Tampilkan postingan dengan label penggembalaan domba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penggembalaan domba. Tampilkan semua postingan

Senin, 21 Januari 2019

Ternak Sapi Dengan Kebun Sawit Sudah, Ternak Domba Dengan Kebun Sawit ?

"Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. ” (QS 16:10)

Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.”(QS 20:54)

"Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput (lahan), air dan api (energi)". (HR. Sunan Abu Daud)
Minimnya produksi daging di Indonesia yang diindikasikan dengan tingginya rencana import daging yang mencapai 100.000 ton daging kerbau dari India adalah sesuatu yang disayangkan. Terlebih lagi seringnya terdengar berita tentang penyelundupan daging haram seperti daging babi hutan di sejumlah daerah. Hal ini mengingat begitu besarnya potensi peternakan yang bisa dikembangkan di Indonesia. Banyaknya perkebunan besar di Indonesia sangat potensial untuk diintegrasikan dengan peternakan, sebagai contoh perkebunan kelapa sawit yang mencapai luas 12 juta hektar dengan produksi minyak sawit (CPO dan PKO) mencapai lebih dari 40 juta ton/tahun. Dengan luasan tersebut tentu sangat banyak ternak bisa dikembangkan sebagai produsen utama daging. Sedangkan perkebunan-perkebunan lainnya juga potensial seperti perkebunan kelapa dengan luas 3,7 juta hektar, karet 2,5 juta hektar, sengon lebih dari 1 juta hektar dan sebagainya.

Peternakan sapi yang diintegrasikan dengan perkebunan sawit telah dilakukan di sejumlah tempat di Indonesia. Ini sesuatu hal yang baik dan perlu didukung. Optimalisasi peternakan sapi di perkebunan sawit bisa dilakukan yakni dengan menggunakan teknik penggembalaan yang baik. Apabila saat ini hampir semua masih menggunakan teknik penggembalaan kontinyu (continous grazing) yang kurang memperhatikan kualitas, kuantitas dan keberlangsungan padang rumput sebagai tempat penggembalaan ternak tersebut, maka upaya mengoptimalkannya bisa dilakukan dengan penggembalaan rotasi (rotation grazing). Dengan penggembalaan rotasi ini faktor kualitas, kuantitas dan keberlangsungan padang rumput sebagai sumber pakan ternak tersebut bisa dioptimalkan khususnya pada konversi menjadi daging.
Domba sebenarnya memiliki banyak keunggulan dibandingkan sapi antara lain bisa memakan hampir semua jenis rumput, penggemukan dan perkembangbiakkan cepat, mobilitas tinggi sehingga distribusi kotoran untuk pupuk padang rumput lebih merata, dan bulunya bisa untuk produksi wol. Dalam Islam domba juga memiliki banyak keutamaan dibandingkan sapi, lebih rinci bisa dibaca disini, bahkan semua Nabi dan Rasul pasti pernah menggembalakan domba yang hikmahnya bisa dibaca disini. Untuk itulah seharusnya peternakan domba juga harus digalakkan, khususnya di perkebunan-perkebunan besar seperti di perkebunan sawit. Selain untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, domba juga banyak dibutuhkan di negara-negara Timur Tengah khususnya Arab Saudi yang setiap tahun kurang lebih membutuhkan 2 juta ekor dengan seperempatnya pada musim haji. Bagi umat Islam dengan beternak domba juga bisa diniatkan untuk terus mendukung syariat Qurban yang dilaksanakan setiap 10 dzulhijah. Apabila rata-rata 1 ekor domba adalah 80 kg maka untuk mengeliminasi import 100.000 ton daging kerbau dibutuhkan 1,25 juta ekor domba pertahun. Dan apabila rata-rata berat sapi 300 kg dengan porsi 50% dipenuhi dari daging sapi maka kebutuhan sapi 166.667 ekor sapi dan 50% dari daging domba menjadi 625.000 ekor domba.
Integrasi peternakan domba dengan perkebunan sawit juga sangat mungkin dilakukan, bahkan dengan penggembalaan campuran (mixed grazing) dengan sapi juga akan lebih baik. Sejumlah penelitian penggembalaan campuran domba-sapi ternyata menghasilkan konversi daging lebih tinggi dibandingkan dengan penggembalaan domba saja maupun sapi saja. Bagi perkebunan sawit dengan integrasi peternakan tersebut juga akan mengurangi kebutuhan pupuk kimia non-subsidi yang selama ini menjadi menjadi pupuk utama dan memakan biaya tinggi. Kesimpulannya dengan menggunakan teknik penggembalaan yang baik dan juga pemilihan hewan ternak yang sesuai maka bisnis perkebunan sawit menjadi optimal, lebih menguntungkan dan yang tidak kalah penting yakni semakin ramah lingkungan.

Minggu, 03 Juni 2018

Perkebunan Besar dan Peternakan Besar


Masalah pupuk atau kesuburan tanah selalu menjadi topik atau pembahasan inti bagi suatu usaha perkebunan besar. Hal ini sangat wajar karena menjaga produktivitas hasil panen hanya bisa dilakukan dengan menjaga kesuburan tanah atau memberi pupuk yang memadai. Untuk itu anggaran biaya penyediaan pupuk tersebut selalu mengambil porsi besar pada usaha perkebunan tersebut. Lalu kondisi tersebut mengarah pada pertanyaan bagaimana caranya melakukan efisiensi atau penghematan anggaran pupuk tersebut ? Tentu banyak teknik bisa digunakan untuk maksud tersebut, tetapi pada dasarnya pemilihan atau penggunaan pupuk yang sesuai dan efektifitas atau keterserapan pupuk bagi tanaman, menjadi faktor kunci keberhasilan menjaga kesuburan tanah tersebut. Mari kita coba menjawab pertanyaan pokok diatas. 

Ketika pupuk kimia semakin ditinggalkan karena efeknya yang malah merusak lingkungan, maka tidak ada pilihan lain selain menggunakan pupuk organik. Pada perkebunan besar seperti perkebunan sawit pada dasarnya juga banyak limbah biomasanya dari pabrik sawit yang bisa dijadikan pupuk, misalnya pelepah dan batang sawit. Tetapi ketika bahan-bahan tersebut juga diolah untuk menjadi produk tertentu, dan juga proses pengomposan jenis kayu berserat tersebut memakan waktu lama, maka pilihan terbaiknya adalah dengan pupuk organik kotoran ternak. Pertanyaannya adalah darimana mendapatkan pupuk kompos kotoran ternak untuk kebun sawit tersebut? Sebenarnya ada lagi sumber pupuk organik atau kompos yang bisa dihasilkan dari limbah pabrik sawit yakni dari limbah cairnya. Apabila pabrik sawit tersebut memiliki unit biogas (anaerobic digester) maka residue biogas tersebut yakni dari sludge-nya bisa sebagai pupuk organik. Saat ini belum banyak pabrik sawit yang mengolah limbah cairnya dengan unit biogas tersebut, dengan alasan unit tersebut dirasa mahal.

Sejarah dan pengalaman pendahulu kita sebelum penggunaan pupuk kimia bisa dijadikan acuan hal tersebut. Mereka saat itu untuk bisa mencukupi kebutuhan pupuk dari usaha pertaniannya yakni dengan beternak baik domba, kambing, sapi, maupun kerbau. Kotoran ternak-ternak tersebut digunakan untuk pupuk pertaniannya dan  limbah pertanian digunakan untuk pakan ternak tersebut. Pola dasar tersebut juga bisa dikembangkan untuk perkebunan besar dengan beberapa teknik penyesuaian untuk meningkatkan efisiensinya. Teknis aplikasi di lapangan yang bisa dilakukan yakni perkebunan besar harus bekerjasama dengan peternakan besar atau bahkan idealnya memiliki peternakan besar tersebut untuk mencukupi kebutuhan pupuk untuk perkebunannya. Sebagai contoh perkebunan sawit yang memiliki luas kebun 2000 hektar maka 100-200 (10-20%) hektar digunakan untuk peternakan domba. Peternakan domba tersebut, bukan dengan dikandangkan saja, tetapi digembalakkan pada padang-padang gembalaan.  
Mengapa peternakan domba tersebut dilakukan di padang-padang gembalaan? Hal ini karena dengan penggembalaan biaya pakan bisa ditekan dengan sangat besar atau usaha tersebut menjadi sangat ekonomis. Komponen biaya terbesar dari usaha peternakan adalah pakan. Apabila ketersediaan dan pasokan pakan telah bisa diatasi maka komponen lainnya menjadi lebih mudah. Padang gembalaan tersebut berupa rerumputan dan pohon-pohon peneduh. Membuat rumput selalu tersedia adalah esensi bagi usaha tersebut, bahkan bisa dikatakan padang gembalaan adalah adalah pertanian rumput itu sendiri. Teknik penggembalaan rotasi (rotation grazing) adalah teknik penggembalaan terbaik saat ini, untuk lebih detail bisa dibaca disini. Ketika rumput-rumput dipupuk dengan kotoran domba sewaktu penggembalaan tersebut, kotoran yang dihasilkan ketika di kandang bisa digunakan untuk pupuk pada perkebunan besar seperti sawit tersebut. Unit biogas bisa digunakan untuk optimalisasi pemanfaatan kotoran dari kandang tersebut. 



Pada dasarnya juga peternakan domba tersebut juga bisa berdiri sendiri dan juga menguntungkan. Oleh karena itu peternakan domba tersebut bisa dikerjakan terpisah. Dalam kasus ketika suatu kebun energi digunakan untuk produksi wood pellet masih terkendala berbagai hal seperti keberadaan dan pasokan listrik maka usaha peternakan tersebut tetap bisa dijalankan dengan baik. Produksi wood pellet skala besar di berbagai daerah di Indonesia saat ini masih banyak terkendala akibat pasokan listrik tersebut. Hal ini tentu akan menghambat pertumbuhan industri wood pellet tersebut sehingga perlu ada cara lain untuk mengatasi hal ini, yang insyaAllah akan dibahas lain waktu. 

Dengan konsep tersebut membuat tidak hanya meningkatkan produksi perkebunan dan daging tetapi juga bisnis yang lengkap siklus tertutup yang ramah lingkungan dan berkelanjutan (sustainable). Peternakan lebah madu juga bisa ditambahkan untuk optimalisasi karena jelas lebah-lebah tersebut selain membantu proses penyerbukan juga akan menghasilkan madu, produk unggulan bernilai ekonomi tinggi. Berbagai masalah pangan insyaAllah bisa diatasi dengan konsep tersebut. Hal ini karena dari sisi produksi bisa dibuat sangat efisien dengan 2 komponen biaya terbesar bisa direduksi dengan sangat signifikan yakni pupuk dan pakan ternak dengan integrasi perkebunan besar dan peternakan besar tersebut.  
Walaupun telah menggunakan pupuk kompos dari kotoran ternak, masih ada lagi teknik yang bisa diterapkan untuk meningkatkan efisiensi pemupukan yakni dengan penggunaan biochar. Dengan biochar, pupuk akan ditahan dalam pori-pori biochar sehingga menjadi lepas lambat (slow release fertilizer) menjadikannya efektif untuk pemupukan. Selain itu biochar juga akan menahan pupuk tersebut dari pencucian (leaching) akibat curah hujan tinggi, sehingga pemakaian pupuk juga bisa dihemat secara signifikan. Biochar juga akan menjadi rumah mikroba untuk menguraikan bahan organik menjadi nutrisi yang dibutuhkan bagi tanaman. Sehingga singkat kata dengan biochar tersebut produktivitas perkebunan tinggi tetapi pemakaian pupuk minimal karena efisien apalagi pupuk dihasilkan dari peternakan sendiri juga. Biochar ini bisa dihasilkan dengan pengolahan limbah-limbah biomasa perkebunan tersebut dengan pirolisis. Untuk lebih detail tentang pirolisis bisa dibaca disini

Sabtu, 05 Mei 2018

Mencari Harta Terbaik Dari Implementasi Kebun Energi Bagian 9

"Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan." (QS Al A'laa :4)

“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. ” (QS 16:10)

“Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.”(QS 20:54)

"Orang-orang muslim itu bersyirkah dalam tiga hal, dalam hal padang rumput (lahan), air dan api (energi)". (HR. Sunan Abu Daud).
Allah SWT menumbuhkan rumput-rumputan (QS Al A'laa :4) walaupun manusia bisa saja menanam rerumputan tersebut tetapi pada hakikatnya Allah-lah yang menumbuhkan rumput-rumput tersebut. Rerumputan juga sangat mudah tumbuh dan bisa dijumpai di hampir semua tempat di Indonesia. Dalam banyak hal rumput-rumput ini malah dianggap sebagai masalah sehingga sejumlah upaya dikerahkan untuk mengatasi masalah rumput tersebut. Padahal rumput-rumput itu adalah pakan ternak, khususnya domba, kambing, sapi dan kerbau. Artinya rumput-rumput itu adalah mata rantai penting untuk produksi daging yang kita butuhkan. Di Inggris bahkan rumput memiliki kontribusi sekitar 90% pada produksi daging mereka, sehingga budidaya rumput untuk penggembalaan ternak secara professional menjadi hal penting dalam sektor pangan mereka. Penggembalaan rotasi adalah teknik terbaik untuk penggembalaan ternak khususnya domba maupun domba dan sapi. 
Siklus Pertumbuhan Rumput
Kualitas dan kuantitas rumput pada akhirnya merupakan faktor penting bagi usaha peternakan dengan teknik penggembalaan tersebut. Penggembala-penggembala professional harus bisa mengidentifikasi dan mengupayakan rumput-rumput terbaik bagi hewan-hewan ternaknya. Rumput yang secara anatomi sebagian besar merupakan dedaunan sama seperti daun-daun dari berbagai tanaman yang memiliki siklus tumbuh, dewasa, tua, mati dan kering. Kapan sebaiknya domba-domba tersebut sebaiknya rerumputan tersebut? Hal ini perlu diperhatikan untuk penggembalaan professional tersebut. Hewan-hewan ternak tidak menyukai rumput yang tua tetapi juga dengan yang terlalu muda. Kondisi sedang atau umur dewasa dari rerumputan tersebut adalah kondisi terbaik untuk pakan hewan-hewan ternak tersebut karena kandungan nutrisinya juga maksimal. Apa akibatnya jika hewan ternak kurang dalam mengkonsumsi rumput maupun memakan rumput cukup tetapi berkualitas rendah? Tentu saja hasilnya tidak akan optimal khususnya bagi pertumbuhan berat badan hewan ternak tersebut. 
Rumput bagi peternakan dengan pola penggembalaan tersebut sebagai pakan pokok bagi hewan-hewan ternak tersebut, sedangkan daun-daun yang dianggap limbah dari kebun energi adalah pakan tambahannya. Semakin banyak pakan tersedia semakin banyak ternak yang bisa dibudidayakan. Daun kaliandra memiliki kandungan protein yang tinggi karena akar tanaman kelompok leguminoceae ini memiliki kemampuan mengikat nitrogen pada bintil akarnya. Kemampuan mengikat nitrogen pada bintil akar tersebut selain akar menyuburkan tanah juga akan meningkatkan kadar protein pada daun kaliandra tersebut. Tingginya kadar protein pada daun tersebut menjadi pakan tambahan bernutrisi tinggi bagi domba-domba tersebut. Dengan dimanfaatkan daunnya untuk pakan ternak domba dan kotoran domba untuk pupuk kebun energi maka integrasi kebun energi dan peternakan domba menjadi optimal. 
Penggembalaan campur (mixed grazing)yakni domba dengan sapi juga sangat dimungkinkan hal ini karena keduanya bisa mengoptimalkan pakan dalam padang penggembalaan tersebut. Kebiasaan merumput sapi dengan domba berbeda, demikian juga jenis rumput yang menjadi pakan kesukaan mereka. Faktor anatomi mulut dari kedua hewan tersebut berbeda sehingga mempengaruhi kebiasaan merumput dan jenis rumput yang dimakan, untuk lebih jelas bisa dibaca pada tabel dibawah ini. Faktor lain yang menguntungkan penggembalaan campur domba dengan sapi tersebut karena sapi cenderung melindungi domba saat merumput dari gangguan seperti hewan buas, sehingga berefek merumput lebih banyak dan lama sehingga kenaikkan berat badannya meningkat dengan cepat. Walaupun penggembalaan campur domba dan sapi bisa memberi hasil positif tetapi penggembalaan campur domba dengan kuda tidak cocok dan memberi hasil negatif. 


Minggu, 08 April 2018

Bioeconomy Model untuk Indonesia

Ketika Eropa mentargetkan bioeconomy-nya bisa menggerakkan ekonomi sebesar € 2 trilyun (34.000 trilyun rupiah atau 17 kali APBN Indonesia) dengan menyerap 20 juta tenaga kerja dan lebih khususnya Belanda yang luasnya kurang lebih seukuran Jawa Timur mentargetkan € 2,6-3 milyar (sekitar 50 trilyun rupiah) dengan bioeconomy-nya, Indonesia sebagai negara tropis, tanah yang luas dan subur seharusnya bisa mendongkrak ekonominya juga dengan bioeconomy. Pendekatan dan model bioeconomy yang dikembangkan Indonesia bisa saja berbeda dengan yang dilakukan di Eropa dan di Belanda, karena potensi alamnya dan karakteristik penduduknya juga tidak sama. Dengan penduduk mayoritas muslim sudah seharusnya Indonesia mengembangkan banyak model-model bioeconomy yang sejalan dengan nilai Islam. Hal ini karena bioeconomy juga akan terkait terkait masalah pangan dan sandang yang dalam Islam sangat jelas terkait dengan masalah halal haram. Bukan hanya itu tentu model tersebut juga dioptimasi sehingga bisa semaksimal mungkin membawa kemakmuran umat dan memberi solusi pada sejumlah masalah besar yang dihadapi. Ekonomi Islam yang belum menjadi mainstream di negeri mayoritas Islam adalah salah satu masalah besar tersebut. Dengan banyak melakukan syirkah dan wakaf sejumlah peluang-peluang besar dalam era bioeconomy bisa dengan mudah ditangkap dan dioptimalkan.
Dengan iklim tropis, tanah luas, subur dan curah hujan tinggi, pengembangan kebun energi untuk produksi wood pellet, peternakan domba, peternakan lebah madu dan produksi arang dengan pyrolysis adalah salah satu model bioeconomy yang bisa dikembangkan. Pyrolysis selain menghasilkan arang juga menghasilkan syngas yang bisa dikonversi menjadi listrik. Listrik berguna untuk menjalankan unit pyrolysis tersebut dan juga produksi wood pelletnya. Limbah pabrik sawit seperti tandan kosong kelapa sawit maupun limbah perkebunan kelapa sawit yakni pelepah bisa digunakan untuk bahan baku pyrolysis tersebut. Sampah kota juga bisa dijadikan bahan baku untuk pirolisis tersebut. Jika tidak maka sejumlah atau sebagian kayu dari panen kebun energi bisa digunakan untuk bahan baku pyrolysis tersebut. Produk lainnya dari pyrolysis yakni arang, biooil dan pyroligneous acid (liquid smoke). Semua produk tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan bisa diupgrade untuk menjadi sejumlah produk turunan. Seberapa panjang mata rantai industri juga tergantung dari keekonomian industri tersebut. Semakin panjang rantai industri semestinya akan memberi nilai tambah semakin besar dan kontribusi yang besar juga pada bioeconomy. 

Bagaimana bisa merealisasikan bioeconomy model di atas? Tentu pekerjaan besar untuk merealisasikan bioeconmy model tersebut karena mengintegrasikan beberapa unit sehingga menjadi siklus tertutup. Entry point bisa dimulai dari salah satu unit bisnis yang lebih mudah dilakukan. Penggembalaan domba atau Penggembalaan domba dan sapi (mixed grazing) bisa jadi entry point termudah, karena bagi umat Islam juga mendukung untuk penegakan syar'i at Islam, yakni syar'i at qurban setiap 10 Dzulhijah. Selain itu juga berarti akan meningkatkan produksi daging dalam negeri. Penggembalaan rotasi (rotation grazing) adalah pola penggembalaan yang efektif dan efisien, apalagi dibandingkan pola penggembalaan tradisional, yakni penggembalaan kontinyu (continous grazing).  Setelah penggembalaan tersebut, selanjutnya diikuti dengan produksi wood pellet dari kebun energi, yang limbah daun-daunnya yang juga kaya kandungan protein juga akan sebagai pakan tambahan bagi hewan-hewan ternak tersebut. Kotoran ternak dari kandangnya bisa digunakan untuk pupuk di kebun energi, sedangkan padang penggembalaan sendiri telah mendapatkan pupuk sewaktu penggembalaan dilakukan di area tersebut. Terakhir yakni mengintegrasikan unit pyrolysis yang tujuan utamanya untuk produksi listrik untuk mencukupi operasinal pabrik wood pellet. Mata rantai industri bisa dikembangkan lebih panjang dengan menggunakan bahan baku (feedstock) dari hasil samping proses pyrolysis tersebut. 

Ketika model ini bisa dibuat dan terbukti memberi keuntungan dan manfaat yang besar, maka selanjutnya model tersebut tinggal diperbanyak dan diperbesar. Ketika hand phone layar sentuh pertama kali dikenalkan maka banyak pihak yang skeptis dan mencemooh konsep tersebut untuk bisa digunakan secara masal, tetapi hari ini sebagian besar hand phone dan gadget menggunakan layar sentuh untuk mengoperasikannya. Orang-orang baru tertarik dan berbondong-bondong menjadi follower ketika telah melihat bukti. Tetapi siapa yang mau menjadi pioneer dan memberi bukti kepada orang-orang itu? Tentu bukan orang sembarangan dan hanya sangat sedikit orang yang mau dan mampu melakukannya. Steve Jobs, menunjukkan bahwa handphone layar sentuh Apple bisa handal digunakan dan memberi bukti bagi orang-orang. Ungkapan Steve Jobs yang terkenal yakni
“ People do not know what they want until you show it to them – masyarakat tidak tahu apa yang mereka inginkan sampai Anda tunjukkan kepada mereka !”.


Contoh di dunia perkebunan akan lebih dekat dengan bioeconomy model. Ketika Belanda membawa empat biji sawit lalu tumbuh menjadi pohon sawit lalu dibuatlah perkebunan kecil, lalu semakin luas karena banyak ditiru dan dikembangkan ke banyak tempat. Kondisi tersebut terjadi karena usaha tersebut bisa membuktikan memberi keuntungan menarik. Demikian juga dengan pengembangan bioeconomy. Semakin terbukti memberi keuntungan dan manfaat lebih baik, tentu semakin menarik untuk diterapkan dan dikembangkan ke banyak lokasi, bahkan tidak hanya di Indonesia saja tetapi bisa juga di Malaysia dan khususnya negara-negara muslim lainnya. 

Sabtu, 27 Januari 2018

Mencari Harta Terbaik Dari Implementasi Kebun Energi Bagian 4

Walaupun secara spesifik menggembala disebutkan didalam Al Qur'an sebagai Sunnah  para Nabi, tetapi sayang bahwa penggembalaan tidak dipelajari secara terperinci di negeri ini pada fakultas peternakan, fakultas pertanian, maupun fakultas Al Qur'an dan Hadist, akibatnya teknik-teknik penggembalaan menjadi tidak berkembang dan produksi daging kita rendah, sehingga harus import padahal juga potensi lahan terbaik dan tidak kalah luas bisa kita dapati di negeri ini. Secara umum ada 2 metode penggembalaan saat ini yakni penggembalaan presisi dan penggembalaan rotasi. Penggembalaan presisi dilakukan pada padang gembalaan yang telah diukur secara presisi kebutuhan pakan untuk domba tersebut berdasarkan luasan dan kondisi pakan atau rumput di lokasi tersebut. Lokasi tersebut bisa saja ditanami dengan berbagai tanaman lainnya, sebagai contoh penggembalaan domba di perkebunan kelapa, perkebunan karet, perkebunan anggur, di perkebunan apel, di perkebunan mangga, perkebunan sawit, kebun energi dan seterusnya. Pada penggembalaan presisi dilokasi tersebut ada upaya menjaga tanaman lain tersebut untuk tidak dirusak oleh domba-domba tersebut. Sedangkan pada penggembalaan rotasi maka domba-domba tersebut dirotasi penggembalaannya berdasarkan kondisi rerumputannya atau ketersediaan pakannya. Ketika rerumputan banyak maka digunakan untuk penggembalaan dan ketika sudah habis maka penggembalaan berpindah ke lokasi lain yang banyak rumputnya sambil menunggu tempat sebelumnya tumbuh kembali rumputnya sehingga bisa digunakan untuk penggembalaan lagi. Berikut ini sejumlah video dari penggembalaan rotasi dan penggembalaan presisi:




Semoga video-video tersebut semakin memotivasi untuk pengembangan penggembalaan domba di Indonesia yakni terutama di perkebunan sawit yang mencapai 12 juta hektar, perkebunan kelapa 3,7 juta hektar dan kebun karet mencapai 3,4 juta hektar. Tentang penggembalaan diperkebunan sawit, telah sedikit dibahas di link ini, sedangkan Indonesia juga memiliki perkebunan kelapa terbesar di dunia dan terkenal dengan negeri rayuan pulau kelapa . Perkebunan kelapa juga sangat baik untuk penggembalaan domba-domba tersebut. Daerah-daerah yang menjadi sentra kelapa, seperti kabupaten Indragiri Hilir di Riau yang memiliki hampir 500.000 hektar perkebunan kelapa seharusnya juga mengembangkan penggembalan domba ini. Indragiri Hilir merupakan sentra perkebunan kelapa terbesar di Indonesia bahakan di dunia dengan lebih dari 80% merupakan perkebunan rakyat.  Perkebunan kelapa juga memiliki nasib kurang menguntungkan hari ini, karena kurang diperhatikan sehingga produksinya semakin menurun. Padahal dari pohon kelapa ini seluruh bagiannya bisa dimanfaatkan, bahkan dijuluki pohon kehidupan, diantaranya minyak kelapa yang kualitasnya lebih bagus daripada minyak sawit apalagi VCO-nya, tempurung kelapa sebagai bahan baku arang aktif terbaik, sabutnya diolah menjadi cocofiber untuk bahan jok, matras dlsb, dan juga cocopeat yang digunakan untuk media tanam. Untuk efisiensi cocopeat tersebut dibuat cocopeat block, sehingga memudahkan handling dan hemat transportasinya. Peternakan domba dengan penggembalaan tersebut akan memperbaiki dan juga menyuburkan perkebunan kelapa sehingga otomatis produktivitas dan kualitas kelapa menjadi semakin lebih baik.
Selain untuk produksi daging dari domba-domba tersebut, juga akan menyuburkan tanahnya dari kotoran domba-domba yang disebarkan sewaktu penggembalaan tersebut. Konsumsi daging rendah penduduk Indonesia perlu ditingkatkan dengan produksi daging dari dalam negeri, bukan malah menggenjot importnya, seperti akhir-akhir ini pemerintah yang malah mau mengimport daging kerbau dari India. Ketika tanah menjadi subur maka produktivitas sawit sama seperti halnya kelapa juga akan meningkat karena pohon-pohon sawit mendapatkan cukup pupuk. Selain itu bulu-bulu domba yang dihasilkan akan menjadi benang wool sebagai salah satu bahan tekstil terbaik. Wool tersebut dapat digunakan untuk membuat karpet-karpet, selimut-selimut, baju hangat dan sebagainya dengan kualitas superior dibandingkan dengan imitasinya yakni benang akrilik. Indonesia masih import benang wool tersebut karena tidak memiliki sumber bahan baku yang mencukupi dari dalam negeri. Dengan digalakkan peternakan domba maka import benang dan kain wool bisa dikurangi bahkan ditiadakan dan dicukupi dari dalam negeri. 

Contoh Jaket Kulit Domba Dengan Kualitas Istimewa
Selain itu kulit-kulit domba juga bisa digunakan sebagai bahan baku industri kulit. Setelah melalui penyamakan maka kulit domba bisa digunakan untuk memuat berbagai barang kebutuhan manusia, seperti jaket, tas, dompet dan sebagainya. Domba-domba jenis tertentu juga menghasilkan susu untuk minuman bergizi terbaik bagi manusia. Sungguh sangat banyak manfaat dengan mengoptimalkan tanah-tanah perkebunan dengan penggembalaan domba. Untuk diskusi lebih lanjut, silahkan menulis email ke : eko.sbs@gmail.com 

Selasa, 09 Januari 2018

Ketika Menggembala Sebagai Mas Kawin

Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". (QS Al Qashash : 26)

Berkatalah dia (Syu'aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik". (QS Al Qashash : 27)

"Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan" (QS Al A'laa :4)


Kisah Musa yang menolong dua orang perempuan lalu diajaklah Musa menemui ayah dari kedua perempuan tersebut.  Kemudian  karena Musa memiliki tubuh yang kuat dan sifat amanah (dapat dipercaya) salah seorang perempuan itu menyarankan ayahnya yakni Nabi Syuaib AS, untuk diambil sebagai pekerja. Nabi Syu'aib tidak hanya menerima Musa untuk dijadikan pekerjanya, bahkan bermaksud menikahkan salah seorang putrinya dengan Musa dengan syarat bekerja dengannya sebagai penggembala domba selama 8 atau 10 tahun. Kisah inspiratif sekaligus teladan sepanjang zaman.
Ketika di zaman ini para orang tua gelisah untuk mencari menantu, maka inspirasi dari kisah di atas sungguh memberi pencerahan. Para orang tua saat ini bisa membuat penggembalaan domba sehingga menjadi cara untuk mendapatkan menantu terbaiknya. Dan jika orang tuanya masih bingung, maka anak-anak perempuannya juga sebaiknya meminta pada orang tuanya untuk membuat penggembalaan domba-domba tersebut. Allah SWT telah menumbuhkan berbagai rerumputan untuk pakan binatang ternak yang digembalakan khususnya domba-domba tersebut. 


“Dia-lah, Yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya (menyuburkan) tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu. ” (QS 16:10)

Di Indonesia dengan luas perkebunan sawit yang mencapai sekitar 12 juta hektar, tentu bisa dijadikan untuk penggembalaan domba tersebut, bahkan akan menjadi tempat terbaiknya (QS 16:10). Alangkah sayangnya jika kebun seluas jutaan hektar tersebut tidak dioptimalkan, malah harus mengeluarkan biaya besar untuk membersihkan rerumputan dibawah pohon sawit. Padahal rumput-rumput tersebut adalah pakan untuk domba-domba yang digembalakan tersebut. Kotoran dari domba-domba tersebut juga menjadi pupuk bagi pohon sawit yang pada akhirnya akan menyuburkan tanah dan meningkatkan produktivitas panen sawitnya. Ketika penggembalaan domba dalam perkebunan sawit tersebut telah menjadi konsep terintegrasi, maka menjadi semakin menarik. Karena kebun-kebun sawit tersebut sebagian besar atau 80% berada di Sumatra dan Kalimantan, maka area-area penggembalaan bisa juga diantara kebun buah-buahan bahkan pada kebun energi yang multipurpose.
Semua Nabi dan Rasul pernah menjadi penggembala domba/kambing, hal ini mengindikasikan bahwa pekerjaan menggembala domba/kambing adalah sesuatu hal yang penting. Allah SWT memperlihatkan bahwa salah satu cara terbaik untuk mendidik utusan-utusan-Nya yang merupakan manusia-manusia terbaik adalah dengan menggembala domba tersebut, sehingga mencontohnya juga akan memberikan hasil terbaik. Sayangnya pelajaran menggembala tidak diajarkan secara terperinci pada perguruan-perguruan tinggi pertanian kita, begitu juga di perguruan-perguruan tinggi Islam baik jurusan atau fakultas Al Qur'an maupun Hadist. Padahal menggembala ini merupakan sunnah seluruh Nabi dan juga secara spesifik Ada tuntunannya dalam Al Qur'an.
Profesi menggembala bagi wanita juga hal yang baik, hal itu bisa dirujuk dari 2 ayat Al Qur'an Surat Al Qashash diatas. Putri-putri Nabi Syu'aib berprofesi menjadi penggembala bahkan untuk membantu ayahnya yang sudah tua. Hari ini ketika wanita-wanita di Jabodetabek berdesakan ke tempat kerjanya baik di bus maupun kereta sehingga rawan bersentuhan dengan bukan mahram dan berbagai pelecehan seksual, maka kembali merujuk kedua ayat Al Qur'an diatas akan memberi inspirasi, motivasi dan sekaligus bisa diimplementasi. Para wanita di daerah bahkan tidak perlu urbanisasi ke kota-kota besar yang padat penduduknya, berdesakan untuk ke tempat kerja maupun dari tempat kerja, macet lalu lintasnya dan sebagainya, tetapi cukup kembali menghidupkan sunnah Nabi berupa penggembalaan tersebut. 
Tentu banyak sekali hikmah dari penggembalaan tersebut. Ketika kebun-kebun sawit telah ramai oleh domba-domba gembalaan tersebut, maka kesuburan tanah semakin meningkat dan produksi daging dalam negeri juga meningkat, bersama itu juga sebagai media pendidikan terbaik. Produksi sawit Indonesia yang rendah juga bisa meningkat pesat sejalan dengan peningkatan kesuburan tanahnya. Domba-domba tersebut juga akan menjadi harta terbaik bagi muslim, yang bisa dibaca lebih rinci di sini, sini dan sini. Konsumsi daging dalam negeri yang saat ini hanya 1/4 rata-rata dunia juga bisa ditingkatkan. Rendahnya konsumsi daging dalam negeri juga akibat kita-kita tidak punya atau kurangnya minat terhadap penggembalaan tersebut. Ketika para orang tua sadar akan pentingnya penggembalaan tersebut, maka tentu tidak segan-segan mereka membuat usaha penggembalaan tersebut, yang juga sebagai sarana mendapatkan menantu terbaiknya. Ketika waktu itu mas kawin (mahar pernikahan) menjadi seperangkat alat sholat dan penggembalaan domba. Insya Allah.

Buah Kelapa Reject (Non- Standard) untuk Produksi Bioavtur / SAF

Organisasi penerbangan sipil internasional / International Civil Aviation Organization (ICAO) telah memasukkan kelapa non-standar di dalam p...