Tampilkan postingan dengan label krisis energi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label krisis energi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2022

Produksi Wood Pellet Untuk Menembus Pasar Eropa

Kondisi perang Rusia-Ukraina yang terjadi memiliki dampak pada industri wood pellet yakni terjadinya kekurangan suplai di Inggris dan negara-negara Eropa lainnya. Upaya untuk menambah pasokan telah mereka lakukan untuk mengamankan ketersediaan wood pellet tersebut. Kekurangan wood pellet tersebut baik untuk penggunaan industri maupun rumah tangga (pemanas ruangan). Produksi wood pellet dari Rusia menjadi tidak bisa diterima oleh pasar Eropa padahal jumlahnya besar (Rusia mengekspor lebih dari 870.000 ton ke Denmark saja tahun lalu) dan kondisi diperkirakan terjadi minimal sampai 12 bulan mendatang. Kekurangan pasokan wood pellet diperkirakan mencapai 3,4 juta ton yang merupakan produksi dari Rusia, Ukraina dan Belarus. Konflik Rusia-Ukraina telah menyebabkan harga wood pelet yang tinggi karena berbagai alasan, terutama karena kelangkaan wood pelet dan bahan bakar lain yang masuk ke Eropa dan harga listrik yang tinggi.

Kebutuhan wood pellet juga terus meningkat seiring program dekarbonisasi (subtitusi bahan bakar fossil ke energi terbarukan). Menurut data Hawkins Wright, dari 2020-’21, permintaan wood pellet untuk industri global tumbuh sebesar 18,4%, dengan produksi hanya tumbuh 8,4%. Apalagi saat ini dengan menghilangnya Rusia membuat harga wood pellet lebih tinggi yang mencapai $300 per ton, tetapi dengan harga tinggi pun pasokan wood pellet tetap terkendala. Tingginya harga bahan bakar fossil juga telah menciptakan kenaikan permintaan wood pellet, terutama rumah tangga-rumah tangga di Eropa yang beralih ke wood pellet untuk pemanas ruangan dan diperkirakan peningkatan permintaan itu mencapai 2,5 juta ton pada tahun 2022 ini, menurut laporan proPellets Austria.   Di Austria—dan sebagian besar representatif dari mereka di seluruh Eropa — harga wood pellet memecahkan rekor dengan meningkat lebih dari 53% dibandingkan tahun sebelumnya tanpa tanda-tanda turun dalam waktu dekat. Bahkan survei bulan Juni 2022 yang diselesaikan oleh proPellets Austria menghasilkan harga rata-rata wood pellet naik 66% dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, terlepas dari peningkatan itu, wood pellet masih menawarkan keunggulan harga 82,7% dibandingkan untuk minyak pemanas dan 18,3% dibandingkan dengan gas alam. Adapun wood pellet kemasan (bagged pellets) naik 52,8% dibandingkan dengan tahun lalu.

ProPellets Austria juga melaporkan untuk merespon permintaan wood pellet tersebut khususnya untuk memastikan kebutuhan jangka panjang, industri wood pellet Austria membangun 11 pabrik wood pellet baru dengan percepatan pemanfaatan residu kayu. Energi internasional pasar berada dalam keadaan pergolakan, paling tidak karena invasi Rusia ke Ukraina, dan ini juga mempengaruhi pasar wood pellet secara global khususnya di Eropa.  Sedangkan Inggris juga  telah menghadapi kekurangan 200.000 ton wood pellet di pasar pemanas domestik / rumah tangga dan bahwa jalan rantai pasokan baru sedang dieksplorasi, import dengan volume lebih besar adalah salah satu solusi. Dengan pasar yang sangat ketat, pasokan kemacetan rantai, inflasi dan efek riak perang yang sedang berlangsung, maka strategi, kreativitas dan fleksibilitas rantai pasokan  akan dibutuhkan dari  wood pellet stakeholder. Adapun apakah pasokan wood pellet global diperkirakan akan menjadi lebih dekat untuk dapat memenuhi permintaan, itu kemungkinan tidak akan ada dalam waktu dekat, menurut kepada Matthews, konsultan biomasa dari Hawkins Wright. . Kekuatan ekonomi akan memiliki efek dari waktu ke waktu — harga tinggi adalah kekuatanpendorong investasi pabrik wood pellet baru. Industri wood pellet saat ini sedang berinvestasi ratusan juta Euro jadi bahwa pasokan dijamin dalam jangka panjang, tetapi mereka juga membutuhkan dukungan dari pengambil keputusan politik. 


Indonesia dengan luas wilayahnya dan beriklim tropis sangat potensial mengembangkan produksi wood pellet kapasitas besar termasuk penggunaan kebun energi. Produksi wood pellet Indonesia yang saat ini masih kecil atau diperkirakan hanya 200 ribu ton per tahun perlu digenjot sehingga merespon kebutuhan Eropa tersebut. Walaupun selama ini untuk Asia, Jepang dan Korea adalah target pasar wood pellet, tetapi perkembangan terbaru kondisi Eropa juga menjadi daya dorong baru. Tingginya harga wood pellet di Eropa akibat perang Rusia-Ukraina membuat suplier-suplier di Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada) juga mulai menyuplai ke Eropa. Bahkan peluang tersebut juga ditangkap oleh sejumlah supplier dari Asia. Vietnam adalah negara pengeksport terbesar kedua di dunia untuk wood pellet. Volume dan nilai ekspor wood pellet terus meningkat sejak Oktober 2021 dan harga ekspor melonjak hingga mencapai rata-rata hampir US$150 per ton, naik lebih dari 27% dibandingkan dengan harga rata-rata yang tercatat tahun lalu. Itu kenaikan tajam dalam volume dan harga ekspor dapat dikaitkan dengan peningkatan permintaan yang tiba-tiba dari Uni-Eropa. Dengan kapasitas produksi yang luar biasa tersebut industri wood pellet Vietnam ternyata mulai memdapat sejumlah tantangan yakni keterbatasan bahan baku dan persyaratan yang lebih ketat yang diminta oleh importir seperti sertifikasi keberlanjutan. Kondisi ini seharusnya bisa dilihat sebagai peluang bagi industri wood pellet di Indonesia. 

Kamis, 27 Februari 2020

Kompor atau Pelletnya Dulu?


Krisis energi selalu memacu kreativitas atau inovasi penggunaan energi baru. Material yang awalnya hanya dianggap limbah atau sampah selanjutnya diolah menjadi produk energi, bahkan dengan menggunakan standar kualitas tertentu. Wood pellet adalah salah satu bentuk inovasi energi akibat krisis minyak bumi pada tahun 1970an yang dikarenakan embargo dari  OAPEC (Organization of Arab Petroleum Exporting Countries). Pada saat itu harga minyak mentah tersebut melonjak dari $3/barrel menjadi $39,5/barrel. Energi khususnya minyak bumi dan gas yang saat ini masih mendominasi, memang suatu komoditas strategis yang sangat berdampak pada kedaulatan negara.

Saat ini krisis energi memang tidak separah jaman itu, tetapi kenaikan harga energi khususnya migas yang cenderung naik memang cukup mengkhawatirkan. Masyarakat yang selama ini telah terbiasa dan nyaman menggunakan gas LPG (gas melon) kemasan 3 kg juga mulai terusik dengan sejumlah berita kenaikan gas melon tersebut. Hal tersebut semestinya mendorong masyarakat memilih sumber energi lainnya yang lebih murah seperti wood pellet. Pabrik wood pellet yang pada awalnya dibuat untuk memenuhi kebutuhan export yakni Korea dan Jepang, selanjutnya ternyata ada kebutuhan dalam negeri di sektor industri seperti pengeringan teh dan UKM lainnya, dan selanjutnya bisa jadi dalam tahun-tahun mendatang menjadi konsumsi rumah tangga yakni kompor masak, pengganti kompor LPG.
Dan produksi wood pellet yang umumnya saat ini mengandalkan penggunakan bahan baku dari limbah penggergajian atau pengolahan kayu, maka pada masa mendatang diprediksi akan berasal dari kebun energi. Tetapi tidak sembarang kebun energi yang digunakan tetapi kebun energi yang multipurpose, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Daerah-daerah yang memiliki luas wilayah yang besar akan sangat potensial mengembangkan kebun energi tersebut sebagai sumber bahan baku wood pellet. Program tersebut tidak hanya sebagai antisipasi tentang kenaikan harga LPG tersebut tetapi juga mendorong penggunaan energi terbarukan khususnya wood pellet dari kebun energi. Dalam kacamata atau sudut pandang lingkungan, penggunaan bahan bakar biomasa berupa wood pellet akan mengurangi dampak pemanasan global dan perubahan iklim karena biomasa adalah bahan bakar atau sumber energi carbon neutral. Pada dasarnya biomasa dari tumbuh-tumbuhan seperti kebun energi adalah sumber energi terbarukan apabila dikelola dengan benar.
Penggunaan sumber energi dari biomasa kebun energi juga lebih sesuai untuk kondisi Indonesia yang beriklim tropis, misalnya dibandingkan penggunaan solar photovoltaik, untuk lebih detail bisa dibaca disini dan disini. Supaya program tersebut bisa berjalan, maka produksi atau pabrik wood pellet tersebut harus dibangun terlebih dahulu, baru dilanjutkan sosialisasi pengunaan kompor. Pabrik-pabrik wood pellet yang sudah beroperasi juga bisa diajak kerjasama untuk menyukseskan program tersebut. Logika sederhananya, kenapa motor dan mobil banyak dibeli dan digunakan masyarakat? Tentu saja karena pasokan bahan bakar atau sumber energinya mudah dan terjangkau. Demikian juga dengan program tersebut, kompor akan dibeli dan digunakan masyarakat apabila wood pelletnya mudah didapat dan harga terjangkau.
Saat ini sudah cukup banyak produsen pembuat kompor wood pellet. Kompor tersebut selain bersih dengan asap yang dihasilkan sangat minimal juga efisien. Secara teknis penggunaan kompor wood pellet juga lebih aman, karena merupakan bahan bakar padat, berbeda dengan gas. Untuk semakin multifungsi kompor wood pellet tersebut juga bisa dipasang alat TEG (Thermo Electric Generator) sehingga bisa untuk cas HP atau gadget lainnya. Secara ekonomi, wood pellet juga akan kompetitif dengan penggunaan LPG, untuk lebih detail bisa dibaca disini. 

Sabtu, 16 Desember 2017

Uang Yang Membawa Kemudharatan Kolektif


Potensi energi biomasa Indonesia sangat besar yakni menurut ESDM bila dikonversi ke energi listrik hampir 50.000 MW dan saat ini yang sudah dimanfaatkan sekitar 1600 MW atau 3%, sehingga dengan potensi tersebut seharusnya tidak terjadi krisis energi di negeri ini. Biomasa tersebut siap diolah untuk menjadi berbagai bentuk energi baik sumber panas maupun listrik. Dengan diolah menjadi wood pellet atau biomass pellet, maka penggunaan, penyimpanan hingga distribusinya menjadi mudah, aman dan murah. Belum lagi potensi berupa tanah-tanah yang bisa ditanami kebun energi yakni dari hutan tanaman energi yang jumlahnya mencapai puluhan juta hektar. Tetapi mengapa hal tersebut bukan menjadi berkah yang membawa kesejahteraan dan kemudahan hidup manusia? Bisa jadi masyarakat kita tidak menyadari dan mengetahui potensi tersebut, sehingga cenderung hanya membiarkannya, dan tidak mengolahnya, jelas ini berakibat menyia-nyiakan potensi yang berujung pada kemubadziran.

Banyak kabar berita telah beredar baik media cetak dan elektronik termasuk internet dan juga bahkan dialami sendiri oleh para pembaca sekalian bahwa terjadi kelangkaan gas LPG 3 kg di sejumlah daerah. Tentu saja bisa jadi karena sejumlah oknum bermain sehingga terjadi kelangkaan gas LPG tersebut. Ketika masyarakat di berbagai daerah memiliki alternatif energi yang bisa bersaing dengan LPG tersebut maka masalah kelangkaan energi atau bahan bakar tidak akan terjadise. Pertanyaannya bagaimana produksi energi yakni wood pellet atau biomass pellet atau wood briquette ataupun seperti rice husk briquette tersebut tersebar merata di seluruh pelosok negeri? Dari sinilah minat untuk menjadi produsen harus ditumbuhkan bagi para pengusaha khususnya yang bergerak di sektor energi. Pada prakteknya hal tersebut tidak mudah terutama sebagian besar bisnis berupa produksi tersebut beresiko tinggi.

Tingginya suku bunga deposito yakni dikisaran 6% per tahun telah membuat iklim berusaha atau bisnis menjadi lesu, dan banyak orang menjadi pemalas menunggu hasil dari bunga yang diharamkan agama tersebut. Bisnis baru tentang energi misalnya yang memberikan keuntungan 20-30% yang dibuat secara kongsi atau berserikat antara 2-3 orang dengan keuntungan 6-15% dianggap tidak menarik karena ada resiko rugi. Hal inilah yang mengakibatkan banyak sekali bidang-bidang bisnis yang memberi manfaat dan kemudahan hidup manusia menjadi tidak tersentuh dan otomatis tidak tergarap. Walaupun belum sepenuhnya terbebas dari bunga atau riba, sejumlah negara yang menerapkan suku bunga rendah bahkan hampir 0 % sebagai contoh Amerika Serikat hanya 1,35% dan Belanda 0,05%, telah terbukti memacu dan mendorong iklim bisnis lebih bergairah dan dinamis. Orang-orang menjadi berpikir dan berusaha untuk tidak hanya menyimpan uangnya di bank, tetapi bagaimana menjadi aktivitas yang produktif. Faktanya juga riil bahwa negara yang masih menggunakan sistem riba, tetapi dengan tingkat suku bunga lebih rendah saja sudah dapat dengan mudah mengalahkan negara yang tingkat suku bunganya lebih tinggi, apalagi negara yang tanpa riba, pasti dia bisa mengalahkan kekuatan ekonomi negara-negara lainnya yang masih berbasis riba.

Bahkan dosa riba tersebut levelnya lebih tinggi daripada mengkonsumsi makanan haram lainnya, misalnya makan babi, anjing, darah dan bangkai. Pemakan riba mendapat ancaman sebagai musuh Allah dan Rasul-Nya, sedangkan mengkonsumsi makanan haram tidak sampai diancam demikian. Untuk lebih detail bisa menyimak kajian berikut  di link ini. 
Uang-uang yang disimpan dan memberi penghasilan bunga tersebut telah membawa kemudharatan atau kerusakan kolektif. Tetapi faktanya mayoritas penduduk negeri ini bahkan dengan mayoritasnya muslim memilih cara itu, karena selain dijamin pemerintah dan rakyatnya juga tanpa resiko. Bukan saja begitu banyak bidang bisnis menjadi lesu dan terbengkalai, tetapi juga sikap mental menjadi pemalas tersebut. Sektor-sektor penting seperti masalah pangan, energi dan air menjadi semakin lemah penguasaannya. Tanah-tanah banyak ditinggalkan karena sektor pertanian dan peternakan dianggap tidak memberi keuntungan menarik dan beresiko tinggi, akibatnya import bahan pangan semakin merajalela, sedangkan daya beli semakin menurun. Karena kurangnya supply cabe, harga cabe sering melonjak tajam, demikian juga harga daging.  Tidak ketinggalan juga yakni sektor energi, bahkan untuk minyak bumi saat ini Indonesia telah menjadi nett importer dan tidak lagi menjadi anggota OPEC karena kebutuhan minyak dalam negeri telah melebihi pasokan produksi yang dihasilkan. Inovasi-inovasi di bidang energi juga lesu dan loyo. Dan yang paling mutahir dan mudah disaksikan yakni kelangkaan gas LPG 3 kg di sejumlah daerah. Riba telah mengambil makanan kita! Riba telah mengambil bahan bakar kita! Itulah yang terjadi. 
Sehingga solusinya adalah hanya kembali meningkatkan iman dan takwa dengan meninggalkan bunga atau riba tersebut dan menyuburkan aktivitas ekonomi non-riba (ekonomi syariah) dan sedekah sehingga tercipta kehidupan yang berkah dan memberi kebahagiaan di dunia dan akhirat. Peringatan Allah SWT dalam QS Al Baqarah 275-279 bahwa peran riba begitu nyata dalam menghancurkan ekonomi dan ancaman siksa yang keras di dunia dan akhirat sehingga hal tersebut harus menjadi motivasi untuk penerapan sistem ekonomi syariah tersebut. Hanya dengan itu ekonomi kembali bergairah dan keberkahan muncul. 

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...