Tampilkan postingan dengan label export ke jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label export ke jepang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 September 2025

Peluang untuk Memasok Bahan Bakar Biomassa ke Jepang

Loading cangkang sawit / pks untuk export

Jepang saat ini mengoperasikan sekitar 290 pembangkit listrik biomasa. Kapasitas terpasangnya 7,3 GW tetapi yang beroperasi secara aktif hanya 4,96 GW (~68% dari kapasitas terpasang) dan output listrik mencapai puncaknya pada tahun 2024. Pada 2030 diproyeksikan akan terjadi penambahan pembangkit sebesar 6 GW tetapi faktanya terjadi beberapa perlambatan karena pengurangan daya pembangkit dan bahkan sampai menutup pembangkit listrik biomasa tersebut. Hal itu terjadi seperti di pembangkit Taketoyo JERA yang mengurangi tingkat operasional atau output daya listriknya dan pembangkit Suzukawa yang sampai ditutup karena tekanan ekonomi. Walaupun demikian tetapi rencana pembangunan pembangkit listrik biomasa baru tetap kuat yakni 11 pembangkit baru yang dijadwalkan beroperasi pada tahun 2025 ini yang dapat meningkatkan permintaan bahan bakar biomasa tahunan sekitar 1,1 juta ton. Kebutuhan bahan bakar biomasa adalah peluang usaha yang mesti dimanfaatkan apalagi bahan bakar biomasa untuk pembangkit listrik biomasa di Jepang tersebut sebagian berasal dari import. Berikut 2 contoh profil singkat pembangkit listrik biomasa di Jepang :


 1. Renova

Renova adalah pembangkit listrik biomasa yang berkapasitas 75 MW. Pembangkit ini berlokasi di Pelabuhan Omaezaki di bagian paling selatan Prefektur Shizuoka. Bahan bakar biomasa untuk pembangkit Renova ini menggunakan wood pellet dan cangkang sawit (PKS).  

Masalah kualitas bahan bakar dan aspek berkelanjutan menjadi perhatian penting bagi Renova misalnya pada cangkang sawit atau PKS seperti keberadaan material pengotor benda asing, dan kadar air harus pada batas yang bisa diterima atau serendah mungkin. Sedangkan pada wood pellet aspek teknis berupa kepadatan dan prosentase partikel halus (fine) menjadi perhatian. Hal inilah yang membuat Renova merasa perlu untuk mendorong investasi dalam pengujian dan analisis bahan bakar. 

Fasilitas energi terbarukan tersebut sebelumnya telah menunda operasi komersialnya dua kali karena dibutuhkannya waktu tambahan untuk penyesuaian akhir pada boiler dan turbin guna memastikan operasi yang stabil. Pada awalnya dijadwalkan beroperasi pada Desember 2023, lalu  Pada Desember 2024, Renova menyatakan bahwa peluncuran juga ditunda, hingga akhirnya mulai beroperasi pada awal 2025. Modifikasi tersebut diperlukan untuk memastikan operasi yang stabil dalam jangka panjang.

Renova adalah pemegang saham terbesar di Omaezakikou dengan 38%. Chubu Electric Power Co Inc berada di posisi kedua dengan 34%, sementara Mitsubishi Electric Financial Solutions Corp dan Suzuyo Shoji Co Ltd masing-masing memegang 18% dan 10%. Perusahaan ini juga sedang menjajaki bahan bakar biomasa alternatif, seperti tandan buah kosong, untuk mendiversifikasi pasokan bahan bakar biomasanya dan mengendalikan biaya dengan harga beli yang lebih murah. 

2. Kanda 

Energi Biomassa di Kota Kanda, timur laut Chiyoda, Tokyo. Diresmikan pada Juni 2021, fasilitas berkapasitas 75 MW ini beroperasi secara eksklusif dengan biomassa. Dengan kapasitas tahunan sekitar 500 juta kWh, pembangkit ini menghasilkan listrik terbarukan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik 170.000 rumah tangga—lebih dari sepuluh kali lipat kebutuhan listrik Kota Kanda. 

Kanda Biomassa Energy memanfaatkan tiga jenis biomassa: wood pellet (60 persen), cangkang sawit atau PKS (30 persen), dan wood chip (10 persen). Campuran bahan bakar tersebut mengurangi terjadinya GRK ke atmosfer sebesar 670.000 ton per tahun dibandingkan dengan pembangkit listrik batubara dengan kapasitas yang sama. Wood pellet diimpor dari British Columbia, Kanada dan Vietnam, cangkang sawit atau PKS dari Indonesia, dan wood chip didatangkan secara lokal dari Kyushu utara. 

Pabrik ini memiliki tiga tangki bahan bakar khusus untuk penyimpanan wood pellet. Biomassa dimasukkan ke dalam boiler circulated fluidized bed (CFB), yang kemudian diubah menjadi uap super panas (superheated steam) untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik. Uap tersebut kemudian didinginkan, dikondensasikan, dan didaur ulang kembali ke dalam sistem, memastikan pembangkitan listrik yang efisien dan berkelanjutan bagi pengguna rumah tangga dan industri di wilayah tersebut. 

Saham kepemilikan untuk pembangkit listrik Kanda Biomass adalah: Renova (43,07%), kehutanan Sumitomo (41,5%), Veolia Jepang (10%), Kyuden Mirai Energy (5%), dan Mihara Group (0,43%). Pembangkit listrik biomasa tersebut pada awalnya dikembangkan oleh Nippon Steel Engineering, Renova, dan Sumitomo Heavy Industries. 

Selasa, 03 Desember 2019

Export Wood Pellet ke Jepang, Mungkinkah?

Konsumsi bahan bakar biomasa khususnya wood pellet di Jepang terus meningkat seiring waktu sesuai target 4 - 6 GW pada 2030. Supplai wood pellet untuk Jepang terutama dari Kanada dengan volume lebih dari 250 ribu ton setiap tahunnya. Penggunaan wood pellet tersebut terutama adalah untuk bahan bakar pembangkit listrik (baca backgroundnya disini). Produsen wood pellet di Asia juga semakin meningkat tetapi faktanya tidak banyak yang bisa export ke Jepang. Jepang menerapkan standard ketat untuk kualitas wood pellet dan juga jaminan bahwa wood pellet tersebut diproduksi secara ramah lingkungan yang dibuktikan dengan sertifikat keberlanjutan (sustainibility) berupa FSC. Faktor lain yang membuat sulitnya mengeksport wood pellet ke Jepang adalah penerapan kontrak panjang dengan harga beli tetap selama waktu tertentu. Hal tersebut dikarenakan dengan kebijakan FIT (Feed in Tarrif), harga jual listrik yang diproduksi juga tetap selama 20 tahun dengan harga tergantung dari jenis bahan bakar tersebut. Selain itu juga volume pengapalan yang dibutuhkan juga cukup besar yakni 10 ribu ton untuk setiap pengapalan. Hal tersebut memberi konsekuensi untuk kapasitas pabrik wood pelletnya.
Lalu bagaimana track record export wood pellet dari Indonesia? Ternyata export wood pellet dari Indonesia ke Jepang masih sangat minim, pada umumnya hanya untuk fase ujicoba (trial). Hal tersebut sangat berbeda dengan komoditas bahan bakar biomasa lainnya yakni cangkang sawit (PKS : palm kernel shell) yang volume export ke Jepang saja diperkirakan lebih dari 1 juta ton setiap tahunnya. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Pertama, rata-rata produsen wood pellet di Indonesia masih berkapasitas kecil atau kurang dari 5000 ton/bulan. Selain itu bahan baku yang digunakan juga mayoritas berasal dari serbuk gergaji (sawdust) dari penggergajian (sawmill) dan limbah-limbah kayu dari industri pengolahan kayu. Kondisi tersebut juga menjadikan sangat sulit atau mustahil untuk mendapatkan sertifikat keberlanjutan karena sangat sulit melacak sumber kayu dari asalnya. Kedua, cangkang sawit jumlahnya melimpah di pabrik-pabrik sawit karena merupakan salah satu limbah padat dari pabrik sawit atau produksi CPO. Dengan produksi CPO nasional yang diperkirakan mencapai lebih dari 40 juta ton/tahun maka cangkang sawit yang dihasilkan diperkirakan mencapai lebih dari 10 juta/tahun dan hanya dengan melalui proses sederhana maka cangkang sawit juga sudah bisa di export. Secara teknis memang cangkang sawit juga memiliki banyak persamaaan untuk spesifikasi teknisnya seperti nilai kalor, ukuran, dan sebagainya, serta memiliki keunggulan berupa handling lebih mudah dan harga lebih murah.
Salah satu skenario untuk bisa mengeksport wood pellet ke Jepang, adalah produksi wood pellet dari kebun energi. Dengan kebun energi maka asal-usul kayu hingga seluruh aspek budidayanya bisa dipantau dan diverifikasi secara jelas sehingga seharusnya sertifikat seperti FSC bisa dengan mudah didapatkan. Pasokan bahan baku juga bisa lebih terjamin dan sangat mungkin untuk produksi dengan kapasitas besar. Untuk mengoptimalkan kebun energi tersebut juga bisa diintegrasikan dengan peternakan domba, sapi maupun kambing dan juga peternakan lebah madu. Ketiga aspek penting untuk kehidupan manusia yakni pangan (food), energi dan air bisa dilakukan dengan aktifitas tersebut, untuk lebih detail bisa dibaca disini.
Alternatif lainnya adalah dengan produksi EFB pellet atau pellet tandan kosong sawit, tetapi EFB pellet bukan kelompok wood pellet, karena berasal bukan dari biomasa kayu-kayuan (woody biomass), tetapi berasal dari limbah pertanian sehingga disebut pellet limbah pertanian atau agro-waste pellet. Kualitas agro-waste pellet umumnya lebih rendah dibandingkan dengan wood pellet terutama karena kadar abu lebih banyak dan nilai kalor lebih rendah. Selain faktor teknis di atas, ada hal penting yang perlu diperhatikan untuk produksi EFB pellet adalah ketersediaan listrik. Hal tersebut karena pabrik-pabrik sawit pada umumnya di lokasi terpencil sehingga sulit mendapatkan pasokan listrik, sedangkan listrik yang diproduksi oleh pabrik sawit juga tidak mencukupi apabila digunakan untuk produksi EFB pellet. Untuk bisa menghasilkan listrik yakni dengan produksi biogas dari POME atau limbah cair pabrik sawit, dan untuk lebih detail bisa dibaca disini.

Not Only Reduce Steam Cost, but Also Reduce Water Treatment Cost for Boiler Feed Water and Even Also Increase Revenue with EFB Cogeneration

Walaupun limbah biomasa berlimpah di pabrik sawit, tetapi penggunaan boiler yang efisien juga dibutuhkan. Penggunaan limbah biomasa yang efi...