Tampilkan postingan dengan label kompor biomasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kompor biomasa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Februari 2020

Kompor atau Pelletnya Dulu?


Krisis energi selalu memacu kreativitas atau inovasi penggunaan energi baru. Material yang awalnya hanya dianggap limbah atau sampah selanjutnya diolah menjadi produk energi, bahkan dengan menggunakan standar kualitas tertentu. Wood pellet adalah salah satu bentuk inovasi energi akibat krisis minyak bumi pada tahun 1970an yang dikarenakan embargo dari  OAPEC (Organization of Arab Petroleum Exporting Countries). Pada saat itu harga minyak mentah tersebut melonjak dari $3/barrel menjadi $39,5/barrel. Energi khususnya minyak bumi dan gas yang saat ini masih mendominasi, memang suatu komoditas strategis yang sangat berdampak pada kedaulatan negara.

Saat ini krisis energi memang tidak separah jaman itu, tetapi kenaikan harga energi khususnya migas yang cenderung naik memang cukup mengkhawatirkan. Masyarakat yang selama ini telah terbiasa dan nyaman menggunakan gas LPG (gas melon) kemasan 3 kg juga mulai terusik dengan sejumlah berita kenaikan gas melon tersebut. Hal tersebut semestinya mendorong masyarakat memilih sumber energi lainnya yang lebih murah seperti wood pellet. Pabrik wood pellet yang pada awalnya dibuat untuk memenuhi kebutuhan export yakni Korea dan Jepang, selanjutnya ternyata ada kebutuhan dalam negeri di sektor industri seperti pengeringan teh dan UKM lainnya, dan selanjutnya bisa jadi dalam tahun-tahun mendatang menjadi konsumsi rumah tangga yakni kompor masak, pengganti kompor LPG.
Dan produksi wood pellet yang umumnya saat ini mengandalkan penggunakan bahan baku dari limbah penggergajian atau pengolahan kayu, maka pada masa mendatang diprediksi akan berasal dari kebun energi. Tetapi tidak sembarang kebun energi yang digunakan tetapi kebun energi yang multipurpose, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Daerah-daerah yang memiliki luas wilayah yang besar akan sangat potensial mengembangkan kebun energi tersebut sebagai sumber bahan baku wood pellet. Program tersebut tidak hanya sebagai antisipasi tentang kenaikan harga LPG tersebut tetapi juga mendorong penggunaan energi terbarukan khususnya wood pellet dari kebun energi. Dalam kacamata atau sudut pandang lingkungan, penggunaan bahan bakar biomasa berupa wood pellet akan mengurangi dampak pemanasan global dan perubahan iklim karena biomasa adalah bahan bakar atau sumber energi carbon neutral. Pada dasarnya biomasa dari tumbuh-tumbuhan seperti kebun energi adalah sumber energi terbarukan apabila dikelola dengan benar.
Penggunaan sumber energi dari biomasa kebun energi juga lebih sesuai untuk kondisi Indonesia yang beriklim tropis, misalnya dibandingkan penggunaan solar photovoltaik, untuk lebih detail bisa dibaca disini dan disini. Supaya program tersebut bisa berjalan, maka produksi atau pabrik wood pellet tersebut harus dibangun terlebih dahulu, baru dilanjutkan sosialisasi pengunaan kompor. Pabrik-pabrik wood pellet yang sudah beroperasi juga bisa diajak kerjasama untuk menyukseskan program tersebut. Logika sederhananya, kenapa motor dan mobil banyak dibeli dan digunakan masyarakat? Tentu saja karena pasokan bahan bakar atau sumber energinya mudah dan terjangkau. Demikian juga dengan program tersebut, kompor akan dibeli dan digunakan masyarakat apabila wood pelletnya mudah didapat dan harga terjangkau.
Saat ini sudah cukup banyak produsen pembuat kompor wood pellet. Kompor tersebut selain bersih dengan asap yang dihasilkan sangat minimal juga efisien. Secara teknis penggunaan kompor wood pellet juga lebih aman, karena merupakan bahan bakar padat, berbeda dengan gas. Untuk semakin multifungsi kompor wood pellet tersebut juga bisa dipasang alat TEG (Thermo Electric Generator) sehingga bisa untuk cas HP atau gadget lainnya. Secara ekonomi, wood pellet juga akan kompetitif dengan penggunaan LPG, untuk lebih detail bisa dibaca disini

Minggu, 28 Oktober 2012

Kompor Ramah Lingkungan Yang Menghasilkan Panas dan Listrik

Hampir 3 milyar manusia di negara-negara berkembang seperti India dan Sub Sahara Afrika menggunakan kayu sebagai bahan bakarnya. Selain tidak efisien , kompor kayu itu umumnya mengeluarkan asap yang banyak sehingga mengganggu pernafasan dan pedih di mata. Sebuah perusahaan di Amerika, Biolitestove,  telah menciptakan kompor yang ramah lingkungan yang efisien yang mengklaim hanya membtuhkan 50% kayu lebih sedikit dari kompor sejenis dan polusi dari emisi asapnya yang rendah. Kompor itu ditujukan terutama untuk negara-negara berkembang tersebut. Yang menarik selain menghasilkan panas seperti kompor pada umumnya, kompor ini juga menghasilkan listrik. Penelitian pembuatan kompor ini telah menghabiskan 1.8 US$ (sekitar 1,8 milyar rupiah) yang didanai oleh para investor. Ada 2 model kompor yang dibuat oleh perusahaan tersebut yakni Home Stove untuk pemakaian rumah tangga dan Camp Stove untuk kegiatan berkemah dan aktivitas outdorr lainnya.Perbandingan kinerja kompor tersebut dibandingkan kompor biomasa lain seperti pada grafik dibawah ini :

Kompor tersebut dirancang untuk mampu beroperasi dengan berbagai biomasa antara lain ranting-ranting kayu, sekam padi, wood pellet bahkan kotoran ternak. Panas dari kompor tersebut selain digunakan untuk memasak atau mendidihkan air, juga akan dikonversi menjadi listrik dengan suatu thermo-electric generator. Listrik yang dihasilkan akan digunakan untuk menggerakkan kipas untuk suplai udara dalam kompor dan untuk charge berbagai perangkat elektronik (gadget) yang bisa discharge melalui USB outlet seperti smartphone, GPS atau lampu LED.






Kompor ini bekerja dengan secara gasifikasi sebagai sebuah teknologi yang telah teruji dan puluhan tahun telah digunakan diberbagai proses thermal. Air to fuel ratio telah diatur oleh kipas tersebut untuk kondisi operasi tersebut. Sehingga kompor ini juga akan menghasilkan produk samping atau residue berupa biochar seperti halnya kompor biochar apabila pengontrolan gasifikasi tersebut bisa dilakukan dengan baik.   


Jumat, 19 Oktober 2012

Kompor Biochar (Biochar Stove) Untuk Indonesia

Photo diambil dari sini
Di negara berkembang, sekitar 22 persen dari energi yang digunakan berasal dari biomassa, namun sebagian besar digunakan non-komersial dalam aplikasi tradisional (seperti memasak kompor). Kompor ini memasak tradisional sering dicirikan oleh efisiensi yang rendah dan tinggi pelepasan senyawa organik beracun. Dengan 1,3 juta kematian secara global setiap tahun karena pneumonia, penyakit pernapasan kronis dan kanker paru-paru. Di negara seperti Nepal, bahan bakar biomassa tradisional mencakup lebih dari 90 persen dari input energi primer.

Kompor biochar adalah kompor yang dirancang khusus sehingga beroperasi secara pirolisis dan gasifikasi. Selain panas, produk berupa arang (biochar) akan dihasilkan yang bisa digunakan untuk memperbaiki kesuburan tanah. Polusi yang ditimbulkan juga lebih kecil selain efisiensinya juga ditingkatkan. Model TLUD adalah tipe kompor biochar yang paling populer dan banyak digunakan. Sejumlah program-program untuk sosialisai kompor biochar ini telah dilakukan termasuk aktivitas komersial penjualannya. WorldStove adalah salah satu produsen kompor biochar ini sekaligus aktif dalam berbagai program-program kemanusiaan untuk sosialisasinya selain komersialisasi penjualan langsung.Selain itu ada masih banyak lagi seperti  GeoBiocharStove, SeaBiocharStove, Peko Pe BiocharStove dan sebagainya.  Bahan bakar wood pellet dan biomass briquette sangat ideal untuk tipe kompor ini. Untuk mendapat pemahaman lebih lengkap tentang kompor biochar silahkan klik disini.
Photo diambil dari sini 
Mengisi bahan bakar wood pellet untuk kompor: photo diambil dari sini

Stock wood pellet untuk bahan bakar kompor; photo diambil dari sini
Berdasarkan latar belakang diatas maka kompor yang lebih baik perlu dibuat untuk menggantikan tungku tradisional yang tidak efisien dan mencemari lingkungan serta sesuai dengan kebiasaan memasak orang Indonesia. Sudah merupakan rahasia umum bahwa pirolisis dan gasifikasi adalah metode lebih baik untuk mengektrak energi dari biomasa daripada pembakaran. Dengan metode tersebut, gas yang bisa terbakar dengan lebih bersih bisa didapat dan juga didapatkan arang (biochar) sebagai produk samping atau residue. Dengan mengoperasikan kompor pada mode pirolisis, kita akan menyerap lebih banyak CO2 daripada yang diproduksi. Sedangkan produk biochar (arang) tersebut bisa kita gunakan untuk :

1. Pembenah tanah (soil amendment) yang mampu memperbaiki kualitas tanah. Hal ini membantu tanaman lebih mudah mendapatkan air dan nutrisi. Struktur arang yang berpori (porous) juga membuat sejumlah mikroba penyubur tanah bisa hidup dengan baik dan kemampuannya untuk menjerap (adsorbent) sehingga nutrisi dan air dilepaskan secara lambat (slow release).  Mikroba tersebut akan mengurai bahan organik dalam tanah dan membantu pengikatan nitrogen. Perkembangan terbaru juga telah ada penemuan pupuk berbasis arang (biochar), silahkan baca di sini.
2. Media penyerapan karbon dari atmosfer. Biochar ketika dibuat dengan cara yang benar akan bersifat inert dan menahan CO2 di dalam tanah, mencegahnya lepas ke atmosfer.
3. Biochar dapat dibuat briket dan dijual.

siklus Carbon Negative dengan biochar; gambar diambil dari sini

Dari sejumlah kompor yang telah dibuat dan diaplikasikan diberbagai tempat, ditinjau dari sirkulasi udara di dalam kompor tersebut bisa dibedakan menjadi dua kelompok yakni natural drfat dan forced draft. Forced draft membutuhkan kipas (dengan tenaga baterai) untuk mensirkulasikan udara tersebut, sedangkan natural draft mengambil keuntungan dari fenomena alamiah berupa konveksi alami dan perbedaan tekanan udara. Ditinjau dari proses utamanya, sejumlah kompor menggunakan udara primer melalui solid fuel bed dari bawah ke bagian atas membawa gas hasil pirolisis dicampur dengan udara sekunder dan dibakar, sedangkan yang lainnya tidak ada aliran udara melalui fuel bed menciptakan kondisi pirolisis total. Hampir semua kompor mengonsumsi bahan bakar dari atas ke bawah. Hal ini karena tumpukan bahan bakar tersebut dinyalakan dari atas.Kemudian, panas dan lidah api dari penyalaan awal membuat kondisi pirolisis pada tumpukan lapisan bahan bakar dibawahnya mengeluarkan gas pirolisis yang bisa terbakar. 


photo diambl dari sini


Pabrik Sawit: Ganti Boiler Saja? Apa Sekaligus Mencari Solusi untuk Bebas Problem Tandan Kosong Sawit dan Keuntungan Tambahan ?

Seiring dengan bertambah luasnya perkebunan sawit di Indonesia yang saat ini sekitar 17 juta hektar, maka demikian juga pabrik sawit yang di...