Tampilkan postingan dengan label produktivitas sawit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label produktivitas sawit. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Agustus 2026

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organisme lainnya yang menyediakan unsur hara secara alami. Penggunaan pupuk kimia secara terus menerus tanpa diimbangi penambahan bahan organik akan mengurangi populasi mikroorganisme tanah. Dalam jangka panjang kondisi tersebut membuat tanah semakin keras, kemampuan menyediakan unsur hara menurun, dan tanaman semakin tergantung pada pupuk kimia. Akibatnya, biaya produksi terus meningkat sementara kualitas lahan terus menurun. 

Industri sawit ke depan tidak lagi semata-mata berbicara mengenai peningkatan produksi, tetapi juga dituntut mampu menunjukkan bahwa produktivitas dapat berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan penerimaan sosial masyarakat. Perkebunan sawit harus berpijak pada tiga pilar keberlanjutan, yakni memberikan keuntungan ekonomi, diterima secara sosial serta menjaga kelestarian lingkungan. Prinsip tersebut juga menjadi arah penerapan Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). Pemupukan berimbang dengan mengombinasikan pupuk kimia / anorganik dan organik, sebagai salah satu solusi.

Kedua jenis pupuk tersebut memiliki fungsi saling melengkapi. Pupuk kimia / anorganik mampu menyediakan unsur hara secara cepat, sedangkan pupuk organik berperan memperbaki struktur dan kesehatan tanah sehingga produktivitas dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Kombinasi keduanya secara baik akan mampu menjaga produktivitas tetap tinggi sekaligus menjaga keberlanjutan lahan. Plus faktor yang tidak kalah penting adalah penggunaan bibit unggul yang bersertifikat atau jelas sumber dan kualitasnya. Jika bibitnya salah, dipupuk sebagus apapun hasilnya tidak akan optimal. 

Biochar bukan pupuk sehingga kandungan nutrisinya juga sangat sedikit. Memang ada sejumlah biochar yang memiliki kandungan nutrisi cukup tinggi, tetapi itu perkecualian atau bonus saja. Biochar merupakan bahan organik sehingga ramah lingkungan dan dari sumber terbarukan. Penggunaan biochar juga akan meningkatkan efisiensi pemupukan atau peningkatan NUE (nutrient use efficiency) baik itu pupuk kimia / anorganik maupun pupuk organik. Hal ini karena penggunaan biochar juga membuat pupuk menjadi lepas lambat (slow release) sehingga bisa lebih menyesuaikan dengan kebutuhan tanaman, untuk lebih detail baca disini.  

Dan terkait kesehatan tanah biochar sangat mendukung hal tersebut karena baik sifat fisika, kimia dan biologi cocok. Sebagai sifat fisika yang memiliki porositas tinggi dan bulk density rendah, lalu sifat kimia yakni kapasitas tukar kation (KTK) yang tinggi, tingkat keasaman (pH) bersifat basa dan stabilitas karbon tinggi, lalu sifat biologi seperti menjadi rumah mikroorganisme (habitat), dan menstimulasi aktivitas enzim tanah. Selain itu biochar juga mampu mengikat zat beracun. Hal ini karena biochar memiliki kemampuan adsorpsi yang kuat untuk menyerap logam berat (seperti timbal atau kadmium) serta sisa-sisa pestisida kimia di dalam tanah. Zat berbahaya tersebut dikunci di dalam pori-pori biochar sehingga tidak terserap oleh akar tanaman. Lebih detail tentang parameter kualitas biochar, baca disini.   

Aplikasi biochar juga menjadi solusi iklim. Biochar bisa menyimpan karbon hingga ratusan tahun di dalam tanah. Setiap ton biochar bisa menyimpan hingga 3 ton karbon / CO2 ekuivalen. Hal tersebut sehingga sangat memungkinkan untuk mendapatkan carbon credits. Untuk itu produsen-produsen biochar harus menggunakan metodologi yang dibuat oleh lembaga-lembaga karbon standar seperti Verra, Puro, CSI (Carbon Standard International), Isometric dan sebagainya. Dengan penggunaan biochar, aplikasi pupuk menjadi optimal, ramah lingkungan dan sehingga penerimaan sosial masyarakat semakin baik. Secara ekonomi penggunaan biochar juga bisa sangat menguntungkan. Jadi terkait biochar,, kesehatan tanah dan keberlanjutan produktivitas sawit, biochar sangat cocok dan relevan sehingga perlu banyak disosialisasikan dan ditingkatkan penggunaannya.   

 

Kalau tanahnya sehat, pupuk menjadi lebih efisien. Tidak perlu selalu menggunakan dosis tinggi, tetapi produktivias tetap bisa meningkat karena tanah bekerja secara alami. Perubahan paradigma bahwa keberlanjutan produktivitas justru ditentukan oleh kesehatan tanah, bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Pasar global kini semakin memperhatkan bagaimana sebuah komoditas diproduksi, sehingga praktik budidaya yang ramah lingkungan menjadi bagian dari daya saing sawit Indonesia. Ketika praktik budidaya yang baik mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi dan juga sekaligus tetap menjaga kelestarian lingkungan untuk keberlanjutan, maka ini tentu menjadi model untuk percontohan. 

Jumat, 15 Mei 2026

Bisnis Export Cangkang Sawit dan Varietas Baru Bibit Unggul Sawit

Loading cangkang sawit / pks untuk export

Kebutuhan bahan bakar biomasa sebagai energi terbarukan termasuk cangkang sawit semakin besar seiring trend dekarbonisasi global. Demikian juga penggunaan biofuel seperti biodiesel juga terus meningkat. Bahan bakar biomasa seperti cangkang sawit dan biofuel seperti biodiesel adalah produk bioenergi yang merupakan bahan bakar karbon netral. Dan dari pohon sawit kedua-duanya bisa dihasilkan. Produksi biofuel seperti biodiesel penggunaanya adalah untuk sektor transportasi, sedangkan bahan bakar biomasa seperti cangkang sawit adalah untuk pembangkit listrik atau bahan bakar boiler industri. Dan dari pohon sawit dihasilkan produk utama berupa minyak sedamgkan cangkang sebagai produk samping atau limbah seperti halnya tandan kosong dan sabut. 

Seiring waktu kebutuhan minyak sawit juga semakin besar, sebanding dengan peningkatan jumlah penduduk, dan bahkan penggunaan untuk sektor energi (biofuel) lebih besar dibandingkan sektor pangan. Bahkan untuk stabilisasi harga atau menghindari fluktiasi yang tajam hara minyak sawit pemerintah Indonesia mencanangkan program B-50 yaitu 50% biodiesel dari minyak sawit dan 50% minyak diesel dari minyak bumi. Dengan progarm B-50 tersebut maka kebutuhan minyak sawit semain besar atau memingkat sekitar 20% dari produksi rata-rata saat ini.

Hal ini sehingga produktivitas kelapa sawit harus ditingkatkan. Upaya tersebut salah satunya dengan bibit unggul. Dengan memaksimalkan produksi CPO yang berasal dari sabut (mesocarp fiber) maka bibit unggul tersebut memiliki sabut yang tebal, cangkang yang tipis bahjakan tiak bercangkang dan kernel yang kecil. Varietas psifera dengan berbagai nama-nama unik oleh produsen bibit tersebut menjadi pilihan untuk tujuan tersebut. Bahkan bibit-bibit unggul tersebut juga bersertifikat untuk meyakinkan pengguna akan kualitas bibit tersebut.  

Cangkang sawit yang awalnya tebal yakni dari varietas dura, dan ini adalah favorit dan paling dicari oleh expoter cangkang sawit untuk pemakaian di pembangkit listrik, secara bertahap akan berkurang. Tetapi kalau dilihat dari lambatnya program replanting dan minimnya upaya ekstensifikasi maka pergantian cangkang sawit dari dura ke psifera ini akan lama. Exporter cangkang sawit masih bisa cukup aman untuk mengeksport cangkang sawit tebal varietas dura. Cangkang sawit tipe tenera yang tidak terlalu tipis sebagai transisi ke psifera mungkin akan lebih banyak ditemui.

Jika suatu ketika cangkang sawit psifera yang sangat tipis sudah umum ditemui maka nilai kalornya rendah dan kurang disukai untuk aplikasi energi. Jika itu terjadi maka perlu treatment khusus sehingga cangkang sawit psifera tersebut bisa digunakan untuk energi lebih layak (teknis dan ekonomis) yakni dengan pemadatan / densifikasi maupun diolah dengan proses torefaksi atau pirolisis sehingga fixed carbon atau nilai kalor lebih tinggi. Dan bahkan selanjutnya bisa dipadatkan / densifikasi menjadi pellet atau briket.    

Jumat, 24 April 2026

Peran Biochar untuk Meningkatkan Produktivitas Sawit, Diantara Penggunaan Bibit Unggul dan Replanting

Produktivitas kelapa sawit terus dipacu hingga ke titik paling optimalnya. Hal ini karena untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat khususnya program mandatory biodiesel B-50. Tentu upaya optimalisasi produktivitas tersebut tidak mudah dan instant. Walaupun poin kunci untuk realisasinya juga telah dipetakan yakni dengan replanting/peremajaan sawit tua, penggunaan bibit unggul dan intensifikasi, tetapi prakteknya juga butuh metode atau approach yang tepat dan butuh waktu.  Replanting/peremajaan sawit tua masih sangat lambat dan banyak kendala, sedangkan penggunaan bibit unggul lebih mendapat perhatian dan terus didorong. Analogi penggunaan bibit unggul ini seperti perbandingan sapi lokal dan ras unggul. Sehingga sebagus apapun perawatan sapi Jawa, bobotnya tidak akan menyamai sapi limousin. Demikian juga dengan bibit kelapa sawit.

Upaya intensifikasi lahan melalui optimalisasi input, teknologi, dan metode budidaya modern juga masih perlu dikembangkan. Sedangkan ekstensifikasi atau perluasan lahan sebisa mungkin dihindari atau diperlambat, untuk lebih detail baca disini. Biochar bisa memiliki peran penting di area intensifikasi tersebut. Selain aplikasi biochar akan meningkatkan kesehatan tanah, yang menjadi prasyarat penting suatu tanaman bisa berproduktivitas secara optimal, juga sangat ramah lingkungan karena bahan baku biochar dari sumber terbarukan yakni biomasa dan meningkatkan efisiensi pemupukan (NUE = Nutrient Use Efficiency). Dan bahkan aplikasi biochar juga sebagai solusi iklim yakni sebagai carbon sequestration. Optimalisasi produktivitas bisa dilakukan dengan cara aplikasi biochar plus penggunaan bibit unggul dengan metode pertanian yang modern dan ramah lingkungan. Jadi memang pada dasarnya optimalisasi tersebut merupakan upaya yang komprehensif dan terukur. 

Indonesia berkontribusi 25% terhadap suplai minyak nabati dunia, menjadikannya aktor kunci dalam stabilitas pasokan minyak nabati dunia. Dengan posisi tersebut, setiap perubahan dalam produksi, kebijakan export maupun dinamika domestik Indonesia akan langsung berdampak pada harga dan keseimbagan pasar internasional. Indonesia saat ini memang produsen kelapa sawit terbesar atau rangking satu di dunia tetapi bukan yang terunggul atau yang paling produktif karena produktivitasnya belum optimal. Dibanding negara tetangga saja yakni dengan Malaysia masih kalah dan sedikit lebih unggul dari Thailand padahal faktor geografi yakni iklim di Indonesia jauh lebih mendukung. Saat ini produktivitas CPO Indonesia berkisar 3,3 ton/hektar sedangkan Malaysia berkisar 3,8 ton/hektar sedangkan Thailand berkisar 3 ton/hektar.  

Yield gap yakni selisih atau kesenjangan antara produksi aktual dengan potensi produksi maksimal kadang cukup besar. Beberapa faktor utama yang memicu yield gap antara lain faktor lingkungan yang tidak optimal seperti kondisi kekeringan, hingga kesalahan dalam praktik budidaya seperti kesalahan dalam pembukaan lahan dan penanaman, serta ketidaktepatan dalam diagnosis dan rekomendasi pemupukan. Yield gap ini harus diminimalisir sehingga produktivitas sawit bisa dimaksimalkan. 

Peran biochar kadang tidak bisa ditemukan atau terlihat langsung pada berbagai upaya peningkatan produktivitas sawit tersebut tetapi aplikasi biochar sangat sejalan dengan tujuan tersebut. Sebagai contoh keberhasilan program replanting / peremajaan sawit bergantung antara lain pada kualitas bibit, pemupukan, populasi tanaman, dan kesehatan tanah. Faktor kesehatan tanah dan pemupukan tersebut bisa sangat erat kaitannya dengan biochar.  Dan terkait dengan biofungisida untuk mengatasi gangguan jamur ganoderma, biochar bisa digunakan sebagai carrier yang diformulasikan dengan unsur-unsur lainnya seperti humus, asam amino, humat, hormon dan sebagainya. Dan karena memang satu-satunya cara efektif mengendalikan jamur ganoderma adalah memasukkan musuh alaminya berupa biofungisida berbasis trichoderma spp, dan fungi mikoriza arbuskular ke dalam tanah.  Tetapi memang juga masih banyak pihak yang belum memiliki pengetahuan yang memadai untuk aplikasi biochar ini. 

Selain mengenjot produksi, penerapan praktik pengelolaan terbaik juga penting untuk memenuhi standar keberlanjutan di tengah meningkatnya tekanan dari isu lingkungan. Dan aplikasi biochar sangat sejalan dengan poin tersebut.  Bahkan terkait teknologi sawit rendah karbon dalam aplikasi biochar sangat relevan pada CECC (Controlled Emission Composting Chamber) dan lebih detail untuk aplikasi biochar untuk pengomposan baca disini. Sedangkan trend pemupukan di perkebunan sawit dengan aplikasi pupuk lepas lambat (slow release fertilizer) juga sangat relevan dengan biochar, untuk lebih detail baca disini. 

Minggu, 12 April 2026

Target Replanting Kebun Sawit Indonesia 2026 dan Solusi Pemanfaatan Limbah Batang Sawit

Kondisi produktivitas sawit nasional Indonesia yang stagnan perlu solusi segera. Apabila kondisi ini tidak bisa segera ditangani maka pada masa-masa mendatang produktivitas sawit Indonesia bahkan akan menurun. Kondisi tersebut tidak diinginkan mengingat kebutuhan sawit sebagai bagian minyak nabati semakin meningkat termasuk penggunaan untuk biofuel yakni biodiesel. Pencanangan program biodiesel – B50 menuntut produkstivitas sawit tersebut. Tetapi juga ada pertanyaan kenapa harus sawit, apakah tidak ada tanaman lain yang bisa menghasilkan minyak dengan yield setara untuk produksi biodiesel tersebut ? Nyamplung adalah kandidat kuat untuk hal tersebut, lebih detail baca disini.

Pada sawit poduktivitas tersebut bisa ditingkatkan dengan cara penggunaan bibit unggul, peremajaan kebun / replanting dan intensifikasi lahan. Secara luas lahan, peremajaan / replanting kebun sawit dengan target idealnya yakni 5% per tahun sangat besar. Dengan luas lahan kebun sawit Indonesia 16,8 juta hektar saaat ini, itu berarti 0,84 juta hektar per tahun. Selain biaya yang dibutuhkan besar tetapi juga produksi limbah biomasa atau batang sawit yang dihasilkan juga sangat besar. Tentu itu potensi untuk industri berbasis bioekonomi atau sirkular ekonomi yang ramah lingkungan.  

Dengan luas kebun sawit Indonesia sekitar 16,8 juta hektar, 9 juta hektar dengan dikelola oleh perusahaan swasta, 550 ribu hektar dimiliki oleh perusahaan negara (PTPN), 6,1 juta hektar milik perkebunan rakyat atau petani kecil dan sisanya belum terverifikasi. Dan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (2024), tercatat 10 provinsi di Indonesia dengan perkebunan sawit terluas berturut-turut yakni provinsi Riau dengan 3,49 juta ha, provinsi Kalimantan Tengah dengan 2,03 juta ha, provinsi Sumatera Utara dengan 2,01 juta ha, provinsi Kalimantan Barat dengan 1,82 juta ha, provinsi Sumatera Selatan dengan 1,40 juta ha, provinsi Kalimantan Timur dengan 1,32 juta ha, provinsi Jambi dengan 1,19 juta ha, provinsi Kalimantan Selatan 497,2 ribu ha, provinsi Aceh dengan 487,5 ribu ha, dan provinsi Sumatera Barat dengan 379,6 ribu ha. Dan total ada 26 provnsi di Indonesia sebagai sentra perkebunan sawit tersebut.  

Indutstri kelapa sawit sebagai salah satu industri strategis nasional mendapat banyak dukungan dari pemerintah termasuk PSR tetap menjadi program strategis nasional meski realisasinya belum mencapai target. Sumatera Selatan sebagai salah satu sentra perkebunan sawit nasional dan sekaligus tercatat realisasi PSR tertinggi. Realisasi PSR 2025 sekitar 40.000 hektar atau 33% (sepertiga) dari target 120.000 ha. Ada kenaikan tipis dibanding tahun 2024 yang hanya 31% dari target tahun tersebut. Khusus Sumatera Selatan sejak 2017 hingga 2025 telah melakukan peremajaan / replanting kebun sawit sekitar 75.000 ha kebun sawit rakyat. 

Tahun 2026 ini pemerintah menargetkan PSR nasional seluas 50.000 ha, angka jauh lebih realistis dibanding tahun-tahun sebelumnya dan provinsi Sumatera Selatan ditargetkan 5.750 ha. Dan sebenarnya dengan luasan lahan kebun sawit Indonesia, target 2024 dan 2025 yang mencapai 120.000 tersebut sangat rendah, apalagi tahun 2026 yang hanya 50.000 ha. Dengan kondisi tersebut maka upaya yang bisa digenjot untuk menaikkan produktivitas kelapa sawit nasional adalah dari penggunaan bibit unggul dan intensifikasi lahan. 

Selain itu masalah ganoderma bisa menyebabkan kematian pohon sawit. Ganoderma yang disebabkan infeksi jamur Ganoderma boninense menyerang melalui sistem perakaran kelapa sawit sehingga sistem transportasi nutrisi dan air terganggu. Prosesnya sangat perlahan dan baru terdeteksi ketika infeksi sudah parah yang tampak dari daun menguning, tajuk tanaman merunduk bahkan kematian tanaman. Limbah batang terinfeksi jamur ganoderma harus disingkirkan atau dimusnahkan dari kebun untuk pencegahan penularan lanjut. Seperti halnya limbah batang sawit dari perejamaan / replanting kebun sawit limbah ini juga harus dikelola dengan baik. 

Masalah limbah biomasa dari pohon sawit yang mencapai ribuan hektar juga menjadi tantangan tersendiri. Dengan volume pohon sawit tua yang sangat besar maka pemanfaatan menjadi produk yang bernilai tambah penting dilakukan. Dengan volume yang sangat besar tersebut maka pabrik atau industri pengolahan biomasa bisa didirikan dan beroperasi secara maksimal, tanpa khawatir kekurangan bahan baku. Produk-produk seperti pellet, briquette dan biochar dari limbah biomasa batang sawit tua tersebut. Batang sawit tua yang mati dan biasa ditinggal begitu saja di lahan semestinya dimanfaatkan untuk menjadi produk-produk yang bermanfaat dan bernilai tambah tersebut. 

Seperti pada diagram di atas bahwa potensi pemanfaatan limbah biomasa khususnya batang sawit sangat besar. Pada masa mendatang bioekonomi industrialisasi menjadi berbabagi produk-produk tersebut sangat mungkin dikembangkan. Jangan sampai limbah batang sawit hanya mencemari lingkungan dan malah menambah biaya bagi petani sawit, tetapi sebaliknya menjadi bahan baku industri yang menghasilkan keuntungan.   

Senin, 03 November 2025

OPT Pellet untuk Biomass Power Plant dan BECCS di Jepang dan Eropa

Sebagai daerah tropis surga biomasa maka ada banyak sumber bisa dimanfaatkan untuk produksi biomass pellet khususnya OPT pellet atau pellet batang sawit. Dan tentunya potensi tersebut bisa sejalan dengan upaya dekarbonisasi global untuk penyelamatan bumi dari peruabahan ikim dan pemanasan global.  Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia saat ini dengan luas kebun sawit mencapai sekitar 17 juta hektar. Dari luasan tersebut, sebanyak 9 juta hektar dikelola oleh perusahaan swasta, 550 ribu  hektar dimiliki perusahaan negara (PTPN), 6,1 juta hektar dimiliki oleh perkebunan rakyat atau petani kecil dan sisanya belum terverifikasi. Terjadi stagnasi produktivitas minyak sawit atau CPO  5 tahun ini karena lambatnya replanting perkebunan sawit, yakni dikisaran 45 juta ton/tahun. Hal inilah sehingga replanting khususnya pada perkebunan rakyat atau petani kecil harus digalakkan. 

Sebagian besar perusahaan sawit yang tergabung di GAPKI telah melakukan replanting secara berkala atau setiap tahun sekali dengan luasan 4-5%. Perusahaan sawit yang menjadi anggota GAPKI adalah 731, sedangkan menurut BPS 2023 jumlah perusahaan kelapa sawit di Indonesia mencapai 2.446 perusahaan, yang tersebar di 26 provinsi. Sedangkan pada perkebunan sawit rakyat, replanting sangat kecil yakni pada tahun 2024 saja dengan target 180.000 hektar (sekitar 3% dari perkebunan sawit rakyat) tetapi yang terealisasi kurang dari 40.000 hektar (0,7% dari perkebunan sawit rakyat) dan bahkan karena saking jauhnya dari target yang dicanangkan pada tahun 2025 target pemerintah untuk replanting kebun sawit rakyat diturunkan menjadi 120.000 hektar saja (sekitar 2% dari perkebunan sawit rakyat). 

Dengan rata-rata setiap hektar kebun sawit terdiri 125 pohon dan setiap pohonnya memiliki rata-rata berat kering 0,4 ton, maka per hektar di dapat 50 ton berat kering biomasa. Untuk luasan 10 ribu hektar menjadi 0,5 juta ton berat kering dan untuk luasan 100 ribu hektar berarti mencapai 5 juta ton berat kering. Atau jika perkiraan optimis Indonesia bisa melakukan 5% replanting atau 820 ribu hektar berarti ada 41 juta ton berat kering biomasa per tahun dan juga Malaysia dengan 5% replanting atau 285 ribu hektar akan dihasilkan 14,25 juta ton berat kering per tahun.  

Untuk perhitungan yang lebih praktis, kita ambil rata-rata group perusahaan sawit di Indonesia dengan 5 pabrik sawit dan 50.000 hektar kebun sawit. Dengan replanting pertahun seluas 5% dari total kebunnya maka setiap tahun dilakukan replanting seluas 2.500 hektar. Dari replanting tersebut akan dihasilkan batang sawit kering sebanyak 125.000 ton. Selanjutnya dari jumlah tersebut akan dibuat pellet batang sawit atau OPT pellet dengan asumsi kehilangan bahan sewaktu proses produksi 3% sehingga dihasilkan OPT pellet sebanyak 121.250 ton/tahun. Apabila digunakan handymax vesssel yang berkapasitas 25.000 ton/shipment maka dibutuhkan 5 kali pengapalan atau dengan panamax vessel yang berkapasitas 50.000 ton/shipment dibutuhkan 2 kali pengapalan plus 1 kali dengan handymax vessel.  Atau bisa juga dengan vessel berkapasitas 10.000 ton/shipment berarti dibutuhkan sekitar 12 kali pengapalan per tahun.  Pengapalan dengan kapasitas besar handymax dan panamax vessel cocok untuk pasar Eropa sedangkan vessel lebih kecil yakni 10.000 ton/shipment cocok untuk pasar Jepang.

Jepang, dengan jumlah sekitar 290 pembangkit listrik biomasa (biomass power plant) maka secara teknis mestinya untuk menuju BECCS bisa lebih cepat, tinggal nanti bagaimana di sisi policy/regulation. Pemasangan unit CCS (Carbon Capture and Storage) di unit pembangkit listrik biomasa membuat operasional pembangkit tersebut carbon negative atau sebagai penghilangan karbon (carbon (dioxide) removal / CDR) atau Greenhouse Gas Removals (GGR). Selain itu di Eropa ada contoh sukses untuk penerapan BECCS ini yakni proyek Stockholm Exergi BECCS.  Proyek Stockholm ini berbasis bahan bakar biomassa dari sumber yang berkelanjutan, berhasil mendapatkan salah satu kesepakatan penyerapan karbon terbesar di dunia dengan Microsoft.   

Selain itu dari sisi kebijakan sejumlah dukungan untuk pembangkit listrik biomasa dengan CCS / BECCS atau yang mampu melakukan CDR / GGR juga meningkat seperti di Inggris/ UK, seperti misalnya perpanjangan dukungan kepada pempbangkit listrik biomasa tanpa batas untuk memberikan waktu bagi pembangkit untuk beralih ke BECCS. Termasuk modifikasi dan perbaikan (retrofitting) pembangkit yang ada akan menghilangkan jutaan ton CO2 per tahun dengan tetap menghasilkan produksi listrik dari sumber terbarukan. Dan potensi tersebut hanya bisa dimaksimalkan apabila ada dukungan pemerintah untuk bertransisi ke sektor BECCS tersebut.  

Kamis, 30 Oktober 2025

Replanting Kebun Sawit di Indonesia untuk Menjaga Produktivitas Sawit dan Potensi Pemanfaatan Limbah Biomasa Batang Sawit

Salah satu upaya menjaga atau bahkan meningkatkan produktivitas kebun sawit adalah dengan replanting atau peremajaan kebun sawit dan untuk maksud tersebut maka replanting mutlak diperlukan. Pohon-pohon sawit tua akan menurun produktivitasnya menjadi sangat rendah sehingga tidak ekonomis. Sesuai dengan penanaman pohon sawit yang dilakukan bertahap maka replanting kebun sawit juga dilakukan bertahap dan periodik. Selanjutnya penggunaan bibit unggul juga dibutuhkan, dan untuk menghasilkan bibit sawit unggul salah satunya dengan menggunakan media tanam berkualitas yakni salah satunya dengan penggunaan biochar, untuk lebih detail baca disini. 

Perusahaan-perusahaan sawit pada umumnya telah melakukan replanting secara berkala yakni setiap tahunnya dengan luasan 4-5% dari total lahannya. Sedangkan untuk petani kecil pada umumnya belum melakukan replanting secara semestinya. Hal ini karena faktor biaya untuk melakukan replanting serta waktu tunggu 4-5 tahun untuk bisa berbuah lagi. Tetapi karena secara alamiah pohon sawit tua akan menurun produktivitasnya walaupun dengan ditambah pupuknya, maka solusinya hanyalah dengan replanting tersebut. Dengan luas kebun sawit Indonesia sekitar 16,8 juta hektar, 9 juta hektar dengan dikelola oleh perusahaan swasta, 550 ribu hektar dimiliki oleh perusahaan negara (PTPN), 6,1 juta hektar milik perkebunan rakyat atau petani kecil dan sisanya belum terverifikasi. Dan khusus replanting, pemerintah menargetkan untuk replanting 180.000 hektar per tahun untuk perkebunan rakyat atau petani kecil, tetapi pada tahun 2024 hanya 38.244 hektar saja yang terealisasi atau masih sangat jauh dari target.

 

Bahkan pada tahun 2025, implementasi program replanting juga masih rendah, yakni pada kuartal pertama hanya 11.777 hektar saja. Berdasarkan kenyataan itu pemerintah akhirnya menurunkan target replanting dari 180.000 hektar per tahun menjadi 120.000 hektar per tahun. Untuk mengakselerasi program replanting, pemerintah bisa memberikan tambahan dana replanting kepada petani kecil. Tambahan dana tersebut idealnya diperoleh dari keuntungan usaha, yakni usaha pemanfaatan limbah batang sawit tersebut. Ada aneka bentuk produk berbasis biomasa yang dihasilkan dari pengolahan batang sawit tersebut. 

Untuk bisnis berbasis pemanfaatan batang sawit, faktor kesiapan bisnis ditinjau dari teknologi dan pasar atau pengguna produk tersebut perlu dikaji secara seksama. Dengan rata-rata setiap hektar kebun sawit terdiri 125 pohon dan setiap pohonnya memiliki rata-rata berat kering 0,4 ton, maka per hektar di dapat 50 ton berat kering biomasa. Untuk luasan 10 ribu hektar menjadi 0,5 juta ton berat kering dan untuk luasan 100 ribu hektar berarti mencapai 5 juta ton berat kering. Atau jika perkiraan optimis Indonesia bisa melakukan 5% replanting atau 820 ribu hektar berarti ada 41 juta ton berat kering biomasa per tahun dan juga Malaysia dengan 5% replanting atau 285 ribu hektar akan dihasilkan 14,25 juta ton berat kering per tahun.

Masalah limbah biomasa dari pohon sawit yang mencapai ribuan hektar juga menjadi tantangan tersendiri. Dengan volume pohon sawit tua yang sangat besar maka pemanfaatan menjadi produk yang bernilai tambah penting dilakukan. Dengan volume yang sangat besar tersebut maka pabrik atau industri pengolahan biomasa bisa didirikan dan beroperasi secara maksimal, tanpa khawatir kekurangan bahan baku. Produk-produk seperti pellet, briquette dan biochar dari limbah biomasa batang sawit tua tersebut. Batang sawit tua yang mati dan biasa ditinggal begitu saja di lahan semestinya dimanfaatkan untuk menjadi produk-produk yang bermanfaat dan bernilai tambah tersebut. 

Presentasi terkait replanting sawit klik disini. 

Senin, 15 September 2025

Biochar untuk Produktivitas Kelapa Berkelanjutan

Sabut kelapa menempati porsi 30% atau sekitar sepertiga dari berat buah kelapa. Bahan ini pada umumnya hanya ditinggal di kebun dan sebagian besar masih belum dimanfaatkan sehingga malah cenderung mencemari lingkungan. Dengan produksi kelapa Indonesia yang mencapai sekitar 2,9 juta ton per tahun atau 15,13 butir per tahun, maka potensi sabut kelapa yang dihasilkan sangat besar yakni sekitar. 1 juta ton basah (kadar air rata-rata 60%) atau 500 ribu ton kering (kadar air 10%). 

Jumlah sabut kelapa ini hampir tidak terpengaruh oleh kebijakan export kelapa bulat oleh pemerintah terutama untuk tujuan ke China akhir-akhir ini, seperti video ini. Banyak industri berbasis kelapa yang kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku bahkan hingga menutup pabriknya. Industri-indstri seperti dessicated coconut, santan, arang tempurung dan briket arang, serta activated carbon sangat terpengaruh oleh kebijakan tersebut. Menjual produk olahan atau produk-produk turunan kelapa yang melalui proses industrialisasi jelas akan memberi nilai tambah lebih besar dan menciptakan lapangan kerja. Dan negara-negara maju juga tidak mengeksport bahan mentah, tapi barang jadi atau minimal barang setengah jadi. 

Industrialisasi produk berbasis kelapa sangat penting dilakukan. Seperti halnya kelapa sawit, produk-produk pengolahan kelapa terutama untuk produk pangan. Pemanfaatan untuk energi atau biofuel juga sangat dimungkinkan, seperti untuk bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau SAF (Sustainable Aviation Fuel). Bahkan pada minyak sawit penggunaan untuk biofuel berupa campuran wajib minyak sawit dari CPO (crude palm oil) dalam biodiesel 40% (B40) tahun ini dan sedang dikaji menjadi 50% (B50) pada tahun 2026, serta minyak sawit dari PKO (palm kernel oil) untuk campuran 3% untuk bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau SAF pada tahun 2026. Kandungan utama minyak kelapa berupa asam laurat sama seperti minyak kernel sawit atau PKO. Asam laurat yang terdiri 12  atom karbon (C) atau MCFA (medium chain fatty acid) sangat cocok untuk penggunaan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau SAF harus memiliki ikatan atom karbon atau ikatan C direntang C10-C15 , untuk lebih detail baca disini. 

Produktivitas kelapa terus menurun akibat kurang atau lambatnya program replanting, kasus serupa juga dialami oleh kelapa sawit untuk lebih detail baca disini, dan ini menjadi kendala tersendiri. Luas kebun kelapa yang perlu direplanting juga mencapai puluhan bahkan ratusan ribu hektar, sebagai contoh untuk provinsi Riau ditargetkan 43.388 hektar kebun kelapa akan diremajakan pada tahun 2025. Selain produktivitas kelapa bisa ditingkatkan dengan penggunaan bibit unggul, intensifikasi juga perlu dilakukan. Produktivitas kelapa yang tinggi dan harga jual yang tinggi menjadi dorong untuk replanting tersebut.  

Pemanfaatan atau produksi biochar dari sabut kelapa adalah solusi untuk meningkatkan produktivitas kelapa berkelanjutan. Penggunaan biochar juga bisa sangat mendukung untuk perkebunan kelapa organik. Walaupun pada umumnya pohon kelapa tidak dipupuk secara memadai bahkan tidak dipupuk sama sekali tetapi masih tetap berbuah, dengan biochar pemakaian pupuk akan semakin efisien. Hal ini karena biochar adalah sebagai slow release fertilizer agent. Terkait pemupukan, pada kelapa berbeda 180 derajat dengan kelapa sawit yang pemupukan harus dilakukan sehingga pohon sawit bisa berbuah dan ketergantungan dengan pupuk kimia yang tinggi. Bahkan pada perkebunan sawit komponen biaya tertinggi adalah pemupukan itu sendiri. Produk kelapa organik akan menghasilkan produk-produk turunan yang disukai dan harga jual tinggi. 

Potensi pendapatan dari karbon kredit juga akan sangat menarik. Untuk mendapatkan carbon credit atau BCR (Biochar Carbon Removal) credit maka aplikasi biochar termasuk proses produksi harus diverifikasi oleh lembaga karbon standar. Lembaga karbon standar seperti Puro Earth, Verra dan CSI mengembangkan suatu metodologi yang harus diikuti oleh produsen biochar untuk mendapatkan carbon credit tersebut.  

Minggu, 31 Agustus 2025

Replanting Kebun Sawit dan Pemanfaatan Limbah Batang Sawit Tua (Versi Presentasi)

Tanaman tua menjadi salah satu faktor menurunnya produktivitas kelapa sawit. Pohon sawit mulai terjadi penurunan produktivitas setelah 20 tahun dan perlu diganti setelah 25 tahun. Hal ini sehingga peremajaan atau replanting harus dilakukan berkala sesuai umur tanaman tersebut.

Disamping itu kebutuhan minyak sawit terus seiring meningkat pertumbuhan jumlah penduduk dunia. Untuk pasar domestik atau dalam negeri, penggunaan untuk biofuel berupa campuran wajib minyak sawit dalam biodiesel 40% (B40) tahun ini dan sedang dikaji menjadi 50% (B50) pada tahun 2026, serta untuk campuran 3% untuk bahan bakar jet pada tahun 2026, selanjutnya untuk pasar internasional juga kebutuhannya terus meningkat. Tujuan utama minyak sawit dari Indonesia yakni India, China, Pakistan, Bangladesh, Amerika Serikat,  Belanda, Spanyol, Italia, Mesir dan Afrika Selatan.  

Replanting kebun sawit menjadi sangat penting dilakukan karena akan bisa menjaga produktvitas kelapa sawit berkelanjutan dan menghindari atau mengurangi deforestasi untuk lahan baru. Potensi volume limbah batang sawit tua yang dihasilkan sangat besar dan juga ada banyak opsi pemanfaatannya seperti bioenergy, biocarbon, biomaterial, biofuel dan biochemical.

Untuk membaca dan mendapatkan presentasinya, silahkan download disini.    

Senin, 11 Agustus 2025

Biochar untuk Produktivitas Kelapa Sawit Berkelanjutan

Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya produktivitas kelapa sawit berkelanjutan untuk ketahanan pangan dan energi, yang disampaikan oleh Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, pada pembukaan ICOPE (International Conference on Palm Oil and Environment) di Sanur, Bali, pertengahan Februari 2025. Konferensi yang dihadiri oleh delegasi berbagai negara yakni Indonesia, Malaysia, India, Belanda, Prancis, Finlandia, Kolombia dan Spanyol bertujuan sebagai untuk merumuskan transformasi berkelanjutan bagi industri sawit. Produktivitas kelapa sawit berkelanjutan tersebut bisa ditingkatkan dengan intensifikasi lahan dan penggunaan bibit unggul. Bahkan jika perluasan lahan harus dilakukan, maka hal tersebut harus dilakukan tanpa menyebabkan deforestasi. Sedangkan untuk replanting di lahan kering, juga bisa digabungkan dengan padi gogo atau jagung dengan metode tumpang sari.

Biochar solusi jitu 
Produktivitas kelapa sawit dapat ditingkatkan dengan peningkatan efisiensi penggunaan pupuk atau NUE (Nutrients Use Efficiency) dan ini bagian dari intensifikasi lahan. Dengan pemakaian dosis pupuk yang sama dengan ditambah biochar maka produktivitas sawit akan meningkat sekitar 20% atau lebih, atau dengan penghematan pupuk sekitar 30% dengan ditambah biochar maka produktivitas sawit relatif stabil atau sama dengan produktivitas sebelumnya. Terkait dengan upaya peningkatan produktivitas kelapa sawit dan ditambah dengan upaya tanpa terjadinya deforestasi maka opsi pertama lebih sesuai, yakni dosis pupuk tidak ditambah atau sama seperti biasanya, tetapi ada tambahan biochar untuk meningkatkan efisiensi pemakaian pupuk tersebut. 

Produksi CPO Indonesia saat ini mencapai sekitar 50 juta ton/tahun dengan luas lahan 16,4 juta hektar dengan rata-rata produksi CPO per hektar 3,55 ton/ha atau per satu juta hektar menghasilkan 3,55 juta ton. Apabila biochar digunakan dan terjadi kenaikan produktivitas 20% berarti terjadi kenaikan kenaikan 10 juta ton CPO / tahun (total menjadi 60 juta ton CPO/tahun) dan ini menghemat lahan sekitar 2,8 juta hektar, atau penggunaan biochar akan memperlambat pembukaan hutan untuk perkebunan sawit.

Selain dari pemakaian biochar untuk meningkatkan produktivitas kelapa sawitnya, keuntungan lain yang bisa diperoleh dari produksi biochar adalah dari potensi pendapatan carbon credit (BCR = biochar carbon removal) dan pemanfaatan produk samping dari pirolisis untuk perkebunan sawit maupun operasional pabrik sawit pada produksi CPO. Dengan cara tersebut maka ada sejumlah keuntungan bagi perusahaan sawit seperti penghematan pupuk organik cair, pestisida dan 100% canngkang sawit bisa dijual atau dieksport. Selain perusahaan sawit tersebut produksi sendiri biocharnya dengan pirolisis, dimungkinkan juga ada perusahaan tersendiri yang terpisah atau perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan sawit untuk produksi biochar dengan kesepakatan tertentu. 

Tekanan dan sorotan global bagi industri sawit untuk melakukan praktik berkelanjutan yang semakin besar. Dan ditengah melonjaknya permintaan minyak sawit untuk pasar global dan pasar domestik, peningkatan produktivitas sawit adalah sebuah keniscayaan. Dengan pemanfaatan limbah biomasa pabrik dan perkebunan sawit seperti tandan kosong dan batang sawit untuk produksi biochar dan pemakaian biochar untuk peningkatan produktivitas kelapa sawit itu sendiri maka hal ini menjadi solusi jitu dalam merespon tantangan tersebut. Bahkan untuk replanting di lahan kering, dengan padi gogo atau jagung dengan metode tumpang sari, penggunaan biochar juga akan berdampak positif dan signifikan pada tanaman tumpang sari tersebut.  

Sabtu, 02 Agustus 2025

Biochar untuk Pembibitan Kelapa Sawit bagian 2

Pada tahun 2024 Malaysia melaporkan luas replanting perkebunan sawit mereka mencapai 114.000 hektar atau 2% dari luasan kebun sawit Malaysia, dari target yang dicanangkan yakni 4% hingga 5%. Sedangkan di Indonesia diperkirakan prosentasenya lebih kecil dari Malaysia tetapi karena luasan kebun sawit Indonesia jauh lebih luas atau sekitar 3 kali Malaysia, sehingga luasannya menjadi lebih besar. Kondisi tersebut membuat produksi minyak sawit menurun karena produktivitas pohon sawit mulai menurun setelah 20 tahun dan perlu diganti atau replanting setelah 25 tahun, untuk menjaga performa produktivitas sawit tersebut. Replanting semestinya dilakukan secara periodik dengan luasan berkisar 5% dari luas kebun sawit.   

Untuk peremajaan kebun sawit (replanting) tersebut dibutuhkan bibit sawit. Jika diperkirakan saat ini replanting kebun sawit di Indonesia 300.000 hektar per tahun (atau 1,8% dari luasan kebun sawit Indonesia) maka dengan populasi kebun sawit rata-rata 125 pohon per hektar maka kebutuhan bibit sawit mencapai 37. 500.000 bibit. Dan dengan 114.000 hektar di Malaysia kebutuhan bibit sawit akan mencapai 14.250.000 bibit. Untuk menghasilkan pohon sawit berkualitas selain pemilihan varietas unggul juga termasuk pembuatan bibit di unit pembibitan sawitnya. Biochar dapat digunakan secara efektif untuk pembibitan sawit tersebut, karena membantu meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan bibit. 

Biochar yang merupakan arang hayati dari biomassa, berfungsi sebagai pembenah tanah yang meningkatkan struktur tanah, retensi air, dan ketersediaan unsur hara, serta memberikan lingkungan yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme tanah. Biochar dapat dicampurkan langsung ke media tanam saat pembibitan dengan dosis biochar yang digunakan perlu disesuaikan dengan jenis media tanam dan kebutuhan tanaman. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa aplikasi biochar pada pembibitan kelapa sawit dapat meningkatkan pertumbuhan bibit, seperti tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, dan berat kering akar. Dengan memanfaatkan biochar, pembibitan kelapa sawit dapat menjadi lebih efisien, produktif, dan ramah lingkungan. 

Dan bahkan karena media tanam bibit sawit pada umumnya menggunakan kompos, maka apabila kompos tersebut diperkaya biochar atau proses pengomposan juga menggunakan biochar maka kualitas kompos tersebut semakin baik. Keunggulan proses pengomposan menggunakan biochar antara lain meningkatkan kualitas kompos, mempercepat proses   pengomposan, mengurangi emisi gas rumah kaca berupa metana (CH4) dan nitrogen oksida (N2O), mengurangi kehilangan amonia (NH3), menambah aerasi (bulking agent) pengomposan, dan mengurangi bau. Sedangkan untuk material biochar itu sendiri, akan memperkaya biochar dengan berbagai unsur hara dan biochar tidak rusak atau terdekomposisi selama proses pengomoposan tersebut.  Jadi dengan memanfaatkan biochar dalam pengomposan, kita dapat mengolah limbah organik secara lebih efektif, menghasilkan pupuk organik berkualitas tinggi, dan berkontribusi pada praktik pertanian yang lebih berkelanjutan. 

Jumat, 28 Mei 2021

Biochar Sebagai Solusi Deforestasi Pada Perkebunan Sawit Indonesia

Pohon kelapa sawit bukan asli tanaman Indonesia tetapi berasal dari Afrika Barat dan dibawa kolonialis Belanda pada pertengahan abad 19. Pada awalnya mereka membawa 4 butir dan ditanam di kebun raya Bogor yang saat ini menjadi monumen atau tugu sawit. Perkebunan sawit pertama kali dibuat di Indonesia pada tahun sekitar awal 1900 di Sumatera Utara. Perkembangan industri sawit dan perkebunannya selanjutnya sangat pesat terutama 10 tahun dan saat ini diperkirakan luas perkebunan sawit Indonesia mencapai 15 juta hektar. Sebagai tanaman penghasil minyak nabati terbesar di dunia dan luas perkebunan sawitnya juga terbesar di dunia, tentu saja kelapa sawit memiliki nilai strategis dalam perekonomian Indonesia. Rata-rata kecepatan luas perkebunan sawit Indonesia adalah 6,5% per tahun atau ekuivalen sekitar 1 juta hektar per tahun untuk 5 tahun terakhir, sedangkan peningkatan produksi buah kelapa sawit atau TBS (tandan buah segar) rata-rata hanya 11%.  Bahkan peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2017 yakni bertambah seluas 2,8 juta hektar. Dari tahun 2015 hingga tahun 2019, total luas areal kelapa sawit bertambah seluas 3,7 juta hektar. Ekstensifikasi atau perluasan kebun sawit tersebut ternyata banyak "dituduh" dan menjadi sorotan dunia sebagai dari alih fungsi lahan hutan, sehingga banyak terjadi penggundulan hutan (deforestasi) untuk selanjutnya diubah menjadi perkebunan sawit. 

Tugu Sawit di Kebun Raya Bogor

 
Perkembangan Industri Sawit 1848 -2011
 

Tekanan dari Uni Eropa khususnya, akibat kondisi tersebut memperburuk citra minyak sawit Indonesia yang selanjutnya berpengaruh kepada harga jual minyak sawit baik CPO dan produk turunannya tersebut. Memperbaiki citra tersebut memang juga tidak mudah. Salah satu upaya yang efektif adalah menghentikan upaya ekstensifikasi tersebut sehingga lahan hutan tetap menjadi lahan hutan dan tidak berubah menjadi kebun sawit. Biochar bisa menjadi solusi efektif untuk masalah tersebut. Dengan peningkatan produktivitas tandan buah segar dari penggunaan biochar, maka perkebunan sawit baru tidak perlu dibuka lagi. Dengan asumsi terjadi kenaikkan produktivitas rata-rata 20% maka produksi CPO juga meningkat 20% atau setara 2 juta ton. Peningkatan tersebut akan setara untuk pembukaan lahan baru seluas lebih dari 2 juta hektar. Tentu bukan luas tanah yang kecil. Dengan peningkatan produksi 20% tersebut besar kemungkinan besar kebutuhan nasional untuk kebutuhan khususnya CPO telah terpenuhi dan begitu juga untuk pasar export.


Dengan ekstensifikasi lahan sawit lebih dari 1 juta per hektar setiap tahunnya tetapi kenaikan produksi buah sawit hanya 11% tentu kurang menarik dan harus dihindari apalagi ditambah sorotan dunia tentang deforestasi yang semakin kencang tersebut. Hal ini juga semakin mengindikasikan tentang rendahnya produktivitas perkebunan sawit tersebut. Padahal dengan memperbaiki kualitas tanah produktivitas buah sawit bisa dinaikkan secara signifikan dan pembukaan lahan baru untuk pembuatan kebun sawit bisa dihindari. Limbah-limbah biomasa di perkebunan sawit maupun di pabrik sawit bisa digunakan untuk produksi biochar tersebut. 

Pada pabrik sawit limbah-limbah biomasa tersebut lebih mudah diolah dengan jumlah sangat banyak khususnya tandan kosong sawit atau EFB (empty fruit bunch). Satu pabrik sawit rata-rata bisa menghasilkan 200 ton per hari limbah tandan kosong tersebut. Sedangkan di perkebunan sawit limbah biomasa seperti pelepah, daun dan batang sawit, adalah bahan baku untuk produksi biochar tersebut. Batang sawit bahkan banyak memberi dampak negatif ketika tidak diolah dengan memadai atau hanya dibiarkan membusuk di kebun tersebut sehingga memunculkan hama kumbang tanduk, untuk lebih detail baca disini. Optimalisasi pemanfaatan limbah biomasa tersebut memiliki multimanfaat, tidak hanya mencegah terjadinya polusi lingkungan oleh limbah tersebut, dan bisa digambarkan seperti skema dibawah ini.  

Ditinjau dari sisi teknologi, teknologi produksi biochar juga sangat bervariasi, dari teknologi sederhana (low tech, low cost) yang murah hingga teknologi tinggi canggih yang efisien, kontrol proses yang presisi tetapi dengan harga lebih mahal. Pada pabrik sawit akan efektif menggunakan teknologi tinggi sehingga bisa diintegrasikan dengan operasional pabrik sawit tersebut. Excess energy dari proses pyrolysis juga akan menggantikan bahan bakar boiler yang selama ini menggunakan fiber dan cangkang sawit. Banyak memang keuntungan pabrik sawit apabila melakukan produksi biochar tersebut untuk lebih detail bisa dibaca disini. Produksi biochar dengan tandan kosong atau EFB biochar juga lebih menguntungkan daripada EFB pellet, penjelasan lebih detail bisa dibaca disini. Sedangkan bagi masyarakat yang memiliki kebun sawit sebagai bagian dari plasma sawit atau perkebunan mandiri, bisa menggunakan teknologi sederhana (low tech, low cost) untuk produksi biochar tersebut. Produksi biochar dengan cara sederhana juga bisa memanfaatkan excess energy untuk berbagai aktivitas usaha kecil seperti yang dilakukan di Tanzania, Afrika. Dengan cara tersebut masyarakat selain menghasilkan biochar juga mendapat sumber energi termasuk mengurangi pemakaian kayu bakar yang bisa saja didapat dari menebang pohon di hutan yang dilindungi atau mengurangi tekanan deforestasi. 

Pupuk adalah komponen biaya tertinggi pada operasional perkebunan sawit. Biochar selain mampu meningkatkan produktivitas buah sawit atau TBS juga bisa mengurangi kebutuhan pemakaian pupuk tersebut. Terjadinya kenaikan pH tanah menjadikan unsur hara mudah terserap oleh pohon sawit dan juga meningkatkan aktivitas mikroba tanah yang meningkatkan kesuburannya adalah salah satu manfaat penggunaan biochar tersebut. Dan ketika performa level produktivitas kebun sawit telah mampu dicapai dan dipertahankan maka sejumlah improvement lainnya juga bisa dilakukan. Dari sudut pandang industri, bahan baku merupakan faktor vital yakni dalam hal ketersediaan, kontinuitas suplai dan kualitas, termasuk juga pabrik sawit. Apalagi pada produksi CPO aspek kebun memegang porsi 80% sedangkan aspek pabrik hanya 20%. Hal tersebut menegaskan kalau aspek kebun memegang peranan vital di suplai bahan baku tersebut sehingga upaya memaksimalkan produktivitas termasuk menjaga performa level produktivitas sangat penting dan menjadi prioritas utama. Sedangkan perubahan kebun sawit dari monokultur menjadi polikultur (kebun campur) adalah salah satu improvement lanjut yang bisa dilakukan. Perkebunan monokultur yang luas memang berpotensi rentan terhadap penyakit sehingga perlu dihindari. Secara teknis berapa luas monokultur masih efektif khususnya untuk tanaman sawit memang belum ada temuan yang meyakinkan. 

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...