Selasa, 16 November 2021

Membangun Pabrik Wood Pellet Kapasitas Besar, 5rb ton/bulan Up

Pabrik wood pellet kapasitas besar memiliki resiko lebih besar daripada pabrik wood pellet kapasitas kecil. Pada pabrik tersebut target produksi menjadi tolok ukur penting disamping kualitas wood pelletnya tentu saja. Konsekuensinya adalah penggunaan mesin produksi yang handal sehingga target produksi tersebut bisa tercapai. Sedangkan pada pabrik wood pellet kapasitas kecil biasanya dengan produksi kecil, dengan jam kerja pendek kualitas mesin produksi tidak sebaik untuk kapasitas besar tersebut, sehingga investasi untuk pembelian mesin juga lebih murah. Kemampuan untuk bekerja secara kontinyu dengan jam kerja panjang, downtime minimum, serta output dan kualitas produk yang senantiasa stabil. Mesin-mesin produksi dengan performa tinggi tersebut biasanya telah memiliki jam terbang tinggi sehingga bisa diandalkan. Walaupun dengan harga alat lebih mahal tetapi tetap menjadi pilihan karena tujuan tercapai yakni kualitas dan kuantitas produk wood pellet sesuai rencana. 

 

Pada umumnya suatu pembuat peralatan atau mesin produksi dan khususnya wood pellet tidak membuat dari A-Z atau seluruh peralatannya (complete line). Pada umumnya mereka spesialis di satu atau beberapa peralatan saja, terutama pada pelletiser karena merupakan jantung dari produksi wood pellet tersebut. Sedangkan peralatan lainnya dibuat oleh perusahaan lain. Ketika perusahaan pembuat peralatan atau mesin produksi tersebut menawarkan unit complete line untuk produksi wood pellet, mereka berarti telah menambahkan sejumlah peralatan pendukung dari beberapa vendor jaringan mereka. Lantas apakah bisa seandainya ingin membuat sendiri pabrik wood pellet sesuai keinginan sendiri atau melakukan kustomisasi sehingga peralatan-peralatan dari sejumlah vendor tersebut dirakit (assembling) sendiri sehingga complete line produksi wood pellet ? Tentu saja bisa, tetapi membutuhkan sejumlah keahlian tersendiri atau ibarat membuat mobil sendiri dengan peralatan atau komponen dari banyak vendor. Sebagai contoh merangkai atau merakit sejumlah mesin tersebut dan walaupun dari produsen mesin terkenal bisa jadi tidak memberikan performa optimal karena tidak mengetahui karakteristiknya termasuk kompatibilitasnya.

Walaupun pada dasarnya untuk mendapatkan level performa terbaik dengan tingkat efisiensi yang tinggi tetapi mencari kombinasi terbaik. Faktor harga juga menjadi variabel lainnya untuk mendapatkan kombinasi terbaik tersebut. Penyedia atau penjual mesin berpengalaman bisa menyediakan sesuai keinginan pembeli terutama dengan budget yang terbatas tetapi menginginkan performa prima. Semakin tinggi jam terbang atau pengalaman penyedia mesin tersebut biasanya semakin baik dalam memberikan penawarannya karena sudah mengetahui karakteristik masing-masing peralatan tersebut. Instalasi, commissioning, training hingga after sales service menjadi pertimbangan selanjutnya. Pada industri wood pellet besar kustomisasi peralatan dari berbagai vendor pembuat peralatan produksi hingga aspek safety adalah hal yang biasa dilakukan. Apalagi pemilihan peralatan tersebut juga berdasarkan pengalaman pabrik-pabrik wood pellet yang sudah beroperasi. Kustomisasi memang sesuatu yang unik yang banyak dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya.

Pengalaman sebelumnya dengan produsen penyedia alat tertentu menjadi pengalaman penting untuk mengetahui performa atau karakteristik suatu peralatan. Tentu sangat sulit mengetahui semua karakteristik peralatan yang tersedia di pasaran karena begitu banyaknya produsen penyedia alat,  lokasi penyedia peralatan tersebut dan kemampuan menghandle suatu proyek wood pellet. Selain faktor teknis faktor hubungan manusia juga turut berperan dalam hal tersebut terutama success story proyek sebelumnya. Upgrading peralatan biasanya sebagai pintu masuk untuk kerjasama dengan vendor lain apalagi vendor sebelumnya tidak memiliki kapabilitas tersebut misalnya untuk meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas bahan baku belt dryer untuk menggantikan rotary dryer karena kemampuan pengeringan lebih baik, ataupun hammer mill tertentu yang juga memiliki kemampuan tertentu dan sebagainya. Apalagi jika sudah memiliki pengalaman panjang dengan mereka sebelumnya.

Senin, 08 November 2021

Urgensi Reklamasi Ex-Tambang Batubara Dengan Biochar 

 

Banyaknya lahan bekas tambang batubara yang tidak direklamasi menimbulkan berbagai masalah lingkungan bahkan juga ksselamatan jiwa. Sudah banyak korban jiwa dari lubang  bekas tambang batubara tersebut. Logika sederhana seharusnya setelah deposit batubara diambil atau diekstrak pada aktivitas penambangan tersebut, tanah dikembalikan lagi dan diperbaiki sehingga kualitasnya lebih baik dari sebelum aktivitas pertambangan atau minimal sama, tetapi jangan malah lebih buruk sehingga berbagai masalah lingkungan bermunculan. Era dekarbonisasi semakin kencang melaju karena daya dorong perubahan iklim dan pemanasan global. Bahan bakar fossil khususnya batubara mulai ditinggalkan tentu saja termasuk aktivitas penambangan batubara itu sendiri. Sedangkan area bekas tambang batubara yang mencapai jutaan hektar banyak menjadi permasalahan lingkungan hari ini. 

Ketika kualitas tanah diperbaiki sehingga memiliki kesuburan tinggi maka ini menjadi potensi yang sangat luar biasa sehingga sejumlah aktivitas penting bisa dilakukan, seperti pertanian, peternakan dan kehutanan. Dengan kondisi demikian maka upaya kemandirian atau kedaulatan pangan bukan hal mustahil. Teknisnya bisa dianalisis diantara sektor pertanian, peternakan dan kehutanan tersebut mana yang bisa lebih cepat mencapai tujuan yakni kemandirian atau kedaulatan pangan tersebut. Tetapi sebelum jauh melangkah dan melakukan usaha di atas tanah bekas tambang tersebut, hingga lebih spesifik produk apa yang akan dibuat, pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana memperbaiki kondisi tanah yang rusak dan skalanya juga masif tersebut ? 

Aplikasi biochar ke tanah tersebut merupakan solusi jitu dalam upaya memperbaiki tanah-tanah yang rusak. Tergantung seberapa parah tingkat kerusakan, karakteristik jenis tanah dan level kualitas akhir yang menjadi target akan menentukan aplikasi atau dosis biochar tersebut. Selain memperbaiki tanah aplikasi biochar tersebut juga menyerap CO2 dari atmosfer sehingga menurunkan konsentrasi CO2 dari atmosfer atau merupakan skenario carbon negative. Biochar yang tertanam di dalam tanah tersebut menjadi carbon sink, mirip dengan membuat hutan konservasi untuk menyerap CO2 dari atmosfer. Seberapa banyak biochar yang tertanam sehingga bisa dihitung CO2 terserap menjadi carbon sink tersebut bisa dijual di pasar karbon dan mendapatkan carbon credit. Biochar sendiri mampu bertahan di dalam tanah hingga ratusan tahun dan tidak terdekompsisi selama waktu yang panjang tersebut. Bahkan ketika tanah tersebut telah diperbaiki dengan biochar lalu dibuat hutan konservasi di atasnya maka carbon credit yang didapat double, yakni dari aplikasi biochar sendiri dan dari hutan konservasi tersebut. Tetapi sekali lagi tentu faktor ekonomi menjadi pertimbangan penting lainnya, sehingga seperti di atas setelah tanah diperbaiki kesuburannya dengan biochar ada sejumlah opsi untuk pemanfaatan tanah tersebut. Tentu mana yang memberikan keuntungan ekonomi terbaik akan menjadi pilihan. 

Jutaan hektar tanah bisa dipulihkan (direcovery) sehingga kemanfaatannya akan maksimal. Katakan misalnya satu juta hektar saja tanah tersebut bisa dipulihkan lalu digunakan untuk aktivitas yang mendukung ketahanan atau kemandirian pangan tersebut seperti pertanian dan peternakan, maka bisa dihitung berapa banyak outputnya. Lebih bagus lagi apabila bisa terjadi surplus produksi pangan tersebut sehingga bisa melakukan export. Atau bahkan nantinya untuk jangka yang lebih panjang lagi tanah tersebut dihutankan lagi menjadi hutan konservasi maka berapa banyak CO2 yang bisa diserap oleh hutan tersebut ditambah dari aplikasi biocharnya. Tentu sangat banyak. Lalu mengapa harus membuat food estate tetapi harus membabat lahan hutan, sementara ada cara lain yang lebih baik ? Yakni tidak hanya memulihkan tetapi memperbaiki kondisi lahan tersebut bahkan lebih baik sebelum aktivitas penambangan batubara tersebut dilakukan. 

Sabtu, 30 Oktober 2021

Pohon Nyamplung dan Pohon Kelapa

Pohon nyamplung dan pohon kelapa memiliki persamaan yakni dapat tumbuh dengan baik di area pesisir pantai, semua bagian pohonnya bisa dimanfaatkan dan berbuah sepanjang tahun. Dengan panjang garis pantai Indonesia mencapai 99.093 km maka sangat potensial untuk mengembangkan kedua tanaman tersebut. Pohon nyamplung dengan minyaknya yang tidak bisa untuk pangan (non-edible oil) tetapi produktivitasnya hampir menyamai minyak sawit atau CPO maka sangat potensial untuk produksi biodiesel. Padahal pohon sawit adalah produsen minyak nabati terbanyak. Mengapa tidak produksi biodiesel dari jarak pagar ? Untuk lebih detail jawabannya dibaca disini. Sedangkan pohon kelapa yang sudah sangat terkenal sebagai tanaman multi-manfaat tentu sangat strategis dan potensial untuk dikembangkan, apalagi saat ini populasi pohon kelapa terus menurun akibat rendahnya peremajaan kembali (replanting) kebun-kebun kelapa tua. Tidak seperti pohon nyamplung semua hasilnya bukan produk pangan, produk olahan kelapa banyak berupa produk pangan. Kebutuhan produk pangan dari olahan kelapa terus meningkat seiring meningkatnya populasi jumlah penduduk. Issue pangan dan energi juga sekaligus bisa diatasi dengan kedua tanaman tersebut. 

 

Produktivitas nyamplung sekitar 30 tahun sedangkan kelapa lebih lama yakni mencapai sekitar 80 tahun. Kayu pohon nyamplung memiliki nilai ekonomis tinggi demikian juga pohon kelapa. Ketika masa produktif kedua tanaman itu terus menghasilkan buah dan ketika produktivitasnya turun atau berhenti maka kayunya menjadi produk pamungkas yang bernilai ekonomis tinggi. Apabila dibandingkan dengan pohon sawit ketika usia produktivitasnya habis maka kayu atau batangnya pada umumnya masih menjadi masalah bahkan tidak sedikit yang hanya ditinggal begitu saja di kebun karena tidak ekonomis untuk diolah lanjut, lebih detail bisa dibaca disini. Sedangkan pada kayu-kayu kehutanan lainnya biasanya membutuhkan waktu puluhan tahun sebelum bisa dipanen dan tidak ada hasil lain selain kayu tersebut. Tentu saja hal ini cukup berat secara ekonomi bahkan kadang tidak layak.

Photo diambil dari sini

Pohon nyamplung dan pohon kelapa juga mudah dan murah dalam perawatan, tidak seperti pohon sawit yang butuh air dan pupuk yang banyak. Keduanya juga mendukung agroforestry di pesisir pantai, selain juga sebagai wind breaker dari angin laut. Hal tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat di daerah pesisir, bahkan juga menjadi destinasi wisata. Lebih jauh untuk sistem agroforestri salah satunya dapat dibedakan berdasarkan fungsinya, yakni menjadi fungsi produksi dan fungsi perlindungan. Fungsi produksi misalnya produksi pangan, pakan, bahan bakar seperti biodiesel ini, serat, kayu dan lain-lain. Sedangkan fungsi perlindungan seperti pencegahan dari kerusakan sumber daya lingkungan dan sekaligus pemeliharaan sistem produksi seperti tanaman pagar, penahan air, pencegah kebakaran, konservasi tanah dan air. 

Pemilihan jenis tanaman merupakan hal sangat penting dalam pembuatan pola agroforestri, karena kesalahan yang terjadi akan berdampak panjang dan merugikan. Jenis yang cocok bukan hanya dari segi pertumbuhan, nilai ekonomi dan kemampuan adaptasi pada lingkungan tertentu, tetapi juga kemampuannya membentuk struktur tumbuh yang ideal saat tumbuh berkembang bersama jenis lain pada lahan yang sama. Pemilihan jenis ini sangat tergantung pada keinginan pemilik lahan, kondisi tempat tumbuh, nilai ekonomi dan kemudahan budidaya. 

Jumat, 15 Oktober 2021

Peternakan Ruminansia Sebagai Solusi Tebang Butuh Pada Hutan Rakyat

 

Rata-rata petani hutan rakyat hanya memiliki lahan sempit untuk tanaman kayu kehutanannya, hal ini membuat sulit bagi mereka yang mengandalkan kayu kehutanan tersebut untuk kehidupan harian mereka. Tanaman kayu kehutanan memiliki siklus panjang bahkan untuk spesies tanaman tertentu hingga puluhan tahun. Ketika terjadi kebutuhan mendesak misalnya anak mau masuk sekolah, pernikahan anaknya, dan sebagainya maka tanaman kayu tersebut ditebang walaupun sebenarnya memang belum waktunya, yang biasa dikenal dengan tebang butuh. Selain kualitas kayu bulat (log) yang dihasilkan juga rendah, termasuk harga jualnya demikian juga dengan kuantitas/produktivitasnya. Industri kehutanan dengan kapasitas terpasangnya membutuhkan pasokan kayu bulat jumlah besar dan kualitas standar. Praktek tebang butuh tersebut sebisa mungkin dihindari atau diminimalisir sehingga manfaat optimal akan dirasakan semua pihak, baik petani hutan rakyat maupun industri kehutanan.

Untuk mengatasi masalah kehidupan harian ataupun kebutuhan mendesak tersebut peternakan ruminansia bisa sebagai solusinya. Lahan di sekitar pohon utama bisa sebagai tempat gembalaan dan tanaman legum sebagai tanaman pagar sebagai sumber hijauan. Ketika pohon utama tersebut misalnya sengon masih muda, sejumlah tanaman seperti sayuran dan empon-empon masih bisa ditanam dan memberi hasil baik. Tetapi ketika pohon utama tersebut cukup besar maka tanaman-tanaman tersebut tidak tahan terhadap naungan, sehingga budidayanya selain tidak efektif malah bisa merugi. Tanaman pagar jenis legum seperti kaliandra, gamal/gliricidia dan indigofera bisa ditanam sebagai sumber pakan ternak ruminansia (domba, kambing, sapi atau kerbau). 


Siklus peternakan ruminansia tersebut lebih cepat dibandingkan dengan pohon-pohon kehutanan tersebut. Jenis usaha peternakan yang bisa dilakukan seperti pembibitan (breeding), penggemukan (fattening), produksi susu (milking) bahkan perdagangannya (trading). Walaupun peluang eksport terbuka khususnya domba dan kambing, tetapi pasar dalam negeri juga besar. Sebagai contoh Yogyakarta membutuhkan sampai dengan 4000 ekor domba setiap bulannya khususnya untuk klaster warung sate di jalan Imogiri timur, Yogyakarta. Belum lagi untuk pasar di Jabodetabek dan aqiqah. Sedangkan daging sapi, Indonesia juga masih kekurangan, yang saat ini disuplai daging kerbau dari India yang porsinya mencapai hampir 60% kebutuhan nasional. Peternakan seperti ini bisa menjadi solusi jitu masalah tebang butuh yang menghambat perkembangan hutan rakyat saat ini. Luas hutan rakyat juga tidak bisa dipandang sebelah mata, bahkan di beberapa daerah luas hutan rakyat lebih besar daripada hutan negara. Secara nasional hutan rakyat Indonesia diperkirakan seluas 35 juta hektar, sedangkan hutan negara mencapai 128 juta hektar. 

Sabtu, 02 Oktober 2021

Biochar dan Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batubara

Reklamasi lahan bekas tambang batubara adalah kewajiban pengusaha tambang tersebut, tetapi sering kali hal ini tidak dilakukan dengan baik karena berbagai hal. Hal-hal tersebut terutama karena penegakan aturan yang lemah dan sanksi yang ringan. Dengan luas lahan bekas tambang batubara yang telah mencapai jutaan hektar dan perlu upaya reklamasi tersebut tetapi realisasi di lapangan masih sangat minim membuat kerusakan lingkungan juga semakin besar. Hal yang bisa mendorong upaya perbaikan lahan bekas tambang batubara tersebut adalah faktor keuntungan atau ekonomi yang bisa didapat. Artinya jika upaya reklamasi tersebut juga membawa keuntungan ekonomi -selain manfaat lingkungan, tentu saja- maka para pengusaha batubara tersebut tentu juga dengan senang hati melakukannya. Lantas aktivitas apakah itu ?

Photo dari sini
Setelah deposit batubara diambil, maka lapisan tanah atas (top soil) seharusnya dikembalikan lagi di lahan tersebut. Hal mendasar yang perlu dilakukan adalah memperbaiki kualitas tanah tersebut sehingga bisa digunakan untuk ditanami berbagai tanaman. Dengan perbaikan kualitas tanah maka selain kesuburan tanah bisa dikembalikan bahkan ditingkatkan, juga termasuk mengisolasi (immobilisasi) sejumlah unsur berbahaya dari lahan bekas tambang batubara tersebut. Membuat aktivitas bisnis yang menguntungkan dan berkelanjutan adalah langkah selanjutnya. Tanah yang sudah diperbaiki tersebut selanjutnya bisa ditanami dan tanaman jenis legum adalah pilihan terbaik, hal ini karena tanaman jenis legum selain tipe tanaman perintis dengan kemampuan bertahan hidup tinggi, akarnya kuat dan dalam sehingga mencegah erosi, bintil akar dari simbiosis azetobacter dengan mengikat nitrogen dari atmosfer yang menyuburkan tanah juga memberikan banyak manfaat lainnya. Usaha peternakan ruminansia adalah aktivitas bisnis tersebut yang menguntungkan dan berkelanjutan, karena terutama memanfaatkan daun dari tanaman legum tersebut sebagai sumber pakan. Kotoran ternak tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk semakin memperbaiki kesehatan dan kualitas tanahnya sehingga kesuburan tanah terus meningkat dan terjaga. Kayu dari kebun legum tersebut juga bisa dimanfaakan untuk produksi, briket, briket arang bahkan wood pellet.

Sebagai hal mendasar dan entry point untuk usaha di atas adalah perbaikan kualitas lahan atau tanah bekas tambang batubara tersebut. Ada sejumlah cara bisa dilakukan untuk hal tersebut, tetapi penggunaan biochar adalah salah satu opsi terbaik. Dengan biochar tidak hanya meningkatkan pH atau keasaman tanah sehingga nutrisi akan banyak terserap oleh tanaman dan aktivitas mikroba tanah untuk mengurai bahan organik semakin aktif, tetapi juga mampu menyerap sejumlah unsur kimia berbahaya di tanah, meningkatkan karbon organik tanah yang mampu bertahan ratusan tahun dan juga menyerap gas rumah kaca dari atmosfer. Biochar tersebut bisa dibuat dari sejumlah limbah pertanian, kehutanan dan agroindustri, seperti potongan-potongan kayu dari penebangan hutan maupun dari limbah pabrik sawit seperti tandan kosong dan fiber. Sejumlah daerah di Kalimantan selain kaya dengan deposit batubara dan juga saat ini banyak lahan bekas tambang tersebut terbengkalai juga banyak bahan biomasa seperti limbah hutan dan limbah pabrik sawit tersebut untuk produksi biochar.  


 

Dalam rangka penurunan emisi CO2 di atmosfer, biochar juga mampu menyerap CO2 dari atmosfer (carbon sequenstration) dan merupakan skenario carbon negative. Biochar yang diaplikasikan di tanah tersebut merupakan carbon sink, sebagai salah satu opsi dari carbon credit selain carbon offset. Dalam era dekarbonisasi saat ini upaya menurunkan kadar CO2 di atmosfer adalah hal penting. Di Indonesia dengan masih banyaknya lahan hutan maka carbon credit bisa didapat dari penyerapan CO2 dengan pohon-pohon di hutan tersebut, sehingga hutan sebagai carbon sink juga. Tetapi di negara lain yang penggunaan energi fosilnya sangat besar atau masif, maka mereka harus mengurangi dampak buruk iklim akibat pembakaran bahan energi fosil khususnya batubara. Mereka bisa saja membeli carbon credit pada aplikasi biochar ini.

Batubara adalah energi fosil yang paling banyak digunakan untuk pembangkit listrik di dunia saat ini dan Indonesia adalah salah satu produsen batubara tersebut. Walaupun dalam beberapa waktu ke depan penggunaan batubara ini akan dikurangi dan bahkan di sejumlah negara akan dihentikan sama sekali, tetapi dampak buruk dari pertambangan batubara ini masih banyak, merusak bahkan membahayakan lingkungan. Hal ini menjadi urgensi untuk melakukan perbaikan lahan atau tanah bekas tambang tersebut yang diperkirakan mencapai 8 juta hektar di Indonesia. Di satu sisi pembangkit listrik batubara bisa saja membeli carbon creditnya untuk aplikasi biochar seperti skema di atas. Pabrik sawit di lain sisi juga banyak menghasilkan limbah padat khususnya tandan kosong yang bisa dmanfaatkan untuk produksi biochar tersebut. Perusahaan-perusahaan besar tersebut bisa saja berkolaborasi untuk mengatasi masalah iklim akibat meningkatnya konsentrasi CO2 di amosfer ini. Sampai hari ini dilaporkan dari observatorium Mauna loa, di Hawaii, Amerika Serikat bahwa konsentrasi CO2 di atmosfer telah melebihi 400 ppm atau masih terjadi kenaikan sekitar 2 ppm setiap tahunnya, padahal target global menurun konsentrasi itu menjadi 350 ppm saja.

Produksi Bark Briquette dari Limbah Pabrik Wood Pellets

Untuk mengurangi kadar abu dari wood pellets sehingga kualitasnya meningkat maka pengupasan kulit kayu (debarking) biasa dilakukan. Dengan p...