Tampilkan postingan dengan label cocopeat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cocopeat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Agustus 2026

Buah Kelapa Reject (Non- Standard) untuk Produksi Bioavtur / SAF

Organisasi penerbangan sipil internasional / International Civil Aviation Organization (ICAO) telah memasukkan kelapa non-standar di dalam positive list ICAO – ICAO document – CORSIA Default Life Cycle Emissions Values for CORSIA Eligible Fuels, Edisi ke-6 pada tanggal 28 Oktober 20024. Kelapa non-standar itu meliputi kelapa tua berukuran sangat kecil, sudah bertunas, mulai membusuk atau berjamur dan yang pecah. Berdasarkan data dari sejumlah riset bahwa jumlah kelapa non standar di Indonesia diperkirakan mencapai 30% dari produksi kelapa Indonesia. Kelapa non-standard juga menjadi potensi bahan baku untuk produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan / SAF (Sustainiable Aviation Fuel). 

Pada dasarnya bahan baku yang dicari untuk bioavtur SAF adalah trigliserida murni dan rantai karbon rantai panjang.Hal ini mengingat volatilitas bahan bakar jet, komponen yang lebih disukai adalah hidrokarbon dalam kisaran parafin C10 hingga C15. Lebih jauh, untuk memenuhi spesifikasi titik beku (-47oC), parafin ini harus banyak bercabang untuk mencapai titik beku rendah tersebut. Hal ini sehingga bio-avtur atau SAF tersebut harus memiliki ikatan atom karbon atau ikatan C direntang C10-C15, dan pada rentang tersebut minyak inti sawit dan minyak kelapa paling sesuai karena tingginya komposisi asam laurat yang terdiri 12 atom C.

Dengan tingginya kandungan laurat pada minyak inti sawit dan minyak kelapa maka yield akan tinggi karena kandungan minyak tersebut berada pada rentang bio-avtur yakni C10 - C15 . Hal ini berbeda apabila menggunakan vegetable oil yang rantai karbonnya lebih panjang misalnya CPO, minyak nyamplung atau minyak kanola. Apabila menggunakan minyak nabati dengan rantai panjang maka yield akan kecil dan perlu proses cracking extra untuk meningkatkan yield bioavtur atau SAF-nya. 

Dan karena yang digunakan untuk bahan baku bioavtur / SAF adalah minyak dari daging buah kelapa, sehingga air kelapanya bisa digunakan untuk produksi nata de coco atau air kelapa kemasan, lalu tempurung kelapa untuk produksi arang, briket arang atau arang aktif, sabut utk bahan bakar menghasilkan energi dan abu yang kaya kalium  untuk pupuk atau untuk media tanam (cocopeat) dan cocofiber. Sedangkan bungkil / ampas kelapa digunakan untuk pakan ternak. 

Rabu, 30 November 2022

Biochar untuk Pembibitan Kelapa Sawit

Ada sekitar 250 produsen benih atau bibit kelapa sawit di Indonesia, dan dengan luas perkebunan sawitnya mencapai sekitar 15 juta hektar, produsen benih tersebut sebenarnya juga tidak banyak. Secara lebih spesifik Sumatera memiliki luas perkebunan sawit terbesar di Indonesia sehingga sebagai kegiatan ekonomi utama di daerah tersebut, karena 70 persen lahan kelapa sawit di Indonesia berada di Sumatera.  Dengan pola tanam misalnya 125 pohon per hektar maka untuk setiap 1.000 hektar dibutuhkan 125.000 pohon atau untuk 1 juta hektar 125 juta pohon, sedangkan untuk 15 juta hektar berarti dibutuhkan lebih dari 1,8 trilyun pohon sawit dengan produksi CPO saat ini mencapai lebih dari 40 juta ton per tahun. Jumlah yang sangat banyak tentunya. Tetapi bukan saja faktor kuantitas, faktor kualitas bibit lebih diutamakan sehingga memiliki produktivitas yang optimal. Kebutuhan bibit tentu juga tidak serta merta hingga jutaan atau trilyunan batang dalam waktu bersamaan, tergantung kebutuhan seperti penanaman baru dari kebun baru (ekstensifikasi) - yang saat ini masih dilakukan di Indonesia atau peremajaan kebun sawit (replanting) yang dilakukan secara berkala. 

Bibit kelapa sawit yang baik salah satunya ditentukan oleh kualitas media tumbuh. Media tumbuh bibit kelapa sawit pada umumnya terdiri atas tanah lapisan atas (topsoil) yang dicampur dengan pasir maupun bahan organik sehingga diperoleh media yang subur. Kompos atau pupuk kandang sering digunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah dengan menyuplai unsur hara ke tanaman. Dengan iklim tropis dengan curah hujan tinggi unsur hara bisa mudah tercuci, selain itu pH tanah yang rendah juga menjadi kendala tersendiri untuk pertumbuhan bibit tersebut. Dengan menggunakan biochar maka nutrisi atau hara tanaman menjadi lebih tersedia, kelembaban dan aktivitas mikroba akan meningkat. Biochar yang di manfaatkan sebagai media tanam tersebut dapat meningkatkan karbon tanah dari 0,4–0,7% menjadi 2%, meningkatkan: kualitas fisik dan kimia tanah, daya simpan air tanah, daya simpan pupuk untuk kebutuhan tanaman, kandungan oksigen dalam tanah, aktivitas perkembang-biakan mikroorganisme tanah dan meningkatkan nutrisi tanah. Hal tersebut membuat kualitas media tanam bermutu tinggi, sehingga produk bibit sawit yang dihasilkan berupa perakaran, tinggi tanaman, jumlah daun dan berat tanaman adalah parameter yang diamati dengan penggunaan biochar tersebut juga semakin baik.

Dibandingkan penggunaan cocopeat, biochar memiliki sejumlah keunggulan. Baik cocopeat dan biochar memiliki kegunaan dalam bidang pertanian, tetapi ada sejumlah perbedaan antara keduanya. Cocopeat memiliki kegunaan terutama sebagai media tanam karena kemampuan menahan air (water holding capacity), sedangkan biochar selain memiliki kemampuan menahan air seperti halnya cocopeat juga menaikkan pH tanah, menahan atau membuat hara lebih tersedia (nutrient retention), dan juga menjadi koloni mikroba tanah sehingga bahan-bahan organik menjadi cepat terdekomposisi dan diserap tanaman. Cocopeat juga akan terurai dalam waktu tidak terlalu lama seperti kompos sedangkan biochar mampu bertahan dan tidak terdekompsisi hingga ratusan tahun. Dengan kondisi tersebut sehingga biochar juga digunakan untuk menyimpan CO2 (carbon sequenstration) dan mendapatkan carbon credit dengan mekanisme carbon sink. 

Pembibitan kelapa sawit merupakan titik awal yang paling menentukan pertumbuhan kelapa sawit selanjutnya di lapangan. Keberhasilan pertumbuhan tanaman kelapa sawit di lapangan tersebut  sangat ditentukan oleh mutu bibit yang ditanam. Bibit yang pertumbuhannya baik di pembibitan memiliki daya adaptasi yang tinggi di lapangan. Pada prakteknya dengan dibuktikan sejumlah penelitian yang dilakukan penggunaan biochar memiliki efek positif pada produk bibit sawit. Penggunaan biochar pada kisaran 40% telah menjadi komposisi terbaik bagi media tanam bibit sawit tersebut. Hal tersebut seharusnya mendorong produsen - produsen bibit sawit untuk menggunkan biochar. Apabila ada kebutuhan biochar dalam jumlah besar untuk maksud tersebut, silahkan kontak kami. Data spesifikasi teknis (COA) dan sampel biochar juga bisa kami sediakan.

Sabtu, 30 Juli 2022

Cocopeat dan Biochar

Baik cocopeat dan biochar memiliki kegunaan dalam bidang pertanian, tetapi ada sejumlah perbedaan antara keduanya. Cocopeat memiliki kegunaan terutama sebagai media tanam karena kemampuan menahan air (water holding capacity), sedangkan biochar selain memiliki kemampuan menahan air seperti halnya cocopeat juga menaikkan pH tanah, menahan atau membuat hara lebih tersedia (nutrient retention), dan juga menjadi koloni mikroba tanah sehingga bahan-bahan organik menjadi cepat terdekompsisi dan diserap tanaman. Cocopeat juga akan terurai dalam waktu tidak terlalu lama seperti kompos sedangkan biochar mampu bertahan dan tidak terdekompsisi hingga ratusan tahun. Dengan kondisi tersebut sehingga biochar juga digunakan untuk menyimpan CO2 (carbon sequenstration) dan mendapatkan carbon credit dengan mekanisme carbon sink.


Memilih Biochar atau Cocopeat ?
Dengan sejumlah keunggulan tersebut memilih biochar akan lebih baik. Apalagi cocopeat tersebut juga bisa digunakan untuk produksi biochar. Program carbon removal untuk mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer juga sejalan dengan aplikasi biochar tersebut. Kesadaran global terhadap perubahan iklim dan pemanasan global yang semakin tinggi membuat program carbon removal yang juga memberi keuntungan ekonomi dari carbon credit sepertinya akan terus meningkat dalam waktu tidak lama lagi. Hal ini tidak bisa dilakukan dengan cocopeat.  

Konversi cocopeat menjadi biochar juga bukan hal yang sulit, bahkan dengan berbagai alat sederhana (low tech) bisa dilakukan. Tetapi untuk kapasitas besar sehingga program carbon credit bisa berjalan butuh alat pirolisis modern berkapasitas besar. Dengan alat tersebut selain produksi biochar juga ada sejumlah excess energy yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan salah satunya pengeringan cocopeat sebelum menjadi bahan baku biochar dengan alat pirolisis. 

Jumat, 07 Mei 2021

Integrasi Pirolisis dengan Industri Cocopeat dan Cocofiber

Tingginya permintaan cocofiber dan cocopeat dunia yang mencapai ribuan kontainer per tahun seharusnya merupakan suatu peluang emas dan daya dorong bagi industri perkelapaan Indonesia. Ada sejumlah keunggulan potensi Indonesia yang semestinya bisa terdepan untuk menangkap dan menggarap peluang tersebut. Keunggulan-keunggulan tersebut antara lain dari 196 negara di dunia, hanya 8 negara yang menguasai 90% kebutuhan kelapa dunia, Indonesia sebagai pemilik perkebunan kelapa terluas di dunia yakni sekitar 3,8 juta hektar dengan produksi lebih dari 15 milyar butir kelapa setiap tahunnya, dan posisi geografis yang strategis. Hal ini juga menjadi alasan mengapa ICC (International Coconut Community) atau lembaga internasional yang beranggotakan negara-negara produsen kelapa berkantor pusat di Jakarta, Indonesia. Pulau Sumatera adalah sentra perkebunan kelapa terluas di Indonesia khususnya kabupaten Indragiri Hilir di provinsi Riau, selanjutnya pulau Sulawesi, Jawa, Maluku dan Papua, Nusa Tenggara dan Bali serta Kalimantan. Kondisi saat ini walaupun dengan sejumlah keunggulan diatas dan kualitas sabut kelapa Indonesia berkualitas tinggi serta harga sabut tersebut murah, tetapi ternyata masih kurang dari 5% kebutuhan cocofiber dan cocopeat dunia disupplai oleh Indonesia. 

Untuk menangkap peluang tersebut tentu tidak bisa hanya mengandalkan potensi saja, tetapi juga teknologi produksi yang efektif dan efisien. Salah satu kendala utama peningkatan kapasitas produksi cocofiber dan cocopeat adalah aspek pengeringan. Produksi cocofiber dan cocopeat bisa digenjot sedemikian rupa jika aspek pengeringan yang efisien bisa dilakukan. Dan untuk pengeringan tersebut energi panas mutlak dibutuhkan. Energi panas tersebut bisa didapatkan dengan murah dari excess energy proses pyrolysis. Selain menghasilkan produk utama berupa biochar, excess energy dari proses pyrolysis bisa diandalkan untuk sumber energi atau sumber panas industri pengolahan sabut Kelapa tersebut. Tipe pengering tertentu sesuai karakteristik material yang dikeringkan tersebut juga harus digunakan. Dengan alat pengering modern seperti belt dryer, tray dryer dan drum dryer maka selain kapasitas pengeringan akan tinggi juga kualitas produknya akan standard dan stabil. 

Sedangkan untuk proses pyrolysis dibutuhkan bahan baku berupa limbah-limbah biomasa yang banyak tersedia di lokasi tersebut, bahkan limbah biomasa tersebut bisa bervariasi sesuai dengan ketersediaannya yang kadang tergantung musim. Dalam kasus tertentu pyrolysis juga sangat mungkin diintegrasikan dengan industri kelapa terpadu, sehingga tempurung kelapa menjadi bahan bakunya. Sedangkan apabila lokasi perkebunan kelapa tidak berjauhan dengan perkebunan kelapa sawit maka limbah-limbah biomasa dari perkebunan atau pabrik sawit bisa digunakan untuk pyrolysis tersebut. Bahkan seperti batang sawitnya jika tidak dimanfaatkan dan hanya ditinggalkan membusuk di kebun malah mengundang serangga yang mengganggu kebun kelapa, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Integrasi industri pyrolysis dan pengolahan sabut kelapa tersebut selain mengurangi polusi lingkungan akibat limbah biomasa juga menjadi solusi untuk industri sabut kelapa. Hubungan kedua industri harus saling menguntungkan yakni industri pyrolysis bisa menjual excess energy-nya dengan harga kompetitif dan industri sabut kelapa bisa meningkatkan produksinya. 

Jumat, 26 Maret 2021

Inovasi Tungku Karbonisasi Untuk Meningkatkan Efisiensi Pengolahan Kelapa

 

Proses produksi yang tidak efisien akan mendorong terjadinya pemborosan sehingga mengakibatkan biaya produksi tinggi. Energi adalah faktor penting untuk suatu industri khususnya pada industri pengolahan kelapa terpadu. Karbonisasi atau proses pengarangan tempurung kelapa pada umumnya tidak efisien selain juga menghasilkan banyak polusi asap pada proses pengarangan tersebut, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Energi yang banyak terbuang tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan untuk berbagai pengolahan kelapa, seperti pembuatan kopra putih, dessicated coconut (DC), nata de coco, dan pengeringan cocofiber ataupun cocopeat. Selanjutnya asap yang keluar dari proses karbonisasi tersebut juga bisa dikondensasikan sehingga menghasilkan produk asap cair (liquid smoke). Dengan konfigurasi di atas maka tungku karbonisasi bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin demikian juga limbah atau polusi asap juga bisa diminimalisir sekecil mungkin. Skema sederhana tungku karbonisasi seperti dibawah ini :


Input tungku karbonisasi terutama adalah tempurung kelapa, tetapi sabut, janjang, dan pelepah juga bisa digunakan. Alat penukar panas (heat exchanger) dipasang untuk mengambil atau memanfaatkan panas dari proses karbonisasi tersebut. Udara dari lingkungan setelah melalui alat penukar panas akan menjadi panas. Udara panas yang dihasilkan tersebut selanjutnya bisa dimanfaatkan sesuai keperluan seperti di atas. Pada produksi kopra putih dimana hanya dibutuhkan udara panas bersih, bukan dari asap atau gas sisa pembakaran (flue gas) bisa memanfaatkan udara panas tersebut, demikian juga pada produksi kelapa parut kering / dessicated coconut (DC).  Air kelapa yang masih banyak dibuang sehingga mencemari lingkungan juga sebaiknya diolah menjadi nata de coco atau cuka (vinegar). Proses perebusan air kelapa untuk kedua produk di atas juga bisa memanfaatkan panas dari tungku karbonisasi tersebut. Dengan ongkos atau biaya energi yang bisa dipangkas atau diminimalisir dengan cara tersebut, maka produk-produk olahan kelapa menjadi lebih kompetitif dan memberi tambahan keuntungan bagi produsennya. 

Kamis, 07 Mei 2020

Produksi Arang dari Limbah Sabut Kelapa


Sabut kelapa adalah limbah dari buah kelapa atau industri pengolahan kelapa yang masih belum banyak dimanfaatkan. Sabut kelapa biasanya ditinggalkan di perkebunan kelapa tersebut dan seringkali hanya menjadi limbah yang mencemari lingkungan seperti di daerah Indragiri Hilir, sentra perkebunan kelapa terbesar di dunia. Hal tersebut mirip dengan tandan buah kosong pada industri kelapa sawit yang biasanya hanya dibuang di perkebunan sawit ataupun ditimbun begitu saja di sekitar pabrik sawit tersebut. Di sejumlah pabrik sawit limbah sabut (mesocarp fiber) juga banyak dihasilkan dan juga cenderung menjadi limbah yang mencemari lingkungan terutama pada pabrik sawit dengan boiler efisiensi tinggi. Sejumlah sabut kelapa telah diolah menjadi cocofiber dan cocopeat (atau kalau tandan kosong sawit diolah menjadi dried long fiber) tetapi secara prosentase masih kecil. Cocofiber digunakan untuk bahan matras, jok, tali, sapu, keset, geotekstil dan sebagainya, sedangkan cocopeat untuk media tanam. 
 Pemanfaatan lain yang praktis dan mudah dilakukan bahkan di daerah-daerah terpencil adalah pemanfaaatan limbah sabut kelapa tersebut untuk produksi arang. Arang tersebut selanjutnya dibuat briket sehingga lebih padat dan mudah digunakan. Briket arang tersebut bisa digunakan untuk memanggang daging, ikan ataupun bahan bakar memasak berbagai makanan.  Bahan bakar briket arang tersebut seharusnya akan menarik dan disukai karena tidak berbau, tidak berasap dan bentuknya yang seragam. Dibandingkan dengan briket batubara yang dulu sempat digalakkan, briket arang dari sabut kelapa maupun biomasa pada umumnya lebih cocok untuk keperluan memanggang (barbeque) dan memasak tersebut karena alasan di atas, sedangkan pada briket batubara selain muncul bau yang tidak sedap akibat senyawa sulfur/belerang, abu yang dihasilkan juga masuk kelompok B3 sehingga perlu penanganan lebih sulit. Daerah-daerah terpencil tersebut bisa menggunakan briket arang tersebut untuk keperluan masak sehari-hari maupun dipasarkan ke perkotaan khususnya di warung-warung kuliner yang menyediakan makanan dengan dipanggang atau dibakar (barbeque). 
Pemanfaatan lain dari arang dari sabut kelapa tersebut adalah untuk sektor pertanian. Hal tersebut karena arang (biochar) bisa digunakan untuk meningkatkan produktivitas panen dan efisiensi penggunaan pupuk. Biochar bisa digunakan pada  kebun sayuran dan buah-buahanan. Kebun kelapa yang pada umumnya jarang sekali atau tidak pernah dipupuk maka dalam upaya meningkatkan produktivitasnya supaya optimal maka program pemupukan perlu dilakukan dengan teratur. Kalau rata-rata produktivitas kelapa Indonesia saat ini hanya 40 butir/pohon/tahun maka dengan penggunaan biochar diharapkan bisa ditingkatkan. Padahal angka maksimum rata-rata, terutama jenis kelapa dalam (tall varieties) dapat mencapai 100 hingga 120 butir per pohon per tahun atau kurang lebih tiga kali lipat dari yang ada saat ini.

Rabu, 21 Maret 2018

Peningkatan Efisiensi Biomasa Untuk Ketercukupan Energi Bagian 2

Indonesia terkenal dengan negeri rayuan pulau kelapa. Hal ini karena begitu luasnya perkebunan kelapa di Indonesia yang mencapai sekitar 3,7 hektar dengan sebagian besar merupakan perkebunan rakyat. Luasnya perkebunan kelapa tersebut menempatkan Indonesia sebagai pemilik perkebunan kelapa terluas di dunia, dan Philipina menempati peringkat kedua. Pohon kelapa terutama tumbuh di sepanjang pantai, dan memang Indonesia juga memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Walaupun luas perkebunan kelapa Indonesia no 1 di dunia tetapi produktivitasnya masih kalah dengan Philipina, sehingga Philipina juga sebagai produsen kelapa no 1 di dunia. Industri kelapa di Philipina juga lebih maju daripada Indonesia. Indonesia disini lain lebih memprioritaskan kelapa sawit dibanding kelapa. Luas perkebunan kelapa sawit Indonesia saat ini sekitar 12 juta hektar atau lebih dari 3 kali luas perkebunan kelapanya.

Pohon kelapa juga dijuluki pohon kehidupan karena seluruh bagiannya bisa dimanfaatkan bagi kehidupan manusia. Tetapi saat ini nasibnya memprihatinkan karena kurangnya perhatian untuk pengembangan perkebunan dan industrinya. Produk utama kelapa adalah minyaknya yang memiliki kandungan asam laurat yang tinggi. Asam laurat hanya ditemukan ditiga tempat, yakni minyak kelapa, minyak kernel sawit dan air susu ibu. Asam laurat adalah asam lemak rantai sedang (medium chain fatty acid : MCFA) yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan manusia. Asam laurat banyak membantu penyembuhan berbagai penyakit seperti diabetes, kolestrol, hipertensi dan sebagainya. VCO (Virgin Coconut Oil) adalah bentuk minyak kelapa yang bisa langsung dikonsumsi manusia. VCO berbeda dengan minyak goreng kelapa karena pada VCO dibuat tanpa pemanasan sehingga menghasilkan asam lemak jenuh rantai sedang atau Medium Chain Fatty Acids (MCFA) yang tinggi, vitamin E, anti oksidan dan enzim-enzim yang ada didalam buah kelapa. Asam laurat dalam VCO mudah diserap sampai ke mitokondria sehingga akan meningkatkan metabolisme tubuh. Selain itu dapat merangsang produksi insulin yang menyebabkan proses metabolisme glukosa dapat berjalan normal, yang ini secara khusus sangat berguna bagi penderita diabetes. Manfaat lebih umum yakni mengkonsumsi minyak kelapa murni atau VCO juga dapat mengaktifkan hormon-hormon antipenuaan dan pregnenolone, progesteron, dan DHEA, serta mencegah serangan jantung, pikun, kegemukan, kanker, dan penyakit lain yang berhubungan dengan penuaan dini.


 


Asam lemak jenuh, asam laurat (lauric acid) terdiri dari 12 atom karbon, yang diikat jenuh (tidak ada ikatan ganda) oleh atom hidrogen. Hal ini yang membuatnya tidak mudah tengik dan bisa bertahan hingga 2 tahun. Dengan 12 atom karbon tersebut maka asam laurat disebut asam lemak rantai sedang (MCFA). Sedangkan minyak arau asam lemak lainnya pada umumnya seperti minyak goreng sawit, minyak kacang dan sebagainya  merupakan asam lemak berantai panjang (long chain fatty acid=LCFA) dan ikatan kimianya tidak jenuh (ikatan ganda). Asam laurat akan diubah menjadi monolaurin atau sebuah senyawa monogliserida yang diproleh para bayi dari air susu ibu yang mempunyai sifat antivirus, antibakteri, dan antiprotozoa. Asam lemak rantai sedang (MCFA) bisa langsung diserap melalui dinding usus sesampainya di saluran cerna, proses ini lebih cepat karena tanpa melalui proses hidrolisis dan enzimatik. Selanjutnya langsung dipasok masuk kedalam aliran darah dan langsung dibawa kedalam organ hati untuk dimetabolisir. Didalam hati VCO diproses menjadi energi saja, bukan kolesterol LDL dan bukan timbunan lemak, energi tersebut digunakan untuk meningkatkan fungsi semua kelenjar endoktrin, organ dan jaringan tubuh. Asam Lemak rantai sedang (MCFA) memiliki ukuran molekul yang kecil, sehingga mudah dicerna dan dapat langsung diserap tubuh (diserap oleh dinding usus) karena MCFA mudah menembus mitokondria (sebuah organ yang ada dalam setiap sel tubuh kita yang berfungsi menghasilkan energi untuk tubuh), Sehingga Pankreas, saluran pencernaan, dan hati dapat bekerja lebih ringan.Kemudahan MCFA menembus mitokondria, menjadikan VCO berperan sebagai sumber energi instan atau cepat menghasilkan energi bagi tubuh. Sedangkan LCFA perlu proses hidrolisis dan enzimatik sebelum diserap dinding usus. Bentuk produk atau hasil dari penguraian LCFA tersebuat adalah energi, kolesterol, dan ada sisa lemak yang ditimbun di jaringan lemak tubuh. Kolesterol dan timbunan lemak itulah yang dapat menjadi dasar timbulnya berbagai macam penyakit kronis dan degeneratif seperti hipertensi, stroke, dan diabetes. VCO juga bisa sebagai obat dan supplemen kesehatan halal, karena di saat ini juga sangat sedikit kita menemukan produk obat atau farmasi halal.
Air kelapa juga memiliki banyak manfaat. Nata de coco adalah produk populer dari pengolahan air kelapa. Nata de coco sebagai bahan minuman kaya serat, rendah kalori dan mengandung vitamin B dan C sangat baik dikonsumsi untuk kesehatan.  Air kelapa juga bisa sebagai sebagai minuman isotonik, yakni sebagai pengganti ion tubuh, untuk mengembalikan stamina dan energi baru bagi tubuh. Kandungan terbesarnya adalah kalium (potasium), dengan rincian sebagai berikut yakni 294 mg kalium (potasium), 23 mg natrium (sodium), 5 mg gula dan 118 mg cloride. Mineral-mineral tersebut sangat dibutuhkan tumbuh kita, walaupun kuantitasnya sangat sedikit. Kekurangan mineral-mineral berakibat menjadi sumber masalah kesehatan. Seharusnya kita bisa mendapatkan pasokan mineral-mineral tersebut secara mencukupi melalui makanan atau minuman kita kita. Sebagai contoh kekurangan kalium (K) akan menyebabkan masalah pencernaan dan Copper (Cu) menyebabkan produksi dan kerja enzyme terganggu. Segala masalah kesehatan dapat muncul karena hal ini. Kekurangan Copper mengganggu produksi energi, neurotransmission, meningkatkan resiko cardiovascular dan penyakit neurodegenerative.  Untuk memenuhi mineral yang lengkap air kelapa tersebut bisa ditambahkan dengan mineral lainnya. 

Limbah biomasa dari kelapa ini antara lain sabut, tempurung, pelepah, daun serta batangnya. Semua limbah biomasa tersebut bisa diolah untuk dikonversi menjadi energi. Dari sabut kelapa bisa langsung diolah semuanya menjadi pellet maupun briket. Tetapi bisa juga untuk lebih memberi nilai tambah, serabut (fiber) dipisahkan dari sabutnya menjadi cocofiber, sedangkan limbahnya yakni cocopeat atau cocodust bisa dibuat pellet atau briket. cocopeat atau cocodust juga bisa dipadatkan menjadi semacam briket, atau yang terkenal dengan cocopeat block. Pemanfaatan cocopeat block yakni terutama untuk media tanam, untuk lebih rinci bisa dibaca disini. Batang kelapa cukup mahal harganya dan banyak digunakan berbagai kayu bangunan, sehingga pemanfaatan menjadi pellet atau briket tidak cocok. Sedangkan limbah gergajian atau limbah pengolahan batang kelapa cocok digunakan untuk pellet atau briket, karena harganya murah seperti kayu limbah pada umumnya. Tempurung kelapa saat ini hampir semua diolah menjadi arang. Arang dari tempurung kelapa tersebut bisa langsung sebagai bahan bakar, bahan baku briket maupun bahan baku arang aktif.

Apabila kelapa diolah keseluruhan atau terintegrasi maka semua manfaat kelapa bisa dioptimalkan, atau minimal sejumlah biomasanya bisa dikonversi sebagai sumber energi yang menarik. Berbagai skenario teknologi pemanfaatan kelapa secara terintegrasi bisa dipertimbangkan, sehingga bisa dicari skenario optimalnya. Daerah-daerah sentra kelapa seperti Indragiri Hilir di Riau, Padang, Bengkulu, Lampung dan sebagainya harus mulai mencari potensi bisnis kelapa ini. Selain Philipina, India juga cukup maju dalam industri kelapa walaupun biomasanya belum difokuskan ke sektor energi. Justru inilah kesempatan untuk  mencuri start untuk mengefisienkan limbah kelapa untuk sektor energi. Ketika sektor energi kuat maka kedaulatan negara juga semakin mantap. 

Rabu, 07 Februari 2018

Pemadatan Biomasa : Cocopeat Menjadi Cocopeat Block

Teknologi pemadatan biomasa (biomass densification) ternyata tidak hanya digunakan untuk sektor energi saja seperti yang populer saat ini yakni pellet dan briket, tetapi juga sektor lainnya. Pemadatan cocopeat atau cocodust menjadi block atau briket ternyata pemakaian utamanya bukan untuk energi, tetapi untuk media tanam atau pertanian. Cocopeat block pada dasarnya juga briket, karena ukurannya lebih besar daripada pellet. Dengan cocopeat yang memiliki kemampuan menahan air yang tinggi dan juga pupuk, sehingga pemakaiannya bisa menjadi solusi masalah pangan. Media tanam yang baik akan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang baik demikian pula hasil panennya. Lahan-lahan yang kurang subur bisa diperbaiki dengan cocopeat tersebut. 

Cocopeat block dengan bentuk kotak atau kubus, maka semua teknologi pemadatan atau pembriketan bisa digunakan untuk pembuatan cocopeat blok tersebut. Proses produksi cocopeat block juga sama seperti pembuatan wood pellet maupun wood briquette. Pada umumnya ukuran cocopeat block cukup besar seperti 20x20x20 cm sehingga sebagian besar menggunakan mesin press tipe hydraulic. Apabila menggunakan mesin press tipe screw dan piston, maka ukuran mesin press menjadi besar, mahal dan sulit operasionalnya. Mesin press tipe hidraulik inilah yang paling ekonomis dibandingkan mesin press screw dan mesin press piston, walaupun bekerja secara batch. Konstruksi mesin hidraulik juga lebih sederhana dibandingkan dengan dua tipe mesin press lainnya. Untuk lebih jelas tentang teknologi pemadatan tersebut bisa dibaca disini. 


Dengan luas perkebunan kelapa yang dimiliki Indonesia mencapai 3,5 juta hektar, maka potensi cocopeat juga sangat besar. Cocopeat dihasilkan dari produksi cocofiber atau merupakan limbah produksi cocofiber tersebut. Saat ini pemanfaatan sabut kelapa juga belum optimal. Setelah kelapa dikupas atau dipisahkan dari sabutnya, biasanya sabutnya hanya ditumpuk sampai kering, dan dijadikan bahan bakar. Pemanfaatan sabutnya untuk produksi cocofiber dan cocopeat akan memberi nilai tambah lebih menarik secara ekonomi. Cocofiber sendiri juga menjadi komoditas export dengan penggunaan untuk bahan baku serat berkaret, matras, karpet, dan produk-produk industri/kerajinan rumah tangga. Matras dan serat berkaret banyak digunakan dalam industri jok, kasur dan pelapis panas (isolator). 

Sebagai media tanam yang mampu menahan air sangat tinggi hingga 73%, maka kelebihan air bisa berakibat fatal bagi tanaman. Pada prakteknya media tanam tidak menggunakan 100% cocopeat tetapi dengan media lainnya seperti pasir dan arang (biochar). Pada pemakaiannya cocopeat block juga dihancurkan atau diurai lagi sehingga menjadi bisa digunakan menjadi media tanam tersebut. Pembuatan cocopeat block akan menghemat transport, memudahkan handling dan memudahkan pengemasan sehingga bisa dikirim jarak jauh atau export secara ekonomis. Penggunaan cocopeat dengan arang (biochar) akan menjadi media tanam  berkualitas tinggi, karena mampu menahan air secukupnya, menjadi rumah favorit mikroba tanah untuk menyuburkan tanah dan menghemat pemakaian pupuk secara signifikan. 

Produksi Bark Briquette dari Limbah Pabrik Wood Pellets

Untuk mengurangi kadar abu dari wood pellets sehingga kualitasnya meningkat maka pengupasan kulit kayu (debarking) biasa dilakukan. Dengan p...