sebagai contoh keberhasilan program replanting / peremajaan sawit bergantung antara lain pada kualitas bibit, pemupukan, populasi tanaman, dan kesehatan tanah. Faktor kesehatan tanah dan pemupukan tersebut bisa sangat erat kaitannya dengan biochar.  Dan terkait dengan biofungisida untuk mengatasi gangguan jamur ganoderma, biochar bisa digunakan sebagai carrier yang diformulasikan dengan unsur-unsur lainnya seperti humus, asam amino, humat, hormon dan sebagainya. Dan karena memang satu-satunya cara efektif mengendalikan jamur ganoderma adalah memasukkan musuh alaminya berupa biofungisida berbasis trichoderma spp, dan fungi mikoriza arbuskular ke dalam tanah.  Tetapi memang juga masih banyak pihak yang belum memiliki pengetahuan yang memadai untuk aplikasi biochar ini. 

Selain mengenjot produksi, penerapan praktik pengelolaan terbaik juga penting untuk memenuhi standar keberlanjutan di tengah meningkatnya tekanan dari isu lingkungan. Dan aplikasi biochar sangat sejalan dengan poin tersebut.  Bahkan terkait teknologi sawit rendah karbon dalam aplikasi biochar sangat relevan pada CECC (Controlled Emission Composting Chamber) dan lebih detail untuk aplikasi biochar untuk pengomposan baca disini. Sedangkan trend pemupukan di perkebunan sawit dengan aplikasi pupuk lepas lambat (slow release fertilizer) juga sangat relevan dengan biochar, untuk lebih detail baca disini. 

Rabu, 28 Agustus 2024

Biochar Solusi Deforestasi Pada Perkebunan Sawit dan EUDR

Perkembangan industri sawit dan perkebunannya di Indonesia sangat pesat terutama 10 tahun terakhir dan saat ini diperkirakan luas perkebunan sawit Indonesia mencapai 17 juta hektar. Sebagai tanaman penghasil minyak nabati terbesar di dunia dan luas perkebunan sawitnya juga terbesar di dunia, tentu saja kelapa sawit memiliki nilai strategis dalam perekonomian Indonesia. Rata-rata kecepatan luas perkebunan sawit Indonesia adalah 6,5% per tahun atau ekuivalen sekitar 1 juta hektar per tahun untuk 5 tahun terakhir, sedangkan peningkatan produksi buah kelapa sawit atau TBS (tandan buah segar) rata-rata hanya 11%.

Bahkan perluasan lahan terbesar terjadi pada tahun 2017 yakni bertambah seluas 2,8 juta hektar. Dari tahun 2015 hingga tahun 2019, total luas areal kelapa sawit bertambah seluas 3,7 juta hektar. Ekstensifikasi atau perluasan kebun sawit tersebut ternyata banyak "dituduh" dan menjadi sorotan dunia sebagai dari alih fungsi lahan hutan, sehingga banyak terjadi penggundulan hutan (deforestasi) untuk selanjutnya diubah menjadi perkebunan sawit. 

Tekanan dari Uni Eropa khususnya, akibat kondisi tersebut memperburuk citra minyak sawit Indonesia yang selanjutnya berpengaruh kepada harga jual minyak sawit baik CPO dan produk turunannya tersebut. Memperbaiki citra tersebut memang juga tidak mudah. Salah satu upaya yang efektif adalah menghentikan upaya ekstensifikasi tersebut sehingga lahan hutan tetap menjadi lahan hutan dan tidak berubah menjadi kebun sawit. European Union on Deforestation-free Regulation (EUDR) yang mulai berlaku 30 Desember 2024 sebagai upaya mencegah deforestasi turut menjadi pertimbangan penting. Peraturan tersebut mewajibkan konsumen dan produsen yang berada di sepanjang rantai pasokan komoditas tertentu untuk melakukan uji tuntas dan penilaian risio untuk memastikan bahwa produk mereka tidak berkontribusi terhadap deforestasi. EUDR ini juga menerapkan sistem inspeksi dan penalti berjenjang berdasarkan tingkat risiko yang dirasakan di negara asal. 

Dengan ekstensifikasi lahan sawit lebih dari 1 juta per hektar setiap tahunnya tetapi kenaikan produksi buah sawit hanya 11% tentu kurang menarik dan harus dihindari apalagi ditambah sorotan dunia tentang deforestasi yang semakin kencang tersebut. Hal ini juga semakin mengindikasikan tentang rendahnya produktivitas perkebunan sawit tersebut. Padahal dengan memperbaiki kualitas tanah produktivitas buah sawit bisa dinaikkan secara signifikan dan pembukaan lahan baru untuk pembuatan kebun sawit bisa dihindari. Limbah-limbah biomasa di perkebunan sawit maupun di pabrik sawit bisa digunakan untuk produksi biochar sebagai solusi masalah tersebut.

Dengan peningkatan produktivitas tandan buah segar (TBS) dengan penggunaan biochar tersebut, maka perkebunan sawit baru tidak perlu dibuka lagi. Dengan asumsi terjadi kenaikkan produktivitas rata-rata 20% maka produksi CPO juga meningkat 20% atau setara 2 juta ton. Peningkatan tersebut akan setara untuk pembukaan lahan baru seluas lebih dari 2 juta hektar. Tentu bukan luas tanah yang kecil. Dengan peningkatan produksi 20% tersebut besar kemungkinan besar kebutuhan nasional untuk kebutuhan khususnya CPO telah terpenuhi dan begitu juga untuk pasar export. Keuntungan lain dari penggunaan biochar ini adalah sebagai solusi iklim sebagai carbon sequestration/carbon sink. Jadi dua permasalah utama pada industri sawit berupa peningkatan produktivitas dan ketahanan perubahan iklim bisa diatasi sekaligus dengan aplikasi biochar tersebut.

Sabtu, 31 Desember 2022

Urgensi Biochar Untuk Memperbaiki Kesuburan Tanah Perkebunan Sawit Ditengah Tingginya Harga Minyak Mentah Sawit (CPO)

Tingginya harga jual CPO sehingga memberi keuntungan besar sehingga bisa menutup biaya produksi tentu tidak berlangsung selamanya. Suksesnya produksi TBS di perkebunan sawit adalah salah satu kunci suksesnya produksi CPO. Suksesnya produksi TBS terkait dengan suksesnya perkebunannya dan komponen biaya tertinggi pada perkebunan sawit adalah biaya pupuk. Kebutuhan pupuk kelapa sawit tinggi setiap pohon sawit mencapai sekitar 10 kg setiap tahunnya dan pupuk tersebut adalah non-subsidi.  Pupuk sebagai salah satu komponen mata rantai biaya produksi CPO tersebut menjadi mudah dibeli jika harga CPO tinggi atau terjadi keuntungan besar. Tetapi semata-mata mengandalkan kondisi tingginya harga CPO saat ini untuk operasional bisnis kelapa sawit tentu suatu kesalahan.

Dan faktanya tahun 2019 harga CPO anjlok dan industri sawit rugi atau hampir tidak ada untung sama sekali. Faktanya ketika terjadi penurunan harga CPO juga menimbulkan kekhawatiran bagi Indonesia karena industri sawit tersebut memiliki banyak peranan strategis baik secara ekonomi, sosial dan lingkungan. Tercatat bahwa harga CPO sejak 2018 terus mengalami penurunan setiap bulannya dibandingkan harga pada tahun CPO 2017. Trend penurunan harga ini menyentuh harga CPO dunia sejak tahun 2015. Harga CPO tersebut tercatat menyentuh angka $448/ton pada bulan November 2018. Padahal harga CPO dunia pada tahun 2016 dan 2017 secara rata-rata diatas $700/ton. Secara rata-rata harga CPO terjadi penurunan 15-16 persen dibandingkan 2017. Eksport CPO ke pasar tradisional Indonesia yakni Uni Eropa dan India pada tahun 2018 juga mengalami penurunan dibandingkan 2017. 

Dan bukan tidak mungkin hal tersebut akan terjadi lagi. Seperti pengalaman masa lalu berupa tuduhan issue dari Parlemen Uni Eropa yang bertujuan menghambat minyak sawit dari Indonesai menguasai pasar Eropa sehingga eksport CPO berkurang, perang dagang yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Sementara dalih yang digunakan adalah tentang deforestasi, praktek kerja anak dan memanfaatkan hutan ulayat. Hal tersebut tentu seharusnya menjadi pelajaran berharga. PTPN holding saja cara mensiasatinya dengan membuat hilirisasi produk CPO (turunan CPO) yakni dengan membuat industri oleokimia. Jika harga CPO jeblok, mayoritas CPO akan dibawa ke produk hilir. Jika margin produk hilir kurang bagus, mayoritas cukup CPO saja. Fleksibilitas produksi sebagai strategi yang membuat industri sawit tersebut "kebal" krisis. Mayoritas produk mereka tersebut baik CPO dan turunannya adalah untuk export. Tetapi membuat hilirisasi industri sawit juga bukan hal yang mudah dan murah yang tidak semua perusahaan sawit bisa melakukannya. 

Biochar untuk memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan efisiensi pemupukan sehingga meningkatkan produktivitas TBS adalah solusi terbaik. Dengan naiknya produktivitas TBS otomatis produksi CPO juga meningkat sehingga upaya ekstensifikasi dengan deforestasi bisa dihindari. Padahal juga selain harga CPO global yang sewaktu-waktu bisa drop, harga pupuk juga sewaktu-waktu juga bisa naik. Hal tersebut semakin mendorong upaya aplikasi biochar tersebut. Pemakaian biochar di perkebunan sawit juga sebagai upaya iklim untuk carbon sequestration (carbon sink) atau skenario karbon negatif untuk mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer, sehingga hal tersebut mendapat penghasilan tambahan berupa carbon credit, yang nilainya semakin tinggi. Faktor lainnya adalah pada industri sawit atau produksi CPO, produk minyak nabati hanya 10% dan 90% adalah biomasa, sedangkan sejumlah biomasa tersebut sangat potensial sebagai bahan baku produksi biochar. 

Dan karena secara organisatoris perusahaan sawit terbagi divisi kebun dan divisi pabrik CPO sehingga untuk memudahkan operasionalnya bisa saja produksi biochar tersebut sebagai satuan bisnis terpisah tetapi masih dalam satu perusahaan ataupun bisa juga dengan pihak lain.  Dan misalnya tandan kosong sebagai bahan baku biochar yang posisinya berada di pabrik sedangkan aplikasi biochar tersebut di tanah perkebunannya. Selain manfaat yang disebutkan di atas produksi biochar juga sebagai upaya penanggulangan limbah biomasa, dan menghasilkan energi yang bisa digunakan untuk produksi CPO tersebut.  Dan ketika harga CPO jeblok tetapi dengan biaya produksinya murah karena pemakaian pupuk dikebun bisa ditekan tetapi produktivitas TBS tetap tinggi maka kerugian yang dialami juga lebih sedikit.  

Kamis, 15 April 2021

Peningkatan Efisiensi Energi Pada Operasional Pabrik Sawit Dengan Penggunaan Pirolisis

Pemanfaatan energi berupa produksi steam yang kemudian digunakan untuk produksi listrik melalui steam turbine dan generator, serta penggunaan steam untuk perebusan (sterilisasi) tandan buah segar (TBS) merupakan hal pokok pada operasional pabrik. Hal tersebut karena kebutuhan energi listrik untuk menggerakkan berbagai peralatan mekanik di pabrik seluruhnya berasal dari produksi listrik tersebut. Listrik dan steam bagi suatu industri pengolahan dikelompokkan dalam utilitas yang mendukung industri tersebut. Sedangkan pada proses sterilisasi atau perebusan TBS tersebut steam selain menghentikan perkembangan ALB (asam lemak bebas) atau FFA (free fatty acid) dan memudahkan pemipilan juga akan mempermudah proses ekstraksi CPO dan pengolahan kernel (inti sawit). Untuk menghasilkan steam dan listrik tersebut tentu saja dibutuhkan energi yakni panas. Steam dihasilkan oleh boiler berupa superheated steam untuk menggerakkan steam turbine dan generator sehingga menghasilkan listrik dan selanjutnya steam dari produksi listrik atau steam tekanan rendah digunakan untuk perebusan (sterilisasi) TBS. 

Air setelah di treatment sehingga menjadi BFW (boiler feed water) selanjutnya digunakan untuk produksi steam dan listrik tersebut. Energi panas untuk menghasilkan steam bisa direduksi sedemikian rupa dengan penggunaan alat pirolisis (yang berarti bukan pembakaran biasa), sehingga kebutuhan panas pada tungku boiler menjadi semakin kecil. Pada kondenser pyrolysis akan menghasilkan air panas sehingga menjadi preheating bagi boiler. Pada pyrolysis kondenser digunakan untuk memisahkan biooil dan syngas (uncondensable gas). Preheating dari proses kondensasi unit pyrolysis selanjutnya akan masuk ke preheating tahap 2 dalam economizer pada unit boiler. Dengan demikian suhu air yang masuk ke dalam upper drum pada boiler sudah cukup tinggi, dan kebutuhan panas untuk menjadi superheated steam akan tereduksi. Pabrik sawit menggunakan boiler tipe water tube seperti yang biasa digunakan pada industri besar dan bukan fire tube yang bentuknya heat exchanger tipe shell and tube dengan bagian pipa (tube) terendam air sehingga tidak overheating. Pada boiler tipe water tube terdiri dari upper dan lower drum (mud drum) yang dihubungkan dengan pipa. Pada lower drum dan water tube terisi penuh dengan air, sedangkan pada upper drum hanya terisi sebagian. Dengan susunan tersebut membuat steam akan melewati separator mekanik pada upper drum, mengalir ke bagian superheater dan keluar dari boiler. Efisiensi menjadi kata kunci dalam produksi termasuk penggunaan energi dalam proses produksi CPO atau pabrik sawit di atas.Rule of thumb-nya kenaikan 10 C pada BFW setara meningkatkan 1% efisiensi boiler. 

Water-tube boiler

 

Excess energy dari proses pyrolysis sebaiknya digunakan untuk bahan bakar atau sumber energi pada tungku boiler. Penggunaan excess energy dari pyrolysis juga akan menghasilkan emisi flue gas yang ramah lingkungan karena pembakaran bahan bakar cair dan gas akan lebih bersih dibanding bahan bakar padat. Dengan cara demikian maka cangkang atau PKS (palm kernel shell) yang selama ini digunakan untuk bahan bakar boiler bisa tidak digunakan lagi. Semua cangkang atau PKS tersebut bisa dijual langsung bahkan dieksport seperti ke Jepang dan Korea. Tentu menjadi sumber tambahan pendapatan tersendiri. Cangkang sawit atau PKS merupakan kompetitor wood pellet pada pasar global karena propertiesnya banyak kemiripan, tetapi karena cangkang sawit berasal dari limbah atau sideproduct pabrik sawit maka harganya bisa lebih murah, informasi lebih lanjut bisa dibaca disini. Penggunaan slow pyrolysis untuk produksi biochar ini adalah opsi terbaik dibanding teknologi sejenis seperti fast pyrolysis dan gasification, lebih detail bisa dibaca disini. Pabrik atau perusahaan Kelapa sawit akan mendapat banyak keuntungan dari produksi biochar, untuk lebih detail bisa dibaca disini. 

Rabu, 18 Desember 2019

Eco-Tourism Dengan Perkebunan Sawit Bagian 2

Walaupun kebun sawitnya terluas di dunia yakni mencapai 12 juta hektar dan setiap hari mengkonsumsi produk olahan sawit yakni minyak goreng, ternyata masih banyak yang belum tahu bahwa minyak goreng sawit yang digunakan awalnya berasal dari sabut sawit dan bukan dari daging buah atau kernel sawit. Mayoritas masih beranggapan bahwa minyak dari sawit juga sama seperti minyak dari kelapa yakni dari daging buahnya. Walaupun memang dari daging buah sawit juga bisa dihasilkan minyak yakni minyak kernel sawit atau PKO (palm kernel oil) tetapi jumlahnya kecil yakni hanya sekitar 10% dari CPO dan penggunaan utamnya juga bukan untuk minyak goreng tetapi untuk kosmetik, sabun, oleokimia dan sumber lemak nabati. Salah satu yang menarik dari minyak kernel sawit adalah kandungan asam lauratnya yang tinggi, dan ini hampir sama dengan minyak kelapa. Selain di kedua bahan di atas asam laurat juga terdapat di air susu ibu (ASI).  Dan asam laurat ini memiliki banyak sekali manfaat bagi kesehatan, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Saat ini minyak inti sawit juga lebih banyak digunakan dibandingkan dari minyak kelapa sebagai sumber asam laurat.

Sedangkan apa yang disebut dengan minyak sawit adalah identik minyak yang berasal dari sabutnya (mesocarp fiber)  yang juga biasa disebut CPO (crude palm oil). CPO ini adalah minyak yang paling dihasilkan dari pengolahan buah kelapa sawit atau tandan buah segar (TBS)nya. Apabila kita mendengar pabrik sawit maka hal tersebut juga identik dengan pabrik CPO, walaupun pabrik PKO juga merupakan pabrik sawit, dengan alasan seperti diatas. Pabrik CPO juga jauh lebih banyak daripada pabrik PKO, hal tersebut karena tidak semua pabrik CPO memiliki pabrik PKO. Sehingga kernel yang dihasilkan dari pabrik CPO dikirim ke pabrik PKO untuk diolah menjadi minyak. Saat ini hampir 1000 pabrik sawit atau pabrik CPO berada di Indonesia, jumlah yang sangat banyak dan seharusnya familiar dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tetapi ternyata masih banyak masyarakat bahkan para pelajar yang tidak mengetahui potensi Indonesia tersebut.
Bisnis kelapa sawit di Indonesia juga memberi kontribusi cukup besar bagi negara yakni sekitar 3% GDP sehingga juga mendapat banyak dukungan dari pemerintah. Selain itu pengembangan produk sawit juga sangat terbuka dan Indonesia masih kurang berkembang, yakni dengan indikasi bahwa produk yang dieksport masih berupa CPO atau minyak sawit mentahnya, sedangkan seharusnya export berupa produk hilir siap konsumsi atau minimal produk antara (intermediate product) sehingga memberi nilai tambah yang besar bagi Indonesia. Apabila kondisi tersebut bisa dipahami sehingga berbagai strategi pengembangan dilakukan baik dari sektor hulu yakni perkebunannya hingga sektor hilir yakni industri pengolahannya maka kontribusi bisnis ini bagi negara semakin besar. Sebagai contoh bisnis kelapa sawit di Malaysia telah berkontribusi hingga sekitar 7% GDP Malaysia.
Apabila masyarakat Indonesia memahami masalah di atas maka akan lebh mudah untuk mendapatkan solusinya. InsyaAllah. Para pelajar sebaiknya dikenalkan dengan bisnis kelapa sawit di Indonesia baik dari hulu ke hilirnya sehingga pada saatnya bisa diharapkan untuk memetakan masalah sekaligus memberi solusinya. Industri kelapa sawit yang cukup strategis di Indonesia memang seharusnya dikenalkan dengan baik kepada generasi penerus sehingga peran mereka ke depan di industri ini bisa dilanjutkan dan ditambah. Wisata edukasi berbasis lingkungan ke perkebunan dan pabrik sawit sebagai media awal untuk mengenalkan potensi tersebut kepada mereka.

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...