Tampilkan postingan dengan label wood pellet market. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wood pellet market. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Export Wood Pellet : Ke Jepang atau Korea?

Aspek pasar adalah faktor penting bagi suatu produksi, tidak terkecuali wood pellet. Pengenalan terhadap karakteristik pasar yang baik, juga akan menentukan suksesnya pemasaran produk tersebut. Korea dan Jepang adalah dua pasar wood pellet terbesar saat ini, sehingga sejumlah produsen yang berorientasi eksport berusaha mengisi pasar tersebut. Pasar wood pellet untuk Eropa umumnya belum menjadi prioritas, hal ini karena diperlukan kapasitas besar untuk pengiriman ke sana misalnya 40.000 - 60.000 ton/shipment, yang ini belum bisa dipenuhi produsen wood pellet di Indonesia karena kapasitas produksinya masih kecil. Pengiriman wood pellet ke Korea dan Jepang dari Indonesia, hampir semua juga masih menggunakan kontainer, karena volumenya belum besar.

Apa perbedaan pasar wood pellet antara Jepang dan Korea? Lalu, mengapa produsen wood pellet Indonesia perlu mempertimbangkan hal tersebut? Penggunaan wood pellet untuk pembangkit listrik baik Jepang dan Korea adalah policy driven, yakni Renewable Portofolio Standard (RPS) di Korea dan Feed in Tariff (FIT) di Jepang. Tetapi juga bagaimana mekanisme menyuplai wood pellet di kedua negara tersebut berbeda. Pembeli-pembeli Jepang lebih memilih kontrak jangka panjang dengan harga yang pasti, produsen wood pellet juga masuk sustainability criteria (misalnya dibuktikan dengan FSC), forest management practice yang baik dan kondisi makro ekonomi yang stabil. Sedangkan pembeli-pembeli Korea lebih memilih harga wood pellet yang murah di "open market" dengan kontrak jangka pendek. 
Menghadapi kondisi pasar diatas tentu juga berbeda menyikapinya. Pasar Korea dirasa lebih mudah dan senantiasa harga mengikuti pasar, tetapi dengan kondisi ini produsen wood pellet berlomba-lomba meningkatkan efisiensinya sehingga harga jual pelletnya bisa murah dan diterima oleh pasar Korea. Hal ini terbukti dari produsen-produsen wood pellet di Vietnam, yakni dengan strategi harga murah terbukti menjadi supplier utama wood pellet di Korea. Tetapi seiring keterbatasan bahan baku dan naiknya harga minyak bumi, maka harga akan terkoreksi dengan kondisi tersebut. Sedangkan untuk pasar Jepang menuntut kajian mendalam dan persiapan yang sangat matang, sehingga hanya produsen-produsen besar yang bisa melakukannya. Harga tetap, kontrak panjang dan volume besar juga beresiko menimbulkan kerugian bagi produsen, jika terjadi inflasi di negara produsen karena kebijakan feed in tariff (FIT) diset untuk jangka waktu 20 tahun.Hal ini juga perlu diantisipasi oleh produsen wood pellet jika ingin masuk ke pasar Jepang.  

Bahan bakar biomasa mendapat porsi 4,3% di Jepang pada proyeksi energi 2030 mereka. Ini berarti biomasa terhitung sebesar 4,3% dari 245 juta MW pertahun dengan energi terbarukan atau sekitar 6.000 MW dari biomasa. Untuk mencapai kapasitas tersebut dibutuhkan kurang lebih 22,2 juta ton wood pellet per tahun. Saat ini sebagian besar wood pellet yang diimport Jepang berasal dari Kanada. Dari 374.000 ton wood pellet yang diimport Jepang pada tahun 2016, sekitar 75% berasal dari Kanada. Sedangkan tahun 2017, wood pellet yang diimport dari Kanada turun menjadi sekitar 65%, selanjutnya Vietnam mengisi cukup banyak pada tahun tersebut, selanjutnya diikuti China. Kanada mencoba terus mempertahankan market share-nya di Jepang karena merasa mampu untuk memenuhi syarat-syaratnya. Kontrak panjang selama 20 tahun dalam mekanisme FIT juga dianggap lebih menarik dibandingkan kontrak menengah supply Kanada ke Eropa, seperti dengan Drax di Inggris selama 11 tahun, misalnya pada tahun 2020 mereka mulai kontrak maka pada tahun 2040 kontrak baru berakhir atau Jepang menjadi offtaker produk wood pellet selama 20 tahun. Selain itu faktor bisnis kayu dan olahannya dari Kanada yang sudah berjalan lama sebelumnya juga digunakan untuk memperkuat market share wood pellet di Jepang. Dilain pihak export wood pellet Indonesia ke Jepang juga masih sangat kecil. 
Sebagian besar wood pellet Indonesia di export ke Korea, yang diperkirakan menurut Global Trade Atlas Data sejumlah 63.000 ton pada 2014 dan naik turun sedikit menjadi 61.500 ton pada 2015. Sejak menerapkan RPS  (Renewable Portofolio Standard)  tahun 2012 Korea berkomitmen untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan khususnya biomasa dan lebih khusus lagi wood pellet pada sektor energinya. Berdasar RPS tersebut Korea mensyaratkan PLTU batubara untuk minimum menggunakan 2% energi terbarukan pada 2012, dengan peningkatan 0,5% /tahun sampai 2020.  Pada tahun 2020 mereka akan membutuhkan minimum 10% energi terbarukan dengan komposisi diharapkan 60% energi terbarukan berasal dari biomasa kayu, sedangkan 40% sisanya dari sumber lain dan diestimasi wood pellet akan lebih dari 10 juta ton.Mengapa sebagian besar wood pellet produksi Indonesia diexport ke Korea? Ada beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut, yakni persyaratan export wood pellet ke Korea tidak seketat (strict) Jepang, sebagian besar produsen wood pellet Indonesia memiliki kapasitas kecil dengan bahan baku terbatas sehingga lebih cocok untuk kontrak jangka pendek dan harga yang ditawarkan produsen wood pellet Indonesia bisa bersaing dengan produsen lainnya seperti Vietnam, Thailand dan Malaysia. Wood pellet pada dasarnya suatu produk baru untuk sektor energi, sehingga masalah harga dinamis di "open market" atau pasaran internasional, selain faktor supply-demand juga harga energi pada umumnya sangat berpengaruh khususnya minyak bumi. 
Photo diambil dari sini
Indonesia walaupun saat ini masih belum mempunyai market share yang besar atau belum di perhitungkan pada sektor tersebut tetapi potensinya sangat besar. Faktor iklim tropis, tanah luas dan subur adalah modal dasar yang luar biasa untuk menjadi produsen biomasa. Selain itu dengan lokasi yang lebih dekat dengan pasar atau negara pengguna dibanding Kanada, maka itu juga suatu keunggulan tersendiri. Apabila tingkat suku bunga deposito Indonesia dihilangkan atau minimal dikurangi, maka tingkat gairah berbisnis juga menjadi daya dorong luar biasa. Jangan sampai penerapan bunga deposito tinggi tersebut menjadi bumerang, yang menjadi malapetaka salah satunya telat dalam berinovasi pada era bioeconomy padahal sumber daya berlimpah. Beberapa produsen wood pellet Indonesia seperti South Pacific di Jepara dan Singpellet di Sumatera Barat juga memiliki konsep kebun energi untuk produksi wood pellet dengan tanaman rotasi cepat (Short Rotation Coppice /SRC). Produksi wood pellet dari kebun energi adalah skenario terbaik untuk memasuki/penetrasi pasar wood pellet Jepang dan Korea. Untuk merancang produksi wood pellet kapasitas besar dari kebun energi bisa dibaca disini. Model bioeconomy muslim dengan integrasi produksi wood pellet dari kebun energi, peternakan domba yang merupakan harta terbaik muslim dan peternakan lebah madu, akan unggul dan menjadi pemain utama di era bioeconomy. InsyaAllah. China diprediksi juga akan menjadi pasar wood pellet besar, ulasan tentang akan kami tulis lain waktu. InsyaAllah

Kamis, 24 Desember 2015

Sukses Pengapalan Wood Pellet Dengan Panamax Vessel Akan Mengakselerasi Export Wood Pellet Dunia?

Aspek logistik merupakan aspek penting dalam usaha wood pellet, baik logistik bahan baku ke pabrik wood pellet maupun logistik produk wood pellet hingga sampai ke pasar atau diterima oleh konsumen. Pada logistik produk wood pellet, saat ini kapal masih menjadi andalan utama untuk export jumlah besar antar negara atau antar benua. Untuk pengapalan produk wood pellet dengan volume 10.000 ton ke atas hampir semua menggunakan pengapalan curah (bulk shipment) atau kemasan kontainer menjadi tidak efektif untuk volume tersebut. Semakin besar volume atau kapasitas wood pellet yang bisa diangkut biasanya harganya akan menjadi semakin murah per-unitnya. 


Baru-baru ini sebuah kapal cargo tipe Panamax-class vessel, The Popi S yang berkapasitas angkut 60.000 ton telah berhasil mengangkut wood pellet dari pelabuhan Prince Rupert, British Columbia, Kanada produksi Pinnacle Renewable Energy ke pelabuhan Immingham di Inggris yang memakan waktu kurang lebih sebulan, dan tercatat sebagai pengapalan pertama Panamax-class vessel yang sukses. Drax pembangkit listrik di Inggris dengan biomasa yakni wood pellet adalah konsumen  wood pellet terbesar saat ini, dengan konsumsi sekitar 6 juta ton/tahun. Pengapalan ke pelabuhan-pelabuhan di Inggris hampir semua menggunakan pengapalan curah (bulk shipment) dengan kapasitas 25.000 ton vessel , sehingga untuk mencapai volume 6 juta ton/tahun dibutuhkan 240 kali pengapalan. Apabila dibandingkan dengan kapasitas Panamax-class vessel yakni 60.000 ton maka hanya dibutuhkan 100 kali pengapalan. 


Saat ini penggunaan Panamax-class vessel sebagai standar angkut wood pellet untuk kapasitas besar sedang banyak dikaji. Kelengkapan kapal berupa alat pemadam kebakaran (fire protection system) seperti gas CO2 atau gas inert menjadi wajib bagi Panamax-class vessel nantinya karena wood pellet dikategorikan bahan yang berbahaya dalam bentuk curah (bulk) pada kapasitas besar. Ketika  telah diratifikasi sepenuhnya maka semua Panamax-vessel akan bisa digunakan sebagai pengangkut wood pellet. Tentu hal ini akan bagus bagi semua produsen wood pellet di seluruh dunia. Aspek teknis seperti kedalaman laut di pelabuhan dan kecepatan memuat (loading) wood pellet ke kapal dengan standard  2.000 ton/jam menjadi faktor penting lainnya untuk menggunakan Panamax vessel.

Walaupun terlihat masih jauh dibandingkan kondisi di Indonesia, yang saat ini hampir semua wood pellet di export dengan kontainer, tetapi besar kemungkinan dalam waktu yang tidak begitu lama Indonesia akan menyusul mengingat potensi besar yang dimilikinya untuk menyuplai bahan bakar biomasa dalam jumlah besar dan berkesinambungan. Penggalakan kebun energi sebagai sumber bahan baku menjadi salah satu keunggulan penting bagi Indonesia. Apalagi kebun energi tersebut diintegrasikan dengan sektor peternakan dan/atau pertanian maka hal tersebut juga menjadi solusi kekurangan pangan (daging, susu, karbohidrat, madu, dsb).  Sebagai estimasi jarak pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta dengan dengan pelabuhan Immingham, Inggris adalah  6.300 mil laut atau diperkirakan akan menempuh perjalanan kurang dari 1 bulan, sedangkan jarak dari pelabuhan Prince Rupert, Kanada ke Immingham adalah lebih dari 11.000 mil laut dan menempuh waktu perjalanan sekitar 1 bulan. Dengan perhitungan biaya transportasi bisa lebih murah, maka peluang Indonesia menyuplai wood pellet ke Eropa juga lebih besar.

Rabu, 03 Juni 2015

Proses Pemelletan Biomasa dan Menjaga Stabilitas Produksi Pabrik Wood Pellet


Karakteristik biomasa akan menentukan proses produksi termasuk bentuk die dan karakteristik produk wood pelletnya. Biomasa kayu adalah biomasa yang paling umum dan populer dari pemelettan biomasa tersebut. Bentuk die tidak bisa umum digunakan atau generik untuk semua jenis biomasa karena memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Proses pemelletan (pelleting) yang efisien akan dihasilkan produk pellet dengan jumlah serbuk atau powder atau fine yang sangat sedikit artinya hampir semua partikel bahan yang diumpankan ke dalam pelletiser terkonversi menjadi pellet  tersebut. Ditinjau urutan proses yang terjadi dalam pelletiser maka biomasa akan mengalami hal-hal sebagai berikut sebelum akhirnya terbentuk menjadi pellet.



Sejumlah  bahan dari kayu tertentu ada yang mengembang lagi ketika keluar dari pelletiser atau secara umum pada alat pemadatan (densificator). Fenomena ini lebih mudah terlihat pada briket karena ukurannya lebih besar daripada pellet. Hal tersebut terjadi karena bahan tersebut menyerap lagi udara dari atmosfer sehingga menambah kelembaban pada pellet atau briket tersebut, padahal ketika partikel bahan masuk ke dalam die dengan adanya tekanan yang kuat dan suhu tinggi maka sejumlah uap air dalam partikel bahan akan keluar serta begitu juga lignin yang berfungsi sebagai perekat akan keluar pada tahap ini.


Pada wood pellet secara spesifik juga ada sedikit perbedaan tentang kualitas, logistik dan kebutuhan konsumen antara Eropa dan Amerika Serikat. Perbedaannya antara lain khususnya yaitu pada wood pellet untuk pasar Eropa umumnya menggunakan die dengan ukuran 6 mm sedangkan untuk pasar Amerika Serikat umumnya menggunakan die dengan ukuran seperempat inch atau 6,35 mm atau bisa juga menggunakan peralatan yang lebih cocok, misalnya untuk Eropa menyesuaikan dengan EN method sedangkan Amerika dengan ASTM method. Tetapi sektor yang berbeda juga memungkinkan penggunaan ukuran pellet yang berbeda. Sebagian besar retailer di Eropa menggunakan ukuran pellet 6 mm, sehingga apabila menggunakan U.S. standard dengan ukuran seperempat inch atau 6,35 mm dan setelah produksi juga biasanya akan ekspansi menjadi 6,5 mm membuat kurang diterima pasar Eropa. Selain itu pasar Eropa juga menyukai wood pellet dengan panjang 1,5 – 2 cm, sehingga tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Durability juga menjadi faktor penting untuk target pasar tersebut, Eropa mengeluarkan persyaratan durability limit adalah 97,5 terutama untuk bulk industrial market, akan tetapi untuk bulk residential delivery sebagian besar distributor mencari produk dengan durability 98,5 – 99,0. Hal ini karena pada residential delivery pada umumnya menggunakan pneumatic conveyor dan adanya keinginan kuat untuk mengurangi fine (powder).    



Target pasar akan menentukan bagaimana proses produksi dari wood pellet tersebut. Pasar Asia dengan umur relative baru belum memiliki persyaratan seketat Eropa atau Amerika dengan target pengguna atau user juga ada perbedaan.  Jumlah permintaan yang besar dengan kualitas yang ketat juga membuat kebutuhan akan peralatan atau mesin yang handal menjadi mutlak dibutuhkan. Sejumlah produsen pelletiser untuk wood pellet juga telah menerapkan teknologi sensor panas pada pelletiser yang mereka buat sebagai pilihan bagi produsen wood pellet. Teknologi ini termasuk pemasangan sensor panas tinggi langsung pada roller untuk memantau secara real time suhu kritisnya. Tujuan penggunaan teknologi tersebut adalah untuk mengurangi downtime dan kecelakaan yang disebabkan oleh overheating pada roller dan bearing shaft sehingga target produksi bisa dicapai dengan mudah.




Sedangkan untuk supplai pasokan bahan baku wood pellet, limbah-limbah penggergajian kayu maupun limbah pengolahan kayu bisa digunakan tetapi kebun atau hutan energi akan menjadi pilihan terbaik terutama untuk orientasi jangka panjangnya. Manajemen atau pengelolaan hutan (forest management service) yang baik akan menghasilkan pasokan bahan baku yang berkesinambungan (sustainable). Optimalisasi penggunaan lahan di sejumlah lokasi, pemilihan jenis tanaman yang sesuai dan ditunjang kondisi iklim tropis yang menunjang adalah beberapa hal yang mendukung integrasi kebun atau hutan energi dengan usaha wood pellet. Tanaman SRC atau spesies tanaman dengan rotasi cepat seperti kaliandra sangat sesuai untuk tujuan tersebut. Kita patut bersyukur kepada Allah SWT karena lokasi di Indonesia yang beriklim tropis membuat produktivitas tanaman kaliandra bisa 4 kali lebih cepat daripada yang beriklim sub tropis atau konkritnya 4 tahun poplar dan willow di Eropa sama seperti 1 tahun kaliandra di Indonesia. Faktor ketersediaan bahan baku merupakan salah satu faktor kunci kesuksesan usaha wood pellet sehingga perlu perhatian khusus tersendiri.

Minggu, 29 Maret 2015

Menentukan Kapasitas Pabrik Wood Pellet



Untuk menentukan kapasitas produksi dan membuat pabrik wood pellet tidak hanya melihat jumlah bahan baku yang tersedia saja. Sisi lain berupa kebutuhan pasar dan karakteristik pasar juga menjadi pertimbangan penting. Dan saat ini juga belum ada pabrik wood pellet di Indonesia dengan kapasitas produksi diatas 100.000 ton/tahun, walaupun dari sisi potensi untuk penyediaan bahan baku dan kebutuhan pasar sangat memungkinkan dan tidak menjadi masalah. Dibawah ini tabel produksi wood pellet dari negara-negara produsen utama dunia :




Saat ini pasar utama wood pellet dari Indonesia adalah Korea Selatan karena adanya peraturan pemerintah disana untuk pemakaian wood pellet, yakni di Renewable Portofolio Standard (RPS) sejak tahun 2012. Kompetitor lain dari Asia Tenggara seperti Vietnam, Thailand dan Malaysia juga mulai meramaikan pasar wood pellet. Dengan kondisi seperti itu pihak pembeli atau pasar umumnya mau membeli secara kontrak dengan kapasitas tertentu dan waktu tertentu. Sebagian besar pembeli melakukan praktek kontrak pembelian untuk kapasitas minimal 1000 ton/bulan selama minimal 6 bulan. Hal ini berdampak pada kapasitas pabrik wood pellet yang akan dibuat, yakni minimal 1000 ton/bulan. Kapasitas 1000 ton/bulan atau 40 ton/hari atau 2 ton/jam (20 jam operasi) pabrik wood pellet direkomendasikan sebagai kapasitas minimal pabrik wood pellet saat ini bagi para pengusaha yang akan berkecimpung pada produksi wood pellet.



Kebutuhan wood pellet diprediksi akan terus meningkat seiring trend global untuk pemakaian energi terbarukan, dengan prediksi pada tahun 2024 yakni  50 juta ton secara global atau untuk Korea Selatan saja lebih dari 3 juta ton. Dalam beberapa tahun lagi kebijakan seperti Korea Selatan akan diikuti beberapa negara ekonomi kuat di Asia.

Sabtu, 21 Maret 2015

Wood Pellet dan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)

Integrasi ekonomi diantara anggota ASEAN dalam MEA  (atau AEC = ASEAN Economic Community) yang rencananya akhir tahun ini akan dimulai, merupakan bentuk hubungan lanjut dari AFTA yang sifatnya lebih menyeluruh daripada sekedar perdagangan (trade). Integrasi paling tinggi pada aspek ekonomi seperti halnya di negara-negara yang tergabung dalam masyarakat ekonomi Eropa (MEE) adalah penyatuan mata uang, tetapi ini kelihatanya belum akan dilakukan dalam waktu dekat pada MEA. MEA ini membuat berbagai negara-negara ASEAN membuat suatu regulasi atau aturan bersama dalam wilayah kawasan ekonominya. Blok-blok perdagangan dan ekonomi memang banyak dibuat saat ini berdasarkan kawasan atau regional tertentu yang jelas juga memiliki tujuan tertentu juga. Integrasi atau penyatuan ekonomi dalam MEA tersebut membuat berbagai negara-negara ASEAN saling berlomba untuk meningkatkan daya saing untuk tetap bisa memimpin percaturan dalam regional tersebut. Indonesia dengan luas wilayah dan penduduk terbesar (sekitar 250 juta) ditambah melimpahnya sumberdaya alam adalah potensi ekonomi yang luar biasa atau negri zamrud katulistiwa ini akan menjadi fokus atau perhatian utama pada MEA.

Bonus demografi berupa jumlah penduduk usia produktif melebihi usia non-produktif juga akan faktor lain yang akan menambah daya tarik Indonesia, yang kondisi ini berkebalikan dengan kondisi negara-negara Eropa, Jepang dan negara-negara ekonomi kuat lainnya. Tentu dengan kondisi tersebut Indonesia seharusnya tidak hanya menjadi pasar berbagai produk luar negeri dan ekonomi kuat yang membuat neraca perdagangan tidak seimbang dan akan selalu membuat kondisi Indonesia semakin terpuruk. Peluang sekaligus tantangan akan dihadapi sehingga seharusnya perlu persiapan serius dan matang. Sejumlah negara ASEAN telah menyiapkan jauh-jauh hari untuk menghadapi MEA ini, tetapi Indonesia terlihat belum secara serius mempersiapkan untuk menghadapi MEA ini.



Wood pellet memiliki peran strategis dalam menghadapi MEA karena banyaknya permintaan seiring tingginya kesadaran pada mitigasi bencana, perubahan iklim dan pemanasan global. Luasnya lahan, suburnya tanah dan iklim tropis membuat bahan baku wood pellet yang bisa dibilang salah satu faktor kunci kesuksesan bisnis wood pellet, tidak sulit untuk diusahakan. Sejumlah kesatuan pengelolaan hutan (KPH) yang memang dipersiapkan untuk hutan tanaman industri (HTI) dan bisa dikerjasamakan dengan pihak swasta puluhan hingga ratusan ribu hektar tersedia. Selain itu jutaan hektar lahan marjinal dan lahan tidur juga sangat potensial, mengingat tanaman untuk bahan baku wood pellet ini juga sangat mudah tumbuh dan dibudidayakan. Pembuatan kebun energi atau istilah yang dipakai untuk kebun untuk produksi bahan baku wood pellet memiliki banyak keunggulan. Ekonomi yang dikembangkan pada usaha wood pellet adalah ekonomi yang rendah karbon. Pada prinsipnya membuat suatu usaha yang saling menguntungkan antara berbagai pihak dan tidak merusak alam sehingga bisa terus berkesinambungan harus dipegang kuat apapun yang akan dihadapi termasuk MEA ini.  

Rabu, 04 Februari 2015

Rise in pellet exports to Asia

Feb. 2, 2015 - Pellet exports from North America rose in the 3Q/14 after a stable first half of the year that could be characterized as a temporary plateau. While pellet exports to Europe were up just marginally, the increase to Asia was more noticeable. Up until 2014, more than 95% of wood pellets leaving US and Canadian ports were destined for Europe.

However, during 2014 there was a shift in Canadian exports from Europe to Asia, with pellet plants in British Columbia shipping record volumes to South Korea during the 3Q/14, as reported in the North American Wood Fiber Review. (Note. Due to irregularities with Customs data, NAWFR collects trade data from a number of sources including Canadian and US customs export data, European import data and from quarterly conversations with both pellet exporters and port contacts.)

Total Canadian overseas pellet exports rose slightly in the 3Q/14 from the previous quarter, but they were still 15 per cent below their high of over half a million tons in the last quarter of 2013. Shipments from both Western and Eastern Canada to Europe fell in the first three quarters of 2014; in the 3Q/14, shipments were at their lowest level since 2011. Export volumes for the Asian market have followed a more positive trend, with increased shipments for six consecutive quarters.

British Columbia's pellet shipments overseas will likely remain stable during most of 2015 until the first of five announced pellet mills starts commercial operation late in 2015 or early 2016. There are currently plans to add over 800,000 tons of pellet capacity in the province during 2015/16 with South Korea being the target market (read more about the expansion plans in the NAWFR, www.woodprices.com).

In the US, pellet exports continue to be dominated by bulk shipments out of the US South to Europe, with only minor container volumes primarily shipped from the US West Coast to Asia. The US overseas pellet exports rose to over one million tons in the 3Q/14, with the growth in shipments having continued without pause since late in 2011.

The North American Wood Fiber Review has tracked wood fiber markets in the US and Canada for over 20 years and it is the only publication that includes prices for sawlogs, pulpwood, wood chips and biomass in North America. The 36-page quarterly report includes wood market updates for 15 regions on the continent in addition to the latest export statistics for sawlogs, wood pellets and wood chips.
- See more at: http://www.canadianbiomassmagazine.ca/pellets/rise-in-pellet-exports-to-asia-5069#sthash.1UxGPLHv.dpuf

Source : http://www.canadianbiomassmagazine.ca/pellets/rise-in-pellet-exports-to-asia-5069

Ujicoba Boiler Biomasa dan Pemilihan Bahan Bakar Biomasa yang Sesuai

Seiring dengan trend dekarbonisasi dan sustainibility diberbagai sektor kehidupan, khususnya di industri-industri pengolahan (industri manuf...