Selasa, 28 Januari 2014
Proses Produksi Pabrik Wood Pellet
These variables have tended to make pelleting more of an “art” than a “science”, through significant strides are being made in the sophistication of this process, bringing these variables under more control.
Find more detail info in presentation here
Kamis, 02 Januari 2014
Chlorine Corrosion, Hantu Yang Ditakuti Powerplant
![]() |
| Pipa-pipa superheater terkorosi oleh klorin |
Meskipun pada umumnya biomasa memiliki konsentrasi klorin yang rendah (kecuali jerami) dibandingkan dengan batubara, korosi berat terjadi pada sejumlah powerplant yang menggunakan bahan bakar biomasa dan menyebabkan kebocoran pada pipa-pipa heat exchanger kurang dari 10.000 jam operasi. Korosi pada alat transfer panas sangat terkait dengan deposit abu pada pipa-pipa. Mekanisme reaksi kompleks korosi klorin dalam pipa-pipa boiler seperti skema dibawah ini:
![]() |
| Mekanisme reaksi kimia korosi klorin |
Pipa steam superheater pada umumnya tidak dirancang untuk mengakomodasi klorin dalam bahan bakar biomasa. Mekanisme korosi diatas telah dipahami secara baik oleh perancang dan pengguna biomass boiler di Eropa, indikasinya adalah pipa-pipa superheater dipasang pada low gas temperature zone. Teknologi lain yang mampu mengakomodasi bahan bakar biomasa dengan kadar klorin tinggi seperti limbah-limbah agroindustri dan rumput-rumputan adalah Circulating Fulidised Bed Combustion (CFBC). Suhu Pulverized Coal (PC) boiler yang beroperasi pada suhu 1400 sampai 1500 C menyebabkan korosi yang hebat pada pipa-pipa superheater, sedangkan operasional CFBC pada suhu lebih rendah berkisar dari 850C sampai 900C.
Selasa, 24 Desember 2013
Fluidized Bed Combustion System Paling Sesuai Untuk Biomasa Limbah Agroindustri
Fluidized bed combustion (FBC) system banyak digunakan untuk
pembangkit listrik. FBC system dapat dimodifikasi menjadi circulating FBC(CFBC), dimana material disirkulasikan kembali ke ruang pembakaran untuk
pembakaran lanjut. FBC system umumnya dibatasi hingga ukuran kurang dari 300
MW, tetapi ada pembangkit listrik di Lagisza, Polandia yang merancangnya hingga
460 MW dan harapannya bisa di scale up hingga 600 – 800 MW pada masa
mendatang.
FBC dan CFBC system menjadi penting karena PLTU batubara
yang telah lama beroperasi bisa di repowered, membuka kemungkinan cofiring
dengan biomasa pada skala kondisi lebih luas. Keuntungan-keuntungan dari FBC
system antara lain :
- - Kemampuannya untuk membakar bahan bakar dengan
kisaran yang lebar pada kadar air, ukuran partikel, dan kepadatan. Dan
potensial untuk jenis bahan bakar batubara, biomasa, tire-derivated-fuel,
agricultural residues, dan urban wood wastes.
- -Transfer panas pembakaran lebih efisien sehingga
suhu pembakaran lebih rendah, yang pada gilirannya akan menurunkan emisi NOx.
- -Biaya lebih rendah untuk SO2 capture karena
limestone dapat ditambahkan secara langsung pada media fluidisasi dengan biaya
lebih rendah dibandingkan memasang scrubber
setelah pembakaran.
PLTU batubara yang memasang FBC system sebagai bagian dari
retrofit ataupun new plant construction akan sangat terbuka untuk pemakaian
biomasa (bahkan jika tanpa biomasa pada awalnya). FBC system memiliki banyak
keuntungan terkait dengan kemampuan fleksibilitas bahan bakar. Transport
biomasa dari sumber bahan baku hingga pembangkit listrik akan efisien jika
dipadatkan (densifikasi) dibuat menjadi seperti pellet. Wood pellet berbahan
baku biomasa berkayu semakin terbatas ketersediaanya kecuali jika diupayakan
secara intensif seperti membuat kebun energi, sedangkan limbah-limbah biomasa
agroindustri seperti kelapa sawit banyak tersedia dan belum termanfaatakan
sehingga sangat potensial untuk didensifikasi sebagai bahan bakar FBC system.
Aspek lingkungan, perubahan iklim dan pemanasan global adalah faktor utama
penggunaan bahan bakar biomasa ini.
Jumat, 13 Desember 2013
Optimasi Cofiring Biomasa-Batubara di PLTU Batubara
Cofiring biomasa-batubara telah umum dilakukan oleh sejumlah
PLTU batubara di Eropa dan Amerika dengan motivasi utama untuk mengurangi
dampak lingkungan akibat emisinya. Saat ini prosentase cofiring biomasa dengan
batubara masih kecil rata-rata dibawah 10%. Hal ini bisa juga terjadi akibat
pasokan wood pellet yang terbatas. Tetapi ditinjau dari operasional cofiring
biomasa-batubara akan mengurangi fly ash
secara signifikan. Di lain sisi apabila
prosentase cofiring biomasa-batubara ini akan menyebabkan deposit pada
pipa-pipa boiler sehingga akan menganggu proses transfer panas dalam tungku
tersebut menyebabkan borosnya bahan bakar dengan terindikasi salah satunya
dengan suhu flue gas yang tinggi.
Ada tiga teknik yang sering digunakan pada cofiring
biomasa-batubara :
1.
Mencampur biomasa dan batubara pada fuel
handling system (kemudian diumpankan ke boiler).
2.
Menyiapkan biomasa secara terpisah dengan
batubara, kemudian menginjeksikan ke boiler.
3. Gasifikasi biomasa sehingga menghasilkan gas
yang kemudian dibakar di boiler secara langsung atau menggunakan integrated
gasification combined cycle (IGCC) system.
Seluruh
dunia dilaporkan lebih dari 200 PLTU batubara yang telah melakukan ujicoba
dengan biomasa (IEA 2010).
Beberapa cofiring options yang tersedia pada PLTU batubara,
antara lain :
-Cofire dengan prosentase biomasa rendah, dengan sedikit
modifikasi peralatan.
-Cofire dengan prosentase biomasa tinggi, dengan
meng-upgrade peralatan.
-Convert/repower individual coal burners to be fired with
biomass
-Convert/repower entire coal plants to be fired with biomass
-Cofire with torrefied wood
Kadar abu pada batubara dan biomasa umumnya terpaut cukup
besar dan apalagi kimia abunya juga banyak berbeda. Faktor inilah yang
menyebabkan terjadi banyak sedikitnya deposit di pipa-pipa boiler. Prosentase
cofiring biomasa-batubara sampai dengan 10% umumnya masih bisa diterima.
Prosentase optimal yang menyebabkan deposit pipa boiler minimal dan pengurangan
fly ash secara signifikan bisa dicari berdasarkan variable karakteristik
batubara dan biomasa yang digunakan.
Biomasa Kayu Lebih Diminati Daripada Biomasa Limbah Agroindustri Untuk Produksi Pellet?
Nilai kalor, kadar abu dan kimia abu adalah tiga parameter
penting dalam penentuan kualitas pellet. Tiga parameter diatas sangat
dipengaruhi oleh bahan baku untuk produksi pellet. Nilai kalor tinggi, kadar
abu rendah dan kimia abu yang ramah
terhadap pipa-pipa boiler adalah kondisi ideal yang dicari oleh pengguna
pellet. Pemilihan bahan baku untuk produksi pellet adalah kata kunci untuk
mencapai kondisi ideal tersebut.
Permintaan wood pellet untuk eksport dalam skala besar yang
rata-rata diatas 5000 ton/bulan membutuhkan suplai bahan baku serbuk gergaji
ataupun kayu-kayu limbah penggergajian kayu dalam jumlah besar. Hal tersebut sulit dipenuhi. Produsen wood pellet skala kecil dengan
kapasitas kurang dari 1000 ton/bulan
mungkin bisa mempertahankan kelangsungan usahanya. Masalah suplai bahan
baku inilah salah satu faktor kunci keberlangsungan dan kesuksesan usaha wood pellet tersebut.
Limbah-limbah agroindustri seperti tandan kosong sawit,
kulit kopi, sekam padi, tongkol jagung dan sebagainya sangat potensial sebagai
bahan baku pellet. Secara kuantitas memang bahan baku dari limbah tersebut
melimpah sehingga lebih bisa diandalkan pasokan bahan bakunya, tetapi secara
kualitas memang masih dibawah bahan baku biomasa kayu berdasarkan tiga
parameter tersebut di atas.
Cara yang ideal untuk mendapatkan bahan baku
berkualitas dan jumlahnya memadai walaupun
membutuhkan waktu lebih lama adalah dengan membuat kebun energi atau hutan tanaman industri energi (HTIE). Biomasa berkayu bisa dihasilkan dalam waktu relatif cepat dan
jumlah pasokannya lebih terjamin. Tanah Indonesia yang luas dan subur karena
banyaknya gunung berapi dan beriklim tropis karena berada di katulistiwa sangat memungkinkan untuk hal
ini.
Rabu, 13 November 2013
Torrefied Wood : Bahan Bakar Biomasa Subtitusi Batubara Masa Depan
Dibandingkan bahan bakar biomasa konvensional seperti wood pellet yang hanya mampu maksimal 10% di co-firing dengan batubara karena sifat fisika kimia yang jauh berbeda sedangkan apabila prosentase co-firing dengan batubara dinaikkan menjadi 20% diperlukan penambahan investasi yang besar untuk handling dan processingnya, maka torrefied wood bahkan mampu dico-firing dengan batubara hingga 40%. Keuntungan lainnya adalah pada sisi powerplant juga hanya dibutuhkan sedikit tambahan investasi untuk handling dan processingnya untuk torrefied wood, dikarenakan sifat fisika-kimia yang tidak jauh berbeda.
Densifikasi atau pemadatan torrefied wood menjadi pellet atau briket juga akan memberi penghematan yang lebih significant dibandingkan wood pellet, yakni 15.0-18.7 MJ/M3 pada torrefied pellet dan 7.5-10.4 MJ/M3 pada wood pellet. Karena torrefied wood rapuh, sehingga bisa dipulverize dan
dibakar dengan batubara lebih disarankan, daripada menggunakan material
handling, pemrosesan hingga sistem injeksi terpisah. Hal ini akan menghasilkan
penghematan yang signifikan pada modifikasi peralatan ketika cofiring pada
prosentase lebih besar. Sejumlah limbah biomasa agroindustri seperti tandan
kosong sawit dan jerami bisa di torrefaksi seperti halnya biomasa berkayu,
untuk menyempurnakan kondisi pemakaran di sistem batubara.
Cofiring torrefied wood telah sukses dilakukan salah satunya di PLTU batubara di Borselle,
Belanda.Riset juga menunjukkan bahwa penghalusan torrefied wood menjadi bubuk dengan distibusi dan ukuran partikel tertentu memungkinkan untuk terjadinya smooth fluidization regimes pada pengumpanannya pada entrained flow process (gasifier & pulverized coal boiler).
Langganan:
Postingan (Atom)
Pabrik Sawit: Ganti Boiler Saja? Apa Sekaligus Mencari Solusi untuk Bebas Problem Tandan Kosong Sawit dan Keuntungan Tambahan ?
Seiring dengan bertambah luasnya perkebunan sawit di Indonesia yang saat ini sekitar 17 juta hektar, maka demikian juga pabrik sawit yang di...
-
Sejak pakan ternak menjadi komoditas perdagangan atau produk komersial dimulai pada awal 1800an ketika alat transportasi dan penggerak alat-...
-
Pembuatan proyeksi pasar akan sangat dibutuhkan bagi semua pihak yang terlibat dalam bisnis wood pellet khususnya para produsen wood pelle...
-
Aspek pasar adalah faktor penting bagi suatu produksi, tidak terkecuali wood pellet . Pengenalan terhadap karakteristik pasar yang baik, j...













