Rabu, 19 Agustus 2015

Masuk ke Pasar Global Wood Pellet




Pada kenyataannya pertumbuhan bisnis yang massif dari wood pellet  saat ini berasal dari dorongan sejumlah kebijakan di Eropa, lebih khusus lagi terutama bisnis listrik di Inggris. Pada tahun 2020 konsumsi wood pellet diperkirakan sebesar 22 juta ton.  Dua pembangkit listrik di Inggris saja yang 100% menggunakan wood pellet yakni Drax dan Eggborough, membutuhkan 10 juta ton setiap tahunnya. Kebutuhan besar wood pellet besar lainnya adalah dari negara-negara Eropa Barat terutama Italia. Sedangkan di Asia, Jepang dan Korea adalah dua negara yang paling banyak mengkonsumsi wood pellet. Sedangkan pada tahun 2024 diprediksi produksi wood pellet akan mencapai 50 juta ton secara global.




Kanada adalah salah satu produsen utama wood pellet yang menyuplai kebutuhan sejumlah negara diatas. Luasnya hutan sehingga melimpahnya sumber bahan baku yang menjadikan Kanada sebagai salah satu produsen wood pellet. Rusia adalah negara besar lainnya yang mulai memproduksi wood pellet. Luasnya hutan dan melimpahnya sumber bahan baku menjadikan Rusia sebanding dengan Kanada dalam produksi wood pellet tetapi masalah infrastruktur terutama yang masih menjadi penghalang  utama perkembangan industri wood pellet di Rusia. Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia juga mempunyai peluang besar untuk ikut berkecimpung pada bisnis wood pellet tersebut. Walaupun luas hutan yang bisa dijadikan sebagai sumber bahan baku tidak seluas Kanada maupun Rusia, tetapi iklim di Indonesia di daerah tropis yang membuat matahari bersinar sepanjang tahun adalah berkah tersendiri. Alhamdulillah, inilah salah satu kenikmatan dari Allah SWT yang harus kita syukuri.  Hutan-hutan atau kebun energi dengan tanaman rotasi cepat (SRC) seperti Kaliandra bisa dibudidayakan dengan produktivitasnya 4 kali lipat dibandingkan daerah subtropis seperti Kanada atau Rusia untuk tanaman sejenis seperti Willow atau Poplar.  Selain itu pengguna wood pellet di Asia seperti Korea dan Jepang juga akan mencari wood pellet dari kawasan Asia sebelum ke Kanada atau Rusia.



Masalah kelestarian alam atau lingkungan adalah hal penting yang harus diperhatikan, sehingga keberlangsungan usaha dan kelestarian lingkungan adalah dua hal yang secara simultan terus dijaga. Pembangkit listrik adalah pasar utama wood pellet dengan kebutuhan besar dan jangka panjang untuk itulah kerberlangsungan lingkungan tersebut perlu menjadi perhatian serius. Hampir semua pembeli wood pellet untuk pembangkit listrik juga akan mensyaratkan adanya sustainable forest management practice dan sertifikasi (semacam FSC atau SVLK)  tentang asal bahan baku yang bisa dipertanggungjawabkan artinya tidak merusak hutan. Secara khusus untuk kondisi Indonesia, dengan kebun atau hutan energi tanaman Kaliandra dengan diintegrasikan dengan kegiatan peternakan kambing atau sapi nantinya siklus kerberlangsungan dan kelestarian alam akan terjaga.

Pembangkit listrik tenaga uap dengan bahan bakar batubara adalah salah satu penyumbang CO2 terbesar di atmosfer, sehingga apabila bisa digantikan sampai 100% atau full dengan wood pellet sebagai bahan bakar karbon netral akan mengurangi emisi CO2 secara signifikan. Pembangkit listrik Rodenhuize 180 MW di Ghent, Belgia adalah salah satu contohnya. Pada awalnya Rodenhuize adalah PLTU batubara selanjutnya pada tahun 2011 menggunakan 100% wood pellet. Sebelumnya pada tahun 2005 pembangkit tersebut dimodifikasi sehingga bisa bekerja dengan co-firing coal dan wood pellet dan pada tahun 2011 pembangkit tersebut beralih 100% dari batubara (coal) dengan wood pellet. Beralihnya ke wood pellet dari batubara (coal) telah membuat pembangkit listrik Rodenhuize mengurangi 1,6 juta ton emisi CO2. Pola seperti Rodenhuize sepertinya bisa menjadi referensi dan akan diikuti oleh pembangkit-pembangkit listrik batubara lainnya terutama pada negara-negara yang telah menerapkan kebijakan lingkungan pada sektor energinya untuk berlomba-lomba menurunkan suhu bumi.

Kamis, 18 Juni 2015

Memetakan Potensi Biomasa Kayu Untuk Energi

Ketika kebutuhan energi terbarukan dari biomasa kayu semakin besar, maka pada level tertentu biomasa kayu yang berasal dari limbah-limbah penggerjajian (sawmill), atau industri-industri pengolahan kayu dan sebagainya menjadi tidak mencukupi sehingga perlu diupayakan sumber lain yang mampu untuk memenuhi maksud tersebut. Kebun atau hutan energi dengan jenis tanaman rotasi cepat atau SRC adalah skenario terbaik untuk tujuan tersebut. Saat ini masih sangat banyak kawasan hutan di Indonesia tersedia apabila akan digunakan untuk pembuatan hutan atau kebun energi tersebut, seperti pada skema dibawah ini.





Pemetaan secara mendetail untuk mengidentifikasi berbagai hal yang dibutuhkan akan sangat dibutuhkan karena akan sangat terkait pada besarnya investasi untuk pembuatan hutan atau kebun energi. Penginderaan jarak jauh atau remote sensing melalui satelit, pesawat terbang, balon udara dan semacamnya adalah salah satu tahap untuk mendapatkan pemetaan secara mendetail. Lokasi dari hutan atau kebun energi sebelumnya telah ditentukan, lalu dengan penginderaan jarak jauh tersebut berbagai informasi lebih detail akan dicari, misalnya batas-batas wilayah, topografi, jenis-jenis tanaman yang sudah ada di lokasi, umur tanaman, tinggi tanaman, dan jenis tanah.  Citra atau photo udara dari penginderaan jarak jauh yang biasanya terlihat hanya perbedaan warna dan bentuk lalu akan diterjemahkan untuk bisa diolah, dianalisa dan didapat informasi sesuai yang diinginkan.


Selanjutnya survey lapangan di kawasan tersebut juga perlu dilakukan untuk meningkatkan akurasi informasi dari tahapan sebelumnya. Survey lapangan biasanya dilakukan oleh beberapa tim dengan membuat plot luasan-luasan dalam kawasan tertentu yang dijadikan sebagai sampel dan dianalisa untuk mencari informasi-informasi yang dibutuhkan. Metode tertentu juga digunakan untuk menetukan lokasi plot dan jumlahnya, sehingga semakin banyak plot sebagai sampel diambil dalam kawasan tersebut maka akan semakin akurat informasi pemetaan.





Selanjutnya setelah keseluruhan informasi telah didapat maka pengambilan keputusan akan bisa segera dilakukan. Wood pellet adalah bentuk energi biomasa yang sangat populer untuk pasar internasional baik untuk sektor pembangkit listrik atau panas. Semakin hari kebutuhan diprediksi akan wood pellet akan semakin meningkat, atau pada tahun 2024 produksi wood pellet global akan 50 juta ton. Tanaman-tanaman lama dalam lokasi untuk hutan atau kebun energi juga bisa dimanfaarkan untuk produksi wood pellet apabila secara kualitas dan kuantitas sesuai untuk bahan baku wood pellet sebelum nantinya menggunakan biomasa kayu dari kebun atau hutan energi tersebut. Informasi dari pemetaan tersebut juga akan sangat berguna untuk rencana pengembangan selanjutnya termasuk integrasi industri wood pellet dengan aktivitas lainnya.



Rabu, 03 Juni 2015

Proses Pemelletan Biomasa dan Menjaga Stabilitas Produksi Pabrik Wood Pellet


Karakteristik biomasa akan menentukan proses produksi termasuk bentuk die dan karakteristik produk wood pelletnya. Biomasa kayu adalah biomasa yang paling umum dan populer dari pemelettan biomasa tersebut. Bentuk die tidak bisa umum digunakan atau generik untuk semua jenis biomasa karena memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Proses pemelletan (pelleting) yang efisien akan dihasilkan produk pellet dengan jumlah serbuk atau powder atau fine yang sangat sedikit artinya hampir semua partikel bahan yang diumpankan ke dalam pelletiser terkonversi menjadi pellet  tersebut. Ditinjau urutan proses yang terjadi dalam pelletiser maka biomasa akan mengalami hal-hal sebagai berikut sebelum akhirnya terbentuk menjadi pellet.



Sejumlah  bahan dari kayu tertentu ada yang mengembang lagi ketika keluar dari pelletiser atau secara umum pada alat pemadatan (densificator). Fenomena ini lebih mudah terlihat pada briket karena ukurannya lebih besar daripada pellet. Hal tersebut terjadi karena bahan tersebut menyerap lagi udara dari atmosfer sehingga menambah kelembaban pada pellet atau briket tersebut, padahal ketika partikel bahan masuk ke dalam die dengan adanya tekanan yang kuat dan suhu tinggi maka sejumlah uap air dalam partikel bahan akan keluar serta begitu juga lignin yang berfungsi sebagai perekat akan keluar pada tahap ini.


Pada wood pellet secara spesifik juga ada sedikit perbedaan tentang kualitas, logistik dan kebutuhan konsumen antara Eropa dan Amerika Serikat. Perbedaannya antara lain khususnya yaitu pada wood pellet untuk pasar Eropa umumnya menggunakan die dengan ukuran 6 mm sedangkan untuk pasar Amerika Serikat umumnya menggunakan die dengan ukuran seperempat inch atau 6,35 mm atau bisa juga menggunakan peralatan yang lebih cocok, misalnya untuk Eropa menyesuaikan dengan EN method sedangkan Amerika dengan ASTM method. Tetapi sektor yang berbeda juga memungkinkan penggunaan ukuran pellet yang berbeda. Sebagian besar retailer di Eropa menggunakan ukuran pellet 6 mm, sehingga apabila menggunakan U.S. standard dengan ukuran seperempat inch atau 6,35 mm dan setelah produksi juga biasanya akan ekspansi menjadi 6,5 mm membuat kurang diterima pasar Eropa. Selain itu pasar Eropa juga menyukai wood pellet dengan panjang 1,5 – 2 cm, sehingga tidak terlalu pendek dan tidak terlalu panjang. Durability juga menjadi faktor penting untuk target pasar tersebut, Eropa mengeluarkan persyaratan durability limit adalah 97,5 terutama untuk bulk industrial market, akan tetapi untuk bulk residential delivery sebagian besar distributor mencari produk dengan durability 98,5 – 99,0. Hal ini karena pada residential delivery pada umumnya menggunakan pneumatic conveyor dan adanya keinginan kuat untuk mengurangi fine (powder).    



Target pasar akan menentukan bagaimana proses produksi dari wood pellet tersebut. Pasar Asia dengan umur relative baru belum memiliki persyaratan seketat Eropa atau Amerika dengan target pengguna atau user juga ada perbedaan.  Jumlah permintaan yang besar dengan kualitas yang ketat juga membuat kebutuhan akan peralatan atau mesin yang handal menjadi mutlak dibutuhkan. Sejumlah produsen pelletiser untuk wood pellet juga telah menerapkan teknologi sensor panas pada pelletiser yang mereka buat sebagai pilihan bagi produsen wood pellet. Teknologi ini termasuk pemasangan sensor panas tinggi langsung pada roller untuk memantau secara real time suhu kritisnya. Tujuan penggunaan teknologi tersebut adalah untuk mengurangi downtime dan kecelakaan yang disebabkan oleh overheating pada roller dan bearing shaft sehingga target produksi bisa dicapai dengan mudah.




Sedangkan untuk supplai pasokan bahan baku wood pellet, limbah-limbah penggergajian kayu maupun limbah pengolahan kayu bisa digunakan tetapi kebun atau hutan energi akan menjadi pilihan terbaik terutama untuk orientasi jangka panjangnya. Manajemen atau pengelolaan hutan (forest management service) yang baik akan menghasilkan pasokan bahan baku yang berkesinambungan (sustainable). Optimalisasi penggunaan lahan di sejumlah lokasi, pemilihan jenis tanaman yang sesuai dan ditunjang kondisi iklim tropis yang menunjang adalah beberapa hal yang mendukung integrasi kebun atau hutan energi dengan usaha wood pellet. Tanaman SRC atau spesies tanaman dengan rotasi cepat seperti kaliandra sangat sesuai untuk tujuan tersebut. Kita patut bersyukur kepada Allah SWT karena lokasi di Indonesia yang beriklim tropis membuat produktivitas tanaman kaliandra bisa 4 kali lebih cepat daripada yang beriklim sub tropis atau konkritnya 4 tahun poplar dan willow di Eropa sama seperti 1 tahun kaliandra di Indonesia. Faktor ketersediaan bahan baku merupakan salah satu faktor kunci kesuksesan usaha wood pellet sehingga perlu perhatian khusus tersendiri.

Senin, 18 Mei 2015

Berpacu Menurunkan Suhu Bumi (Bagian 2)

Biomasa sebagai bahan bakar 'carbon neutral' tentu tidak berdiri sendiri sebagai suatu skenario besar untuk menurunkan suhu bumi akibat pemanasan global oleh emisi gas rumah kaca. Kelebihan biomasa sebagai sumber energi terbarukan dengan penggunaannya yang stabil, dalam artian tidak terpengaruh oleh kondisi iklim dan cuaca menjadi produk yang diandalkan dalam berbagai skala aplikasinya. Upaya mengoptimalkan potensi biomasa sebagai sumber energi bisa ditinjau dari sisi pasokan hingga pemanfaatannya.

Dari sisi pasokan, maka keterjaminan pasokan biomasa sebagai bahan baku adalah hal mutlak jika akan digunakan sebagai sumber energi utama, untuk itu sejumlah upaya mulai dari mengumpulkan berbagai limbah biomasa yang pada awalnya hanya dibuang hingga mencari spesies tanaman dengan rotasi cepat (SRC), produktivitas tinggi dan berefek positif di alam dengan dibuat kebun energi. Salah satu tanaman tersebut adalah kaliandra untuk daerah tropis sedangkan di daerah sub-tropis seperti Eropa menggunakan spesies poplar dan willow. Kita patut bersyukur kepada Allah SWT karena lokasi di Indonesia yang beriklim tropis membuat produktivitas tanaman kaliandra bisa 4 kali lebih cepat daripada yang beriklim sub tropis atau konkritnya 4 tahun poplar dan willow di Eropa sama seperti 1 tahun kaliandra di Indonesia.



Sedangkan ditinjau dari pemanfaatannya, energi biomasa harus bisa dimanfaatkan secara luas, mudah, murah dan efisien. Biomasa bisa dimanfaatkan ditempat ataupun digunakan ditempat lain yang cukup jauh. Pada penggunaan di tempat atau yang jaraknya dekat, biomasa hanya diseragamkan ukurannya atau ditambah pengeringan. Sedangkan untuk digunakan pada lokasi cukup jauh biomasa tersebut perlu ditambah proses lagi berupa dipadatkan seperti dalam bentuk pellet atau briket. Biomasa tersebut lalu diproses rute thermal (yang paling populer) dengan pembakaran, pirolisis atau gasifikasi untuk mengekstrak kandungan energinya.


Saat ini posisi Eropa telah melampaui Amerika Utara dalam berpacu menurunkan suhu bumi atau upaya mengurangi pemanasan global. Setelah sebelumnya Uni-Eropa menerapkan RED (EU's Renewable Energy Directive) yang biasa dikenal target 20-20-20 atau yang dimaksudkan adalah mandat untuk menurunkan 20% emisi gas rumah kaca dari tahun 1995 sebagai level dasarnya; menurunkan 20% konsumsi energi; dan untuk 20% untuk energi terbarukan. Hal ini juga yang membuat Eropa adalah konsumen atau pasar terbesar wood pellet dengan perkiraan 80% dari produksi dunia, lalu diikuti Amerika Serikat dan posisi ketiga, Korea Selatan.

Saat ini Uni-Eropa sedang mendekati tahun 2020 untuk realisasi target 20-20-20 tetapi disisi lain mereka mulai menyiapkan rancangan untuk kebijakan baru masalah iklim dan energi dari tahun 2020-2030. Uni-Eropa telah mengusulkan target baru 2030 termasuk menurunkan 40% emisi gas rumah kaca, menurunkan 30% konsumsi energi dan 27% untuk penggunaan energi terbarukan. Saat ini mereka juga sedang mencari strategi untuk mencapai target 2030. Sejarah juga menunjukkan bagaimana kebijakan biomasa adalah pendorong utama untuk perkembangan pasar pellet di Eropa. Hal ini juga yang banyak digunakan sebagai model kawasan atau negara tertentu untuk menerapkan  kebijakan energi terbarukan khususnya biomasa.

Rabu, 06 Mei 2015

Wood Pellet Untuk Sektor Industri di Indonesia

Energi memiliki peran vital dalam suatu industri. Energi juga merupakan salah satu komponen biaya tertinggi dalam proses produksi. Berbagai upaya dilakukan oleh industri dalam rangka menekan biaya energi ini sehingga pada akhirnya memberikan marjin keuntungan usaha yang lebih besar. Kenaikan harga BBM akan sangat berdampak bagi industri karena sedikit banyak akan mengurangi keuntungan mereka. Dan apabila harga jual produk mereka naikkan sedangkan daya beli masyarakat menurun hal itu juga hanya berpotensi menambah kerugian pada industri yang bersangkutan. Energi dan khususnya BBM selalu memiliki peran strategis bagi kelangsungan berjalannya ekonomi dan stabilitas politik suatu negara. 


Wood pellet adalah salah satu energi alternatif yang sangat potensial khususnya pada sektor industri baik menengah maupun besar, karena subsidi BBM level industri ini umumnya sudah ditiadakan. Sebagai perbandingan dengan nilai kalor gas LPG sekitar 11.000 kkal/kg sedangkan wood pellet atau pellet bahan bakar memiliki nilai kalor sekitar 4.000 kkal/kg, berarti satu kg LPG setara dengan dengan tiga kg wood pellet. Gas LPG non-subsidi kemasan 12 kg saat ini harganya berkisar Rp 12.000,-/kg, sedangkan wood pellet harga perkg-nya sekitar seper-enamnya atau Rp 2.000/kg. Hal ini sehingga akan menghemat sekitar 80% apabila melakukan subtitusi bahan bakar ke jenis bahan bakar ini. Hal ini tentu sangat menarik disamping bahan bakar wood pellet juga bahan bakar terbarukan dan ramah lingkungan. Apabila dibandingkan dengan batubara dengan kadar abu tinggi, benruk tidak seragam, kadar air tinggi dan kandungan sulfur lebih tinggi sehingga menimbulkan penanganan masalah pencemaran yang serius, maka jelas wood pellet jelas lebih unggul. Berbeda halnya dengan sejumlah negara, secara khusus Indonesia juga belum ada kebijakan untuk pemakaian wood pellet.

Apabila industri tersebut sebelumnya telah menggunakan bahan bakar seperti kayu bakar atau batubara, maka konversi ke wood pellet lebih mudah dibandingkan apabila sebelumnya menggunakan bahan bakar gas (LPG) atau minyak. Wood pellet sebagai bahan bakar membutuhkan tungku atau unit pembakaran (combustor) khusus sehingga proses pembakarannya bisa optimal dengan efisiensi tinggi atau terjadinya kehilangan panas ke lingkungan sangat kecil.  Unit pembakaran ini juga yang akan menentukan seberapa efektif penggunaan wood pellet untuk subtitusi bahan bakar fossil seperti bahan bakar minyak (BBM) dan bahan bakar gas (LPG).  Ada beberapa unit pembakaran wood pellet yang umum digunakan oleh industri khususnya skala industri menengah-besar yakni, jenis grate combustor dan stoker combustor.  Sedangkan sektor-sektor penggunaan wood pellet atau pellet bahan bakar (pellet fuel) bisa dibaca disini.

Selasa, 28 April 2015

Gelombang Energi Biomasa Dunia


Menurut organisasi FAO (Food and Agricultural Organization) produksi wood pellet pada tahun 2013 melebihi 22 juta ton dan lebih dari setengahnya diperdagangkan secara internasional dengan 80% dari produksi tersebut dikonsumsi oleh negara-negara Eropa. Faktor utama yang mempengaruhi hal tersebut adalah European Union's Renewable Energy Directive, yang menginstrusikan pemakaian energi terbarukan hingga 20% dalam bauran energi mereka pada tahun 2020. Sedangkan pada tahun 2024 produksi wood pellet global diprediksi 50 juta ton.

Perkembangan industri wood pellet yang sangat cepat sebenarnya bisa ditelusuri, yakni pada tahun 2007 ketika European Commision mengeluarkan program ambisius yakni  Renewable Energy Directive seperti tersebut diatas, dimana faktor pendorongnya pada awalnya adalah ratifikasi negara-negara dunia pada Protokol Kyoto. Selanjutnya dari  Renewable Energy Directive tersebut negara-negara di Eropa secara individual membuat mekanisme kebijakan sendiri untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satu pendekatan yang murah dan efektif adalah mengurangi CO2 pada pembamgkit listrik yakni dengan mengganti sejumlah batubara yang dibakar pada pembangkit listrik dengan biomasa, yang utamanya adalah wood pellet. Para pembuat kebijakan tertarik dengan pendekatan diatas, karena akan menghasilkan percepatan implementasi daripada angin, matahari, air maupun panas bumi (geothermal). 


Di Inggris kebijakannya pada awalnya diatur dalam Renewables Obligation Program selanjutnya direvisi menjadi mekanisme Contracts-for-Difference (CfD), sedangkan di Belanda program sejenis  pada awalnya dikenal MEP dan selanjutnya juga direvisi yang saat ini bernama SDE-plus. Negara-negara di Asia juga perlahan mulai mengikuti, saat ini dua negara ekonomi kuat yakni Korea Selatan dan Jepang mulai menerapkannya. Program tersebut di Korea Selatan diatur dalam RPS (Renewable Portofolio Standard) dan Jepang menerapkan kebijakan dalam FIT (Feed-in-Tarrif).  Secara bertahap terlihat berbagai negara mulai mengikutinya. Sedangkan di Amerika Serikat dan Kanada, sebagian besar wood pellet digunakan untuk pemanas ruangan (residential/space heating) terutama pada musim dingin.

Ketakutan Deforestasi
Perkembangan produksi wood pellet yang masif tersebut banyak dikhawatirkan oleh sejumlah pihak akan memacu arus deforestasi atau penggundulan hutan termasuk kalangan scientist dan pemerhati kebijakan mempertanyakan apakah energi yang dihasilkan dari wood pellet mampu mencapai tujuan tersebut. Sebenarnya hal tersebut tidak perlu dirisaukan, apabila mengetahui proses produksi sekaligus harga jual wood pellet itu sendiri. Wood pellet yang dibuat dari bahan baku biomasa kayu bisa berasal dari limbah-limbah kayu ataupun kayu yang sengaja dibudidayakan melalui kebun atau hutan energi, tetapi dengan catatan bahwa harga biomasa kayu sebagai bahan baku wood pellet tersebut haruslah seharga kayu limbah. Apabila harga biomasa kayu melebihi harga kayu limbah dipasaran maka produksi wood pellet menjadi tidak ekonomis.

Pohon-pohon atau tanaman-tanaman hutan industri ataupun hutan rakyat akan menghasilkan kayu-kayu yang terutama untuk penggergajian, industri-industri pengolahan kayu seperti plywood, kayu pertukangan, mebel, konstruksi, atau bahkan CLT (cross laminated timber) dan sebagainya dengan harga jauh diatas kayu limbah tentunya. Pabrik wood pellet juga tidak akan membeli kayu-kayu tersebut karena alasan ekonomis. Sedangkan apabila hutan atau kebun energi maka tanaman atau pohon yang ditanam adalah tanaman cepat tumbuh sesuai tujuan untuk mendapatkan biomasa kayu dalam jumlah banyak dan waktu cepat dengan memanfaatkan lahan-lahan marginal atau lahan tidur, sehingga ekonomis untuk produksi wood pellet.

Kayu dari pohon sebagai sumber energi adalah merupakan bahan bakar karbon netral pada pembakaran. Hutan sebagai Carbon Sink jika kecepatan panen dan penggunaan kayu tidak melebihi kecepatan tumbuh pohon atau tanaman tersebut, dalam hal ini terutama hutan atau kebun energi. Selain itu setiap MWh listrik dari batubara juga mengeluarkan gas CO2 lebih banyak dibandingkan dari wood pellet, yakni   pada batubara dikeluarkan 150 kg CO2 sedangkan dengan wood pellet hanya 45 kg. Sehingga penggunaan wood pellet dikatakan juga merupakan aktivitas low carbon economy.


Peluang Indonesia
Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk menangkap peluang ini, hal ini karena luasnya lahan yang tersedia, kesuburan tanah dan iklim tropisnya. Tanaman trubusan seperti kaliandra sangat cocok dibididayakan untuk mendapatkan bahan baku wood pellet tersebut. Jika pada kondisi di Eropa atau negara sub-tropis butuh waktu 4 tahun untuk panen kayu dari tanaman trubusan yakni poplar dan willow, maka di Indonesia hanya butuh waktu 1 tahun bagi kaliandra mencapai kondisi seperti poplar dan willow. Hutan atau kebun energi yang diintegrasikan dengan agro-forestry lainnya maupun peternakan sapi atau kambing menjadi daya tarik tersendiri. 

Senin, 13 April 2015

Pemanfaatan Kompos Sampah Kota Untuk Kebun Energi dan Peternakan Sapi

Saat ini permasalahan sampah kota telah melanda sebagian besar wilayah di Indonesia. Limbah organik sampah kota tersebut beberapa tempat diolah menjadi kompos yang dapat menyuburkan tanah. Pengomposan sampah kota adalah pilihan pengolahan sampah kota yang paling mudah dan murah, dibanding teknologi lainnya. Tetapi kompos yang dihasilkan dari limbah organik sampah kota yang terdiri dari bahan yang sangat beragam dan rentan berbagai kontaminan tidak bisa digunakan untuk pupuk tanaman pangan  tetapi bisa digunakan untuk sejumlah tanaman non-pangan. Kompos yang dihasilkan dari sampah kota jumlahnya cukup banyak sebanding dengan jumlah penduduk, sehingga perlu didistribusikan secara masif pula. Tanaman seperti kaliandra yang daunnya bisa digunakan sebagai pakan sapi sekaligus kayunya sebagai sumber energi biomasa, yang secara tradisional untuk kayu bakar. 

Kebun kaliandra harus dibuat cukup besar sehingga mampu untuk produksi komoditas eksport seperti wood pellet dan disatu sisi seluruh kompos yang dihasilkan juga bisa terserap dengan baik. Wood pellet adalah komoditas eksport yang kebutuhannya semakin meningkat setiap tahun seiring kesadaran untuk penggunaan energi terbarukan untuk mitigasi bencana dan perubahan iklim secara global. 

Saat ini banyak sekali kita temui peternakan sapi yang memanfaatkan sampah kota sebagai sumber pakan sapi-sapi tersebut. Hal ini tentu saja membahayakan bagi produk daging yang dihasilkan dari sapi tersebut. Sampah kota memiliki kandungan limbah organik sekitar 60% dengan komposisi sangat beragam dan banyak tercemar berbagai kontaminan. Sejumlah sapi yang memakan limbah tersebut ditemukan darahnya menjadi biru mengindikasikan bahwa banyaknya pencemaran logam berat dalam pakannya. Apabila dikonsumsi manusia maka deposit logam berat tersebut akan berpindah ke manusia sehingga akan mengakibatkan sejumlah penyakit berbahaya dalam rentang waktu tertentu.

Untuk mendukung peternakan sapi yang semula memakan sampah organik sampah kota lalu menjadi pemakan hijauan berupa daun kaliandra, maka luasan kebun yang akan dibuat juga harus sebanding dengan peternakan sapi yang akan dibudidayakan. Dengan hal ini maka daging sapi juga akan jauh lebih sehat dan layak konsumsi manusia, lalu sampah organik bisa dimanfaatkan untuk kebun kaliandra tersebut dan hasil kayunya untuk sumber energi biomasa.Multiplier effect diatas tentulah sangat menarik untuk segera diimplementasikan sehingga bisa memberikan keuntungan yang berkeadilan diantara semua pihak.

Ujicoba Boiler Biomasa dan Pemilihan Bahan Bakar Biomasa yang Sesuai

Seiring dengan trend dekarbonisasi dan sustainibility diberbagai sektor kehidupan, khususnya di industri-industri pengolahan (industri manuf...