Tampilkan postingan dengan label hutan produksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hutan produksi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Desember 2025

Kayu Banjir Sumatera Untuk Apa ?

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Susi Pudjiastuti mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk mengevaluasi dan menghentikan industri kayu jika ternyata pendapatan negara dari sektor tersebut tidak sebanding dengan kerusakan lingkungan dan korban jiwa warga. Begitu dahsyatnya banjir Sumatera (Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat) yang menewaskan ribuan orang telah menyita dan menjadi sorotan nasional bahkan hingga internasional. Pemerintah harus meningkatkan status menjadi bencana nasional sehingga bisa diketahui penyebab, pelaku, dampak hingga antisipasi di masa akan datang. Tanpa dinaikkan statusnya maka masalah tidak akan tertangani secara memadai dan bantuan dari luar negeri enggan masuk. Pelaku-pelaku yang menyebabkan bencana alam termasuk para pembuat kebiijakan-kebijakannya yang mendukungnya harus diusut dan dinvestigasi. 

Dan belum terhitung kerugian material lainnya sepertinya hancurnya infrastruktur, rumah dan sebagainya. Kondisi tragis dan memilukan tersebut semestinya tidak terjadi apabila hutan dijaga secara semestinya. Ketika hutan-hutan digunduli dan dibuka untuk perkebunan sawit tanpa pertimbangan dan perhitungan yang memadai atau hanya berorientasi profit / keuntungan finansial semata maka harganya adalah ribuan nyawa manusia seperti dikatakan Susie Pujiastuti tersebut. Kayu dari land clearing untuk perkebunan sawit tersebut jumlahnya sangat banyak sehingga menjadi sumber keuntungan besar. 

Indonesia saat ini adalah raja sawit dunia dengan produksi lebih dari separuh (50%) minyak sawit dunia atau sekitar 50 juta ton minyak sawit / CPO per tahun dan permintaan minyak sawit memang terus meningkat seiring meningkatnya penduduk dunia yang terus membutuhkan pasokan minyak nabati (untuk pangan dan biofuel). Minyak sawit adalah minyak nabati dunia yang produksinya terbesar mengalahkan minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai, minyak bunga matahari dan minyak canola. Minyak sawit dengan minyak kedelai, minyak bunga matahari dan minyak rapeseed / canola adalah 4 minyak nabati utama dunia, dimana negara-negara produsennya saling bersaing (baca : perang dagang) memasarkan produk minyak nabatinya. Keunggulan minyak sawit adalah produktivitas minyak sawit terbesar diantara minyak nabati lainnya atau paling efisien di antara empat minyak nabati yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Sebagai perbandingan untuk menghasilkan 1 ton minyak sawit dibutuhkan 0,25 hektar, sementara untuk produksi 1 ton minyak kedelai membutuhkan 2 hektar, lalu  1 ton minyak biji bunga matahari membutuhkan 1,43 hektar dan produksi 1 ton minyak rapeseed / canola membutuhkan 1,25 hektar. 

Keunggulan lainnya adalah bahwa pohon sawit tidak bisa tumbuh negara sub-tropis seperti Eropa dan Amerika Utara sehingga semestinya ini jadi berkah bagi Indonesia, bukan malah bencana, dan walaupun juga bukan tumbuhan asli Indonesia tetapi dari Afrika Barat. Dengan luas hampir 17 juta hektar maka Indonesia adalah pemilik perkebunan sawit terbesar di dunia dan menjadi sumber devisa besar bagi negara. Tetapi upaya menggenjot produksi sawit yang dilakukan dengan ekstensifikasi tersebut, tentu tidak boleh mengabaikan aspek keamanan dan kelestarian lingkungan atau istilah lainnya aspek keberlanjutannya (sustaibility). Dan bahkan ekstensifikasi ini bisa diperlambat dengan sejumlah intensifikasi salah satunya dengan aplikasi biochar, untuk lebih detail baca disini. 

Aspek keberlanjutannya (sustaibility) dan deforestasi adalah 2 poin penting khususnya bagi sejumlah negara Eropa untuk menilai produk-produk perkebunan khususnya minyak sawit dan bahkan peraturan EUDR (EU Deforestation Regulation, atau dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai Peraturan Deforestasi Uni Eropa) akan diberlakukan sekitar 1 tahun lagi atau berlaku penuh 1 Januari 2027. Tetapi sayangnya negara-negara di Eropa tersebut menerapkan standar ganda karena minyak sawit diperlakukan dengan sangat ketat bahkan dengan berbagai peraturan yang berlapis, tetapi tidak demikian dengan minyak nabati utama lainnya yakni  minyak kedelai, minyak bunga matahari dan minyak rapeseed / canola.

Banjir Sumatera menunjukkan kebijakan serampangan (keluar dari koridor keberlanjutan / sustainibility) dan kemudian menjadi terbuka karena bencana yang melanda. Land clearing atau pembukaan lahan tersebut menghasilkan kayu gelondongan sangat banyak. Saking banyaknya bahkan terlihat seperti pulau kayu tetapi juga mencemari lingkungan dan mengganggu mobilitas. Dengan begitu besarnya kerugian akibat banjir tersebutseolah terbentuk pulau kayu karena tingginya tumpukannya. Dan salah satu penanganan pasca banjir adalah membersihkan kayu-kayu tersebut. Sebagian kayu-kayu tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi, sehingga bisa dimanfaatkan. Tentu saja keuntungan dari penjualan kayu tersebut diberikan kepada rakyat sebagai korban bencana karena penebangan yang serampangan tersebut. Dengan diberikan kepada rakyat maka bisa membantu mempercepat pemulihan pasca bencana tersebut. 

Secara teknis kayu-kayu tersebut perlu dipiih berdasarkan jenis kayu, ukuran dan potensi pasarnya. Sedangkan kayu-kayu yang kurang ekonomis atau dianggap limbah seperti karena ukuran terlalu kecil, patah menjadi potongan kecil, terbelah dan sebagainya bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar biomasa seperti produksi wood pellet. Kapasitas produksi pabrik wood pellet menyesuaikan dengan volume limbah, permintaan pasar dan investasi peralatan mesin produksi pabrik tersebut. Lokasi pabrik wood pellet juga semestinya mendekat bahan baku dan tidak jauh dengan pelabuhan export-nya. Sejumlah treatment seperti pencucian perlu dilakukan karena kayu-kayu tersebut kotor terkena lumpur. Demikian juga kayu-kayu yang terendam dilaut yang berpotensi menaikkan kandungan klorinnya. Selain wood pellet, produksi bahan bakar biomasa lain yang bisa dihasilkan adalah wood chip dan wood briquette. Faktor kesiapan pasar sangat penting untuk pemilihan produk bahan bakar biomasa yang akan diproduksi.  

Produksi bahan bakar biomasa dari bahan baku limbah kayu banjir tentu tidak bisa terus berkeanjutan. Walapun volume limbah kayu tersebut menggunung dan baru akan habis beberapa tahun mendatang, tetapi perlu dipikirkan untuk bisa terus menghasilkan bahan baku berkelanjutan terutama setelah kayu limbah dari banjir habis. Lahan-lahan yang gundul perlu dihijaukan kembali demikian juga lahan-lahan kritis bahkan juga lahan-lahan tidur. Pemilihan tanaman yang tepat serta pemetaan lahan perlu dilakukan. Dan terkait upaya keberlanjutan produksi bahan bakar biomasa seperti wood pellet maka kebun-kebun energi perlu dibuat dilahan yang cocok. Tanaman kebun energi seperti kaliandra dan gamal / gliricidia memiliki akar tunggang sehingga juga bermanfaat untuk mengendalikan erosi dan tanah longsor. Bahkan dengan luasan tertentu kebun energi ini bisa menghasilkan pendapatan ratusan trilyun, untuk lebih detail baca disini. Begitu untuk hutan produksi tanaman lainnya sebagai penghasil kayu untuk berbagai industri dan keperluan juga harus dikelola dengan baik sehingga juga menjadi berkah, dan bukan bencana.   

Minggu, 19 Oktober 2025

Export PKS dan Wood Pellet untuk Pembangkit Listrik Biomasa dan BECCS di Jepang

Dalam kasus di Jepang, dengan sejumlah sekitar 290 pembangkit listrik biomasa (biomass power plant) maka secara teknis mestinya untuk menuju BECCS bisa lebih cepat, tinggal nanti bagaimana di sisi policy/regulation. Pemasangan unit CCS (Carbon Capture and Storage) di unit pembangkit listrik biomasa membuat operasional pembangkit tersebut carbon negative atau sebagai carbon (dioxide) removal. Jumlah karbon yang bisa ditangkap dan disimpan sehingga bisa dipisahkan dari atmosfer tersebut bisa mendapatkan carbon credit yang bisa digunakan untuk operasional CCS (Carbon Capture and Storage) di unit pembangkit listrik biomasa. Dekarbonisasi untuk mencapai target iklim yakni NZE (Net Zero Emission ) 2050 dan Paris Agreement menjadi daya dorong tersebut. 

Dan karena pembangkit listrik biomasa (biomass power plant) selalu membutuhkan bahan bakar biomasa untuk operasionalnya sehingga ini menjadi peluang Indonesia untuk menyuplai wood pellet dan PKS (palm kernel shell) / cangkang sawit. Pembangkit-pembangkit listrik di Jepang tersebut, sebagian besar atau mayoritas bahan bakar biomasa berasal dari import, seperti pembangkit listrik biomasa Kanda (Kanda Biomass Energy) di  kota Kanda, timur laut Chiyoda, Tokyo. Kanda Biomass Energy menggunakan tiga jenis biomassa: wood pellet (60 persen), cangkang sawit / PKS (30 persen), dan wood chip (10 persen). Wood pellet diimpor dari British Columbia, Kanada dan Vietnam, cangkang sawit / PKS dari Indonesia, dan wood chip didatangkan secara lokal dari Kyushu utara. Fasilitas ini mengonsumsi sekitar 170.000 ton wood pellet, lalu 120.000 ton cangkang sawit / PKS, dan 60.000 ton wood chip per tahun.  

Pembangkit-pembangkit listrik biomasa di Jepang tersebut pada umumnya menggunakan teknologi fluidized bed combustion (FBC) pada boiler mereka. Alasan penggunaan teknologi ini adalah fleksibitas bahan bakar lebih tinggi, efisiensi tinggi karena mixing yang baik, suhu pembakaran relatif rendah sehingga meminimalisir masalah deposit abu karena meleleh dan penggunaan udara berlebih (excess air) kecil, juga semakin meningkatkan efisiensinya dan mengurangi flue gas yang dihasilkan. Teknologi FBC ini cocok untuk kapasitas besar yakni diatas 20 MW. Dalam perkembangannya teknologi ini terbagi menjadi 2, yakni bubbling fluidized bed (BFB) dan circulating fluidized bed (CFB). Secara umum perbedaan keduanya tidak banyak, seperti ukuran bahan bakar, konstruksi unit dan rasio udara-bahan bakar. PKS (palm kernel shell) atau cangkang sawit lebih cocok untuk CFB powerplant karena ukurannya kurang dari 4 cm. Pembangkit-pembangkit listrik di Jepang khususnya, yang menggunakan PKS atau cangkang sawit sebagai bahan bakarnya karena menggunakan teknologi CFB ini. 

Dengan operasi suhu relatif rendah yakni 650-900 C maka masalah abu bisa diminimalisir. Bahan bakar biomasa tertentu kadang memiliki kadar abu yang tinggi dan kimia abu yang berpotensi merusak unit pembangkit tersebut. Selain itu faktor kebersihan bahan bakar juga sangat penting, hal ini karena secara teknis pengotor-pengotor tertentu seperti logam bisa menutup pori-pori udara pada angsang (perforated plate) unit FBC tersebut, padahal udara khususnya oksigen mutlak dibutuhkan pada proses pembakaran tersebut dan juga yang membuat kondisi fuel bed ter-fluidize. Prasyarat kebersihan bahan bakar tersebut harus dipenuhi oleh penyedia atau penjual bahan bakar biomasa tersebut, oleh sebab itu pihak pembeli mensyaratkan jumlah pengotor (impurities/kontaminan) yang bisa diterima sangat kecil, yakni berkisar kurang dari 1%. Pembersihan PKS dilakukan dengan mengayaknya baik manual maupun dengan mesin mekanis, untuk lebih detail masalah kebersihan bahan bakar biomasa bisa dibaca disini. 

Kebutuhan bahan bakar biomasa tersebut diprediksi akan terus meningkat. Dan pembangkit listrik biomasa (biomass power plant) terus berkembang dengan perkiraan pada 2030 di Jepang diproyeksikan akan terjadi penambahan pembangkit sebesar 6 GW dengan kapasitas terpasang pada tahun 2024 sebesar 7,3 GW.  Bahkan pada tahun 2025 ini ada 11 pembangkit baru yang dijadwalkan beroperasi, yang dapat meningkatkan permintaan bahan bakar biomasa tahunan sekitar 1,1 juta ton. Nah apabila Indonesia bisa menyuplai wood pellet juga ke Jepang dengan memaksimalkan forest residue, limbah sawmill atau limbah industri pengolahan kayu lainnya, tentu luar biasa.

Sebagai estimasi pemanfaatan limbah hutan yakni misalkan hutan produksi dengan luas 200.000 hektar (sekitar 2.000 km2) dan karena berada di area tropis maka kecepatan pertumbuhan biomasa kayunya rata-rata 20 ton/hektar/tahun, maka hutan tersebut akan menghasilkan kayu 4.000.000 ton/tahun setiap tahun pada pertumbuhan baru. Luasan 200.000 hektar sepertinya sangat besar, tetapi dengan Indonesia memiliki hampir 70 juta hektar hutan produksi, maka luasan 200.000 hektar adalah 0,29% saja. 

Misalkan kita buat setting default pemanfaatan kayu dari hutan produksi yakni 35% untuk bahan bangunan, furniture, flooring dsb, dan 30% untuk kertas, tisu dan kemasan, dan 5% kayu dari dari panen berada di hutan. Dan dengan 15% limbah penggergajian kayu (sawdust, chip dsb) untuk produksi wood pellet dan sisa dari penggergajian ke pabrik kertas (pulp and paper) dan industri kayu rekayasa (engineered wood). 

Dan terhitung bahwa 35,3% dari 3,8 juta ton/tahun limbah kayu setiap tahun ke pabrik wood pellet (sekitar 1,34 juta ton setiap tahun). Di sejumlah lokasi persentasi aktual jauh lebih sedikit karena pabrik kertas dan industri kayu rekayasa (engineered wood) menggunakan bahan baku lebih banyak dengan bahan baku yang sama seperti yang digunakan pabrik wood pellet. Sehingga pada umumnya pabrik wood pellet tidak berada dilokasi yang telah memiliki permintaan atau telah ada penggunaan untuk pulp and paper dan industri kayu rekayasa (engineered wood). Dengan tingginya kadar air maka perlu pengeringan untuk produksi wood pellet, sehingga estimasi produksi wood pellet adalah 650.000 ton/tahun. Dengan ukuran kapal handymax vessel yang bisa memuat 25.000 ton/shipment berarti dibutuhkan 26 kali pengapalan ke Jepang setiap tahun atau dengan panamax vessel yang bisa memuat 50.000 ton/shipment berarti dibutuhkan 13 kali pengaplan ke Jepang setiap tahunnya. 

Senin, 28 September 2020

Pemanfaatan Limbah Kayu Land Clearing Untuk Produksi Arang Dan Briket

 

Land clearing banyak dilakukan terutama untuk pembuatan perkebunan baru, baik kebun untuk tanaman pangan maupun kebun atau hutan untuk produk kayu. Pembuatan perkebunan sawit dan hutan akasia adalah contohnya. Sebelum penanaman sawit atau akasia tersebut maka lokasi yang biasanya hutan alam dibersihkan dari vegetasi atau pepohonan sebelumnya. Hutan alam tentu saja memiliki jenis pepohonan yang sangat beragam baik dari jenisnya maupun usianya. Sejumlah pepohonan memiliki diameter yang besar sedangkan lainnya lebih kecil. Setelah dibersihkan dari pepohonan lamanya, selanjutnya tanahnya dikondisikan untuk peruntukkan perkebunan tersebut. 

Memang, pembuatan kebun atau hutan tersebut harus sesuai dengan peruntukan lahannya. Lahan-lahan yang merupakan hutan lindung atau hutan konservasi tentu saja tidak bisa digunakan untuk hutan produksi atau hutan tanaman industri (HTI). Hal tersebut tentu saja menyangkut faktor lingkungan berupa kelestarian lingkungan hidup, seperti hutan sebagai sumber mata air, mencegah bahaya tanah longsor, sebagai carbon sink dan sebagainya. Aktivitas ekonomi hutan produksi pun juga harus memperhatikan aspek lingkungan sehingga usaha yang dilakukan juga bisa berkelanjutan. Kayu misalnya sebagai sumber biomasa berbagai bahan baku industri, bisa dikatakan sebagai sumber terbarukan hanya jika dikelola dengan baik dan berkelanjutan.  

Sewaktu land clearing tersebut banyak sekali kayu yang hanya menjadi limbah. Kayu-kayu dengan diameter besar bisa dijual ke penggergajian-penggergajian kayu. Tetapi kayu-kayu berdiameter kecil seperti cabang dan ranting sebagian besar tidak termanfaatkan, padahal jumlahnya banyak. Solusi masalah tersebut kayu-kayu tersebut bisa diolah menjadi arang dan briket. Kayu-kayu batangan yang tidak laku dijual di penggergajian kayu bisa digunakan untuk produksi arang. Dengan teknologi yang baik produksi arang dengan kualitas tinggi bisa dilakukan, yakni dengan fixed carbon lebih dari 82%. Kuantitas produksi hingga 3000 ton/tahun arang juga sangat memungkinkan. Sedangkan kayu-kayu limbah berupa ranting lebih kecil atau potongan -potongan kayu bisa dimanfaatkan untuk produksi briket. Produksi briket lebih mudah dan juga lebih murah dibandingkan wood pellet. Hal lain yang membedakan briket dengan pellet terutama segmen pasarnya, untuk lebih detail bisa dibaca disini.

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...