Tampilkan postingan dengan label model bioekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label model bioekonomi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Agustus 2018

Bioeconomy Model Untuk Indonesia Bagian 2

Selain dengan menggunakan pohon leguminoceae seperti kaliandra dalam bentuk kebun energi, seperti diuraikan lebih rinci pada bioeconomy model untuk Indonesia bagian 1, pohon bambu juga bisa digunakan sebagai tanaman perintis dan berdampak berkembangnya berbagai aktivitas bioeconomy turunannya. Mengapa pohon bambu juga bisa digunakan dalam hal ini? Pohon bambu yang termasuk kelompok rumput-rumputan (gramineae) bisa tumbuh di hampir semua tempat di Indonesia dan tahan terhadap kondisi kering, hal ini juga karena tumbuhan bambu termasuk jenis tumbuhan dengan photosintesis C4. Air tanah juga akan terangkat naik ke permukaan oleh tanaman bambu, sehingga daerah yang semula kering bisa menjadi subur dan air mudah tersedia, bahkan munculnya mata air sebagai akibat hutan atau kebun bambu tersebut, seperti dibaca disini. 
Rusaknya lingkungan pada umumnya dimulai dari rusaknya tanah yang berubah menjadi kering dan tandus. Kondisi demikian menyebabkan tanah tidak dimanfaatkan dan semakin memperparah kerusakan hingga bisa terjadi penggurunan (desertifikasi). Rusaknya tanah bisa disebabkan penggunaan pupuk kimia, kurang atau tidak tersedia sumber air dan pengelolaan lahan yang tidak berkelanjutan. Pohon bambu yang juga mudah tumbuh bisa digunakan untuk memperbaiki kondisi tersebut. Untuk itu kebun bambu perlu banyak dibuat untuk merehabilitasi lahan dan juga manfaat secara ekonomi. Hanya memerlukan waktu sekitar 3 tahun pohon bambu sudah bisa dipanen dan selanjutnya bisa dipanen terus menerus hingga lebih dari 30 tahun. 

Bambu bisa untuk biomaterial, tetapi tentu pemanfaatan paling ekonomis adalah yang dicari. Bambu bisa dimanfaatkan untuk produksi berbagai macam produk seperti bahan bangunan, bahan baku kertas, sumber energi, activated carbon, hingga tekstil berkualitas tinggi dan untuk lebih rinci bisa dibaca disini. Banyaknya produk-produk yang bisa dihasilkan dari bambu tentu akan menjadi daya dorong tersendiri. Saat ini masih banyak sejumlah produk yang masih import, padahal seharusnya bisa diproduksi di dalam negeri. Bahan baku tekstil seperti katun dan wol adalah contoh bahan baku yang masih import dalam jumlah sangat besar, dan ini sebenarnya juga bisa disubtitusi dengan bahan baku dari bambu, bahkan kualitasnya lebih baik. 

Dengan perkebunan bambu yang memperbaiki kondisi lingkungan dan aspek ekonomi, selanjutnya pengembangan bisa terus dilakukan nantinya, seperti pembuatan kebun buah-buahan maupun peternakan khususnya domba. Tanah yang telah subur dan air mudah tersedia menjadikan berbagai pohon buah-buahan bisa tumbuh dengan baik, demikian pula bisa untuk pembuatan padang penggembalaan dengan rerumputan yang menghijau. Teknik penggembalaan rotasi sebagai teknik penggembalaan terbaik saat ini bisa diterapkan di padang penggembalaan tersebut. Sektor ekonomi berbasis hal tersebut menjadi semakin bergairah dan contoh bioeconomy riil. 
Bermula dari bambu, sektor ekonomi bangsa dan umat bisa menjadi kuat. Sektor-sektor strategis seperti pangan, sandang, papan, hingga energi bisa dicukupi dan tidak bergantung import. Ada puluhan juta hektar lahan tersedia di Indonesia, dan bisa digunakan untuk perkebunan bambu tersebut. Kondisi Indonesia yang beriklim tropis dengan curah hujan tinggi juga sangat mendukung perkebunan bambu di Indonesia. Mari kita perbaiki dan selamatkan lingkungan sekaligus untuk menjadi memimpin di era bioeconomy dengan perkebunan bambu,  industri pengolahannya dan pengembangannya. 

Minggu, 08 April 2018

Bioeconomy Model untuk Indonesia

Ketika Eropa mentargetkan bioeconomy-nya bisa menggerakkan ekonomi sebesar € 2 trilyun (34.000 trilyun rupiah atau 17 kali APBN Indonesia) dengan menyerap 20 juta tenaga kerja dan lebih khususnya Belanda yang luasnya kurang lebih seukuran Jawa Timur mentargetkan € 2,6-3 milyar (sekitar 50 trilyun rupiah) dengan bioeconomy-nya, Indonesia sebagai negara tropis, tanah yang luas dan subur seharusnya bisa mendongkrak ekonominya juga dengan bioeconomy. Pendekatan dan model bioeconomy yang dikembangkan Indonesia bisa saja berbeda dengan yang dilakukan di Eropa dan di Belanda, karena potensi alamnya dan karakteristik penduduknya juga tidak sama. Dengan penduduk mayoritas muslim sudah seharusnya Indonesia mengembangkan banyak model-model bioeconomy yang sejalan dengan nilai Islam. Hal ini karena bioeconomy juga akan terkait terkait masalah pangan dan sandang yang dalam Islam sangat jelas terkait dengan masalah halal haram. Bukan hanya itu tentu model tersebut juga dioptimasi sehingga bisa semaksimal mungkin membawa kemakmuran umat dan memberi solusi pada sejumlah masalah besar yang dihadapi. Ekonomi Islam yang belum menjadi mainstream di negeri mayoritas Islam adalah salah satu masalah besar tersebut. Dengan banyak melakukan syirkah dan wakaf sejumlah peluang-peluang besar dalam era bioeconomy bisa dengan mudah ditangkap dan dioptimalkan.
Dengan iklim tropis, tanah luas, subur dan curah hujan tinggi, pengembangan kebun energi untuk produksi wood pellet, peternakan domba, peternakan lebah madu dan produksi arang dengan pyrolysis adalah salah satu model bioeconomy yang bisa dikembangkan. Pyrolysis selain menghasilkan arang juga menghasilkan syngas yang bisa dikonversi menjadi listrik. Listrik berguna untuk menjalankan unit pyrolysis tersebut dan juga produksi wood pelletnya. Limbah pabrik sawit seperti tandan kosong kelapa sawit maupun limbah perkebunan kelapa sawit yakni pelepah bisa digunakan untuk bahan baku pyrolysis tersebut. Sampah kota juga bisa dijadikan bahan baku untuk pirolisis tersebut. Jika tidak maka sejumlah atau sebagian kayu dari panen kebun energi bisa digunakan untuk bahan baku pyrolysis tersebut. Produk lainnya dari pyrolysis yakni arang, biooil dan pyroligneous acid (liquid smoke). Semua produk tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan bisa diupgrade untuk menjadi sejumlah produk turunan. Seberapa panjang mata rantai industri juga tergantung dari keekonomian industri tersebut. Semakin panjang rantai industri semestinya akan memberi nilai tambah semakin besar dan kontribusi yang besar juga pada bioeconomy. 

Bagaimana bisa merealisasikan bioeconomy model di atas? Tentu pekerjaan besar untuk merealisasikan bioeconmy model tersebut karena mengintegrasikan beberapa unit sehingga menjadi siklus tertutup. Entry point bisa dimulai dari salah satu unit bisnis yang lebih mudah dilakukan. Penggembalaan domba atau Penggembalaan domba dan sapi (mixed grazing) bisa jadi entry point termudah, karena bagi umat Islam juga mendukung untuk penegakan syar'i at Islam, yakni syar'i at qurban setiap 10 Dzulhijah. Selain itu juga berarti akan meningkatkan produksi daging dalam negeri. Penggembalaan rotasi (rotation grazing) adalah pola penggembalaan yang efektif dan efisien, apalagi dibandingkan pola penggembalaan tradisional, yakni penggembalaan kontinyu (continous grazing).  Setelah penggembalaan tersebut, selanjutnya diikuti dengan produksi wood pellet dari kebun energi, yang limbah daun-daunnya yang juga kaya kandungan protein juga akan sebagai pakan tambahan bagi hewan-hewan ternak tersebut. Kotoran ternak dari kandangnya bisa digunakan untuk pupuk di kebun energi, sedangkan padang penggembalaan sendiri telah mendapatkan pupuk sewaktu penggembalaan dilakukan di area tersebut. Terakhir yakni mengintegrasikan unit pyrolysis yang tujuan utamanya untuk produksi listrik untuk mencukupi operasinal pabrik wood pellet. Mata rantai industri bisa dikembangkan lebih panjang dengan menggunakan bahan baku (feedstock) dari hasil samping proses pyrolysis tersebut. 

Ketika model ini bisa dibuat dan terbukti memberi keuntungan dan manfaat yang besar, maka selanjutnya model tersebut tinggal diperbanyak dan diperbesar. Ketika hand phone layar sentuh pertama kali dikenalkan maka banyak pihak yang skeptis dan mencemooh konsep tersebut untuk bisa digunakan secara masal, tetapi hari ini sebagian besar hand phone dan gadget menggunakan layar sentuh untuk mengoperasikannya. Orang-orang baru tertarik dan berbondong-bondong menjadi follower ketika telah melihat bukti. Tetapi siapa yang mau menjadi pioneer dan memberi bukti kepada orang-orang itu? Tentu bukan orang sembarangan dan hanya sangat sedikit orang yang mau dan mampu melakukannya. Steve Jobs, menunjukkan bahwa handphone layar sentuh Apple bisa handal digunakan dan memberi bukti bagi orang-orang. Ungkapan Steve Jobs yang terkenal yakni
“ People do not know what they want until you show it to them – masyarakat tidak tahu apa yang mereka inginkan sampai Anda tunjukkan kepada mereka !”.


Contoh di dunia perkebunan akan lebih dekat dengan bioeconomy model. Ketika Belanda membawa empat biji sawit lalu tumbuh menjadi pohon sawit lalu dibuatlah perkebunan kecil, lalu semakin luas karena banyak ditiru dan dikembangkan ke banyak tempat. Kondisi tersebut terjadi karena usaha tersebut bisa membuktikan memberi keuntungan menarik. Demikian juga dengan pengembangan bioeconomy. Semakin terbukti memberi keuntungan dan manfaat lebih baik, tentu semakin menarik untuk diterapkan dan dikembangkan ke banyak lokasi, bahkan tidak hanya di Indonesia saja tetapi bisa juga di Malaysia dan khususnya negara-negara muslim lainnya. 

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...