Tampilkan postingan dengan label bibit unggul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bibit unggul. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Agustus 2026

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organisme lainnya yang menyediakan unsur hara secara alami. Penggunaan pupuk kimia secara terus menerus tanpa diimbangi penambahan bahan organik akan mengurangi populasi mikroorganisme tanah. Dalam jangka panjang kondisi tersebut membuat tanah semakin keras, kemampuan menyediakan unsur hara menurun, dan tanaman semakin tergantung pada pupuk kimia. Akibatnya, biaya produksi terus meningkat sementara kualitas lahan terus menurun. 

Industri sawit ke depan tidak lagi semata-mata berbicara mengenai peningkatan produksi, tetapi juga dituntut mampu menunjukkan bahwa produktivitas dapat berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan penerimaan sosial masyarakat. Perkebunan sawit harus berpijak pada tiga pilar keberlanjutan, yakni memberikan keuntungan ekonomi, diterima secara sosial serta menjaga kelestarian lingkungan. Prinsip tersebut juga menjadi arah penerapan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Pemupukan berimbang dengan mengombinasikan pupuk kimia / anorganik dan organik, sebagai salah satu solusi.

Kedua jenis pupuk tersebut memiliki fungsi saling melengkapi. Pupuk kimia / anorganik mampu menyediakan unsur hara secara cepat, sedangkan pupuk organik berperan memperbaki struktur dan kesehatan tanah sehingga produktivitas dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Kombinasi keduanya secara baik akan mampu menjaga produktivitas tetap tinggi sekaligus menjaga keberlanjutan lahan. Plus faktor yang tidak kalah penting adalah penggunaan bibit unggul yang bersertifikat atau jelas sumber dan kualitasnya. Jika bibitnya salah, dipupuk sebagus apapun hasilnya tidak akan optimal. 

Biochar bukan pupuk sehingga kandungan nutrisinya juga sangat sedikit. Memang ada sejumlah biochar yang memiliki kandungan nutrisi cukup tinggi, tetapi itu perkecualian atau bonus saja. Biochar merupakan bahan organik sehingga ramah lingkungan dan dari sumber terbarukan. Penggunaan biochar juga akan meningkatkan efisiensi pemupukan atau peningkatan NUE (nutrient use efficiency) baik itu pupuk kimia / anorganik maupun pupuk organik. Hal ini karena penggunaan biochar juga membuat pupuk menjadi lepas lambat (slow release) sehingga bisa lebih menyesuaikan dengan kebutuhan tanaman, untuk lebih detail baca disini.  

Dan terkait kesehatan tanah biochar sangat mendukung hal tersebut karena baik sifat fisika, kimia dan biologi cocok. Sebagai sifat fisika yang memiliki porositas tinggi dan bulk density rendah, lalu sifat kimia yakni kapasitas tukar kation (KTK) yang tinggi, tingkat keasaman (pH) bersifat basa dan stabilitas karbon tinggi, lalu sifat biologi seperti menjadi rumah mikroorganisme (habitat), dan menstimulasi aktivitas enzim tanah. Selain itu biochar juga mampu mengikat zat beracun. Hal ini karena biochar memiliki kemampuan adsorpsi yang kuat untuk menyerap logam berat (seperti timbal atau kadmium) serta sisa-sisa pestisida kimia di dalam tanah. Zat berbahaya tersebut dikunci di dalam pori-pori biochar sehingga tidak terserap oleh akar tanaman. Lebih detail tentang parameter kualitas biochar, baca disini.   

Aplikasi biochar juga menjadi solusi iklim. Biochar bisa menyimpan karbon hingga ratusan tahun di dalam tanah. Setiap ton biochar bisa menyimpan hingga 3 ton karbon / CO2 ekuivalen. Hal tersebut sehingga sangat memungkinkan untuk mendapatkan carbon credits. Untuk itu produsen-produsen biochar harus menggunakan metodologi yang dibuat oleh lembaga-lembaga karbon standar seperti Verra, Puro, CSI (Carbon Standard International), Isometric dan sebagainya. Dengan penggunaan biochar, aplikasi pupuk menjadi optimal, ramah lingkungan dan sehingga penerimaan sosial masyarakat semakin baik. Secara ekonomi penggunaan biochar juga bisa sangat menguntungkan. Jadi terkait biochar,, kesehatan tanah dan keberlanjutan produktivitas sawit, biochar sangat cocok dan relevan sehingga perlu banyak disosialisasikan dan ditingkatkan penggunaannya.   

 

Kalau tanahnya sehat, pupuk menjadi lebih efisien. Tidak perlu selalu menggunakan dosis tinggi, tetapi produktivias tetap bisa meningkat karena tanah bekerja secara alami. Perubahan paradigma bahwa keberlanjutan produktivitas justru ditentukan oleh kesehatan tanah, bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Pasar global kini semakin memperhatkan bagaimana sebuah komoditas diproduksi, sehingga praktik budidaya yang ramah lingkungan menjadi bagian dari daya saing sawit Indonesia. Ketika praktik budidaya yang baik mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi dan juga sekaligus tetap menjaga kelestarian lingkungan untuk keberlanjutan, maka ini tentu menjadi model untuk percontohan. 

Jumat, 15 Mei 2026

Bisnis Export Cangkang Sawit dan Varietas Baru Bibit Unggul Sawit

Loading cangkang sawit / pks untuk export

Kebutuhan bahan bakar biomasa sebagai energi terbarukan termasuk cangkang sawit semakin besar seiring trend dekarbonisasi global. Demikian juga penggunaan biofuel seperti biodiesel juga terus meningkat. Bahan bakar biomasa seperti cangkang sawit dan biofuel seperti biodiesel adalah produk bioenergi yang merupakan bahan bakar karbon netral. Dan dari pohon sawit kedua-duanya bisa dihasilkan. Produksi biofuel seperti biodiesel penggunaanya adalah untuk sektor transportasi, sedangkan bahan bakar biomasa seperti cangkang sawit adalah untuk pembangkit listrik atau bahan bakar boiler industri. Dan dari pohon sawit dihasilkan produk utama berupa minyak sedamgkan cangkang sebagai produk samping atau limbah seperti halnya tandan kosong dan sabut. 

Seiring waktu kebutuhan minyak sawit juga semakin besar, sebanding dengan peningkatan jumlah penduduk, dan bahkan penggunaan untuk sektor energi (biofuel) lebih besar dibandingkan sektor pangan. Bahkan untuk stabilisasi harga atau menghindari fluktiasi yang tajam hara minyak sawit pemerintah Indonesia mencanangkan program B-50 yaitu 50% biodiesel dari minyak sawit dan 50% minyak diesel dari minyak bumi. Dengan progarm B-50 tersebut maka kebutuhan minyak sawit semain besar atau memingkat sekitar 20% dari produksi rata-rata saat ini.

Hal ini sehingga produktivitas kelapa sawit harus ditingkatkan. Upaya tersebut salah satunya dengan bibit unggul. Dengan memaksimalkan produksi CPO yang berasal dari sabut (mesocarp fiber) maka bibit unggul tersebut memiliki sabut yang tebal, cangkang yang tipis bahjakan tiak bercangkang dan kernel yang kecil. Varietas psifera dengan berbagai nama-nama unik oleh produsen bibit tersebut menjadi pilihan untuk tujuan tersebut. Bahkan bibit-bibit unggul tersebut juga bersertifikat untuk meyakinkan pengguna akan kualitas bibit tersebut.  

Cangkang sawit yang awalnya tebal yakni dari varietas dura, dan ini adalah favorit dan paling dicari oleh expoter cangkang sawit untuk pemakaian di pembangkit listrik, secara bertahap akan berkurang. Tetapi kalau dilihat dari lambatnya program replanting dan minimnya upaya ekstensifikasi maka pergantian cangkang sawit dari dura ke psifera ini akan lama. Exporter cangkang sawit masih bisa cukup aman untuk mengeksport cangkang sawit tebal varietas dura. Cangkang sawit tipe tenera yang tidak terlalu tipis sebagai transisi ke psifera mungkin akan lebih banyak ditemui.

Jika suatu ketika cangkang sawit psifera yang sangat tipis sudah umum ditemui maka nilai kalornya rendah dan kurang disukai untuk aplikasi energi. Jika itu terjadi maka perlu treatment khusus sehingga cangkang sawit psifera tersebut bisa digunakan untuk energi lebih layak (teknis dan ekonomis) yakni dengan pemadatan / densifikasi maupun diolah dengan proses torefaksi atau pirolisis sehingga fixed carbon atau nilai kalor lebih tinggi. Dan bahkan selanjutnya bisa dipadatkan / densifikasi menjadi pellet atau briket.    

Jumat, 24 April 2026

Peran Biochar untuk Meningkatkan Produktivitas Sawit, Diantara Penggunaan Bibit Unggul dan Replanting

Produktivitas kelapa sawit terus dipacu hingga ke titik paling optimalnya. Hal ini karena untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat khususnya program mandatory biodiesel B-50. Tentu upaya optimalisasi produktivitas tersebut tidak mudah dan instant. Walaupun poin kunci untuk realisasinya juga telah dipetakan yakni dengan replanting/peremajaan sawit tua, penggunaan bibit unggul dan intensifikasi, tetapi prakteknya juga butuh metode atau approach yang tepat dan butuh waktu.  Replanting/peremajaan sawit tua masih sangat lambat dan banyak kendala, sedangkan penggunaan bibit unggul lebih mendapat perhatian dan terus didorong. Analogi penggunaan bibit unggul ini seperti perbandingan sapi lokal dan ras unggul. Sehingga sebagus apapun perawatan sapi Jawa, bobotnya tidak akan menyamai sapi limousin. Demikian juga dengan bibit kelapa sawit.

Upaya intensifikasi lahan melalui optimalisasi input, teknologi, dan metode budidaya modern juga masih perlu dikembangkan. Sedangkan ekstensifikasi atau perluasan lahan sebisa mungkin dihindari atau diperlambat, untuk lebih detail baca disini. Biochar bisa memiliki peran penting di area intensifikasi tersebut. Selain aplikasi biochar akan meningkatkan kesehatan tanah, yang menjadi prasyarat penting suatu tanaman bisa berproduktivitas secara optimal, juga sangat ramah lingkungan karena bahan baku biochar dari sumber terbarukan yakni biomasa dan meningkatkan efisiensi pemupukan (NUE = Nutrient Use Efficiency). Dan bahkan aplikasi biochar juga sebagai solusi iklim yakni sebagai carbon sequestration. Optimalisasi produktivitas bisa dilakukan dengan cara aplikasi biochar plus penggunaan bibit unggul dengan metode pertanian yang modern dan ramah lingkungan. Jadi memang pada dasarnya optimalisasi tersebut merupakan upaya yang komprehensif dan terukur. 

Indonesia berkontribusi 25% terhadap suplai minyak nabati dunia, menjadikannya aktor kunci dalam stabilitas pasokan minyak nabati dunia. Dengan posisi tersebut, setiap perubahan dalam produksi, kebijakan export maupun dinamika domestik Indonesia akan langsung berdampak pada harga dan keseimbagan pasar internasional. Indonesia saat ini memang produsen kelapa sawit terbesar atau rangking satu di dunia tetapi bukan yang terunggul atau yang paling produktif karena produktivitasnya belum optimal. Dibanding negara tetangga saja yakni dengan Malaysia masih kalah dan sedikit lebih unggul dari Thailand padahal faktor geografi yakni iklim di Indonesia jauh lebih mendukung. Saat ini produktivitas CPO Indonesia berkisar 3,3 ton/hektar sedangkan Malaysia berkisar 3,8 ton/hektar sedangkan Thailand berkisar 3 ton/hektar.  

Yield gap yakni selisih atau kesenjangan antara produksi aktual dengan potensi produksi maksimal kadang cukup besar. Beberapa faktor utama yang memicu yield gap antara lain faktor lingkungan yang tidak optimal seperti kondisi kekeringan, hingga kesalahan dalam praktik budidaya seperti kesalahan dalam pembukaan lahan dan penanaman, serta ketidaktepatan dalam diagnosis dan rekomendasi pemupukan. Yield gap ini harus diminimalisir sehingga produktivitas sawit bisa dimaksimalkan. 

Peran biochar kadang tidak bisa ditemukan atau terlihat langsung pada berbagai upaya peningkatan produktivitas sawit tersebut tetapi aplikasi biochar sangat sejalan dengan tujuan tersebut. Sebagai contoh keberhasilan program replanting / peremajaan sawit bergantung antara lain pada kualitas bibit, pemupukan, populasi tanaman, dan kesehatan tanah. Faktor kesehatan tanah dan pemupukan tersebut bisa sangat erat kaitannya dengan biochar.  Dan terkait dengan biofungisida untuk mengatasi gangguan jamur ganoderma, biochar bisa digunakan sebagai carrier yang diformulasikan dengan unsur-unsur lainnya seperti humus, asam amino, humat, hormon dan sebagainya. Dan karena memang satu-satunya cara efektif mengendalikan jamur ganoderma adalah memasukkan musuh alaminya berupa biofungisida berbasis trichoderma spp, dan fungi mikoriza arbuskular ke dalam tanah.  Tetapi memang juga masih banyak pihak yang belum memiliki pengetahuan yang memadai untuk aplikasi biochar ini. 

Selain mengenjot produksi, penerapan praktik pengelolaan terbaik juga penting untuk memenuhi standar keberlanjutan di tengah meningkatnya tekanan dari isu lingkungan. Dan aplikasi biochar sangat sejalan dengan poin tersebut.  Bahkan terkait teknologi sawit rendah karbon dalam aplikasi biochar sangat relevan pada CECC (Controlled Emission Composting Chamber) dan lebih detail untuk aplikasi biochar untuk pengomposan baca disini. Sedangkan trend pemupukan di perkebunan sawit dengan aplikasi pupuk lepas lambat (slow release fertilizer) juga sangat relevan dengan biochar, untuk lebih detail baca disini. 

Minggu, 12 April 2026

Target Replanting Kebun Sawit Indonesia 2026 dan Solusi Pemanfaatan Limbah Batang Sawit

Kondisi produktivitas sawit nasional Indonesia yang stagnan perlu solusi segera. Apabila kondisi ini tidak bisa segera ditangani maka pada masa-masa mendatang produktivitas sawit Indonesia bahkan akan menurun. Kondisi tersebut tidak diinginkan mengingat kebutuhan sawit sebagai bagian minyak nabati semakin meningkat termasuk penggunaan untuk biofuel yakni biodiesel. Pencanangan program biodiesel – B50 menuntut produkstivitas sawit tersebut. Tetapi juga ada pertanyaan kenapa harus sawit, apakah tidak ada tanaman lain yang bisa menghasilkan minyak dengan yield setara untuk produksi biodiesel tersebut ? Nyamplung adalah kandidat kuat untuk hal tersebut, lebih detail baca disini.

Pada sawit poduktivitas tersebut bisa ditingkatkan dengan cara penggunaan bibit unggul, peremajaan kebun / replanting dan intensifikasi lahan. Secara luas lahan, peremajaan / replanting kebun sawit dengan target idealnya yakni 5% per tahun sangat besar. Dengan luas lahan kebun sawit Indonesia 16,8 juta hektar saaat ini, itu berarti 0,84 juta hektar per tahun. Selain biaya yang dibutuhkan besar tetapi juga produksi limbah biomasa atau batang sawit yang dihasilkan juga sangat besar. Tentu itu potensi untuk industri berbasis bioekonomi atau sirkular ekonomi yang ramah lingkungan.  

Dengan luas kebun sawit Indonesia sekitar 16,8 juta hektar, 9 juta hektar dengan dikelola oleh perusahaan swasta, 550 ribu hektar dimiliki oleh perusahaan negara (PTPN), 6,1 juta hektar milik perkebunan rakyat atau petani kecil dan sisanya belum terverifikasi. Dan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2024), tercatat 10 provinsi di Indonesia dengan perkebunan sawit terluas berturut-turut yakni provinsi Riau dengan 3,49 juta ha, provinsi Kalimantan Tengah dengan 2,03 juta ha, provinsi Sumatera Utara dengan 2,01 juta ha, provinsi Kalimantan Barat dengan 1,82 juta ha, provinsi Sumatera Selatan dengan 1,40 juta ha, provinsi Kalimantan Timur dengan 1,32 juta ha, provinsi Jambi dengan 1,19 juta ha, provinsi Kalimantan Selatan 497,2 ribu ha, provinsi Aceh dengan 487,5 ribu ha, dan provinsi Sumatera Barat dengan 379,6 ribu ha. Dan total ada 26 provnsi di Indonesia sebagai sentra perkebunan sawit tersebut.  

Indutstri kelapa sawit sebagai salah satu industri strategis nasional mendapat banyak dukungan dari pemerintah termasuk PSR tetap menjadi program strategis nasional meski realisasinya belum mencapai target. Sumatera Selatan sebagai salah satu sentra perkebunan sawit nasional dan sekaligus tercatat realisasi PSR tertinggi. Realisasi PSR 2025 sekitar 40.000 hektar atau 33% (sepertiga) dari target 120.000 ha. Ada kenaikan tipis dibanding tahun 2024 yang hanya 31% dari target tahun tersebut. Khusus Sumatera Selatan sejak 2017 hingga 2025 telah melakukan peremajaan / replanting kebun sawit sekitar 75.000 ha kebun sawit rakyat. 

Tahun 2026 ini pemerintah menargetkan PSR nasional seluas 50.000 ha, angka jauh lebih realistis dibanding tahun-tahun sebelumnya dan provinsi Sumatera Selatan ditargetkan 5.750 ha. Dan sebenarnya dengan luasan lahan kebun sawit Indonesia, target 2024 dan 2025 yang mencapai 120.000 tersebut sangat rendah, apalagi tahun 2026 yang hanya 50.000 ha. Dengan kondisi tersebut maka upaya yang bisa digenjot untuk menaikkan produktivitas kelapa sawit nasional adalah dari penggunaan bibit unggul dan intensifikasi lahan. 

Selain itu masalah ganoderma bisa menyebabkan kematian pohon sawit. Ganoderma yang disebabkan infeksi jamur Ganoderma boninense menyerang melalui sistem perakaran kelapa sawit sehingga sistem transportasi nutrisi dan air terganggu. Prosesnya sangat perlahan dan baru terdeteksi ketika infeksi sudah parah yang tampak dari daun menguning, tajuk tanaman merunduk bahkan kematian tanaman. Limbah batang terinfeksi jamur ganoderma harus disingkirkan atau dimusnahkan dari kebun untuk pencegahan penularan lanjut. Seperti halnya limbah batang sawit dari perejamaan / replanting kebun sawit limbah ini juga harus dikelola dengan baik. 

Masalah limbah biomasa dari pohon sawit yang mencapai ribuan hektar juga menjadi tantangan tersendiri. Dengan volume pohon sawit tua yang sangat besar maka pemanfaatan menjadi produk yang bernilai tambah penting dilakukan. Dengan volume yang sangat besar tersebut maka pabrik atau industri pengolahan biomasa bisa didirikan dan beroperasi secara maksimal, tanpa khawatir kekurangan bahan baku. Produk-produk seperti pellet, briquette dan biochar dari limbah biomasa batang sawit tua tersebut. Batang sawit tua yang mati dan biasa ditinggal begitu saja di lahan semestinya dimanfaatkan untuk menjadi produk-produk yang bermanfaat dan bernilai tambah tersebut. 

Seperti pada diagram di atas bahwa potensi pemanfaatan limbah biomasa khususnya batang sawit sangat besar. Pada masa mendatang bioekonomi industrialisasi menjadi berbabagi produk-produk tersebut sangat mungkin dikembangkan. Jangan sampai limbah batang sawit hanya mencemari lingkungan dan malah menambah biaya bagi petani sawit, tetapi sebaliknya menjadi bahan baku industri yang menghasilkan keuntungan.   

Kamis, 25 Desember 2025

Perlambatan Ekstensifikasi Lahan Sawit : Replanting atau Biochar ?

Perluasan (ekstensifikasi) lahan sawit yang serampangan atau ugal-ugalan pasti diluar jalur keberlanjutan (sustainibility). Alih-alih pohon sawit menjadi berkah karena produktivitasnya tertinggi diantara sumber minyak nabati lainnya (kedelai, biji bunga matahari, rapeseed, kelapa dsb), hanya tumbuh di kawasan tropis dan berkontribusi 40% pada pasokan minyak nabati global, tetapi malah menjadi bencana alam. Harga untuk bencana tersebut juga tidak main-main karena adalah nyawa manusia yang jumlahnya hingga ribuan manusia, tentu disamping kerugian material lainnya. Hal ini sangat menjadi sorotan ketika terjadi banjir Sumatera akhir-akhir ini. Apakah sepadan antara keuntungan minyak sawit dengan korban-korban nyawa tersebut ? 

Pembukaan lahan sawit atau land clearing puluhan bahkan ratusan ribu hektar menghasilkan kayu yang bernilai ekonomi tinggi. Bahkan sangat mungkin dengan land clearing saja sudah mendapatkan keuntungan sangat besar, padahal usaha perkebunan dan produksi minyak sawit belum mulai. Hal inilah sehingga membuat para pengusaha berbondong-bondong untuk masuk ke sektor perkebunan ini, dengan satu tujuan berupa keserakahan untuk keuntungan (cuan) sebesar-besarnya tanpa perlu memperhatikan aspek keberlanjutan dan hasilnya terjadi bencana dimana-mana. Belum lagi nantinya dengan implementasi mandatori biodiesel B-40 atau bahkan B-50 yang sedang diwacanakan saat ini, tentu ini menjadi pasar baru minyak sawit / CPO jauh lebih mudah dan longgar, dibandingkan apabila harus export ke Eropa yang dikenakan peraturan EUDR (European Union Deforestation Regulation atau Peraturan Deforestasi Uni Eropa) ataupun ke US dengan halangan tariff yang tinggi. 

Apalagi juga memang sudah terjadi bahwa konsumsi minyak sawit / CPO untuk biodiesel ini telah melampaui kebutuhan untuk pangan. Dengan implementasi mandatori B-50 itu berarti juga menuntut peningkatan kapasitas produksi CPO 20% atau menjadi 60 juta ton/tahun dan cara paling menguntungkan serta cepat dengan ekstensifikasi pembabatan hutan tersebut, karena kayu produk hutan yang dibuka bisa langsung djual.     

Ketika tujuan adalah untuk meningkatkan produksi sawit secara bertahap, aman, terencana dan berkelanjutan maka tentu perlu pertimbangan yang memadai, bukan gelap mata dan serampangan menyikat lahan-lahan hutan (deforestasi) dengan dalih alih fungsi lahan. Selain penggunaan bibit unggul, setidaknya ada dua cara untuk meningkatkan produktivitas sawit yakni peremajaan kebun (replanting) dan aplikasi biochar (bagian dari intensifikasi lahan). 

Menurut Joko Supriyono mantan ketua GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) periode 2015 - 2018 dan 2018 -2023. dalam bukunya “Masih Berjayakah Sawit Indonesia ?” dikatakan dengan jika penanaman kembali (replanting) kelapa sawit di Indonesia berhasil mencapai 300 ribu hektar per tahun, diperkirakan produksi CPO dan CPKO pada tahun 2045 akan mencapai 80 juta ton. Sedangkan saat ini produksi CPO dan CPKO berkisar 55 juta ton. Dan dengan penggunaan biochar maka produktivitas kelapa sawit akan meningkat rata-rata 30% dalam 5-10 tahun, artinya pada tahun 2035 produksi CPO dan CPKO akan mencapai 71,5 juta ton. Apalagi kalau kedua cara tersebut dikombinasi maka hasilnya mestinya akan lebih baik lagi. 

Produksi CPO Indonesia saat ini mencapai sekitar 50 juta ton/tahun, dengan luas lahan 16,8 juta hektar dengan rata-rata produksi CPO per hektar 3,55 ton/ha atau per satu juta hektar menghasilkan 3,55 juta ton. Apabila biochar digunakan dan terjadi kenaikan produktivitas 30% berarti terjadi kenaikan kenaikan 15 juta ton CPO (total menjadi 65 juta ton CPO/tahun) dan ini menghemat lahan sekitar 4,2 juta hektar, atau penggunaan biochar akan memperlambat pembukaan hutan untuk perkebunan sawit. Aplikasi biochar dengan kompos akan meningkatkan kualitas kompos menjadi kompos premium untuk lebih detail baca disini. Hal ini sehingga operasional industri sawit dengan pemanfaatan semua limbah biomasanya tersebut. 

Gerakan replanting kebun sawit harus digalakkan sehingga produksi minyak sawit bisa terus ditingkatkan. Masalah limbah biomasa dari pohon sawit yang mencapai ribuan hektar juga menjadi tantangan tersendiri. Dengan volume pohon sawit tua yang sangat besar maka pemanfaatan menjadi produk yang bernilai tambah penting dilakukan. Dengan rata-rata setiap hektar kebun sawit terdiri 125 pohon dan setiap pohonnya memiliki rata-rata berat kering 0,4 ton, maka per hektar di dapat 50 ton berat kering biomasa. Untuk luasan 10 ribu hektar menjadi 0,5 juta ton berat kering dan untuk luasan 100 ribu hektar berarti mencapai 5 juta ton berat kering. Atau jika perkiraan optimis Indonesia bisa melakukan 5% replanting (sangat optimistik) atau 820 ribu hektar berarti ada 41 juta ton berat kering biomasa per tahun dan juga Malaysia dengan 5% replanting atau 285 ribu hektar akan dihasilkan 14,25 juta ton berat kering per tahun.


Faktor kesiapan bisnis ditinjau dari teknologi dan pasar atau pengguna produk tersebut perlu dikaji secara seksama. Dengan volume yang sangat besar tersebut maka pabrik atau industri pengolahan biomasa bisa didirikan dan beroperasi secara maksimal, tanpa khawatir kekurangan bahan baku. Produk-produk seperti pellet, briquette, biochar maupun bioproduct lainnya seperti biocarbon lain, biomaterial, biofuel dan biochemical dimungkinkan juga dari limbah biomasa batang sawit tua tersebut. Batang sawit tua yang mati dan biasa ditinggal begitu saja di lahan semestinya dimanfaatkan untuk menjadi produk-produk yang bermanfaat dan bernilai tambah tersebut. Untuk lebih detail pemanfaatan limbah batang untuk produksi pellet bahan bakar (OPT Pellet) bisa dibaca disini.  

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...