Rabu, 31 Agustus 2022

Lini Lengkap Produksi Pellet (Bahan Bakar dan Pakan) Kapasitas Kecil Untuk Riset dan Eksperimen

Alat laboratorium sebagai unit produksi atau seperti pabrik kecil (mini-mill) sangat dibutuhkan baik untuk pembelajaran (riset dan experiment) maupun sebagai tahapan produksi sebelum mencapai tahap komersial pada suatu bisnis. Dengan mengamati dan melakukan ujicoba pada mini-mill tersebut selain akan didapat pemahaman lengkap tentang proses produksi dari A sampai Z, juga bisa melakukan pengamatan secara mendetail dan mendalam setiap tahapan produksi dengan cara mudah dan murah serta memberi gambaran lebih utuh untuk proses produksi secara komersial nantinya. Riset dan eksperimen dari berbagai macam bahan baku, baik satu macam bahan baku (single material) maupun campuran beberapa bahan baku (mixed material) juga mudah dilakukan. Saat ini banyak para peneliti maupun praktisi yang ingin mencoba suatu bahan baku untuk dibuat pellet tetapi kesulitan mencari rekan atau perusahaan yang bisa melakukannya. Setting peralatan dengan fasilitas mini-mill juga jauh lebih mudah, berbeda dengan pabrik besar. Hal inilah mengapa pada umumnya pada pabrik besar tidak mau menerima ujicoba pembuatan pellet dari suatu bahan tertentu, karena yang menjadi fokus mereka adalah target produksi, kecuali jika memiliki fasilitas R & D untuk ujicoba tersebut. 

Sedangkan jika alat laboratorium tersebut hanya berupa alat fungsional saja seperti alat pemotong, alat penghancur dan sebagainya tetapi tidak diintegrasikan menjadi suatu unit produksi (walaupun kapasitas kecil) maka akan sulit untuk membayangkan terlebih lagi merancang industri atau pabrik komersial secara akurat. Jikapun sejumlah alat fungsional di laboratorium tersebut diintegrasikan yang biasanya berasal dari sejumlah produsen dan memiliki kapasitas berbeda-beda maka untuk mengoperasikan mini mill yang dirakit tersebut juga tidak mudah. Hal itulah mengapa menjadi penting untuk mengadakan suatu suatu lini lengkap (complete line) untuk produksi pellet tersebut. Produksi pellet yang dihasilkan juga bisa dua macam, yakni pellet bahan bakar seperti wood pellet dan pellet pakan seperti pellet daun (leaf pellet), tergantung pada bahan baku yang digunakan.

Dan memang pada skala komersial atau pabrik besar spesifikasi pelletiser untuk pellet bahan bakar seperti wood pellet berbeda dengan pelletiser untuk pellet pakan (feed pellet). Pelletiser untuk pellet      bahan bakar seperti pada produksi wood pellet memiliki daya motor listrik lebih besar sekitar 3 kali dari pelletiser untuk produksi pellet pakan, misalnya untuk 1 ton/jam wood pellet butuh 150 KW sedangkan untuk pellet pakan hanya 50 KW. Selain itu kualitas logam yang digunakan untuk produksi pelletiser tersebut biasanya juga berbeda karena tingkat kekerasan bahan bakunya juga berbeda. Pelletiser adalah peralatan utama atau jantung proses pada produksi pellet, baik pellet bahan bakar (wood pellet) maupun pellet pakan (feed pellet).  Berdasarkan pengalaman di lapangan ternyata banyak kasus kegagalan produksi wood pellet komersial akibat kesalahan pada pemilihan pelletiser ini, yakni pelletiser untuk pakan digunakan untuk pelletiser kayu (wood pellet) selain tidak optimal, umur mesin pendek, bahkan juga dalam sejumlah kasus wood pellet tidak terbentuk sehingga target produksi tidak tercapai. Alasan utama mengapa terjadi hal tersebut adalah karena tergiur masalah harga, yakni pelletiser pakan lebih murah dan secara penampilan juga sulit dibedakan (khususnya orang awam). 

Pada produksi pellet kapasitas kecil ini pelletiser yang digunakan satu macam saja, karena tujuan utamanya lebih pada aspek kualitatif, belum pada aspek kuantitatif. Sejumlah tahapan proses pada produksi pellet bahan bakar (wood pellet) juga sangat mirip dengan produksi pellet pakan, sehingga peralatan yang digunakan juga mirip atau bahkan sama. Hal tersebut terutama supaya harga unit produksi tersebut tidak terlalu mahal. Pada produksi pellet komersial, pelletiser jenis ring die lebih banyak dan umum digunakan dibandingkan jenis flat die. Tetapi karena pelletiser jenis ring die lebih mahal walaupun mendekati kondisi riil industri pellet, maka pelletiser flat die juga sudah memadai untuk maksud pada tahap ini. 

Pellet pakan memiliki sejarah lebih lama dibandingkan pellet bahan bakar khususnya wood pellet, yakni pada tahun 1920an ketika Purina Animal Nutrition, salah satu produsen pakan ternak terbesar di dunia saat ini. Dengan pelletisasi tersebut bahan brupa serbuk, kurang disukai ternak (unpalatable), kepadatan yang berbeda-beda menjadi lebih mudah digunakan dan meningkatkan keseragaman. Teknik pelletisasi ini kemudian dengan cepat banyak diminati oleh banyak produsen pakan sehingga pada tahun 1930 ada sejumlah pabrik pakan yang spesialis produksi pellet pakan (feed pellet) tersebut. Produksi pellet pakan dunia juga jauh melampaui pellet bahan bakar (wood pellet), yakni kisaran 1 milyar ton per tahun sedangkan wood pellet di kisaran 50 juta ton per tahun. Keduanya memiliki fungsi strategis pada hajat hidup manusia. Pellet pakan sebagai mata rantai pangan untuk manusia sangat dibutuhkan dan produksinya terus ditingkatkan. Diperkirakan kebutuhan protein pada tahun 2050 butuh tambahan sekitar 250 juta ton per tahun atau naik 50% dibandingkan hari ini. Hal tersebut karena  menurut PBB populasi global manusia diprediksi akan mencapai 9 milyar manusia pada 2050. Sektor pangan mencari solusi untuk defisit protein karena permintaan protein perkapita dan pertumbuhan populasi.Sedangkan pellet bahan bakar (wood pellet) dibutuhkan untuk menyelamatkan bumi dari perubahan iklim. Wood pellet sebagai bahan bakar carbon neutral membuatnya tidak menambah konsentrasi CO2 di atmosfer yang merupakan gas rumah kaca yang memanaskan suhu bumi. Program-program dekarbonisasi atau subtitusi bahan bakar fossil ke energi terbarukan khususnya bahan bakar biomasa atau wood pellet terus ditingkatkan di seluruh dunia, sebagai rujukan bisa baca disini dan disini. Kebun energi atau kebun legum akan bisa menjadi solusi masalah ini, lebih detail baca disini. 

 
Selain untuk produksi pellet (baik pellet bahan bakar maupun pellet pakan) dengan sedikit modifikasi yakni mengganti pelletiser dengan mesin briket maka juga bisa digunakan untuk produksi briket. Hal ini karena secara proses produksi hampir sama, teknologi keduanya adalah sama yakni kelompok teknologi pemadatan biomasa (biomass densification). Penggunaan briket ini juga untuk bahan bakar sama seperti wood pellet tetapi briket ini juga bisa diarangkan (karbonisasi) sehingga menjadi briket arang. Produksi briket arang dengan cara ini menghasilkan kualitas lebih baik dibanding produksi briket arang dengan bahan baku arang lalu ditambah perekat dan dicetak. Produk briket arang tersebut biasa di pasaran dikenal sebagai produk sawdust charcoal briquette, yang produksinya tidak membutuhkan perekat tambahan (binderless briquette). 

Kamis, 11 Agustus 2022

Pabrik Sawit Mini Solusi Memaksimalkan Pengolahan TBS

Diperkirakan sekitar 40% dari perkebunan sawit di Indonesia adalah milik rakyat, ini berarti dengan luas kebun sawit saat ini yang mencapai sekitar 15 juta hektar, perkebunan sawit rakyat mencapai sekitar 6 juta hektar dengan jumlah petani sawit sekitar 16 juta. Tentu jumlah yang tidak sedikit, sehingga apabila buah sawit yang dihasilkan dari kebun tersebut bisa diolah secara optimal akan meningkatkan produksi minyak sawit atau CPO nasional. Luas 6 juta hektar itu sendiri lebih luas dari perkebunan sawit Malaysia, yang merupakan produsen minyak kelapa sawit urutan kedua di dunia, setelah Indonesia.

Sejumlah produksi TBS dari perkebunan sawit rakyat banyak terkendala untuk menyuplai ke pabrik sawit terkait infrastruktur dan jarak. Hal tersebut membuat waktu lama bahkan terlambat untuk menyuplai ke pabrik sawit terdekat, sehingga membuat kualitas buah sawit menurun, otomatis juga minyak sawit yang dihasilkan. Kualitas rendah membuat harga TBS murah bahkan ditolak oleh pabrik sawit karena tidak memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan. Hal ini tentu merugikan petani sehingga perlu upaya untuk mengatasinya.

Pabrik kelapa sawit biasanya memiliki kapasitas antara 30 ton TBS/jam hingga 120 ton TBS/jam atau bisa dikatakan kapasitas rata-ratanya 60 ton TBS/jam. Pabrik sawit tersebut dimiliki oleh perusahaan sawit dan dengan kapasitas tersebut sangat besar bagi petani dengan luas perkebunan sawit terbatas. Pabrik sawit mini yang memiliki kapasitas 1 - 4 ton TBS/jam sepertinya akan cocok untuk petani sawit tersebut. Dengan kapasitas tersebut selain harganya lebih murah, membutuhkan lahan sempit dan teknik produksi lebih sederhana sehingga produksi TBS dari lokasi-lokasi terpencil bisa diolah dengan mudah.

Proses produksi minyak sawit juga bisa disederhanakan atau dipermudah sehingga bisa aman dan mudah dioperasikan, sebagai contoh pada pabrik besar yang menggunakan kukus tekanan tinggi (high pressure steam) bisa disederhanakan menjadi hanya menggunakan kukus tekanan rendah (low pressure steam). Pada pabrik besar high pressure steam digunakan untuk menggerakkan steam turbine yang terhubung dengan generator sehingga menghasilkan listrik untuk operasional pabrik sawit itu sendiri dan output steam dari steam turbine yang bertekanan rendah digunakan untuk sterilisasi TBS, sedangkan apabila pabrik mini dengan steam tekanan rendah atau atmospheris saja maka steam langsung digunakan untuk sterilisasi TBS, sedangkan listrik untuk operasional pabrik sawit mini berasal dari luar (eksternal). Dengan kapasitas mini tersebut kebutuhan listrik untuk operasional tersebut juga tidak besar.

Kualitas minyak sawit yang dihasilkan juga berkualitas tinggi karena kualitas bahan baku dan proses yang dilakukan. Performa alat yang baik juga membuat proses yang dilakukan sesuai kondisi operasi yang diinginkan. Dengan kapasitas pabrik sawit kecil juga otomatis volume produk yang dihasilkan juga kecil, sehingga untuk mencapai volume besar harus dikumpulkan dari sejumlah pabrik sawit mini tersebut. Dengan semakin banyak pabrik sawit mini tersebut dan tersebar di berbagai lokasi maka semakin sedikit TBS terbuang dan produk minyak sawit berkualitas bisa terjaga. Murah atau anjloknya harga TBS ditingkat petani juga bisa diatasi dengan pabrik sawit mini yang memiliki akses pasar yang baik untuk produk minyak sawitnya. 

Sabtu, 30 Juli 2022

Cocopeat dan Biochar

Baik cocopeat dan biochar memiliki kegunaan dalam bidang pertanian, tetapi ada sejumlah perbedaan antara keduanya. Cocopeat memiliki kegunaan terutama sebagai media tanam karena kemampuan menahan air (water holding capacity), sedangkan biochar selain memiliki kemampuan menahan air seperti halnya cocopeat juga menaikkan pH tanah, menahan atau membuat hara lebih tersedia (nutrient retention), dan juga menjadi koloni mikroba tanah sehingga bahan-bahan organik menjadi cepat terdekompsisi dan diserap tanaman. Cocopeat juga akan terurai dalam waktu tidak terlalu lama seperti kompos sedangkan biochar mampu bertahan dan tidak terdekompsisi hingga ratusan tahun. Dengan kondisi tersebut sehingga biochar juga digunakan untuk menyimpan CO2 (carbon sequenstration) dan mendapatkan carbon credit dengan mekanisme carbon sink.


Memilih Biochar atau Cocopeat ?
Dengan sejumlah keunggulan tersebut memilih biochar akan lebih baik. Apalagi cocopeat tersebut juga bisa digunakan untuk produksi biochar. Program carbon removal untuk mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer juga sejalan dengan aplikasi biochar tersebut. Kesadaran global terhadap perubahan iklim dan pemanasan global yang semakin tinggi membuat program carbon removal yang juga memberi keuntungan ekonomi dari carbon credit sepertinya akan terus meningkat dalam waktu tidak lama lagi. Hal ini tidak bisa dilakukan dengan cocopeat.  

Konversi cocopeat menjadi biochar juga bukan hal yang sulit, bahkan dengan berbagai alat sederhana (low tech) bisa dilakukan. Tetapi untuk kapasitas besar sehingga program carbon credit bisa berjalan butuh alat pirolisis modern berkapasitas besar. Dengan alat tersebut selain produksi biochar juga ada sejumlah excess energy yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan salah satunya pengeringan cocopeat sebelum menjadi bahan baku biochar dengan alat pirolisis. 

Sabtu, 16 Juli 2022

Studi Kasus India : Prioritas Produksi Biomass Pellet Daripada Biomass Briquette

Terdapat puluhan produsen mesin briket biomasa (biomass briquette) di India dan hampir semua produsen mesin tersebut menggunakan teknologi press mekanik (mechanical press) untuk produksi briket tersebut. Dengan teknologi tersebut briket akan terbentuk karena press mekanik seperti pukulan yang dilakukan berulang kali setiap menit (sekitar 220 pukulan/strokes per menit). Industri produsen mesin briket ini juga telah ada puluhan tahun di India sehingga produk briket biomasa (biomass briquette) juga telah dikenal luas di India. Secara teknologi sebenarnya ada 2 teknologi lain untuk produksi briket biomasa (biomass briquette) tersebut yakni screw press dan hydraulic press. Berdasarkan teknologi produksi briket tersebut output produk briketnya juga ada sedikit perbedaan, untuk lebih detail baca disini.

Pemerintah India mencanangkan program dekarbonisasi pada pembangkit-pembangkit listrik batubara mereka, belum lama ini, yakni pada 8 Oktober 2021 yang memerintahkan penggunnaan pellet biomasa (biomass pellet) 5% hingga 10% untuk cofiring pada semua pembangkit listrik dan mulai berlaku pada Oktober 2022 atau satu tahun saja target waktu yang dicanangkan. Misalkan pada tahap awal pemerintah India menargetkan 5% saja untuk rasio cofiring pada pembangkit listrik batubara mereka, dimana angka 5% tersebut apabila diterjemakan ke produksi biomass pellet akan mencapai sekitar 50 juta ton biomass pellet per tahunnya. Jumlah yang sangat besar apalagi dengan target waktu yang sangat pendek tersebut. Dan dengan rasio cofiring 5% maka pembangkit listrik batubara juga tidak perlu melakukan modifikasi peralatannya walaupun biomass pellet yang digunakan berasal dari limbah-limbah pertanian, yang kualitasnya dibawah biomasa kayu-kayuan.

Dengan jumlah pembangkit listriknya mencapai sekitar 900 unit dengan konsumsi rata-rata 50 ribu ton biomass pellet per tahun tersebut atau total hampir 50 juta ton per tahun, sehingga pabrik biomass pellet berkapasitas sekitar 5 ribu ton/bulan sepertinya akan cocok, dan bahkan apabila setiap pabrik menyuplai satu pembangkit listrik maka kebutuhan pabrik biomass pellet juga akan sama seperti jumlah pembangkit listriknya yakni 900 unit. Sangat banyak.   

Produksi briket biomasa (biomass briquette) atau pellet biomasa (biomass pellet)?
Di India biomass briquette memang lebih populer dibandingkan biomass pellet, tetapi untuk level dunia pellet jauh lebih populer dibandingkan briquette, bahkan pada tahun 2021 saja, kebutuhan pellet untuk pembangkit listrik global diperkirakan telah mencapai 23 juta ton. Selain itu produksi atau pabrik pellet pada umumnya juga lebih besar dibandingkan dengan pabrik briket. Pabrik pellet dengan kapasitas 5 ribu ton atau bahkan 10 ribu ton per bulan banyak ditemukan, sedangkan untuk briket sangat jarang pabrik briket biomasa memiliki kapasitas seperti pellet di atas. Pelletiser untuk produksi pellet untuk kapasitas komersial memiliki kapasitas 3 ton/jam bahkan lebih, sedangkan mesin briket pada umumnya kurang dari 2,5 ton per jam, bahkan untuk tipe screw press kapasitas mesin rata-rata hanya 300 kg/jam saja. Secara teknis walaupun sama-sama produk dari teknologi pemadatan biomasa (biomass densification) dengan pembedanya ukuran briket lebih besar dibandingkan pellet, produksi briket pada lebih mudah dibandingkan pellet.  

Daya dorong dari sisi bisnis membuat produksi biomass pellet menjadi lebih menarik terutama karena kebutuhannya sebagai bahan bakar cofiring pada pembangkit listrik batubara sebagai bagian dari program dekarbonisasi tersebut. Kebutuhan biomass pellet tersebut bisa menjadi penggerak produksi biomass pellet atau secara umum yakni roda ekonomi diberbagai daerah . Program tersebut seharusnya juga mampu memberi tiga keuntungan sekaligus, yakni keuntungan secara lingkungan, sosial dan ekonomi. Selain itu karena produk briket penggunaannya terutama untuk boiler di industri, sedangkan pellet untuk pembangkit listrik, maka keduanya juga memiliki segmen pasar tersendiri sehingga membuatnya tidak terjadi kompetisi pasar.

Bagaimana Dengan Industri Produsen Mesin Briket?
Puluhan industri produsen mesin biomass briquette saat ini seharusnya melihat hal ini sebagai peluang sehingga bisa meresponnya. Industri-industri tersebut bisa beradaptasi dengan membuat lini usaha baru yakni membantu pembuatan pabrik biomass pellet. Secara teknis lini produksi biomass briquette dengan biomass pellet juga memiliki banyak kesamaan (sama-sama menggunakan teknologi biomass densification) dengan perbedaan utama yakni pada pelletiser dan briquetter. Sejumlah peralatan yang telah bisa dibuat sendiri akan mengurangi mesin import. Pelletiser hampir bisa dipastikan dari import sehingga pemilihan pelletiser sebagai jantung proses produksi pellet harus yang berkualitas sehingga akan membuat target produksi pellet bisa tercapai. Pada produksi pellet kapasitas besar banyak yang sejumlah peralatannya berasal dari sejumlah penyedia, seperti umum terjadi pada pabrik wood pellet dengan penjelasan lebih detail disini.  

Pada jangka panjangnya adalah meminimalisir belanja import bahkan bisa 100% bisa dibuat atau difabrikasi juga sendiri. Upaya ini biasanya akan memakan waktu lebih lama karena kompleksitas pelletiser lebih tinggi dibandingkan briquetter. Industri-industri produsen mesin briket tersebut juga bisa bekerjasama dengan pabrikan-pabrikan mesin di Eropa yang lebih berpengalaman dan teruji dengan produksi pellet tersebut sebagai upaya juga untuk mempercepat transfer teknologi tersebut. Dalam waktu satu tahun seperti target yang dicanangkan, maka sangat sulit hal ini dilakukan, sehingga upaya praktisnya adalah membeli 100% complete line dari vendor yang teruji, atau memilah sejumlah peralatan yang telah bisa diproduksi sendiri seperti di atas dan secara bertahap mensubtitusi peralatan import tersebut. Hal ini karena mencapai target produksi untuk upaya dekarbonisasi tersebut lebih diprioritaskan.

Kesimpulannya dengan saat ini India harus berupaya semaksimal mungkin mempercepat pembangunan pabrik-pabrik biomass pellet untuk mencapai target tersebut. Bagaimanapun juga waktu 1 tahun untuk mencapai target tersebut sangat berat. Dengan kondisi tersebut dalam beberapa waktu mendatang bisa jadi pembangkit-pembangkit listrik di India akan mengimport bahan bakar biomasa seperti wood pellet dan PKS (palm kernel shell) untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan rasio cofiring yang direncanakan yakni target terendahnya sebesar 5% saja maka kebutuhan biomass pellet mencapai sekitar 50 juta ton, andaikan 2% saja kebutuhan bahan bakar biomasa itu dari import baik PKS dan / atau wood pellet maka akan mencapai 1 juta ton, jumlah yang tetap masih cukup besar.

Kamis, 09 Juni 2022

Keberkahan Pada Daging Kambing

Daging kambing memilik keberkahan, artinya banyak kebaikan pada daging kambing ini. Terdapat perintah agar kita memelihara dan memanfaatkan kambing karena padanya ada keberkahan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

” Peliharalah (manfaatkan) oleh kalian kambing kerana di dalamnya terdapat barakah”[1. HR. Ahmad, dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah 2/417].

Selain daging kambing, keberkahan juga ada pada susu dan kulitnya. Susunya bisa diminum serta kulitnya bisa dijadikan bahan kain atau pakaian. Ahli tafsir Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan,

“Allah telah menjadikan berkah pada kambing di mana kambing bisa dimanfaatkan untuk pakaian, makanan, minuman, banyaknya anak, karena kambing beranak tiga kali dalam setahun, sehingga memberikan ketenangan bagi pemiliknya. Kambing juga membuat pemiliknya rendah hati dan lembut terhadap orang lain”[2. Al-Jami’ li Ahkaamil-Qur’an, 10/80, Darul Kutub Al-Mishriyah, Koiro, 1384 H, Asy Syamilah].

 Bahkan diriwayatkan setiap Nabi pernah mengembalakan kambing, ulama menjelaskan hikmahnya adalah karena mengembalakan kambing membutuhkan kesabaran dan ketekunan yang akan membentuk karakter kebaikan pada seseorang. Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“tidaklah seorang Nabi diutus melainkan ia menggembala kambing“. para sahabat bertanya, “apakah engkau juga?”. Beliau menjawab, “iya, dahulu aku menggembala kambing penduduk Mekkah dengan upah beberapa qirath”[3. HR. Al Bukhari, no. 2262].

Apakah daging kambing berbahaya bagi kesehatan?

Sesuatu yang berkah tentu tidak menimbulkan bahaya. Apa yang disyariatkan oleh Islam pasti bermanfaat dan tidak berbahaya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata dalam risalahnya,

“Agama dibangun atas dasar berbagai kemashlahatan, mendatangkan mashlahat dan menolak berbagai keburukan”

Kemudian beliau menjelaskan,

“Tidaklah Allah memerintahkan sesuatu kecuali padanya terdapat berbagai mashlahat yang tidak bisa diketahui secara menyeluruh”[4. Risaalah fiil Qowaaidil fiqhiyah hal. 41, Maktabah Adwa’us salaf].

Hal ini sudah dibuktikan oleh orang di zaman dahulu mereka suka memakan daging termasuk daging kambing, bahkan mereka memakan lemaknya juga. Dikisahkan orang dahulu suka mengambil lemak hewan, kemudian dipotong dadu dan dikeringkan dengan cara dijemur. Disimpan atau dibawa bersafar, kemudian jika ingin dimakan tinggal “dipanaskan” atau dioles diatas roti kemudian di makan.

Informasi yang tersebar di masyarakat bahwa daging kambing berbahaya misalnya bisa menaikan tekanan darah dan meningkatkan kolesterol, itu tidak benar. Daging kambing tidak berbahaya, yang menyebabkan naiknya tekanan darah dan naiknya kolesterol bisa jadi karena beberapa hal berikut:

1. Cara pengolahan daging yang tidak sehat, misalnya memakai bumbu dan minyak yang berlebihan, terlalu lama diolah sehingga vitamin dan kandungan mineralnya hilang.

2. Terlalu berlebihan mengkonsumsi daging saat “pesta daging” dan wajar saja, apa-apa yang berlebihan pasti akan menjadi racun. Dalam kedokteran dikenal ungkapan,
“Semua zat adalah (berpotensi menjadi) racun. Tidak ada yang tidak (berpotensi menjadi) racun. Dosis dan indikasi yang tepat membedakannya apakah ia racun atau obat” [5. Toksikologi hal. 4, Bag Farmakologi dan Toksikologi UGM, 2006].

3. Pola hidup di zaman sekarang yang tidak sehat, makanan tidak sehat dan gerakan yang kurang. Sehingga ada akumulasi sedikit saja kolesterol atau zat lainnya maka sudah berbahaya.

Sekali lagi kami tekankan bahwa daging kambing tidak berbahaya bahkan padanya terkandung keberkahan dan kebaikan yang banyak.


Penyusun: dr. Raehanul Bahraen

Sumber: https://muslim.or.id/28650-keberkahan-pada-daging-kambing.html

Senin, 16 Mei 2022

Peluang Export Wood Pellet ke Jerman

Pada akhir tahun 2022 atau tahun ini, semua PLTN di Jerman dihentikan operasinya, lalu pada tahun 2030 atau paling lambat pada 2038 semua PLTU batubaranya juga dihentikan operasinya. Jerman dalam rangka dekarbonisasi telah merencanakan pengurangan bahan bakar fossil khususnya batubara pada PLTUnya. Prosentase PLTN di Jerman adalah 3,6% atau sekitar 8 GW dan ini perlu upaya segera untuk mendggantikan suplai listrik tersebut. Sedangkan PLTU batubara mencapai sekitar 28% atau lebih dari 40 GW, dan saat ini produksi listrik dengan batubara tersebut sangat mahal, karena harga batubara sendiri dan carbon tax. Harga batubara dikisaran $150 tetapi akhir-akhir ini terjadi lonjakan hingga $435 dan carbon tax lebih dari $100 untuk setiap CO2 yang diemisikan. Dengan komponen biaya tersebut harga produksi listrik untuk setiap MWh mencapai sekitar $220 (belum termasuk biaya tenaga kerja, perawatan, dan sebagainya), sedangkan apabila diganti dengan wood pellet harga produksi hanya sekitar $90 per MWh atau kurang lebih sepertiganya. Sangat murah. Apalagi dengan pemakaian wood pellet proses sulfur scrubbing (FGD = flue gas desulphurisation) bisa direduksi bahkan dieliminasi.

Bahan bakar biomasa seperti wood pellet adalah carbon neutral sehingga tidak menambah konsentrasi CO2 di atmosfer, sehingga ketika penggunaan wood pellet untuk pembangkit listrik dan selanjutnya emisi gas CO2 yang merupakan gas rumah kaca tersebut ditangkap dan disimpan (CCS =Carbon Capture and Storage) sehingga tidak lepas ke atmosfer, maka ini menjadi carbon negative atau mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer. Besarnya gas CO2 yang bisa ditangkap dan ditangkap tersebut juga bisa mendapatkan kompensasi carbon credit, sehingga PLTU tersebut mendapat penghasilan tambahan. Tetapi tanpa harus dengan CCS pun penggunaan wood pellet sudah mengurangi biaya produksi listrik sangat signifikan dan ramah lingkungan. Sedangkan apabila PLTU menggunakan batubara yang merupakan carbon positive lalu emisi CO2 ditangkap dan disimpan dengan teknologi CCS maka hal ini menjadi carbon neutral. Tentu saja upaya carbon negative lebih baik dibandingkan carbon neutral.

Di lain sisi Jerman terkenal dengan produk-produk teknologi khususnya mesin-mesin industri. Sejumlah produsen mesin untuk produksi wood pellet juga berasal dari Jerman, seperti Muench, Salmatec dan Kahl. Mesin-mesin tersebut banyak digunakan untuk produksi wood pellet di seluruh dunia dan dapat diandalkan. Bisa saja nanti mesin-mesin untuk produksi wood pellet tersebut diimport dari Jerman dan produk wood pellet dari Indonesia diexport ke Jerman. Hal ini sesuai dengan keunggulan potensi masing-masing negara tersebut. Indonesia dengan luas daratan mencapai 1,91 juta km2 dengan lahan banyak tersedia serta berada di daerah tropis sangat potensial sebagai produsen utama wood pellet dunia. 

Saat ini sekitar 55% bahan bakar pembangkit listrik di Jerman menggunakan gas alam yang berasal dari Rusia, dan sementara sedang pecah perang antara Rusia dan Ukraina. Masalah keberpihakan Jerman bisa jadi akan berpengaruh pada suplai gas alam dari Rusia ke negaranya akibat adanya perang tersebut. Konversi dari PLTU batubara menjadi PLTU wood pellet bukan hal sulit dan tidak membutuhkan investasi besar, sehingga konversi inilah sebagai solusi paling realistis. Dengan jumlah PLTU batubara di Jerman lebih dari 100 unit atau sekitar 1/3 dari suplai listriknya, sehingga kebutuhan wood pellet juga akan sangat besar jika PLTU-PLTU tersebut beralih ke wood pellet. 

Kamis, 12 Mei 2022

Pellet Biomasa (Biomass Pellet) di India

India memiliki ratusan juta limbah biomasa khususnya dari limbah-limbah pertanian atau sekitar 230 juta ton per tahun. Ratusan juta ton limbah biomasa tersebut tentu saja menjadi masalah lingkungan terutama karena limbah tersebut sebagian besar hanya dibakar begitu saja di ladang-ladang yang asapnya mencemari lingkungan, tetapi di sisi lain akan menjadi solusi yakni untuk program dekarbonisasi dan perubahan iklim. Secara teknis limbah biomasa dari limbah pertanian tersebut akan diolah menjadi pellet bahan bakar (biomass pellet) yang digunakan untuk bahan bakar di pembangkit listrik secara cofiring. Pada tahap awal pemerintah India menargetkan 5% untuk rasio cofiring pada pembangkit listrik batubara mereka, dimana angka 5% tersebut apabila diterjemakan ke produksi biomass pellet akan mencapai sekitar 50 juta ton biomass pellet per tahunnya. Jumlah yang sangat besar apalagi dengan target waktu yang pendek yakni hanya satu tahun saja sejak diperintahkan pada 8 Oktober 2021 dan mulai berlaku pada Oktober 2022 atau tahun ini, sehingga perlu upaya keras untuk mencapai target tersebut. Sedangkan pada tahun 2021 permintaan wood pellet dunia untuk pembangkit listrik hanya sekitar 23 juta ton saja. 

Pembuatan pabrik-pabrik untuk produksi biomass pellet harus dilakukan segera untuk mencapai target produksi tersebut. Pabrik-pabrik tersebut juga harus didukung kesiapan logistik untuk menyuplai bahan baku sehingga pabrik bisa selesai dibangun, maka produksi biomass pellet bisa secepatnya dilakukan. Dengan rata-rata kapasitas pembangkit listrik di India 275 MW maka dengan rasio cofiring 5% maka kebutuhan biomass pellet setiap tahunnya diperkirakan 50 ribu ton atau 170 ton setiap harinya. Dengan jumlah pembangkit listriknya mencapai sekitar 900 unit dengan konsumsi rata-rata 50 ribu ton biomass pellet per tahun tersebut atau total hampir 50 juta ton per tahun, maka pendistribusian biomass pellet tersebut juga merupakan tantangan tersendiri. Pabrik berkapasitas sekitar 5 ribu ton/bulan sepertinya akan cocok, dan bahkan apabila setiap pabrik menyuplai satu pembangkit listrik maka kebutuhan pabrik biomass pellet juga akan sama seperti jumlah pembangkit listriknya yakni 900 unit. Sangat banyak.


Biomass pellet atau agri-waste pellet, yakni pellet dari limbah-limbah pertanian memang memiliki sejumlah perbedaan dengan wood pellet. Kayu sendiri juga merupakan bagian dari biomasa sehingga bisa juga disebut biomass pellet. Biomasa memiliki himpunan lebih luas, diantaranya wood pellet dan agri-waste pellet. Agri-waste pellet memiliki kadar abu lebih besar, juga beberapa memiliki kandungan klorin, kalium dan silika lebih besar pada abu tersebut. Kandungan zat-zat tersebut tidak ramah terhadap pipa-pipa pertukaran panas pada boiler yang akan menyebabkan fouling dan korosif, sehingga selain efisiensi boiler menurun juga umur pakai dari boiler tersebut menadi lebih pendek. Selain itu panen dari produk-produk pertanian biasanya bersamaan pada waktu-waktu tertentu, sedangkan pabrik pellet harus terus berproduksi setiap hari. Hal ini sehingga perlu menyimpan dan mengalokasikan bahan baku berupa limbah pertanian untuk produksi rutin pellet tersebut. Dan karena limbah-limbah pertanian tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja di area pertanian sehingga butuh investasi tambahan berupa gudang-gudang penyimpanan dan untuk bisa menyimpan lebih banyak limbah pertanian maka perlu dipadatkan sementara dengan cara baling. Hal-hal tersebut  biasanya memang tidak terjadi pada produksi wood pellet, sehingga pendekatan produksi agri-waste pellet tersebut berbeda. 

Dan karena kimia abu limbah-limbah pertanian tersebut menyebabkan banyak masalah pada operasional pembangkit listrik maka penggunaanya juga dibatasi. Dengan rasio cofiring 5% memang masalah tersebut masih bisa ditoleransi, tetapi ketika rasionya diperbesar maka dampaknya akan semakin nyata. Perkecualian pada pembangkit tipe CFB (circulating fluidized bed) yang bisa menggunakan 100% pellet limbah pertanian tersebut, tetapi di India pembangkit listrik yang menggunakan teknologi CFB sangat kecil, yakni sekitar 1% saja (9-10 unit). Indonesia dan Malaysia juga menghasilkan bahan bakar biomasa yang mirip dengan pellet dan bahkan di pasar internasional menjadi kompetitor pellet, yakni cangkang sawit atau PKS (palm kernel shell). Volume PKS juga mencapai jutaan ton, sehingga bisa di export ke India untuk membantu memenuhi kebutuhan India terhadap biomass pellet, yang selama ini terutama untuk export ke Korea dan Jepang. PKS juga dihasilkan oleh sejumlah negara di Afrika Barat. Tetapi sepertinya pemerintah India untuk saat ini akan memprioritaskan penggunaan limbah pertanian mereka dulu, sehingga belum memberikan dukungan finansial untuk import bahan bakar biomasa tersebut.  

Saat ini India harus berupaya semaksimal mungkin mempercepat pembangunan pabrik-pabrik biomass pellet untuk mencapai target tersebut. Bagaimanapun juga waktu 1 tahun untuk mencapai target tersebut sangat berat. Dengan kondisi tersebut dalam beberapa waktu mendatang bisa jadi pembangkit-pembangkit listrik di India akan mengimport bahan bakar biomasa seperti wood pellet dan PKS untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan rasio cofiring yang direncanakan saat ini yakni 5% maka kebutuhan biomass pellet mencapai sekitar 50 juta ton, andaikan 2% saja kebutuhan bahan bakar biomasa itu dari import baik PKS dan / atau wood pellet maka akan mencapai 1 juta ton, jumlah yang tetap masih besar.

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...