Keunikan biomasa adalah satu-satunya sumber terbarukan berbasis karbon sehingga bisa disintesa menjadi berbagai bahan bakar dan bahan kimia sama seperti sumber dari fossil. Untuk aplikasi energi sebagai bahan bakar cair berbagai mesin, alat transportasi maupun tungku pemanas, tampak seperti skema dibawah ini :
Harga yang kompetitif dengan bahan bakar cair dari bahan bakar fossil adalah pertimbangan utama aplikasi bahan bakar cair berbasis biomasa ini. Serangkaian penelitian dan ujicoba perlu dilakukan untuk menguji kehandalan bahan bakar tersebut. Karena bahan bakar berwujud cair maka infrastruktur yang telah ada bisa digunakan ataupun disubtitusi dengan produk ini. Ketersediaan bahan baku dan keterjaminan produksi nantinya juga akan menjadi pertimbangan penting untuk produksi skala komersial dan keberlanjutannya. Penggalakan kebun-kebun energi diberbagai daerah adalah upaya untuk menjaga keberlangsungan produksi dan keberlanjutannya tersebut.
Jumat, 12 April 2013
Kamis, 04 April 2013
Potensi Pengembangan Industri Wood Pellet di Indonesia
Potensi limbah
biomassa di Indonesia sangat besar yakni sekitar setara 49.810 MW dan baru
sangat kecil yang telah dimanfaatkan yakni 1.618 MW atau kurang dari 4%,
sehingga berbagai rute pengolahannya yang bisa dioptimalkan. Pengembangan bioenergy untuk pembuatan wood
pellet adalah salah satu strategi terbaik mengingat wood pellet akan potensial
untuk bahan bakar baik untuk industri maupun rumah tangga. Proses densifikasi
seperti pada wood pellet telah meningkatkan kualitas limbah biomasa pada
awalnya menjadi lebih kering, ukuran seragam, murah dalam transportasi maupun
pemanfaatannya yakni aplikasi thermal sebagai bahan bakar., lebih khusus bahan
bakar terbarukan.
![]() |
| Peta Produsen Wood Pellet Indonesia |
![]() |
| Peta Produsen Wood Pellet Dunia |
Konsentrasi
gas CO2 dalam atmosfer bumi saat ini (2013) menurut http://co2now.org adalah 395,55 ppm sedangkan pada tahun 1988
hanya 350,38 ppm sehingga targetnya menurunkan kembali konsentrasi CO2
diatmosfer menjadi 350 ppm. Kondisi
tersebut sangat membahayakan kelangsungan hidup di bumi jika tidak
diatas, sehingga dalam skala global maupun skala nasional era saat ini adalah
era menurunkan emisi karbon atau gas rumah kaca. Dan ini bisa dicapai salah
satunya dengan subtitusi bahan bakar fossil dengan bahan bakar terbarukan
seperti subtitusi batubara dengan wood pellet. Saat ini diperkirakan produksi wood pellet lebih dari 14 juta ton, sedangkan Indonesia baru berkontribusi sekitar 6400 ton (2012).
Eropa adalah secara umum adalah pusat pasar global bahan
bakar berbasis kayu dan khususnya pada wood pellet / briquette, sehingga bukan
hal yang mengejutkan apabila banyak produsen bahan bakar berbasis kayu besar
yang menjadikan negara-negara Eropa sebagai tujuan utamanya. Dengan goal yang
telah diset oleh Uni-Eropa untuk mencapai komposisi 20% energi terbarukan dalam
bauran energinya dan 20% penurunan gas rumah kaca pada 2020 (DIRECTIVE
2009/28/EC, 2009) sepertinya peningkatan kebutuhan bioenergy akan melonjak
pesat. Karena potensi sumber biomasa di sana terbatas, sehingga porsi terbesar bioenergy yang berasal dari
biomasa ini berasal bukan dari Eropa tetapi dari berbagai belahan dunia
lainnya. Indonesia sangat potensial sebagai salah satu exporter wood pellet ke
Eropa, sebagai contoh perusahaan listrik di Inggris harus menggunakan bahan
bakar terbarukan sebesar 10% pada tahun 2010 dan Korea yang mengharuskan bahan bakar terbarukan sebesar 5% pada tahun 2013.
Trend dunia ke depan adalah ditandai munculnya banyaknya
produsen listrik kecil-kecil (Independent
Power Producer (IPP)) yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan komunitas
tertentu. Pembangkit listrik berbahan
bakar biomasa saat ini sebagian besar menggunakan teknologi pembakaran langsung
(direct combustion) dan gasifikasi
serta beberapa dengan pirolisis. Tahapan
co-firing ataupun co-combustion wood pellet dengan
batubara adalah hal yang banyak dilakukan pembangkit listrik (powerplant) saat ini yang masih
menggunakan teknologi pembakaran langsung (direct
combustion), sebelum nantinya diharapkan 100% bisa menggunakan wood pellet
sebagai sumber bahan bakarnya seperti yang ada di Swedia. Untuk gasifikasi skala kecil, teknologi yang
cocok adalah downdraft gasifier dan wood pellet bisa menjadi bahan bakar
yang ideal untuk sistem tersebut. Sedangkan
pirolisis karena prosesnya hampa udara, maka produk seperti wood pellet tidak disarankan sebagai bahan
bakunya, karena tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap proses maupun output-nya.
Rabu, 20 Maret 2013
Carbon Positive, Carbon Neutral ataukah Carbon Negative?
Gas rumah kaca akibat pembakaran bahan bakar fossil telah
menyebabkan suhu bumi meningkat. Peningkatan suhu bumi atau global warming
tersebut menyebabkan sejumlah bencana akibat perubahan iklim di sejumlah tempat
di bumi. Ketika gas rumah kaca tidak dikendalikan maka akibat kerusakan
lingkungan di bumi akan semakin parah. Oleh karena berbagai upaya dilakukan
untuk mengurangi gas rumah kaca sebagai penyebab masalah lingkungan tersebut.
Secara umum ada empat skenario yang biasa dilakukan untuk
mencegah pemanasan global akibat gas CO2 di atmosfer secara bertahap, yakni :
meningkatkan efisiensi sehingga konsumsi bahan bakar fossil menurun, mencampur
bahan bakar terbarukan dengan bahan bakar fossil sehingga konsumsi bahan bakar
fossil juga menurun, subtitusi bahan bakar fossil dengan bahan bakar terbarukan
dan penyerapan gas CO2 yang ada di atmosfer sehingga konsentrasi gas rumah kaca
bisa dikurangi.
Berikut beberapa istilah mendasar terkait masalah diatas.
Berdasarkan asal dan pengaruh yang ditimbulkan gas CO2 di atmosfer maka
ditinjau sebagai berikut:
A. Carbon Positive.
Bahan bakar fossil atau bahan bakar tambang
ini dikelompokkan ke dalam bahan bakar Carbon Positive. Hal ini karena
pembakaran bahan bakar ini akan membuat kandungan gas terutama CO2 di atmosfer
akan meningkat. Peningkatan gas CO2 di atmosfer inilah biang keladi masalah
pemanasan global diatas.
![]() |
| Carbon Neutral cycle with biomass thermal route |
![]() |
| Carbon Neutral Cycle with biomass densificaion (wood pellet) route |
B. Carbon Neutral.
Ketika gas CO2 di atmosfer tidak bertambah
akibat pembangkitan energy dari suatu sumber energi maka dikatakan sumber
energi tersebut Carbon Neutral. Karena secara neraca tidak menambah ataupun
mengurangi gas CO2 diatmosfer maka energi ini dikatakan ramah lingkungan.
Sumber energi terbarukan seperti biomasa, angin, air dan matahari adalah Carbon Neutral. Subtitusi bahan bahan bakar fossil dengan
bahan bakar terbarukan masuk dalam skenario Carbon
Neutral.
C. Carbon Negative.
Saat ini kandungan CO2 di atmosfer telah
melebihi ambang batasnya. Laporan terbaru menyebutkan telah mencapai 390 ppm,
tentu ini perlu dikurangi konsentrasinya. Berbagai teknologi dikembangkan dalam
rangka menyerap gas CO2 dari atmosfer tersebut. Secara alami pohon mampu
menyerap gas CO2 dari atmosfer, artinya semakin banyak kita menanam pohon maka
akan semakin banyak gas CO2 diatmosfer tereduksi. Biochar atau arang pertanian,
yakni arang yang digunakan untuk menyuburkan tanah dengan memasukkanya di tanah
adalah material yang mampu menyerap gas CO2 dari atmosfer selain juga akan
menyuburkan tanah, karena kandungan nutrisi dan media perkembangbiakkan mikroba
tanah. Teknologi dalam kelompok Carbon
Capture and Storage (CSS) adalah
teknologi Carbon Negative, walaupun saat ini investasinya masih sangat mahal.
Marilah menjadi bagian dari solusi untuk melakukan aktivitas
Carbon Neutral dan Carbon Negative, dan meminimalisir menjadi bagian dari
masalah dengan melakukan aktivitas Carbon Positive.
Minggu, 17 Maret 2013
Bahan Bakar Cair dari Biomasa Limbah
Biomasa adalah satu-satunya
energi terbarukan berbasis karbon, yang bisa digunakan sebagai sumber bahan
bakar dan bahan-bahan kimia.Bahan bakar cair adalah jenis bahan bakar yang
paling banyak digunakan saat ini yang umumnya berasal dari bahan fossil. Bahan
bakar cair dari limbah biomasa adalah solusi jitu terhadap krisis energi saat
ini.
Indonesia sangat kaya akan sumber bahan baku
berupa limbah biomasa tersebut, baik dari sektor pertanian, perkebunan dan
kehutanan. Saat ini limbah-limbah tersebut sebagian besar belum
dimanfaatkan sehingga pemanfaatan di sektor energi adalah pilihan terbaik untuk
kondisi saat ini.Energi berupa listrik dan panas adalah yang paling umum dimanfaatkan bagi manusia. Konversi energi dari limbah biomasa ke kedua macam energi itulah yang saat ini marak diupayakan, karena pertimbangan ketersediaan energi fossil dan faktor perubahan iklim serta lingkungan. Rute terpendek, manfaat besar, investasi terjangkau, keberlanjutan dan menguntungkan adalah dasar pertimbangan pilihan teknologi pengolahan limbah biomasa tersebut.
Bahan bakar cair yang bisa dihasilkan dari limbah biomasa antara lain biooil, bioetanol dan biometanol. Saatnya kita mengalihkan perhatian ke energi terbarukan, karena energi terbarukan bukan hanya pilihan terbaik tetapi memang hanya satu-satunya pilihan.
Selasa, 19 Februari 2013
Konsep Kebun Energi Untuk Pengembangan Industri Wood Pellet
Ketersediaan bahan baku kayu energi yang berkualitas dan
berkesinambungan adalah kunci sukses untuk industri wood pellet yang berkesinambungan. Upaya
penyediaan bahan baku tersebut dilakukan dengan pembuatan kebun energi dengan
melibatkan masyarakat. Aspek peningkatan sosial ekonomi akan simultan dengan upaya mitigasi bencana
akibat perubahan iklim.
Kaliandra adalah tanaman kayu energi yang dipilih sebagai
bahan baku wood pellet karena memiliki nilai kalor yang tinggi. Pertimbangan
lainnya adalah tanaman ini termasuk kategori tanaman perintis / pioneer
sehingga bisa menghijaukan lahan marjinal atau lahan kritis sebelum bisa
ditanami tanaman jenis lain. Jutaan
hektar lahan marjinal dan kritis di Indonesia bisa dihijaukan dengan tanaman
kaliandra tersebut, sehingga pengembangan industri wood pellet sangat terbuka
lebar. Model tanaman trubusan seperti kaliandra adalah pilihan
bijak untuk tanaman kebun energi. Kajian
silvikultur hutan kayu energi (kalori tinggi, cepat tumbuh dan trubusan)
penting untuk menentukan jenis tanaman terbaik sebagai penghasil energi. Model
SRC atau Short Rotation Coppices dengan rotasi berkisar 1-2 tahun selama 20-25
tahun menjadi pilihan terbaik untuk tanaman kebun energi. Beberapa jenis tanaman trubusan lain yang
bisa dikembangkan seperti pada table dibawah ini :
Puluhan bahkan ratusan “green powerplant” dibangun saat ini dengan mengganti bahan bakarnya dengan biomasa, sebagai contoh Amerika Serikat telah menutup lebih dari 9.000 MW PLTU batubara pada tahun 2012. Biomasa atau kayu hanya bisa dikatakan sebagai bahan bakar terbarukan apabila diproduksi secara berkesinambungan (sustainable), salah satunya dengan konsep kebun energi tersebut. Standar kualitas wood pellet seperti nilai kalor, kadar air, kadar abu, kimia abu dan ukuran wood pellet itu sendiri adalah parameternya dengan mengacu pada sejumlah standar internasional seperti CEN (Eropa), DIN (Jerman), PFI (Pellet Fuel Institute) dan sebagainya.
Puluhan bahkan ratusan “green powerplant” dibangun saat ini dengan mengganti bahan bakarnya dengan biomasa, sebagai contoh Amerika Serikat telah menutup lebih dari 9.000 MW PLTU batubara pada tahun 2012. Biomasa atau kayu hanya bisa dikatakan sebagai bahan bakar terbarukan apabila diproduksi secara berkesinambungan (sustainable), salah satunya dengan konsep kebun energi tersebut. Standar kualitas wood pellet seperti nilai kalor, kadar air, kadar abu, kimia abu dan ukuran wood pellet itu sendiri adalah parameternya dengan mengacu pada sejumlah standar internasional seperti CEN (Eropa), DIN (Jerman), PFI (Pellet Fuel Institute) dan sebagainya.
Jumat, 25 Januari 2013
Produksi Bahan-Bahan Kimia Dari Gasifikasi Biomasa
Aplikasi gasifikasi biomasa pada umumnya untuk panas (heat gasifier) dan listrik (power gasifier), tetapi gasifier tersebut juga bisa digunakan untuk memproduksi berbagai bahan kimia. Gas CO (karbon monoksida) dan H2 adalah gas-gas utama yang dihasilkan oleh alat gasifikasi biomasa tersebut untuk bahan baku pembuatan bahan-bahan kimia selanjutnya.
Turunan bahan-bahan kimia yang dihasilkan bisa sangat banyak dan beragam tergantung keinginan kita untuk memproduksinya. Green Chemical adalah bahan-bahan kimia yang dihasilkan dari bahan baku terbarukan seperti biomasa. Biomasa adalah satu-satunya bahan terbarukan sebagai sumber karbon yang potensial untuk menghasilkan berbagai bahan kimia.
Seiring menipisnya cadangan minyak bumi dan upaya pencegahan emisi gas-gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim dan pemanasan global, green chemical adalah solusi terbaik.
Senin, 12 November 2012
Biomass Steam Gasification : Teknologi Advance Gasifikasi Biomasa Untuk Mereduksi Emisi Nitrogen Oksida
![]() |
| Photo diambil dari sini |
![]() |
| Photo diambil dari sini |
Salah satu teknik untuk menghindari terbentuknya senyawa NOx tersebut adalah tidak menggunakan udara sebagai media oksidasi pada proses gasifikasi biomasa tetapi digantikan dengan kukus (steam). Proses ini akan menghilangkan terbentuknya gas NOx dan menjadikan komposisi gas yang dihasilkan dari gasifikasi biomasa juga berbeda dengan media oksidasi berupa udara. Proses biomass steam gasification akan menghasilkan komposisi gas hidrogen sekitar 50%. Seperti pada umumnya aplikasi gasifikasi biomasa adalah untuk pembangkit panas dan listrik, maka biomass steam gasification juga sama, hanya akan terjadi sedikit penurunan efisiensi karena konsekuensi proses tersebut. Hidrogen yang dihasilkan bila dimurnikan hingga kadar 100% maka akan bisa digunakan untuk pembangkit listrik dengan teknologi fuel cell. Dengan fuel cell akan dihasilkan emisi yang sangat ramah lingkungan yakni uap air (H2O).
Langganan:
Postingan (Atom)
Buah Kelapa Reject (Non- Standard) untuk Produksi Bioavtur / SAF
Organisasi penerbangan sipil internasional / International Civil Aviation Organization (ICAO) telah memasukkan kelapa non-standar di dalam p...
-
Sejak pakan ternak menjadi komoditas perdagangan atau produk komersial dimulai pada awal 1800an ketika alat transportasi dan penggerak alat-...
-
Pembuatan proyeksi pasar akan sangat dibutuhkan bagi semua pihak yang terlibat dalam bisnis wood pellet khususnya para produsen wood pelle...
-
EFB (empty fruit bunch) atau tandan kosong kelapa sawit banyak dihasilkan oleh pabrik-pabrik sawit dan bahkan cenderung menjadi limbah yan...




















