Minggu, 28 Juli 2013

Pengeringan Biomasa Proses Vital Kunci Sukses Pengolahan Biomasa


Konversi biomasa secara thermal seperti pembakaran, gasifikasi dan pirolisis maupun pemadatan seperti briket dan pellet hampir semua akan mensyaratkan pengeringan sebelum masuk ke unit proses tersebut. Teknologi pengeringan biomasa telah berkembang pesat untuk mencapai target kuantitas dan kualitas pengolahannya secara standard dan stabil. Dalam proses pengolahan biomasa tersebut biaya untuk pengeringan umumnya termasuk salah satu komponen biaya tertinggi terutama untuk pengeringan yang membutuhkan bahan bakar sebagai sumber energi pemanasnya.

Sumber energi untuk pengeringan tersebut dibagi menjadi dua, yakni sumber energi alami (natural drying) dengan panas matahari  dan sumber energi buatan (forced drying)dengan bahan bakar yang umumnya juga limbah biomasa itu sendiri. Pada pengeringan biomasa dengan energi matahari maka pengeringan akan berjalan lebih lama dan target kadar air yang dicapai  juga kurang akurat. Kelebihannya biaya untuk pengeringan murah tetapi ketergantungan dengan cuaca atau panas matahari sangat tinggi. Sedangkan pengeringan dengan menggunakan energi dari bahan bakar maka pengeringan akan berjalan lebih cepat dan pengontrolan kadar air target juga lebih akurat. Pengeringan energi matahari umumnya berjalan menggunakan proses batch, sedangkan pengeringan dengan bahan bakar menggunakan proses kontinyu.

Tahapan pengeringan yang terjadi pada kayu


Pengeringan kayu tradisional dengan panas matahari
Prinsip pengeringan dengan matahari dan contoh pengering matahari modern skala besar


Industri umumnya menggunakan proses pengeringan kontinyu dengan bahan bakar limbah biomasa itu sendiri untuk mencapai target produksi.  Berbagai jenis pengering yang umum digunakan di industri yakni rotary/drum dryer, belt dryer,  tuble dryer, low temperature dryer dan Superheated steam dryer. Khusus pada pemelletan kayu ketika proses steam conditioning dilakukan sebelum pemelletan, kadar air biomasa dari alat pengering  harus dibawah kondisi optimum kadar air atau berarti dibuat lebih kering karena conditioning akan meningkatkan kadar air sampai kadar tertentu. Proses pengeringan terjadi ketika bahan yang dikeringkan berkontak dengan media pemanas baik secara langsung maupun tidak langsung.   Semakin besar luas kontak antara biomasa dan media pemanas serta semakin lama waktu kontak akan membuat kecepatan pengeringan semakin tinggi.  

Rotary/Drum Dryer
Pada drum dryer, baik pemanasan langsung (direct heating) maupun pemanasan tidak langsung (indirect heating) dapat diaplikasikan. Pada direct heating, media pemanas misalnya flue gas akan berkontak langsung dengan bahan baku yang dikeringkan. Sedangkan pada indirect heating maka media pemanas tidak berkontak langsung dengan bahan yang dikeringkan karena media pemanas misalnya udara panas dihasilkan oleh alat penukar panas (heat exchanger).
Rotary / drum dryer yang diinstall outdoor
Skema rotary/drum dryer dengan sistem co-current 3 ducts

Inlet temperature dari drum dryer berkisar antara 300-600 C tergantung konstruksinya. Pada kondisi tersebut VOC (Volatile Organic Compound) akan diemisikan dari proses pengeringan tersebut. Karena alas an tersebut maka  complex exhaust air treatment (de-dusting and afterburning) dibutuhkan. Sedangkan pada indirect heating dryer maka fly ash akan terakumulasi pada bahan yang dikeringkan, sehingga pada kasus produksi wood pellet akan menambah kadar abu dari wood pellet yang dihasilkan.
Drum dryer adalah jenis pengering biomasa yang paling banyak diaplikasikan saat ini. Panas yang dibutuhkan untuk drum dryer sekitar 1000 kwh untuk setiap ton air yang diuapkan. Drum dryer dapat dipasang outdoor tanpa masalah. Biaya investasinya lebih rendah dari Tube Bundle Dryer. Dryer jenis inilah yang paling banyak digunakan di industri berbasis biomasa.

Tube Bundle Dryer
Tube bundle dryer adalah alat pengering tipe indirect heating. Pengeringan yang dilakukan menggunakan suhu relatif rendah yakni 90 C, sehingga akan meminimalisasi emisi senyawa organic (VOC) dan senyawa yang berbau. Steam, thermal oil dan air panas adalah media pemanas yang umum digunakan. Tube bundle dryer juga bekerja secara counter current. Kebutuhan panas diperkirakan sekitar 1000 kwh untuk tiap ton air yang diuapkan.
Tube bundle dryer

Biaya investasi untuk tube bundle dryer dengan penguapan air berkisar 2,5 hingga 3,5 ton/jam berkisar 420.000 hingga 550.000 Euro (basis harga tahun 2009), tergantung pembuat alat pengering tersebut dan rancangannya. Biaya perawatan relatif murah karena hanya sedikit komponen yang berpotensi aus.


Belt Dryer
Tergantung dari tipe dryer, inlet temperature dari media pemanas berkisar antara 90 hingga 110 C dan outlet temperature berkisar 60 hingga 70 C. Suhu operasi yang relatif rendah juga akan menghindari terjadinya emisi bahan yang berbau.  Dan juga, jika unit dedusting juga bisa dihilangkan karena lapisan produk pada belt juga berfungsi sebagai filter. Belt dryer bisa dijalankan dengan direct heating maupun indirect heating.
Kebutuhan panas sekitar 1200 kwh per ton air yang diuapkan, yang berarti sedikit lebih tinggi dari tube bundle, drum maupun superheated steam dryer. Selain ukuran lebih besar dan panjang, biaya investasi untuk alat ini juga lebih mahal daripada tube bundle dan drum dryer untuk kapasitas yang sama. 

Belt dryer

Skema belt dryer


Low temperature dryer
Dryer ini bekerja dengan mode batch serta counter current. Suhu inlet dari media pemanas bisa sekitar 50 C, tetapi sampai 100 C dimungkinkan. Suhu operasi yang sangat rendah memungkinkan tidak terjadinya substansi berbau teremisi dari unit ini. Pemanasannya secara indirect heating dengan selalu udara panas sebagai media pemanasnya. Udara tersebut dipanasi via heat exchanger dengan sumber panas yang berbeda.


Low temperature dryer
Skema low temperature dryer
Dryer ini biasanya dipasang secara indoor. Tetapi pemasangan secara outdoor juga dimungkinkan, hanya membutuhkan isolasi yang cukup sulit karena kompleksitasnya.  Kebutuhan panas berkisar 1000 kwh untuk tiap ton air yang diuapkan. Area yang dibutuhkan dari dryer ini lebih kecil bila dibandingkan belt dryer tetapi harga investasinya lebih tinggi.    
 
Superheated Steam Dryer
Superheated steam diproduksi dari heat exchanger (HE) yang biasanya dioperasikan dengan saturated steam pada tekanan 8 hingga 15 bar. Thermal oil maupun air panas juga bisa digunakan selain dari saturated steam. Superheated steam disirkulasikan dalam dryer dengan tekanan dua hingga lima bar dan berfungsi sebagai media pembawa dari material yang dikeringkan. Dryer diumpankan dari rotary valve. Dalam dryer material mencapai suhu 115 hingga 140 C kemudian material kering tersebut dipisahkan dari steam dalam cyclone dan dikeluarkan dengan rotary valve. Steam tetap masih berada dalam system tersebut. 
Fluidised bed dryer dengan superheated steam circuit

superheated steam circuit

Waktu tinggal dalam dryer umumnya berkisar 5 hingga 10 detik tergantung input material. Sedangkan untuk pengeringan sawdust biasanya 10 hingga 20 detik. Kapasitas tersedia untuk unit ini mulai dari penguapan air 50 kg/jam hingga kapasitas besar mencapai 30 ton/jam. Kebutuhan panas dryer tipe ini berkisar 750 kwh/ton, tetapi sekitar 40 hingga 60 kwh energi listrik dibutuhkan untuk penguapan air tiap tonnya yakni untuk conveyor system, rotary valve dan fan. Biaya investasi dari dryer dengan penguapan air 3 ton/jam sekitar  1,7 juta Euro (tergantung media pemanas dan material yang dikeringkan). Tingginya biaya investasi tersebut akibat unit sistem bertekanan tersebut. 

Selasa, 25 Juni 2013

Pembriketan Tankos Sawit Untuk Bioenergi Dan Keperluan Lain


Limbah padat berupa tandan kosong sawit atau tankos atau EFB-Empty Fruit Bunch jumlahnya sangat melimpah di pabrik-pabrik sawit dan sampai hari ini umumnya belum diolah apalagi dimanfaatkan secara optimal. Limbah tankos tersebut umumnya hanya ditimbun di suatu tempat  dan dibiarkan terurai secara alami melalui proses biologi. Beberapa tempat telah menggunakannya sebagai mulsa ataupun sebagai pupuk organik. Tetapi dibandingkan jumlah yang dihasilkan, tankos yang diolah tersebut jumlahnya belum seberapa begitu pula nilai tambahnya. Proses biologi tersebut juga berjalan lambat sehingga diperlukan investasi besar untuk mengolah seluruh limbah tankos setiap harinya apabila akan menggunakan proses tersebut.  Pabrik sawit yang ramah lingkungan dan “zero waste”  tentu mustahil tercapai.

Seiring akan kebutuhan energi yang terus meningkat setiap waktu maka diversifikasi energi menjadi hal penting dan harus dilakukan. Rute proses lebih pendek dan hasil yang segera bisa dimanfaatkan tentu menjadi pilihan untuk pengolahan limbah tankos sawit tersebut. Teknologi pemadatan biomasa berupa pembriketan menjadi pilihan menarik untuk diimplementasikan. Pembriketan adalah rute terpendek untuk mengolah limbah sawit khususnya secara komersial. Variabel proses berupa ukuran briket, kadar air, ukuran partikel , kadar abu dan investasi pabrik  yang lebih longgar daripada pemelletan menjadikannya rute tercepat pengolahan limbah tankos tersebut.  Walaupun penggunaan briket tidak se-massif pellet tetapi kebutuhannya juga sangat besar. Sejumlah perusahaan memproduksi  briket dan lalu briket tersebut digunakan sendiri untuk memproduksi listrik dengan teknologi gasifikasi, pirolisis maupun pembakaran langsung.   Teknologi gasifikasi, pirolisis maupun pembakaran langsung juga mensyaratkan ukuran dan bentuk bahan baku tertentu mendapatkan kinerja yang optimal.
Membuat bisnis sawit  yang berkelanjutan (sustainable palm oil) dari hulu sampai hilir adalah keinginan hampir semua pengusaha sawit. Ketika tanah perkebunan sawit membutuhkan nutrisi yang bisa disuplai dari bagian tanaman sawit itu sendiri (tankos misalnya) tetapi bila dibawa keluar  tanpa ada yang masuk ke tanah juga akan mengganggu kesuburan tanah perkebunan sawit tersebut pada jangka panjang. Sehingga perlu strategi yang baik dan berkelanjutan untuk tetap terpeliharanya bisnis sawit yang berkelanjutan. Pembriketan yang pada dasarnya adalah pemadatan biomasa akan menghemat transport ke penggunanya sehingga apabila briket tankos tersebut jika hendak digunakan sebagai pupuk kompos juga bisa diurai lagi dengan proses biologi untuk dimasukkan ke tanah sehingga keseimbangan kesuburan tanah juga bisa tetap terpelihara.   

Kamis, 06 Juni 2013

Skenario Pemanfaatan Limbah Hutan

Limbah kehutanan di Indonesia sangat besar jumlahnya dan perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin. Saat ini sebagian besar malah belum dimanfaatkan.  Berbagai skenario diajukan sesuai karakteristik  limbah kehutanan (forest residue) tersebut, kebutuhan pasar dan teknologi pengolahannya.

Teknologi pemadatan biomasa (biomass densification) seperti pemelletan dan pembriketan adalah salah satu skenario yang  menarik untuk diimplementasikan.  Secara visual pellet dan briket berbeda karena dimensinya. Dimensi wood pellet bervariasi dengan diameter antara 6 dan 25 mm dan panjangnya rata-rata sekitar 40 mm, sedangkan bila diameter produknya lebih dari 25 mm disebut sebagai briket. Secara pemanfaatan limbah hutan menjadi briket lebih disarankan, karena ukuran partikel dari pengecilan ukuran (size reduction), kadar air, dan kadar abu persyaratan pembuatan briket lebih longgar. Sedangkan untuk pellet khususnya A1 class pellet (premium pellet) harus menggunakan batang kayu dan dilakukan debarking. A1 class pellet atau premium pellet adalah pellet dengan kadar abu terendah, dan nilai kalor tertinggi. Tetapi jika hanya untuk produksi pellet kualitas standard tidak menjadi masalah. Pellet seperti halnya briket hampir semua bisa untuk konsumsi industri sebagai bahan bakar ramah lingkungan subtitusi batubara.





Sedangkan apabila lokasi limbah kehutanan tersebut berdekatan dengan industri-industri yang membutuhkan banyak bahan bakar seperti pabrik semen, pembangkit listrik dan sebagainya, maka limbah hutan tersebut bisa langsung di chipping (dikecilkan ukuran menjadi seukuran beberapa cm)  untuk langsung dipakai menjadi bahan bakar industri tersebut.

 



  

 


Sedangkan apabila lokasi limbah kehutanan tersebut juga masih kekurangan listrik ataupun perlu sumber energi atau panas lain, maka cara lain yang lebih baik adalah dengan menggunakan teknologi pirolisis kontinyu . Dengan teknologi  ini akan dihasilkan produk berupa arang, biooil dan syngas, yang ketiganya bisa digunakan sebagai sumber energi. Arang bisa dijual ke pabrik semen atau pembangkit listrik sebagai bahan bakar ataupun meningkatkan kesuburan tanah dengan diperkaya berbagai nutrisi untuk tanah yang untuk aplikasi ini arang biasa disebut biochar. Biooil juga bisa langsung sebagai bahan bakar walaupun nilai kalorinya hanya sekitar setengah minyak diesel dan syngas yang kaya akan metana ini berlebih dari sebagian yang dipakai untuk proses pirolisis itu sendiri, sehingga bisa digunakan salah satunya untuk pembangkit listrik dengan lebih mudah dengan Internal Combustion (IC) engine seperti gas engine generator.



Minggu, 28 April 2013

Mobile Wood Pellet Plant Or Stationary Wood Pellet Plant?



 Menentukan jenis, kapasitas dan konfigurasi alat untuk pabrik wood pellet sesuai karakteristik bahan baku adalah hal penting bagi pengusaha atau produsen wood pellet. Besarnya potensi pasar dan disisi lain melimpahnya potensi bahan baku adalah tantangan menarik untuk dihadapi. Sebagai bahan bakar carbon neutral wood pellet diproyeksikan akan segera menjadi bahan bakar favorit.  Ketersediaan bahan baku (jumlah serta jaraknya dari pabrik) dan karakteristiknya antara lain kadar air, kandungan lignin, nilai kalor, kekerasan, bentuk dan ukuran bahan baku adalah data awal yang harus dipunyai sebelum membuat industri atau pabrik wood pellet tersebut.

Saat ini telah banyak produsen pembuat mesin untuk produksi wood pellet tersebut. Teknologi yang teruji, jaminan kinerja sesuai kapasitas terpasang, efisiensinya berikut kemudahan dan murah operasionalnya, jaminan spare part, keamanan proses hingga jaminan purna jual jika dimungkinkan adalah pertimbangan untuk pembelian mesin produksi wood pellet tersebut.

Mobile atau movable wood pellet plant biasanya dirancang untuk kapasitas kecil (kurang dari 500 kg/jam) dan bahan baku yang sudah siap produksi sehingga rangkaian mesin wood pellet tersebut lebih sederhana dibandingkan dengan stationary wood pellet plant. Bahan baku yang kering dalam bentuk batang kayu atau serbuk bisa diproses dengan pabrik wood pellet tipe mobile atau movable tersebut. Bedanya batang kayu kering tersebut perlu diserbukkan untuk bisa menjadi wood pellet.
750.000 ton/tahun salah satu pabrik wood pellet terbesar di dunia di Georgia, US link disini
Stationary wood pellet plant umumnya memiliki kapasitas sedang hingga besar, rata-rata diatas 2 ton/jam hingga puluhan bahkan ratusan ton/jam-nya. Rangkaian atau konfigurasi alat lebih lengkap dan tipe alatnya juga bisa berbeda untuk skala besar. Hal ini karena suatu proses yang tidak ekonomis dijalankan skala kecil ternyata menjadi ekonomis pada skala besar. Misalnya : rotary dryer yang biasa digunakan pengeringan pabrik wood pellet skala medium yang menggunakan pemanas dengan flue gas ternyata pada skala besar banyak digantikan dengan pemanasan steam. Pada pabrik wood pellet skala besar (umumnya diatas 5 ton/jam untuk tiap line-nya) juga lazim melakukan proses conditioning untuk melunakkan lignin pada kayu tersebut sehingga secara tinjauan overall akan meningkatkan kapasitas produksinya.

Pelletiser adalah jantung dari pabrik wood pellet sehingga perannya sangat vital terhadap kesuksesan produksi wood pellet tersebut. Mobile atau movable wood pellet plant karena kapasitasnya kecil umumnya menggunakan pelletiser tipe flat die yang lebih sederhana. Sedangkan pabrik wood pellet kapasitas sedang hingga besar hampir semua menggunakan pelletiser tipe ring die, karena lebih efisien dan applicable untuk kapasitas tersebut. Material die dan roller adalah salah satu faktor penentu penting terhadap kualitas pelletiser tersebut.


Kamis, 25 April 2013

Global markets for wood pellets are projected to grow by 200 to 300% from 2012 to 2020 – from 16 million tonnes to 40-50 million tonnes.


Forecasts indicate that Europe will remain the major market for wood pellets – at about 25-30 million tonnes in 2020 compared to 12 million tonnes in 2010. An important market change expected during the next eight years is the huge consumption growth forecast for the Asian market – from less than one million tonnes in 2010 to about 15 million tonnes in 2020.

As global wood pellet production increases, it is becoming clear that low-cost pellet production regions are becoming the major pellet exporters. The question of which low-cost production regions will evolve to supply the growing markets will depend to a great extent on the global competitiveness of the two major cost components of every pellet manufacturing plant: delivered raw material cost and transportation costs to market.

European Market Development
Growth of the European Union wood pellet market is the result of a number of government mandated energy targets, such as the EU’s “clean energy” policy adopted in 2005 that set a 20% reduction in greenhouse gas (GHG) emissions and a minimum of 20% renewable energy consumption by 2020. U.K. targets for 15% of total energy consumption to be produced from renewable energy forms by 2020 and a mandate that 35% of electricity supply must be renewable, have also helped spur exports.

U.S. Market Development
Until five or six years ago, U.S. pellet demand was limited to residential and institutional heating markets in mainly the U.S. North East. In the last few years, a rapidly expanding wood pellet industry has sprung up in the U.S. South to fill growing European industrial demand from a relatively cheap and abundant wood supply source
combined with the advantage of low shipping costs.

Growing wood pellet production capacity in the U.S. South made the U.S. the largest wood pellet exporting country in the world in 2012, when U.S. exports exceeded Canadian exports for the first time. U.S. export volumes are forecast to nearly quadruple by 2015.

Bulk shipment of wood pellet

Canadian Market Development
In Canada, 65% of the country’s pellet production capacity is located in Western Canada (mainly British Columbia) and 35% is located in Eastern Canada (mainly Quebec and New Brunswick). The B.C. mills are mainly focused on overseas exports (about 85% of shipments).

Eastern Canadian pellet mills mainly sell their production in bags in Eastern Canadian and U.S. Northeast wholesale/distributor markets. Just three of 21 plants in Eastern Canada exported pellets overseas in 2010.

In 2011, Canadian offshore exports equaled about 60% of total pellet production. Offshore exports from both Western and Eastern Canada are forecast to continue to grow, though not at the explosive rate being witnessed in the U.S. South.

Wood Pellet Loading in Sea Port
 South Korea Market Development
Although South Korea is a small country, it is the world’s 10th largest energy consumer, fifth largest oil importer, and second largest coal importer. It currently produces about 65% of its electricity from fossil fuels. South Korea has become serious about reducing greenhouse gas emissions and has committed to a 30% reduction in CO2 emissions from 2010 levels by 2020. In addition, the Korean government has introduced renewable portfolio standards that require coal-fired power generators to begin producing a minimum of 2% renewable energy by 2012, increasing by 0.5%/year until 2020, at which time they will be required to produce a minimum of 10% renewable energy. It is expected that at least 60% of renewable energy will come from wood biomass, leaving about 40% for other sources.

Japan Market Development
Since the Fukushima nuclear accident in 2011, the Japanese government has been reviewing the country’s energy and resource development policies. The policy direction that the government is indicating it will follow during the next 10 to 20 years includes obligating utilities to use renewable energy; increasing non-fossil fuel energy utilization to 50% and increasing the zero GHG emission power supply from 34 to 70% by 2030.

 

China Market Development
Although very few specific renewable energy policies have been announced by the Chinese government so far, China’s 12th five-year plan allocates 4.75 billion RMB (US$750 million) in direct subsidies, incentives and tax exemptions to build 200 green energy demonstration projects by 2015. In addition, China has set a biomass energy production goal equivalent to 50 million tonnes of coal by 2012.

Although the five-year plan does not indicate specific types of green energy projects to be undertaken, it is assumed that China will move to include significant volumes of wood pellets in the production of biomass energy to replace coal. China has set the development of sophisticated, next-generation biomass energy plants as the key part of its renewable energy plan.

Jumat, 12 April 2013

Bioenergi Potensial Dari Biomassa

Keunikan biomasa adalah satu-satunya sumber terbarukan berbasis karbon sehingga bisa disintesa menjadi berbagai bahan bakar dan bahan kimia sama seperti sumber dari fossil. Untuk aplikasi energi sebagai bahan bakar cair berbagai mesin, alat transportasi maupun tungku pemanas, tampak seperti skema dibawah ini :




Harga yang kompetitif dengan bahan bakar cair dari bahan bakar fossil adalah pertimbangan utama aplikasi bahan bakar cair berbasis biomasa ini. Serangkaian penelitian dan ujicoba perlu dilakukan untuk menguji kehandalan bahan bakar tersebut. Karena bahan bakar berwujud cair maka infrastruktur yang telah ada bisa digunakan ataupun disubtitusi dengan produk ini. Ketersediaan bahan baku dan keterjaminan produksi nantinya juga akan menjadi pertimbangan penting untuk produksi skala komersial dan keberlanjutannya. Penggalakan kebun-kebun energi diberbagai daerah adalah upaya untuk menjaga keberlangsungan produksi dan keberlanjutannya tersebut.

Kamis, 04 April 2013

Potensi Pengembangan Industri Wood Pellet di Indonesia



Potensi limbah biomassa di Indonesia sangat besar yakni sekitar setara 49.810 MW dan baru sangat kecil yang telah dimanfaatkan yakni 1.618 MW atau kurang dari 4%, sehingga berbagai rute pengolahannya yang bisa dioptimalkan.  Pengembangan bioenergy untuk pembuatan wood pellet adalah salah satu strategi terbaik mengingat wood pellet akan potensial untuk bahan bakar baik untuk industri maupun rumah tangga. Proses densifikasi seperti pada wood pellet telah meningkatkan kualitas limbah biomasa pada awalnya menjadi lebih kering, ukuran seragam, murah dalam transportasi maupun pemanfaatannya yakni aplikasi thermal sebagai bahan bakar., lebih khusus bahan bakar terbarukan. 
Peta Produsen Wood Pellet Indonesia


Peta Produsen Wood Pellet Dunia



Konsentrasi gas CO2 dalam atmosfer bumi saat ini (2013) menurut http://co2now.org  adalah 395,55 ppm sedangkan pada tahun 1988 hanya 350,38 ppm sehingga targetnya menurunkan kembali konsentrasi CO2 diatmosfer menjadi 350 ppm. Kondisi  tersebut sangat membahayakan kelangsungan hidup di bumi jika tidak diatas, sehingga dalam skala global maupun skala nasional era saat ini adalah era menurunkan emisi karbon atau gas rumah kaca. Dan ini bisa dicapai salah satunya dengan subtitusi bahan bakar fossil dengan bahan bakar terbarukan seperti subtitusi batubara dengan wood pellet. Saat ini diperkirakan produksi wood pellet lebih dari 14 juta ton, sedangkan Indonesia baru berkontribusi sekitar 6400 ton (2012).




Eropa adalah secara umum adalah pusat pasar global bahan bakar berbasis kayu dan khususnya pada wood pellet / briquette, sehingga bukan hal yang mengejutkan apabila banyak produsen bahan bakar berbasis kayu besar yang menjadikan negara-negara Eropa sebagai tujuan utamanya. Dengan goal yang telah diset oleh Uni-Eropa untuk mencapai komposisi 20% energi terbarukan dalam bauran energinya dan 20% penurunan gas rumah kaca pada 2020 (DIRECTIVE 2009/28/EC, 2009) sepertinya peningkatan kebutuhan bioenergy akan melonjak pesat. Karena potensi sumber biomasa di sana terbatas, sehingga  porsi terbesar bioenergy yang berasal dari biomasa ini berasal bukan dari Eropa tetapi dari berbagai belahan dunia lainnya. Indonesia sangat potensial sebagai salah satu exporter wood pellet ke Eropa, sebagai contoh perusahaan listrik di Inggris harus menggunakan bahan bakar terbarukan sebesar 10% pada tahun 2010 dan Korea yang mengharuskan bahan bakar terbarukan sebesar 5% pada tahun 2013.

Trend dunia ke depan adalah ditandai munculnya banyaknya produsen listrik kecil-kecil (Independent Power Producer (IPP)) yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan komunitas tertentu.  Pembangkit listrik berbahan bakar biomasa saat ini sebagian besar menggunakan teknologi pembakaran langsung (direct combustion) dan gasifikasi serta beberapa dengan pirolisis.  Tahapan co-firing ataupun co-combustion wood pellet dengan batubara adalah hal yang banyak dilakukan pembangkit listrik (powerplant) saat ini yang masih menggunakan teknologi pembakaran langsung (direct combustion), sebelum nantinya diharapkan 100% bisa menggunakan wood pellet sebagai sumber bahan bakarnya seperti yang ada di Swedia.  Untuk gasifikasi skala kecil, teknologi yang cocok adalah downdraft gasifier dan wood pellet bisa menjadi bahan bakar yang ideal untuk sistem tersebut.  Sedangkan pirolisis karena prosesnya hampa udara, maka produk seperti wood pellet tidak disarankan sebagai bahan bakunya, karena tidak memberi pengaruh yang signifikan terhadap proses maupun output-nya. 

Pabrik Sawit: Ganti Boiler Saja? Apa Sekaligus Mencari Solusi untuk Bebas Problem Tandan Kosong Sawit dan Keuntungan Tambahan ?

Seiring dengan bertambah luasnya perkebunan sawit di Indonesia yang saat ini sekitar 17 juta hektar, maka demikian juga pabrik sawit yang di...