Tampilkan postingan dengan label liquid smoke. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label liquid smoke. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Juni 2026

Biostimulan (Pupuk Daun) Berbasis Liquid Smoke untuk Aplikasi ke Kebun Sawit Menggunakan Drone

Pada perkebunan sawit khususnya, pupuk adalah komponen biaya tertinggi operasional perkebunan tersebut. Hal itu sehingga berbagai upaya dilakukan untuk mengoptimalkan pemupukan tersebut, sehingga benar-benar pemakaian pupuk itu seefesien mungkin termasuk penggunaan slow release fertilizer untuk mencapai maksud tersebut dan untuk lebih detail baca disini. Terkait upaya memaksimalkan pemupukan tersebut sehingga hasil TBS maksimal, penggunaan pupuk daun juga perlu dipertimbangkan. Asap cair (liquid smoke / pyroligneous acid) adalah salah satu jenis pupuk daun tersebut walaupun istilah yang lebih tepat adalah biostimulan (booster). 

Hal ini karena asap cair tersebut tidak menyediakan unsur hara seperti nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K). Tetapi asap cair tersebut bertindak sebagai biostimulan, zat pengatur tumbuh (ZPT), sekaligus pelindung alami yang membuat daun tumbuh jauh lebih optimal. Ketika daun tumbuh optimal meningkatkan pertumbuhan seluruh organ tanaman secara eksponensial, termasuk batang, akar, bunga, buah dan sebagainya. Daun adalah "dapur" utama tanaman, sehingga kesehatan daun menentukan kesehatan seluruh sistem tanaman. Pertumbuhan daun yang optimal juga meningkatkan efisiensi penyerapan pupuk (efek "mesin pompa") di tanah. 

Lebih lanjut, asap cair tidak hanya sebagai “pupuk daun”, ternyata asap cair juga berfungsi sebagai pestisida organik (fungisida/insektisida). Hal tersebut sehingga mengusir hama (seperti kutu dan lalat), serta mencegah penyakit daun. Kandungan fenol dan asam asetat bersifat toksik bagi serangga (kutu daun, thrips, ulat) serta ampuh menekan jamur penyebab penyakit tanaman. Dan aroma asap yang khas membuat serangga enggan mendekat dan bertelur di permukaan daun. Selain itu, sifat mengikatnya membuat spora jamur patogen kesulitan menempel dan berkembang di permukaan daun. 

Terkait dengan fungsi ganda tersebut, pemakaian asap cair untuk aplikasi ke daun (foliar) bisa sesuai prioritas, apakah lebih dikhususkan sebagai “pupuk daun” atau sebagai biopestisida. Hal memerlukan sejumlah penyesuaian seperti dosis, formulasi tambahan dan waktu aplikasi. Untuk memaksimalkan fungsi asap cair sebagai pupuk daun, Anda harus mencampurnya dengan unsur hara tambahan (seperti pupuk organik cair/POC) dan mengaplikasikannya pada waktu stomata daun membuka sempurna. Asap cair mampu memperkecil molekul air. Saat diencerkan atau dicampurkan dengan Pupuk Organik Cair (POC), kandungan nutrisi pupuk tersebut menjadi lebih mudah masuk dan diserap melalui stomata (mulut daun). Sedangkan untuk memaksimalkan fungsinya sebagai biopestisida asap cair perlu dikombinasikan dengan pestisida nabati lain. Untuk frekuensi penyemprotan untuk pencegahan yakni 1 kali seminggu, sedangkan serangan hama tinggi yakni 2-3 kali seminggu hingga populasi hama terkendali. 

Penggunaan drone untuk penyemprotan pestisida dan pupuk cair sudah banyak digunakan diberbagai tanaman pertanian seperti padi, jagung, tebu hingga sawit. Lebih khusus di perkebunan sawit, aplikasi drone adalah solusi modern penyemprotan pupuk dan pestisida. Dan di Indonesia lebih dari 80% aplikasi drone untuk sektor kehutanan dan pertanian. Faktor efisiensi (waktu, tenaga, biaya operasional, pupuk, pestisida) dan presisi menjadi daya dorong utama aplikasi drone ini. Hal ini sehingga teknologi drone diharapkan sebagai solusi efektif dalam pengendalian hama penyakit, pemupukan dan budidaya tanaman sawit. Drone efektif untuk meningkatkan efisiensi perkebunan terutama di area yang dan sulit dijangkau. Sebagai sebuah teknologi berbagai penyempurnaan telah dilakukan untuk menyempurnakan fungsinya seperti kapasitas angkut, kecepatan semprot, fitur keselamatan, dan efisiensi kerja. Penggunaan drone mendukung pertanian presisi dan ketahanan pangan global dengan pendekatan teknologi ramah lingkungan.  

Penyemprotan pupuk cair ke bagian bawah daun (underside spraying) menggunakan drone memerlukan teknik khusus. Hal ini karena baling-baling drone secara alami menghasilkan hembusan angin ke bawah (downwash) yang kencang. Efek downwash inilah yang dimanfaatkan untuk menggerakkan dan membalikkan daun secara lembut, sehingga butiran semprotan (droplets) bisa mengenai bagian bawah daun. Hal ini karena di bagian bawah daun, di mana letak stomata paling banyak berkumpul sekitar 80%. Tekstur Semprotan juga dibuat mode mist (embun paling halus) agar cairan menempel rata dan tidak menetes terbuang ke tanah. Selanjutnya faktor ketinggian drone, kecepatannya, dan sudut nozel perlu diatur sedemikian rupa untuk mencapai maksud tersebut. Faktor lingkungan berupa angin kencang perlu dihindari sehingga perlu menyesuaikan waktu dan kondisi yang tepat.  

Seiring dengan berkembangnya penggunaan biochar sebagai solusi kesehatan dan kesuburan tanah serta solusi iklim maka semestinya demikian juga dengan aplikasi asap cair ini. Asap cair sebagai produk samping berupa produk cair dari produksi biochar akan meningkat seiring dengan peningkatan produksi biochar. Asap cair sebagai produk yang dihasilkan dari bahan baku biomasa melalui proses pirolisis juga mendorong penggunaan bahan alami berbasis sumber terbarukan (renewable resource) sehingga ramah lingkungan dan berkelanjutan.   

Selasa, 09 Februari 2021

Keuntungan-Keuntungan Yang Didapat Pabrik Sawit Jika Produksi Biochar 


Paling tidak ada empat hal yang menjadi motivasi untuk produksi biochar, yakni seperti grafik di atas. Ada sejumlah irisan yang membuat dampak aplikasi biochar tersebut multi manfaat, yang sangat sejalan dengan masalah dunia hari ini yakni perubahan iklim dan pemanasan gobal. Biochar juga sudah diterima sebagai instrument untuk mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer yang menyebabkan dua masalah besar di atas yakni pada tahun 2018 biochar masuk dalam Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) sebagai salah satu negative emmisions technologies (NETs). Aplikasi biochar adalah skenario carbon negative karena biochar bisa menyerap CO2 dari atmosfer. Hal ini sedikit berbeda dengan penggunaan bahan bakar biomasa seperti wood pellet, wood briquette dan cangkang sawit (PKS / Palm Kernel Shell) pada boiler di industri atau pembangkit listrik yang merupakan skenario carbon neutral. Memang pada dasarnya ada 3 skenario besar untuk mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer tersebut yakni peningkatan efisiensi pada peralatan yang menggunakan bahan bakar fossil, menggunakan bahan bakar carbon neutral dan skenario carbon negative seperti biochar.

Pohon sawit terkenal dengan banyak membutuhkan air dan pupuk untuk terus menjaga kelangsungan hidup dan produktivitas buahnya, sehingga upaya praktis berupa meningkatkan efisiensi nutrisi pupuk dan peningkatan produktivitas buah adalah hal penting. Disamping itu pabrik sawit menghasilkan limbah biomasa sangat banyak terutama tandan kosong (EFB / Empty Fruit Bunch) dan mesocarp fiber yang sangat potensial untuk bahan baku biochar tersebut. Biochar tersebut selanjutnya diaplikasikan di kebun sawit yang bisa digunakan dengan pupuk kimia atau dengan pupuk kompos/organik.


Teknologi pirolisis dan gasifikasi adalah yang biasa digunakan untuk produksi biochar tersebut. Selain menghasilkan biochar dengan pirolisis atau gasifikasi juga dihasilkan energi yang bisa digunakan untuk pengembangan industri sawit ataupun produksi listrik. Produksi PKO (Palm kernel oil) dari pengolahan kernel di KCP (kernel crushing plant) atau produksi torrefied PKS dari pengolahan PKS dengan torrefaction bisa dilakukan dengan memanfaatkan excess energy dari produksi biochar tersebut. Sebagian besar pabrik sawit atau pabrik CPO tidak memiliki pengolahan kernel atau KCP untuk menghasilkan PKO. Dan dengan dibuat torrefied PKS maka nilai kalori PKS akan meningkat, mudah dihancurkan (grindability meningkat) misalnya pada penggunaan cofiring dan tidak menyerap air (hydrophobic). Secara umum pabrik sawit akan memiliki banyak keuntungan baik secara ekonomi / financial maupun lingkungan dengan produksi biochar tersebut. 

Selain bisa digunakan untuk pengembangan usaha seperti diagram diatas, kelebihan energi dari pirolisis atau gasifikasi juga bisa digunakan sebagai bahan bakar boiler pada pabrik sawit tersebut. Dengan cara tersebut energi untuk memanaskan boiler yang biasanya dengan cangkang sawit (PKS/palm kernel shell) dan mesocarp fiber bisa digantikan dengan energi dari pirolisis atau gasifikasi tersebut. Cangkang sawit / PKS selanjutnya bisa semuanya dijual atau di eksport sehingga memberi tambahan keuntungan bagi perusahaan sawit tersebut. Kebutuhan bahan bakar biomasa khususnya cangkang sawit / PKS diprediksi akan meningkat, baik pasar dalam negeri maupun pasar export. Jepang adalah konsumen atau pengguna cangkang sawit terbesar saat ini dan diprediksi kebutuhannya juga akan meningkat. Jepang juga akan memberlakukan standar lebih ketat pada import cangkang sawit untuk menjamin keberlanjutan (sustainibility) dari sisi lingkungan dengan menerapkan sertifikasi GGL (Green Gold Label) yang akan efektif mulai April 2023. Hal tersebut seperti pada wood pellet dengan sertifikasi FSC. Jika ada yang tertarik dengan analisa ekonomi penggunaan biochar di perusahaan sawit silahkan kontak kami.

Rabu, 23 Januari 2019

Burung Hantu, Ular Kobra Atau Asap Cair Untuk Mengusir Tikus Di Kebun Sawit?

Tikus adalah hewan yang menganggu berbagai aktivitas manusia sehingga harus diusir atau dibunuh. Banyak cerita dari para petani yang mengalami kegagalan panen akibat hama tikus yang merajalela tersebut. Demikian juga pada perkebunan sawit, tikus-tikus akan merusak buah sawit. Upaya penanggulangan secara biologis yang banyak dilakukan yakni dengan burung hantu dan ular kobra. Sedangkan upaya lain yang bisa dilakukan yakni dengan asap cair. Asap cair tersebut selain bisa digunakan untuk pupuk juga bisa untuk mengusir tikus-tikus tersebut. Aroma yang kuat dan sifatnya yang asam akan membuat tikus-tikus menjauh dari pohon sawit yang telah diberi asap cair tersebut. Semakin lama efek asap cair di pohon sawit semakin lama tikus-tikus menjauh dari pohon sawit tersebut.
Asap cair tidak membahayakan manusia and bisa diproduksi dalam jumlah besar. Selain itu asap cair juga berasal dari (pirolisis) biomasa sehingga merupakan bahan kimia ramah lingkungan dan dari sumber terbarukan. Tandan kosong (tankos) atau EFB yang selama ini pada umumnya belum dimanfaatkan oleh pabrik sawit bisa digunakan untuk produksi asap cair. Selain asap cair juga dihasilkan biochar yang juga sangat bermanfaat pada perkebunan sawit, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Produksi asap cair dan biochar dari EFB atau tankos juga akan menjadi solusi penanganan limbah padat berupa tandan kosong tersebut. Produksi biochar dan asap cair untuk skala besar yakni dengan unit pirolisis kontinyu, untuk lebih detail bisa dibaca disini.
Sementara ketika biochar dan asap cair digunakan di perkebunan sawit, maka produk pirolisis berupa syngas dan biooil bisa digunakan untuk bahan bakar boiler. Ketika syngas dan biooil digunakan sebagai bahan bakar maka cangkang sawit (palm kernel shell) dan sejumlah mesocarp fiber bisa dijual atau di export seperti halnya CPO. PKS (palm kernel shell) atau cangkang bisa langsung di export ke Jepang atau Korea. Sedangkan mesocarp fiber bisa dibuat pellet ataupun briket sebelum di export. Produksi pellet atau briket dari mesocarp fiber hampir sama dengan produksi wood pellet atau sawdust briquette, untuk referensi bisa dibaca disini dan disini.
Kembali ke laptop. Jadi produksi asap cair dari pirolisis tandan kosong sawit lebih dimungkinkan sebagai solusi mengatasi hama tikus selain berbagai keuntungan lain bagi perkebunan dan pabrik sawit. Selain itu asap cair tersebut juga bisa digunakan untuk pupuk dan tidak membahayakan. Bahkan untuk optimalisasi penanggulangan hama tikus tersebut sangat dimungkinkan dengan kombinasi asap cair dengan burung hantu maupun ular kobra.

Pabrik Sawit: Ganti Boiler Saja? Apa Sekaligus Mencari Solusi untuk Bebas Problem Tandan Kosong Sawit dan Keuntungan Tambahan ?

Seiring dengan bertambah luasnya perkebunan sawit di Indonesia yang saat ini sekitar 17 juta hektar, maka demikian juga pabrik sawit yang di...