Tampilkan postingan dengan label briket tankos. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label briket tankos. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 30 Januari 2021

Biochar Untuk Meningkatkan Produksi Biogas

Arang (biochar) adalah bahan baku untuk produksi arang aktif (activated carbon). Produksi arang aktif itu sendiri melalui dua proses utama yakni karbonisasi (pengarangan) dan aktivasi. Luas permukaan arang (biochar) juga lebih kecil dibandingkan dengan arang aktif, tetapi lebih besar dibandingkan biomasa mentahnya. Proses karbonisasi meningkatkan luas permukaan (surface area) dari biomasa mentah tersebut. Perbandingan luas permukaan antara biomasa mentah, arang dan arang aktif kurang lebih sebagai berikut 25 m2/gram, 200 m2/gram, 2000 m2/gram. Semakin luas permukaan bahan biomasa yang dimasukkan ke dalam reaktor biogas maka semakin besar penetrasi bakteri ke dalam substrate tersebut sehingga proses fermentasi yang terjadi semakin sempurna sehingga produksi biogas semakin besar. Biochar sendiri tidak ikut terfermentasi karena komponen utama berupa karbon yang stabil sedangkan hemiselulose, selulose dan lignin telah terdekomposisi sewaktu proses karbonisasi.

Contoh lainya adalah penambahan briket biomasa ke dalam reaktor biogas, pembriketan dengan tekanan dan panas tinggi juga membuka pori-pori atau memperluas permukaan biomasa tersebut, sehingga produksi biogas juga meningkat, untuk lebih detail baca disini. Penambahan briket biomasa ke dalam reaktor biogas, juga akan meningkatkan C/N ratio, bahkan biochar dan arang aktif memiliki kandungan karbon (C) yang tinggi.

Arang (biochar) sudah banyak digunakan di dunia pertanian untuk memperbaiki kerusakan tanah sehingga meningkatkan kesuburannya. Kesuburan tanah yang baik juga akan meningkatkan produksi pertaninan. Biochar tersebut menjadi rumah bagi mikroba tanah, sehingga bahan-bahan organik atau kompos akan terurai lebih sempurna dan terserap oleh tumbuhan lebih banyak sebagai nutrisi tanaman tersebut. Pori-pori arang (biochar) tersebut yang dijadikan rumah bagi mikroba tersebut. Semakin banyak pori-pori tersebut juga membuat semakin banyak mikroba yang mendiami rumah biochar tersebut. Prinsip yang sama ketika diaplikasikan pada unit biogas. Bonus lain penggunaan biochar adalah bahwa biochar menyerap CO2 dari atmosfer, sehingga berkontribusi untuk menurunkan gas rumah kaca penyebab perubahan iklim dan pemanasan global.

Penelitian di Jerman menunjukkan bahwa penambahan biochar 5% ke dalam reaktor biogas akan meningkatkan produksi metana sebanyak 5% - berdasarkan pada bahan kering biochar terhadap substrat. Tetapi ketika jumlah biochar menjadi 10% ternyata tidak lagi terjadi pertambahan metana. Hal tersebut menunjukkan bahwa kondisi optimum penambahan biochar adalah jumlah 5%  tersebut. Mikroba dalam biochar tersebut menambah volume mikroba dalam reaktor sehingga produksi biogas atau khususnya metana juga meningkat hingga 5% tersebut. Biochar sendiri tidak terdekomposisi pada dalam proses fermentasi tersebut.

Sedangkan pada penambahan briket biomasa setiap 1 ton briket akan meningkatkan produksi biogas sebesar 400 Nm3. Hal tersebut karena pada briket biomasa baik selulose, hemiselulose dan lignin belum terdekomposisi sehingga menambah substrat pada reaktor biogas tersebut. Sedangkan pada biochar baik selulose, hemiselulose dan lignin telah terdekomposisi sewaktu proses termal karbonisasi, sehingga praktis tidak ada tambahan  substrat, tetapi hanya terjadi pertambahan mikroba dalam pori-pori biochar tersebut.  

Hal penting dari penambahan biochar tersebut adalah kompos atau digestat yang dihasilkan berkualitas lebih baik dengan penambahan biochar tersebut. Biochar akan membuat akan membuat kompos yang dihasilkan sebagai pupuk lepas lambat (slow release organic fertilizer).  Hal tersebut semakin mendorong produksi biochar terutama pada perusahaan sawit yang peduli masalah lingkungan dan bahkan mengupayakan kondisi zero waste. 

Pabrik-pabrik kelapa sawit potensial untuk mengaplikasikan unit biogas maupun biochar. Limbah-limbah padat seperti tandan kosong dan mesocarp fiber bisa digunakan untuk produksi biochar. Pabrik sawit bahkan bisa mengganti tungku pembakaran pada boilernya dengan gasifier atau pyrolyser. Hal tersebut menjadi lebih menguntungkan karena selain energi panas digunakan untuk produksi kukus (steam) yang digunakan untuk pembangkit listrik dan sterilisasi buah segar, juga akan dihasilkan biochar. Biochar yang dihasilkan selanjutnya untuk meningkatkan produksi biogas dan meningkatkan kualitas pupuk komposnya, juga sebagai campuran pupuk pada perkebunan sawit. Dan bahkan potensi penggunaan biochar untuk penghematan pupuk pada perkebunan sawit besar, untuk lebih detail bisa dibaca disini.

Rabu, 09 September 2020

Produksi Briket dari Tankos dan Sabut Sawit untuk Bahan Bakar Boiler Industri

Kebutuhan bahan bakar biomasa semakin meningkat sepanjang waktu, cangkang sawit semakin mahal dan langka, padahal cangkang sawit atau PKS (palm kernel shell) ini adalah kompetitor utama untuk wood pellet. Ketika suplai cangkang sawit terbatas karena tingginya permintaan maka harganya menjadi tinggi bahkan bisa mendekati wood pellet. Ketika kondisi tersebut tercapai maka wood pellet menjadi lebih diminati daripada cangkang sawit karena kualitas wood pellet yang lebih baik daripada cangkang sawit. Selain bentuk dan ukuran lebih seragam wood pellet juga lebih kering dengan kadar air berkisar 10%. 

 Pada kondisi tersebut sebenarnya juga membuka peluang untuk produksi briket. Briket dan pellet sebenarnya menggunakan jenis teknologi yang sama yakni pemadatan biomasa. Tetapi produksi briket lebih mudah dan murah dibandingkan pellet. Tingkat fleksibilitas bahan baku sebagai material briket juga lebih tinggi dibandingkan pellet. Bahkan sejumlah material yang sulit dibuat pellet ternyata mudah dilakukan dengan pembriketan. Ukuran serta bentuk briket juga lebih beragam demikian juga teknologi produksinya. Briket untuk bahan bakar boiler industri adalah briket yang bisa sebagai alternative antara cangkang sawit dan wood pellet. 

Pabrik sawit selain menghasilkan limbah cangkang sawit, juga menghasilkan limbah padat berupa tandan kosong (tankos) dan sabut (fiber). Sejumlah pabrik sawit yang menggunakan boiler dengan tingkat efisiensi tinggi maka akan menghasilkan banyak sabut (fiber). Limbah-limbah tersebut berupa tankos dan sabut tersebut bisa digunakan untuk bahan baku produksi briket. Briket industri dengan bentuk seperti kepingan (puck) yang diproduksi dengan pres mekanik selain mudah diproduksi juga kapasitasnya bisa cukup besar. Lokasi pengguna briket tersebut yang tidak terlampau jauh dari pabrik sawit membuat biaya transportasi murah, dan bisa bersaing dengan cangkang sawit maupun wood pellet. 

 Daerah industri dan juga banyak dikelilingi pabrik-pabrik sawit dan perkebunannya seperti di Medan, Sumatera Utara sangat potensial untuk produksi briket industri tersebut. Briket yang dihasilkan diharapkan memiliki kualitas diantara cangkang sawit dan wood pellet, demikian juga harganya. Produksi briket industri dari sabut (fiber) lebih mudah dibandingkan dari tankos. Tankos selain basah juga perlu upaya lebih untuk mencapai ukuran partikel sehingga sesuai untuk pembriketan tersebut. Pemanfaatan limbah-limbah tersebut selain mengurangi dampak lingkungan juga akan memberi keuntungan secara ekonomi.

Selasa, 14 Februari 2017

Densifikasi EFB Untuk Hilirisasi CPO

Energi pada umumnya adalah komponen biaya tertinggi pada proses produksi. Penghematan belanja untuk energi tentu akan memberi dampak yang signifikan pada biaya produksi dan harga jual produknya. Sehingga energi harus didapat dengan biaya yang murah untuk efisiensi produksi. Pemanfaatan limbah-limbah yang tersedia adalah cara jitu untuk mendapatkan efisiensi produksi tersebut,apalagi limbah-limbah tersebut tersedia atau dihasilkan setiap hari bahkan dengan jumlah atau kapasitas yang besar.
Tandan kosong (tankos) kelapa sawit atau TKKS atau EFB (empty fruit bunch) merupakan limbah yang setiap hari dihasilkan pada pabrik kelapa sawit atau pabrik CPO. Volume atau kapasitas tankos atau EFB tersebut cukup banyak setiap harinya, sebagai contoh : pada pabrik CPO dengan kapasitas  30 ton TBS/jam akan dihasilkan tankos 8,1 ton/jam (5,7 ton air; 2,4 ton berat kering) atau 162 ton setiap harinya (114 ton air, 48 ton berat kering). Pemanfaatan tankos  untuk sumber energi pada  pemurnian CPO atau hilirisasi produk CPO, merupakan solusi jitu untuk penanganan limbah sekaligus sumber energi.



Tankos limbah sawit yang basah dan berukuran besar dari pabrik CPO tersebut tidak bisa langsung digunakan tetapi harus diolah dahulu sehingga menjadi bahan bakar atau sumber energi siap pakai. Densifikasi atau pemadatan tankos menjadi pellet atau briket adalah solusi menjadi bahan bakar atau sumber energi yang siap pakai tersebut.

Sejak pemerintah menerapkan bea keluar (BK) CPO, industri hilir CPO di Indonesia kian berkembang. Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 67/2010 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan BK dan Tarif BK menyebutkan, ekspor CPO dikenakan BK dari 0-25% tergantung perkembangan harganya di Rotterdam, Belanda.  Tetapi akhirnya pemerintah menurunkan besaran BK menjadi 22,5% setelah pengusaha perkebunan sawit melakukan protes. Besaran BK itu diatur melalui PMK No 128/2011 tentang Penetapan Barang Ekspor yang dikenakan Bea Keluar pada 15 Agustus 2011. Analogi di bidang minyak bumi, menjual export minyak mentah (crude oil) harus dibatasi atau bahkan dilarang, tetapi produk-produk industri yang telah mengalami pengolahan sehingga memberi nilai tambah yang besar didukung dan didorong sebesar-besarnya. Ekspor produk sawit Indonesia 60-70% masih berupa CPO, sedangkan produk hilirnya hanya 30-40%. Refinery atau pemurnian CPO mulai dibangun dan beberapa telah berproduksi.  Secara umum produk sawit tersebut terbagi dalam crude palm oil (CPO) mentah, produk refine CPO, palm kernel oil (PKO) dan refine PKO, biodiesel dan oleo-chemical.

Pemurnian atau refinery CPO saat ini pada umumnya hanya dimiliki oleh pabrik-pabrik CPO besar saja, sedangkan pabrik-pabrik CPO berukuran kecil dan menengah pada umumnya tidak memiliki unit pemurnian CPO tersebut. Gabungan Pengusaha Kelapa Sait Indonesia (GAPKI) mencatat, saat ini terdapat 1.911 industri sawit di Indonesia yang menghasilkan 23,5 juta ton CPO dari area 8,2 juta hektare lahan. Pemanfaatan limbah-limbah secara optimal sehingga proses produksi CPO menjadi zero waste dan penghematan biaya energi (energy efficiency),  menjadi target semua proses produksi. Pembriketan dan pemelletan tankos sebagai sumber energi murah, ramah lingkungan (carbon neutral) dan berkelanjutan (sustainable) bagi industri-industri pemurnian CPO berarti akan mendorong hilirisasi produk CPO tersebut, dan bisa lebih terjangkau untuk pabrik-pabrik berukuran kecil dan menengah.

Sederhananya pabrik kelapa sawit kecil dan menengah akan mengolah atau memproduksi briket EFB sehingga menambah penghasilan,sehingga lebih menguntungkan daripada membuang atau dijual murah, sedangkan pabrik besar yang memiliki unit pemurnian CPO bisa membelinya sebagai bahan bakar untuk pemurnian CPO tersebut. Harga briket EFB bisa lebih murah dibanding energi lainnya tetapi tetap menguntungkan bagi produsen briket EFB tersebut.Selain mendapat energi dari pembakaran briket EFB, pembeli briket tersebut juga akan mendapat keuntungan tambahan dari pemanfaatan abunya.   
Photo diambil dari sini

Perbandingan K yang diambil atau dikeluarkan dari berbagai panen buah-buahan
Prosentase K dalam buah pisang

Efek pupuk K2O terhadap produktivitas pohon pisang
Setelah produk densifikasi atau pemadatan tankos berupa briket atau pellet dibakar maka akan menyisakan abu sebagi zat sisa pembakaran atau limbah. Abu tersebut memiliki banyak manfaat bagi kehidupan tumbuhan. Abu dari tandan kosong sawit juga kaya akan berbagai senyawa terutama kalium (K) atau potassium yang sangat dibutuhkan bagi tumbuhan dengan prosentase berkisar 30-40%. Kalium ini memiliki fungsi bagi tumbuhan antara lain mengangkut gula, mengontrol stomata pada daun dengan cara menjaga electro-neutrality di dalam sel tumbuhan, co-factor dari lebih dari 40 enzime dan mengurangi terjadinya berbagai penyakit. Abu dari tankos tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai pupuk organik di perkebunan sawit itu sendiri maupun perkebunan yang lain, seperti pisang. Tingginya kandungan kalium di buah pisang dan daun, mengindikasikan kalium adalah nutrisi terpenting pada produksi pisang. Sejumlah kalium dari tanah dan diambil atau dikeluarkan dari kebun itu dalam bentuk panen pisang  sangat banyak.

 Diperkirakan kehilangan unsur kalium dari tanah melalui buah pisangnya saja mencapai 400 kg (ekuivalen dengan 480 kg K2O) per hektar dengan produksi 70 ton buah. Berdasarkan alasan tersebut, pisang membutuhkan supplai kalium yang bagus, walaupun kandungan kalium dalam tanah tersebut sudah cukup tinggi. Sebuah penelitian pada pohon pisang dengan pemberian K2O sebanyak 1000 gram/pohon telah memberikan 1 tandan buah pisang seberat 29,4 kg. Sejumlah tanaman juga kurang sesuai dan sensitif terhadap unsur klorida (Cl), sehingga porsinya perlu dikurangi bahkan dihilangkan. Pada tanaman pisang misalnya tingginya klorida membuat pertumbuhan anakan pisang terganggu dan buah tidak berisi. K2O yakni senyawa dalam abu tankos sawit bisa digunakan sebagai pupuk organik ideal, menggantikan pupuk KCl. Pupuk kalium yang beredar dipasaran saat ini KCl dan K2SO4 (ZK). Pupuk KCl harganya murah karena mendapat subsidi, sedangkan pupuk K2SO4 (ZK) mahal, mengikuti kurs dollar karena tidak disubsidi sehingga hanya umumnya hanya digunakan oleh perkebunan besar.  Sedangkan apabila tanaman kita membutuhkan pupuk kalium yang tidak mengandung klorida, maka apabila harga pupuk ZK di pasaran jauh lebih mahal, maka pupuk dari abu tandan kosong sawit yang kaya K2O bisa menjadi solusi jitu.          

Jumat, 03 Februari 2017

Memasyarakatkan Wood Briquette Sebagai Bahan Bakar Terbarukan dan Ramah Lingkungan

Judul tentang pemanfaatan energi terbarukan dan ramah lingkungan, telah ramai menghiasi berbagai media cetak maupun elektronik pada saat ini. Ketersediaan energi fossil yang semakin menipis dan tidak berkelanjutan (sustainable) menjadi daya dorong utama untuk memberikan perhatian terhadap energi terbarukan. Seiring waktu dengan meningkatkan kebutuhan energi, maka tidak bisa dielakkan lagi energi terbarukan akan menjadi kebutuhan wajib pada waktunya. Biomasa ligno-celullose seperti kayu-kayuan adalah sumber berlimpah yang mudah didapat sekaligus juga mudah dibudidayakan untuk keberlanjutan pasokannya. Fakta tentang rendahnya penggunaan energi terbarukan seperti biomasa bisa ditinjau dari sejumlah faktor, antara lain kesadaran lingkungan yang masih rendah termasuk membiarkan tanah-tanah produktif tanpa hasil bahkan cenderung terjadi penggurunan (desertifikasi), rendahnya kesadaran untuk mandiri atau berdaulat di sektor energi sebagai salah satu kebutuhan vital, kurangnya atau lemahnya penguasaan teknologi untuk produksi energi terbarukan maupun pemanfaatannya sehingga berakibat tidak mampunya melihat potensi biomasa yang sangat besar di wilayah tropis seperti negeri kita.

Wood briquette adalah produk pemadatan (densifikasi) biomasa. Dibanding wood pellet, wood briquette kalah populer dan produksinya juga tidak sebanyak wood pellet. Secara teknis kualitas wood briquette tidak kalah dengan wood pellet, karena pada umumnya kepadatan (densitas) wood briquette lebih tinggi daripada wood pellet. Selain itu pada kulit wood briquette juga terjadi pengarangan sebagian yang membuatnya mudah dinyalakan. Ukuran wood briquette yang besar membuatnya tidak mudah mengalir atau dicurahkan seperti halnya wood pellet, yang bisa jadi faktor inilah yang membuat wood briquette kurang diminati. Pada dasarnya wood briquette mirip dengan kayu batangan seperti kayu bakar yang digunakan untuk memasak, dengan kepadatan kurang lebih 2 kali kayu keras sehingga untuk membakarnya juga bukan hal yang sulit. Sejumlah tungku yang biasa menggunakan kayu bakar akan mudah mnyesuaikan dengan wood briquette.
 
Wood briquette juga kurang publikasi dibandingkan wood pellet, sehingga wajar wood pellet lebih populer. Penggunaan wood pellet untuk berbagai industri juga sudah mulai marak seperti di industri  teh untuk proses pelayuan dan pengeringan daun teh itu sendiri. Kandungan antrakuinon juga akan sangat rendah apabila menggunakan wood pellet sebagai bahan bakar proses tersebut sehingga bisa diterima dengan baik produk teh tersebut untuk pasar Eropa khususnya. Karakteristik wood pellet yang bisa curah inilah inilah yang membuatnya banyak dipilih.
Kompor untuk memasak dan penghangat ruangan yang umum digunakan di Eropa seperti dua photo diatas yang bahan bakarnya berupa kayu bakar juga bisa diganti menggunakan wood briquette sehingga lebih efisien

Pada dasarnya wood briquette juga memiliki kegunaan yang sama, hanya sedikit modifikasi tungku mungkin dibutuhkan karena ukuran yang besar tersebut. Resume pemakaian biobriquette atau wood briquette bisa dibaca disini. Penggunaan wood briquette berikut penguasaan teknologi produksinya seharusnya lebih mudah dilakukan. Wood briquette telah lebih lama diproduksi di berbagai daerah di Indonesia, lebih dari 20 tahun lalu sebagai produk antara pada produksi sawdust charcoal briquette. Fabrikasi atau pembuatan peralatan produksinya untuk wood briquette juga telah 100% telah mampu diproduksi di dalam negeri, berbeda dengan wood pellet yang sebagian peralatan produksinya masih import.
 


Selain limbah kayu-kayuan tersebut, limbah perkebunan seperti tandan kosong sawit juga potensial didensifikasi atau dipadatkan baik menjadi pellet ataupun briket. Pada pabrik sawit kebutuhan energi baik panas dan listrik pada umumnya sudah bisa dicukupi oleh limbah sabut (mesocarp fiber) dang cangkangnya (palm kernel shell). Cangkang bahkan banyak sisa dan bisa langsung dijual karena bisa langsung digunakan untuk bahan bakar dan bisa curah seperti halnya wood pellet. Pabrik atau industri sawit besar yang tidak hanya memproduksi minyak mentah sawit atau CPO (crude palm oil) tetapi dengan berbagai produk turunan atau pemurnian/refinery untuk meningkatkan nilai tambah CPO tersebut akan membutuhkan banyak energi untuk proses produksinya. Gambar dibawah ini tentang skema pemurnian (refinery) CPO sehingga dihasilkan berbagai produk turunannya. 

Briket tankos bisa sebagai sumber energi refinery atau pemurnian CPO tersebut. Sebuah operasi pabrik sawit yang efisien dan zero waste dengan pemanfaatan optimal limbah-limbahnya untuk sumber energi bisa dilakukan dengan baik dengan mekanisme tersebut diatas. Abu dari pembakaran briket tersebut yang kaya akan kalium (K) juga bisa dipungut yang nantinya digunakan untuk pupuk organik pada perkebunan sawitnya.

Selasa, 28 Januari 2014

Bahan Bakar Pellet dan Briket Untuk Industri Makanan dan Minuman

Bahan bakar sebagai sumber energi di industri makanan dan minuman adalah kebutuhan primer yang selalu dibutuhkan. Bahan bakar yang ramah lingkungan, handling yang mudah, murah dan mudah tersedia selalu dicari-cari oleh produsen industri makanan dan minuman tersebut. Bahan bakar berbasis biomasa yakni pellet dan briket merupakan piliha ideal untuk hal kebutuhan tersebut. Keunggulan pellet dan briket adalah :
1. Bahan bakar ramah lingkungan dan terbarukan
2. Nilai kalor tinggi  umumnya lebih dari 4000 kkal/kg
3. Kadar abu rendah dan fly ash ketika dibakar minimal
4. Efisiensi pembakaran tinggi konsisten karena kadar airnya rendah
5. Kepadatan tinggi sehingga menghemat biaya transportasi
6. Bentuknya seragam sehingga memudahkan transportasi,      penyimpanan, pengumpanan dan pembakaran
7. Pembakaran lebih homogen dibandingkan batubara
8. Polusi sangat rendah karena kandungan sulphur hampir nol
9. Semakin dicari karena kenaikan bahan bakar fossil




Sejumlah industri telah melakukan konversi dari bahan bakar fossil ataupun kayu bakar ke pellet maupun briket karena keunggulan-keunggulannya tersebut.  Berikut beberapa tipe wood pellet burner dengan pengumpanan otomatis (automatic feed burner types) yang banyak digunakan yakni :


1. Stoker burner boiler
Stoker burner boilers adalah boiler paling sederhana, yang memiliki panggangan  (grate) kecil dipasang langsung pada bagian akhir feed auger. Pada stoker burner boilers kecil hanya dilengkapi dengan satu buah kipas angin sehingga sangat sulit untuk memisahkan suplai udara primer ke panggangan dari zone pembakaran akhir diatas panggangan.  Sebagai akibatnya potensi terjadinya overheating dan formasi kerak di panggangan sangat tinggi, dan sejumlah pembuat boiler menambahkan sirkuit air pendingin dalam pangganagan sebagai preventive.


2. Underfed stoker boiler
Pada underfed stoker boiler bahan bakar didorong ke atas melalui konis terbalik membentuk tumpukan seperti kubah dimana pembakaran terjadi. Hampir semua stoker boiler memiliki saluran udara primer dan udara sekunder terpisah untuk menyediakan kontrol pembakaran yang independent pada panggangan dan di zone pembakaran gas akhir.


3. Moving grate boiler
Moving grate boiler juga dikenal sebagai stepped grate boiler atau inclined grate boiler, memungkinkan fleksibiltas terbesar pada desain boiler. Boiler ini dapat menggunakan pengumpan auger atau ram stoker.
Seperti halnya pada underfed stoker boiler, moving grate boiler memiliki saluran udara primer dan sekunder, dan pada boiler terbesar ditambahkan saluran udara tersier untuk memastikan terjadinya pembakaran sempurna pada semua wood gas.




Briket memiliki ukuran lebih besar daripada pellet. Oleh karena itu ukuran briket bisa dipotong-potong menjadi lebih kecil menyesuaikan kebutuhan penggunanya. Dibawah ini contoh aplikasi briket untuk boiler.


Selain digunakan dalam industri makanan dan minuman, pellet dan briket juga bisa digunakan untuk bahan bakar berbagai industri (thermal application) antara lain : pembangkit listrik, industri keramik, industri kimia dan lain-lain.

Minggu, 22 September 2013

Briket Dan Pellet Untuk Gasifikasi

Keseragaman ukuran partikel adalah hal penting untuk operasional gasifier. Berbeda dengan gasifier tipe updraft (counter-current) yang tidak terlalu sensitif terhadap ukuran partikel bahan bakunya, gasifier tipe downdraft (co-current) memiliki syarat keseragaman ukuran partikel bahan bakunya lebih ketat. Pemelletan dan pembriketan adalah upaya untuk mendapat keseragaman ukuran partikel bahan baku, peningkatan kualitas bahan baku, dan penghematan transportasi. Bahan seperti serbuk gergaji, limbah hutan maupun tandan kosong sawit sangat potensial untuk dipadat menjadi pellet maupun briket.

Gasifier downdraft (co-current) akan menghasilkan gas lebih bersih dari tar sehingga pembersihan gas selanjutnya akan lebih mudah dilakukan, untuk selanjutnya bisa digunakan menjadi bahan bakar pemanas, mesin bensin, mesin diesel (dual fuel), gas engine hingga menghasilkan listrik. Gasifier updraft menghasilkan gas kotor karena terlalu banyak tar sehingga pembersihan gas lebih sulit dan oleh karena itu aplikasinya terutama untuk sumber panas. Sehingga aplikasi gasifier downdraft lebih luas dan lebih banyak digunakan di sejumlah industri.

Produksi briket atau pellet  harus dilakukan sedekat mungkin dengan bahan baku (raw material oriented) untuk alas an teknis dan ekonomis, dan selanjutnya produk wood pellet dan briket tersebut bisa ditransport ke lokasi unit gasifier dalam radius tertentu. Khusus briket, hanya tipe screw (extruder) saja yang sesuai untuk proses gasifikasi. Produk gasifier baik berupa energi panas, energi mekanik, maupun energi listrik sudah bisa langsung dimanfaatkan oleh pengguna sehingga orientasi unit gasifier ini mendekati pengguna atau pasarnya (market oriented). 

Selasa, 25 Juni 2013

Pembriketan Tankos Sawit Untuk Bioenergi Dan Keperluan Lain


Limbah padat berupa tandan kosong sawit atau tankos atau EFB-Empty Fruit Bunch jumlahnya sangat melimpah di pabrik-pabrik sawit dan sampai hari ini umumnya belum diolah apalagi dimanfaatkan secara optimal. Limbah tankos tersebut umumnya hanya ditimbun di suatu tempat  dan dibiarkan terurai secara alami melalui proses biologi. Beberapa tempat telah menggunakannya sebagai mulsa ataupun sebagai pupuk organik. Tetapi dibandingkan jumlah yang dihasilkan, tankos yang diolah tersebut jumlahnya belum seberapa begitu pula nilai tambahnya. Proses biologi tersebut juga berjalan lambat sehingga diperlukan investasi besar untuk mengolah seluruh limbah tankos setiap harinya apabila akan menggunakan proses tersebut.  Pabrik sawit yang ramah lingkungan dan “zero waste”  tentu mustahil tercapai.

Seiring akan kebutuhan energi yang terus meningkat setiap waktu maka diversifikasi energi menjadi hal penting dan harus dilakukan. Rute proses lebih pendek dan hasil yang segera bisa dimanfaatkan tentu menjadi pilihan untuk pengolahan limbah tankos sawit tersebut. Teknologi pemadatan biomasa berupa pembriketan menjadi pilihan menarik untuk diimplementasikan. Pembriketan adalah rute terpendek untuk mengolah limbah sawit khususnya secara komersial. Variabel proses berupa ukuran briket, kadar air, ukuran partikel , kadar abu dan investasi pabrik  yang lebih longgar daripada pemelletan menjadikannya rute tercepat pengolahan limbah tankos tersebut.  Walaupun penggunaan briket tidak se-massif pellet tetapi kebutuhannya juga sangat besar. Sejumlah perusahaan memproduksi  briket dan lalu briket tersebut digunakan sendiri untuk memproduksi listrik dengan teknologi gasifikasi, pirolisis maupun pembakaran langsung.   Teknologi gasifikasi, pirolisis maupun pembakaran langsung juga mensyaratkan ukuran dan bentuk bahan baku tertentu mendapatkan kinerja yang optimal.
Membuat bisnis sawit  yang berkelanjutan (sustainable palm oil) dari hulu sampai hilir adalah keinginan hampir semua pengusaha sawit. Ketika tanah perkebunan sawit membutuhkan nutrisi yang bisa disuplai dari bagian tanaman sawit itu sendiri (tankos misalnya) tetapi bila dibawa keluar  tanpa ada yang masuk ke tanah juga akan mengganggu kesuburan tanah perkebunan sawit tersebut pada jangka panjang. Sehingga perlu strategi yang baik dan berkelanjutan untuk tetap terpeliharanya bisnis sawit yang berkelanjutan. Pembriketan yang pada dasarnya adalah pemadatan biomasa akan menghemat transport ke penggunanya sehingga apabila briket tankos tersebut jika hendak digunakan sebagai pupuk kompos juga bisa diurai lagi dengan proses biologi untuk dimasukkan ke tanah sehingga keseimbangan kesuburan tanah juga bisa tetap terpelihara.   

Pabrik Sawit: Ganti Boiler Saja? Apa Sekaligus Mencari Solusi untuk Bebas Problem Tandan Kosong Sawit dan Keuntungan Tambahan ?

Seiring dengan bertambah luasnya perkebunan sawit di Indonesia yang saat ini sekitar 17 juta hektar, maka demikian juga pabrik sawit yang di...