Senin, 20 Februari 2023

Green Economy di Industri Semen Bagian 3

Fly ash adalah hasil samping atau limbah pembangkit listrik batubara. Seperti halnya slag, fly ash juga merupakan bahan aditif atau suplemen (SCM /supplementary cementious material) pada produksi semen. Bedanya fly ash sangat lembut sehingga tidak perlu dihaluskan lagi dan bisa langsung dicampurkan dengan clinker dan gypsum. Setiap ton penggunaan fly ash tersebut mencegah sekitar 1 ton karbondioksida (CO2) keluar ke atmosfer. Hal ini sejalan dengan green economy atau dekarbonisasi sebagai upaya solusi iklim pada industri tersebut. 

Unloading fly ash
Sama halnya slag, kandungan kimia fly ash juga turut berpengaruh pada kualitas semen yang dihasilkan, sebagai contoh kawasan atau negara tertentu memiliki persyaratan kandungan alumina grade 120 pada slag tersebut. Semen dengan kualitas tertentu bisa dirancang dengan penggunaan bahan-bahan aditif tersebut. Pada era saat ini selain faktor teknis seperti kekuatan mekanis atau daya rekat semen, microstructure, durabilitas dan sebagainya,  dan faktor ekonomi, faktor produk yang ramah lingkungan juga menjadi perhatian atau citra positif tersendiri. Circular economy berupa pemanfaatan limbah dari industri lain menjadi bahan baku industri ini, juga terjadi pada industri semen. Dan pada dasarnya industri semen selain bisa untuk mengolah limbah juga sebagai pemusnah limbah.

Jumat, 13 Januari 2023

Biochar mau untuk Perbaikan Kesuburan Tanah, Bahan Bakar, Bahan Baku Industri ataukah Solusi Iklim ?

Saat ini maih banyak limbah-limbah pertanian (batang jagung, tanaman kedelai, kulit kedelai dan sebagainya) yang belum termanfaatkan sehingga malah mencemari lingkungan. Pemanfaatan limbah-limbah tersebut sehingga menjadi produk berguna yang memberi nilai tambah adalah solusi terbaiknya. Pemanfaatan atau pengolahan seperti apa yang menjadi solusi terbaik untuk pemanfaatan limbah-limbah tersebut ? Hal ini tentu tergantung pada sejumlah faktor yang mempengaruhinya seperti kesiapan pasar, ketersediaan dan keberlangsungan pasokan limbah biomasa khususnya limbah-limbah pertanian tersebut, kesiapan teknologi termasuk investasi teknologi tersebut, keuntungan dan keberlanjutan bisnisnya, infrastruktur dan sumber daya manusianya (SDM). Produksi biochar atau arang dari limbah biomasa tersebut bisa jadi merupakan opsi terbaik. Tetapi memang biochar atau arang tersebut multifungsi atau bisa digunakan pada sejumlah penggunaan. Lalu pertanyaannya adalah penggunaan biochar untuk bidang apa yang memberi hasil atau manfaat terbaik ?

Produksi biochar tersebut dilakukan dengan teknologi pirolisis lambat (slow pyrolysis). Dengan teknologi tersebut produksi biochar bisa optimal baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal berbeda apabila menggunakan teknologi pirolisis cepat (fast pyrolysis) yang menghasilkan produk biooil atau produk cair sebagai produk utamanya, dengan produk biochar jauh lebih sedikit. Ataupun apabila menggunakan menggunakan teknologi gasifikasi yang produk utamanya berupa gas, sehingga proporsi biochar lebih kecil atau bisa dianggap sebagai produk samping saja maka hal tersebut juga akan kurang optimal. Hal-hal tersebut sehingga pemilihan teknologi yang tepat adalah sesuatu hal penting untuk bisa memberi hasil optimalnya. 

Produksi biochar untuk pertanian juga belum menjadi trend dikalangan petani di Indonesia, sehingga limbah-limbah pertanian mereka banyak yang tidak termanfaatkan bahkan mencemari lingkungan tersebut. Faktor lain yang mempengaruhi adalah kondisi tanah pertanian itu sendiri. Penggunaan pupuk kimia secara dominan dan berlebihan telah merusak tanah-tanah pertanian tersebut sehingga produktivitas pertanian terus menurun. Dan upaya memperbaiki tanah tersebut memerlukan upaya yang tidak mudah dan cepat sehingga kesuburan tanah tersebut bisa dipulihkan (recovery) dan terus dijaga untuk jangka panjangnya. Kombinasi penggunaan bahan organik dengan teknik tertentu perlu dilakukan untuk mencapai hal tersebut. Biochar bisa digunakan juga untuk membuat penggunaan bahan organik tersebut menjadi lebih efisien seperti mengurangi bahan yang tercuci (leaching) dan meningkatakan aktivitas mikroba tanah. Dengan efisiensi yang meningkat dari teknik tersebut karena penggunaan biochar, maka hal tersebut juga meminimalkan input sehingga biaya produksi bisa lebih ditekan. Integrasi pertanian dan peternakan menjadi keharusan untuk mendapatkan pasokan bahan organik secara mencukupi, kualitas terjaga dan berkelanjutan. Sedangkan pada tanah-tanah masam dan kering, penggunaan biochar terlihat memberi efek yang lebih signifikan.

Penggunaan biochar sebagai bahan terutama untuk bbq dan memasak serta penggunaan lainnya yakni sebagai reduktor pada pembuatan baja. Penggunaan untuk bbq tidak terlalu banyak, hal ini mengolah atau memasak makanan secara bbq hanya seperti hobi atau hanya segmen komunitas khusus saja. Dan biochar untuk memasak juga tidak banyak, atau hal ini lebih umum di Afrika, sedangkan di Indonesia pilihan menggunakan kayu bakar atau LPG lebih umum dijumpai. Demikian juga kebutuhan biochar sebagai reduktor pada pembuatan baja juga tidak banyak. Sedangkan penggunaan biochar untuk bahan bakar industri seperti bahan bakar boiler dan pembangkit listrik hampir tidak ada. Hal tersebut selain karena proses produksinya menjadi lebih lama (perlu proses karbonisasi), konversi ke dari biomasa ke biochar kecil (~25%), dan harga biochar lebih mahal. Wood pellet dan cangkang sawit (PKS/palm kernel shell) lebih menjadi pilihan untuk bahan bakar industri tersebut.    

Biochar juga bisa digunakan untuk bahan baku berbagai barang-barang industri kebutuhan manusia atau subtitusi bahan-bahan yang berasal yang berasal dari fossil (seperti migas) menjadi bahan-bahan lebih ramah lingkungan dan terbarukan. Bahan-bahan seperti plastik bisa digantikan dengan biochar. Papan partikel (particle board) yang biasanya masih menggunakan limbah-limbah kayu juga bisa digantikan dengan biochar tersebut. Trend ini saat ini belum terjadi, tetapi diprediksi tidak lama lagi akan menjadi perhatian bahkan trend baru di industri. 

Biochar untuk solusi iklim sepertinya akan menjadi trend tidak lama lagi. CO2 dari atmosfer yang dikonversi menjadi biomasa oleh tumbuhan, diubah menjadi biochar dan disimpan (sequestration) khususnya dalam tanah. Karbon yang tersimpan dalam biochar tersebut tidak akan lepas ke atmosfer karena biochar tidak terdekomposisi hingga ratusan bahkan ribuan tahun atau bisa disimpan secara permanen. Secara prinsip hal ini seperti menyimpan karbon (CO2) dengan hutan konservasi sehingga menjadi carbon sink. Pohon-pohon atau tanaman akan menyerap CO2 dari atmosfer dan dijaga sedemikian rupa untuk mencapai target serapan CO2 yang dikehendaki selanjutnya dikompensasi dengan carbon credit, demikian juga biochar, seberapa banyak karbon yang bisa disimpan (sequestration) selanjutnya juga dikompensasi dengan carbon credit tersebut. Dalam prakteknya penggunaan biochar tersebut akan optimal dengan upaya penyuburan tanah pada tanah-tanah sakit atau rusak atau bermasalah seperti tanah pasca tambang, tanah masam dan tanah sakit akibat overdosis pupuk kimia. Carbon sink dengan biochar tersebut lebih mudah dan murah dibandingkan dengan metode carbon capture and storage (CCS) dengan CO2 yang disimpan dalam lapisan bumi. 

Untuk menurunkan suhu bumi yakni dengan menurunkan konsentrasi gas rumah kaca. Untuk menurunkan 1 ppm konsentrasi CO2 di atmosfer sama dengan menyerap sekitar 15 gigaton CO2. Sedangkan biaya yang dibutuhkan untuk mitigasi bencana besar perubahan iklim diperkirakan 1,6 trilyun USD sampai 3,8 trilyun USD setiap tahunnya. Untuk mencapai konsentrasi CO2 di atmosfer menjadi 350 ppm dibutuhkan sekitar 70.000 biochar seukuran piramida Giza dengan asumsi bahan bakar fossil dihentikan penggunaannya. Dengan volume piramida Giza 2,6 juta m3 dan density biochar rata-rata 200 kg/m3 maka biochar seukuran piramida Giza memiliki berat 520 juta kg atau 520 ribu ton. Pekerjaan sangat besar tentu saja. Produksi biochar harus tumbuh 5000 kali dari kapasitas produksinya saat ini. Dengan biochar seukuran unit piramida Giza tersebut kita perlu membangun 4 piramida per hari (sekitar 2 juta ton biochar per hari) untuk 100 tahun ke depan dan dimulai saat ini. 

Sabtu, 31 Desember 2022

Urgensi Biochar Untuk Memperbaiki Kesuburan Tanah Perkebunan Sawit Ditengah Tingginya Harga Minyak Mentah Sawit (CPO)

Tingginya harga jual CPO sehingga memberi keuntungan besar sehingga bisa menutup biaya produksi tentu tidak berlangsung selamanya. Suksesnya produksi TBS di perkebunan sawit adalah salah satu kunci suksesnya produksi CPO. Suksesnya produksi TBS terkait dengan suksesnya perkebunannya dan komponen biaya tertinggi pada perkebunan sawit adalah biaya pupuk. Kebutuhan pupuk kelapa sawit tinggi setiap pohon sawit mencapai sekitar 10 kg setiap tahunnya dan pupuk tersebut adalah non-subsidi.  Pupuk sebagai salah satu komponen mata rantai biaya produksi CPO tersebut menjadi mudah dibeli jika harga CPO tinggi atau terjadi keuntungan besar. Tetapi semata-mata mengandalkan kondisi tingginya harga CPO saat ini untuk operasional bisnis kelapa sawit tentu suatu kesalahan.

Dan faktanya tahun 2019 harga CPO anjlok dan industri sawit rugi atau hampir tidak ada untung sama sekali. Faktanya ketika terjadi penurunan harga CPO juga menimbulkan kekhawatiran bagi Indonesia karena industri sawit tersebut memiliki banyak peranan strategis baik secara ekonomi, sosial dan lingkungan. Tercatat bahwa harga CPO sejak 2018 terus mengalami penurunan setiap bulannya dibandingkan harga pada tahun CPO 2017. Trend penurunan harga ini menyentuh harga CPO dunia sejak tahun 2015. Harga CPO tersebut tercatat menyentuh angka $448/ton pada bulan November 2018. Padahal harga CPO dunia pada tahun 2016 dan 2017 secara rata-rata diatas $700/ton. Secara rata-rata harga CPO terjadi penurunan 15-16 persen dibandingkan 2017. Eksport CPO ke pasar tradisional Indonesia yakni Uni Eropa dan India pada tahun 2018 juga mengalami penurunan dibandingkan 2017. 

Dan bukan tidak mungkin hal tersebut akan terjadi lagi. Seperti pengalaman masa lalu berupa tuduhan issue dari Parlemen Uni Eropa yang bertujuan menghambat minyak sawit dari Indonesai menguasai pasar Eropa sehingga eksport CPO berkurang, perang dagang yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Sementara dalih yang digunakan adalah tentang deforestasi, praktek kerja anak dan memanfaatkan hutan ulayat. Hal tersebut tentu seharusnya menjadi pelajaran berharga. PTPN holding saja cara mensiasatinya dengan membuat hilirisasi produk CPO (turunan CPO) yakni dengan membuat industri oleokimia. Jika harga CPO jeblok, mayoritas CPO akan dibawa ke produk hilir. Jika margin produk hilir kurang bagus, mayoritas cukup CPO saja. Fleksibilitas produksi sebagai strategi yang membuat industri sawit tersebut "kebal" krisis. Mayoritas produk mereka tersebut baik CPO dan turunannya adalah untuk export. Tetapi membuat hilirisasi industri sawit juga bukan hal yang mudah dan murah yang tidak semua perusahaan sawit bisa melakukannya. 

Biochar untuk memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan efisiensi pemupukan sehingga meningkatkan produktivitas TBS adalah solusi terbaik. Dengan naiknya produktivitas TBS otomatis produksi CPO juga meningkat sehingga upaya ekstensifikasi dengan deforestasi bisa dihindari. Padahal juga selain harga CPO global yang sewaktu-waktu bisa drop, harga pupuk juga sewaktu-waktu juga bisa naik. Hal tersebut semakin mendorong upaya aplikasi biochar tersebut. Pemakaian biochar di perkebunan sawit juga sebagai upaya iklim untuk carbon sequestration (carbon sink) atau skenario karbon negatif untuk mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer, sehingga hal tersebut mendapat penghasilan tambahan berupa carbon credit, yang nilainya semakin tinggi. Faktor lainnya adalah pada industri sawit atau produksi CPO, produk minyak nabati hanya 10% dan 90% adalah biomasa, sedangkan sejumlah biomasa tersebut sangat potensial sebagai bahan baku produksi biochar. 

Dan karena secara organisatoris perusahaan sawit terbagi divisi kebun dan divisi pabrik CPO sehingga untuk memudahkan operasionalnya bisa saja produksi biochar tersebut sebagai satuan bisnis terpisah tetapi masih dalam satu perusahaan ataupun bisa juga dengan pihak lain.  Dan misalnya tandan kosong sebagai bahan baku biochar yang posisinya berada di pabrik sedangkan aplikasi biochar tersebut di tanah perkebunannya. Selain manfaat yang disebutkan di atas produksi biochar juga sebagai upaya penanggulangan limbah biomasa, dan menghasilkan energi yang bisa digunakan untuk produksi CPO tersebut.  Dan ketika harga CPO jeblok tetapi dengan biaya produksinya murah karena pemakaian pupuk dikebun bisa ditekan tetapi produktivitas TBS tetap tinggi maka kerugian yang dialami juga lebih sedikit.  

Sabtu, 24 Desember 2022

Memilih Spesies Domba Untuk Peternakan

Secara umum ada dua tipe ideal domba yakni domba tipe pedaging dan domba tipe wol. Tipe domba wol saat ini belum diminati oleh peternak di Indonesia. Hal tersebut mungkin karena produksi daging masih menjadi prioritas utama dan dengan iklim tropis Indonesia kurang sesuai untuk pemakaian wol. Berdasarkan kondisi tersebut maka pemilihan domba pedaging lebih cocok untuk kondisi Indonesia. Apalagi ditambah dengan kebutuhan daging di Indonesia yang belum terpenuhi. Permintaan daging domba untuk aqiqah dan warung/resto sate, masih banyak belum terpenuhi. Ditambah lagi kebutuhan untuk Idul Adha yang dirayakan umat Islam setiap tahunnya yang bisa melonjak dua kali lipat. Kebutuhan eksport juga tidak kalah besar, bahkan mencapai jutaan ekor setiap tahunnya, seperti pada musim haji untuk dam diperkirakan kebutuhannya mencapai 2 juta ekor. 

Domba Southdown
Domba tipe pedaging atau potong memiliki ciri-ciri sebagai berikut : bentuk badan padat, dada lebar dan dalam, leher pendek, serta garis punggung dan pinggang lurus. Selain itu juga memiliki kaki pendek dan seluruh tubuh berurat daging yang padat. Beberapa domba yang termasuk tipe pedaging antara lain Southdown, Hampshire dan Oxford. Domba asli Indonesia belum dapat dikelompokkan ke salah satu tipe ideal dari kedua tipe diatas. Walaupun demikian, domba-domba di Indonesia umumnya mengarah ke tipe potong atau pedaging. Beberapa domba yang dianggap asli Indonesia karena sudah lama dibudidayakan di Indonesia, yakni domba ekor tipis (DET), domba ekor gemuk (DEG), domba Garut, domba Wonosobo (dombos) dan domba Batur.

Domba Dorper
Perbaikan mutu genetik untuk meningkatkan produktivitas ternak juga banyak dilakukan melalui persilangan (kawin silang), misalnya domba Suffmer hasil persilangan domba Merino dan domba Suffolk, lalu domba St Croix hasil persilangan domba Afrika Barat dengan domba lokal di kepulauan Virginia di Amerika Serikat, lalu domba Katahdin hasil persilangan 3 jenis domba yakni domba St. Croix dengan domba Suffolk dan domba Shire. Dan domba Dorper yang populer saat ini di Indonesia adalah persilangan domba Black Head Persia dengan domba Dorset Horn. 

Domba dan kambing walaupun mirip sebenarnya (speciesnya) berbeda. Sejumlah daerah di Indonesia memiliki menu favorit dari domba sedangkan daerah lainnya kambing. Daerah Istimewa Yogyakarta adalah daerah yang memiliki menu favorit daging domba, dan banyak sekali dijumpai warung atau restoran masakan domba tersebut khususnya sate. Uniknya di Yogyakarta walaupun nama warungnya bertuliskan sate kambing tetapi faktanya yang disembelih atau digunakan adalah domba. Sedangkan daerah-daerah yang mengembangkan peterakan sapi Bali, maka domba tidak bisa dipelihara atau dilarang diternakkan karena khawatir terjadinya penyakit Jembrana. Daerah seperti provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur adalah contoh daerah yang melarang peternakan domba karena mengembangkan sapi Bali.

Peternakan domba besar-besaran telah banyak dilakukan di Eropa dan seharusnya hal tersebut juga bisa dilakukan juga di Indonesia. Integrasi peternakan domba dengan kebun energi adalah cara jitu untuk membuat peternakan domba besar-besaran tersebut. Kayu dari kebun energi akan menjadi produk wood pellet dengan orientasi export. Menurut data Hawkins Wright, dari 2020-’21, permintaan wood pellet untuk industri global tumbuh sebesar 18,4%, dengan produksi hanya tumbuh 8,4%, apalagi saat ini dengan menghilangnya Rusia  yang volumenya mencapai hampir 3 juta ton, lebih detail bisa dibaca disini. Sedangkan daunnya digunakan untuk pakan ternak khususnya peternakan domba tersebut atau bisa juga diolah menjadi produk pakan ternak seperti pellet pakan. Dengan populasi global diprediksi akan mencapai 9 milyar manusia pada 2050, kebutuhan pangan khususnya protein seperti daging juga meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk tersebut. Peternakan domba maupun produksi pakan ternaknya sangat penting sebagai bagian pemenuhan pangan tersebut khususnya protein, untuk lebih detail bisa dibaca disini.  

Selasa, 20 Desember 2022

Green Economy di Industri Semen Bagian 2

Sejumlah pabrik semen bisa berproduksi dengan baik cukup hanya dengan bahan baku batu kapur (limestone) dan lempung (clay). Hal tersebut karena dari material tersebut telah terpenuhi semua oksida yang dibutuhkan dalam pembuatan clinker-nya. Oksida-oksida yang dibutuhkan tersebut adalah CaO (C), SiO2 (S), Al2O3 (A) dan Fe2O3 (F). Batu kapur (lime stone) sendiri biasa memiliki kandungan CaO (C) sekitar 90% dan SiO2 (S) 5%. Tetapi fakta di lapangan banyak pabrik semen yang membutuhkan material tambahan untuk mencapai komposisi oksida yang diinginkan atau biasa disebut bahan korektif. Sejumlah bahan korektif tersebut adalah high grade limestone yang memiliki kandungan CaO diatas 95% sebagai koreksi oksida C, selanjutnya silica sand untuk koreksi oksida S, selanjutnya kaolin atau bauksit untuk koreksi oksida A dan iron ore atau pyrite untuk koreksi oksida F.

Jadi secara umum saat ini material yang dibutuhkan yang dibutuhkan untuk produksi clinker tersebut adalah limestone, clay, silica sand dan iron ore. Dalam perkembangannya iron ore bisa digantikan dengan slag. Kandungan Fe2O3 (F) slag lebih rendah dibandingkan iron ore tetapi harganya lebih murah. Slag yang digunakan terutama berasal dari industri besi dan baja yang biasa dikenal dengan GBFS atau GGBFS. Slag sebenarnya juga material aditif yang bisa ditambahkan dengan clinker dan gypsum sehingga menjadi produk (slag) semen. Selain slag material lain seperti fly ash juga biasa digunakan sebagai aditif tersebut, kedua bahan tersebut biasa disebut bahan suplemen semen atau SCM (supplementary cementious material). Ukuran fly ash yang sangat lembut tidak perlu dihancurkan lagi sehingga bisa langsung dicampurkan dengan clinker dan gypsum, sedangkan slag dari pabrik besi atau baja perlu dihancurkan atau dilembutkan lagi menjadi GGBFS sebelum dicampur dengan clinker dan gypsum. Untuk kebutuhan aditif tersebut selain aspek fisik seperti ukuran partikel, aspek kimia yakni slag chemistry dan fly ash chemistry adalah parameter penting yang perlu diperhatikan. 

Penggunaan SCM seperti slag dan fly ash di atas, akan mengurangi penggunaan terutama bahan bakar fosil. Hal ini karena SCM tersebut ditambahkan pada clinker dan gypsum sehingga tidak membutuhkan energi panas. Energi panas sendiri dibutuhkan pada pembuatan clinker yakni di calciner dan rotary kiln. Sebagai contoh pada pembuatan slag cement menghasilkan 38% lebih sedikit emisi CO2 dibandingkan proses untuk produksi portland cement karena lebih sedikit batu gamping (limestone) dibakar untuk produksi slag cement daripada dibutuhkan untuk Portland cement. Energy panas tersebut saat ini masih banyak menggunakan bahan bakar fossil dan secara bertahap mulai menggunakan energi terbarukan. Energi berasal dari biomasa seperti limbah pertanian dan kotoran hewan juga mulai digunakan. 

Rabu, 14 Desember 2022

Produksi Briket / Pellet Kotoran Sapi Sebagai Bahan Bakar dan Bioekonomi

Penggunaan energi terbarukan semakin meningkat seiring kesadaran global masalah lingkungan dan iklim. Bahan-bahan yang dulu dianggap limbah dan mencemari lingkungan, saat ini dengan konsep zero waste dan circular economy telah banyak diubah menjadi energi alternatif atau energi terbarukan. Industri-industri besar seperti pembangkit listrik, industri semen dan sebagainya telah mulai menggunakan energi terbarukan tersebut dalam rangka program penurunan emisi CO2 atau dekarbonisasi. Program dekarbonisasi ini semakin populer dan diaplikasikan pada berbagai lini kehidupan.

Sebagai contoh riil adalah industri semen di UAE yakni Gulf Cement Co, yang menggunakan energi terbarukan dari kotoran unta. Dari hasil ujicoba operasional didapat bahwa setiap 2 ton kotoran unta bisa menggantikan 1 ton batubara. Penggunaan kotoran hewan sebagai bahan bakar sebenarnya bukan hal yang baru bagi mereka, dari cerita nenek moyang kotoran sapi telah digunakan sebagai pemanas atau bahan bakar, tetapi untuk kotoran unta banyak yang belum terpikirkan. Gulf Cement Co saat ini menggunakan 50 ton/hari kotoran unta sebagai bahan bakar. UAE memiliki populasi unta sekitar 9000 ekor untuk produksi susu, balap dan kontes kecantikan. Setiap unta menghasilkan kotoran 8 kg/hari, lebih banyak atau berlebih daripada yang dibutuhkan petani. Melalui program pemerintah para peternak unta mengumpulkan kotoran-kotoran unta tersebut di tempat-tempat pengumpulan. 

Kotoran sapi juga telah digunakan sebagai sumber energi dari Amerika Serikat, Zimbabwe sampai ke China. Di Indonesia hal tersebut juga seharusnya bisa dilakukan. Dengan setiap ekor sapi menghasilkan kotoran rata-rata 15 kg per hari (hampir 2 kalinya unta), maka hal itu sama seperti kondisi di UAE di atas, volume kotorannya lebih banyak atau berlebih daripada yang dibutuhkan petani. Berlebihnya kotoran tersebut menjadi masalah lingkungan bahkan harus dibuang ke sungai dan sebagainya. Ratusan ton setiap hari kotoran sapi tersebut yang belum termanfaatkan di sejumlah daerah di Indonesia, padahal kotoran tersebut bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar terutama diolah menjadi briket atau pellet (terlebih dahulu dikeringkan). Pemadatan kotoran sapi menjadi briket atau pellet tersebut selain bertujuan untuk mendapatkan ukuran dan bentuk yang seragam, padat, memudahkan penyimpanan dan pemakaian, juga menghemat biaya transportasi. Dan untuk memenuhi kebutuhan bahan pabrik semen dibutuhkan seperti briket / pellet kotoran sapi dalam jumlah besar, sehingga dibutuhkan alat produksi kapasitas besar yang bekerja kotinyu. Diperkirakan kebutuhan pellet atau briket tersebut ribuan hingga puluhan ribu ton setiap bulannya.

Di pabrik semen ada 2 tempat yg membutuhkan energi panas : 1. calciner (tempat terjadi proses kalsinasi), 2. Rotary kiln (jantungnya pabrik semen, tempat pembuatan clinker). Energi terbarukan seperti briket atau pellet kotoran sapi, biasanya akan digunakan pada calciner dengan feeding point tersendiri. Sedangkan pada rotary kiln yang membutuhkan panas lebih tinggi saat ini umumnya pabrik semen masih menggunakan bahan bakar fossil. Penggunaan secara bertahap energi terbarukan akan mengurangi pencemaran lingkungan dan mengakselerasi program global dekarbonisasi. Pabrik semen sendiri bisa dikatakan sebagai industri yang mengolah dan memusnahkan limbah. Hal tersebut karena pabrik semen bisa mengolah limbah seperti slag dan fly ash sebagai bahan additif semen yang diproduksi - lebih detail bisa dibaca disini dan juga memusnahkan limbah yakni seperti penggunaan limbah kotoran sapi sebagai bahan bakar tersebut.  

Kamis, 08 Desember 2022

Produksi Wood Pellet : Dengan Rotary Dryer atau Belt Dryer ?

Kualitas udara menjadi faktor penting dalam kesehatan lingkungan. Semakin berkualitas udara semakin baik kualitas lingkungan tersebut. Menjaga kualitas udara tetap bersih kadang bukan sesuatu hal yang mudah dan murah khususnya bagi pelaku industri. Semakin tinggi standar kualitas udara yang digunakan juga semakin besar upaya dan biaya dikeluarkan. 

Pada industri wood pellet sebagai contohnya, khususnya pada penggunaan alat pengering atau dryer. Hampir semua industri wood pellet di Asia menggunakan rotary dryer dan hampir tidak ada yang menggunakan belt dryer. Sedangkan di Eropa belt dryer banyak digunakan karena emisi yang lebih rendah daripada rotary dryer. Selain itu belt dryer juga memiliki efisiensi lebih tinggi dan bisa bekerja dengan suhu lebih rendah dibanding rotary dryer. Dengan sejumlah keunggulan tersebut tetapi memang belt dryer juga lebih mahal dibanding rotary dryer. 

Rotary dryer pada dasarnya juga bisa memiliki performa yang baik khususnya pada aspek emisi apabila dirancang dan dioperasikan dengan tepat. Penggunaan dust collector yang memiliki efisiensi tinggi seperti cyclone dan bag filter bisa untuk mencapai standar kualitas emisi yang tinggi. Tetapi juga semakin tinggi efisiensi dust collector tersebut juga membutuhkan power atau daya listrik lebih tinggi.

Jadi pilihan yang digunakan sebenarnya sangat tergantung pada target emisi udara yang diharapkan. Eropa dan US / Canada pada umumnya memiliki standar kualitas  udara lebih tinggi dibandingkan negara-negara di Asia. Hal tersebut sehingga membuat aspek emisi tersebut menjadi perhatian penting bagi mereka. Sedangkan ditinjau dari sisi produksi wood pellet aspek yang diutamakan adalah efisiensi, sehingga dengan performa yang baik dryer bisa menghasilkan produk serbuk kayu kering yang sesuai untuk umpan pelletiser. Kualitas wood pellet sebagai hasil akhir juga sangat tergantung kualitas produk serbuk kering dari dryer tersebut. Sedangkan ditinjau dari aspek keselamatan (safety) tingginya konsentrasi partikel debu sehingga bisa nenumpuk di sejumlah tempat di pabrik wood pellet juga berpotensi lebih besar terjadinya kebakaran.   

 Peluang Export Wood Pellet
Kurangnya pasokan wood pellet di Eropa akibat perang Rusia – Ukraina, menyebabkan produsen wood pellet dari Asia Tenggara dan juga Amerika Utara mencoba menangkap peluang tersebut. Produksi wood pellet dari Rusia diperkirakan sekitar 3 juta ton/tahun yang sebelumnya mengisi pasar Eropa kini dilarang, sehingga akibat pelarangan tersebut membuat stok wood pellet di Eropa berkurang drastis. Banyaknya permintaan dan kurangnya pasokan secara alamiah akan mendorong naiknya harga, apalagi ditambah dengan naiknya komoditas energi yang lain, sehingga harga wood pellet semakin terkerek naik. Bahkan karena tingginya harga wood pellet di Eropa tersebut, wood pellet dari Vietnam yang sebelumnya mau dieksport ke Jepang, dialihkan ke Eropa. 

Kondisi tidak menentu tersebut juga diprediksi tidak akan pulih dalam waktu singkat. Pada tahun 2021 Eropa memimpin produksi wood pellet dengan produksi mencapai hampir 20 juta ton atau sekitar 48% dari produksi global, sedangkan konsumsi wood pelletnya mencapai 24,5 juta ton. Sedangkan menurut data Hawkin Wright tahun 2020-2021 bahwa pertumbuhan permintaan wood pellet global mencapai 18,4% sedangkan pertumbuhan suplai atau produksi hanya 8,4%. Indonesia seharusnya memiliki peluang besar menjadi pemain utama wood pellet dengan potensinya. Produksi wood pellet tersebut bisa untuk export ke Eropa menutupi kekurangan pasokan tersebut maupun secara umum untuk memenuhi permintaan global tersebut.

Pabrik Sawit: Ganti Boiler Saja? Apa Sekaligus Mencari Solusi untuk Bebas Problem Tandan Kosong Sawit dan Keuntungan Tambahan ?

Seiring dengan bertambah luasnya perkebunan sawit di Indonesia yang saat ini sekitar 17 juta hektar, maka demikian juga pabrik sawit yang di...