Tampilkan postingan dengan label hutan tanaman energi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hutan tanaman energi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Mei 2017

HTI dan Wood Pellet

Potensi luasnya lahan dan kondisi iklim tropis harus senantiasa kita syukuri. Mensyukuri nikmat Allah SWT yang satu ini dengan cara tidak merusaknya dan memanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan hidup manusia serta menjaga kelestariannya atau istilah hari ini keberlanjutannya (sustainibility). Luasnya lahan hutan  tanaman industri (HTI) yang belum dikelola secara optimal menjadikan manfaat dan kelestariannya juga kurang optimal. Padahal ada banyak manfaat apabila pengelolaannya maksimal dan bukan hanya manfaat ekonomi tetapi juga manfaat lingkungan yang tak ternilai harganya. Membiarkan tanah kosong tidak ditanami apa pun hanya membuat lahan tersebut terbengkalai, tandus dan bisa menyebabkan penggurunan (desertifikasi). Padahal kebutuhan manusia akan pangan, energi dan air senantiasa meningkat seiring meningkatnya jumlah manusia. Pangan, energi dan air inilah kebutuhan materi essential manusia sehingga ia bisa bertahan hidup dan melahirkan generasi penerusnya. Salah satu skenario untuk mendapatkan pangan, energi dan air tersebut adalah 5F project for the world. Produksi atau pengembangan energi pepohonan juga sesuai dengan petunjuk Al Qur'an.


Moratorium Sawit
Moratorium sawit yang ramai didengungkan saat ini, walaupun secara resmi belum diberlakukan adalah momen tepat untuk mempertimbangkan kebun energi. Ditinjau dari permodalan atau investasi usaha kelapa sawit juga membutuhkan modal besar, selain itu masalah perawatan kebun dan kualitas lahan juga menjadi faktor penting dan membutuhkan biaya yang juga besar. Kebun energi dengan tanaman leguminoceae seperti kaliandra dan gamal (gliricidae), hanya membutuhkan perawatan yang mudah dan murah. Apalagi hanya membutuhkan waktu kurang lebih 1 tahun untuk bisa dipanen kayunya dan bisa dipanen terus menerus setiap tahunnya tanpa harus replanting. Leguminoceae adalah jenis tanaman perintis yang mampu menyuburkan tanah dengan simbiosis bakteri pengikat nitrogen pada akarnya. Berbeda dengan pohon sawit yang membutuhkan biaya perawatan dan pupuk yang tinggi, leguminoceae adalah sebaliknya. Pohon sawit juga membutuhkan air yang banyak, hal ini juga berkebalikan dengan leguminoceae. Kebun energi seperti kaliandra juga memberi manfaat penting yakni menjaga terpenuhinya pangan, energi dan air. Perbandingan antara keduanya juga bisa dibaca disini.



Kedaulatan dan produsen energi
Harus diakui bahwa saat ini Indonesia tidak lagi menjadi eksportir minyak bumi sehingga tidak lagi menjadi anggota OPEC tetapi sebagai negara importir minyak bumi yang semakin hari jumlahnya semakin bertambah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sementara kebutuhan energi semakin meningkat dari hari ke hari akibat pertumbuhan penduduk. Semakin tinggi ketergantungan terhadap bahan bakar import tersebut semakin tidak berdaulat Indonesia dari sektor energi. Bahkan energi adalah sektor penting dan vital bagi kedaulatan satu negara sehingga perangkat kebijakan yang mengaturnya juga tidak sederhana. Di Sisi lain padahal sebenarnya terbuka peluang besar untuk berdaulat pada sektor energi salah satunya dengan kebun energi, yakni dengan memanfaatkan jutaan hektar tanah-tanah yang saat ini belum atau tidak dimanfaatkan. Selain berdaulat dari pada sektor energi, visi lebih jauh yakni menjadi produsen energi yang menyuplai kebutuhan energi khususnya energi terbarukan ke berbagai belahan dunia. Dengan potensi luasnya lahan tersebut bukan mustahil Indonesia menjadi produsen terbesar energi terbarukan dari biomasa yakni wood pellet. Walaupun proyeksi pemerintah hanya menargekan 17% energi terbarukan pada tahun 2025 melalui kebijakan energi nasional melalui Peraturan Presiden no. 5 tahun 2006.

Ada sejumlah keuntungan riil yang bisa didapat dari kebun energi baik berupa keuntungan ekonomi maupun keuntungan dari sisi lingkungan, seperti bisa dibaca disini. Produksi dan penggunaan wood pellet demikian juga. Skema atau diagram sederhana produksi wood pellet dari kebun energi kaliandra bisa dibaca disini.

Selasa, 10 Maret 2015

10 Keuntungan Dengan Membuat Kebun Energi Untuk Produksi Wood Pellet



Keterjaminan pasokan bahan baku adalah salah satu faktor kunci dari keberhasilan usaha wood pellet. Ada 2 cara untuk mendapatkan bahan baku yang umum dilakukan saat ini :
a. Membeli dari pemilik atau sumber bahan baku.
b. Mengusahakan sendiri ketersediaan bahan sendiri.
Sedangkan cara ke-3 dan ini masih belum banyak dilakukan pengusaha wood pellet adalah dengan cara campuran atau mix, yakni sebagian mengusahakan sendiri ketersediaan bahan bakunya dan sebagian sisanya membeli dari pemilik atau sumber bahan baku.


Sedangkan ditinjau dari jenis biomasa bahan bakunya ada 2 macam, yakni
a. Biomasa kayu
b. Biomasa yang non-kayu seperti limbah-limbah pertanian (tandan kosong sawit, tongkol jagung, sekam padi dan sebagianya). Saat ini biomasa kayu masih menjadi prioritas untuk dipelletkan menjadi produk wood pellet karena sejumlah keunggulan dibanding biomasa non-kayu yang umumnya merupakan limbah-limbah pertanian, yang dimasukkan dalam kategori biomass pellet atau agri-waste pellet.  Perbandingan antara wood pellet dan biomass pellet / agri-waste pellet bisa dibaca disini.

Sedangkan biomasa kayu apabila ditinjau lebih khusus untuk produksi wood pellet maka sumber bahan baku dibedakan menjadi 2 macam :
a.  Limbah-limbah industri pengolahan kayu.
b. Kayu dari produk kebun energi.
Sedangkan ditinjau dari kekeringan bahan baku, maka ada bahan baku kering dan baha baku basah. Tingkat kekeringan bahan baku juga harus diatur sehingga bisa menghasilkan wood pellet berkualitas.



Kebun energi sebagai sumber bahan baku yang diusahakan sendiri memiliki banyak keunggulan, antara lain :

1. Kebun energi bisa dibuat sendiri sehingga kontrol bahan baku internal usaha wood pellet lebih mudah, seperti fluktuasi pasokan, perubahan harga pasar, tidak tergantung sumber-sumber kayu limbah dan sebagainya.

2. Produk samping dari kebun energi berupa hijauan bisa dimanfaatkan untuk peternakan seperti sapi atau kambing, dan peternakan lebam madu yang memanfaatkan bunga dari tanaman kebun energi.

3. Lokasi pabrik wood pellet bisa sangat dekat atau bahkan berada ditengah-tengah kebun energi (raw material oriented), sehingga biaya/harga bahan baku murah.

4. Kebun energi juga menyerap CO2 dari atmosfer (Carbon negative), aplikasi wood pellet merupakan Carbon neutral sehingga bisa masuk dalam perdagangan karbon, kegiatan mitigasi perubahan iklim melalui aforestasi (penanaman/penambahan stok karbon), dan pembangunan unit SFM (Sustainable Forest Management).


Photo-Photo Pembibitan Tanaman Kaliandra Untuk Pembuatan Kebun Energi Seluas 1200 ha


5. Pola penyediaan bahan baku mix (campur) dengan sebagian kebun energi milik perusahaan (inti) dan sebagian yang lain milik masyarakat (plasma) bisa dilakukan. Pola ini akan mengikutsertakan peran masyarakat dan mengembangkannya.

6. Penghasilan tambahan dengan memanfaatkan sela tanaman kebun energi dengan tanaman lain (model agroforestry) sehingga budidaya bersifat polikultur yang lebih tahan penyakit.

7. Lahan tidur atau bahkan lahan marginal yang jumlahnya jutaan hektar bisa dimanfaatkan secara efektif.

8. Menyuburkan dan memperbaiki kondisi tanah termasuk pencegahan erosi. Akar tanaman kaliandra yang berbentuk bintil-bintil mampu mengikat nitrogen sehingga menyuburkan tanah.

9. Tanaman cepat panen dan tumbuh (trubus) lagi, tanpa perlu penanaman ulang. Tanaman kebun energi seperti kaliandra hanya ditanam sekali lalu trubus atau tumbuh lagi setelah ditebang (panen) hingga puluhan tahun, hasil lebih banyak dan perawatan sangat mudah.

10. Pengembangan atau perbesaran kapasitas pabrik wood pellet sangat dimungkinkan selama lahan masih tersedia. Dan saat ini masih ada jutaan hektar yang potensial untuk pembuatan kebun energi tersebut.


Indonesia sebagai negara tropis dan tanahnya subur sangat potensial untuk pengembangan kebun energi dan juga produsen wood pellet terkemuka didunia.     

Selasa, 22 Oktober 2013

Menggalakkan Kebun Energi

Photo diambil dari sini
Keterjaminan pasokan bahan baku adalah mutlak diperlukan bagi kelangsungan industri wood pellet , briket maupun biofuel lainnya. Bahan baku yang homogen menjadi lebih baik karena memudahkan proses dibandingkan bahan baku yang hetogen, misalnya bahan baku yang semuanya berasal dari batang pohon akan lebih baik dibandingkan bahan baku dari campuran dari batang, pelepah, daun, akar dan sebagainya. Jenis tanaman trubusan dengan umur pendek dan berulangkali bisa dipanen adalah pilihan ideal sebagai tanaman kebun energi. Luasnya lahan kritis di Indonesia yang mencapai ratusan ribu bahkan jutaan hektar sangat potensial dimanfaatkan sebagai kebun energi dengan menanam tanaman trubusan atau SRC tersebut.

Kaliandra dan gamal adalah dua jenis tanaman trubusan untuk kebun energi yang telah banyak dibudidayakan sebagai penopang industri wood pellet. Kedua tanaman trubusan tersebut banyak dipilih karena memerlukan prasyarat tumbuh dan berkembang yang mudah bahkan bisa hidup di lahan-lahan kritis. Hal tersebut memungkinkan didapat dua keuntungan sekaligus yakni, keberlangsungan pasokan bahan baku untuk industri wood pellet dan penghijauan untuk mencegah erosi, banjir dan sebagainya. Panen bisa dilakukan setelah umur tanaman sekitar 1 tahun dan selanjutnya pada tahun berikutnya bisa dipanen lagi, hingga puluhan kali. Sri Lanka adalah salah satu negara yang karena tidak tersedianya energi fossil maka menyandarkan energinya dari biomassa, khususnya tanaman gamal tersebut.  Selain batangnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku industri wood pellet, daunnya bisa sebagai pakan ternak, tambahan lagi untuk kaliandra dan gamal, bunganya bisa dimanfaatkan untuk peternakan lebah madu.


Wood pellet yang dihasilkan dari bahan baku kayu kaliandra maupun gamal memiliki nilai kalor tinggi, yakni lebih dari 4000 kkal/kg, kadar abu rendah dan kandungan lignin tinggi sehingga memudahkan proses pemelletan di industri wood pellet tersebut. Wood pellet untuk dengan aplikasi utamanya sebagai sumber energi terbarukan termasuk kategori bahan bakar carbon neutral, hal ini karena sumber biomasa kayunya dari fotosintesis dengan menggunakan CO2 dari atmosfer dan ketika dimanfaatkan sebagai sumber energy dilepaskan lagi ke atmosfer. Jadi secara neraca tidak ada penambahan CO2 diatmosfer atau carbonneutral.

Adanya permintaan dari sejumlah negara seperti Korea Selatan dengan wood pellet hanya dari bahan biomasa kayu akan semakin menguatkan lagi penggalakan kebun energi ini untuk bisnis yang berkelanjutan. Hal ini karena biomasa kayu memiliki sejumlah kelebihan pada nilai kalor, kadar abu dan kimia abu-nya dibandingkan biomasa lainnya khususnya limbah-limbah agroindustri. Senyawa-senyawa seperti klorin, sulphur dan nitrogen menjadi perhatian penting dalam standar wood pellet tersebut.  

Biochar, Kesehatan Tanah dan Keberlanjutan Produktivitas Sawit

Tanah sehat pasti subur, tetapi tanah subur belum tentu sehat. Tanah yang sehat memiliki kehidupan mikroorganisme seperti cacing dan organis...