Senin, 08 November 2021

Urgensi Reklamasi Ex-Tambang Batubara Dengan Biochar 

 

Banyaknya lahan bekas tambang batubara yang tidak direklamasi menimbulkan berbagai masalah lingkungan bahkan juga ksselamatan jiwa. Sudah banyak korban jiwa dari lubang  bekas tambang batubara tersebut. Logika sederhana seharusnya setelah deposit batubara diambil atau diekstrak pada aktivitas penambangan tersebut, tanah dikembalikan lagi dan diperbaiki sehingga kualitasnya lebih baik dari sebelum aktivitas pertambangan atau minimal sama, tetapi jangan malah lebih buruk sehingga berbagai masalah lingkungan bermunculan. Era dekarbonisasi semakin kencang melaju karena daya dorong perubahan iklim dan pemanasan global. Bahan bakar fossil khususnya batubara mulai ditinggalkan tentu saja termasuk aktivitas penambangan batubara itu sendiri. Sedangkan area bekas tambang batubara yang mencapai jutaan hektar banyak menjadi permasalahan lingkungan hari ini. 

Ketika kualitas tanah diperbaiki sehingga memiliki kesuburan tinggi maka ini menjadi potensi yang sangat luar biasa sehingga sejumlah aktivitas penting bisa dilakukan, seperti pertanian, peternakan dan kehutanan. Dengan kondisi demikian maka upaya kemandirian atau kedaulatan pangan bukan hal mustahil. Teknisnya bisa dianalisis diantara sektor pertanian, peternakan dan kehutanan tersebut mana yang bisa lebih cepat mencapai tujuan yakni kemandirian atau kedaulatan pangan tersebut. Tetapi sebelum jauh melangkah dan melakukan usaha di atas tanah bekas tambang tersebut, hingga lebih spesifik produk apa yang akan dibuat, pertanyaan mendasarnya adalah bagaimana memperbaiki kondisi tanah yang rusak dan skalanya juga masif tersebut ? 

Aplikasi biochar ke tanah tersebut merupakan solusi jitu dalam upaya memperbaiki tanah-tanah yang rusak. Tergantung seberapa parah tingkat kerusakan, karakteristik jenis tanah dan level kualitas akhir yang menjadi target akan menentukan aplikasi atau dosis biochar tersebut. Selain memperbaiki tanah aplikasi biochar tersebut juga menyerap CO2 dari atmosfer sehingga menurunkan konsentrasi CO2 dari atmosfer atau merupakan skenario carbon negative. Biochar yang tertanam di dalam tanah tersebut menjadi carbon sink, mirip dengan membuat hutan konservasi untuk menyerap CO2 dari atmosfer. Seberapa banyak biochar yang tertanam sehingga bisa dihitung CO2 terserap menjadi carbon sink tersebut bisa dijual di pasar karbon dan mendapatkan carbon credit. Biochar sendiri mampu bertahan di dalam tanah hingga ratusan tahun dan tidak terdekompsisi selama waktu yang panjang tersebut. Bahkan ketika tanah tersebut telah diperbaiki dengan biochar lalu dibuat hutan konservasi di atasnya maka carbon credit yang didapat double, yakni dari aplikasi biochar sendiri dan dari hutan konservasi tersebut. Tetapi sekali lagi tentu faktor ekonomi menjadi pertimbangan penting lainnya, sehingga seperti di atas setelah tanah diperbaiki kesuburannya dengan biochar ada sejumlah opsi untuk pemanfaatan tanah tersebut. Tentu mana yang memberikan keuntungan ekonomi terbaik akan menjadi pilihan. 

Jutaan hektar tanah bisa dipulihkan (direcovery) sehingga kemanfaatannya akan maksimal. Katakan misalnya satu juta hektar saja tanah tersebut bisa dipulihkan lalu digunakan untuk aktivitas yang mendukung ketahanan atau kemandirian pangan tersebut seperti pertanian dan peternakan, maka bisa dihitung berapa banyak outputnya. Lebih bagus lagi apabila bisa terjadi surplus produksi pangan tersebut sehingga bisa melakukan export. Atau bahkan nantinya untuk jangka yang lebih panjang lagi tanah tersebut dihutankan lagi menjadi hutan konservasi maka berapa banyak CO2 yang bisa diserap oleh hutan tersebut ditambah dari aplikasi biocharnya. Tentu sangat banyak. Lalu mengapa harus membuat food estate tetapi harus membabat lahan hutan, sementara ada cara lain yang lebih baik ? Yakni tidak hanya memulihkan tetapi memperbaiki kondisi lahan tersebut bahkan lebih baik sebelum aktivitas penambangan batubara tersebut dilakukan. 

Sabtu, 30 Oktober 2021

Pohon Nyamplung dan Pohon Kelapa

Pohon nyamplung dan pohon kelapa memiliki persamaan yakni dapat tumbuh dengan baik di area pesisir pantai, semua bagian pohonnya bisa dimanfaatkan dan berbuah sepanjang tahun. Dengan panjang garis pantai Indonesia mencapai 99.093 km maka sangat potensial untuk mengembangkan kedua tanaman tersebut. Pohon nyamplung dengan minyaknya yang tidak bisa untuk pangan (non-edible oil) tetapi produktivitasnya hampir menyamai minyak sawit atau CPO maka sangat potensial untuk produksi biodiesel. Padahal pohon sawit adalah produsen minyak nabati terbanyak. Mengapa tidak produksi biodiesel dari jarak pagar ? Untuk lebih detail jawabannya dibaca disini. Sedangkan pohon kelapa yang sudah sangat terkenal sebagai tanaman multi-manfaat tentu sangat strategis dan potensial untuk dikembangkan, apalagi saat ini populasi pohon kelapa terus menurun akibat rendahnya peremajaan kembali (replanting) kebun-kebun kelapa tua. Tidak seperti pohon nyamplung semua hasilnya bukan produk pangan, produk olahan kelapa banyak berupa produk pangan. Kebutuhan produk pangan dari olahan kelapa terus meningkat seiring meningkatnya populasi jumlah penduduk. Issue pangan dan energi juga sekaligus bisa diatasi dengan kedua tanaman tersebut. 

 

Produktivitas nyamplung sekitar 30 tahun sedangkan kelapa lebih lama yakni mencapai sekitar 80 tahun. Kayu pohon nyamplung memiliki nilai ekonomis tinggi demikian juga pohon kelapa. Ketika masa produktif kedua tanaman itu terus menghasilkan buah dan ketika produktivitasnya turun atau berhenti maka kayunya menjadi produk pamungkas yang bernilai ekonomis tinggi. Apabila dibandingkan dengan pohon sawit ketika usia produktivitasnya habis maka kayu atau batangnya pada umumnya masih menjadi masalah bahkan tidak sedikit yang hanya ditinggal begitu saja di kebun karena tidak ekonomis untuk diolah lanjut, lebih detail bisa dibaca disini. Sedangkan pada kayu-kayu kehutanan lainnya biasanya membutuhkan waktu puluhan tahun sebelum bisa dipanen dan tidak ada hasil lain selain kayu tersebut. Tentu saja hal ini cukup berat secara ekonomi bahkan kadang tidak layak.

Photo diambil dari sini

Pohon nyamplung dan pohon kelapa juga mudah dan murah dalam perawatan, tidak seperti pohon sawit yang butuh air dan pupuk yang banyak. Keduanya juga mendukung agroforestry di pesisir pantai, selain juga sebagai wind breaker dari angin laut. Hal tersebut mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat di daerah pesisir, bahkan juga menjadi destinasi wisata. Lebih jauh untuk sistem agroforestri salah satunya dapat dibedakan berdasarkan fungsinya, yakni menjadi fungsi produksi dan fungsi perlindungan. Fungsi produksi misalnya produksi pangan, pakan, bahan bakar seperti biodiesel ini, serat, kayu dan lain-lain. Sedangkan fungsi perlindungan seperti pencegahan dari kerusakan sumber daya lingkungan dan sekaligus pemeliharaan sistem produksi seperti tanaman pagar, penahan air, pencegah kebakaran, konservasi tanah dan air. 

Pemilihan jenis tanaman merupakan hal sangat penting dalam pembuatan pola agroforestri, karena kesalahan yang terjadi akan berdampak panjang dan merugikan. Jenis yang cocok bukan hanya dari segi pertumbuhan, nilai ekonomi dan kemampuan adaptasi pada lingkungan tertentu, tetapi juga kemampuannya membentuk struktur tumbuh yang ideal saat tumbuh berkembang bersama jenis lain pada lahan yang sama. Pemilihan jenis ini sangat tergantung pada keinginan pemilik lahan, kondisi tempat tumbuh, nilai ekonomi dan kemudahan budidaya. 

Jumat, 15 Oktober 2021

Peternakan Ruminansia Sebagai Solusi Tebang Butuh Pada Hutan Rakyat

 

Rata-rata petani hutan rakyat hanya memiliki lahan sempit untuk tanaman kayu kehutanannya, hal ini membuat sulit bagi mereka yang mengandalkan kayu kehutanan tersebut untuk kehidupan harian mereka. Tanaman kayu kehutanan memiliki siklus panjang bahkan untuk spesies tanaman tertentu hingga puluhan tahun. Ketika terjadi kebutuhan mendesak misalnya anak mau masuk sekolah, pernikahan anaknya, dan sebagainya maka tanaman kayu tersebut ditebang walaupun sebenarnya memang belum waktunya, yang biasa dikenal dengan tebang butuh. Selain kualitas kayu bulat (log) yang dihasilkan juga rendah, termasuk harga jualnya demikian juga dengan kuantitas/produktivitasnya. Industri kehutanan dengan kapasitas terpasangnya membutuhkan pasokan kayu bulat jumlah besar dan kualitas standar. Praktek tebang butuh tersebut sebisa mungkin dihindari atau diminimalisir sehingga manfaat optimal akan dirasakan semua pihak, baik petani hutan rakyat maupun industri kehutanan.

Untuk mengatasi masalah kehidupan harian ataupun kebutuhan mendesak tersebut peternakan ruminansia bisa sebagai solusinya. Lahan di sekitar pohon utama bisa sebagai tempat gembalaan dan tanaman legum sebagai tanaman pagar sebagai sumber hijauan. Ketika pohon utama tersebut misalnya sengon masih muda, sejumlah tanaman seperti sayuran dan empon-empon masih bisa ditanam dan memberi hasil baik. Tetapi ketika pohon utama tersebut cukup besar maka tanaman-tanaman tersebut tidak tahan terhadap naungan, sehingga budidayanya selain tidak efektif malah bisa merugi. Tanaman pagar jenis legum seperti kaliandra, gamal/gliricidia dan indigofera bisa ditanam sebagai sumber pakan ternak ruminansia (domba, kambing, sapi atau kerbau). 


Siklus peternakan ruminansia tersebut lebih cepat dibandingkan dengan pohon-pohon kehutanan tersebut. Jenis usaha peternakan yang bisa dilakukan seperti pembibitan (breeding), penggemukan (fattening), produksi susu (milking) bahkan perdagangannya (trading). Walaupun peluang eksport terbuka khususnya domba dan kambing, tetapi pasar dalam negeri juga besar. Sebagai contoh Yogyakarta membutuhkan sampai dengan 4000 ekor domba setiap bulannya khususnya untuk klaster warung sate di jalan Imogiri timur, Yogyakarta. Belum lagi untuk pasar di Jabodetabek dan aqiqah. Sedangkan daging sapi, Indonesia juga masih kekurangan, yang saat ini disuplai daging kerbau dari India yang porsinya mencapai hampir 60% kebutuhan nasional. Peternakan seperti ini bisa menjadi solusi jitu masalah tebang butuh yang menghambat perkembangan hutan rakyat saat ini. Luas hutan rakyat juga tidak bisa dipandang sebelah mata, bahkan di beberapa daerah luas hutan rakyat lebih besar daripada hutan negara. Secara nasional hutan rakyat Indonesia diperkirakan seluas 35 juta hektar, sedangkan hutan negara mencapai 128 juta hektar. 

Sabtu, 02 Oktober 2021

Biochar dan Reklamasi Lahan Bekas Tambang Batubara

Reklamasi lahan bekas tambang batubara adalah kewajiban pengusaha tambang tersebut, tetapi sering kali hal ini tidak dilakukan dengan baik karena berbagai hal. Hal-hal tersebut terutama karena penegakan aturan yang lemah dan sanksi yang ringan. Dengan luas lahan bekas tambang batubara yang telah mencapai jutaan hektar dan perlu upaya reklamasi tersebut tetapi realisasi di lapangan masih sangat minim membuat kerusakan lingkungan juga semakin besar. Hal yang bisa mendorong upaya perbaikan lahan bekas tambang batubara tersebut adalah faktor keuntungan atau ekonomi yang bisa didapat. Artinya jika upaya reklamasi tersebut juga membawa keuntungan ekonomi -selain manfaat lingkungan, tentu saja- maka para pengusaha batubara tersebut tentu juga dengan senang hati melakukannya. Lantas aktivitas apakah itu ?

Photo dari sini
Setelah deposit batubara diambil, maka lapisan tanah atas (top soil) seharusnya dikembalikan lagi di lahan tersebut. Hal mendasar yang perlu dilakukan adalah memperbaiki kualitas tanah tersebut sehingga bisa digunakan untuk ditanami berbagai tanaman. Dengan perbaikan kualitas tanah maka selain kesuburan tanah bisa dikembalikan bahkan ditingkatkan, juga termasuk mengisolasi (immobilisasi) sejumlah unsur berbahaya dari lahan bekas tambang batubara tersebut. Membuat aktivitas bisnis yang menguntungkan dan berkelanjutan adalah langkah selanjutnya. Tanah yang sudah diperbaiki tersebut selanjutnya bisa ditanami dan tanaman jenis legum adalah pilihan terbaik, hal ini karena tanaman jenis legum selain tipe tanaman perintis dengan kemampuan bertahan hidup tinggi, akarnya kuat dan dalam sehingga mencegah erosi, bintil akar dari simbiosis azetobacter dengan mengikat nitrogen dari atmosfer yang menyuburkan tanah juga memberikan banyak manfaat lainnya. Usaha peternakan ruminansia adalah aktivitas bisnis tersebut yang menguntungkan dan berkelanjutan, karena terutama memanfaatkan daun dari tanaman legum tersebut sebagai sumber pakan. Kotoran ternak tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk semakin memperbaiki kesehatan dan kualitas tanahnya sehingga kesuburan tanah terus meningkat dan terjaga. Kayu dari kebun legum tersebut juga bisa dimanfaakan untuk produksi, briket, briket arang bahkan wood pellet.

Sebagai hal mendasar dan entry point untuk usaha di atas adalah perbaikan kualitas lahan atau tanah bekas tambang batubara tersebut. Ada sejumlah cara bisa dilakukan untuk hal tersebut, tetapi penggunaan biochar adalah salah satu opsi terbaik. Dengan biochar tidak hanya meningkatkan pH atau keasaman tanah sehingga nutrisi akan banyak terserap oleh tanaman dan aktivitas mikroba tanah untuk mengurai bahan organik semakin aktif, tetapi juga mampu menyerap sejumlah unsur kimia berbahaya di tanah, meningkatkan karbon organik tanah yang mampu bertahan ratusan tahun dan juga menyerap gas rumah kaca dari atmosfer. Biochar tersebut bisa dibuat dari sejumlah limbah pertanian, kehutanan dan agroindustri, seperti potongan-potongan kayu dari penebangan hutan maupun dari limbah pabrik sawit seperti tandan kosong dan fiber. Sejumlah daerah di Kalimantan selain kaya dengan deposit batubara dan juga saat ini banyak lahan bekas tambang tersebut terbengkalai juga banyak bahan biomasa seperti limbah hutan dan limbah pabrik sawit tersebut untuk produksi biochar.  


 

Dalam rangka penurunan emisi CO2 di atmosfer, biochar juga mampu menyerap CO2 dari atmosfer (carbon sequenstration) dan merupakan skenario carbon negative. Biochar yang diaplikasikan di tanah tersebut merupakan carbon sink, sebagai salah satu opsi dari carbon credit selain carbon offset. Dalam era dekarbonisasi saat ini upaya menurunkan kadar CO2 di atmosfer adalah hal penting. Di Indonesia dengan masih banyaknya lahan hutan maka carbon credit bisa didapat dari penyerapan CO2 dengan pohon-pohon di hutan tersebut, sehingga hutan sebagai carbon sink juga. Tetapi di negara lain yang penggunaan energi fosilnya sangat besar atau masif, maka mereka harus mengurangi dampak buruk iklim akibat pembakaran bahan energi fosil khususnya batubara. Mereka bisa saja membeli carbon credit pada aplikasi biochar ini.

Batubara adalah energi fosil yang paling banyak digunakan untuk pembangkit listrik di dunia saat ini dan Indonesia adalah salah satu produsen batubara tersebut. Walaupun dalam beberapa waktu ke depan penggunaan batubara ini akan dikurangi dan bahkan di sejumlah negara akan dihentikan sama sekali, tetapi dampak buruk dari pertambangan batubara ini masih banyak, merusak bahkan membahayakan lingkungan. Hal ini menjadi urgensi untuk melakukan perbaikan lahan atau tanah bekas tambang tersebut yang diperkirakan mencapai 8 juta hektar di Indonesia. Di satu sisi pembangkit listrik batubara bisa saja membeli carbon creditnya untuk aplikasi biochar seperti skema di atas. Pabrik sawit di lain sisi juga banyak menghasilkan limbah padat khususnya tandan kosong yang bisa dmanfaatkan untuk produksi biochar tersebut. Perusahaan-perusahaan besar tersebut bisa saja berkolaborasi untuk mengatasi masalah iklim akibat meningkatnya konsentrasi CO2 di amosfer ini. Sampai hari ini dilaporkan dari observatorium Mauna loa, di Hawaii, Amerika Serikat bahwa konsentrasi CO2 di atmosfer telah melebihi 400 ppm atau masih terjadi kenaikan sekitar 2 ppm setiap tahunnya, padahal target global menurun konsentrasi itu menjadi 350 ppm saja.

Jumat, 24 September 2021

Kebun Nyamplung Jangan Kalah Dengan Kebun Sawit

Calophyllum inophyllum atau pohon nyamplung memiliki kayu bernilai komersial tinggi. Hutan di Indonesia memiliki sekitar 4000 spesies pohon atau kayu, dengan 267  diantaranya diperdagangkan. Kayu dari pohon-pohon family dipterocarpaceae adalah kelompok paling penting seperti meranti, keruing, kapur dan mersawa. Selain itu adalah sejumlah species pohon yang juga cukup penting yakni koompasia, palaquium, dyera, callophyllum inophyllum (nyamplung), octomeles sumatrana dan gonystylus bancanus (ramin). Kayu nyamplung agak ringan hingga sedang dan lembut, tetapi padat, berurat kusut, hingga tidak dapat dibelah. Kayu nyamplung mempunyai dua warna, yakni kelabu atau semu kuning dan merah bata dengan urat lebih halus dan seratnya lebih lurus. Kayu nyamplung termasuk kelas awet II dan sangat awet bila di dalam air laut. Kayu nyamplung termasuk kayu komersial sering digunakan sebagai papan, balok, tiang, flooring, perahu, kano, peti dan meja, pembuatan kapal, bantalan kereta api, perabot rumah tangga dan sebagainya. Masyarakat nelayan di pesisir pantai biasa menggunakan kayunya untuk pembuatan perahu.

Sampai saat ini potensi nyamplung di Indonesia masih belum diketahui secara pasti, tetapi dari penafsiran citra satelit Landsat7 ETM pada tahun 2003 di seluruh pantai di Indonesia    diperkirakan tegakkan alami nyamplung mencapai total luasan 480.000 hektar dan sebagian besar (sekitar 60%) berada di dalam kawasan hutan. Tegakan nyamplung pada umumnya tumbuh pada tipe hutan campuran, di hutan alam dengan jenis ketapang, malapari, waru laut, keben, pandan laut dan lain-lain. Sedangkan di hutan yang ditanam, nyamplung tumbuh dengan akasia, mahoni, kayu putih, melinjo, nangka, duku, durian dan lain-lain. Nyamplung tumbuh paling dekat pada posisi 50-1000 meter dari bibir pantai dengan kerapatan pohon sangat bervariasi. Tinggi pohon nyamplung dapat mencapai 25 meter dan diameter batang 1,5 meter. 

Produksi minyak nyamplung khususnya untuk produksi biofuel bisa dilakukan sambil menanti produksi kayu. Produksi biofuel ini bahkan menjadi aktivitas utama budidaya nyamplung ini karena bisa dilakukan puluhan tahun hingga akhirnya produktivitas tanaman menurun, pohon ditebang dan digantikan tanaman baru. Rendemen minyak nyamplung yang hampir sama dengan bahkan menyaingi minyak mentah sawit atau CPO yakni 6 ton/hektar serta tidak berkompetisi dengan minyak pangan (edible oil) menjadikan minyak nyamplung sangat potensial dikembangkan. Biodiesel dari minyak nyamplung juga sekaligus memberi jawaban terhadap kegagalan program biodiesel jarak pagar beberapa waktu lalu, untuk lebih detail baca disini. Dengan garis pantai Indonesia mencapai 99.093 km maka produksi biofuel dari nyamplung akan sangat besar begitu pula kayu dan produk-produk olahannya. Apabila kita bandingkan dengan kebun sawit, ketika masa produktifnya sudah habis, penebangan dan pemanfaatan batang sawit banyak menimbulkan masalah, bahkan banyak yang hanya ditinggalkan di kebun begitu saja. Meninggalkan batang sawit di kebun hingga lapuk ternyata juga menimbulkan masalah tersendiri yakni sebagai tempat tumbuh larva yang merusak pohon kelapa, lebih detail baca disini. Hal tersebut tentu saja sangat berbeda dengan pohon nyamplung, yang ketika pohonnya sudah tua kualitas kayu semakin bagus, demikian juga harga jualnya. 

Selain itu juga berbagai praktek agroforestry bisa dilakukan pada perkebunan nyamplung karena bisa kebun campur (mixed-culture) dan fungsi lainnya sebagai pemecah angin (wind breaker) sehingga tanaman lain juga akan terlindungi. Praktek kebun campur atau mixed culture hampir tidak bisa dilakukan pada perkebunan sawit sehingga outputnya hanya satu macam saja yakni tandan buah segar (TBS). Sedangkan dengan kebun campur outputnya juga bisa beragam dari tanaman pangan seperti buah-buahan, umbi-umbian dan sebagainya. Dengan biaya perawatan khususnya pemupukan juga sangat besar pada perkebunan sawit dan ini merupakan komponen biaya tertinggi pada operasional perkebunan sawit. Untuk terus mempertahankan level performanya tentu saja kebutuhan pupuk untuk perkebunan sawit sangat banyak, sedangkan pada kebun nyamplung lebih kecil. Kebutuhan air untuk kebun sawit juga sangat besar sedangkan pada kebun nyamplung bahkan bisa tetap produktif pada tanah-tanah kering. 

Tentu semua upaya tergantung pada tujuan yang hendak dicapai. Begitu pula dengan budidaya nyamplung ini. Selain memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan kebun sawit seperti uraian di atas, pohon nyamplung juga memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan dengan pohon penghasil kayu lainnya. Pada pohon penghasil kayu misalnya kayu jati dibutuhkan waktu minimal 15 tahun dan selama waktu itu hampir tidak ada pendapatan sehingga berat secara ekonomi. Sedangkan pada nyamplung biji dihasilkan sepanjang tahun sebagai bahan baku biofuel tersebut. Kebun sawit saat ini diperkirakan telah mencapai sekitar 15 juta hektar dengan peruntukan minyaknya salah satunya untuk biofuel atau khususnya biodiesel, sehingga apabila perkebunan nyamplung dikembangkan maka bisa saja seluruh biodiesel dari minyak nyamplung sehingga kebun sawit tidak perlu diperluas lagi. Kebun nyamplung yang sudah ada dikembangkan dan diintensifkan sehingga mencukupi untuk produksi biodiesel yang dibutuhkan. Selain itu kebutuhan kayu untuk berbagai keperluan juga bisa dipenuhi dari perkebunan nyamplung tersebut. 

Sabtu, 18 September 2021

Kegagalan Biodiesel Jarak Pagar dan Peluang Nyamplung

Pengalaman adalah guru yang terbaik begitu pepatah mengatakan. Dan hal tersebut juga berlaku untuk biofuel. Kegagalan di masa lalu jangan sampai terulang lagi, karena hanya orang bodoh yang terperosok ke lubang yang sama hingga dua kali. Produksi biodiesel dari jarak pagar (jatropha curcas) telah ramai dikampanyekan hingga menjadi trending topic nasional waktu itu, tetapi faktanya biodiesel dari jarak pagar ini tidak ekonomis atau masih terlalu mahal sehingga programnya berhenti dengan sendirinya. Salah satu faktor tersebut adalah rendahnya rendemen minyak yang dihasilkan dari biji jarak pagar yang hanya sekitar 25%, sedangkan nyamplung (calophyllum inophyllum L) mencapai rata-rata 50%. Apalagi produktivitas rata-rata perhektar jarak pagar rata-rata kurang dari 10 ton/hektar sedangkan nyamplung rata-rata mencapai lebih 10 ton/hektar. Dengan rendemen 50% tersebut dengan produktivitas perhektar mencapai misalnya 12 ton/hektar lebih maka minyak nyamplung yang dihasilkan atau 6 ton minyak per hektar maka kurang lebih sama seperti minyak mentah sawit atau CPO (crude palm oil), sehingga lebih ekonomis untuk diproduksi. Dengan rendemen sekitar 25% dengan produktivitas rata-rata 24 ton/hektar tandan buah segar maka akan dihasilkan 6 ton CPO sama seperti nyamplung. Padahal kelapa sawit juga tanaman penghasil minyak nabati terbesar sehingga minyak nyamplung juga tidak jauh dari kondisi tersebut bahkan melampauinya.  

 

Biofuel dan khususnya biofuel dari minyak nabati ini tergolong bahan bakar karbon netral, karena berasal dari tumbuhan sebagai produk photosintesis yang membutuhkan CO2, sehingga ketika dibakar juga akan mengembalikan jumlah CO2 yang sama ke atmosfer. Penggunaan bahan bakar karbon netral sangat bermanfaat bagi atmosfer bumi sehingga meningkatkan gas rumah kaca yang meningkatkan suhu bumi. Ditinjau dari komposisi minyak antara minyak jarak pagar, minyak nyamplung dan minyak sawit juga hampir sama seperti tabel diatas. Memang kedua sumber biodiesel baik dari jarak pagar maupun nyamplung keduanya akan menjadi bahan bakar karbon netral atau lebih tepatnya bahan bakar cair karbon netral, tetapi faktor keekonomianlah akhirnya yang akan menentukan pada produksi komersialnya. Sedangkan dari kelompok bahan bakar padat karbon netral bisa kita dapati misalnya pada wood chip, wood pellet, dan cangkang sawit (palm kernel shell/PKS). 

Keunggulan nyamplung secara spesifik sebagai bahan baku biodiesel adalah yang pertama, minyak nyamplung tidak berkompetisi dengan minyak pangan, yang kedua, tanaman nyamplung ini tumbuh dan tersebar merata secara alami di Indonesia, regenerasi mudah, berbuah sepanjang tahun dan menunjukkan daya survival yang tinggi terhadap lingkungan termasuk dengan tanah dengan salinitas tinggi di sepanjang pantai. Ketiga, tanaman relatif mudah di budidayakan baik tanaman sejenis (monoculture) atau tanaman campuran (mixed-culture), hal ini membuat sejumlah praktik agroforestry bisa dilakukan. Pada perkebunan sawit hal ini sangat sulit dilakukan, sehingga kita jumpai saat ini hampir semua perkebunan sawit adalah monokulture atau perkebunan tanaman sejenis. Keempat,hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan dan bernilai ekonomi, dan kelima, tegakan tanaman nyamplung dapat bermanfaat sebagai pemecah angin (wind breaker) dan konservasi sepanjang pantai. Dengan kondisi tersebut peluang pengembangan nyamplung untuk biofuel semakin besar.

Jumat, 10 September 2021

Produksi Premium Wood Pellet Dari Limbah Pabrik Plywood

Produksi plywood atau kayu lapis Indonesia diperkirakan lebih dari 10 juta meter kubik setiap tahunnya yang diproduksi dari ratusan pabrik plywood bahkan Indonesia pernah merajai industri kayu dunia pada periode 1980 hingga 1995. Ada lima provinsi sebagai produsen plywood terbesar di Indonesia yakni Jawa Timur, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Dan enam provinsi lain yang mulai berkembang yakni Banten, Papua, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Riau dan Jambi. Sebagian besar plywood tersebut untuk pasar export. 
 
Volume limbah kayu pada industri plywood cukup besar mencapi hampir 55% atau jumlahnya lebih dari 5 juta ton per tahun terhadap produksi plywood nasional tersebut. Potensi limbah tersebut cukup besar dan memiliki potensi besar untuk diolah menjadi wood pellet grade premium. Mengapa wood pellet menjadi pilihan dan kenapa juga mesti grade premium? Wood pellet menjadi pilihan untuk solusi masalah limbah plywood tersebut karena selain proses produksi lebih mudah, juga investasi mesin lebih murah. Hal ini karena limbah kayu pabrik plywood sudah kering sehingga tidak membutuhkan proses pengeringan. Alat pengering atau dryer selain cukup mahal juga biaya operasionalnya. Kualitas premium juga sangat mungkin didapat karena kadar abu yang rendah, karena kayu untuk produksi plywood tersebut telah dikupas kulitnya (debarking) sehingga kandungan bisa diturunkan hingga dibawah 1%. 

Pengecilan ukuran (size reduction / down sizing) adalah hal pertama yang perlu dilakukan dengan limbah plywood atau tripleks tersebut. Setelah ukuran partikelnya sudah sesuai yakni seukuran serbuk gergaji (~3-5 mm) selanjutnya dilakukan proses pembasahan (wetting) hingga kadar air mencapai sekitar 10%. Hal ini karena limbah kayu pabrik plywood ini biasanya terlalu kering yakni dengan kadar air 4-5% sehingga kurang memenuhi syarat untuk dipellet. Bahan baku yang terlalu kering membuat perekatan pellet tidak optimal, sehingga pellet menjadi rapuh bahkan pellet tidak terbentuk sama sekali. Proses pembasahan (wetting) tersebut dilakukan dengan water sprayer untuk mencapai kadar air tersebut. Setelah kadar air mencapai sekitar 10% selanjutnya bahan baku tersebut masuk ke pelletiser untuk dipress atau dicetak menjadi pellet. 


Segmen pasar wood pellet dengan grade premium berbeda dengan wood pellet grade standard atau utility sesuai tabel di atas. Penggunaan wood pellet grade premium adalah untuk pemanas ruangan yakni terutama pada musim dingin di daerah-daerah dengan empat musim. Alasan utama penggunaan wood pellet grade premium untuk keperluan tersebut adalah karena kadar abu yang sangat rendah. Dengan kadar abu yang rendah tersebut pembersihan abu menjadi tidak terlalu sering dilakukan. Produksi wood pellet grade premium lebih sulit dibandingkan dengan grade standard atau utility, tetapi khusus pada industri plywood dengan kondisi bahan baku seperti di atas maka jauh lebih mudah dan lebih siap untuk produksi wood pellet grade premium tersebut. Sebuah kesempatan emas bagi yang menyadari dan memahaminya. 

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...